uneg-uneg saya.. hanya saya..
Tampilkan postingan dengan label uneg-uneg saya.. hanya saya... Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Februari 2016

Akar

"If I show it to you now, will it make you run away?  
Or will you stay, even if it hurts, even if I try to push you out,
 will you return?"

(Dark side)  


Beberapa malam yang lalu, saya melihat tayangan Mata Majwa dengan episodenya yang cukup menyenangkan: EKSIL 1965.
Bukan tentang PKI nya dibahas, tapi tentang orang-orang Indonesia di luar negeri yang pada tahun itu sedang belajar di Eropa (khususnya), dan tetiba kehilangan kewarganegaraannya. Alasannya juga bukan karena mereka adalah PKI, tapi karena mereka tidak mendukung pemerintahan orde baru. Bahkan hingga hari ini, masih ada dari mereka yang tidak punya kewarganegaraan, dan sebagian lain memilih untuk menjadi WNA.
Didatangkanlah oleh tim Mata Najwa, para eksil dengan pengalaman mereka.  Cerita mereka cukup sama, dimana pada saat itu, mereka dicabut warga negaranya, diblokade untuk tidak bisa pulang ke Indonesia, dan dibiarkan bertahun-tahun untuk tidak bisa saling kontak dengan keluarga mereka di Indonesia.

Salah satu cerita yang bagi saya menggugah, datang dari seorang eksil yang saat kejadian sedang berada di Ceko. Saat ia menolak pemerintahan orde baru, ia langsung dianggap PKI. Akibatnya, istrinya dipaksa harus menikah dengan orang lain, anaknya dipaksa untuk diganti identitasnya, dan ayahnya dipaksa untuk tidak mengakuinya sebagai anak. Saat Najwa Shihab bertanya tentang apa yang bisa Indonesia perbuat untuk menebus itu, kurang lebih komentarnya seperti ini “Saya pikir semuanya bisa diganti. Saat saya datang ke Indonesia, saya bisa sumbangkan ilmu saya. Pembangunan bisa dikebut. Semuanya bisa diganti, tapi bagaimana bisa perasaan itu diganti? Waktu diganti? Semuanya saya maafkan, kecuali yang satu itu”.

Menarik!

Tayangan itu, lebih tepatnya pengakuan eksil itu, membawa saya pada satu perenungan: sebab-musabab.

Ternyata, dalam hidup kita, akan ada satu hal, yang tejadi jauh di masa lalu kita, yang entah bagaimana kejadianya akan selalu timbul sebagai sebuah sebab. Sebagai sebuah akar. Sebagai sebuah titik mula. Tidak peduli dengan seberapa seringnya kita mencoba memaafkan peristiwa itu, atau sekeras apa kita mencoba melupakan. Atau walaupun itu sudah dimaafkan dan dilupakan sekalipun, tapi itu akan tetap ada disana dan hadir sebagai sebuah sebab.

Masalahnya, tidak banyak yang paham bahwa sebab adalah sesuatu yang layak untuk dihormati! Beberapa orang bahkan dengan lancang berkata untuk dimaafkan saja, dan sebagian lain yang agak kurang ajar berpendapat bahwa itu harus segera dilupakan. Katanya adalah, agar kita tidak menjadi seorang yang pendendam.

Seorang teman, pernah bercerita pada saya tentang bagaimana dia mencoba berdamai dengan masa lalunya. Dia berkata bahwa dia bisa memaafkan semuanya tapi tidak untuk satu hal. Satu hal kecil yang baginya bukan masalah memaafkan atau melupakan, tapi lebih kepada ketidak sanggupan dirinya untuk menalar peristiwa itu.
“Sampe hari ini, ga ngerti aku gimana bisa dia kayak gitu” 

Tidakah orang-orang itu paham, bahwa ini bukan perkara memaafkan atau melupakan? Karena maaf dan lupa tidak akan pernah merubah sebab musababnya. Tidak lantas bisa merubah akar masalahnya. Ini jelas bukan tentang memaafkan dan melupakan. Ini adalah tentang penerimaan.

Lagipula, bagimana mungkin kita bisa menyalahkan akar saat buahnya sudah siap dipetik?

Disadari atau tidak, bagi setiap orang, sebab itulah yang membentuk dirinya hari ini. Pun saya saat menulis ini, saya tahu betul apa biji sebab yang… yang tidak peduli mau seberapa keras saya melupakan atau memaafkan, tetap akan bergema di hati dan pikiran saya, selamanya. Sama seperti apa yang teman saya bilang  “Sampe hari ini, ga ngerti aku gimana bisa dia kayak gitu”. 

Tapi yang paling membuat saya tidak habis pikir adalah, orang-orang yang seharusnya paham bahwa itu adalah sebab, tidak menganggapnya demikian. Alih-alih menerima, malah menawarkan opsi lupakan dan maafkan.

Bukankah, memaafkan dan melupakan itu adalah urusan pribadi si sepemilik sebab. Tidak perlu diinternvensi orang lain. Justru yang harusnya dipertanyakan adalah apakah sedemikian sulit untuk menerima sebuah sebab dari masa lalu seseorang?

Apakah sebegitu sulit, menerima seseorang sedemikian telanjang?  




Just promise me, 
you will stay. 

(Kelly Clarkson)

Sabtu, 04 April 2015

Perjalanan

Hidup memang gudangnya tebakan. Sejauh mana memandang, yang ada hanya duga-menduga dan sisanya hanya raba-meraba. Sepertinya memang sejak awal diciptakan, dunia tidak dirancang untuk kepastian, walau sekecil apapun itu. Tak heran jika para ilmuwan itu berkata bahwa yang paling abadi di dunia ini adalah ketidakabadian itu sendiri.

Jika memang begitu adanya, lantas untuk apa sibuk-sibuk memikirkan kepastian? Kalau kepastian itu sendiri adalah hal paling langka yang ada saat ini. Apa yang dicari oleh manusia sebetulnya? Kepastian? Atau perasaan aman?
 

Kemarin malam, berbicanglah saya dengan seorang teman lama yang masih sedemikian galau dengan mimpinya. Setiap kali kami mencoba membantunya membicarakan mimpi, pembicaraan kami akan terhenti pada ucapan “Yo… pokokmen BUMN”. Ketika ditanya apa alasannya, dia pun menjawab “Soalnya itu pasti mbel kerjaannya. Gajine po meneh”
Hmmm… Apakah sedemikian abstraknya dunia ini, hingga segala macam hal kongkrit akan diburu habis oleh manusia? Jika memang begitu diburu, apakah masih tersisa hal bernama kepastian itu? Boleh saya pesan satu, jika masih ada?
 

Lalu saya yang penasaran, bertanya padanya, “Nek mapan, kabeh-kabeh jelas, kerjaan tetep. Kowe njuk arep ngopo?” (Kalau semuanya udah jelas, pekerjaan mapan, terus kamu mau ngapain). “Lah arep ngopo? Yowis to, enak” (Lah, emang mau ngapain lagi? Yasudah, enak kan) katanya menjawab. 
Oh, begitu ya?
 

Pembicaraan ‘tetap dan tidak tetap’ ini ternyata tidak terhenti sampai disitu saja. Seorang teman baik  yang sangat saya cintai, belum lama ini bergabung bersama dengan ribuan manusia yang siap mendedikasikan hidupnya untuk Negara. Entah apa motivasi dari ribuan manusia itu, yang jelasnya salah satu diantara mereka adalah teman baik saya. Ketika bertemu di Jakarta beberapa bulan yang lalu, saya penasaran bertanya apa rasanya menjadi Pegawai Negeri Sipil? Profesi yang diciptakan untuk para manusia yang pemuja kepastian (setidaknya itu alasan yang saya dengar dari beberapa orang. Beberapa loh ya, jangan marah loh).
 

“Yagitu deh Peh! PNS, tau kan?” begitu jawabannya. Rasanya saya ingin balik menjawab dengan ‘Oh.. ya jelas tau! Aku kan nanyanya cuma buat ngetawain’ tapi urung, saat melihat sorot matanya yang seakan berkata ‘Ipeh, please!’. 
Kemudian kami pun berbincang banyak tentang kehidupan. Sebagai saksi hidup kehidupan PNS, ternyata teman saya merasa bahwa PNS bukanlah kehidupan yang seharusnya dia dapatkan. Bukan dalam konteks kufur nikmat, tapi dalam konteks kebebasan manusia. Rupa-rupanya menjadi aman, tetap, dan terstruktur itu membosankan baginya. Hmmm…. 

Begitu ya?
 

Jika harus memilih, saya tidak tau mana yang akan jadi jawaban bagi manusia. Menjadi tetap tapi tidak menjadi manusia. Atau tetap menjadi manusia tapi di jalan yang tidak tetap?
Sebetulnya apa sih yang salah dengan menjalani tidak tetap? Toh hidup ini juga tidak akan menjanjikan kapastian walapun kita berada di jalur pasti. Atau hidup tidak akan menjadi aman bahkan saat kita bermain aman. Jadi apa yang salah dengan mengikuti kata hati dan bermain di jalur tidak aman, dan memilih hidup yang tidak tetap?
 

Saya tidak berbicara dalam konteks pekerjaan. Tidak sama sekali (garis bawahi ya, tolong). Yang ingin saya bicarakan adalah tentang pilihan menjadi aman itu sendiri. Bukankah menjadi sangat sangat kontradiktif, saat hidup bahkan tidak akan pernah memberikan kepastian, tapi jutru kita mati-matian mencari kepastian, hanya supaya bisa merasa aman?
 

Like, seriously?
 

Coba beritahu saya, siapa yang mencoba mencari kepastian lalu mendapatkannya? Atau siapa yang berada di jalur aman dan lantas merasa aman?
 

Yang kita coba lakukan saat ini, esok, dan kemarin adalah mengantisipasi hidup. Manusia hanya mampu berada di titik itu, mengantisipasi.
 

Mengantisipasi agar kelak kita bisa membeli rumah, maka bekerjalah kita. Jika ternyata kita mendapat hadiah rumah dari undian di Mirota, artinya apa yang kita antisipasikan itu tidak terjadi kan? Atau kita mencoba mengantisipasi kehidupan tua kita kelak, dengan memilih pekerjaan bergaji besar, dengan harapan kita bisa menabung untuk masa tua. Eh… ternyata kita meninggal di usia muda atau kita menikah dengan seorang miyuner, atau ternyata kita anak Micheal Jackson yang hilang. Tuh kan, apa yang kita antisipasikan gagal juga kan? Atau nih, kita mencoba lulus cumlaude, ini dan itu, mengantisipasi supaya kita bisa mendapat pekerjaan mentereng. Lalu ternyata garis hidupnya adalah kita menikah atau justru malah membuka usaha warung.
 

Tidak ada yang salah dengan mengantisipasi, lah wong hanya itu yang bisa dilakukan. Dan memang kita harus membuat langkah antisipasi. Hanya saja, jangan harap itu akan membuat kita merasa aman atau mendapatkan kepastian. Karena satu-satunya hal yang dirahasiakan oleh hidup adalah kepastian.
 

Jikalau memang hidup tidak akan pernah memberikan kepastian, kita bisa hidup dengan berpetualang.
 

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer “Kau terpelajar, bersetialah pada kata hati”.
Itu susah. Iya saya tau.



Cheers!

Rabu, 18 Februari 2015

Katanya idealis itu...

Kalau ditanya, apakah saya pernah melihat mayat mati atau belum. Saya akan jawab ‘tiap hari malah. Di mana-mana ada’. Mayat adalah tubuh tanpa jiwa, jadi boleh dong kalau saya bilang orang yang menggadaikan jiwanya untuk melakukan sesuatu yang tidak dia suka itu, tak ubahnya sebagai mayat hidup?. Tidak salah juga dong kalau saya bilang mereka yang tidak punya mimpi sebagai mayat hidup? Kan mimpi hanya dimiliki oleh orang-orang dengan jiwa yang hidup. Iya kan?

Tapi tentu saja pendapat saya ini akan menjadi perdebatan di dunia persilatan. Dan saya juga tau, mereka akan melempar pendapat saya dengan sebuah kata sakti mandraguna yang niscaya akan membuat saya diam seribu bahasa. Dan kata itu bernama realistis!
 

“Mimpi? bah! Bulshit! Ini hidup men, kudu re a lis tis!”

Yang mana sih yang namanya realistis, sepertinya ganteng, sini coba saya mau kenalan.
Seorang teman saya yang berprofesi sebagai model berkata “hidup itu harus realistis. Butuh make up nih, jadi ya sesekali gapapa lah jadi SPG. Apalagi SPG rokok, kerja ga ribet, duit banyak”. Itu jawaban yang saya dapatkan saat bertanya “Itu kamu engga apa-apa tuh, pake rok mini, trus diliat-liatin pahanya sama mas-mas?”
 

Atau teman saya yang memilih bekerja di sebuah bank, bukan karena dia suka tapi karena desakan. “kudu realistis mbel, aku isin nek ra entuk kerjaan. Tak tompo wae ah…”
Atau teman yang pindah kerjaan bukan karena ingin belajar hal baru tapi karena realisitis “Realistis wae lah, duite ki akeh, yo aku pindah”
 

Tu.. tu.. tunggu dulu! Itu kenapa semua jawabannya itu jawaban pasrah dan lunglai? Jadi realistis itu uang? Kemapanan? Kalau lawannya realistis itu idealis, artinya menjadi idealis adalah menjadi kere, tidak mapan, dan engga asik gitu hidupnya? Woh! Kejam juga ya masyarakat ini. Kalau memang anggapannya begitu, saya boleh dong punya pendapat bahwa mereka yang realistis itu penakut dan yang idealis itu pemberani?
 

Berarti menjadi realitis sama juga seperti menerima semua pilihan tanpa mengerti berapa nilainya? Apakah begitu, wahai pemuda-pemudi yang sering berkata “realitis aja laah…”?
Jika bagi saya realistis itu bukan tentang uang, apakah saya akan menerima sorakan penolakan lengkap dengan lemparan sampah, layaknya penyanyi bersuara sumbang di panggung hiburan?
 

Hmmm…
 

Belum lama ini, saya bertemu dengan teman saya yang kini bekerja di perusahaan raksasa dunia, Unilever. Seperti biasa, pertemuan dengan teman lama akan dimulai dengan “piye mbel, urip?” barulah setelah itu obrolan dan curhatan kami muncrat ke sana-ke sini. Dengan seksama saya mendengar ceritanya tentang pengalaman bekerjanya.
“Ono Peh, bawahanku, cah hukum, cah anyaran, gek ntas lulus. Durung suwi kerjo, dekne ngomong ‘mbak, ternyata kita disini cuma dijadiin babu ya?’. Aku lak yo mung ngguyu to? Pekok po polos je sakajae dekne? Trus aku ngomong ‘Lah iya. Aku juga udah tau kalau aku bakal jadi babu disini, tapi karena emang passion ku di marketing, ya aku suka-suka aja. Kamu kalau ga suka, resign aja’ "

 
“Trus, bawahanmu ngomong opo meneh?”


“Ngene jare ‘aku ga tau ternyata kerja di perusahaan besar itu cuma jadi babu’. Lah yo soyo ngguyu to aku. kok le polos?”

 
Lalu kami tertawa. Satir dan getir. Mungkin jika ada petir akan semakin lengkap adegan itu.
 

Ah hidup. Katanya idealis hanya milik pelukis atau seniman yang siap hidup hanya dengan kanvas dan cat air saja. Bukan itu konon katanya yang dibutuhkan hidup, hidup butuh realistis, butuh uang Bung!
 

Lalu apakah kini saya bersiap-siap untuk menjadi miskin dan tak berdaya?
 

Ih! Saya engga mau! Mit amit mit amit *ketok meja 3 kali*
Mungkin masalahnya bukan terletak dalam perdebatan menjadi realitis atau idealis. Kita bahkan tidak perlu memilih salah satu diantara itu untuk menjalani hidup, itu tidak masuk akal. Celakanya memang, kita hidup dalam kungkungan masyarakat pemuja kemapanan. Tak tangung-tanggung, kemapanan yang dipuja itu berbentuk rumah elit, gadget canggih, dan aktualisasi diri. Mereka yang hidup dengan membawa mimpi, berharap kelak akan menjadi seoarang yang berguna, akan jadi tertawaan masyarakat. Alih-alih mendukung, mereka akan melihat sebagai calon-calon orang gagal. Untuk itulah realitis terlihat lebih menarik dibandingkan idealis.
 

Tapi apakah iya, kita bersedia menjual nilai kepada harga yang tidak seberapa? Tunduk takluk pada realistis?
 

Jika begitu terus, bisa-bisa kita tidak punya warisan apa-apa kepada anak cucu kita selain kepongahan kapitalis. Bisa-bisa kita akan berkata begini “Kakek itu suskes karena realitis. Tuh liat papa kamu, rumah cuma satu, mobil cuma dua, itu gara-gara apa? Gara-gara idealis!” Dan dijawab dengan “Kakek, om idealis itu jahat yaa?”. Waduh… bisa-bisa anak cucu kita kelak semakin percaya bahwa realistis itulah komponen utama hidup, dan idealis adalah dongeng tua. Kemudian besarlah mereka dengan skeptisme akut. Ah, dibayangkan saja sudah syerem.
 

Untungnya Nabi Muhammad SAW tidak menyerah pada idealismenya. Bayangkan kalau dia menyerah dan mewariskan kita pedang, uang, atau keturunannya untuk dinikahi, dan lantas berkata sebelum meninggal “Ini semua, agar kalian hidup secara realisitis. Realistis sajalah kalian hidup nanti ya. Kalau sibuk kerja, ya sudah jangan sholat. Pokoknya realistis!”. Bisa dipastikan, hilang sudah islam yang rahmatan lil alamin.
 

Jadi begini sajalah, bagaimana jika mulai sekarang kita ketok palu untuk sebuah definisi baru? Idealis itu adalah tetap berpegang pada nilai dan tujuan. Sedangkan realistis adalah luwes dan fleksibel dalam menjalankan rencana-rencana.  Sisanya bonus.
Nah, kalau begitu bagaimana? Sepakat kita? Berjalan bersama kita?
Salaman dulu dong!









Cheers!

Selasa, 27 Januari 2015

Cocok!

“Terkadang, ketemu yang kita anggap cocok itu setelah kita bersama yang lain kan” (Dicki Mahardika) 

Sebuah kalimat sarkas yang saya baca siang ini begitu mengguggah rasa untuk menulis dan mungkin akan mempublikasikannya. Bukan karena saya dengan rasa sok tahunya, paham betul apa yang dimaksudkan si penulis sehingga menulis itu, tapi karena kalimat itu seperti membungkus semua aspek kehidupan manusia di masa pertengahan umur 20 tahunan. Ya, saya sedang bicara tentang kesempurnaan. Mencari yang terbaik dari yang terbaik. 
Tapi terbaik menurut siapa?  Menurut pandangan siapa?

Saya kira ini bukan melulu tentang romansa, lebih dari itu, ini tentang sebuah pencaharian. Mari kita renung-renungkan. Berapa banyak orang yang merasa berada di tempat yang salah tapi tidak punya daya untuk keluar dari sana. Menyesal telah membeli suatu barang karena kita tahu ditempat lain harganya ternyata lebih murah, atau ternyata setelah berkeliling, kita melihat ada model yang lebih baik. Atau ketika kita sudah mengiyakan sebuah acara namun tak lama datang ajakan lain dan kemudian kita menjadi kalang kabut untuk menentukan mana yang akan kita batalkan. Lalu kita akan kebingungan sendiri dan mencari-cari pembenaran setelah itu. Ah... Tipikal sekali kan? hehe
 

Rumit pada dasarnya memang hanya terjadi di kepala. Di kehidupan nyata, sesungguhnya itu sudah tertulis dengan sangat jelas. Anggaplah kehidupan itu seperti akuarium, yang sebenarnya sudah berjalan baik-baik saja tanpa perlu diberi apa-apa. Satu-satunya hal yang menjadikannya rumit adalah, saat kita harus menjadi ikan dan mencari-cari dimana air.
 

Menariknya, kita sering kali berhadapan dengan kalimat “bagaimana jika…” yang seakan menegaskan betapa takutanya kita mengahadapi masa depan. Betapa lemahnya kita mereka-reka masa depan. Padahal masa depan jelas-jelas tidak dirancang untuk dipikirkan, tapi dihadapi. Alih-alih memikirkan, lebih baik dijalani. Jadi kebingungan dan ketakutan yang sering kita dihadapi itu, sebenarnya memang pekerjaan yang paling membuang waktu, tenaga, dan pikiran.
 

Oke, mari kembali pada pokok masalah. Saya pikir ada dua hal yang harus digarisbawahi disini terkait dengan twit sarkas itu. Pertama, tentang kecocokan itu sendiri.
 

Kecocokan itu bukan hal yang alami terjadi, juga bukan hal yang abadi, subjektif pula. Jadi jangan risau. Tenang saja. Cocok hari ini, bisa jadi tidak cocok esok hari. Di dunia manusia yang serba tidak jelas ini, kecocokan seperti air yang akan mengikuti wadahnya. Tidak ada yang tahu betul kecocokan macam apa yang sebetulnya kita butuhkan. Seumur hidup mencaripun, saya yakin tidak akan ketemu. Karena kecocokan sangat tergatung pada waktu, kondisi, dan pengalaman kita sepanjang hidup. Jadi,  kecocokan adalah hal yang semu dan tidak akan pernah bisa dijadikan sebagai patokan resmi.
Saya misalnya, memang saya cocok hidup dengan seorang ibu yang super duper bersih dan selalu menuntut saya untuk menyapu rumah tiap detiknya? Tidak! Tapi apakah saya mencoba mencari ibu lain? Tentu tidak. Rasa-rasanya terlalu cengeng menjadikan perkara ‘cocok’ sebagai senjata untuk sebuah alasan. Terlalu rapuh.
 

Alih-alih bicara tentang kecocokan, sebetulnya kita sedang bicara tentang perbandingan. Dan kita akan masuk ke point yang kedua yaitu point tentang kepuasan. Menurut saya, pembanding itu seperti identitas. Misal, kita bisa menang dalam pertandingan (apapun itu), karena lawan kita lebih buruk (entah dari segi mana). Kita lebih memilih surga karna kontras dengan neraka. Kita dirasa lebih putih karena ada yang lebih hitam. Atau lebih hitam karena berada disisi yang lebih putih. Begitu seterusnya, tiada akhirnya. Tidak akan ada puasnya. Tidak akan! Tahu Kenapa? Karena pembanding itu seperti tanaman. Tumbuh terus. Semakin mengikuti tumbuhnya, semakin kita sibuk mencari yang cocok, dan semakin tidak puaslah kita.
 

Atau cobalah ajukan pertanyaan pada diri sendiri “Yang cocok itu yang seperti apa?”. Mungkin kita bisa menjawab panjang lebar tentang kondisi yang cocok itu hingga berakhir dengan utopia pikiran, atau justru malah tidak bisa menjawab apa-apa. Saya adalah tipe yang kedua.
Pada dasarnya cocok itu kondisi, bukan prasyarat. Itu artinya menjadi cocok atau tidak, atau menentukan cocok dan tidak, hanya terjadi saat kita mempunyai pembanding.
 

Tentu saja kita boleh pindah haluan, memutar tuas kehidupan dan berjalan kearah sebaliknya, namun bukan berarti kita harus melakukan itu sesederhana karena alasan tidak cocok bukan? Itu terlalu abstrak dan maaf, terlalu naif. Seakan-akan kita tau apa yang cocok untuk kita dan pindah karenanya. Bagaimana jika perkara cocok atau tidak itu hanya karena point yang kedua itu, karena pada dasarnya kita memang mahluk yang susah dipuaskan.
 

Pertanyaan selanjutnya menjadi lebih mudah: apakah kita akan puas?
 

Agak lupa dengan hadistnya, namun jelas tertulis bahwa manusia tidak akan puas hingga mulutnya tersumpal tanah. Alias mati. Dengan demikian, jika kita selalu mengikuti perbandingan, maka kita akan berputar-putar di siklus yang sama. Terperangkap hingga jengah. Hingga muntah.
 

Saya berada di kesimpulan bahwa dunia memang tidak dirancang cocok untuk saya. Sungguh repot sekali jika itu terjadi. Coba bayangkan, berapa ribu milyar jenis kehidupan yang kemudian harus dirancang untuk menyesuaikan kecocokan setiap manusia. Sayalah sebagai manusia penuh kelemahan yang harus merubah situasi. Atau mungkin menerimanya.
 

Alih-alih mencari yang cocok, saya lebih tertarik untuk berlari kearah yang lebih benar, yang benar menurutNya. Jelas dan sederhana.

Karena saya akan sangat kebingungan untuk menjawab: yang cocok itu yang seperti apa?


Seperti apa?



Pada sebuah siang, diawal tahun.
Untuk seorang teman yang tanpa sengaja mengingatkan

Sabtu, 24 Mei 2014

Achievement Unlocked: Merbabu

Hai.
Sudah lama tidak bercerita tentang hidup. Jadi di hari sabtu yang cerah ini, ijinkanlah saya barang sedikit menceritakan tentang kehidupan saya ini. Oke, jika berkenan, baca dengan seksama ya.

Kali ini saya mau cerita pengalaman saya naik gunung untuk pertama kalinya! (Untuk yang benar-benar mengenal saya, pastinya kaget kalau tahu saya naik gunung. Kalau naik lift mall pastinya semua akan biasa saja. Tapi ini saya naik gunung. Gunung Merbabu)

Ini terjadi di awal bulan Mei. Salah seorang sahabat lelaki saya sedari SMA, Ilham, mengamini salah satu wacana saya tentang naik gunung. Sebelumnya saya memang pernah memintanya untuk mengabulkan keinginan saya naik gunung, jadi ketika Ilham bersedia naik gunung bersama saya, itu seperti jodoh.

Jujur, ketika Ilham betul-betul mengajak saya naik gunung, sebetulnya saya lebih banyak takutnya. Saya takut merepotkan, takut jatuh, takut pingsan, takut banyaklah. Tapi saya halau semua rasa itu, jadi alih-alih saya takut, saya malah lebih excited! (Muehehehe)
Jadi setelah Ilham memberitahu bahwa kami fix akan berangkat di hari sabtu, jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah siap meminjam alat-alat. Mulai dari carrier, sleeping bag, dan sepatu (maklum, sepatu saya flat shoes semua). Membeli aqua 2 botol, coklat, inilah itulah.
Awalnya Ilham bilang akan berangkat jam 2 siang, tapi senyatanya Ilham malah baru menjemput saya jam 8 malam di rumah. Jadi sepanjang itu, saya memanfaatkan waktu dengan tidur. Daaan karena saking bersemangatnya, saat tidur saya bahkan bermimpi sudah berada di puncak.

Singkat cerita, jam 8 malam, Ilham menjemput saya dirumah, dan saya sudah siap naik gunung.

"Wohoooo naik Merbabu kita ham!" Seru saya.
Ilham hanya tertawa.

Menembus malam, kamipun sampai di pintu gerbang menuju desa tempat pos inti Merbabu. Karena jalannya nanjak dan motor Ilham belum diservice maka beberapa kali saya harus turun motor dan berjalan.

Nah ini dia cerita pertamanya.
Jadi, saat turun dari motor dan berjalan, saya sudah kelelahan. Padahal belum apa-apa.
Untuk itu saya berfikir, sepertinya saya tidak akan bisa melanjutkan pendakian ini. Padahal itu bahkan belum sampai di pos inti. Payah ya saya? :(
Nah, saat sampai di pos inti, saya langsung bilang ke Ilham "Ham... aku ga ikutan deh! aku tunggu aja disini"

Tahu apa respon Ilham setelah saya bilang begitu?

Ilham tidak memberikan respon!

Duh..

Pukul 23.00.
Pos Inti Merbabu.

Saya dan Ilham harus menunggu 2 orang lainnya lagi, karena kami akan naik ber 4. Jadi kurang lebih kami baru naik jam 11 malam.

Dan dengan membaca Al-Fatihah 3 kali saya (kami) pun memulai pendakian.

15 menit pertama

"Aku ga kuat... berhenti dulu"

15 menit kedua

"Aku ga kuat. Aku dipanggilin tim SAR aja. Aku ditinggal disini aja sampe besok"

Hahahaha!
Payaaah ya?
Tapi walau banyak berhenti, dalam waktu  kurang lebih 3,5 saya sudah bisa sampai di post 2! Bahagianya saya! Kami sampai sekitar pukul 02.00. Karna pada dasarnya itu adalah pendakian massal, jadi sesampainya di post 2, sudah ada tenda avalaible yang bisa ditiduri.
Jadi tanpa menunggu komando, saya langsung masuk tenda dan tidur.

Pukul 03.00

Saya hiportemia!
Untung saya bawa 3 jaket. Walhasil saya pakailah 3 jaket itu plus sleeping bag. Tidur dengan menggigil hingga subuh datang.


Pukul 07.00

Saya sarapan bersama dengan para pendaki lainnya (tentu saja sebelumnya saya harus pipis dulu di semak-semak dan sholat subuh). Setelah sarapan, Ilhampun berkata "Ayo Peh, muncak"

Saya diam sejuta kata. Sebetulnya saya sudah merasa bangga sudah sampai sejauh ini. Tapi betul juga kata seorang pendaki, "Eman-eman nek ra muncak. Sehat to? Muncak lah"

OKE! Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Mari ke pos 3 (bukan puncak niatnya)

Pukul 08.00

Pendakian ke pos 3 dimulai. So far sih sama dengan pendakian awal. Cuma pendakian dari pos 2 ke pos 3 memang agak nanjak dan jalannya lebih sempit.

Pukul 10.00

POS 3!

"Bagus ya Haaaaam!" Kata saya sumringah.
Ilham hanya tertawa.

Lalu, sambil menunggu anak-anak lainnya tiba di pos 3 saya sibuk melihat pemandangan (dan foto-foto sealakadarnya), dan Ilham tidur.

Pukul 11.00

"Jadi Peh, Merbabu itu puncaknya banyak. Yuk tak bawa kamu ke puncak yang paling deket aja?"
Ilham baik sekali deh. Saya terharu.

Jadi naiklah kami ke puncak tower. Itu puncak yang paling dekat.
Kami naik kurang lebih 20 menitan.

Dan ditengah-tengah pendakian ke puncak, hujan lebat mengguyur.
Jadi cepat-cepatlah kami naik dan berteduh di bawah tower.
Saat reda, kami baru turun.

Nah ini serunya. Dibandingkan naik, turun gunung lebih sulit dan menyeramkan bagi saya. Apalagi saat turun, tetiba hujan nan lebat bat bat bat mengguyur! Jackpot bagi saya yang pemula!
Dari puncak tower ke pos 3 tidak butuh waktu lama walau hujan. Tapi sesampainya di pos 3, lutut saya tremor. Gemeteran hebat. Dan saya ga berani bilang ke Ilham.

Maka dengan kembali menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, saya dan Ilham turun dari pos 3 ke pos 2. Waktu naik yang hanya 2 jam itu ternyata sama dengan waktu turunnya yang juga 2 jam. Dengan sepanjang perjalanan yang hujan lebat sehingga harus melawan arus air, saya cuma bisa membaca salawat dan dzikir sepanjang jalan.

Huh hah!

Lucunya adalah ketika sampai kembali di pos 2, penampilan saya kacau. Berantakan.
Malah sampai ada bertanya "Weh, kok lebay e?"

Sial!

Pukul 14.00
Pos 2 lagi

Lemas!
Saya cuma bisa diam dan makan biskuit. Senyum sealakadarnya dan melihat pemandangan. Ditambah baju sampai sepatu saya basah, bikin saya jadi semakin ga nyaman untuk berulah macam-macam.
Keep calm dan makan biskuit gandum.

"Siap?" Kata Ilham saat kita akan turun gunung.
"Yak!" Kata Saya

Dalam hati, saya cuma pengen sampe kamar. Kamar! Saya rindu kamar. Saya mau tidur di ranjang di kamar.
Ayo turun!

Pukul 14.30

Turun gunungpun dimulai.
Lutut saya semakin tremor.
Saya jalan seperti siput.
Ilham harus menggandeng tangan saya dari awal sampe turun.
Lutut semakin tremor, hingga patah-patah untuk berjalan.
Tertatih-tatih dengan makna sebenarnya.
Saya terus-terusan minta maaf karena jalan terlalu lama.
Hingga membuat Ilham jengah dan berkata "Minta maaf sekali lagi, tak tinggal"
Lalu saya diam dan mengikuti jejak langkahnya.

Pukul 17.30
Turun gunung itu biasanya durasinya setengah perjalanan. Tapi saya? Bahkan lebih lama turunnya dibandingkan naiknya.

Hingga sampailah kami di jalan konblok.Saat Ilham mencuci jas hujan saya dan dia yang kotor, saya duduk dan memandang langit sambil menahan tangis.
Lalu dalam hati saya berkata,

"Peh, apa coba yang ada dipikiranmu buat naik gunung?"

Dan cerita klimaks dimulai.
Kaki saya keram dan tidak bsia berjalan.
Padahal pos inti tinggal 10 menit berjalan lagi.

Ilham langsung menelfon temannya namun tidak ada respon. Kemudian Ilham menelfon tim SAR yang nomornya ada di tiket masuk.
Tidak lama kemudian, sekitar 3 menitan, tim SAR datang dengan motor.

Dengan nada tertahan karena menahan tangis dan sakit, saya berkata "Kalau duduknya nyamping bisa mas?"
Mas-nya menjawab "Nanti jatuh mbak, jalannya turun banget soale, ngangkang aja mbak. Saya bantu"

Dengan menahan semua cenut-cenut yang ada, ngangkanglah saya untuk naik motor.
Ya Allah.. gini banget ya :'(

Pukul 18.00
Pos inti.

Saya sudah berganti baju, sudah minum teh anget dan siap pulang ke Jogja, dan Ilham bertanya.
"Kapok Peh?"
"Hooh!"
"Biasane sih gitu. Pendaki awal itu kapok. Trus wegah munggah maneh. Tapi ngko nek wis tekan omah, mesti kangen trus pengen munggah maneh. Hambok piye..."

Dalam hati: "Aku, ra bakal!"


Pukul 20.00
Kami meninggalkan Merbabu dan menuju Jogja.
Karena hujan yang mengguyur terlalu lebat tadi siang, jalan pulang ternyata menjadi sangat bermasalah. Sehingga saat perjalanan pulang, saya dan Ilham sempat jatuh dari motor (Kocak!).

Sampai Jogja kami makan dan Ilham mengantarkan saya ke rumah. Sebelumnya saya mengucapkan beribu-ribu terimakasih pada Ilham atas semua perhatiannya selama pendakian.

Esok hari, pukul 06.00
Badan saya kaku dan keram. Saat bangun yang bisa saya lakukan hanyalah kedip-kedip dan memanggil mama untuk membawakan mukena.
Sehabis sholat, saya melihat foto yang ada, sambil menunggu mbak fitri menelfon dari Lombok.

Di akhir telfonnya mbak fitri bertanya:

"Jadi kapok Peh?"
"Engga!"
"Rinjani kita? Mendaki bareng kita?"
"Mendaki bareng kita!"

Oh shit. Ilham benar tentang pendaki pemula.
Saya mau naik gunung lagi! Mau!

***

Apa yang saya rasakan setelah naik gunung?

1. Film 5 cm itu menipu! HA HA HA!
2. Jujur, saya ga merasa religius banget karena melihat kebesaran Allah. Ya sih, memang keren banget pemandangannya, dan Allah maha besar. Tapi bukan point itu yang saya pelajari. Naik gunung mengajarkan saya bahwa untuk mencapai puncak, kita ga bisa melakukannya sekaligus. Harus bertahap. Pelan-pelan. Dan sebenarnya, bukan pemandangan dipuncaknya yang bikin kita pengen foto, karena saya yakin, melihat dengan mata juga sudah cukup. Alasan foto di puncak itu dikarenakan rasa bangga bahwa akhirnya kita bisa berjuang berada di puncak. Kebanggaan itu yang dipublikasikan. Kebanggaan itu yang akhirnya bikin saya yakin bahwa hidup itu benar-benar perjalanan yang diijinkan oleh Allah. Ya. Naik gunung mengajarkan saya kepada sebuah proses.
3. Push your limit! Nah ini. Ini yang paling berkesan. Ternyata tidak pernah ada hal yang tidak bisa kita lakukan selama kita mau dan Allah Ridha. Makanya, kalau saya merasa lelah dan stuck, saya selalu ingat perjalanan naik gunung. Saya harus melewati semua batasan yang ada. Saya bisa kok.

Sekian cerita saya dan akan saya tutup dengan foto-foto.
Di puncak saya ketemu temen kuliah dan temen gardep saya. Ealah.. 


Special thanks:
Allah SWT and ILHAM ARISNAWAN.

Makasih dengan makna yang tanpa batas ya Ham. Suwun! :')

Rabu, 02 April 2014

Canggung

Dalam sebuah jembatan.
Membentang dengan aku dan kamu yang berada di sisi-sisinya.
Aku jauh-jauh datang membawa janji.
Tapi jembatan itu tidak menolongku untuk menjumpaimu.
Biarlah...

Maka aku pulang, kucoba esok hari.


Dalam sebuah jembatan.
Besar berdiri diantara aku dan kamu.
Kali ini kusiapkan nyali juga tekad.
Tapi tetap saja jembatan itu satu-satunya penghalangku menujumu.
Biarlah..

Maka aku kembali pulang, dan akan kucoba lagi esok hari.


Dalam sebuah jembatan.
Satu-satunya yang menjadi penghubung antara aku dan kamu.
Hari ini aku membawa rindu, sedang ranum dan kupersiapkan sebagai seserahan.
Namun tetap saja aku gagal menemuimu karena jembatan itu.
Maka biarlah..
Sudah..

Dalam sebuah jembatan bernama canggung yang ingin sekali kutaklukan itu, aku sudah menyerah.

Karena bagaimana bisa aku melewati jembatan yang telah dibangun oleh..
Oleh kamu.




***

"Apa kita akan jadi 2 orang yang saling canggung?"
"Tidak akan"


Sayang, kamu bohong.

Kamis, 12 Desember 2013

Kowe kudu semangat!

"Kadang terasa sulit untuk mensyukuri apa yang ada. Atau hanya kita saja yang tak puas dengan apa yang ada" Kita bisa

Sebenarnya saya ingin menyelesaikan tulisan saya yang berjudul ransel sore ini, tapi entah kenapa saya merasa harus mengeluarkan semua uneg-ueng saya lewat sebuah tulisan. Ya, tulisan kali ini akan menjadi satu tulisan sampah karena isinya adalah tentang semua hal yang sedang saya rasakan.

Saya pernah membaca sebuah tweet dari @fala_adinda yang berbunyi kira-kira begini 'udah dinikmati aja, setiap fase dalam hidup itu ada kesulitannya' waktu itu kalau tidak salah, fala ngetwit saat posisinya sedang jadi penganten baru. Saya yakin saat itu Fala pasti sedang merasa gamang, karena pernikahan yang baru dijalaninya. Mungkin loh ya. Ya... walau saya tidak mengenal si fala itu, tapi entah kenapa saya meyakini itu.
Karena seperti Falla, saya pun sedang merasakan kegamangan itu. Bedanya jika falla bicara dengan konteks pernikahan, kalau saya tentang pekerjaan.
Dan twit fala itu membuat saya lega. Ya.. saya harus menikmati fase ini.

HAH!

Tahukah kamu berapa banyak pekerjaan di luar sana? BANYAK!
Tapi mencari pekerjaan sama seperti mencari calon suami. Walau banyak lelaki di luar sana, bukan berarti saya harus menikahi seorang lelaki mesum-tukang nasi goreng hanya supaya punya ingin punya status 'istri' kan? Ya sama juga dengan pekerjaan.
Percayalah, saya sudah mulai bekerja bahkan sejak semester 1 di kuliah. Saya sudah pernah berada di beberapa perusahaan lokal hingga yang agak nasional. Itulah kenapa saya tau bagaimana krusialnya berada di pekerjaan yang salah. Beradadi pekerjaan yang salah berarti juga kita akan hidup karena gaji yang menunggu di akhir bulan. Tidak ada passionnya dan yang ada hanya mengeluh dan mengeluh.

Habis lulus dan kerja. Siapapun akan mengalami fase saya ini : galau dengan urusan 'hidup selanjutnya mau kemana'.
Bayangkan, saya belum punya pacar. Jadi otomatis saya belum bisa punya ancang-ancang menikah dalam waktu dekat.
Pun pekerjaan yang saya idam-idamkan tak juga ada.
Stress? iya.
Resah? iya.
Bingung? iya.
Apalagi jika harus melihat teman-teman saya. Ada beberapa yang sudah kerja, beberapa juga ada sih yang sama bingungnya.
Apalagi banyak sekali yang berkata begini "ah, kamu mah pasti gampang lah cari kerja. Kan kamu udah bla.. bla bla..." Atau "Buat orang kayak kamu mah, pasti ntar dicari sama perusahaan..". Ya... saya amini sajalah kalau orang-orang sudah berkata begitu.

Tapi sore ini, setelah tak sengaja kepo sana sini di twitter, saya lantas berfikir.
Apalah untungnya memburu rizky Allah yang bernama pekerjaan ini dengan tergesa-gesa hingga harus stress atau gamang?
Toh, saya masih berada di Unisi, sebuah tempat kerja paling menyenangkan di dunia dengan gaji yang lebih dari cukup. Kelak ketika saya akan meninggalkan unisi untuk 'benar-benar' bekerja pasti akan menjadi hal yang sangat menyedihkan. Ya bayangkan saja, saya di radio 6 tahun lebih dan setahun ini saya terlibat secara managerial. Siaran sudah seperti darah yang mengalir di tubuh saya. Kenapa saya tidak menikamtinya sambil beriktiar? Ya kan?
Alih-alih saya mengiyakan pekerjaan yang salah hanya supaya saya dapat pekerjaan yang beralaskan gengsi, sabar sebentar untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai passion juga tidak rugi kok.

Itulah saya dalam melihat pekerjaan. Terserah bila mau mengatakan saya idealis. Bagi saya hidup tanpa idealisme yang terus dipegang hanya seperti ikan mati yang mengikuti arus. Bagi saya pekerjaan bukan hanya tentang gaji (kalau kerjaan hanya tentang gaji, saya jadi pelacur juga selesai, itu kan juga pekerjaan), melainkan tentang bagaimana saya belajar dan berkembang. Apalagi saya berencana mengambil S2 di luar dalam waktu 2 tahun ini. Jadi bagi saya lulusnya saya dari S1 adalah untuk mencari tempat belajar baru yang kebetulan dibayar, lantas belajar lagi di level S2, lantas mengabdi. Belajar dan berbagi sampai mati adalah hal yang selalu ingin saya jalani.

Dalam tahap ini, saat malam sebelum saya tidur, saya menatap langit-langit kamar dan kadang menangis. Bertanya dalam hati "Ya Allah.. jadi bagaimana ini?" Saya bingung sendiri dengan bagaimana saya harus menapaki masa depan. Tapi kok saya bisa sampai lupa ya, Allah itu kan maha besar dan tidak akan pernah salah dalam menetapkan masa depan untuk setiap hambanya.
Jadi alih-alih saya membandingkan diri dengan orang lain yang ini dan itu, lebih baik saya menyusukuri saja apa yang ada saat ini. Toh saya juga tidak diam saja meminta, saya juga berusaha, saya juga menyiapkan rencana, Allah tahu itu. Jadi jika sampai hari ini semua masih terasa abu-abu, mungkin Allah sedang mempersiapkan yang terbaik.

Ah, saya jadi ingat ucapan seorang teman yang cukup menyebalkan. Walau malas mengakui tapi ucapannya benar. Dia berkata bahwa di usia 20an seperti ini, terlalu rugi untuk melakukan sesuatu yang membosankan. Walaupun bukan berarti juga saya jadi acuh dengan hidup saya, tapi menikamti fase mencari "tempat belajar baru" ini juga tak ada salahnya.

Karena rejeki tidak akan pernah tertukar, jadi mari banyak-banyak bersabar.
Ayo Ipeh, kamu bisa!
:)

Senin, 02 Desember 2013

Judi

Di sebuah meja judi,
Orang-orang berdatangan tanpa pilihan.
Meja judi sudah berbaik hati menyediakannya.
Bersendu untuk kalah
Pesta pora untuk menang.

Lelaki itu,
mempertaruhkan harga dirinya.
seluruhnya.

Wanita setengah baya itu.
mempertaruhkan keperawanannya,
seutuhnya

Perempuan muda itu,
mempertaruhkan masa depannya,
separuhnya

Lelaki berjenggot itu,
mempetaruhkan hidupnya,
selamanya.

Perempuan berkerudung merah itu,
mempertaruhkan kebahagiaannya,
hingga habis.

Kemudian,

Dia tertawa,
Dia menjerit,
Dia menangis,
Dia mengiba,
Dia terpuruk,
Dia terjengkang,
Dia tertohok

Sebagian pulang,
Sebagian bertahan.
Tapi mereka akan kembali lagi,
pada sebuah meja judi.

Mungkin dengan menaikan taruhannya.
Atau malah menurunkan resikonya.
Memperbaiki strateginya.
Atau mencoba cara curang lainnya.

Walau mereka tau, meja judi tak berpihak.
Meja judi tak akan bisa ditebak!


Pada meja judi ini, pun aku larung semua hidupku.
Utuh!

Buat apa takut!

Hidup ini juga hanya sebuah pertaruhan besar.

"NAIKAN TARUHANNYA!!" 




Jumat, 22 November 2013

Congraduation

"Ntar aja lulusnya, kalo udah tau lulus mau jadi apa"

"ah.. bullshit!"

Karena memang bullshit.
Mana ada pattern begitu, mana ada kita harus berlama-lama kuliah dan menunggu sampai kita akan jadi apa.

Hah!

Bagi saya, semua itu ada waktunya. Lulus kuliah salah satunya. Tidak bisa kita berfikiran bahwa kita berlama-lama saja di bangku kuliah untuk menyiapkan diri mengahdapi dunia luar. Justru, ketika kamu masih gamang dengan apa yang terjadi di masa setelah kamu lulus, maka cepatlah lulus. Cepatlah menyusun strategi, bukannya berlama-lama diam dan menunggu. Semua ada deadlinenya!

Ada lagi pendapat, kalau tidak salah Anis Baswedan yang mengatakan 'IPK hanya mengantarkan pada tahap wawancara'. Bisa jadi iya, bisa jadi engga. Pendapat ini jangan serta merta jadi pembelaan bagi mereka yang IPK nya kurang lantas berbangga. Kalau IPK bisa tinggi (syukur-syukur cumlaude) kenapa engga? Kalau IPK tinggi dan skill juga bagus, kenapa harus memilih salah satunya?
Bagi saya itu hanya pembelaan orang yang tidak berjuang sepenuh hati di bangku kuliah.
IPK tinggi dan skill itu bisa didapat. Kuncinya cuma satu kok. MAU! Semua hal itu bisa, perkaranya cuma mau usaha apa engga.

Kok tulisan ini malah terkesan jadi tulisan penyemangat untuk para fresh graduate ya? Biarlah ya.. biar ada yang satu dua tulisan yang berbobot di blog ini.

Selama saya skripsi, saya banyak dibantu oleh Allah SWT. TanpaNya, entah jadi apa saya dan skripsi saya.
Tapi sekali lagi, ternyata kalimat 'dimana ada kemauan, disitu ada jalan' sekali lagi benar-benar nyata.
Dimulai dari saya harus resign dari srengenge, ayah meninggal, dan prikitil-prikitil lainnya, ternyata bisa membuat saya tetao bisa berwisuda di bulan November.

LEGA rasanya!

Habis ini mau kemana?

Pertanyaan paling sering muncul saat ini.

Saya ga tau harus menjawab apa.
Tapi jujur, saya merasa miris dengan fresh graduate saat ini?
Entah apa yang salah dengan pendidikan Indonesia sehingga membuat lulusannya berfikir untuk bermain aman.
HEY! Sadarkah kalian (saya juga sih) bahwa Indonesia menunggu? Indonesia menunggu lulusannya melakukan sesuatu.
Coba sekarang saya tanya, ada berapa banyak orang hebat di Indonesia? Jangan-jangan 10 tahu dari sekarang, tidak ada lagi orang hebat yang berkompeten di bidang tertentu di Indonesia. Alasannya karena mereka memilih untuk bermain aman dengan bekerja di bidang yang akan memberikan uang yang jelas.
Mereka berfikir itu realistis.
Bagi saya itu ironis.

Jika semua lulusan berfikir begitu, habis sudah Indonesia. Habis bis bis!

Ah kok saya jadi melenceng begini ya.

Sebagai salah satu lulusan dari UGM, jalan saya masih panjang, berkelok, dan terjal. Saya tau ini tidak mudah untuk mewujudkan mimpi saya suatu hari yaitu menjadi seorang meteri (sst... jangan ketawa, amini saja).
Tapi saya akan berjuang, untuk melakukan semaksimal yang bisa saya perjuangkan untuk Indonesia.

Cepatlah lulus.
Justru kamu harus lulus dengan cepat, karena Indonesia menunggu!

Happy Graduation all :)

Senin, 14 Oktober 2013

Jadi bagaimana?

Lantas bagaimana lagi harus menjalani hidup setelah dipukul bertubi-tubi oleh realita?
Lantas formula seperti apa lagi yang harus digunakan agar paham bahwa cahaya sedang menunggu di ujung jalan sana?
Lantas apa lagi yang bisa diselamatkan saat kemudian yang berguguran bukan lagi ego tapi mimpi?
Lantas ketika satu per satu yang senjata mulai rontok, bagaimana caranya untuk berperang?
Lantas jika semua menjadi begitu berhamburan di tanah, bagaimana memungutinya sekali lagi?
Dan ketika berantakan menjadi semakin menjadi dan lantas bagaimana membenahi?

Lantas bagaimana ini?

Bagaimana ini?
Semuanya seperti berputar-putar tanpa akhir.

Bagaimana ini?
Semuanya mulai bertanya tanpa henti.

Bagaimana ini?
Semuanya tampak tak mengerti.

Bagaimana ini?
Semuanya ingin hasil yang pasti.

Saat rasanya hanya ada kabur, sepertinya hanya ingin menarik selimut dalam-dalam dan lantas tenggelam saja didalamnya.
Saat rasanya bingung sudah mencapai puncaknya, rasanya hanya ingin menyalakan air hangat, membuat gelembung dan berdiam diri semalaman.
Saat rasanya gamang menjadi tuan rumah, rasanya ingin sekali duduk di pinggir pantai dan membiarkan diri dilarung.


Jadi harus bagaimana ini?
Bagaimana selanjutnya.
Seperti apa lagi?
Bagaimana lagi?

Dimana kompas harus dibeli?

Rabu, 31 Juli 2013

Saking

Saking takutnya aku pada rasa rindu, kini aku erat-erat mendekap semua hal yang berpotensi membuat aku rindu di kemudian hari.

Saking takutnya aku pada rasa kehilangan, kini aku diam lekat-lekat pada apa yang aku miliki dan enggan bergerak meninggalkannya barang sebentar.

Saking takutnya aku pada tangisan untuk mengulang, kini aku menatap masa depan dengan sembunyi-sembunyi, takut tak bisa kembali pada masa lalu.

Tapi. Mau sampai kapan?

Kini,
Pada semua hal yang berpotensi membuat aku rindu, aku hanya bisa pasrah.
Pada semua kehilangan yang akan hadapi, aku hanya mampu melepas.
Pada semua tangis yang mungkin akan berderai karena ingin mengulang masa lalu, aku hanya mampu bersiap.

Saking takutnya aku untuk merindu, kini aku berhenti untuk membayangkan semua hal yang akan terjadi dimasa depan.

Saking takutnya aku pada rasa kehilangan, kini aku berhenti untuk merasa memiliki.

Saking takutnya aku pada tangisan pilu dan rasa ingin kembali, kini aku berniat untuk menyiapkan masa depan.

Ah...
Manakah yang paling memilukan?
Perpisahan dengan kamu tau kapan batas waktunya atau perpisahan tanpa kamu tau kapan akan terjadi.
Mana yang lebih menyedihkan?
Perpisahan dengan persiapan atau perpisahan tanpa persiapan?

Saking...

Jumat, 14 Juni 2013

Kereta Api

"Do not wait: the time will never be 'just right'" (napoleon hill)



Salah satu tempat yang paling ingin aku kunjungi bersamamu adalah stasiun. Duduk berdua dalam ruang tunggu dan tertawa-tawa melihat orang terburu waktu. Ya, cukup kamu dan aku. Melihat orang-orang hilir mudik di sekitar kita sambil sibuk membicarakan semua hal. Ohya, kita bisa beli arum manis yang bisa kita comot berdua. Pasti menyenangkan!

Kita cukup duduk berdua saja di tengah ruang tunggu dengan kereta api yang akan datang dan pergi sesuai jadwal. Dengan kaki berselonjor, di waktu senja hingga malam tiba. Kamu cukup kenakan kaos dan aku akan kenakan terusan bunga kesukaanku. 

Bahkan aku sudah lebih dari hapal  untuk bisa menebak tanggapanmu, setiap aku menyatakan ideku ini. Kamu akan bertanya : "Stasiun? Ga bandara sekalian?" sambil tertawa, dan itu akan berujung pada cubitan gemas di perutmu.

Tapi sungguh, aku ingin duduk berdua denganmu di stasiun kota ini. Melihat seorang wanita yang sibuk menggendong tas bacpackernya atau sekedar melihat rombongan anak SMA yang akan melakukan perjalan keluar kota. Sambil mengamati mereka, sudah kubilang, kitapun akan membicarakan  apapun yang menurut kita menarik. 

Karena tahukah kamu, kereta api dan stasiun bagiku adalah lambang perjalanan yang nantinya akan kita lewati bersama. Dan aku ingin mengajakmu merasakan maknanya. 

Lihatlah kereta api dan jadwal yang tertera di stasiun ini, kadang tak sesuai bukan? Jadwal menunjukan kereta akan datang jam berapa namun kenyatannya kadang tak sesuai. Begitu pula hidup bukan? Kadang apa yang kita harapkan akan datang pada waktunya, namun kadang kita harus menunggu sejenak datangnya. Ya, aku ingin berbicara tentang sabar.

Lihatlah pada antrian orang-orang ini di loket. Lihat betapa inginnya mereka mendapatkan tiket untuk bisa sampai ditujuan. Ada yang akhirnya mendapatkannya namun tak banyak yang akhirnya tak mendapatkan tiket. Lihat ekspresi orang-orang itu, ada yang memutuskan untuk membeli tiket yang mahal asalkan tetap bisa berangkat namun ada pula yang harus rela untuk kehabisan tiket. Begitupun kita menjalani hidup bukan? kita harus berjuang mendapatkan apa yang kita mau. Tapi bersiaplah untuk kecewa, karena kadang kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan ya, aku sedang berbicara tentang perjuangan. 

Di stasiun nanti,  saat kita duduk, kita akan banyak sekali plang tujuan dengan orang-orang yang sibuk mencocokan tiket dengan plang tujuan. Karena begitulah hakikatnya. Stasiun akan mengantarkan orang-orang pada tujuan mereka. Pada pulangnya atau pada perginya. Tempat duduk kita ini hanya sebagai tempat singgah untuk tempat pergi atau tempat pulang bagi mereka. Begitulah selalu hidup ini sayangku, akan selalu ada tempat pulang dan pergi. Tanpa itu kita akan duduk termenung di tempat tunggu. Aku ingin kamu tau tentang sebuah perjalanan yang secara konstan akan terjadi. Disini aku mengajakmu untuk konsisten dengan menetapkan pulang dan pergimu.

Kita mungkin akan terbahak melihak beberapa orang ketinggalan kereta. Tapi dari situ, kita akan tau bahwa waktu akan bergerak konstan tanpa peduli kita akan tertinggal atau kecewa. Maka tak ada yang bisa kita lakukan selain bijaksana dalam melalui waktu.

Ah aku lupa memberitahu alasan mengapa kita harus duduk  di tempat tunggu. Duduk disini akan mengajarkan kita tentang sesuatu yang menjadi teman hidup, dan itu adalah menunggu. Untuk itu, pastikan kamu tidak menyalahi waktu yang nanti akan membuatmu menunggu.  

Dan dari semuanya, di stasiun kita akan melihat bagaimana semua perjalanan ini akan terbungkus baik jikalau kita ikhlas melaluinya. Ikhlas untuk berdesak-desakan mengantri tiket, menunggu, dan akhirnya tiba di tujuan. 

Hidup hanya seperti lalu lalang stasiun. Pastikan kamu telah membeli tiket untuk tujuan hidupmu kelak. Tapi jauh sebelum itu, kamu harus tau kemana kamu akan menuju dengan keretamu. Pastikan kamu menunggu di tempat yang tepat, agar kamu tidak salah. Pastikan kamu mengatur waktumu agar tidak tertinggal. Dan serambi menunggu, kita bisa duduk beromansa berdua hingga matahari terbit dan tenggelam tanpa kita sadari. Hingga akhirnya, kereta itupun datang. Entah terlambat, entah tepat waktu. Ya, aku ingin kamu terbiasa dengan menunggu tanpa tergesa. Proses itu bagaimanapun juga harus kita lalui dalam hidup bukan?

Ah sudahlah..

Kapan waktumu? Mari kita duduk berdua, hanya berdua di sebuah stasiun sambil melihat kereta api. Sambil merenungi bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan yang kadang kita harus terburu-buru untuk melaluinya, kadang harus membuat kita bersabar menunggu, dan sesekali kadang dalam perjalanananya, kita akan berjalan santai. 


 

#31

 #31harimenulis

#bagian2

© RIWAYAT
Maira Gall