#Percakapan
Tampilkan postingan dengan label #Percakapan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2016

Percakapan keenam: Tebakan

Berdebat dengannya tidak hanya sanggup melumpuhkan jaringan saraf logisku, tapi juga saraf emosiku. Seketika, aku tak punya kalimat yang sanggup aku gunakan sebagai pedang untuk melawannya. Aku hanya memiliki nafas yang memburu dan keinginan untuk lekas mengahiri perdebatan demi perdebatan dengannya.   

“Ada beda yang jelas antara kamu butuh aku, dengan kamu butuh seseorang. Antara kamu nyerah sama hubungan ini, dengan kamu nyerah sama aku. Antara kamu engga mau perjuangin hubungan ini, atau kamu yang emang engga mau berjuang demi aku?” 

Kali ini, dia kembali datang membawa pertanyaan-pertanyaan. Entah dia yang terlalu banyak berfikir, atau aku yang memang terlalu logis, atau sebaliknya.  

“Coba kamu pikir baik-baik. Kamu itu nyerah sama aku, bukan sama hubungan ini. Kamu engga mau berjuang kalau cuma demi aku, kamu bahkan engga mencoba perjuangin hubungin ini. Dan mungkin.... Mungkin... Mungkin, kamu engga butuh aku, karena kamu cuma butuh seseorang”  

Aku diam. Ingin menjawab dan sekaligus menciumnya agar lekas diam. Entah mana yang harus lebih dulu aku lakukan.   

“Aku engga pernah nyerah sama kamu. Tapi iya, aku nyerah sama hubungan ini. Aku mau berjuang demi kamu. Dan kamu dan semuanya yang ada di kamu, adalah apa yang aku mau. Coba kamu pikir baik-baik, apa kamu juga begitu?” 

 Setiap kali dia marah, kecewa, atau apapun itu, semua kalimat demi kalimatnya diucapkan dengan tenang. Tanpa intonasi atau suara yang meninggi. Seperti lautan yang tampak tenang namun bergemuruh di dasarnya.  

Dia selalu sanggup memaksaku berfikir dan menyeretku pada satu ketakutan: bagaimana jika dia ternyata benar?  


Sial!




Kamis, 16 Juni 2016

Percakapan kelima: Kejujuran

"You try so hard to figure out. Just what it’s all about. 
You’ll find it on, and on, and on. For what you know it’s true. 
And I say go on and on and on. 
Do all what you can do!"
(Go Now - Adam Lavine)


“Kalau aku harus mencintai kamu, aku mau mencintai kamu dengan aku yang sepenuhnya menjadi aku”  

“Memang selama ini, kamu mencintai aku dengan cara yang seperti apa?”  

“Bukan caranya, tapi aku mau dan harus menjadi aku, saat aku mencintai kamu”  

“Memang selama ini, kamu menjadi siapa saat mencintai aku?”  

“Menjadi aku yang belum kamu tau tentang aku”  

“Bisa lebih spesifik?”  

“Aku ini monster!”  

“Hahahaha...”  

“Aku serius”  

“Boleh ketawa sampai selesai dulu engga?”  

“Engga!”  

“Oh oke. Kamu monster, lalu?”  

“Aku mencintai kamu”  

“Tapi kamu ternyata adalah monster?”  

“Iya. Aku monster dan aku mencintai kamu”  

“Lalu apa yang berubah?”  

“Aku monster. Dan aku bisa merusak kota, jalanan, hingga membuat semua menjadi berantakan. Mungkin kamu juga akan ikut berantakan. Karena aku ini monster. Aku engga bisa bilang kalau aku ini bukan monster, padahal aku ini monster. Aku ingin mencintai kamu seperti ini. Makanya, mulai mulai detik ini, aku akan mencintai kamu sebagai monster. Sebagai diriku sendiri”  

“Sebagai monster?”  

“Iya”  

“Lalu?”  

“Itu yang harus kamu jawab. Aku adalah monster yang mencintai kamu. Lalu bagaimana?”  


Dia diam. Seperti biasanya. Mungkin aku menyakitnya lagi kali ini. Seperti yang selalu rutin aku lakukan dan ia lakukan. Tapi menurutku, tidak ada cara yang lebih baik dari memberitahunya tentang aku dan bagaimana aku ingin mencintainya. Jika cinta memang semurni apa yang orang gadang-gadangkan, artinya kebenaran adalah hal yang harus ia ketahui. Tentang bagaimana aku ingin melihatnya dan bagaimana aku ingin dia melihatku pada warna yang sebenarnya. Pada aku yang sebenarnya.  

“Aku mencintai kamu” Katanya  

“Sebagai monster?”

Dia menatapku, sendu.



Rabu, 23 Maret 2016

Percakapan keempat: Menebak Masa Senja

Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang ku beri? Adakah jalan yang kau temui, untuk kita kembali lagi...?  

“Kalau kamu udah tua, kamu pasti jadi kayak gitu tuh...” Katanya tanpa memandangku.
“Gitu gimana?”  
“Ya gitu, kalau ada mic nganggur, pasti kamu ambil trus jadi volunteer dan nyanyi lagu-lagu melow... Ya kayak bapak-bapak itu....”  

Kami sedang memesan Chinese food di sebuah food court pinggir jalan malam tadi. Dan memang saat kami menunggu satu porsi cap jay dan satu porsi kwetiau goreng selesai dibuat, kami mendengar alunan lagu-lagu lama yang dinyanyikan oleh para pengunjung yang bersedia. Lagu Ruth Sahanaya itu dinyanyikan dengan baik oleh si pengunjung. Bukan suara yang merdu memang, tapi tidak bisa dikatagorikan sebagai suara yang sumbang juga. Cukup baguslah, apalagi ketika menyanyikan nada-nada tinggi, tidak mengecewakan sama sekali.

Tidak jauh dari panggung kecil jadi-jadian yang disediakan di sana, ada sebuah keluarga yang juga sedang menunggu makan malamnya jadi. Dan kemudian si bapak, tanpa komando berdiri dan mengambil peran untuk menyanyikan lagu selanjutnya. Sementara si istri hanya sibuk bercengkrama dengan keluarga yang lain sambil sesekali melihat telepon genggamnya.

“Kita kalau udah tua kayak apa ya?” Dia kembali bertanya
“Ya bisa jadi kayak apa yang kamu bilang itu, aku bakal sering nyanyi-nyanyi, dan kamu akan lebih sering marah-marah” Dia lalu merespon dengan sebuah cubitan di punggung tanganku.
“Kok kamu nyanyi-nyanyi, aku yang marah-marah sih?” katanya sambil mendelik.
“Ya udah, menurut kamu, kalau kita tua kita akan gimana?” Dan aku akan siap mendengar jawaban filosofisnya kembali berkumandang tentang konsep masa tua di pikirannya.

“Hmm... Kalau kita udah tua, kita jalan-jalan aja berdua. Naik gunung, turun gunung, nyempung ke laut, trus pelukan di tenda” Katanya bersemangat
“Itu kita umur berapa ya?”
“Hmmmm 50?” 
“Aku engga kuat naik gunungnya. Kamu aja, aku tunggu di bawah” 
“Ih... Kuat kok kuat. Kan kamu udah kakek-kekek. Nanti pasti banyak yang bantuin” 
“Kamu mau kita jalan-jalan aja pas udah tua?” 
“Daripada kita di rumah, nungguin cucu pulang? Mending kita jalan-jalan aja kan?” 
“Aku mau jadi penyanyi aja gimana?" Kataku menawarkan
"Boleh aja. Aku penari latar ya?"

Membicarakan masa tua bersamanya adalah salah satu kegemaranku. Sambil memadang matanya yang penuh dengan angan dan cita-cita itu, seakan aku ingin melompati masa-masa ini dan langsung menuju ke masa itu.

“Kita bisa engga ya sampai tua nanti tetep begini?”  tanpa melihatku, dia kembali bertanya. Sebuah pertanyaan yang ia ajukan untuk dirinya sendiri. Dia mungkin tidak pernah sadar, bahwa saat menanyakan hal-hal seperti itu, ia sungguh terlihat rapuh.

Bersinarlah bulan purnama, seindah serta tulus cintanya... Bersinarlah terus sampai nanti. Lagu ini kuakhiri...  


Di sambut sorai sanak keluarga yang mendengarkan si bapak bernyanyi, aku memandangnya penuh takzim.

“Apa sih liat-liat?” Katanya malu.
“Kalau kamu udah tua, kamu pasti cantik banget”
“Dan kamu pasti renta banget!” Katanya dengan pipi bersemu merah muda.


_______



Minggu, 13 Maret 2016

Percakapan Ketiga: Awal Mula

Matanya sayu, rambutnya sebahu, tidak memakai pemulas bibir atau pelentik bulu bulu mata, namun wajahnya tetap saja ayu. Dia tampak misterius pada awalnya. Sungguh sulit mengejar langkah kaki dan pikirannya. Dia seperti punya semestanya sendiri, orbit-orbitnya sendiri, dan tata suryanya sendiri. Dan hanya dia, hanya dia yang akan berputar di dalamnya. Seakan tak ada yang bisa masuk dan diperkenankan menganggu tatanan itu. Tidak juga aku, lelaki yang sungguh tak memiliki apa-apa selain rasa penasaran padanya. Caranya bicara, caranya mengerling, caranya tersenyum, bahkan caranya memegang hidung setiap kali kepedasan adalah bius. Saat itu, tak ada yang paling sering menganggu malam-malamku selain pikiran untuk bergabung dengan semestanya. Kupikir rasa penasaran tak cukup kuat untuk meyakinkannya.  Namun ternyata, yang dia butuhkan memanglah hanya sebuah rasa penasaran. 

“Kamu inget engga gimana susahnya aku ngejar kamu waktu itu?” Aku bertanya.
“Masa sih? Sesusah apa? Emang aku jual mahal?” 
“Engga. Kamu engga jual mahal” 
“Lah, trus?” 
“Tapi kamu tuh kayak punya sekat dan tembok yang engga kasat mata, dan bikin siapapun itu, cuma bisa ada di luarnya…” 
“Oh ya?” Tanyanya. 
"Iyalah... Kamu setiap kali diajakin pergi, kayaknya aja bisa, tapi ujung-ujungnya ga bisa... Aku udah beli 2 tiket nonton konser tuh waktu itu, gara-gara kamu bilang kemungkinan besar kamu ada waktu. Lah tapi apa? Akhirnya ga jadi juga...."
"Iiiih dibahas loh! Itukan...."
"Kamu lagi mens. Jadi ga mood. Iya..."
"Trus, inget ga, waktu aku nawarin kamu buat pulang bareeng, pasti adaaaa aja alasannya..."
"Ya kan karena rumah kamu sama rumah aku engga satu arah. Ya ngrepotin lah..."
"Ngerepotin apa engga, urusan aku kali"
"Ini kita lagi bahas yang dulu-dulu ya?"
"Iyalah.. kan aku tanya, kamu inget engga, gimana susahnya aku buat ngedeketin kamu"
"Trus, gimana ceritanya sih dulu tuh, aku bisa mau?"
"Lah, kamu inget engga gimana?"
"Oh iya, aku inget, tiba-tiba kamu ngajak aku ke pameran toko antik... "
"Itu karena aku tau, kamu belom pernah kesana... "
"Gitu ya?"
"Kalau aku ngajak kamu nonton, kamu seakan bisa nebak apa yang bakal terjadi selanjutnya...Dan buat kamu, apa yang ketebak itu, bikin kamu males. Engga ada tantangannya. Tapi kalau ke pameran toko antik, itu hal yang baru buat kamu.. "
"Waaaaaw... kamu kok bisa sih menganalisis kayak gini?"
"Awalnya sih engga... sekarang aja aku bisa paham"
"Hmmm... aku seribet itu ya? Trus, kenapa menurut kamu kita bisa kayak gini? Sedeket ini?"

“Karena aku minta kamu untuk keluar. Keluar dari tembok kamu... " Aku terdiam. 
"dan kita bisa kayak hari ini, itu karena kamu yang berkeputusan untuk ngajak aku masuk kedalam” 

“Hmmm.. “ Katanya sambil mendekat ke arahku dan menaruh kepalanya dengan aman di dadaku. Sambil sibuk memperbaiki posisinya dia bertanya, “Trus, apa rasanya udah ada di dalam? 

“Hanyut...” 

Kadang aku berpikir bahwa apa yang aku lakukan pada diriku sendiri adalah sebuah ketidakadilan. Perempuan ini memasangku menjadi salah satu orbitnya. Membuatku bergerak mengeliling lingkaran hidupnya. Dialah sentranya, dialah pusat tata suryanya. Dia akan lunglai kalau aku pergi. Tata suryanya akan goyah kalau aku pergi. Aku tau itu.  

Doaku memang terkabul, bahwa aku menjadi bagian dari hidupnya saat ini. Aku diam dalam rotasiku. Terhanyut dalam perputaran tata surya ini. Aku adalah bagian penting dalam sistem ini. Aku juga tau itu. 

Aku pria yang hanyut didalamnya. Semesta dan pelukannya.


____


Jumat, 11 Maret 2016

Percakapan Pertama: Melebur

“Ini menjadi tidak masuk akal. Kamu pikir, jika dua orang bersama itu, artinya salah satunya harus melebur ke dalam satunya lagi? Lalu menjadi sebuah kesatuan, begitu?” Kutanggapi kamu dengan sisa-sisa sabar yang aku punya.  

“Lalu, kenapa kita harus bersama jika kita tidak saling melebur?” Dan dia masih bertanya.  

“Kamu berkiblat ke arah mana sih? Oke, kalau gitu, sekarang pertanyaannya, siapa yang akan melebur diantara kita? Aku atau kamu?”  

“Aku” Katamu begitu saja. Enteng.  

“Sudah begitu saja?”  
“Iya...” Katamu lagi tanpa ingin menyampaikan pembelaan.  

“Kamu melebur? Ke dalamku? Begitu maumu? Itu maumu?” 

Seketika diam menyusup pelan dalam perbincangan kami. Lalu kami terpaku diam pada masing-masing ketidakmengertian.  

“Tidak ada yang perlu melebur. Tidak aku, dan tidak juga kamu. Bahkan tidak ada yang perlu dikorbankan. Tidak cita-citamu, tidak juga cita-citaku. Alasan kita bersama bukan untuk saling mengalah, saling menenggelamkan mimpi, atau apalah katamu tadi saling melebur. Melebur dari mananya? Yang kamu sebut itu bukan melebur, tapi membunuh jiwa. Itu yang kamu sebut pernikahan?”  

“Lalu, jika keduanya harus hidup dalam mimpi kita masing-masing, siapa yang akan mendukung? Siapa yang harus mengalah? Lantas, apa bedanya kita dengan dua orang asing yang hidup di bawah satu atap?”  

Mendengarnya, kesabaranku tak lagi kuat hingga mendorongku untuk setengah berteriak “Oh Tuhan, kamu habis makan apa sih tadi pagi?”  

“Mungkin secangkir realita, cukup membuatku terjaga..”  

Lalu aku dengar helaan nafasnya. Berat dan pasrah. Sebuah rasa frustasi karena ingin membuatku mengerti sesuatu tapi gagal. Seakan ingin membuatku paham sesuatu tapi malas beradu pendapat.   

“Begini ya, kita, aku dan kamu akan berjalan bersama. Saling mendukung pada setiap langkah yang kita jalani. Menikah bukan untuk melebur. Menikah itu diciptakan untuk orang-orang yang siap untuk saling mendukung. Kamu dan aku tidak perlu melebur. Kita hanya perlu saling menegur jika salah langkah. Aku tidak perlu menjadi kamu, kamu tidak perlu menjadi aku. Kita hanya cukup menjadi kita.... Tidakah itu sangat sederhana untuk dipahami?” Kataku pelan-pelan.

Dia hanya berdiri, mengecupku, dan berkata “Nanti kamu terlambat masuk kantor”  

Dia pun melangkah dengan berat. 

Selalu begitu!


____

Dalam tulisan bersama Felix dan Saya. 
© RIWAYAT
Maira Gall