saya namakan puisi
Tampilkan postingan dengan label saya namakan puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Februari 2016

Di satu titik

Melihat kalimat pada sebuah buku yang aku tulis pada sebuah malam,



 “Hati yang meletup-letup senang, pada lelaki yang membawa sepiring keceriaan”  




Tidak ada yang abadi.
Tidak juga janjimu untuk menyelesaikan semua puisi.





Hadir

“Kau pun tak lagi kembali…”  
(Memulai Kembali)  

Aku tidak pernah merasa  memiliki apa-apa disini, selain apa yang memang disediakan alam semesta. Ya seperti air dan udara. Selebihnya, semuanya akan hilang dan pergi. Dengan beberapanya sempat aku kecap, sebagian lainnya tidak.  Seperti masalah-masalah yang terjadi kemarin, hari ini, dan esok hari. Bisa juga seperti perasaan sedih dan gembira. Semuanya akan berkunjung datang dan kemudian melangkah pergi.
Jadi sesungguhnya, tidak ada yang benar-benar kumiliki disini.

Selain, tentu saja Dia, yang denganNya kami saling memiliki.
Dan hatiku.
Dan mungkin juga kamu.

Mungkin juga kamu yang sebentar itu,
yang kini sudah siap pergi mengarungi laut biru.

Dan sekali lagi, ternyata tak ada yang benar-benar aku miliki, disini.



“Dan ku, kan memulai kembali….”  
(Monita )

Kamis, 31 Juli 2014

Cukupkah?

Lelaki itu, aku temui pada sebuah malam, dengan kondisi yang tidak begitu menggembirakan. Tubuhnya lemah karena terlalu lelah berjalan.Pakaiannya compang tak karuan, rambutnya acak-acakan, dan yang paling menyedihkan adalah ia tengah menggendong seorang anak perempuan. 
Kuhampiri dia, lalu kuberikan apa yang sekiranya bisa kuberikan untuknya. Dia tersenyum, begitu tulus. Kutanya berapa umur anaknya, dia menjawabnya dengan lirih "10 tahun mbaak, mboten saged jalan niki".
Ingin aku tanya mengapa, namun urung. Aku takut itu membuatnya sedih karna harus bercerita, atau sedih karena terpaksa menggali hati untuk hanya untuk menjawab pertanyaanku. Usai memberikan sedikit yang bisa aku berikan, aku tawarkan lelaki itu tumpangan kemanapun dia mau. Angin malam tak pernah baik untuk paru-paru, setidaknya, aku ingin ia tidur dibawah atap dan berhenti berjalan. Namun lagi-lagi gagal. Lelaki itu bersikeras untuk berjalan ketempat tujuannya, yang tak jelas dimana. Tak berhak memaksa, maka kupeluk erat dan kudoakan ia agar selamat sampai tempat tujuan. Melajulah aku membelah malam dengan bayangan lelaki itu yang semakin mengecil dalam kaca spionku. 

Lemah.

Aku menangis.

Kubayangkan dia, lelaki itu, menjaga anak perempuannya sekuat tenaga. Menggendongnya siang dan malam. Setiap malam akan berbisik pelan padanya, "Nak, apakah nyaman posisi tidurmu?"
Kubayangkan betapa doa dan harap lelaki itu pada anak perempuannya. Pastilah dibelai selalu rambutnya tiap pagi seraya berdoa "Nak, nyenyak tidurmu untuk menjalani hari ini?"

Sungguh anak perempuan yang sangat beruntung.
Dapat berada di pelukan ayahnya tiap malam, di doa ayahnya tiap pagi, dan berada di resah ayahnya yang akan selalu bertanya "Nak, apakah cukup hangat hatimu hari ini?"



*Al Fatihah untuk Ahyar Anwar*

Alasan

The end
"I don't know what to say," he said
"it's okay," She replied. "I know what we are-- and I know what we're not"
(Lang Leav)

Kalau perpisahan adalah hal yang paling konstan yang ada di hidup ini, maka 'alasan' menjadi hal yang paling dicari oleh manusia yang merasa kehilangan. 
Unik. Bicara perpisahan selalu unik. Dibumbui dengan perasaan yang kerap sangat melodramatik, tidak masuk akal, mengada-ada, dan berlebihan. Dahsyatnya kehilangan, sanggup membuat nalar manusia mati. Membuatnya tak enak makan, tak nyenyak tidur, menghabiskan waktu untuk sibuk berfikir 'kenapa'.


Lelaki itu pergi ketika puas bereksperimen dengan pikirannya. Ya, ia punya pikiran serumit prosesor komputer. Bermain dalam pikirannya mampu membuat siapapun tersesat. Hanya dia yang mempunyai kuncinya, hanya dia yang tau jalan keluarnya, hanya dia yang sanggup bertahan. Jika baginya, telah cukup membawa orang lain menjelajahi pikirannya maka dia akan pergi, dengan mudah.
Jangan tanya berapa banyak rindu yang ia sisakan, jawabannya adalah tak terhingga. Jangan pula tanyakan betapa bingungnya aku saat itu, karna tak akan terjawab.
Berkali-kali aku coba mencari rasionalnya, mencoba menjawab pertanyaan dengan mengintip isi otaknya. Namun yang aku temukan lagi dan lagi tersesat. Hingga kuputuskan saja untuk diam.
Dan secara tak diduga, alasan itu datang dengan sendirinya.

Terhenyak!

Hari itu, kuputuskan untuk tak lagi mencari tahu alasan pada setiap kepergian.
Semakin jelas bahwa kepergian ada begitu banyak macamnya. 

Namun yang pasti, ada beberapa kepergian yang tidak perlu diketahui alasanya. Biarkan saja pergi. Lebih baik begitu, pergi tanpa kita pernah tahu apa alasannya. Selamanya. Karena beberapa kepergian memiliki alasan yang tidak rasional. Jadi untuk apa kita harus mengeyam alasannya, saat menikmati kepergiannya saja, sanggup membuat kita meronta-ronta kesakitan. Kepergian selalu memiliki alasan bagi mereka yang pergi, maka cukuplah disimpan oleh mereka yang pergi. 
Bersikeras mengetahui alasannya akan semakin membuat kita semakin gencar bertanya "Tapi, kenapa?". Belum tentu kita paham tentang alasannya. Jikapun kita paham, atau mencoba paham, apa lantas membuatnya tetap tinggal? Bukankah lebih baik jika alasan itu direlakan sejalan dengan kepergian itu sendiri?

Percayalah, jika memang ditakdirkan kembali, maka kepergian itu akan beralasan. 
Jika tidak, maka ringan hatilah untuk melepaskan.



Lepaskan.

Selasa, 24 Juni 2014

Wacana

Kamu hanya awang-awang yang berputar di tempat yang itu-itu saja.
Saat kamu mengatakan bahwa cinta itu mungkin terjadi diantara kita, kamu juga hanya berkata yang itu-itu saja.
Melompati masa dan kembali bergerak dengan senjata yang sama, namun dengan lapangan yang itu-itu saja.
Pada akhirnya kamu kembali menarik kita pada kondisi yang begitu-begitu saja.
Tak ada jemunya, tak ada lelahnya, berputar di satu poros yang itu-itu saja.
Jikapun aku harus meronta-ronta, itu juga untuk alasan yang itu-itu saja.


Kamu itu wacana.
Juga cinta yang kamu tawarkan.




Ilusi, yang itu-itu saja.

Sabtu, 24 Mei 2014

Manusia Dalam Sorotan #1

"Well I don't like,
Living under your spotlight,
Just because you think I might"
(Jennifer Hudson-Spotlight)

Tersebutlah seorang itu sebagai seorang yang berada dalam sorotan.
Saat berada dipanggung pasti akan dieluk-elukan.
Dengan mic dan lampu sorot, kepayanglah dia dengan teriakan-teriakan.
Berganti-ganti panggung dan menikmati tepukan tangan.
Dengan sangat takjub meneriakan namanya dan tanpa pelit memberikan pujian.
Saat naik panggung dan lampu sorot menerpa tubuhnya, maka terbiuslah satu ruangan.
Tatap mata semua tertuju padanya, seorang bintang kesayangan.

Hingar.
Bingar.
Menjadikannya sebagai seorang bintang dibawah lampu sorot.


Aku hanya ingin tahu.

Apa yang terjadi saat ia turun panggung, 
tanpa lampu sorot?

#Bagian1

Rabu, 02 April 2014

Aku mengerti

"Sementara, lupakanlah rindu, sadarlah hatiku, hanya ada kau dan aku.." -float-

Karena aku ingat saat hatiku mampu melayang-layang di angkasa. Beberapa kali meledak karena kamu menyapa. Dan merah menyala karena dirayu.
Walau kini layu.
Tak apa.
Sekali lagi, biarkan saja aku merasa rindu dengan derasnya. Bahwa rindu adalah satu-satunya saksi. Walau menjadi tidak adil karena justru malah rindu yang akhirnya menjadi prasasti. Harusnya rindu bukan untuk dikenang. Tapi sayangnya aku tidak memiliki apapun lagi selain rindu untuk mengenang.

Sisanya kini hanya rindu. Hanya rindu.

Tidak lagi menjadi lebih, 
Dan tak akan menjadi kurang.

Kamu tidak akan kembali.
Aku mengerti.

Canggung

Dalam sebuah jembatan.
Membentang dengan aku dan kamu yang berada di sisi-sisinya.
Aku jauh-jauh datang membawa janji.
Tapi jembatan itu tidak menolongku untuk menjumpaimu.
Biarlah...

Maka aku pulang, kucoba esok hari.


Dalam sebuah jembatan.
Besar berdiri diantara aku dan kamu.
Kali ini kusiapkan nyali juga tekad.
Tapi tetap saja jembatan itu satu-satunya penghalangku menujumu.
Biarlah..

Maka aku kembali pulang, dan akan kucoba lagi esok hari.


Dalam sebuah jembatan.
Satu-satunya yang menjadi penghubung antara aku dan kamu.
Hari ini aku membawa rindu, sedang ranum dan kupersiapkan sebagai seserahan.
Namun tetap saja aku gagal menemuimu karena jembatan itu.
Maka biarlah..
Sudah..

Dalam sebuah jembatan bernama canggung yang ingin sekali kutaklukan itu, aku sudah menyerah.

Karena bagaimana bisa aku melewati jembatan yang telah dibangun oleh..
Oleh kamu.




***

"Apa kita akan jadi 2 orang yang saling canggung?"
"Tidak akan"


Sayang, kamu bohong.

Kamis, 02 Januari 2014

Kemarikan 2014

Apa yang harus saya katakan pada 2013? Terimakasih.

Terimakasih pada 2013 yang memberikan kesempatan dengan sangat lapang, hingga hati saya menjadi tangguh. Tidak cengeng.

Padanya, saya diberikan kesempatan mencicipi betapa nestapanya saat harapan itu kandas terbawa dan hilang meresap oleh udara.
Padanya, saya diberikan kesempatan mencicipi sensasi kecewa yang sungguh jumpalitan rasanya.
Padanya, saya diberikan kesempatan mengenyam harapan dan impian, hingga semuanya menjadi buih muntahan.
Padanya, bertubi-tubi saya terpantul-pantul pada jurang mimpi.

Hingga habis saya merangkak, kembali ketepian tempat semuanya bermula.

Dan saya terkapar, di 2013.



Dengan begitu, apa lagi yang harus saya katakan pada 2013 selain terimakasih?

Terimakasih dengan nada tulus ala anak balita yang diberi balon merah muda saat es krim rasa jambunya terjatuh.
Terimakasih dengan nada ikhlas, seperti seorang ibu yang mengetahui anaknya telah bersusah payah membanting tulang menerbangkannya ke tanah suci.

Ya. Terimakasih katagori itu yang saya haturkan pada 2013.

Karenanya, hati saya bebal atas kecap nelangsa hidup.
Kini saya tahu persis kemampuan saya dalam bertarung untuk selanjutnya.
Karenanya, kuat saya berdiri menantang.

Walau tidak semuanya buruk, namun 2013 sungguh menerpa hati hingga sekuat baja.
Beberapa diantaranya sanggup bikin saya tumbang, terbang, kepayang, tercengang, dilanda rasa senang, dan diliputi perasaan hilang.
Bahkan asmara 2013 mengajarkan saya akan satu hal. Bahwa saya siap meninggalkan semua yang berkaitan dengan sementara. Saya jengah dengan romantika anak muda, dan saya ingin berumah tangga. Ini gara-gara 2013.

Baiklah, karena renungan telah dilakukan,
harapan telah dituliskan,
dan semangat telah dikumpulkan.

Maka sambutlah saya yang siap meluncur dibawah pelangi 2014.

Resolution to make revolution!


GO!

Minggu, 29 Desember 2013

Mendiami diam

Apa bisa kamu mendengar kata, saat hanya ada suara terik pekak?
Apa bisa kamu paham apa itu jujur, saat  kebenaran tercampur?
Apa bisa kamu bersyukur, kala nafsumu keruh?
Apa bisa kamu merasa cukup, saat nafsumu mengatup-atup?
Apa bisa kamu menikmati dunia dalam fana?
Dalam bising,
Kamu bisa dengar apa?
Dalam ramai,
Kamu bisa liat apa?

Aku akan menarikmu pada diam. Hingga tak ada yang perlu kamu lakukan selain menikmati denyut nadimu dan aku.
Hingga tak perlu lagi kamu harus repot-repot mendengar kicau manusia serakah di luar sana.
Aku akan menarikmu pada hening. Hingga tak ada yang bisa kamu lakukan selain bermain gitar lagu romantis agar suasana semakin hangat.
Aku akan menarikmu pada tenang. Hingga kita bisa mengintip dunia itu sambil menyeduh cinta.

Di luar terlalu mencekam.
Mereka saling terkam.
Udara di luar penuh dengan ilusi.
Nanti mereka bisa membuat kita lupa diri.
Suaranya juga terlalu bising.
Nanti kita bisa pusing.
Jangan hidup disana.
Jangan bergumul terlalu lama disana.
Tak usah berlari tanpa arah disana.
Tak perlu ikut palsu disana.
Jalan kemari.
Diam saja disini.
Tinggalah disini.

Bersamaku, kita mendiami diam.


Minggu, 22 Desember 2013

Maha pembolak-balik hati

Kondisi seperti ini hanya seperti pengulangan saja. Aku fasih rasanya.

Dia pergi begitu saja.

Aku bisa apa?

Kamu pikir, aku penyihir yang bisa membelokan hatimu agar tetap bertahan disini?
Kuasa hatimu itu bukan kamu yang tangani.
Semua murni kuasa Ilahi.
Jadi kalau kamu merasa aku kurang berusaha, coba pikir lagi.
Kamu pikir, kamu seorang pesulap yang bisa mengatur hatimu sesuka diri?
Pergerakan hatimu itu sudah dimiliki, oleh maha penguasa hati.
Jadi kalau kamu merasa ini adalah proses yang harus dijalani,
lantas, kenapa kamu harus pergi?

Jika memang dirancang bertemu,
hatimu itu akan menuju.
Jika memang dirancang bersama denganku,
hatimu itu akan menunggu.

Jadi berhenti memandang seolah-olah aku yang tidak berusaha disini.
Aku mengusahakan hatimu itu pada doa yang aku terbangkan ke langit malam ini.
Jika saat turun ternyata hatimu tak lagi sama, aku anggap itu jawaban terbaik untuk dijalani.

Aku bisa apa?


Sok tahu tentang mana yang baik tentang hati?
Mana bisa aku begitu, sedang Maha pembolak-balik hati mengamati pergerakan hati kita dengan sangat teliti.

Senin, 02 Desember 2013

Judi

Di sebuah meja judi,
Orang-orang berdatangan tanpa pilihan.
Meja judi sudah berbaik hati menyediakannya.
Bersendu untuk kalah
Pesta pora untuk menang.

Lelaki itu,
mempertaruhkan harga dirinya.
seluruhnya.

Wanita setengah baya itu.
mempertaruhkan keperawanannya,
seutuhnya

Perempuan muda itu,
mempertaruhkan masa depannya,
separuhnya

Lelaki berjenggot itu,
mempetaruhkan hidupnya,
selamanya.

Perempuan berkerudung merah itu,
mempertaruhkan kebahagiaannya,
hingga habis.

Kemudian,

Dia tertawa,
Dia menjerit,
Dia menangis,
Dia mengiba,
Dia terpuruk,
Dia terjengkang,
Dia tertohok

Sebagian pulang,
Sebagian bertahan.
Tapi mereka akan kembali lagi,
pada sebuah meja judi.

Mungkin dengan menaikan taruhannya.
Atau malah menurunkan resikonya.
Memperbaiki strateginya.
Atau mencoba cara curang lainnya.

Walau mereka tau, meja judi tak berpihak.
Meja judi tak akan bisa ditebak!


Pada meja judi ini, pun aku larung semua hidupku.
Utuh!

Buat apa takut!

Hidup ini juga hanya sebuah pertaruhan besar.

"NAIKAN TARUHANNYA!!" 




Jumat, 29 November 2013

Bawa Kembali

"Dan lalu, air mata tak mungkin lagi bicara tentang rasa. Bawa aku pulang, sekarang, bersamamu.." Float


Walau menjadi rutinitas tapi pemandangan ini mengharukan.

Melihat bagaimana mereka berbondong-bondong memikul semua keluh, berlari-lari kecil, dan bersiap melemparnya pada ranjang hangat.
Melihat betapa mereka tergopoh-gopoh membawa senyum, membungkusnya dengan erat agar tetap menawan saat dijadikan buah tangan.
Melihat bagaimana mereka terhuyun-huyun berjalan dengan tangis yang ditahan, menahan hingga tiba pada pelukan yang tepat.
Dan lihatlah betapa getirnya mereka membawa rindu, mengayun-ayunkannya pada sebuah tas plastik, bersenandung kecil dan tak sabar untuk segera meletakannya pada sebuah hati.

Lihatlah mereka yang telah kembali dari perjalanan menuju pulang pada sebuah tujuan. Mereka bak prajurit perang yang perjuangannya bukan untuk sebuah kemenangan, melainkan untuk sebuah pelukan yang akan menyambut pada setiap kepulangan.

Mereka bertahan.

Karena pada sebuah pulang,
selalu ada tunggu yang menunggu.

Maka rindumu, keluhmu, senyummu, semua akan tiba tepat waktu.
 

Mereka pulang.
Dengan sedikit berdesakan.

Aku memandang.
Dengan banyak kehawatiran.






Kamu,
Sudah sampai mana?

Selasa, 26 November 2013

Ijin

"Apakah kita akan bahagia?"

"Apakah kamu menginjinkan aku?"

"Iya"

"Kalau begitu kita akan bahagia"

"kalau ternyata tidak?"

"Apakah kamu mengijinkan aku?"

"Iya"

"Maka percaya saja"

"Iya"

Kalau sudah kamu, maka aku tidak membawa lagi hati. Kutinggal dipojokan saja, biarkan dia menonton.
Tak ada gunanya.

Denganmu hanya ada logika.
Cantik sekali kamu membedah logika.

Hingga pertanyaannya bukan lagi 'apakah kamu mencintaiku'. Denganmu pertanyaanya menjadi 'Jadi bagaimana cinta ini?'

Praktis dan logis.

Berhentikan ini jika telah kelewat batas. Jangan sampai aku terlanjur lepas.

Senin, 18 November 2013

Tahanan

"So promise me only one thing, would you?
Just don't ever make me promises.. "
incubus

Karena seingatku, kamu rewel sekali membuatku berjanji. Dan ketika aku berjanji, senyatanya aku malah membuat kita menjadi sedemikian jauh...

Iya. Salahmu!

***

Hingga waktu yang tersisa, kita terkepung saja oleh kenangan.
Pernah kamu begitu menahan keinginan untuk menyambangi kita? Mungkin malu-malu iya.
Mengintip sedikit dan lantas  berfikir: 'jika melangkah masuk, apakah aku bisa keluar?'

Ah.. rutinitas.

Bagiku kamu seharusnya menjadi tawanan. Tidak seharusnya kamu berkeliaran begini. Bebas lalu lalang dan berjalan-jalan.
Kamu seharusnya menjadi narapidana. Berada di penjara dan tidak bebas lepas begini.
Kamu tidak seharusnya berada di pikiran bebas.
Datangilah dukun, maka secara ramalan kamu pasti akan cocok di penjara.
Untuk orang yang pernah memaksaku berjanji, sepertimu. Alam ini jelas tidak cocok untukmu...

Ah... kamu lagi.
Dan aku, egois lagi.

Mengapa bisa kamu berada di alam bebas?
Merepotkan saja!
Kamu membuat semua egoku mencuat keluar tanpa menghiraukan sopan santun.
Kamu membuatku megap-megap seperti tak bernafas.
Nanti kamu bisa membuatku berjanji lagi, dan aku akan melanggar lagi.
Sungguh, kamu tak seharusnya berada di alam bebas.

Drama ini kembali berserak saat kamu kini bebas.
Aku takut jika kamu bebas begini, dan aku dengan mudah terperosok.
Jika terperosok maka kamu akan membuatku kembali berjanji.
Jika aku berjanji maka aku akan membuat kita sedemikian jauh lagi.
Dan iya, itu akan jadi salahmu lagi!

Ah... menakutkan!

***

Bisakah kamu kembali menjadi tahanan?
Dan membuatku aman?

Bisakah kita tidak terjebak dengan ketakutan?
Takut kehilangan padahal kita tahu bahwa kehilangan itu telah melingkari kita sejak lama.

Bisakah kamu berjanji untuk tidak akan membuatku berjanji?


Ah... lalu.

Semoga kamu cepat tertangkap!


Jumat, 01 November 2013

Pantai

Banyak yang mengadukan nasibnya pada pantai. Berteriak kencang pada ombak layaknya bercerita pada sebuah teman dekat. Mengelus dan menuliskan harap pada pasir pantai layaknya menulis pada buku harian.

Pada sebuah pantai, manusia menitipkan hatinya yang tengah berderai.

Berharap pada ombak yang bergulung-gulung agar memberi jawaban.
Berharap pada pasir agar diberi ketenangan.
Berharap pada karang agar diberi kekuatan.
Berharap pada angin yang berhembus agar mampu melepaskan.
Berharap pada matahari yang terbit dan tenggelam untuk menyampaikan kerinduan.

Manusia menyimpan harap, agar pantai dapat melarung kisah,

Sebagian berharap kisah itu hilang terbawa ombak menuju lautan.


Sebagian berharap ombak menjadi kurir pengantar,
dan membawa kisah itu kembali ke pasar pantai.



Jumat, 11 Oktober 2013

Menua

Bagaimana kalau saat tua menghadang, kita menghilang saja?

Kita bersembunyi pada kabut, menghirup dalam-dalam sejuk, dan mendengkur pada lereng gunung.
Kita akan biarkan dingin tetap syahdu agar peluk terasa semakin perlu. Biar saja begitu hingga hati berkabung.

Lalu kita akan menatap pucuk daun yang basah karena embun, lalu segelas teh akan tiba saat matahari muncul dengan anggun. Menemanimu dan aku yang sibuk duduk melamun.

Kita biarkan saja masa muda tertinggal jauh pada deru kota dan bersiap berjalan pada waktu. Sehingga nanti, saat waktu semakin menarik semua indah rupamu dan rupaku, diam-diam semakin mendekati detakmu dan detakku, kita hanya tinggal merayakan.

Bahkan ketika waktu akhinya benar-benar tiba, maka kita akan saling mengantar.

Bagaimana kalau kita bungkus setiap malam untuk sibuk menghitung semua cintamu, sesuatu yang jarang kita lakukan dulu. Lantas kita akan menertawai nyali ciut mudamu itu. Boleh juga dengan mengingat betapa konyolnya aku saat tersedu. Dan kemudian tertidur dengan rasa haru.

Jadi,
Bagaimana?

Siapakah kita menua bersama?




Rabu, 04 September 2013

BISU!

"silence is a loudest cry"


Pipiku panas, air mata menamparku dengan begitu keras.
Aku punya ribuan kata nestapa yang ingin aku keluarkan.

Tapi hingga kondisi berubah segenting inipun, kamu masih sibuk bertanya.

Lucunya kamu ini. Kamu pikir semua hal ingin kamu ketahui haruslah dengan perantara kata?
Lantas bagaimana kamu mencoba menjelaskan cara semesta memainkan hujan?
Bagaimana kamu mencoba memahami cara semesta mengeluarkan larva?
Apakah selama ini kamu hanya memahami pertanda dengan kata?
Tidakkah kamu pahami kata bisa saja berupa angin yang berbisik, hujan yang berderu, bahkan sinar yang silau. Kata bisa berupa lembutnya aku tersenyum. Kata bisa berupa pilunya aku menangis.
Pernahkah?

Lantas setelah kamu tak lagi mendapatkan kata, kamupun pergi. Kamu pergi dengan tetap berfikir bahwa seluruh tanya hanyalah mampu dijawab dengan kata.

Kamu betul-betul lucu…

Pahamilah..
Ada sesuatu yang seharusnya kamu pahami tidak lewat kata.
Sesuatu dibalik senyumku, sesuatu dibalik tangisku, Pernah kamu sadar itu adalah kata yang tidak mampu aku keluarkan?
Aku tidak semampu seperti apa yang dibenakmu. Aku tidak mampu untuk berkata betapa aku ingin kamu ada disini, disampingku.
Sebegitu tidak mampunyakah kamu merangkai semua peristiwa untuk mendapatkan jawaban?
Apakah kamu tidak pernah sadar bahwa paksaanmu padaku tentang kata begitu menyakitkan?

Untukmu, yang mengaggungkan kata.
Berbaliklah dan hadapi aku.
Janganlah bertanya, aku tak punya daya untuk menjawab.
Andai kamu bisa intip sedikit sudut mataku,
Andai kamu bisa bersabar untuk mengorekku lebih dalam,
Andai kamu bisa membaca pertanda,
Andai kamu bisa merangkai semua gerak,
Andai kamu mau membacaku secara tidak biasa,
Mungkin kamu akan ada disini, seperti apa yang aku ingini.

Andai kamu paham.. bahwa aku tak pernah punya kata, untuk semua hal yang aku alami. Aku hanya mampu menyampaikan lewat udara. Bagiku, itu perantara paling mujarab untuk menyampaikan kata. Karena hanya udara yang mampu menyampaikan kata dalam bentuk doa.

Untukmu, yang selalu memahami kata sebagai sebuah pertanda.
Pahamilah..
Bahwa ada sesuatu, yang seharusnya kamu pahami tapi tidak lewat kata.



Tidak lewat kata.

Rabu, 31 Juli 2013

Saking

Saking takutnya aku pada rasa rindu, kini aku erat-erat mendekap semua hal yang berpotensi membuat aku rindu di kemudian hari.

Saking takutnya aku pada rasa kehilangan, kini aku diam lekat-lekat pada apa yang aku miliki dan enggan bergerak meninggalkannya barang sebentar.

Saking takutnya aku pada tangisan untuk mengulang, kini aku menatap masa depan dengan sembunyi-sembunyi, takut tak bisa kembali pada masa lalu.

Tapi. Mau sampai kapan?

Kini,
Pada semua hal yang berpotensi membuat aku rindu, aku hanya bisa pasrah.
Pada semua kehilangan yang akan hadapi, aku hanya mampu melepas.
Pada semua tangis yang mungkin akan berderai karena ingin mengulang masa lalu, aku hanya mampu bersiap.

Saking takutnya aku untuk merindu, kini aku berhenti untuk membayangkan semua hal yang akan terjadi dimasa depan.

Saking takutnya aku pada rasa kehilangan, kini aku berhenti untuk merasa memiliki.

Saking takutnya aku pada tangisan pilu dan rasa ingin kembali, kini aku berniat untuk menyiapkan masa depan.

Ah...
Manakah yang paling memilukan?
Perpisahan dengan kamu tau kapan batas waktunya atau perpisahan tanpa kamu tau kapan akan terjadi.
Mana yang lebih menyedihkan?
Perpisahan dengan persiapan atau perpisahan tanpa persiapan?

Saking...

Jumat, 14 Juni 2013

Kereta Api

"Do not wait: the time will never be 'just right'" (napoleon hill)



Salah satu tempat yang paling ingin aku kunjungi bersamamu adalah stasiun. Duduk berdua dalam ruang tunggu dan tertawa-tawa melihat orang terburu waktu. Ya, cukup kamu dan aku. Melihat orang-orang hilir mudik di sekitar kita sambil sibuk membicarakan semua hal. Ohya, kita bisa beli arum manis yang bisa kita comot berdua. Pasti menyenangkan!

Kita cukup duduk berdua saja di tengah ruang tunggu dengan kereta api yang akan datang dan pergi sesuai jadwal. Dengan kaki berselonjor, di waktu senja hingga malam tiba. Kamu cukup kenakan kaos dan aku akan kenakan terusan bunga kesukaanku. 

Bahkan aku sudah lebih dari hapal  untuk bisa menebak tanggapanmu, setiap aku menyatakan ideku ini. Kamu akan bertanya : "Stasiun? Ga bandara sekalian?" sambil tertawa, dan itu akan berujung pada cubitan gemas di perutmu.

Tapi sungguh, aku ingin duduk berdua denganmu di stasiun kota ini. Melihat seorang wanita yang sibuk menggendong tas bacpackernya atau sekedar melihat rombongan anak SMA yang akan melakukan perjalan keluar kota. Sambil mengamati mereka, sudah kubilang, kitapun akan membicarakan  apapun yang menurut kita menarik. 

Karena tahukah kamu, kereta api dan stasiun bagiku adalah lambang perjalanan yang nantinya akan kita lewati bersama. Dan aku ingin mengajakmu merasakan maknanya. 

Lihatlah kereta api dan jadwal yang tertera di stasiun ini, kadang tak sesuai bukan? Jadwal menunjukan kereta akan datang jam berapa namun kenyatannya kadang tak sesuai. Begitu pula hidup bukan? Kadang apa yang kita harapkan akan datang pada waktunya, namun kadang kita harus menunggu sejenak datangnya. Ya, aku ingin berbicara tentang sabar.

Lihatlah pada antrian orang-orang ini di loket. Lihat betapa inginnya mereka mendapatkan tiket untuk bisa sampai ditujuan. Ada yang akhirnya mendapatkannya namun tak banyak yang akhirnya tak mendapatkan tiket. Lihat ekspresi orang-orang itu, ada yang memutuskan untuk membeli tiket yang mahal asalkan tetap bisa berangkat namun ada pula yang harus rela untuk kehabisan tiket. Begitupun kita menjalani hidup bukan? kita harus berjuang mendapatkan apa yang kita mau. Tapi bersiaplah untuk kecewa, karena kadang kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan ya, aku sedang berbicara tentang perjuangan. 

Di stasiun nanti,  saat kita duduk, kita akan banyak sekali plang tujuan dengan orang-orang yang sibuk mencocokan tiket dengan plang tujuan. Karena begitulah hakikatnya. Stasiun akan mengantarkan orang-orang pada tujuan mereka. Pada pulangnya atau pada perginya. Tempat duduk kita ini hanya sebagai tempat singgah untuk tempat pergi atau tempat pulang bagi mereka. Begitulah selalu hidup ini sayangku, akan selalu ada tempat pulang dan pergi. Tanpa itu kita akan duduk termenung di tempat tunggu. Aku ingin kamu tau tentang sebuah perjalanan yang secara konstan akan terjadi. Disini aku mengajakmu untuk konsisten dengan menetapkan pulang dan pergimu.

Kita mungkin akan terbahak melihak beberapa orang ketinggalan kereta. Tapi dari situ, kita akan tau bahwa waktu akan bergerak konstan tanpa peduli kita akan tertinggal atau kecewa. Maka tak ada yang bisa kita lakukan selain bijaksana dalam melalui waktu.

Ah aku lupa memberitahu alasan mengapa kita harus duduk  di tempat tunggu. Duduk disini akan mengajarkan kita tentang sesuatu yang menjadi teman hidup, dan itu adalah menunggu. Untuk itu, pastikan kamu tidak menyalahi waktu yang nanti akan membuatmu menunggu.  

Dan dari semuanya, di stasiun kita akan melihat bagaimana semua perjalanan ini akan terbungkus baik jikalau kita ikhlas melaluinya. Ikhlas untuk berdesak-desakan mengantri tiket, menunggu, dan akhirnya tiba di tujuan. 

Hidup hanya seperti lalu lalang stasiun. Pastikan kamu telah membeli tiket untuk tujuan hidupmu kelak. Tapi jauh sebelum itu, kamu harus tau kemana kamu akan menuju dengan keretamu. Pastikan kamu menunggu di tempat yang tepat, agar kamu tidak salah. Pastikan kamu mengatur waktumu agar tidak tertinggal. Dan serambi menunggu, kita bisa duduk beromansa berdua hingga matahari terbit dan tenggelam tanpa kita sadari. Hingga akhirnya, kereta itupun datang. Entah terlambat, entah tepat waktu. Ya, aku ingin kamu terbiasa dengan menunggu tanpa tergesa. Proses itu bagaimanapun juga harus kita lalui dalam hidup bukan?

Ah sudahlah..

Kapan waktumu? Mari kita duduk berdua, hanya berdua di sebuah stasiun sambil melihat kereta api. Sambil merenungi bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan yang kadang kita harus terburu-buru untuk melaluinya, kadang harus membuat kita bersabar menunggu, dan sesekali kadang dalam perjalanananya, kita akan berjalan santai. 


 

#31

 #31harimenulis

#bagian2

© RIWAYAT
Maira Gall