Rabu, 19 September 2012

Pintu

"Now I will tell you what I've done for you"

Dia berdiri di depan pintu. Memandang pilu lelaki itu.
Sudut matanya menyiratkan getirnya dirinya menahan semua asa. Asa yang coba ia perjuangkan namun percuma.
Satir dan gontai tatapan mata itu menyapu seluruh tubuh lelaki itu, dari atas hingga bawah dan berhenti lekat pada bagian mata.
Entah kebencian, entah kekecewaan, atau bahkan rasa lega, makna dari tatapannya itu. Bias.
Lelaki yang sedari tadi dipandangnya itu hanya diam. Hendak berkata tapi enggan. Karena lelaki itu tahu betul bahwa si wanita tidak akan lagi percaya pada apapun yang akan ia sampaikan.

Dia berdiri di depan pintu,
Kali ini dengan tubuh yang bergetar. Semua perasaan dan pengharapan yang ia pendam meledak sudah.
Hal yang coba ia perjuangkan namun terhembus begitu saja tanpa bekas.
Memendam memang tak pernah mudah baginya. Kini, tanpa kata, tanpa amukan, dan yang tersisa hanya getaran yang diiringi butir air mata dan nafas tertahan.
Lelaki itu memandang si wanita. Ingin sekali menjelaskan dan menenangkan atau jika bisa memeluk, tapi si wanita terlihat begitu bergetarnya, hingga perasaan bersalah menyeruak hadir di batin lelaki itu. Nyalinya masih ada, tapi perasaan bersalah menahannya mendekati wanita itu.

Dia masih berada di depan pintu.
Kini lengkap dengan membawa gembok di tangannya yang masih tampak bergetar.
Kepalanya mendongak dan berkata lirih "mungkin ini waktunya.."
Lelaki itu tampak mengerti dengan apa yang dikatakan wanita, namun jiwa lelakinya seperti ditantang untuk berkata, menjelaskan apa yang perlu didengarkan oleh si wanita
Bagi lelaki ini, rasa bersalah itu harus ditebus setidaknya dengan secuil penjelasan yang juga tak akan diperbolehkan menuju hati, paling juga hanya diterima telinga dan dikibaskan lagi oleh si wanita.

Di pintu itu, perang telah dimulai.
Dua emosi beradu kebenaran dan saling tuduh rasa bersalah.
Ada seorang wanita berjuang untuk mendengarkan dan seorang lelaki berjuang untuk menjelaskan.
Tak ada titik temu. Semua memantul pada semu.
Tak ada dari mereka yang mencoba untuk saling mengerti. Bagi mereka, kebenaran adalah apa yang mereka yakini benar. Benar-benar perang sebenarnya.
Keduanya salah. Mungkin, keduanya benar. Entahlah..
Hati orang siapa yang tahu, pedih hati siapa yang sangka.
Pintu itu hanya diam menunggu akhir sambil menatap takut pada mata si wanita. Bahkan pintupun tahu mata si wanita yang sayu itu terlampau lelah. Entah seberapa pedih si wanita, hingga kilau matanya redup.

Hingga si wanitapun tak sanggup lagi.
Di pintu itu, dia berteriak kencang dan lantang, memekik mengerikan "pergi kau, keluar dari sini, dan jangan pernah masuk lagi kedalam. Jangan pernah mengetuk. Dan jangan mencoba untuk mengintip apa yang ada di dalam. Pokoknya jangan pernah!"

Lelaki itu tak cukup bodoh untuk tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin benar kata si wanita  bahwa ini memang saatnya.

Pada bintang yang selama ini ia titipkan rindu, wanita itu berkata "bahagia itu tidak akan jauh darimu. Jika itu menjadi milikmu, maka akan menjadi milikmu. Mungkin bahagiamu hadir sekarang. Pintu lain telah terbuka untukmu, dan aku secara paksa harus mengusirmu dari sini. Karena tak mungkin kau berada di dua pintu yang berbeda, dan akan menjadi teramat tak adil,  jika kau hanya mengunjungi satunya, sementara yang satunya berdiri di pintu berharap kehadiranmu. Tunggu sebentar, bahkan pintu bukanlah untuk sekedar untuk dibuka, pintu yang telah terbuka memberi hak untuk dimasuki dan dikunci daridalam. Dalam titik ini, aku betul bukan? terakhir yang harus kamu tahu, aku sakit. Aku cukup sakit"

Di pintu itu, si wanita menutup pintunya, dan ini bukan untuk pertama kalinya. Entah kapan lagi pintu itu terbuka. Pasrah dia serahkan pada waktu dan skenarioNya.

Lelaki itu tidak menyadari bahwa saat wanita itu menutup pintunya, dia memegang ganggang pintu, meremas dan meremasnya sekali lagi. Mencoba mengikhlaskan setiap langkah dan punggung yang berjalan kian menjauh menuju pintu lainnya dari lubang pintunya. Ia menjerit pelan dan merasakan perih yang berdenyut.

Ya, wanita itu telah mengusir paksa satu-satunya penghuni hatinya.


touchdown jawa


Meninggalkan bumi cendrawasih.
Sebuah perjalanan panjang dengan pengalaman yang tak terhingga banyaknya. Siapa yang sangka, orang seperti saya ini bisa menginjakan kaki di wilayah paling timur indonesia. Sebulan berhubungan dengan agas, tai anjing dimana-mana, air yang jauh bahkan untuk pipis sekalipun. Terputus dari arus informasi juga dari segala macam bentuk kemudahan peradaban. Tidak merasakan es teh, adzan, roti, ataupun iklan tau baliho ramadhan. Ya saya terisolir. Dan bagaimana rasanya? well, seru sekali. Tidak ada penyesalan bagi saya pergi ke papua. Perjalanan panjang hingga menuju yakati adalah best journey ever. Dan yakati adalah desa yang sangat menakjubkan.

HEY, Saya bisa. Saya mampu. Dan Papua tidak seburuk apa yang orang fikirkan. Dan benar adanya bahwa mengunjungi papua itu menguji keindonesiaan kita.
Seribu hal yang saya dapatkan di bumi cendrawasih membuat saya enggan beranjak. Namun kini saatnya saya pulang.
Meninggalkan bumi cendrawasih dan entah kapan bisa kembali lagi.

Hari ini kami ber 20 bersiap untuk terbang menuju jawa. Semua pengalaman saat tiba di Papua kami jadikan pengalaman saat kami pulang. Saat di bandara misalnya, kami lebih prepare untuk mengurusi barang bawaan dan lebih awas lagi agar tidak ada barang yang tertinggal atau bermasalah. Bandara manokawari lebih baik daripada awal kita berangkat.


Dan kali ini tidak ada transit yang melelahkan. Hanya turun sejenak di makassar dan langsung menuju Surabaya. Semua lelah ini terbayar sudah. Akhirnya KKN yang 'jelas tapi tidak jelas' ini berakhir, dan ibarat film, dengan happy ending.

bareng bang budi . cocok ga? :)



Terimakasih Tuhan pada kemudahan dan jalan yang diberikan pada saya untuk dan menginjak papua dan mencicipi pengalaman tak terlupakan...

 hai jawa, im back



14 juli, Surabaya, Travel

My KKNZONE :)


“You give me something, and makes me scared alright. That could be nothing, but im willing to get it try…”

Bagi saya, orang yang terakhir kali masuk dalam tim KKN unit 63 ini, ada tantangan tersendiri dari segi pergaulan. Selain sinema, riko dan tentu saja fauzan, tak ada orang yang saya kenal baik di KKN ini. Sinema dan riko saja, pada awalnya juga tidak begitu akrab dengan saya. ya hanya fauzan seoranglah, orang yang paling saya kenal sekaligus akrab dengan saya.

Fauzan ini anak jurusan Adminitrasi Negara (AN) yang sekarang berubah nama menjadi MKP. Dulunya fauzan dan saya berada di SMA yang sama. Walaupun beda kelas, tapi di akhir kelas 3 entah mengapa kami berdua jadi sangat dekat, hingga di awal masuk kuliah juga kami masih dekat. Bahkan Fauzan ini ada saat saya berada di masa-masa SNMPTN yang mendebarkan itu. Tapi seperti awal kedekatan kami yang tak tahu bagaimana caranya, kerenggangan kami juga tak tahu bagaimana ceritanya. Ya tahu-tahu kami lost contact satu sama lain.
Hingga saya sempat jadian dengan seorang oknum L.R, dan fauzan menchat saya di facebook suatu pagi untuk menanyakan kebenaran kabar itu, semenjak itu kami sempat beberapa kali berkomunikasi.
Hingga ini lah dia. Saya dan fauzan berada di satu Unit KKN yang sama, tak hanya satu UNIT tapi juga satu sub unit.
Saya sempat risau waktu tau ternyata saya tidak satu sub unit dengan fauzan melainkan dengan sinema, karena saya pikir hanya dia teman saya yang bisa jadi tong sampah saya selama KKN. Secara saya tidak mengenal siapapun lagi selain dia dan sinema. Tapi ya sudahlah, toh setidaknya saya akan se subunit dengan sinema. Tapi karena insiden “mama tersayang” whateva… akhirnya saya dan fauzan menjadi satu sub unit. Yeay!

                Tak terhitung berapa kali saya merepotkan Fauzan selama proses KKN berlangsung.
Saat saya sedang datang bulan. Saya ingat, di suatu pagi, saya memanggil dia keluar kamar, dan berbisik pelan “Zan.. aku mens nih.. bantuin ngambil air yaaaa…” karena air berada di tempat yang jaaaauhh, dan kemampuan saya mengambil air hanya maksimal 2 dirirgen sekali jalan dan pula saya butuh banyak air untuk membersihkan yang harus dibersihkan, maka tentu saja, saya butuh tenaga tambahan. Dan fauzan orangnya.

                Saat kaki saya luka-luka akibat agas dan juga akibat berkunjung ke woroboy, saya menjadi demam. Kaki saya keluar nanah dan harus dibersihkan. Yang membersihkan mas yoyo dan mbak mus memang, tapi fauzanlah yang jadi tumbal saya. fauzan yang saya tarik-tarik bajunya, dan bajunya juga saya gunakan untuk lap ingus, karena saya teriak-teriak sambil nangis. Ya fauzan ini lah…
                Saya yang jatuh-able karena jalan di Papua yang teramat licin ini selalu mengandalkan lengan fauzan. Saya menggandeng erat lengan fauzan saat saya berjalan agar saya tidak terjatuh. Padahal fauzan juga kerap jatuh juga sebetulnya..

          Saat saya malas, bingung, atau apapun yang berhubungan dengan memberikan pennyuluhan, maka akan selalu ada fauzan untuk membantu saya menerangkan apa yang saya maksudkan ke pada masyarakat. Dan kemudian, proses penyuluhan akan aman terkendali.

              Kesannya fauzan baik banget ya?

Well, dia menyebalkan kok aslinya!
Selain waktu dia sakit, tidak ada hari tanpa dia membully anak-anak KKN atau nyinyirin orang-orang. Seriusan deh, selalu saja ada yang dia bully. Kadang sebel juga saya dengernya. Belum lagi fauzan ini orangnya rempong lahir batin dalam hal makanan. Dia ga suka susu putih. Jadi kalau kita makan jelly yang di kasih susu kental manis putih, dia harus makan di piring yang berbeda. Dia ga suka udang, katanya kalau makan kebanyakan akan terjadi hal buruk padanya. Hal apa coba? Jadi kerdil gitu? Hahhaa.. dia enggak suka terong, katanya gini “aku belum nemuin, enaknya terong dimana” atau “aku suka terong, tapi ga bisa banyak-banyak”. Dia ga bisa makan-makanan yang bisa membuat asam urat. Fauzan baru berusia 22 tahun dan sudah terkena asam urat, are you kidding me or something? Asam urat? Kamu?

Kebiasaannya yang jarang mandi juga kadang jadi bulan-bulanan anak-anak KKN. Ditambah dia suka meletakan “barang  siapa” dia mana saja. Di dekat beras, di belakang pintu kamar cowo, di jemuran, ah ya pokoknya itu pasti punya fauzan. Apalagi pas makan sahur. Udah kalau dibangunin susah, sekalinya bangun lebih lama ngomongnya dari pada makannya. Awr! Hahahaha :D
Fauzan juga sih yang membuat suasana di pastori jadi lebih ceria. Dia, dedi, dan mas yoyo selalu saja menemukan hal baru untuk ditertawakan. Kalau tidak ada mereka bertiga, pasti sepi deh..

Fauzan orang PERTAMA yang membuat saya hingga detik ini berfikiran tentang DIET!!! Dia yang mengenalkan saya pada timbangan dan dia pula yang membuat obrolan tentang berat ideal. Aaaaaaaaaaa salahkan fauzan kalau tiba-tiba saya jadi terkena anoreksia!!
       Overall, fauzan lah yang selalu menemani saya, saat saya ingin dan harus ditemani. Pundaknya fauzan itu avalaible 24 jam (kecuali pas dia tidur) kalau-kalau saya membutuhkan. The most yang membuat saya sangat berterimakasih pada dia adalah saat dia menemani saya ketika saya habis terkena insinden “kemasukan”. Insiden yang membuat perut saya mulas dan muntah-muntah juga disertai insiden-yang-katanya-anak-anak-adalah-kemasukan. Insiden itu terjadi TEPAT di malam perpisahan kami.

Malam itu seharusnya kami ber10 menghadiri acara perpisahan yang telah diadakan oleh warga, tapi karena saya habis terkena “insiden” maka mau tidak mau saya harus beristirahat di pastori. Sebetelunya saya merasa baik-baik saja kalaupun ditinggal sendiri, tapi kemudian fauzan menemani saya dan mengorbankan waktunya untuk saya sehingga tidak menghadiri acara perpisahan itu. for me, that a simple romantic thing, actually, im impressed.
Ya walaupun fauzan berkata “ enggak kok, aku juga males kesana..” tapi saya merasa sangat merepotkan dia. Ya harusnya dia pergi ke malam perpisahan itu, lagipula siapa saya yang harus ditungguin dan membuat dia melewatkan moment yang pastinya tidak akan terulang lagi. Yakan? Apapun alasan dia untuk tetap tinggal di malam hanya untuk menemani dan menjaga saya, entah itu karena pada dasarnya dia malas pergi, merasa tidak ada lagi yang dekat dengan saya sehingga dia merasa harus menemani saya, atau memang dia peduli pada saya, yang jelas, saya sangat berterimakasih pada sebuah pengorbanan yang manis di malam itu. thans zan.. :)

                Bahkan setelah KKN nyaris selesai dan kami berada di Bintuni, fauzan juga yang ada di sebelah saya saat saya menangis tidak karuan karena seorang oknum L.R jadian. Fauzan yang menenangkan saya dan memberikan saya “logika” untuk tidak lagi memikirkan tentang si oknum itu. ya walalupun itu tidak berhasil, setidaknya fauzan menenangkan saya dari tangisan dahsyat dan sumpah serapah untuk manusia yang satu itu.
Bagi saya, fauzan memang tidak lagi sederhana. Dengan semua hal yang dia lakukan untuk saya selama KKN, memang fauzan adalah pahlawan *cuih pret*. Pahlawan yang menyebalkan dan membetekan!!!! Hahaha

You have to know zan, aku selalu suka kalo kamu ketawa apa senyum #eaaaaaa
Oke. Enough. We’re FRIENDS! dan tulisan ini sebagai bentuk rasa terimakasih atas semua kebaikan yang dia lakukan pada saya *toss



PULANG


FINNALLY MANOKWARI!

Dengan hati yang belum pulih karena (ternyata) saya harus merasakan pengalaman ditinggal CINLOK, subuh tadi selepas sahur, kami pulang kembali ke manokwari karena besok pesawat kami take off pukul 10.00 WIT.

Yak, perjalanan strada tadi tak jauh berbeda dengan pengalaman strada saat berangkat. Saya jadi malas menulis, (ya tinggal dibaca saja di sini).
Mata saya masih sembab akibat nangis yang tak kunjung henti ditambah perjalanan memabukan di starda. Lengkap sudah!

sesampainya di manokwari, untuk pertama kalinya lagi, saya melihat TRAFFIC LIGHT! Dan rasanya aneh bercampur bahagia. Hahahaha norak ya?
setelah tiba di manokwari, kami langsung dibawa ke tempat penginapan sementara.
Kami diinapkan di rumah pemda. Saat tiba, sambil menahan rasa lelah dan kantuk dengan gontainya kami ber20 langsung masuk rumah dan mencari tempat pewe.
Saya sendiri langsung ambruk di sofa dan mencoba menenangkan lambung dan semuanya. Capeek sekali rasanya hari ini. Terutama tadi. HUH HAH!

Karena hari ini adalah hari terakhir kami Manokwari, maka inilah kesempatan kami untuk mencari oleh-oleh. Setelah merebahkan badan, kami bersiap shopping! hawa disini mirip seperti bogor yang lembab setelah diguyur hujan lebat.
Kami pergi dengan angkot carteran dan semapt melihat babi hutan yang melenggang tenang di jalan. Hahahaha, ternyata saya masih belum terbiasa dengan kondisi papua.

Jogja dan papua itu berbeda sodara-sodara dari segi "peroleh-olehan"
Kecewa rasanya ketika oleh-oleh macam gantungan kunci atau apalah yang bisa dibagikan pada banyak orang, begitu sulit ditemukan. Sekalinya ada, kualitasnya jelek, dan harganya MAHAAAAAL! Akhirnya saya memutuskan untuk membeli koteka, kain batik untuk keluarga dan abon gulung khas papua untuk oleh-oleh.

Oh iya, hari ini adalah hari terakhir berbuka puasa di Papua, dan kami menyantap ayam. Kali ini bukan ayam jadi-jadian. Hehehe Finally saya makan KFC juga dan minum soft drink! #lalala #yeyeye
eits, tadi itu buka puasa terakhir saya di papua ternyata. Besok, saya sudah berbuka puasa di Jawa. Ahhh :(

Selesai berekelana menjelajah manokwari hingga malam hari, kami pulang ke rumah pemda yang lumayan keceh, bersiap tidur, dan bersiap menyambut jawa keesokan harinya. Ya saya memang harus bersiap menyambut jawa. Hati saya harus kuat menyambut jawa, dan melihat realita.
setelah mandi dan bebersih diri, saya melihat acak kadutnya barang-barang kami ber 20. Pemandangan langka yang tak akan saya temui lagi.
Ya, ini akan berakhir. Kebersamaan ini akan berakhir. 

Tak ada bintang di manokwari. Padahal saya rindu kerlipan genit bintang bintuni atau yakati. Ya Tuham, bawa saja saya kembali pada heningnya Yakati. Saya tak ingin kembali. Saya tak siap.
"Tapi kamu harus kembali" kata hati saya berbisik. 
Malam ini sebuah tekad terbentuk bulat dalam hati. Bahwa semua kesedihan ini akan saya tinggal disini, saya kubur dalam dan tak akan saya panggil. Cukup di Manokwari semua sedih ini berakhir. Tak akan saya bawa ke jawa. Saya harus siap. Saya harus siap. Siap menyambut jawa.

Manokwari, 13 sepetember 2012

Akhir


“Aku memang tak berlapang dada untuk menerima…”

Jika saya sanggup dan bisa, saat ini juga saya akan berlari menuju yakati dan membenamkan diri saya pada ketidakadaan informasi.
Saya akan mengangsingkan diri pada sejuknya wilayah disana.
Andai saya bisa, saya ingin waktu terbalik saja.
Harusnya akhir ini, menjadi awal saya berada di yakati.

Akhir
Yang kamu buat dengan skenariomu.
Brengsek!
Kamu tahu apa rasanya menahan rindu dan hanya bisa berharap pada bintang agar dia mendengar dan meyampaikan padamu? Kamu tau?
Kamu tahu apa rasanya ingin bertemu dan hanya bisa berbisik pilu pada kunang-kunang agar dia membagi cahayanya sedikit agar aku merasa kamu ada. kamu tau rasanya?
Kamu tahu apa rasanya menjaga?
kamu tahu?
Itu tidak sederhana.
Sungguh itu menyiksa.

Akhir.
Dan ya kamu memang semena-mena.

Kamu pikir perasaan hanya tentang moment?
Dan bisa dengan mudah ditumbuh kembangkan?
Lantas bagaimana dengan saya yang terisolir dari semua hal dan hanya mati-matian menjaga hati.
Bagaimana?
JAWAB!

Akhir.
Saat kamu mengatakan dengan mudah dan teramat enteng bahwa telah ada dan terisi yang baru. Yang BARU. Great!

Akhir
Yang mungkin kamu tak pernah tahu bagaimana rasanya saat saya harus membuang air mata dengan percuma lagi.

Akhir.
Cukup, dan jangan coba mempertanyakan apa-apa.
ini akhir.

Akhir.
Akhir dan saya cukup tau, kamu cukup brengsek.

menurut kamu?


13 agustus 2012 Teluk bintuni. papua barat.

DONE!


“kapan-kapan… kita bertemu lagi… kapan-kapan… kita berjumpa lagi. Mungkin esok, atau dilain hari…”

Perpisahan memang ada untuk membuat kita lebih menghargai pertemuan.

Tak ada terbesit dalam pikiran saya, bahwa orang seperti saya bisa menginjakan kaki di Papua dengan tidak menggunkana biaya sendiri malah. Melalukan pengabdian dan semua kegiatan selama hampir 5 minggu.

untuk yang terakhir kalinya, saya berkeliling desa dan menghirup udara dalam-dalam. Memejamkan mata lekat-lekat dan menyimpan semua itu jauh kedalam sanubari.
Saya mengajak foto semua orang, termasuk papa louis yang genit.



Pagi tadi, anak-anak sub unit Yensei datang ke desa kami untuk menjemput. Seperti kejadian yang sama saat kami ber 20 tiba di Yakati 5 minggu lalu. Bedanya, jika dulu kami mengantar mereka pergi ke desa lainnya, kali ini, kamu dijemput oleh mereka.
Kami kembali berkumpul ber20. Bedanya kini, bawa-bawaan kami sudah berkurang drastis. Kami hanya membawa barang pribadi masing-masing. Itupun tidak lagi sebesar dan seberat saat berangkat karna  hampir sleuruh barang kami, kami hibahkan (dan ada pula) yang dijarah paksa oleh warga.

Pemandangan pagi itu membuat terenyuh siapapun yang melihat. Harusnya memang perpisahan ini dishooting oleh media swasta. Semua warga berkumpul menjadi satu dan beberapa diantaranya telah menitikan air mata.

Karena insiden semalam, saya dan fauzan melewatkan acara perpisahan yang telah dibuat oleh warga. Katanya mbak fitri, hampir seluruh warga semalam tadi nangis sesenggukan karena perpisahan kami.

Melihat anak-anak Yensei yang sudah datang menjemput kami, saya jadi merasa tak ingin pergi dari Yakati, saya merasa ingin memulainya dari awal lagi.

Saya sudah jatuh hati pada kampung ini dan seisinya.

Ya. Tak akan ada yang mampu menghentikan detak waktu. Dia terus berjalan dan mengingatkan kita bahwa kehidupan selanjutnya telah menunggu.
Kami ber 20, pemda, dan masyarakat desa yakati mengantar kami semua ke dermaga.
Anak yensei merasa tahu diri dan naik ke kapal katinting terlebih dahulu meninggalkan kami ber 10 yang akan memberikan kalimat terakhir.

Faizal selaku kormasit berdiri dan menyampaikan rasa terimakasih dan maaf atas seluruh hal yang sengaja maupun tidak kami lakukan selama 5 minggu di KKN.
Suara tangis yang menjadi backsound pagi tadi membuat rasa haru yang besar. Saya tak berani melirik seluruh warga Yakati, saya takut akan menangis lebay.
Satu demi satu dari kami ber10 menaiki kapal dan melihat mereka yang berkumpul di dermaga dengan suara isak tangis yang berderai kencang. Mata merah, pelukan kancang, lambaian tangan. 



Ah cukup! Ini terlalu manis untuk dilihat.
Saya mengusap air mata yang jatuh tak berhenti melihat mereka menangis yang juga tak berhenti.
Katinting lambat dan pasti meninggalkan desa Yakati. Desa penuh kenangan. Desa pendewasaan. Desa kampung halaman saya yang kedua.
Pandangan pemandangan Yakati semakin kabur dan diganti air yang indah.


Hanya waktu yang tega memisahkan manusia.
Satu peristiwa telah berlalu.
Yak, KKN telah selesai.

Kapal Katinting, perjalanan pulang 11 Agustus 2012



KE SU RU PAN (katanya..)


Setelah berbuka puasa, seperti biasa kami akan melanjutkan sholat magrib secara berjamaah. Namun saya memutuskan untuk tidak mengikuti sholat magrib berjamaah, padahal seingat saya, sholat 5 waktu yang ada selalu kami kerjakan berjamaan dan saya selalu ikut rombongan jamaah, namun hari itu saya merasa harus pergi ke kamar mandi. Ya selain karena saya belum mandi sore, saya merasa harus ke kamar mandi. Aneh bukan?

Senja yang cukup aneh memang, saya masuk ke kamar mandi dan merasakan hawa aneh yang tetiba datang berbondong-bondong. Hawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Tak lama, saya merasa perut saya seperti ada yang meremas dari dalam. Yang saya pikirkan adalah ini  bukan sakit perut karna ingin BAB. Sekuat tenag saya menahan dan menlanjutkan mandi. Setelah berhanduk dan memakai baju ganti, remasan di perut saya semakin terasa kencang. Akhirnya saya jongkok di kloset. Saat jongkok rasanya ada melilit tubuh saya dari atas hingga bawah dan perut saya seakan, akan terbelah. Sakit sekali. Sakiiiit sekaliiiii….

Dari luar saya dengan fauzan berteriak memanggil saya “ Peh, kamu ntar bawa piringnya ke bawah ya.. aku mau mandi duluan, kamu sama ozi ya…

Peh..

Peh.. kamu ntar bawa ya?

ya.. oke yap eh…

Secara hari itu saya, fauzan, dan ozi piket bersama.

Saya sepertinya telah berteriak untuk meminta fauzan menggebrak pintu kamar mandi, namun fauzan sepertinya tidak mendengar.
Saat itu, perut saya semakin tak karuan. Saya mengucap istigfar berulang-ulang kali.. dan menguatkan diri untuk berdiri.

Di dalam pintu kamar mandi, saya tak bisa membuka pintunya dan berteriak histeris minta dibukakan pintu. Faizal, kormasit saya membukakan hanya sebatas ditarik besi pembuka pintunya. Karena pintu kamar mandi di pastori tidak memiliki tuas ataupun kunci.
Saya mendobrak pintu dan berteriak kencang memanggil siapapun.

Untung akhirnya mbak fitri datang dan bertanya “kamu kenapa Peh…
saya juga bingung menjawab, karena saat itu yang saya pikir adalah perut saya sakit luar biasa dan saya harus muntah.

Saya bukan orang yang gampang muntah padahal. Bagi saya muntah adalah kegiatan paling melelahkan di dunia, karena seperti harus membuat makanan yang sudah ada di lambung dimasukan hingga kerongkongan dan dikeluarkan melalui mulut. Selain melelahkan juga menjijikan.
Saya pun muntah.

Muntah dengan aneh.
Muntahan yang keluar berwarna merah pekat dan itu banyak sekali. Jumlah yang tidak sebanding dengan apa yang saya makan saat buka puasa tadi. Setelah muntah, setengah raga saya seperti terbang entah kemana dan saya tergolek lemas. Yang saya ingat hanya uda uki atau ozi yang memapah saya hingga kamar.



Saya terbangun.
Di sekililing saya, ada fauzan, mbak mus, dan mas yoyo dengan Al-qurannya.
Tak lama, mabk omi, faizal, dedi, dan uki mengintip dari luar kamar.

aku kenapa?
Fauzan, mbak mus, dan mas yoyo malah balik bertanya “kamu inget sesuatu ga Peh?

aku? enggak.. tapi aku capek banget. Capeeeek banget!
Saya memang merasa kelelahan semalam setelah tak sadarkan diri, seperti habis mengelilingi desa yakati 100 kali.

Dan…
Saya baru tahu hari ini, di kapal ini, bahwa semalam saya (entah apa namanya) kesurupan.
GREAT! ME? KESURUPAN? OH.. YOU MUST BE KIDDING ME!

Kapal Katinting, perjalanan ke bintuni 11 Agustus 2012

H-1


Insiden yang terjadi semalam, suskses membuat saya lemas lahir batin tiada tara. Bahkan hingga hari inipun masih terasa remasan aneh  di perut saya. Kejadian yang tak pernah saya sangka akan terjadi pada saya. Ah, masa iya saya kesurupan?

Semalam, menjelang H-1 kepulangan kami. Kami disibukan dengan berbagai macam laporan yang harus kami selesaikan. Ah, memang merepotkan saja LPPM ini. Ketidaktersediaan listrik ini membuat kami semua harus menulis semua laporan dengan menggunakan tangan. Saya sendiri masih berjuang untuk menahan sakit bekas luka piknik woroboy, ditambah dengan luka tangan dan kini harus menulis laporan sebanyak ini.

Kemarin, hari terakhir kami akan berada di Yakati. Terakhir menatap matahari yang terbit dari bukit, terakhir mengunjungi balai desa, terakhir mengambil air di darat, terakhir menatap wajah ceria anak-anak ingusan (in literally) ini, terakhir berhubungan dengan agas, terakhir tidur bersama di pastori. Ya pokoknya terakhir. Karena besok, tanggal 11 kami akan pulang ke Bintuni.

Di hari terakhir kemarin, saya dengan bersemangatnya masih mencuci baju untuk terakhir kalinya, yang setelah itu pergi ke sekolah dasar dan mengajar anak kelas 1. Ah.. muka-muka yang tak akan saya temui lagi nanti. 
Di hari terakhir kemarin itu, saya dan fauzan memberikan reward berupa buku, pensil, dan alat tulis lainnya bagi mereka yang bisa membaca kalimat yang kami tuliskan di papan tulis. Ya, seperti layaknya hari-hari sebelumnya, mereka tampak antusias, dan juga diiringi dengan beberapa tangisan anak yang dijahilin oleh anak lainnya.


Haru biru menyelimuti kami saat waktu mengajar telah habis. Saya berkata bahwa inilah saat terakhir saya dan fauzan akan mengajar di kelas dan berpesan bahwa mereka harus menjadi anak pintar dan pergi ke Jawa untuk melanjutkan pendidikannya. Mata mereka tampak ragu untuk menangkap apa yang saya sampaikan, tapi setidaknya doa dalam ucapan saya telah terlepas dan akan ditangkap malaikat untuk diamini.




Anak-anak itu memeluk saya di akhir kelas, juga fauzan tentu saja. Ada setitik rasa sedih yang tiba-tiba hadir. Kalau saja jarak jogja dan yakati hanya sejauh jalan kaliurang km 8-kampus, saya pasti akan datang dan mengajari mereka walaupun tidak setiap hari.

Kami kembali ke rumah dan kondisi rumah sudah tak berbentuk lagi. Barang dimana-mana, laporan dimana-mana, ini dan itu berada tidak pada tempatnya. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke balai desa bersama fauzan dan menyelesaikan laporan disana.

Saya memandang pemandangan yang entah kapan lagi akan saya lihat.

Tersadar lagi, bahwa kemarin adalah hari terakhir bagi kami.

Laporan saya selesai, dan fauzan tidak. Ah as usual fauzan! Selalu tidak fokus. Nanti kalau dikroscek, dia bakal jawab “loh, gimana mau ngerjain laporan, orang ada deki yang ngajak ngobrol…” haish! Ketebak zan. Atau mungkin dia bakal jawab “ada agas Peh.. “ aah.. give me BA give me SI BA SI! -__-

Sepulang dari pastori, saya dikejutkan oleh dedy yang berkata “Peh, ada kejutan tuh di dapur

Kejutan apa?

Anak-anak sudah heboh menyuruh saya ke dapur.

And you know whaaaaat????
ULAT SAGU IS IN THE HAOUSE MEEEEN! IS IN THE KITCHEN. IYUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUCCCCCCHHHHH!!!!!!!!!!!!!!
Iyuuuuch!
Iyuuuuch!!
Yeeek!
Dalam baskom, belasan ulat sagu tengah berjoget
Hewan apa coba itu, bentuknya seperti uget-uget raksasa yang meliukan badannya bak penari erotis. Berawaran putih dan tidak memiliki kepala.
Anehnya, itu dimakan!
Great! Hanya di papua!



Tak terasa, sorepun tiba dan malampun tiba.
Kami berbuka puasa untuk terakhir kalinya.
Menikmati santap dengan 10 orang yang selalu dilihat dalam hampir 5 minggu. Jujur, saat itu saya merasa gamang jika tak lagi berbuka puasa tanpa mereka.
Ya.
And the story goes….

H-8


Hari ini h-8 saya berada di desa yakati. Tidak terasa sudah sekitar4 minggu saya berada di papua, tanpa sinyal, tanpa twitter, tanpa berita, tanpa adzan di mesjid, tanpa ngabuburit. Hidup bersama dengan 10 orang tanpa bisa berhubungan dengan dunia luar. Sedikit banyak saya sudah mulai terbiasa. Terbiasa hidup tanpa harus ada embel-embel menunggu sms, tanpa tahu apa yang dikicaukan orang dalam media twitter, dan tanpa hectic pekerjaan. Ya semuanya berjalan tenang dan apa adanya. Berbaur dengan masyarakat, menjalankan program, dan kegiatan pribadi kelompok. Saya mulai terbiasa untuk mencuci piring ala papua yang awalnya saya agak risih. Saya mulai terbiasa mengangkat air dengan jarak yang tidak dekat dan medan yang tidak mulus, saya mulai terbiasa melihat orang meludah atau memuntahkan sirih pinang yang berwarna merah. Saya mulai terbiasa melihat kaki kotor berlumpu dan juga kulit hitam yang berada di sekeliling saya. Mulai terbiasa dengan udang galah yang besaaar sekali karena kami lumayan sering memakan itu. Terbiasa dengan cuaca papua yang fluktuatif. Kadang panas membakar kadang hujan lebat mengguyur, kadang ada pelangi, kadang ada angin kencang. Ah ya seperti itulah. Walaupun saya belum terbiasa dengan sengatan agas yang mematikan, tapi kini saya cukup bisa sedikit berdamai dan bersabar.

Hmm... h - 8 meninggalkan yakati.

Padahal saya baru saja tiba dan sebentar lagi harus meninggalakan tempat ini. Kali ini saya hanya ingin berquality time dengan yakati. Ingin lebih sering ke dermaga, ke daratan, ke hutan, dan semuanya. Mungkin saya tak akan lagi bisa melihat view sebagus ini di jawa. Yang ketika menoleh ke kiri ada gunung yang bagus dan jika menoleh ke kanan ada air dan pemndangan yang menakjubkan. ya walaupun anjing dan agas berkeliaran semenanya, tapi saya harus menikmatinya bukan? hey, saya ini papua. Papuaaaaa!!

Yakati, 7 Agustus 2012

Akhir-akhiran


Hari senin terakhir di yakati. Seperti biasa, aktifitas pagi setelah sholat subuh, tadarus, rapat, dan tidur adalah mengajar di satu-satunya gedung sekolah yang ada di yakati. Mengajar anak-anak ini sebetulnya adalah satu pengalaman yang sampai kapanpun tak akan bisa saya lupakan. Ya bagaimana tidak, anak-anak ini menguji kesabaran saya dengan amat. Saya kebagian mengajar kelas 1. Dan seperti halnya anak kelas 1 pada umumnya, mereka susah sekali diatur. Ada yang memangis, ada yang berlarian ingin keluar kelas, ada yang bermain sendiri, ada yang merengek minta pulang, tapi ada juga yang fokus belajar. Seperti hari ini, kami belajar berhitung dengan menggambar. Yang kemnudian membuat pagi ini merinding adalah saat mereka menyanyikan lagu wamesa dan papua barat. Ah, bagus sekali ssat mereka menyanyikan lagu itu. saya sadar tak akan lama lagi saya tak akan bisa mendengarkan celoteh ramai dan juga lagu itu dinyanyikan.

Kemarin malam juga, setelah uda uki sakit diare karena makan tempe papua, fauzan menyusul dengan demam dan muntah-muntah. Tak tahu apa yang menyerang anak itu, tapi dia yang biasanya ceria dan suka membully kita semua se kkn mendadak diam dan kesakitan di bagain perut. Semaleman dia muntah-muntah, dan untungnya pagi ini, kondisinya jauh lebih membaik. Ya semoga saja sisa hari hari berikutnya yang tinggal 5 hari ini bisa berkesan. ohya setelah gonjang ganjing kedatanagan bupati, semalam kepala desa yang sudah tidak menampakan batang hidungnya selama bertahun-tahun, datang di pastori kami dengan pakaian ala-ala buroanan dan menyatakan kekecewaannya dengan pemda. Dan karena saya tersulut rasa kecewa karena rasa sayang dengan masyarakat Yakati, sayapun dengan agak kurang ajar mempertanyakan tanggung jawabnya sebagai kepala desa yang meninggalakan masyarakat.

Huft.

Yakati, 6 Agustus 2012

Liburan dalam "liburan"


Karna program KKN hampir 80% selesai kami lakukan. Hari ini kami memutuskan untuk pergi berlibur ke sebuah daerah bernama woroboy. Spanyel dan kak kris hanya memberi clue bahwa tempat itu adalah tempat yang indah. Dan benar adanya, woroboy adalah tempat yang indah sekaligus full of mistis. 

Perjalanan kami mulai di pagi hari dengan menggunakan long boat.

Siap berpetualang. Yeay!


long boat itu kendaraan mahsyur di Papua :)



perjalanan selama sekitar satu jam, dan akhirnya kami sampai juga di woroboy. Betul adanya, tempatnya bagus sekali. Airnya jernih dan pemandangannya menakjubkan. Dulu saya terkagum-kagum dengan Yensey, tapi ternyata woroboy lebih bagus dari Yensei.

kami harus menerobos hutan dulu untuk tiba ke sini :

disana kami berenang.
wait, berenang? hahaha.. terimakasih pada seluruh alam, saya yang trauma akan air dan pernah mempunyai pengalaman tak menyenangkan dengan berenang ini akhirnya berani untuk berenang dan bermain air. Dengan menggunakan life jacket saya berenang ke sana ke mari. Berkat troll dari mas yoyo juga nih, akhirnya saya berani menggerakan badan saya di air. Ternyata melawan rasa takut itu menyenangkan juga ya :)
ah..

selesai dan puas kami berenang, kami kembali menelusuri jalan dan menemukan view yang lebih bagus lagi. 

seperti foto untuk serial televisi deh..
saya takjub melihat proses penangkapan udang
ini dengan kakak kris. kakak paling ganteng se YAKATI! :D

kami terus berjalan dan berjalan. Bermain dan bermain. Semua luka agas yang tersisa di kulit kami celupkan pada air dan berharap hilang :p

foto dulu sebelum pulang

Jujur, saya bukan anak petualang yang bisa menghadapi medan apapun, jadi saya agak rempong selama perjalanan. Tapi saya juga bukan anak manja yang tidak bisa menghandle perjalanan. Ya walaupun terseok-seok di dalam hutan saat perjalanan pulang, saya cukup menikmati. 
Mungkin rejeki kami mendapatkan hujan deras saat perjalanan pulang. Dan itu menjadi perjalanan paling menantang. Sekujur tubuh basah kuyup dan kaki sudah terkena lumpur dan tanaman entah apa namanya yang membuat kaki luka-luka

ini hutan
ini pemandangan

Ya. waktu bermain kamipun habis. Kembali ke Yakati dan kembali pada KKN. Sepanjang perjalanan, saya hanya tertidur pulas. Bangun-bangun, saya sudah dekat dengan dermaga Yakati.

Liburan telah usai :(
dan air sudah surut :(


YAKATI,  Agustus 2012

Minggu, 02 September 2012

Katanya pemda...


Katanya pemda akan datang. Begitu berita yang dibawa Sinema beberapa waktu yang lalu. Pemda akan datang terkait dengan program kami juga karena akan mengecek program ABRI masuk desa. Katanya pemda akan datang di tanggal 3. Tapi hingga hari ini tanggal 5, pemda tak menampakan diri. Saya sendiri sih tidak peduli, pemda mau datang kah, tidak kah, terserah! Anak-anak kelompok KKN juga menurut saya tidak ambil pusing dengan kedatangan pemda ini. Tapi bagaimana dengan masyarakat yang ada di yakati? bagaimana dengan perasaan mereka? Mereka yang telah berharap sekali akan hadirnya pemda. Mereka telah berbuat ini dan itu, dijanjikan akan datang, dan bagaimana kecewanya mereka ketika pemda tak kunjung juga datang?
Malah yang kemudian datang dan membuat rencana ngabuburit di dermaga batal adalah kehadiran bu umi dan tim PSKK yang tetiba datang di yakati dengan membawa serta pak saiful (bapaka pemerintahan yang saya juga tak tahu jabatannya apa, tapi mempunyai pencitraan yang baik). Tapi setidaknya, kehadiran mereka memberikan sedikit “angina sejuk yang palsu” bagi masyarakat disini.

Dear pemerintah daerah,
Kalian harus tau betapa kami semua menyiapkan tanggal 3 dengan sangat maksimal. Mulai dari menyiapkan tempat, rapat hingga dini hari (padahal bagi kami yang KKN, kami harus sahur pula) untuk menyiapkan apa yang disampaikan juga apa yang akan diresmikan.

Dear pemerintah daerah,
Mengapa gemar sekali bersikap begitu seenaknya?
Padahal harapan masyarakat terlampau besar akan kehadiran kalian. Masyarakat ingin adanya perubahan di desa ini. masyarakat ingin pemimpinnya datang. Apakah salah jika masyarakat desa ini meminta perubahan dan dukungan dari pemerintahnya sendiri? apakah salah jika masyarakatnya menuntut apa yang dulu pernah dijanjikan oleh kalian sendiri? sebegitu sulitkah permintaan mereka untuk tatap muka dan berbincang untuk kemajuan kampung ini dilakukan oleh kalian wahai Pemda?
Bahkan sesederhana, untuk menepati janj, apakah itu begitu sulit dilakukan?

Dear pemerintah daerah,
Tahukah betapa besara harapan pemuda dan bapak disini yang ingin diresmikan organisasi kampungnya yang telah kami bantu untuk mendirikan? Mereka butuh dukungan!
Betapa organisasi itu yang akan membantu kemajuan kampung ini, tapi apa yang kemudian mereka dapat?
Bahkan setelah anak-anak SD berlatih bernyanyi, da nada pula yang berlatih pidatom ibu-ibu sibuk menyiapkan masakan dan bunga. Juga atrakasi penyambutan, ini dan itu tapi tak ada yang serius dan niat datang ke sini.
Kalian yang berjanji padahal!





Dear pemerintah daerah,
Mama disini seharian di tanggal 3 kemarin telah menyiapkan aneka kudapan hasil olahan dan juga siap melakuakn demo kesenhatan. Mereka rela meninggalakan kegiatan menokok sagu demi kedatangan kalian. Begitu juga dengan anak sekolah disini yang sudah berlatih menyanyikan lagu daerah dan pembacaan puisi untuk penyambutan. Juga pemuda disini yang telah membuat hiburan suling dari sepanjang dermaga untuk menyambut. Ruang pertemuan dan rundown acara telah kami siapkan untuk kalian. tapi apa? 2 hari sudah dan kami tak mendapkan kepastian.

Dear pemerintah daerah,
Satu yang selalu saya yakini dalam hidup. Tanpa adanya hal kecil maka hal yang besar tak akan bisa diraih.  Bahkan hal kecil seperti menepati janji saja sudah begitu berat dilaksanakan, bagaimana dengan hal besar nanti?

saya pribadi sih peduli setan akan pemda, tapi dengan ini jelas saya benci dengan pemerintahan. sukanya kok PHP (Pemberi Harapan Palsu)

yakati, 5 agustus 2012

OPOR ayam ala saya (akuisisi)


“perempuan yang tidak bisa masak itu, bisa dipoligami..” uda uki

            Selama KKN ini, kami mempunyai jadwal masak yang agak absurd pembagiannya. Saya sendiri punya piket masak tiga kali dalam seminggu. Hari sabtu sore, minggu pagi, dan rabu pagi. Di hari rabu pagi, saya piket masak bersama mbak fitri dan dedy begitu juga di minggu pagi. Dan di sabtu sore, saya memasak dengan ozi dan faizal. Selalu saja da kejadian lucu, unik, menggemaskan, spektakuler, dan bombastis selama saya memasak.
            Masak pertama saya adalah mie dengan bumbu acakadut. Hahahaha..
Jadi resepnya adalah bawang merah dan putih yang diulek lalu kami memasukan mie. Tapi eh tapi, airnya kebanyakan. Dan ini menyebabkan rasa masakannya menjadi luar biasa aneh. Saya rasa sih, 7 anak lainnya pengen mencela masakan kami bertiga. Tapi karena anak-anak tau saya sudah berusaha sekuat jiwa raga, jadi mereka berkomentar yang menyenangkan hati saya “waah.. seger banget nih mienya..” MWAHAHAHAHA.. sepik sekali kan mereka?
            Belum lagi ketika kami harus mengolah ikan dan memasak dengan kayu bakar, saat itu saya, faizal, dan ozi yang kebagian pertama masak dengan kayu bakar. Huah, rempongnya setengah idup men. Asapnya itu kesegala penjuru mata angina lah pokoknya. Air mata keluar dan ya gitulah. Karena kami masak di luar jadi kami harus berkonsetrasi antara, ngipasin kayu, matanya pedih kena asap, mengusir ayam, anjing yang berkeliaran, dan pada masakannya. Tapi seru loh. Asli! :D
            Pokoknya kalau saya piket masak dengan faizal dan ozi, kami selalu masak dengan dua cara. Pertama, tanpa bantuan siapapun sehingga masakan akan seala kadarnya, dan kadarnya itu aneh. Dan yang kedua adalah masak secara featruring. Oh yeah beybeh, ada mas yoyo dan mbak fitri yang sering featuring dengan kami. Tapi beda halnya jika saya piket masak dengan mbak fitri, jika dengan mbak fitri, maka mbak fitri yang akan ambil komando, saya akan jadi tukan aduk, tukang potong, tukang ngulek, dan tukang nanya! Aiih kocak sekali. Sementara dedi? Ah dia mah.. don’t say~ kemana-mana. Kalau ditanya “woy, piket masak lo ded…” jawabannya gini “Aku ngajar peh, ini lebih penting. Kemajuan anak papua di tangan aku…” beklah…. Hahaha

pernah suatu ketika, kita dikasih ikan sebanyak ini sama mama desa yang jadi tetangga kita. makasih ma :')


Dan hari ini adalah hari terakhir piket masak saya dengan faizal dan ozi. Dan you know what saya bisa membuat opor kari yang lezaaaat, ah ya tapi masih kurang asin sih :p.
Saya akan cerita dulu kronologisnya. Keberadaan kami di PAPUA, membuat kami tak bsia merasakan beberapa kuliner lezat khas puasa. Seperti es batu ataupun ayam. Kami rindu sekali dengan ayam, rasanya kalau liat ayam berkeliaran di sekeliling kami, kami punya hasrat ingin menangkap dan menyembelihnya. Walaupun sebenernya, warga baik sekali, sering memebrikan kami ikan Sembilan ataupun udang. Tapi tetap saja, keinginan kami untuk menyantap ayam semakin menjadi. Jujur, saya memang kangen makan ayam. Tapi saya lebih ingin menahan dan membuat ayam itu special dengan memakannya sesampainya di Bintuni. Tapi beberapa anak kayaknya memang sudah ngidam kesumat dengan ayam, sehingga kamipun memutuskan untuk membeli ayam milik tetangga.
Ide nekat ini juga kami dapatkan setelah kami mendengar cerita anak Yensei yang juga membeli ayam tetangga untuk menyalurkan hasrat ingin makan ayam. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Kami tidak membeli ayam, justru dikasih tetangga. YEAAAH!
Hari itu, hari sabtu dan jadwal masak saya, dan anak-anak ingin makan ayam.

“aduh… masa pas aku piket sih masaknya?”

 sebelum itu, ayam hidup itu tentu saja harus dipotong dengan syariat islam. Untup pertama kalinya saya melihat penyembelihan ayam lengkap dengan caranya dikuliti. Tepuk tangan kepada fauzan, faizal, dan mas yoyo yang sudah membuat ayam berkokok itu menjadi potongan ayam siap masak. Sungguh luar biasa KKN saya.
dan kegalauan saya akan masak ayam terjawab setelah mas yoyo bersedia membantu. Tapi saya ingin menjadi wanita seutuhnya dengan bisa memasak. Maka mas yoyo hanya memberitahu saja bahannya, dan yang mengerjakan adalah saya. jadilah saya mengulek dan memasak ayam itu. Penuh keraguan awalnya, tapi karena saya, faizal, dan ozi ini orang cuek jadi ya udah, asal cemplung aja, dengan diberi doa.

1. bawa ayamnya
2. hadapkan kiblat dan potong

3. ayamnya mati
4. kuliti dan potong-potong

saya cukup mendoakan
ini dia hasilnya, tinggal dimasak

Menu makan kami hari itu adalah opor kari ayam dan terong. Terong adalah makanan yang tidak saya suka, dan HARI INI saja jadi suka terong. Ajaib ya? KKN ini bisa membuat saya yang tadinya tidak pernah menyentuh terong menjadi suka terong.
Oke, kembali lagi di di masak opor. Setelah memasukan ini itu dan insting masak yang kuat, TARAAAA jadilah opor kari ayam ala alifah farhana, faizal, dan ozi. Yuhuuu, saya bahagia loh, jujur ga bohong. Keberhasilan saya masak ini harusnya diumumkan melalui TOA milik papa musik dan juga diumumkan di gereja. Sungguh semua orang harus tau.

Sore hari ini, keinginan berbuka puasa di balai desa kembali tidak terlaksana. Karena tiba-tiba kami mendapatkan tamu. Kami kedatangan bu Umi dan tim dari PSKK juga pak syaiful perwakilan pemda. Waw. Setelah 2 hari kami menunggu pemda yang tak jadi datang, justru kami kedatangan bu umi dan “gengnya”. Mereka berbuka puasa bersama dan memakan masakan saya.

(guys, you have to know, aku grogi loh pas kalian makan)
            Aih, hari yang random sekali. Dua harian ini kami menunggu pemda, dan akhirnya kami malah menyembelih ayam dan memasaknya.

Enyway  saya bisa masak, so.. saya tidak bisa dipoligami. Hehehe

 Yakati,  4 Agustus 2012

Pastori



"lebih baik disini... rumah kita sendiri.."

Kami tinggal di pastori. Rumah pendeta yang rumahnya terbuat dari kayu. Full of kayu. Di hari kedua kedatangan kami, kami langsung menghias dan menata rumah dengan teramat baik dan apik hingga tercipta rumah yang nyaman dihuni untuk 10 orang selama sebulan lebih ini. Ada dua kamar untuk kami tidur, dan satu kamar untuk ruang “danlainlain”, ya ruangan untuk menyimpan mulai dari bahan makanan, pakaian semi kering, peralatan program dan alat mandi dan cuci kami semua. Lalu ada pula ruang serba guna yang letaknya di tengah. Sangat serba guna, jika siang digunakan untuk beraneka macam pertemuan, muali mengadakan kelompok belajar untuk anak, rapat di pagi hari, makan bersama, bercengkaram santai, sholat tarawaih, sholat subuh berjamaah hingga menyambut warga yang hilir mudik datang tak kunjung berhenti. Ruangan yang tidak begitu luas, tapi sungguh multifunsgi dan sangat nyaman. Terdapat dua meja. satu besar dan kecil. Yang besar adalah meja kerja kami dan meja laporan sementara meja kecil untuk menyimpan barang-barang yang biasa kami bawa. Terdapat 4 jendela sehingga ventilasi dan penerangan lancer jaya sekali. Kemuadian, dibelakang yang dibatasi pintu, terdapat ruang makan sekaligus dapur. Kami menggunakan kompor minyak (yang itu juga kami hemat penggunaannya) untuk memasak ditambah dengan satu meja makan multifungsi. Dibelakangnya lagi ada sebuah kamar mandi yang bersih. tempat kami biasa antri membuang yang harus dibuang. Dan kami ada dapur outdoor yang ditutupi tenda, disana kami masak dengan menggunakan kayu bakar. Letakanya yang diluar dan ditutupi matras jadi jikapun hujan tidak masalah.
Di teras terdapat dua buah kursi yang jika malam bisa langsung menatap langit yang penuh dengan bintang juga view pegunungan. Sungguh pastori yang menyenangkan.
Pastori kkn :)

ini tampak depan. anak-anak sering sekali main kesini
ini kamar lelaki
ini kamar wanita
ini ruang serbaguna kami tercinta. Dibelakangnya dapur

ini tampak depan


nah ini dia. Tempat "barang siapa-barang siapa" dijemur


ini tempat kami selama 5 minggu 

ada satu perasaan kacau yang menyeruak. Ingin keluar namun tertahan. Ada rasa ingin tahu yang bersembunyi malu-malu. Siapa lagi kini yang bisa mendengar? siapa lagi kini yang bisa merasa?
ah, tapi sepertinya ini bersumber dari ketidakmampuan saya untuk bertanya "kamu, apa kabar?"
sesederhana itu saja.. kekesalan ini bersumber. Rindu yang tak tahu malu.




pasang anting


            Dimanapun kita berada, terlebih di daerah pelosok, tentunya akan ada acara tradisional. Kali ini terdapat upacara adat yang cukup unik. Upacara adat yang secara langsung kami lihat dan juga yang terdapat di yakati adalah upacara pasang anting. Upacara ini ditujukan untik mereka yang berjenis kelamin perempuan, dan memasuki usia balita. Tujuannya untuk membuat lubang anting pada telinga si wanita.
Acaranya cukup seru, dimulai dari siang hari. Masyarakat mulai membawa bingkisan seperti piring, beras, dan juga beberapa seserahan untuk keluarga yang mengadakan upacara pasang anting. Kebetulan yang mengadakan upacara ini adalah bapak kepala suku, jadi merupakan keluarga yang terpercaya sekaligus juga kaya raya.

ini persiapannya. Ini piring yang akan diserahkan


setiap warga bawa satu gitu. 


rame banget emang




ini tempatnya, semuanya kumpul disini. dan upacara akan dimulai

telinganya dimasukan benang gitu



ya, ini dia. Benang, jarum, dan anting



Beberapa dari kami, seperti faizal, dedi, dan uda sudah lebih dulu bertanya pada papa-papa tentang upacara ini. dan kemudian saya dan fitri mengikuti jalannya arak-arakan. Kami mengikuti upacara dari awal dan ikut berjalan beriringan ke rumah kepala suku. Sampai disana, para masyarakat yang membawa bingkisan baris sambil berjoget. kemudian dari depan, keluarlah anak berumur 3 tahun yang langsung didudukan di atas sebuah nampan dan karung yang berisi beras. Upacarapun dimulai, telinga si anak dimasuki jarum yang telah ada benangnya. Telinga bagian bawah untuk tempat anting-anting milik si anak itu dimasukan jarum itu. Ya prosesnya sama seperti menjahit baju begitu. ouch..kebayang deh saya sakitnya kayak apa. Semoga saja itu steril ya J
Ketika dimasukan, si anak tentu saja menangis meraung-raung. Tapi ya sudah, hanya itu saja. singkat sekali upacaranya.Esesnsinya ya hanya memasukan benang ke telinganya untuk membuat lobang, jadi memang sebentar. Yang lama itu… SYUKURANNYA! Owkyeh beybeh, here we go, lets dance togather…





semuanya kumpul disini. Guyub deh






Setelah itu selesai, sesembahan yang telah dibawa warga tadi diserahkan kepada tuan rumah. dan pestapun dimulai. Kudapan mulai keluar. Hanya 3 macam sih, ada donat, gorengan roti, dan kripik pisang, dengan minuman teh dan kopi.
Karena hari itu saya kebetulan sedang haid, maka hasrat kuliner sayapun tersampaikan. Saya mencoba semua makanan itu walaupun hanya segigit-segigit. hahaha.. ya lumanyanlah..
Setalah mencoba donat dingin dan kali juga roti isi mie dan keripik pisang yang rasanya sungguh tawar :p saya ikut bejoged dengan masyarakat. Untung hari masih siang jadi energi joget saya masih besar. Lagipula di papua ini joget juga hanya berputar-putar tanpa gerakan khas. Jadi ya lets rock the party saja lah ya…

Tapi acara belum selesai, malamnya acara masih akan berlanjut. Ya acara joget-joget khas papua itu. Tapi dimalam hari dan yang akhirnya ikut hanya yang lelaki kami saja, para gadis termasuk saya tidur lelap di pastori. Dan seperti adat pada biasanya, rokok dan miras adalah dua hal yang tidak bisa hilang dari perayaan papua. Tidak itu mama, papa, anak muda, hingga anak-anak akan banyak mengkonsumsi itu. Entahlah, semacam pembodohan masal, tapi karena itu budaya dan kamipun bukan masayarakat asli, dan hanya hanya berKKN, ya kami tdiak bisa merubah sampai ke tahap perilaku. Jadi ya cukup dijadikan pengalaman saja deh..




Yakati,  Agustus 2012
© RIWAYAT
Maira Gall