Senin, 16 September 2024

Menutup Bab Jakarta (1): Terimakasih, Apartemen!

Semua orang yang baru merantau ke Jakarta, pasti bisa memahami kalau Jakarta bukanlah kota yang ramah. Jakarta itu seperti halnya atasan kerja yang awalnya jaga jarak, tapi lama-lama kita bisa melihat sisi lainnya. Kalau jodoh ya kita punya relasi baik, kalau engga jodoh, ya kita akan resign. Bahkan menurut saya, proses pemilihan Jakarta sebagai tempat tinggal tidak hanya berlaku pada sisi orang yang bersangkutan, tapi Jakarta itu sendiri juga ikut mengkurasi siapa-siapa yang bisa hidup di dalamnya. Makanya setiap saya dengar orang berkomentar, “Aku baru 3 hari di Jakarta aja udah pusing, apalagi kamu yang tinggal di Jakarta ya”, selalu saya balas dengan, “Soalnya 3 hari, coba 3 tahun, akan beda rasanya.” "Makin betah?", "Tergantung, jodoh engga sama Jakarta"

Jakarta juga bukan kota yang mudah kok bagi saya pada awalnya. Dibandingkan dengan Jogja yang begitu adem ayem, Jakarta seperti naik kora-kora di pasar malam. Bikin pusing, mual, dan berteriak-teriak histeris awalnya, tapi kalau dicoba beberapa kali, seru juga ternyata. Tapi percayalah, jika Jakarta berhasil mengkurasi kita sebagai salah satu orang yang bisa tinggal dan bekerja dalam waktu lama, maka akan ada tempat di Jakarta untuk kita.

Satu diantara tempat itu bagi saya adalah apartemen ini. Apartemen yang saya tinggali sejak tahun 2020. Butuh beberapa bulan untuk menyebutnya rumah, namun saat itu terjadi, apartemen ini menjadi satu-satunya tempat teraman dan ternyaman bagi saya di Jakarta. Apartemen ini saya dekorasi sesuai dengan kepribadian saya dan saya jaga dengan sangat baik. Apartemen ini menjadi tempat aman saya untuk menangis, tertawa, marah, frustasi, dan jatuh cinta. Setiap kali saya merasa tidak punya tempat di Jakarta, maka apartemen ini seakan hadir memeluk saya dan membiarkan saya menjadi apa adanya. Saya bebas melalukan apapun di sini seorang diri, mulai dari merayakan ulang tahun ke 30, pendarahan dan demam tinggi, momen diterima beasiswa, mewujudkan mimpi-mimpi saya, bekerja, daftar beasiswa, hingga senyum-senyum jatuh cinta pun semua dilakukan di apartemen ini. Apartemen ini adalah saksi saya melewati masa 20 menuju 30 tahun. Dan yang terpenting, apartemen ini adalah tempat pertama saya merasa memiliki rumah dan kehidupan yang nyaman.

Namun seperti halnya sebuah permulaan, tibalah masa apartemen ini pada akhirnya. 

Sayangnya, minggu ini menjadi akhir dari sewa saya di apartemen ini. Tentu saja dada saya membuncah sesak meninggalkan apartemen yang telah menemani saya melewati banyak hal sendirian. Walau berat, tapi meninggalkan apartemen ini menjadi langkah pertama saya menutup bab Jakarta. Tidak mudah, tapi sesuatu yang harus saya lakukan. Galau sudah pasti, tapi pelan-pelan saya pasti bisa lebih legowo.

Terimakasih apartemen, empat tahun ini kita melalui semuanya dengan baik. Simpen semua rahasia baik-baik ya 😊




Mari Hidup, Selayaknya

Saat pandemi di tahun 2020, ada satu kejadian yang menjadi realisasi terpenting dalam hidup saya. Kejadian itu mengajarkan pada saya konsep hidup layak yang sebelumnya belum pernah saya pahami. Itu adalah ketika saya mengambil keputusan untuk pindah ke apartemen.

Sebelum akhirnya memutuskan pindah ke apartemen, saya sempat bergonta-ganti tempat tinggal di Jakarta, sampe akhirnya saya tinggal di rumah yang kamar-kamarnya disewakan, sehingga saya lebih suka menyebutkan rumah ketimbang kos-kosan. Letaknya di pusat Ibukota dan di area perumahan, sehingga suasanya sangat nyaman, tenang, dan aman. Hal yang paling membuat saya betah adalah karena di rumah itu ada saya, Ica, Putri, dan Yuni yang menjadi support system paling baik selama saya di Jakarta. Kami tinggal bersama dari 2018 hingga 2019. Di tahun 2019, Yuni akhirnya menikah dan tinggal bersama di kontrakan terpisah dengan suaminya, sementara Putri kembali ke Jogja karena kontrak kerjanya habis. Tersisa saya dan Ica yang menetap di rumah itu.

Lalu, boom! Pandemi muncul di 2020.

Pada 2 bulan pertama pendemi, saya dan Ica masih tinggal bersama. Lalu tak lama, karena pandemi tidak mereda, akhirnya Ica memutuskan untuk kembali ke Jogja dan menutup sewa kamarnya. Tersisalah saya dan ada 1 orang lagi yang juga sebenarnya tinggal di sana, tapi kami tidak begitu akrab, dan tentu saja keluarga pemilik rumah yang tinggal di lantai bawah. Bagi saya, opsi pulang ke Jogja seperti Ica bukanlah pilihan yang menarik, karena saya tidak ingin terperangkap di Jogja dengan keluarga yang rentan konflik, pada masa pandemi pula. Makanya untuk menghindari itu, pilihan saya adalah bertahan di Jakarta.

Awalnya mudah, saya yang merasa introvert ini tidak merasa sulit beradptasi dengan kondisi yang mengharuskan saya untuk berdiam diri di rumah tanpa berbincang-bincang dengan manusia lain. Namun memasuki bulan keempat pandemi, di situ saya mulai merasa kesulitan untuk mengatasi kesendirian ini. Tidak hanya itu, karna di lantai bawah pemilik kontrakan itu menetap, saya merasa tidak bebas berlalu lalang di rumah itu. Setiap ke dapur misalnya, saya harus menggunakan pakaian yang layak dan tentunya jilbab. Ribet. Untuk itu, menjelang masa sewa kamar di rumah itu habis, saya mulai memikirkan opsi untuk pindah tempat tinggal.

Orang Jawa menyebutnya pulung, mungkin itu yang bisa saya katakan dalam proses mencari tempat tinggal baru yang adalah apartemen. Dari proses saya mencari secara online hingga saya sepakat menyewanya, semuanya hanya terjadi dalam waktu 4 hari (atau 5 hari kalau tidak salah). Cepat sekali intinya. Namun bukan itu inti cerita saya. Inti cerita saya terletak pada malam hari sesaat sebelum saya membayar uang sewa apartemen tersebut.

Biaya saya menyewa kamar di rumah kontrakan yang saya tinggali itu sangat murah dengan fasilitas yang menurut saya sangat memadai. Kamar yang luas, AC, internet, dapur dan listrik sepuasnya. Pada saat itu, bagi saya itu semua sudah cukup. Sehingga tentu saja, opsi pindah ke apartemen yang biaya sewanya lebih mahal dua kali, masih harus bayar IPL dan listrik terpisah, menjadi sesuatu yang saya pikir sangat berlebihan.

Sampai sebuah realisasi itu muncul. Pikiran saya mulai mengajukan pertanyaan, bagaimana caranya mengukur kalau kita sudah hidup selayaknya? Pada titik apa kita menyadari bahwa kita terlalu pelit dengan diri sendiri atau justru terlalu boros? Dan yang terpenting, seperti apa yang disebut hidup selayaknya itu? 

Diam sejenak menarik nafas, hingga saya tersadar kalau gaji saya sebenarnya lebih dari cukup untuk membayar uang sewa apartemen dan semua biaya penunjangnya. Cashflow bulanan saya tidak terganggu sama sekali. Bahkan, saya adalah salah satu yang beruntung karena masih memiliki gaji tetap tiap bulan dengan semua benefitnya di masa pandemi. Lalu apa masalahnya sehingga saya harus mengambil opsi menderita di kamar sendirian lebih lama lagi, saat ada pilihan yang lebih baik tersedia?

Seperti biasa, akar masalahnya tidak jauh-jauh dari apa yang terjadi di masa kecil saya. Masa kecil yang membekas dan membuat saya seperti harus hidup dalam perjuangan keras. Saya bahkan percaya bahwa menikmati jerih payah diri sendiri adalah sesuatu yang salah. Saya selalu dibayangi dengan ketakutan akan hal-hal buruk yang akan terjadi dan membuat saya bergantung pada orang lain. Saat ternyata tumbuh menjadi pribadi yang prinsip hidupnya adalah bertahan hidup. Alhasil, semua langkah dalam hidup saya penuh dengan kalkulasi ekonomi yang ketat karena merasa tidak ada orang yang bisa menjadi back up hidup saya. Saya selalu merasa kalau saya salah langkah, maka apesnya akan saya telan sendiri. Itu yang membuat saya menjadi orang yang sangat perhitungan dengan diri sendiri. Bahkan ketika hidup saya sudah jauh lebih mapan, pemikiran dan ketakutan macam itu lah yang saya jalani. 

Malam itu, saya ingat moment ketika saya jongkok menangis di dapur rumah saat menyadari hal itu. Saat menyadari batapa lamanya saya berjuang untuk selalu dalam posisi standby. Selalu siap sedia untuk hal-hal buruk dan bahkan tidak tau bagaimana caranya menikmati hidup. Saya bahkan tidak tau apa yang disebut layak dan tepat untuk hidup saya sendiri dari hasil kerja keras saya. Tersadarlah saya bahwa selama ini saya selalu mengambil opsi terbawah karena merasa tidak layak merasakan hal-hal baik. Ah... saya jadi ingat, waktu awal-awal kerja, saya punya opsi untuk dibayari naik taksi tapi oleh kantor tapi memilih naik bis bandara karena merasa terlalu berlebihan pakai taksi.

Saya menyeka air mata, sholat, dan segera menghubungi si pemilik apartemen bahwa saya bersedia membayar sewanya selama setahun. Malam itu, saya tidur nyenyak, bukan karena saya akan pindah ke apartemen, tapi meletakan kembali semua ketakutan dan perasaan ‘tidak layak mendapatkan hal baik’ pada tempatnya. 

Saya kini bisa memahami ketika seseorang yang selalu berjuang selama hidupnya dan tidak pernah ada yang memberitahu bahwa diapun layak mendapatkan kebahagiaan, merasa kesulitan untuk menerima hal-hal baik itu di hidupnya. Karena sayapun awalnya tidak tahu dan kesulitan menerima itu. Namun menyadari bahwa kita telah beranjak dari kehidupan yang traumatis dan diperbolehkan mempunyai standar hidup baru, bagi saya itu sangat membantu untuk tidak terlalu keras dengan diri sendiri. Seperti saya di malah itu, ketika akhirnya saya melepaskan perasaan tidak layak mendapatkan hal yang baik, karena saya layak untuk bersyukur mendapatkan hal yang baik. 

Malam itu, seakan Dia mengatakan pada saya, “Kalau rumah berbentuk keluarga bukanlah hal yang Aku berikan, setidaknya ada hunian yang layak yang bisa kamu nikmati. Go ahead, Aku yang bayari semuanya. Enjoy!”


source: https://id.pinterest.com/pin/229683649739456014/


Senin, 14 Agustus 2023

Sebuah Pesan

"Is it cool that I said all that? Is it chill that you're in my head? 'Cause I know that it's delicate"

(Taylor Swift - Delicate)

Kamu tahu, sering kali kita akan mengingat-ingat bagaimana sesuatu itu terjadi untuk pertama kalinya, saat semuanya sudah berada pada titik akhir, atau saat kondisi terlanjur menjadi sangat rumit.

Misal, saat akhirnya kamu harus bolak-balik ke kamar mandi karena sakit perut, maka kamu akan bertanya-tanya kenapa semalam kamu bisa memaksakan diri makan makanan pedas terlalu banyak. Atau saat kamu mulai ketagihan untuk menonton serial drama, kamu akan mengingat-ingat siapa, atau apa yang membuatmu akhirnya menonton drama sampai lupa waktu.

Kadang, saat semuanya sudah menjadi sangat terlambat atau sudah terlanjur dilakukan, barulah kita ingin kembali ke titik awal dan mencoba mengingatkan diri kita sendiri untuk memikirkan ulang keputusan kita kala itu. Walau tentu saja, itu semua tidak akan bisa kita lakukan, karena opsi kembali ke masa lalu, tidak pernah ada dalam pilihan manusia.

Anehnya, saat semuanya sudah terlambat, kita sering kali benar-benar terlupa, apa dan kapan titik awal semua ini bermula, karena tahu-tahu kita sudah menjalani situasi dan konsekuensinya yang pelik. 

Namun kamu tahu, aku sedikit berbeda kali ini. Aku ingat kapan ini semua bermula. 

Di hari pertama aku menghubungimu, semua bagian diriku seperti berteriak kencang, "Ingat-ingat ini, ini akan menjadi awal mula dari sesuatu". Tentu saja aku bingung, karena apa yang harus aku antisipasi dari obrolan kita yang sangat tidak menjurus pada apapun itu? Aku cuma bertanya soal beasiswa, tidak lebih dan tidak kurang. Namun perasaan bahwa aku harus mengingat-ingat hari itu sebagai awal mula, sungguh tidak mereda hingga beberapa hari setelahnya.

Apa sih yang akan terjadi? tanyaku sungguh penasaran berhari-hari. Hari itu, aku seperti mendapat pesan dari masa depan. 

Dan baru setahun setelahnya, aku mendapat jawabannya. Malam ini tepatnya. 

Image source: https://id.pinterest.com/pin/229683649737598932/

Minggu, 02 Juli 2023

Tidak Ada Check List Hari Ini

Dalam beberapa tahun terakhir, saya sering mendengar istilah toxic productivity. Sebuah istilah baru yang menjelaskan bagaimana kebanyakan masyarakat di perkotaan merasa bersalah jika mereka beristirahat. Setelah membaca konsep itu lebih dalam, saya jujur sulit menilai apakah saya masuk dalam kategori toxic productivity atau tidak. Karena bagi saya, tidak ada salahnya jika kita selalu berusaha untuk produktif, dan lagi pula, yang seperti apa sih yang dinamakan toxic itu? Malah kalau menurut saya, justru lebih baik over produktif daripada waktu sengganggnya dipakai untuk hal-hal tidak berfaedah.

Tapi sebenarnya, jauh sebelum saya mengenal istilah toxic productivity, saya sudah mengenal konsep check-list. Sebuah konsep yang saya maknai sejak kecil bahwa setiap harinya saya harus membuat check list dan mencentangnya. Jika ada hari di mana saya gagal mencentang check list tersebut, entah kenapa saya merasa gagal.

Mungkin, ini semua berawal ketika saya masih ada di bangku Sekolah Dasar. SD saya waktu itu mengharuskan setiap siswanya mengisi buku aktivitas siswa bernama Buku Kegiatan. Didalamnya kami perlu mengisi check list dari matrik aktivitas yang tertera di buku tersebut. Mulai dari sholat 5 waktu, baca Al Quran, belajar, hingga kalau tidak salah berbuat baik pada sekitar, dan itu semua harus diberikan paraf orang tua. Buku Kegiatan itu wajib dikumpulkan tiap pagi di meja guru piket, dan akan dikembalikan lagi saat pulang sekolah. Jika ada siswa yang tidak membawa buku itu, maka akan diberikan hukuman, entah itu memimpin baca Al-Quran atau piket tambahan. Jadi kebayang ya, bagaimana setiap malamnya saya sibuk mencentang semuanya dan meminta paraf orang tua.

Lalu sesampainya di rumah, selama SD, sebelum tidur, kedua orang tua saya akan memanggil saya dan bertanya apakah saya sudah melakukan tugas-tugas saya. “Udah ngerjain PR? Udah bantuin mbak siram tanaman? Buku-buku udah dimasukin semua?”. Beberapa kali saya harus berbohong karena saya takut menjawab ada dari hal-hal tersebut yang belum saya kerjakan.

Hal itu berlanjut saat SMP. Tapi karena tidak lagi ada Buku Kegiatan yang wajib diisi, saya punya satu binder yang isinya adalah check list kegiatan yang harus saya lakukan. Mulai dari membaca materi A, mengerjakan PR, hingga check list ekstra kurikuler. Kalau sudah selesai dengan list-list tersebut, saya akan dengan lega mencoretnya. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga saya SMA dengan kegiatan yang 2 kali lebih sibuknya. Bahkan hingga hari ini saya memasuki kepala tiga pun, kebiasan membuat check list menjadi hal wajib yang harus saya lakukan.

Dari situlah saya merasa, ritme dan kualitas hidup saya sangat ditentukan dari check list yang saya buat dan yang sudah berhasil saya centang.  Pertanyaannya, apakah saya pernah menuliskan dalam list tersebut hal-hal untuk diri saya sendiri? Seperti misalnya, “Makan eskrim enak tanpa diminta adek”, “Tidur siang yang nyenyak tanpa takut telat masuk les.” Atau sesederhana, “Main sepuasnya, pulang kalau capek saja”. Tentu saja tidak. Hal-hal seperti itu tidak pernah ada dalam daftar saya. Karena semua check list yang saya buat adalah upaya agar saya bisa menjadi siswa terbaik dan menjadi netizen yang baik.

Check list memang membantu saya agar saya bisa mendapatkan hasil yang baik dalam kehidupan akademik dan sekarang pekerjaan. Tapi apakah check list membantu saya menjadi pribadi yang lebih menikmati hidup?

Hingga tahun 2022, untuk pertama kalinya saya melakukan perjalan ke Korea Selatan seorang diri untuk liburan. Karena ini adalah perjalanan jalan-jalan ke luar negeri sendirian pertama kalinya, saya punya pikiran kalau saya tidak boleh rugi waktu dan uang. Pokoknya, apapun yang terjadi, saya harus menikmati liburan saya hingga detik terakhir. Sayapun mulai membuat rencana perjalanan yang tidak ambisius namun cukup padat. Karena saya mulai dari pergi ke Busan untuk menonton konser BTS, maka saya mengestimasikan di Busan selama 3 hari, lalu pergi ke daerah pegunungan, Gyeongju selama 3 hari, dan lalu pegi ke Seoul selama 3 hari. Harapannya, 9 hari saya di Korea Selatan, saya bisa maksimalkan dengan baik. Semua tempat-tempat yang ingin saya kunjungi, tempat makanan, hingga barang-barang yang ingin saya beli, semua ada dalam check list saya.

Saat itulah saya mulai menyadari sesuatu.

Jadi, singkat cerita, sebelum saya pergi ke Korea Selatan, saya baru saja menyelesaikan kegiatan monitoring dan evaluasi di Kalimantan selatan dan setelah itu saya wajib untuk ikut workshop finalisasi hasil temuan selama 3 hari yang mana juga harus berkejar-kejaran dengan pekerjaan lain. Walaupun bos saya sudah tahu bahwa saya akan cuti selama 12 hari, namun hari terakhir workshop temuan lapangan sangat mepet dengan keberangkatan saya ke Korea Selatan, sehingga saya belum secara final menyelesaikan laporan saya. Padahal saya sudah membuat check list bahwa semua kerjaan harus selesai sebelum saya ke Korea Selatan. Namun jangankan laporan selesai, saya bahkan saangat terburu-buru pulang dari kantor untuk bisa persiapan ke Korea Selatan malamnya. Alhasil saya ke Korea Selatan dengan membawa beban pikiran, laporan saya belum selesai!

Saat sampai di Korea Selatan, agenda pertama saya adalah nonton konser BTS, maka saya langsung mengaktivasi fangirling mode. Semua berjalan sangat baik hingga dan saya sudah mencentang check list ‘menonton Konser BTS’.  Barulah di hari kedua, saya terbangun dengan pikiran, “Aku punya check list yang harus saya lakukan. Ayo Ipeh, bangun” yang mana di saat yang bersamaan, saya punya pikiran, “Aduh, laporan saya belum selesai” dan saya masih dalam eforia habis nonton konser BTS, “Aduh, Jimin ganteng banget.”

Alhasil, dengan badan yang masih rontok setelah nonton konser BTS, saya bangun, mandi, dan membuka laptop sambil menyelesaikan laporan lapangan saya. Hngga saya tersadar bahwa waktu hampir sore dan saya hampir membuang waktu saya di Korsel untuk menyelesaikan pekerjaan. Saya merasa check list hari kedua tidak bisa saya laksanakan, padahal saya sudah membuat list dari pagi hingga malam hari. Di situ saya merasa amat sangat frustasi.

Sore itu saya memutuskan untuk segera menutup laptop dan menikmati Busan. Di momen itu juga saya bilang ke diri saya sendiri bahwa bukan salah saya jika timeline saya ke tugas lapangan itu mepet dengan jadwal keberangkatan saya ke Korea Selatan yang memang sudah jauh-jauh hari saya rencananakan. Bukan salah saya jika jika laporan itu belum selesai karena saya punya pekerjaan inti yang juga harus saya selesaikan. Di sebuah sore di Busan, sambil berjalan kaki menuju pasar tradisionalnya, saya tarik nafas panjang dan berkata lirih, “Kalau habis ini aku dinilai tidak perform, tidak apa-apa. Aku punya keterbatasan”.

Tidak hanya bertekad untuk tidak menyelesaikan laporan saya selama saya di Korsel, tapi juga saya mengabaikan semua check list yang saya buat untuk 9 hari saya di Korea Selatan, tentang tempat-tempat yang harus saya kunjungi, tentang makanan-makanan yang harus saya makan, tentang apapun itu. Sore itu, saya menikmati Busan tanpa beban.

Hari-hari selanjutnya di Korea Selatan saya hanya melihat check list saya sepintas dan menjadikan itu sebagai panduan saja, bukan kewajiban. Saya memutuskan untuk tidak mengukur keberhasilan saya dalam 9 hari itu dengan seberapa banyak check list yang sudah tercentang. Hanya sebatas panduan yang jika mood dan energi saya pas, saya akan menepatinya. Saya melakukan banyak improvisasi dan lebih menikmati waktu. Saya memutuskan untuk lebih lama di Busan dan melamun di pantai lebih lama dan mengurangi waktu di Seoul. Entah kenapa, saya merasa sangat hidup selama liburan saya di Korsel.

Perjalanan selama 9 hari di Korea Selatan menyadarkan saya bahwa semakin terpakunya saya pada check list, semakin sulitnya saya menikmati hidup yang sedang terjadi saat itu juga. Mungkin sebenarnya bukan check list-nya yang salah, namun kebiasaan saya yang tidak pernah memasukan kebutuhan emosional saya dalam list tersebut yang membuat saya tidak bisa menikmati hidup dengan maksimal. Ditambah cara saya memperlakukan check list sebagai indikator keberhasilan saya sebagai manusia.

Saya tidak akan berhenti menggunakan check list, karena check list tetap membantu saya menjadi seseorang yang memiliki etos kerja yang baik dan memiliki prestasi yang baik sejak sekolah hingga bekerja. Check list membuat saya tetap memiliki panduan, terutama jika saya sedang hilang arah. Check list membantu saya tetap bergerak dan tidak membuang-buang waktu hanya untuk karena malas.

Namun saya tidak boleh lupa, bahwa dalam hidup, akan banyak check list yang butuh lama agar kita bisa mencentangnya. Anggaplah, ‘sembuh dari trauma masa kecil’, ‘memproses emosi setelah dimarahin bos’, ‘memulihkan rasa percaya setelah dihianati kekasih’. Check list semacam itu tidak akan benar-benar bisa kita centang. Semakin diburu-buru untuk mencentangnya, semakin sulit menikmati prosesnya. Untuk itu, saya akan belajar untuk hanya menulis satu check list besar tanpa harus saya dikte turunanannya. 

Dan check list tersebut adalah 'Menikmati hidup saat ini'.


Selasa, 28 Februari 2023

Memori Baru

"And you should think about the consequence of you touching my hand in the darkened room.

If you've got a girlfriend, I'm jealous of her, but if you're single that's honestly worse.

'Cause you're so gorgeous it actually hurts."

(Gorgeous -Taylor Swift)


Semakin dewasa, semua terasa seperti pengulangan. 

Rute dari apartemen ke kantor.

Perjalan dinas mengelilingi Indonesia.

Bertemu sahabat-sahabat yang itu-itu saja. 

Makan siang dengan pilihan tempat yang itu-itu saja.

Tidur panjang setiap ke Jogja. 


Tapi siang menuju sore hari itu, menjadi hal pertama tanpa pengulangan. 


Kamu menunjukan sisimu yang lain. 

Menghadapku tanpa distraksi. 

Di tengah-tengah 2 cangkir kopi. 


Dan itu menjadi hal pertama setelah sekian lama. 




Sabtu, 31 Desember 2022

Karena Sedang Hidup Maka Saya Sedang Menikmati

 Sebuah Refleksi 2022

When everything I believed in grew distant, when all this fame turned into shackles, please take my desire away from me. No matter what it takes, oh, let me be myself.

(RM – Wildflower)

Seperti biasa, setiap tahunnya, saya punya dua rutinitas yang selalu saya lakukan. Pertama adalah membuat refleksi akhir tahun dengan mengingat-ingat apa saja yang terjadi di sepanjang tahun dan kedua adalah membuat resolusi. Rutinitas yang sudah saya jalani sejak SMP ini entah kenapa membantu saya untuk sejenak diam dan merenungkan kemana perginya 365 hari yang lalu itu, dan memetakan saya sedang berada di tahapan mana.

Tahun ini saya mencoba membuat refleksi dengan cara melihat semua foto-foto yang tersimpan di google photo dari Bulan Januari hingga Desember dan kemudian menuliskan highlight dari masing-masing bulannya. Setelah selesai menuliskan hal-hal yang ada di Bulan Desember, saya menarik nafas panjang dan langsung mengubah posisi duduk yang tadinya tegak lalu menyender. Refleks saya berkata, “Pantes kamu soak, Peh. Pantes kamu jadi jauh lebih jutek akhir-akhir ini, Peh. It is too much!”

Hingga saya tersadar bahwa hanya sedikit dari resolusi yang tercapai tahun ini. Untuk sejenak saya merasa gagal karena hanya bisa men-checklist sangat sedikit target. Saya merasa tidak bisa punya komitmen untuk melakukan target-target yang sudah saya tentukan di awal tahun. Sejenak saya memarahi diri saya sendiri yang merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri untuk bisa fokus pada target-target yang sudah saya tetapkan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa 2022 menjadi tahun yang amat sangat sibuk bagi saya, bahkan setelah saya lulus kuliah hingga 8 tahun bekerja inilah tahun tersibuk yang pernah saya lalui. Tahun ini, entah berapa kota yang sudah saya kunjungi tahun ini, tidak terhitung berapa hotel untuk rapat intensif yang saya ikuti, hari-hari saya pulang malam dan keesokan harinya sudah hari bekerja lagi. Saya bahkan pernah ada dalam 4 kota berbeda dalam kurun waktu 4 hari. Jumat siang ke Pemalang, Sabtu siang ke Jogja, Minggu siang ke Jakarta, Senin dini hari ke Ambon. Tahun ini saja, saya pulang ke Jogja menjelang lebaran adalah H-2 dan bahkan ketika saya pergi liburan ke Korea Selatan, pagi hingga siangnya saya masih di kantor menyelesaikan laporan. 

Namun, pikiran-pikiran negatif itu hilang perlahan ketika beberapa foto mengingatkan saya pada emosi-emosi dari setiap kejadian-kejadian di tahun ini. Misalnya, saat melihat foto-foto saat tugas lapangan di Aceh, saya ingat rasanya guling-gulingan di kamar hotel hingga membatalkan puasa karena sakit. Saat melihat foto kamar hotel bintang 5 tempat saya tinggal, saya ingat sensasi mualnya karena bekerja hingga jam 10 malam. Atau saya perlu menenangkan diri saat seorang rekan kerja mem-block nomor WhatsApp saya entah karena alasan apa. Perasaan-perasaan yang timbul itu seakan memberikan pembenaran bahwa memang tidak banyak yang bisa saya lakukan selain bekerja karena saya sudah kelelahan.

Mungkin benar, kalau saya kurang memiliki ketegasan dalam mengatur waktu, tidak disiplin dalam mengelola waktu, atau tidak bisa memfokuskan pada hal-hal yang ingin saya dalami. Tapi saya tidak bisa melupakan fakta bahwa saya ini juga bukan robot. Sebagai manusia, saya juga merasakan istilah-istilah sepeti emotionally drained, demotivasi, atau ya sesederhana mager setelah rapat yang bertubi-tubi yang dilakukan sepanjang minggu. Walaupun nyatanya di tahun ini saya sering menekan sisi-sisi humanis sebagai manusia agar tetap bisa bekerja, tapi di penghujung hari, tetap saja saya ini manusia biasa yang energinya habis karena terus-terusnya dipaksa untuk melakukan interaksi sosial. Dan jangan lupa fakta bahwa saya adalah seorang wanita yang setiap bulannya harus menghadapi hormon datang bulan yang membuat tubuh saya lemah dan kurang fokus. Sebagai manusia, banyak komponen yang tidak bisa saya abaikan sebagaimana yang saya lakukan pada usia 20an. Sehingga, jikapun badan saya tidak lelah dan saya masih ada tenaga untuk melakukan beberapa kegiatan untuk mencapai target-target saya tahun ini, pikiran dan energi saya yang tidak sanggup.

Namun, bukan berarti saya tidak memiliki capaian tahun ini. Banyak hal yang sudah tercapai tahun ini, walau itu semua diluar resolusi saya. Dan sebenarnya, tahun ini pun saya sedang mulai belajar untuk menikmati hidup dan melihat hidup yang ada di depan mata saya. Karena kalau diingat-ingat, apa yang saya jalani tahun ini adalah sesuatu yang sudah saya idam-idamkan sejak dulu. Tahun ini saya sebenarnya, saya sedang menjalani kehidupan yang dulu mati-matian saya minta kepada Rabb. Namun entah kenapa, saya tetap merasa bersalah karena resolusi saya tidak tercapai.  

Tarik menarik antara keinginan untuk menikmati apa yang saya sedang kerjakan dengan pikiran bahwa saya harus mengejar target-target yang sudah disusun menjadi pertempuran paling keras sepanjang tahun ini. Belum lagi saya merasa bahwa waktu yang sesekali saya habiskan untuk melakukan hal-hal kurang produktif, seperti scrolling tiktok, adalah sesuatu yang salah. Pun perasaan bahwa saya merasa perlu untuk segera menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, yang mana, sayapun tahu, tidak ada satupun urusan pekerjaan yang bisa langsung selesai dan bersantai sejenak itu bukanlah sebuah dosa. Bekerja itu kan maraton. Ada hal-hal yang memang perlu kita hentikan sejenak untuk memberikan ruang pikiran kita bisa berpikir lebih jernih dan kita tidak didera dengan kelehan karena ingin segera menyelesaikan semua hal.

Ini menjadi refeleksi terbesar tahun ini. Saya rasa, saya sedang berada di masa transisi antara saya hari ini dengan diri saya 10 tahun yang lalu. Dulu saya selalu hidup dengan ambisi untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Saya menjadi tidak bisa bersantai hingga masa depan itu terjadi. Selama saya sekolah dari SD hingga SMA, setiap harinya saya belajar agar setiap semester saya bisa dapat ranking tinggi dan ketika lulus, saya bisa masuk jenjang pendidikan yang baik. Lalu saat kuliah, setiap harinya diisi dengan hal-hal untuk mempersiapkan saya setelah lulus kuliah. Bahkan saat sudah lulus kuliahpun, pekerjaan demi pekerjaan saya kerjakan dengan pikiran kalau saya akan membutuhkan keahlian tersebut ketika berada di satu jabatan tertentu. Bahkan kinipun ketika saya sudah berada di jabatan tertentu yang saya persiapkan selama 8 tahun ini, saya sedang berfikir bagaimana membuat diri saya lebih berguna lagi dengan membuat usaha baru. Di mana titik hentinya?

Menyadari bahwa kita tidak boleh lengah hingga kemudian hidup dalam zona nyaman tanpa memiliki ambisi apapun adalah hal yang baik. Tapi jika kita sedang ada di titik menuai apa yang kita tanam, tidak berdosa untuk duduk sejenak dan menikmati buahnya. Salahnya di mana?

Seorang teman pernah bertanya, “Engga sayang apa Peh apartemenya ditinggal terus gitu, kenapa engga ngekos aja, uangnya ditabung buat sekalian beli rumah?”. Saya tersenyum dan membalas, “Karena aku pengen punya kehidupan yang layak sekarang. Ngekos bikin aku kayak engga punya kehidupan yang imbang. Aku pengen tinggal di tempat yang aku merasa sangat hommy dan betah di sana. Karena kalau nabung-nabung buat kehidupan di masa depan, aku engga tau kehidupan masa depan itu akan ada atau engga. Jadi aku butuh menikmati hasil jerih payahku hari ini dengan cara menikmati hidup yang layak.”

Mungkin itu adalah kuncinya. Bahwa alih-alih saya menyalahkan diri sendiri atas banyaknya target yang tidak tercapai tahun ini, saya perlu melihat yang hidup telah berikan kepada saya dan bagaimana saya sebagai manusia yang memiliki jiwa, pikiran, dan tubuh saya menikmati dan mensyukuri itu semua.

Tahun ini adalah tahun yang sibuk, banyak target 2022 yang tidak tercapai, tapi di satu sisi, saya mencapai banyak hal di luar resolusi saya, dan yang terpenting saya sedang menjalani dan berusaha menikmati kehidupan yang ada di depan mata. Saya tidak akan menyesali apapun. Hidup yang ada di depan saya, adalah hidup yang layak saya nikmati. 

 

Source: https://i.pinimg.com/564x/7c/b0/40/7cb04043809ca3ddcaa48af62ad3f59e.jpg

Sabtu, 25 Juni 2022

25 Juni untuk ke 31 kalinya

 

Saat kau p'roleh rasa dalam makna cinta dan hiraukan semua angkara,

hanya satu buah titah yang kami ejawantah: Terlalu banyak cinta kan binasa.

Lihat dirimu, semakin jauh mengayuh, lewati segala tujuan hidup yang mungkin kau tempuh

(Sheila on 7 – Mari Bercinta)

 

Mudah untuk terus berlari dan meraih banyak hal. Setidaknya itu yang selalu saya katakan pada diri saya setiap tahunnya pada bulan Juni tanggal 25, bahwa apapun yang akan terjadi di depan, saya akan terus meraih sesuatu.

Kehidupan seperti halnya makanan prasmanan, yang menunya akan selalu berganti-ganti, menawarkan pada saya banyak hal yang tidak akan pernah ada habisnya. Tapi sepertinya halnya kemampuan perut dalam menampung makanan, kemampuan saya untuk mencicipi semua hal dalam hidup juga terbatas.

Entah kapan pastinya, tapi kini saya mulai bisa untuk mengatakan “cukup” terhadap hal-hal yang saya sukai. Sarapan hotel misalnya, saya kini hanya mengambil sebatas yang saya butuhkan dan merasa cukup. Cara saya bekerja juga, saya batasi tanpa harus merasa bersalah. Saya belajar untuk mengambil semua aspek dalam hidup sesuai dengan porsinya. Jika sudah cukup, maka cukup.

Sekali lagi, mudah untuk terus berlari dan meraih banyak hal, namun jika saya merasa cukup dan ingin berhenti untuk mengatur langkah selanjutnya, itupun tidak mengapa.

Hari ini saya berusia 31 tahun, tentu masih banyak hal yang ingin saya raih, tentu saya ingin menjadi manusia yang lebih baik, namun sayapun ingin menjadi manusia yang tahu kapan saatnya berkata, “Aku engga butuh lebih dari ini, ini sudah cukup…”

Semoga saya dijauhkan dari keserakahan.

 


Sabtu, 21 Mei 2022

SOAK

 

Waktu handphone saya masih Nokia, saya tidak perlu setiap hari mengisi daya baterainya, cukup 2-3 hari sekali, atau malah 4-5 hari sekali. Baterainya cukup awet karena selain fitur handphone-nya yang memang terbatas, saya pribadi juga bukan tipe orang yang sering menelpon atau SMS orang-orang. Sebelum akhirnya saya beralih ke smartphone, alasan saya mengganti handphone kala itu adalah karena hilang diambil orang atau layarnya retak karena terjatuh. Jadi kalau tidak ada alasan mendesak, saya akan benar-benar menggunakan handphone saya sampai tidak berfungsi sama sekali. Setelah smartphone mulai banyak dipasarkan dan saya beralih ke smartphone, alasan utama saya mengganti handphone adalah karena baterainya sudah soak. Pokoknya, jika sudah harus mengisi daya baterai lebih dari 1 kali setiap harinya, padahal penggunaannya hanya terbatas untuk whatsapp dan akses e-mail atau browsing-browsing ringan, itu menjadi indikasi bahwa saya butuh membeli smartphone baru. Walaupun komponen lainnya masih bagus, tapi kalau baterainya soak, itu sudah cukup menganggu bagi saya.

Jika hidup bisa dianalogikan seperti sebuah teknologi smartphone, artinya hidup akan selalu beroperasi untuk mencapai makna dan tujuannya. Karna smartphone dirancang dengan banyak fungsi untuk bisa dimanfaatkan selama benda itu beroperasi dengan baik. Walaupun sebagai pengguna, kita tahu betul bahwa agar bisa beroperasi dengan maksimal, ada banyak komponen yang harus secara konstan diperbaharui, mulai dari sistem operasinya hingga memori penyimpanannya. Kita pun sadar, bahwa ada banyak komponen dalam smartphone yang tidak bisa diperbaharui, melainkan harus diganti sepenuhnya dengan produk baru.  Seperti jika sudah terlalu lama dipakai, baterai handphone akan soak, kamera tidak lagi tajam, kadang suara telepon juga tidak jelas, serta layar yang tidak lagi setajam saat pertama kali dibeli. Kalau kata teman saya, “Itu karena hardware-nya engga bisa ngikutin kemajuan software-nya, Peh.”

Di sebuah cuplikan video BTS, Park Jimin pernah berkata yang kurang lebih intinya begini, “Kalau suatu hari nanti baterai kita semua sudah habis, engga peduli mau seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk istirahat, di saat itu, aku rasa kita harus bubar sebagai BTS. Aku engga yakin aku bisa hadapi sedihnya kayak gimana, tapi aku rasa itu satu-satunya cara.”

Sebagai Army (sebutan untuk fans BTS), saat melihat tayangan itu, tentu saja saya merasa sedih karena artinya satu saat nanti, cepat atau lambat, mereka akan bubar dan tidak ada lagi BTS yang menemani hari-hari saya. Namun secara personal, saya menangkap sesuatu yang sama dengan apa yang dikatakan Jimin.

Dalam kurun waktu satu bulan terakhir ini saja, saya merasa mobilitas saya sangat tinggi. Dimulai dari rangkaian workplan di Bogor di pertengahan bulan lalu, istirahat sehari, lalu ke Aceh untuk monitoring dan evaluasi selama semingguan hingga H-3 Lebaran, sampai ke Jakarta, H-2 lebaran pulang ke Jogja, lalu belum genap libur lebaran selesai, saya sudah terbang ke Papua Barat, berada di Jakarta selama satu mingguan, lalu pergi lagi ke Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Saya tidak hanya merasa disorientasi lokasi, tapi saya juga merasa baterai saya soak.

Awalnya saya sempat berpikir mungkin ini karena rentetan kegiatan dalam kurun waktu 1 bulan yang tidak ada habis-habisnya. Namun ketika saya melihat secara keseluruhan jadwal dan capaian saya dari awal tahun 2022, saya merasa mencapai lebih dari apa yang saya rencanakan. Saya merasa menggunakan energi maksimum saya untuk bekerja, mendaftar beasiswa, dan memulai start-up. Serta di saat bersamaan, saya merasa perlu memulihkan diri dari bekas-bekas pandemi yang menjadi luka serta hadir secara emosioanl untuk teman-teman dan keluarga saya. Pun ketika melihat keseluruhan perjalanan panjang pekerjaan saya, saya ternyata cukup konsisten dan lama berada di bidang ini selama 8 tahun terkahir. Itu semua membutuhkan energi yang sangat besar dan saya merasa wajar jika baterai saya soak.

Apakah ini artinya saya terlalu memfotsir waktu dan energi? Saya kurang tahu juga, tapi sepertinya juga tidak. Dalam penilaian saya, saya merasa mengambil waktu istirahat dengan baik. Hari ketika saya meniatkan diri untuk beristirahat, saya maksimalkan dengan baik. Saya akan tidur, menonton tayangan yang saya sukai, sekedar melihat konten BTS di Tiktok, atau melamun. Alhasil, saya akan lebih baik dan lebih bugar keesokan harinya. Tidak hanya itu, jikapun bukan hari libur tapi saya sudah merasa sangat lelah, saya akan dengan sengaja menutup laptop dan melakukan hal lainya agar dapat kembali segar. Saya merasa, saya sudah semakin mahir dalam beristirahat. Namun, tetap saja, saya merasa baterai hidup saya soak.

Saya tidak tahu apa persisnya yang dialami oleh BTS ketika mereka membicarakan untuk pensiun dan bubar, tapi sepertinya saya bisa merasakan apa rasanya sebagai pekerja di bidang pembangunan sosial yang kelelahan dengan semua rutinitas dan topik-topik yang sama selama hampir 8 tahun terakhir.

Mungkin manusia memang sama persis seperti sebuah handphone dengan kapasitas baterai yang terbatas dan akan soak jika sudah digunakan dalam waktu lama. Pertanyaannya, jika kita bisa mengganti handphone lama kita dan membeli yang baru agar kita bisa mendapatkan manfaatnya, apakah kita bisa melakukan hal serupa dengan hidup kita sendiri? Bisakah kita mengganti kehidupan lama kita dan kemudian mengganti dengan kehidupan baru? Apakah jika BTS memutuskan untuk bubar selamanya karena para anggotanya merasa kelelahan luar biasa, maka kehidupan mereka setelah itu menjadi lebih baik?

Saya tidak pernah benar-benar merasakan kehabisan energi atau ya katakanlah baterai hidup saya soak hingga saat ini. Sebelumnya, saya selalu merasa bahwa banyak hal yang harus dieksplorasi dan baterai saya cukup kuat untuk menampung energi-energi itu. Contoh sederhananya saja, dulu saya tidak pernah melewatkan sarapan di hotel berbintang karena itu menjadi hal yang saya sukai, mencoba menu-menunya dan duduk sambil melamum. Namun sekarang, tidak peduli berada di hotel berbintang manapun, saya sering menelfon room service untuk mengantarkan sarapan ke kamar saya dengan menu yang sama: telur, sosis, buah, dan kopi. Atau jika saya ada di daerah baru, dulunya saya akan menyempatkan diri untuk menjelajahi pantainya, tapi ssekarang, saya ingin menyelesaikan pekerjaan dan tidur di kamar hotel maksimal jam 10 malam.

Jika hidup memang bisa diibaratkan handphone, saya percaya bahwa hidup saya memang berjalan sesuai dengan tujuan dan makna yang telah ditetapkanNya. Hanya saja, untuk tetap beroperasi secara maksimal, sebagai manusia saya merasa banyak komponen yang sudah soak saat ini. Sepertinya energi yang harus dikeluarkan terlalu besar dari kapasitas baterai yang saya miliki hari ini. Jika baterai smartphone masih dalam keadaan baik, kita cukup mengisi dayanya 2 hari sekali. Namun jika sudah soak, baterai akan mudah habis dan kita harus mengisi lagi dayanya bahkan tiap berapa jam sekali. Saya merasa seperti itu sekarang. Betul, saya beristirahat dengan cukup dan sering, namun energi saya akan mudah terkuras karena kondisi baterai-nya sudah soak.

Entah apa yang harus dilakukan saat ini, namun sepertinya mengambil rehat menjadi salah satu pilihan yang akan saya ambil. Saya belum menemukan jawaban bagaimana caranya agar baterai hidup saya tidak lagi soak, tapi satu hal yang saya sadari, jika kondisi berlangsung lebih lama lagi, tidak peduli sebarapa banyaknya istirahat yang saya gunakan, saya tidak akan berfungsi maksimal sebagai manusia. Mengutip apa kata teman saya di awal, sesuatu di internal saya mungkin terlalu besar, sementara kemampuan eksternal saya masih belum diperbaharui.

Semoga saya bisa mendapatkan cara mengganti baterai ini.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/229683649735566467/


Senin, 04 April 2022

Kematian Pertama

 

“If this can no longer resonate, no longer make my heart vibrate, then like this may be how I die, my first death. But what if that moment's right now?”

(BTS – Black Swan)

Di film Soul, ada satu alam di mana jiwa-jiwa yang tidak bahagia di dunia akan masuk kedalamnya. Di alam itu berkumpul manusia-manusia yang tidak sepenuhnya merasa hidup di dunia, tapi secara raga mereka juga belum mati. Di film itu, contoh yang diperlihatkan adalah pegawai kantoran yang berprofesi sebagai akuntan. Dia ini tidak menikmati hidupnya, tapi secara jasmani dia belum meninggal dunia. Mungkin kalau kita bisa bahasakan, hidup segan mati tak mau.

Saya jadi ingat ungkapan yang pernah saya saya baca bahwa kita akan merasakan mati beberapa kali dan hidup kembali sebelum mati yang sesungguhnya. Ya mirip dengan quote pinterest yang cukup terkenal, don’t die before you are dead’.

Lalu sekali waktu, ketika saya iseng scrolling Twitter, saya membaca postingan dari salah satu Army BTS yang membagikan perspektifnya tentang makna dibalik lagu Black Swan. Dia menulis bahwa melalui lagu itu, BTS membagi ketakutan terbesar mereka yaitu jika merasa musik tidak lagi dapat menggerakan hidup mereka lagi. Mereka takut jika suatu hari mereka bangun di pagi hari, dan merasa tidak lagi ingin bermusik, bagi mereka itu adalah kematian pertama.

Dalam hidup, kita punya banyak sekali aspek, mulai dari asmara, keluarga, pekerjaan, pertemanan, pendidikan, keuangan, dan masih banyak lagi. Saya percaya jika kita mencurahkan segenap rasa yang kita miliki untuk satu aspek dalam hidup kita, itu sama saja kita memberikan ‘nyawa’ pada aspek tersebut. Misalnya, jika kita benar-benar ingin menjadi istri atau suami yang baik, artinya kita akan mencurahkan energi dan komitmen terbaik agar rumah tangga kita berjalan sesuai harapan. Tapi kemudian, karna satu dan lain hal ternyata kita harus berpisah dengan pasangan, perpisahan itu saya percaya, akan merenggut bagian tertentu dalam hidupnya dan itu bisa diibaratkan kematian. Betul kita masih hidup secara raga, tapi ada bagian dari hidup kita yang mati. Jadi wajar jika BTS merasa kalau keinginan bermusik mereka sudah hilang, padahal itu telah menjadi mimpi mereka sejak lama, itu serupa dengan kematian.

Membuat label kematian, tentu akan berbeda satu orang dengan orang lainnya tergantung aspek apa dalam hidupnya yang dipandang penting, dan seberapa besar dia mau mencurahkan energinya. Bagi saya, sebutlah saya picisan, tapi kematian pertama saya adalah pada aspek kehidupan bernama asmara.

Bagaimana saya menyadarinya?

Hingga detik saya menulis ini, hanya ada satu kisah asmara dengan satu orang yang merenggut semua hal yang saya miliki dan saya butuh 6 tahun untuk bisa benar-benar pulih. Kisah ini sangat panjang, tapi saya akan ringkaskan sedikit bagaimana saya menyudahi semua kagalauan dan perasaan padanya, hingga merasa inilah kematian pertama saya.

Anggaplah dia ini seperti makanan yang masuk dalam tubuh saya. Makanan ini sebenarnya dari awal juga tidak baik untuk dikonsumsi, terutama jika porsinya terlalu banyak. Namun 6 tahun yang lalu, badan saya masih sangat bugar dan saya belum bisa membedakan mana makanan yang sehat dan mana yang tidak. Satu hal yang saya tahu, makanan ini menimbulkan efek bahagia dan rasanya enak. Beberapa orang yang tahu bahwa saya mengkonsumsi makanan ini sudah mewanti-wanti, “Jangan dimakan lagi, nanti kamu sakit loh”, tapi saya tidak mau mendengar karena memang efeknya menyenangkan dan rasanya enak. Hingga singkat cerita, saya melampaui batas dan makanan itu tidak bisa lagi saya konsumsi. Saya pikir, permasalahan selesai ketika saya berhenti mengkonsumsi makanan itu. Saya pikir, jika saya detoks, maka tubuh saya akan kembali seperti semula.

Nyatanya tidak. Justru kebalikannya, itu adalah awal mula dari perjuangan yang sebenarnya.

Makanan itu terlanjur memberikan efek buruk bagi tubuh saya. Saya terlambat menyadari bahwa efek makanan itu adalah tumbuhnya tumor dalam tubuh. Tumor itu menyebar dan menjadi kanker yang semakin susah saya obati. Walaupun saya sudah tidak lagi mengkonsumsi makanan itu, namun melawan kanker dan tumor yang sudah terlanjur muncul adalah perjuangan yang luar biasa sulit. Setelah semua upaya saya lakukan, barulah di tahun keenam, saya harus mengambil langkah ekstrem untuk mengamputasi bagian dari tubuh saya agar sel kanker itu tidak lagi menyebar. Tumor hilang, kanker dinyatakan tidak ada lagi, tapi saya lumpuh. Lumpuh memang bukan berarti kematian. Tapi mimpi-mimpi saya untuk bisa mendaki gunung, berenang, dan atau bergerak secara bebas terenggut. Dan itulah kenapa saya katakan sebagai kematian pertama. Begitu kurang lebih analoginya.

Teman saya yang tahu betul perjalanan asmara saya pernah bertanya, “Beneran engga ada perasaan apa-apa lagi, Peh?”

Saya jawab, “Engga… aneh banget ya. Aku juga bingung loh. Kayak doaku terkabul, perasaanku kecabut seakar-akarnya. Hampa dan kosong gitu loh.”

Butuh setahun setelah usaha terakhir untuk memperjuangkan perasaan padanya hingga saya menemukan jawaban mengapa perasaan saya tiba-tiba netral dan kosong. Rupa-rupanya, saya tidak hanya menyudahi perasaan padanya, tapi saya memotong kemampuan untuk bisa mencintai seseorang. Betul perasaan saya padanya hilang, tapi kemampuan saya dalam mencintai dan keinginan untuk bisa mencintai orang lain pun ikut hilang. Saya merasa kosong dan kesepian, tapi saya tidak punya urgensi untuk mencari pasangan. Saya tahu bahwa saya harus memulai lagi untuk percaya, tapi kemampuan untuk itu sedang tidak ada.

Bagi saya, ini adalah kematian pertama. Kenapa? Karena dia membuat saya percaya bahwa harapan untuk bisa memiliki keluarga, sesuatu yang dia tahu betul menjadi keinginan terbesar saya karena hal itu tidak saya miliki sejak kecil, dapat terwujud. Sementara diapun tahu bahwa dia tidak bisa mewujudkan harapan itu dan saya dengan naifnya percaya. Saya menyerahkan padanya satu nyawa dan kini nyawa itu hilang.

Tapi tenang, kabar baiknya adalah sebelum kita benar-benar meninggal dunia, akan ada waktunya kita merasa hidup kembali dan mendapatkan kembali nyawa-nyawa kita yang pernah hilang. Saya percaya ini bukan hal yang selamanya. Ini hanya fase. Saya percaya bahwa akan ada waktuNya saya akan kembali hidup, dan kemampuan saya dalam mencintai akan kembali. Hingga saat itu, biarkan saya mencerna kematian ini.


Do your thang with me now. What's my thang? tell me now.

(BTS)

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/1337074883827688/


Selasa, 29 Maret 2022

Bahkan Tanpa Kata, Kita Tahu Bahwa kita Tahu

 

"But we were something, don't you think so?
Roaring 20s, tossing pennies in the pool
And if my wishes came true, it would've been you"

(Taylor Swift – The 1)

Baru-baru ini, saya bertemu dengan seseorang. Saya mengajaknya pergi ke pantai karena saya sedang suntuk-suntuknya bekerja dari rumah dan entah kenapa, saya kepikiran untuk mengajak dia pergi. Agak random memang. Setelah saya hubungi, ternyata dia bersedia menemani saya, dan di hari yang kita sepakati, kita berdua pergi ke pantai. Ternyata, pertemuan kami dan agenda ke pantai dadakan itu malah sebuah reuni kecil diantara kami.

Kami sudah mengenal sejak 2011, saat kami masih sama-sama kuliah walau beda kampus. Saat itu saya bahkan masih pakai hot pants dan berambut panjang tergerai tanpa hijab. Namun setelah kami lulus kuliah dan mulai bekerja, sejak 2014 kami tidak sering berkomunikasi lagi. Dan seingat saya, terakhir kali kami bertemu adalah 8 tahun yang lalu.

Awalnya saya membayangkan mungkin pertemuan kami akan berjarak atau penuh kecanggungan, namun menariknya, sepanjangan perjalanan pulang-pergi bersama dia, bagi saya, dia tidak berubah sama sekali. Kami tertawa terbahak-bahak saat saya meledeknya bahwa selera musiknya masih begitu-begitu saja, tidak ada perubahan. Cara dia menyentuh layar handphone-pun masih sama, dengan jari tengahnya. Bahkan gaya dia membalas pesan WA saya pun masih sama, tidak basa-basi. Dan tidak hanya itu, apa yang saya rasakan padanya, juga tidak berubah. Tidak sedikitpun.

2011 saat kami masih sama-sama kuliah dan kerja paruh waktu di tempat yang sama, dia adalah orang yang entah bagaimana selalu bisa saya andalkan untuk antar-jemput di kala saya sedang lelah. Tidak seperti orang lain yang memang ada maksud terselubung dengan antar-jemput saya, bersama dia, rasanya seperti diantar-jemput orang yang tepat. Dia bukan orang yang mahir memberi pesan tarik-ulur ala lelaki di awal 20 tahunan. Bagi dia, semuanya adalah tentang aksi yang nyata. Jadi pernah waktu itu saya bilang, “Aku capek deh besok abis kuliah langsung kerja sampe malem”. Dia tidak akan membalas dengan basa-basi, ‘Gimana, mau aku anter jemput?’. Tapi dia akan langsung bilang, “Oke, besok jam 8 pagi siap-siap ya. Karena aku kuliah pagi juga, jadi kamu siap lebih awal.”. Dan benar saja, jam 8 dia akan ada di depan rumah, tanpa malamnya perlu konfirmasi ulang. Setelah menjemput saya di rumah dan mengantar ke kampus, dia akan tanya, “Jemputnya jam 2 ya?” Dan saya tinggal bilang, “iya”. Maka jam 2 siang, dia akan ada di depan gerbang kampus, menjemput dan mengantar ke tempat kerja paruh waktu. Saya tidak pernah punya peraaan yang meledak-ledak seperti perasaan kasmaran jika sedang bersama dia. Saya tidak merasa ada kecamasan berlebihan atau merasa harus memberikan impresi yang spektakuler. Bersama dia, saya merasa tenang, cukup, dan bisa menjadi saya tanpa perlu banyak bicara. Maret 2022, bahkan saat saya bertanya apakah dia bisa pergi ke pantai menemani saya, perasaan saya padanya pun masih sama. Dia, masih seperti orang yang saya kenal di 2011.

Sepanjang perjalan dari rumah saya di Jalan Kaliurang hingga ke Pantai Parangtritis, saya mencoba merangkum hidup saya sesingkat mungkin agar dia mendapat gambaran apa yang sedang saya lakukan selama ini. Pun dia, mencoba menceritakan pada saya apa yang dia alami selama 8 tahun terakhir. Dan tukar cerita itu, bagi saya, berjalan seperti kita tidak pernah hilang kontak bertahun-tahun. Mengalir saja.

Lalu kita ini apa? Hmmm apa ya?

Jika bicara soal membahasakan sesuatu, semakin kesini saya semakin pusing dengan banyak sekali istilah-istilah yang digunakan. Ada satu akun di tiktok yang membuat konten tentang istilah-istilah yang populer di kalangan anak Jakarta Selatan. Dia sering bilang, “Oh sekarang kalau cemas namanya panic attack. Kalau butuh liburan tapi engga mau jauh-jauh namanya staycation atau healing.” Saya waktu liat kontennya itu, hanya bisa tersenyum geli karna kok rasanya ribet sekali ya jadi manusia hari ini yang apa-apa harus ada labelnya.

Entahlah, rasanya semakin kesini, kita memang semakin haus mencari istilah. Rasanya kita perlu membahasakan semua yang abstrak dengan sesuatu yang konkrit. Kita harus mengklasifikasi semua hal pada folder-folder tertentu. Entah kenapa rasanya semua hal harus masuk pada istilah umum.

Ini jadi mengingatkan saya pada series terakhir yang saya tonton, Stranger Things. Di episode-episode awal saat ibu Will, Mrs. Byers melihat penampakan si mahluk dari upside down world, dia selalu tergagap bilang, “I see that…. That thing came out from the wall”. Kita juga sebagai penonton tidak tahu harus menyebut si mahluk itu apa, bahkan judul seriesnya saja Stranger Things. Seakan menjelaskan betapa sulitnya itu dijelaskan.

Saya merasa banyak hal di hidup saya seperti halnya mahluk alien di Stranger Things. Saya tidak tahu harus membahasakan bagaimana atau menjelaskan dengan kata yang seperti apa, tapi saya tau persis bahwa hal-hal itu terjadi. Saya sering tergagap dan bersembunyi di balik kata-kata, ‘ya gitu deh pokoknya’ karena merasa tidak bisa menerjemahkan dengan jelas apa yang saya rasakan, atau kejadian apa yang sedang atau pernah terjadi dalam hidup saya. Saya merasa banyak hal di hidup saya atau bahkan di dunia ini yang tidak bisa dikategorikan ke dalam istilah umum.

Istilah mantan pacar misalnya. Apa sih itu yang disebut mantan pacar? Apa indikator seseorang menjadi mantan pacar? Apakah harus diawali dengan jadian lalu ada kata putus diakhirnya? Apakah mantan pacar dinilai dari seberapa berharganya hubungan yang dilalui? Atau apa?

Contoh lainnya adalah penamaan sahabat. Bagaimana seseorang itu layak disebut sahabat? Apakah setelah melewati lebih dari sekian tahun pertemanan? Apakah harus bermusuhan dulu? Atau yang bagaimana? Oh, satu lagi, tentang selingkuh. Pada posisi apa seseorang dikatakan selingkuh? Apakah kalau sudah ada aksi nyatanya, atau hanya sebatas menyimpan dalam hati? Jika hanya menyimpan dalam hati dan dikatakan selingkuh, bagaimana membuktikannya? Tapi haruskah menunggu hingga kepergok baru bilang selingkuh?

Benar kan, banyak hal yang indikatornya saja tidak jelas, lantas mengapa kita selalu harus memasukan segala hal pada kategori tertentu, atau merasa harus memberi nama yang jelas? Memangnya kenapa jika banyak hal di dunia ini yang absurb apa adanya?

Kembali ke seseorang yang menemani saya ke pantai. Di hidup saya, beberapa orang-orang tidak bisa saya sebut hanya dengan istilah ‘teman’, namun kami juga tidak punya sesuatu yang special. Hubungan kami seperti di tengah-tengah antara ada apa-apa dan tidak ada apa-apa. Misalnya lagi, saya punya satu mantan pacar karena dia secara resmi nembak saya dan saya bilang “iya, ayok kita pacaran”. Tapi dia bukan orang membekas dalam hidup saya dan hubungan kami hanya berjalan satu bulan. Menurut saya, itu tidak pas dikatakan mantan pacar. Sementara beberapa laki-laki yang kehadirannya di hidup saya amat sangat membekas, tapi justru tidak pernah ada hubungan resmi diantara kami.

Atau dalam hal persahabatan misalnya, di periode tertentu, ada beberapa orang yang paling memahami saya karena saya menghabiskan waktu untuk bercerita banyak hal pada mereka. Namun hari ini, saya tidak tahu sedikitpun tentang mereka, beberapanya bahkan saya tidak lagi menyimpan nomernya. Namun bagi saya, mereka tetap sahabat-sahabat saya, hubungan kami di rentang waktu itu sangat berkesan dan saya akan berusaha mengingat mereka selamanya.

Tapi saya tidak akan mengatakan bahwa semua hal harus dibiarkan absurb atau abu-abu. Ada beberapa hal dalam hidup yang garis pemisahnya harus dibuat jelas memang. Hanya saja, perlu kita pahami bahwa ada banyak hal di dunia ini yang sangat sulit sekali dimasukan pada label-label tertentu. Untuk hal-hal yang seperti ini, saya lebih suka membiarkannya apa adanya.

Karena memang akan selalu ada orang-orang di hidup kita yang saat namanya disebut, membuat kita terdiam sejenak dan berkata, ‘dia tuh… orang yang….’. Beberapa pertistiwa juga tidak akan cukup dimasukan dalam kategori yang umum. Beberapa peristiwa juga akan membuat kita terdiam sejenak dan berkata, ‘sesuatu terjadi… aku sampe sakarang juga masih engga tau, itu kenapa dan gimana. It just happened’.

Beberapa hal memang seperti Demorgorgon, aneh tapi nyata.


Sumber Gambar:https://id.pinterest.com/pin/229683649737598932/


 

 

Kamis, 30 Desember 2021

Jalan!

Sebuah refleksi akhir tahun

“Although there’s no answer yet, you can start the fight

(So What? – BTS)

Siapa sih yang suka hidup dalam ketidakpastian?

Coba saja lihat pada kebanyakan pasangan yang sudah terlalu lama pacaran tapi belum juga ada tanda-tanda menikah. Pasti di satu titik, salah satu dari mereka akan mulai bertanya, “Hubungan kita mau dibawa kemana sih?”. Atau dalam kehidupan keseharian misalnya, kita akan selalu memastikan berapa lama supir Gojeg atau Grab akan datang, agar kita bisa bersiap-siap untuk mengambil makanan, paket, atau ya untuk bersiap mengantarkan kita ke suatu tempat.

Pada dasarnya, tidak ada dari kita yang suka hidup terombang-ambing. Kita tidak suka ada di posisi antara iya atau tidak, melangkah ke kanan atau ke kiri, berhenti atau terus. Mau sekecil apapun itu, kita ingin kepastian untuk bisa berjalan maju.

Padahal jika kita renungkan, sebenarnya kepastian tidak pernah ditawarkan pada manusia bahkan sejak hari pertama kehadirannya di dunia. Tidak pernah ada dalam sejarah manusia, kita diberikan kepastian. Manusia bahkan tidak bisa menebak dengan pasti kapan hari terakhirnya ada di dunia ini.

Kalau begitu, bagaimana manusia bisa menang melawan ketidakpastian? Atau apakah memang selamanya kita ditakdirkan menjadi mahluk yang selalu khawatir?

Saya jadi ingat episode terakhir Queen’s Gambit. Saat itu Beth (Anya Taylor-Joy) akan bertanding di pertandingan final melawan master catur Rusia. Sehari sebelumnya, dia dibantu oleh teman-temannya di US untuk memetakan strategi yang mungkin akan digunakan oleh tim lawan. Mereka mencoba memetakan sebanyak mungkin strategi yang akan digunakan pihak lawan agar mereka bisa menang. Di hari H pertandingan, awalnya semua gerakan lawan bisa diprediksi, hingga kemudian pihak lawan menggerakan pion ke arah yang tidak terduga, dan membuat semua strategi yang pernah dicoba sebelumnya menjadi tidak relevan. Saat itu terjadi, Beth menahan nafas, berpikir sejenak, dan akhirnya mengambil langkah sendiri. Dia menggerakan pion caturnya, dan memenangkan pertandingan. Beth akhirnya menang tanpa menggunakan strategi yang didiskusikan sebelumnya.

Dan begitulah seharusnya kita melihat ketidakpastian hidup. Hidup itu seperti episode terakhir Queen’s Gambit. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapan semua strategi, namun tidak akan ada yang bisa menebak gerakan lawan sampe kita menjalankan satu pion dalam papan catur. Hidup dimulai saat kita mengambil satu langkah yang kongkrit, dan kita akan melihat responNya. Pada dasarnya, kita sedang bermain catur dengan dunia ini. Kita harus melangkah dulu, barulah dunia ini merespon, dan setelah itu kita mengambil langkah dari respon itu, dan dunia akan kembali merespon. Begitu seterusnya dan seterusnya hingga sekakmat.

Dalam permainan catur, semua langkah akan menentukan langkah selanjutnya. Kita mungkin bisa membaca pola permainannya, tapi kita tidak bisa menghapal semua gerakan lawan, dan yang pasti, kita tidak akan pernah bisa membaca pikiran lawan. Hal yang paling mungkin kita lakukan adalah menggerakan pion dan melanjutkan permainan. Sama halnya dengan hidup ini, terlalu lama memikirkan banyak hal dalam kepala kita, tidak lantas membuat hidup kita berjalan maju. Mungkin malah sebaliknya, justru hidup kita berjalan di tempat.

Tidak pernah ada yang pasti dalam hidup. Mungkin itu kenapa dalam Islam, kita lebih baik mengatakan ‘InshaAllah’ (Jika Allah mengijinkan) ketika akan melakukan sesuatu. Ya karena kita tidak pernah bisa memastikan satupun hal di dunia ini. Hal yang paling mungkin bisa kita lakukan untuk hidup kita adalah tetap bermain cantik di sebuah papan catur raksasa bernama ketiakdakpastian hidup.

Mari bermain!

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/6403624460468500/


 

Rabu, 29 Desember 2021

Yang Sudah Ya Sudah, Kita Sambut Yang Akan Datang

Sebuah refleksi akhir tahun. 

“Let it go, can't hold it back anymore. Let it go, the cold never bothered me anyway.”

(Let It Go – Demi Lovato)

Tahun ini adalah tahunnya melepaskan. Tidak tanggung-tanggung, semua hal yang saya lepaskan tahun ini adalah hal-hal yang besar. Sebagiannya adalah mimpi saya di pertengahan 20 tahunan, dan sebagian lainnya adalah tentang support system yang hilang. Walau melepaskan itu semua sempat membuat jalan hidup saya berkabut dan kehilangan arah, tapi rupanya itu adalah 'cara' untuk mengantarkan saya pada tujuan baru.

Tahun lalu saya berdoa dengan sungguh-sungguh, agar saya diberikan takdir final yang menjawab semua perasaan dan usaha yang sudah saya kerahkan untuk seorang pria. Apapun takdirnya, saya berharap 2021 adalah tahun penentuannya. Dan yang terjadi adalah, di sebuah perjalanan ke Raja Ampat tahun ini, seorang teman baik memberikan pencerahan pada saya tentang konsep melepaskan dan itulah momen saya memutuskan untuk berhenti merasakan dan mengusahakan apapun untuk pria ini. Maka diantara ribuan koral laut Raja Ampat, di situlah saya melepaskan semua perasaan saya selama 5 tahun dengan selepas-lepasnya. Saya ingat sore itu, saya duduk di pantai melihat matahari terbenam dan berkata dengan tegas dalam hati, ‘It is okay. I let this go because I don’t deserve this’

Tidak hanya asmara, setelah 4 tahun lebih berusaha untuk mendapatkan beasiswa S2, tahun ini saya tiba di satu titik bahwa saya berhenti melihat S2 sebagai pencapaian yang akan membuat hidup saya lengkap. Terimakasih untuk sahabat saya Shofi Awanis yang dengan lembutnya berkata, “Aku engga pernah liat kamu itu engga complete kok Peh walau kamu engga S2. Aku malah engga ngerti kenapa kamu bisa mikir inferior banget soal dirimu sendiri?”. Sebuah ucapan yang akan saya ingat sampai kapanpun juga.

Mungkin bagi yang lain, S2 itu seperti iseng-iseng berhadiah, dapat syukur, engga pun hidup berjalan. Tapi tidak bagi saya. Bagi saya, ini seperti mengubah roadmap dan perspektif hidup secara keseluruhan. Ada bagian dari identitas diri saya yang terluka di sini. Alasan saya berhenti sebenarnya tidak terlepas dari satu pertanyaan, mau sampai kapan saya menunggu untuk sesuatu yang tidak bisa saya kontrol? Sementara hidup berjalan, dan saya masih memiliki mimpi-mimpi lain yang lebih konkrit. Mau sampai kapan saya melihat S2 sebagai pencapaian? Di satu titik, saya harus berani memberi ruang untuk mimpi saya yang lain.

Tahun ini juga menjadi tahun yang sangat bermakna bagi persahabatan saya dan Ica. Saya sempat berpikir bahwa saya dan Ica tidak akan lagi bersahabat. Namun rupanya, perang dingin yang sempat terjadi diantara kami hanyalah karena saya hanya merasa sedih dia akan menikah, yang di saat bersamaan, mental saya sedang lelah karena terlalu banyak hal yang terjadi.

Dan tentunya, tahun ini juga menjadi tahun saya kehilangan salah satu mentor dan atasan terbaik, Pak Arif. Kehilangan yang masih sangat membekas dan bahkan saya tidak yakin kalau dalam waktu dekat saya akan berhenti merasa kehilangan. Kehilangan yang membuat ritme kerja tim menjadi berantakan, dan secara personal membuat saya demotivasi.

Tepat di saat saya benar-benar kehilangan arah, tahun ini, saya malah harus menghadapi fakta bahwa saya mengidap Kolitis Ulseratif hingga harus melakukan biopsi untuk melihat apakah ada sel kanker atau tidak. Masih segar dalam ingatan saya proses menjalani 2 kali kolonoskopi dengan semua prosedurnya, dan bagaimana tidak enaknya cairan yang harus diminum agar proses itu bisa dilakukan. Pun saya yang harus bolak-balik rumah sakit di Jakarta dan Jogja di saat varian Delta sedang tinggi-tingginya. Sungguh sebuah pengalaman yang berkesan.

Saya tidak akan berbohong dengan mengatakan bahwa saya kuat menghadapi itu semua, karena faktanya, pada saat itu terjadi, saya ingin menyerah saja. Terbesit dalam pikiran saya untuk segera pulang dan mengakhiri ini semua sampai di sini. Saya merasa hidup tidak lebih dari sekedar checklist yang harus saya lakukan tanpa tahu apa tujuannya.

Tapi bukan hidup namanya jika tidak ada plot twist. Karena di saat saya kehilangan, di situ lah saya mendapatkan gantinya. 

Ibarat adegan di film-film, saat tokoh utama merasa tidak ada lagi pertolongan, justru di saat itulah pertolongan datang. Di suatu sore tahun ini, seseorang mengajak saya berdiskusi tentang masa depan dan membuka pikiran saya sebesar-besarnya tentang apa yang seharusnya saya lakukan selanjutnya. Obrolan singkat yang terasa seperti menemukan sekoci di tengah badai ketika saya terombang-ambing di lautan. Sebuah obrolan yang mengantarkan saya pada keputusan untuk putar haluan arah kehidupan. Sebuah obrolan yang terasa seperti penerang di saat jalan hidup saya sangat berkabut. Obrolan yang saya syukuri tahun ini.

Walau tahun ini terasa seperti badai, tapi saya juga perlu mengakui bahwa masih banyak hal baik yang terjadi dalam hidup saya. Saya adalah satu diantara ‘sedikit’ yang tidak kehilangan pekerjaan di masa pandemi, saya masih memiliki banyak teman-teman yang peduli, dan tinggal di apartemen yang menjadi tempat paling aman dan nyaman di Ibukota. Saya perlu mengakui bahwa banyak hal berjalan sebagaimana mestinya terlepas dari semua hal yang tidak menyenangkan itu.

Satu hal yang juga saya pelajari tahun ini adalah tidak semua badai datang untuk merusak. Badai kali ini datang untuk menjernihkan pikiran saya, mengajarkan cara agar lebih mahir bertahan hidup, dan mengantarkan pada tujuan yang baru. Tahun ini memang menjadi tahunnya melepaskan, tapi tahun ini juga menjadi tahunnya saya menentukan harapan baru. 

Kalau katanya Bangtan sih,

'Cause it's not over, till it's over, say it one more time:

I wanna dance, the music's got me going, ain't nothing that can stop how we move. Let's break our plans and live just like we're golden and roll in like we're dancing fools.

We don't need to worry, 'cause when we fall, we know how to land.
Don't need to talk the talk, just walk the walk tonight….


Source picture: https://id.pinterest.com/pin/11118330321586416/

'Cause we don't need permission to dance!

Selasa, 28 Desember 2021

25 Juni Untuk Ketigapuluh Kalinya

“….with every broken bone, I swear I lived”

(I Lived – One Republic)

Tanggal 25 Juni 2021 adalah hari ulang tahun saya yang ke 30. Jangan percaya pada ungkapan yang bilang kalau umur hanyalah sekedar angka, karena dalam ilmu monitoring dan evaluasi, angka adalah landasan valid dalam menganalisis fenomena yang akan digunakan untuk mengambil keputusan. Jadi usia 30 adalah usia yang penting untuk menentukan langkah hidup saya selanjutnya. Sekali lagi, itu bukanlah sekedar angka! Lagipula, siapa sih yang awalnya menyebarkan ungkapan umur hanyalah kumpulan angka? Meremehkan sekali.

Kembali ke tanggal 25 Juni 2021. Seharusnya, tanggal itu menjadi sebuah selebrasi bagi saya, atau setidaknya, saya bisa memposting satu foto di sosial media dengan caption reflektif tentang perjalanan hidup saya sejauh ini.  Tapi boro-boro itu kejadian, tahu apa yang terjadi di hari itu? Oke, saya akan ceritakan garis besarnya.

Hari itu adalah hari Jumat, hari yang saya sukai sebenarnya, tapi rupanya hari itu adalah hari yang sangat hampa. Saya ingat di hari itu, saya harus ikut rapat dengan eselon 1 dan 2 untuk topik pekerjaan yang sedang saya lakukan. Kondisi mental saya sedang jauh dari stabil, karena pertama, saya masih berduka setelah kematian Pak Arif, dan kedua, karena saya sedang dalam proses dirujuk ke rumah sakit bedah. Kondisi apartemen saya sangat berantakan, dan saya belum makan dengan baik dari pagi karena tidak merasa lapar. Saya membaca ucapan selamat ulang tahun dari beberapa WhatsApp group, tapi tetap saja hampa. Sekitar jam setengah 7 malam, saat saya hendak pipis, saya melihat di celana dalam sudah penuh dengan darah dan saya tahu itu bukan darah haid. Saya duduk di kamar mandi apartemen, menangis sejadi-jadinya dengan celana dalam penuh darah. Saat itu juga varian Delta sedang tinggi-tingginya, jadi saya tidak berani bahkan ke UGD karena takut terpapar Covid-19. Sekitar pukul 8 malam, sahabat-sahabat saya video call, dan saya menghabiskan sekitar 10 menitan hanya untuk menangis dalam video call itu.

Begitulah usia 30 saya dimulai, dengan pendarahan, kelaparan, dan sendirian.

***

Di awal tahun 2021, saya sempat mengunjungi Raja Ampat setelah selesai menyelesaikan salah satu tugas lapangan di Papua Barat. Dalam perjalanan di kapal menuju penginapan, saya sejenak melihat kondisi saya di hari itu. Saya mengenakan sepatu Crocks, celana training dan baju lengan panjang, membawa tas carrier berwarna orange, berusia 29 tahun, tidak memiliki pacar, memiliki pekerjaan yang baik, teman-teman yang baik, Allah yang selalu menjaga dan akan snorkelling di surga lautan untuk beberapa hari kedepan. Sejenak saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah itu seharusnya gambaran perempuan yang akan berusia 30 tahun? Entahlah. Tapi yang pasti, saya menikmati menjadi diri saya di hari itu. Saya merasa baik-baik saja.

Di situlah saya sempat berpikir tentang perjalanan hidup saya selama 29 tahun. Di kapal itu, saya mendapat pencerahan bahwa jika ada satu kata yang menggambarkan perjalanan saya sejauh ini, maka kata itu adalah ‘bongkar pasang’.

Saya melakukan banyak bongkar pasang selama 10 tahun terakhir. Banyak nilai-nilai yang saya lepaskan dan banyak juga yang saya ambil. Sebenarnya, proses bongkar pasang ini tidak terlepas dari perjalanan hidup saya secara keseluruhan. Dimulai dari 10 tahun pertama, di mana sebagai manusia, saya adalah mahluk sosial yang menyerap apapun di sekitar saya. Semua hal pertama yang saya pelajari berasal dari lingkungan terdekat saya, mulai dari orang tua, tetangga, sekolah, media, hingga artis-artis yang terkenal pada jaman itu, semuanya memberikan sumbangsih karakter pada saya. Saat itu, saya tidak punya banyak keberanian untuk menolak, atau sekedar diberikan referensi untuk memilih. Semua itu disodorkan tanpa saya bisa bernegosiasi. Untuk itulah, di usia 20an saya mulai mencari tahu mana yang benar-benar tepat untuk saya, dan mana yang tidak. Saya mulai melakukan bongkar-pasang untuk mencari tahu siapa diri saya sebenarnya.

Sebagai contoh, saya melepaskan nilai-nilai liberalisme yang sempat ada dalam pikiran saya, mulai dari konsep agnostik atau sekulerisme dan menerima konsep Islam yang diajarkan para ulama secara komprehensif, lengkap dengan konsep jilbab yang sekarang saya kenakan.

Tidak hanya itu, usia 20an juga menjadi usia di mana saya mengenal semua jenis emosi dan bagaimana saya melakukan bongkar pasang respon yang tepat. Ternyata emosi itu kompleks, dan tidak sesederhana apa yang saya rasakan saat berusia dibawah 10 tahun. Saya mulai belajar untuk mencari cara terbaik dalam memperlakukan emosi-emosi itu, dan menenangkan diri saya sendiri. Alhasil, saya pernah patah hati sebesar-besarnya, dan jatuh cinta sedalam-dalamnya. Saya tahu seperti apa rasanya punya persahabatan yang tulus, tapi pernah juga memutuskan hubungan pertemanan. Saya tahu rasanya punya bos yang sangat suportif, dan pernah juga menangis di toilet kantor saking frustasinya dengan teman kantor.

Usia 20an juga menjadi usia eksploratif. Saya tidak lagi tertarik untuk bekerja di sektor komunikasi dan lebih memilih bekerja di sektor pembangunan sosial karena alasan nurani (dan finansial). Saya pernah merasakan sensasinya belanja bulanan di supermarket mahal dan saya juga tahu rasanya menawar di pasar tradisional. Saya pernah berada di lautan selama 14 jam dan pernah tidur dengan berdekatan dengan babi. Mimpi mengelilingi Indonesia juga kesampaian di usia 20an, bahkan saya dimudahkan untuk bisa umroh sebelum usia 30.

Dan tentu saja, hal terpenting di usia 20an adalah keputusan saya untuk berdamai pada luka-luka masa lalu. Mempelajari kembali awal mula semua kejadian masa kecil yang sudah terjadi, memafkan semua pihak yang terlibat, dan memilih untuk menjadikan itu sebagai bagian dari hidup. Ibarat medan perang, saya berhasil melewati usia 20an dengan luka-luka yang menjadikan saya prajurit terhormat.

Di usia 20an, saya sering bertanya-tanya sendiri tentang perjalanan hidup saya terasa sangat berliku-liku. Awalnya, saya cenderung kesal dengan semua takdir-takdir itu. Namun kini, saya bisa mengatakan dengan ikhlas betapa semua itu masuk akal. Semua lika-liku itulah yang ternyata mengantarkan saya di hari ini, sekaligus yang membuat hidup saya menarik.

Sebelum ulang tahun, adek saya pernah bertanya tips apa yang bisa dia ambil dari pengalaman hidup saya selama 20an tahun hidup. Saya menjawab bahwa sebelum usia 30, cobalah berani untuk melakukan bongkar pasang nilai-nilai kehidupan. Usahakanlah untuk mendapatkan pengalaman TER sebanyak mungkin, terpahit dan termanis. Kenalilah Dia yang mengirimkan kita ke dunia ini dan banyak-banyaklah membaca. Jangan takut terluka, usia 20an tahun adalah usia yang tepat untuk babak belur. Percayalah, itu semua akan berguna untuk melatih jiwa kita agar lebih tenang menghadapi apapun di usia selanjutnya.

Dan untuk diri saya sendiri, tidak banyak yang saya harapkan di usia 30 tahun ini. Saya hanya berharap agar saya tidak pernah ditinggalkan oleh Allah. Satu keinginan yang merangkum semua hal, termasuk agar saya selalu diberi petunjuk, selalu dijaga, selalu dicukupkan, selalu diberi kekuatan, dan kelak, saya ditunggu kepulangannya dengan rindu yang besar olehNya. Apapun yang terjadi kedepannya, selama Allah ridho, saya akan baik-baik saja.

Source picture: https://id.pinterest.com/pin/281543706666672/

I have become someone better than I expected to be by 30. Dear Rabb, You are the GREATEST director.

Kamis, 29 April 2021

Cerita Tentang Kehilangan


Di tahun 2020, beberapa bulan sebelum Covid-19 menyerang Indonesia, om saya, adek bungsu mama, meninggal dunia di usia 40an. Almarhum meninggal tanpa ada penyakit bawaan apapun, kematian dadakan kalau kata orang. Begini cerita singkatnya, almarhum baru pulang ke rumah saat lewat tengah malam setelah menjadi pengisi acara di salah satu acara di Bandung (Beliau drummer band indie). Paginya, beliau mengantar anak-anaknya sekolah, dan setelah pulang mengantar, beliau berkeringat di bagian dada, dan… ya…  tidak lama setelah itu, beliau meninggal dunia. Diagnosa dokter adalah om saya itu terkena serangan jantung. Kepergiannya yang mendadak membuat semua keluarga kaget, tidak terkecuali saya. Saya yang kebetulan waktu itu sedang tugas lapangan di wilayah Jawa Barat, langsung ijin sorenya dan pergi ke rumah duka di Bandung.

Ada satu hal yang saya ingat ketika kejadian itu. Ketika subuh, H+1 setelah om saya dikebumikan, saya terbangun karena mendengar lolongan panjang dari kamar depan. Rupanya, itu adalah suara tante saya, istri dari almarhum. Lolongan dan ratapan panjang yang membuat saya bingung harus merespon apa. Tante saya yang lain akhirnya ikut terbangun dan menenangkan istri almarhum. Sementara saya, di pagi-pagi buta itu, hanya bisa bengong, tidak punya ide harus melakukan apa. Pedih sekali hati saya kalau ingat suasana subuh itu, rasanya seperti menyaksikan ada orang yang kesakitan karena terluka parah, tapi lukanya tidak kelihatan. Mau diobati, tapi bagaimana caranya?

Kepergian om yang mendadak itu membuat semua keluarga terguncang, terutama bagi nenek saya. Bahkan hingga di hari pertama puasa tahun ini, saat saya menginap untuk menemaninya di awal-awal puasa, nenek saya menangis tersedu sepanjang siang, sambil melihat foto almarhum. Berkali-kali nenek bergumam, “Akang udah engga ada… Akang udah engga ada…. Gimana ini?” Dan lagi, saya kembali tidak tahu harus melakukan apa. Hal terbaik yang akhirnya saya lakukan adalah menepuk tanggannya lembut tanpa berani mengatakan apapun.

Sebagai ponakan, saya pribadi tidak begitu dekat dengan almarhum om saya itu. Saya lebih dekat dengan saudara mama yang lain, tanta-tante yang lain, tapi tidak dengan beliau. Saya sedih tentu saja beliau meninggal di usia muda, tapi tidak sampai membuat saya mengeluarkan lolongan panjang penuh ratapan, ataupun kerinduan mendalam saat bulan Ramadhan. Bagi saya, om sudah meninggal, dan ya sudah. Kepergiannya, jujur saja, tidak begitu berpengaruh dalam hidup saya.

Kepergian om saya itu mengingatkan saya pada banyak episode dalam series favorit sepanjang jaman, Grey’s Anatomy. Banyak sekali episode-episode yang membuat saya menangis bombay karena kehilangan yang dinarasikan terlalu dalam, hingga membuat saya bertanya, sebegitunyakah rasanya kehilangan? Semenderita itukah?

Waktu SMA, ada satu cerita yang cukup “populer” karena selalu diceritakan oleh alumni-alumni. Yaitu, ada satu siswa yang sangat pintar namun suatu hari dia ditemukan bunuh diri di kamarnya, karena tidak lolos beasiswa ke luar negeri saat dia terpilih mewakili provinsi untuk pertukaran pelajar. Kata para-alumni, semua orang kaget waktu mendengar kabar itu, karena siswi ini selain terkenal pintar, dia juga pribadi yang baik dan supel. Orang-orang tidak habis pikir membayangkan bahwa kegagalan dia pergi ke luar negeri, sanggup mendorong dia untuk bunuh diri. Pun saya juga akhirnya ikut bertanya, harus sampai seperti itu kah, jika seseorang mengalami kehilangan?

Dulu, saya selalu berkeyakinan bahwa seluruh kehilangan pasti ada gantinya, dan seharusnya kehilangan tidak perlu direspon berlebihan. Saya misalnya, sebagai manusia, saya kehilangan banyak hal dalam hidup saya. Contohnya, dalam 3-4 tahun terakhir, saya kehilangan kesempatan untuk sekolah S2 karena tidak lolos satupun beasiswa. Sedih sih rasanya, tapi saya beranggapan, selama saya tidak berhenti mencoba, suatu hari nanti kesempatan itu pasti akan datang pada saya. Jadi saya tidak berpikiran untuk bunuh diri, walau sangat depresi waktu itu. Bahkan ketika saya kehilangan orang-orang terdekat dalam hidup saya, seperti kakek meninggal, patah hati, atau temen-teman yang tadinya dekat lalu renggang, saya merasa tidak segitu nelangsanya merespon kehilangan. Saya sedih sih, nangis juga kok, tapi tidak segitunya.

Ya tapi itu dulu, sebelum saya tiba di satu titik, saat hidup mengenalkan saya pada arti baru kehilangan.

Semua pengalaman saya tentang kehilangan menjadi tidak relevan saat berpisah dengan lelaki ini. Semua pengertian yang terbangun dalam pikiran saya soal kehilangan dan bagaimana saya harus meresponnya, seketika nihil di satu hari ketika saya merasa kehilangan lelaki ini. Saya ingat sore di tahun 2015, untuk pertama kalinya, saya mengeluarkan lolongan panjang yang bahkan tidak berhenti hingga berbulan-bulan lamanya. Saya pun bergumam tidak jelas menyebutkan betapa sakitnya hati saya, hingga beberapa tahun setelahnya. Semua hal yang saya ketahui soal kehilangan, rasanya menguap entah kemana, detik ketika saya kehilangan lelaki ini. Kalau mati itu mudah, kehilangan ini sudah menjadi penyebabnya.

Oh, begini rasanya…

Rupa-rupanya, ada jenis kehilangan yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, yang tidak pernah sekalipun kita persiapkan, dan tidak pernah terbayang akan terjadi. Ada jenis kehilangan, di mana kita akan terbangun di tengah malam, memegang dada, dan melolong panjang putus asa berharap kesedihan hati kita bisa hilang. Ada jenis kehilangan, yang membuat dunia kita jatuh berhamburan dan membawa serta diri kita. Jenis kehilangan ini bahkan membuat saya tidak merasa perlu mencari penggantinya, karena sekali hal itu hilang, setelahnya hanya akan menjadi negosiasi yang coba dilakukan agar menjadi utuh kembali. Dan tidak peduli mau seberapa lama sejak kejadian itu berlalu, akan selalu ada bagian dari diri saya yang tidak bisa kembali seperti semula. Akan ada luka, setiap kali saya ingat tentang itu.

Mungkin, jenis kehilangan ini berbanding lurus dengan apa yang akhirnya kita temukan. Mungkin alumni di sekolah saya yang bunuh diri itu, merasa menemukan sesuatu ketika dia memiliki kesempatan pergi ke luar negeri untuk pertukaran pelajar. Tapi saat kesempatan itu gagal, mungkin ada bagian dari dirinya yang sangat terluka. Mungkin tante saya, menemukan cinta dalam hidupnya yang dia yakini akan bertahan lama, dan dia tidak menyangka bahwa di pagi hari yang biasa-biasa saja, cinta itu hilang selamanya. Dan bagi orang yang tidak percaya komitmen, saya akhirnya menemukan seseorang yang ingin saya temani selamanya, hingga itu terasa tidak mungkin.

Untuk itu, setiap kali saya melihat sebuah kejadian yang melibatkan kehilangan, seperti tenggelamnya Nanggala-402 baru-baru ini, atau pesawat hilang, saya akan selalu membayangkan diri saya di tahun 2015. Mengingat sekali lagi seperti apa lukanya, berempati untuk semua yang ditinggalkan, dan mendoakan dari jauh agar mereka bisa diberikan kekuatan untuk kembali berfungsi sebagai manusia. Mungkin tidak akan kembali utuh seperti sedia kala, tapi kehilangan terbesar akan melahirkan jiwa baru yang lebih tenang. Sejauh yang saya rasakan, jika kehilangan terbesar dapat terlewati, kehilangan selanjutnya akan menjadi sebuah repitisi yang cenderung lebih mudah ditangani. Mungkin memang kita harus mencicipi kehilangan terbesar, sekedar untuk menjadi pengingat, bahwa tidak akan ada yang benar-benar menetap di dunia ini, bahkan untuk hal yang benar-benar kita inginkan. Mungkin...

sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/229683649733909134/


 

 

© RIWAYAT
Maira Gall