Sabtu, 27 Februari 2016





Aku cukup yakin, kamu satu paham dengan lagu ini.
Dan setiap kali aku dengar ini, seperti aku dengar kamu mencoba meyakinkanku bahwa kamu sebenarnya tidak kemana-mana. Lalu, aku harus percaya, kalau kamu memang tidak kemana-mana?


Aku ingin sekali marah.

Kamis, 04 Februari 2016

Perbandingan

Saya pikir, tidak ada satupun orang yang benar-benar bisa berbagi cinta.
Ya.. seperti isu poligami misalnya. Walaupun saya harus mengakui itu ada dan diperbolehkan di agama, tapi entah kenapa saya selalu berdoa agar itu tidak akan pernah terjadi dalam hidup saya. Alasannya bukan karena status sosial atau itu berpotensi diomongin oleh satu Indonesia Raya. Alasannya justru sangat pribadi, karena saya engga akan tahan berbagi hak pakai suami dengan orang lain. Atau bisa jadi juga karena saya adalah tipe wanita posesif, jadinya konsep berbagi suami itu engga akan pernah ada dalam cita-cita saya.

Ah engga taulah…

Tapi apapun alasannya, rasanya sulit untuk membayangkan bahwa saya bukanlah wanita satu-satunya. Membayangkan akan ada malam-malam dimana suami saya akan bersama wanita lain, ah… itu sudah lebih dari cukup membuat saya mules. Engga mau, ya Allah. Engga kuwat.. 

Untuk itulah, hormat saya pada teh nini sungguh amat besar.

Anyway… Saya jadi ingat sebuah drama korea yang saya lupa apa judulnya, tapi itu tentang perselingkuhan. Ceritanya sederhana, ada dua keluarga, A dan B. Keluarga A adalah keluarga terpandang, kaya, dan sangat berkelas di Korea. Sementara keluarga B adalah keluarga sederhana, yang sang suami cuma kerja jadi pegawai bank dan si wanita ibu rumah tangga. Perselingkuhan terjadi oleh lelaki dari keluarga A dengan wanita keluarga B. Lebih pelik lagi karena suami si keluarga A juga pernah berselingkuh dari istrinya dengan wanita lain. Jadi, satu-satunya orang yang tidak berselingkuh di drama korea itu adalah si wanita dari keluarga A alias istri dari keluaraga A. Paham kan?

Drama korea itu hanya memiliki episode yang pendek. Engga sampai 20 an kalau engga salah. Tapi saya harus mengakui, kalau saya baru paham apa esensi sakitnya orang yang diselingkuhi saat sudah berkelurga dari drama korea itu. Cara yang sangat cerdas dan ngena!
Sekaligus menjelaskan pada saya mengapa tidak ada orang yang sanggup berbagi hati.
Satu adegan yang akhirnya membuat saya paham, terjadi saat ada pertengkaran di keluarga si A. Sang suami menjelaskan pada sang istri bahwa walaupun dia dan wanita dari keluarga B itu sempat jalan bersama, tapi mereka tidak sampai melalukan hubungan seksual. Dan si lelaki itu memang berkata jujur. Saat perselingkuhan itu terjadi, mereka hanya pergi makan atau ke toko buku bersama. Tidak lebih dari itu. Tapi sang istri, dengan tenangnya berkata, yang kurang lebih kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia begini, “Aku bisa bertahan untuk engga cerai. Demi anak-anak, demi status sosialmu, semuanya bisa aku tahan-tahanin! Tapi jangan pernah minta aku buat memahami kalau kamu itu engga ngapa-ngapain. Karena setiap kali aku liat kamu, sejak aku tau kamu pergi sama dia, yang ada dipikiranku cuma satu. Kalian, ngapain aja? Dia ngapain aja?”

Si suami merasa kehabisa tenaga menjelaskan, dan kembali mengulang penjelasan yang sama kalau dia, tidak melakukan apa-apa dengan si wanita selingkuhannya. Tapi itu tidak cukup kuat membuat si istri paham. Dan pertengkaran tanpa lempar gelas dan adegan tertabrak mobil itupun berakhir dengan si wanita pergi dari ruangan meninggalkan si pria yang terdiam.

Kodrat manusia memang ingin memiliki sesuatu dengan seutuhnya. Tidak separuh, seperdelapan, atau cumi seuprit. Maunya ya sepenuhnya, tidak boleh dibagi, dan tidak bisa dibagi. Perasaan sedih dari seseorang yang diduakan untuk alasan apapun, menurut saya bukan karena perasaan tergantikan. Toh semua orang juga pasti pernah meninggalkan atau ditinggalkan. Jadi perasaan tergantikan itu sebenarnya lumrah. Perasaan sedih dan nyerinya itu, datang dari keharusan untuk mentolerir atau dengan sadar menerima bahwa ada seseorang lain disana, yang bisa atau yang pernah menggantikan peran kita.

Akhirnya perasaan yang muncul adalah perasaan untuk dibandingkan. Dan menerima bahwa kita ternyata mempunyai pembanding, sungguh bukan hal yang sederhana untuk di terima.  

Itulah mungkin yang membuat isu poligami sulit diterima, yang membuat perselingkuhan sulit dimaafkan, dan yang membuat hubungan kita dengan mantannya pasangan kita akan selalu buruk. Apakah ada orang yang benar-benar cinta, bisa ikhlas lahir batin berkata “Aku ga bisa jemput kamu nih, minta jemput mantan  (suami) kamu aja ya… “  

Kan sarap!

***
Saya belum menikah, saya tidak dipoligami, dan saya tidak pernah punya pengalaman diselingkuhi. Tapi malam ketika saya melihat sebuah foto wanita. Sontak hati saya nyeri dan berkata pelan “Oh… jadi ini yang dulu pernah….”



Ah sudahlah….

Rabu, 03 Februari 2016

Berjaga

There are things I miss 
That I shouldn’t, 
And those I don’t 
That I should.  

Sometimes we want 
What we couldn’t— 
Sometimes we love 
Who we could 
(Acceptance – Lang Leav)  


Ada sebuah pesan yang datang pukul 03:07

“Kalau hidup itu soal kuat sabar-sabaran, maka kedamaian hidup itu soal maaf-maafan. Termasuk maafin diri sendiri. #Notetoself” 

Disambung dengan pesan lainnya,

“Aku berdoa buat kamu, supaya kamu bisa bahagia ;)”  

Dua buah pesan, dari kamu!
Hah?
Apa?
Dari kamu?

Begitu tau itu pesan dari kamu, aku seperti memaksa bangun semua nyawa-nyawaku yang lain agar lekas berada dalam posisi siap sedia. Layaknya sebuah komando perang di subuh buta, karena tetiba kedatangan pesan dari musuhnya, dan sang komandan berteriak “Bangun semua! siap sedia!”

Tak lama setelah semua nayawa terkumpul, tersadarlah bahwa itu adalah pesan perpisahan (alih-alih menyebutnya pesan bunuh diri). Sehari tanpa pesan, dan kini dia datang membawa pesan bunuh diri. Menyebalkan memang! Dasar picisan! 

Saat semua nyawa siap sedia, berada di posisinya masing-masing, aku kembali membaca pelan-pelan, kata demi kata yang ada di pesan itu.  Barulah setelah itu terjadi perdebatan sengit dalam diri tentang respon terbaik apa yang harus dilakukan.

Dan hasilnya adalah, setelah menghela nafas, dan benar-benar berada dalam posisi sadar seutuhnya, tanpa komando dan aba-aba, respon yang keluar adalah air mata. Tidak kalah picisan memang! 

Tersengguklah aku di pagi buta. Menangislah aku dengan hampanya. Benar-benar hampa. Hampa yang sehampa-hampanya hampa. Tidak ada sedih atau gembira. Tidak juga lega atau sesak. Hanya menangis dalam diam. Kosong.

Perdebatan selanjutnya adalah tentang apa balasan yang harus diberikan.

Hingga detik ini, perdebatan itu tak kunjung reda. Para nyawa masih juga berdebat tentan apa yang harus dibalas? Dan kenapa harus membalas?

Karena aku sendiri tidak punya kata-kata untuk membalas.
Ah, bukan! Bukan tidak punya kata. Lebih tepatnya tidak mau membalas dengan kata-kata yang aku mau.

Karena aku tidak mau, meladeni perpisahan.

Kamu saja yang pergi.
Aku mau disini.  



Kalau-kalau kamu kembali.

Selasa, 02 Februari 2016

Jejak

“I look at everything I was,  
And everything I ever loved, 
And I can see how much I've grown”
 (This Time)  

Sudah bulan februari saja, tidak terasa. Rasanya baru kemarin orang-orang heboh untuk membicarakan fatwa valentine itu haram atau tidak untuk diucapkan, eh sekarang sudah sampai lagi kita di bulan perdebatan valentine yang boleh atau tidak diarayakan atau diucapkan ini.

Tapi terlepas dari apakah valentine itu boleh atau tidak, tapi saya pribadi sepertinya membutuhkan asupan coklat yang banyak. Bayangkan saja, saya memulai bulan februari yang katanya penuh cinta ini, dengan sebotol kiranti lengkap dengan adegan berguling-guling di kamar seorang diri. Keram perut itu menyiksa, bung!   

Tapi saya sungguh bersyukur dengan adanya keram perut di awal bulan ini. Gegaranya saya jadi hanya tinggal di rumah, dan kembali menulis! Hore!

Di sela-sela pergulatan dengan keram perut, saya kembali membuka-buka folder foto sambil mendengarkan beberapa lagu di laptop. Bagi saya, membuka folder foto lama dan melihat kembali beberapa pose yang kadang kampungan, kadang kece itu, adalah satu hal yang menyenangkan. Rasanya seperti dipaksa melihat betapa menakjubkannya hidup saya ini.

Saat melihat beberapa foto, saya seperti diingatkan tentang banyak hal yang sudah terjadi. Hanya dari foto, tetiba saya sudah berpetualang jauh ke masa lalu.

Tidak ada dampak yang nyata sih memang, tapi dengan melihat kembali masa lalu, walau itu hanya dengan scrolling ke kanan dan kiri, ternyata mampu membuat saya ingat banyak hal. Salah satunya adalah mengingatkan saya tentang banyaknya hal yang sudah saya lupakan.
Ah tapi kan kita ini, memang gudangnya lupa.
Ya kan?
Lupa tentang betapa jauhnya kita sudah berjalan, lupa betapa hebatnya kita sudah banyak melewati keadaan sulit, dan lupa betapa tangguhnya kita ketika harus dipaksa berdiri oleh kenyataan.

Dan sesederhana melihat foto lama, sanggup membuat kita jadi ingat hal-hal itu lagi.
Saya tersenyum sendiri, saat melihat beberapa foto yang sejarahnya sebenarnya kelam.
Saya juga tersenyum, nyaris menangis, saat kembali melihat foto dengan senyum bahagia saya dan teman-teman yang entah dimana mereka sekarang.

Perasaan ini seperti halnya ketika saya sedang beres-beres kamar. Dimana kadang saya kembali menemukan surat cinta, pernak-pernik pemberian orang, hingga tiket-tiket atau prikitilan yang tidak pernah saya buang. Walaupun dipaksa bagaimanapun saya tidak akan membuang barang-barang kecil yang bagi mama adalah sampah itu.
Alasannya ya seperti hari ini: sebagai pengingat, bahwa saya sudah berada di masa ini, dan tidak lagi di masa lalu. Dan betapa penjagaanNya tidak pernah putus walau sedetik untuk saya hingga hari ini.
Walaupun semuanya terasa  kabur dan abu-abu, tapi semua benda dan foto itu, hadir seperti meteran yang mengukur sejauh apa saya sudah melangkah, sedewasa apa saya, dan seikhlas apa saya hari ini.

Sungguh membahagiakan.

Untuk alasan yang entah apa, tapi sungguh membahagiakan saat saya mengijinkan diri sendri untuk melihat lagi masa lalu. Berenang-renang disana sebelum kembali berjalan maju. Seperti sebuah colokan energi.

Seperti kembali diingatkan alasan apa yang membuat saya bahagia di masa lalu. Apa yang membuat saya sedih di masa lalu.  Mengingat kembali, apa yang terjadi dan apa yang saya lakukan saat itu.

Karena saya membutuhkannya sekarang.

Saya butuh untuk tahu, apa yang akhirnya bisa mengantarkan saya di masa lalu kepada saya di hari ini.
Agar kelak, saat saya di masa depan bertanya hal yang sama, saya di hari ini bisa memberikan jawabannya.



Ahh…

***

Ya Rabb, terimakasih untuk semua kisah. 

Di satu titik

Melihat kalimat pada sebuah buku yang aku tulis pada sebuah malam,



 “Hati yang meletup-letup senang, pada lelaki yang membawa sepiring keceriaan”  




Tidak ada yang abadi.
Tidak juga janjimu untuk menyelesaikan semua puisi.





Hadir

“Kau pun tak lagi kembali…”  
(Memulai Kembali)  

Aku tidak pernah merasa  memiliki apa-apa disini, selain apa yang memang disediakan alam semesta. Ya seperti air dan udara. Selebihnya, semuanya akan hilang dan pergi. Dengan beberapanya sempat aku kecap, sebagian lainnya tidak.  Seperti masalah-masalah yang terjadi kemarin, hari ini, dan esok hari. Bisa juga seperti perasaan sedih dan gembira. Semuanya akan berkunjung datang dan kemudian melangkah pergi.
Jadi sesungguhnya, tidak ada yang benar-benar kumiliki disini.

Selain, tentu saja Dia, yang denganNya kami saling memiliki.
Dan hatiku.
Dan mungkin juga kamu.

Mungkin juga kamu yang sebentar itu,
yang kini sudah siap pergi mengarungi laut biru.

Dan sekali lagi, ternyata tak ada yang benar-benar aku miliki, disini.



“Dan ku, kan memulai kembali….”  
(Monita )

Sepele


Apakah selamanya kita tidak akan pernah bisa melewati patah hati? Apakah kita memang tidak akan pernah aman dari sengatan sedihnya? Apakah patah hati adalah sebuah keniscyaan?

Jika iya, sedih sekali jadi seorang manusia yang harus merasakan patah hati yang bertele-tele itu. Belum lagi sebelum itu, harus merasakan jatuh cinta yang tak kalah peliknya.
Duh… hidup macam apa yang setelah berbahagia lantas harus bermuram durja?

Suatu hari, bertemulah saya dengan seorang teman yang hendak melaksanakan pernikahan. Dia yang seumuran dengan saya sepertinya tidak bisa untuk menahan diri untuk bertanya “Jadi kamu kapan?” kepada saya. Jadi ketika pertanyaan itu terlontar, saya agak kesal.

Eh tapi jangan salah, sebenernya saya ini ingin loh, menjadi orang yang bisa menjawab pertanyaan tentang waktu dengan mantap. Tidak harus tentang topik menikah deh, tentang apa saja boleh. Saya ingin jika saya ditanya pertanyaan ‘kapan’, saya bisa langsung menjawab tanpa keraguan. Seperti kalau ada yang bertanya “Ini jam berapa ya?” dan saya bisa langsung jawab “Jam 2 kurang 5 menit”. Tapi sayangnya waktu dan kesempatan adalah dua hal berbeda. Menanyai jam berapa adalah bentuk ketidaktahuan (atau kesok-eska-esde-an), tetapi bertanya kapan adalah bentuk penasaran. Jika bisa, saya pun ingin bisa menjawab ketika ada yang mungkin iseng bertanya, “Kamu kapan mati?”  dengan jawaban “Ini sebentar lagi dalam 5… 4… 3… 2…1…”.

Oh kembali lagi ke pernikahan. Alih-alih saya jawab, saya balik bertanya kapannya menjadi “kapan kamu yakin kalau dia itu jodohmu?”.
Dan dia diam agak lama. Saya langsung ngeri kalau pertanyaan saya membuat dia membatalkan pernikahannya. Tapi lebih repot kalau dia menikah tapi ternyata tidak yakin. Jadi saya kembali bertanya “Jangan-jangan belum yakin ya?”.
Dan dia mencubit saya sambil menjawab “Aku yakin sama dia itu pas dia melakukan hal yang sepele. Dia ga pernah sekalipun nolak ketika aku minta dia anter jemput aku”. Saya tersenyum, “Kayak gojek gitu ya?”.
Dia mencubit lagi, kali ini lebih kears dan mantap, sambil berkata, “Aku ga pernah minta anter jemput cowo lain selain dia. Dia yang aku harapkan buat ngejemput aku. Dijemput tuh nyenengin tau! Disitu aku yakin, aku bisa hidup sama dia”. Saya manggut-manggut.  “Yaudaaah, kalau kalian besok miskin, suruh dia jadi tukang gojek aja”. Dan teman saya marah. Marah dengan balasan yang tidak terduga, “Itu dia masalahnya, aku ga akan ngijinin dia buat jemput wanita lain selain aku, ibunya, atau keluarganya yang lain tanpa ada aku”.
Oh oke... aneh tapi menarik.

Percakapan itu menggiring saya pada satu pertanyaan, kapan kita merasa yakin terhadap sesuatu? Yakin bahwa ini adalah patah hati dan mari kita pasang lagu-lagu C minor. Atau ini adalah bahagia jadi mari kita joget sambil kayang.
Atau keyakinan adalah sebuah jawaban dari kapan? Ah bisa jadi seperti itu.

Dan menariknya, ternyata keyakinan itu, bisa dengan mudah didapat dari hal-hal yang sangat sepele, begitu juga dengan ketidakyakinan. Semua selalu bermula dari hal-hal yang sepele. Seperti jatuh cinta.

Lalu begitulah misterinya. Kapan yang selalu jadi misteri itu, seringkali sudah terjawab tanpa kita bisa menjawab kapan waktunya,
Lalu kapan saya akan yakin bahwa diantara kita terbentang sebuah rintangan yang luar biasa kokoh. Atau kapan saya bisa diyakinkan kalau tak akan ada yang bisa dilakukan, kecuali, ya kalau kamu amnesia.


Hingga kapan hingga tak ada lagi patah hati?
Dan berani untuk,
memulai kembali?



Argh!

Akar

"If I show it to you now, will it make you run away?  
Or will you stay, even if it hurts, even if I try to push you out,
 will you return?"

(Dark side)  


Beberapa malam yang lalu, saya melihat tayangan Mata Majwa dengan episodenya yang cukup menyenangkan: EKSIL 1965.
Bukan tentang PKI nya dibahas, tapi tentang orang-orang Indonesia di luar negeri yang pada tahun itu sedang belajar di Eropa (khususnya), dan tetiba kehilangan kewarganegaraannya. Alasannya juga bukan karena mereka adalah PKI, tapi karena mereka tidak mendukung pemerintahan orde baru. Bahkan hingga hari ini, masih ada dari mereka yang tidak punya kewarganegaraan, dan sebagian lain memilih untuk menjadi WNA.
Didatangkanlah oleh tim Mata Najwa, para eksil dengan pengalaman mereka.  Cerita mereka cukup sama, dimana pada saat itu, mereka dicabut warga negaranya, diblokade untuk tidak bisa pulang ke Indonesia, dan dibiarkan bertahun-tahun untuk tidak bisa saling kontak dengan keluarga mereka di Indonesia.

Salah satu cerita yang bagi saya menggugah, datang dari seorang eksil yang saat kejadian sedang berada di Ceko. Saat ia menolak pemerintahan orde baru, ia langsung dianggap PKI. Akibatnya, istrinya dipaksa harus menikah dengan orang lain, anaknya dipaksa untuk diganti identitasnya, dan ayahnya dipaksa untuk tidak mengakuinya sebagai anak. Saat Najwa Shihab bertanya tentang apa yang bisa Indonesia perbuat untuk menebus itu, kurang lebih komentarnya seperti ini “Saya pikir semuanya bisa diganti. Saat saya datang ke Indonesia, saya bisa sumbangkan ilmu saya. Pembangunan bisa dikebut. Semuanya bisa diganti, tapi bagaimana bisa perasaan itu diganti? Waktu diganti? Semuanya saya maafkan, kecuali yang satu itu”.

Menarik!

Tayangan itu, lebih tepatnya pengakuan eksil itu, membawa saya pada satu perenungan: sebab-musabab.

Ternyata, dalam hidup kita, akan ada satu hal, yang tejadi jauh di masa lalu kita, yang entah bagaimana kejadianya akan selalu timbul sebagai sebuah sebab. Sebagai sebuah akar. Sebagai sebuah titik mula. Tidak peduli dengan seberapa seringnya kita mencoba memaafkan peristiwa itu, atau sekeras apa kita mencoba melupakan. Atau walaupun itu sudah dimaafkan dan dilupakan sekalipun, tapi itu akan tetap ada disana dan hadir sebagai sebuah sebab.

Masalahnya, tidak banyak yang paham bahwa sebab adalah sesuatu yang layak untuk dihormati! Beberapa orang bahkan dengan lancang berkata untuk dimaafkan saja, dan sebagian lain yang agak kurang ajar berpendapat bahwa itu harus segera dilupakan. Katanya adalah, agar kita tidak menjadi seorang yang pendendam.

Seorang teman, pernah bercerita pada saya tentang bagaimana dia mencoba berdamai dengan masa lalunya. Dia berkata bahwa dia bisa memaafkan semuanya tapi tidak untuk satu hal. Satu hal kecil yang baginya bukan masalah memaafkan atau melupakan, tapi lebih kepada ketidak sanggupan dirinya untuk menalar peristiwa itu.
“Sampe hari ini, ga ngerti aku gimana bisa dia kayak gitu” 

Tidakah orang-orang itu paham, bahwa ini bukan perkara memaafkan atau melupakan? Karena maaf dan lupa tidak akan pernah merubah sebab musababnya. Tidak lantas bisa merubah akar masalahnya. Ini jelas bukan tentang memaafkan dan melupakan. Ini adalah tentang penerimaan.

Lagipula, bagimana mungkin kita bisa menyalahkan akar saat buahnya sudah siap dipetik?

Disadari atau tidak, bagi setiap orang, sebab itulah yang membentuk dirinya hari ini. Pun saya saat menulis ini, saya tahu betul apa biji sebab yang… yang tidak peduli mau seberapa keras saya melupakan atau memaafkan, tetap akan bergema di hati dan pikiran saya, selamanya. Sama seperti apa yang teman saya bilang  “Sampe hari ini, ga ngerti aku gimana bisa dia kayak gitu”. 

Tapi yang paling membuat saya tidak habis pikir adalah, orang-orang yang seharusnya paham bahwa itu adalah sebab, tidak menganggapnya demikian. Alih-alih menerima, malah menawarkan opsi lupakan dan maafkan.

Bukankah, memaafkan dan melupakan itu adalah urusan pribadi si sepemilik sebab. Tidak perlu diinternvensi orang lain. Justru yang harusnya dipertanyakan adalah apakah sedemikian sulit untuk menerima sebuah sebab dari masa lalu seseorang?

Apakah sebegitu sulit, menerima seseorang sedemikian telanjang?  




Just promise me, 
you will stay. 

(Kelly Clarkson)
© RIWAYAT
Maira Gall