Menurut Paul C Saettler dari California State University, Sacramento, hasil tersebut muncul karena banyak penelitian membandingkan pendidikan yang konvensional dan yang dibantu teknologi tidak pernah berhasil melakukan perbandingan setara karena banyaknya aspek yang tidak teramati. Satu hal yang pasti, interaksi anak dan komputer yang bersifat satu (orang) menghadap satu (mesin) mengakibatkan anak menjadi tidak cerdas secara sosial.
Kamis, 02 Desember 2010
TERGEMPUR TEKNOLOGI KOMUNIKASI
Menurut Paul C Saettler dari California State University, Sacramento, hasil tersebut muncul karena banyak penelitian membandingkan pendidikan yang konvensional dan yang dibantu teknologi tidak pernah berhasil melakukan perbandingan setara karena banyaknya aspek yang tidak teramati. Satu hal yang pasti, interaksi anak dan komputer yang bersifat satu (orang) menghadap satu (mesin) mengakibatkan anak menjadi tidak cerdas secara sosial.
Rabu, 28 April 2010
mumpung setaun sekali..
Kamis, 22 April 2010
media equation theory

Luna telah menganggap internet sebagai manusia. Saat mengetik, mungkin ia menekan keyboard dengan emosi dan berharap setelah menulis status itu perasaanya menjadi lebih baik padaha twitter tidak lebih dari sekedar situ jejaring sosial atau media virtual. Saat itu Luna maya menjadi seorang komunikator, Twitter sebagai komunikan dan status sebagai sebuah pesan. Sedangkan wartawan yang membaca status twitter Luna Maya akan menganggap media internet sebagai komunikator dan dirinya sebagai seorang komunikan dan terjadilah transaksi komunikasi. Wartawan yang membaca status Luna Maya kemudian menganggap twitter sebagai reprsentasi dari Luna Maya. Jadi ketika status itu terbaca, yang kemudian terjadi adalah mendekatkan kepala pada komputer sebagai reaksi terkejut membaca. Luna mengirim pesan, wartawan menerima pesan dan itu dijembatani oleh akun twitter maka terjadilah komunikasi sebagai transaksional.
kaus ryan dan analisis medianya :)
2. Inisiative yang menghubungkan antara kebutuhan kepuasan dan pilihan media spesifik terletak di tangan audiens
4. Orang-orang mempunyai kesadaran-diri yang memadai berkenaan penggunaan media, kepentingan dan motivasinya yang menjadi bukti bagi peneliti tentang gambaran keakuratan penggunaan itu.
Jumat, 29 Januari 2010
framing! itu kekuatannya..
Kekuatan gambar dalam media jurnalistik sangat besar. Foto atau gambar yang tercetak dalam media massa disadari atau tidak mempunyai makna yang terekam dalam frame gambar itu. Kita sebut sajalah foto jurnalistik.
Jika kita membeli koran, selain ingin membaca berita utama (headline) kita akan tertarik melirik koran itu karena foto yang tercetak dihalamn depan. Foto yang termuat itu bukan sekedar pelengkap berita tapi sebagai representasi dari peristiwa yang diberitakan dalam koran itu. Foto dalam dunia jurnalistik harus menjdai foto yang bercerita. *ini yang akan saya bahas!*
baca koran dot Com
Saya permudah bahasanya..
Di era yang semua nya serba cepat, semua ya serba online, mendapatkan berita menjadi hal yang mudah. Orang tidak perlu lagi menunggu koran esok hari terbit hanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada sore hari. Tahu kenapa? Karena detik (dot) com sudah rilis dan banyak dikases, begitu juga dengan situs berita lainnya. Internet merupakan saluran yang efektif dan efisien untuk mengetahui semua hal yang up date. Belum lagi tayangan TV berita seperti “sekilas info” atau headline news yang menjadi favorit kalau-kalau ada berita baru. Ditambah lagi radio seperti BBC atau 68 H yang bisa didengar. Lah kalo sudah se ektrem ini pergerakan informasi ke masyarakat, apa media bernama koran masih menarik?
Jawabannya? Masih! (buktinya kalo Sholat idul fitri, koran-koran masih banyak kan? Juga profesi wartawan masih eksis kan) tapi sehubung dengan modernnnya zaman koran hanya di gunakan sebagai wahana bagi mereka yang ingin mengetahui lebih detail mengenai suatu berita atau mendapatkan apa yang tidak didaptkan dari media online atau media broadcasting itu. Diluar negri malah, orang baca koran hanya di perjalanan menuju tempat aktifitas. Setelah itu mereka bekerja. Yaa.. sedikit berbeda dengan Indonesia yang d i kantor malah membaca koran...
Lah terus dimana foto jurnalistiknya?
Foto jurnalistik kini lebih berbicara daripada berita yang di tulis dalam koran. Contohnya gini. Saat gusdur meninggal, kita semua sudah atau beritanya di TV, Internet (saya tahu lewat status orang di FB coba..), dan radio. Koran? Baru bsok pagi kan? Kita semua sudah tahu berita ringkasnya dari media-media itu. Tapi saat kita lihat koran esok paginya dengan headline news dan foto suasana berduka di rumah gusdur kita seakan-akan melihat kejadian sebenarnya saat gusdur wafat hanya dari foto itu. Pengembilan angel dari foto itu membuat emosi kita tergugah bahkan foto itu lebih “bergaung” daripada berita di TV atau malah berita yang dutis di koran.. itu yang saya maksud foto jurnalistik, foto yang bercerita!
Hanya satu frame!
Foto jurnalistik juga bukan sekedar foto yang dipas-pasin sama beritanya(saya belum melakukan penelitian si, tapi kayknya banyak koran yang melakukan seperti itu deh... sekedar jepret) tapi harus punya cerita. Jadi apa yang ingin disampaikan ke pembaca. Emosi apa yang ingin dibangun. Nah ini dia, kita bicara emosi dan betapa pentingnya foto yang bercerita itu.
Misalnya (yang lagi hot-hotnya) berita tentang antasari. SEMUA TV bisa mengshoot SEMUA adegan saat Antasari sidang hingga ia bertemu anaknya. Tapi untuk foto? Dia hanya terbatas pada satu jepretan, terbatas pada satu frame. Hanya 1 foto kan yang bakal di cetak.. nah itu yang akan digunakan untuk membangun emosi orang. Contohnya, pas Anatasi di foto di angel yang miring saat dia peluakn sama anaknya. Melihat foto itu, orang sebenci apapun sama antasari bakal mikir kalo gimana-gimanapun anatasari itu seorang ayah. Dia punya keluarga dan bgaimana anaknya kecewa dengan ayahnya. (ya bukan berarti juag, ngeliat itu trus anatasari dibebasin...) dan itu TIDAK tertangakap atau minimal itu tidak membangun emosi orang sebagaimana orang melihat foto di koran.
Foto jurnalistik itu juga digunakan untuk membentuk opini orang (ingat bahwa semua media mempunyai kecenderungan untuk membentuk opini ealaupun caranya implisit). Contohnya waktu tahun 1998 deh.. saat orde baru mau lengser, nah mahasiswa banyak demo kan. Tpi kompas pernah memajang foto tentang mahasiswi yang menyerahkan bunga sama polisi yang lagi baris (lengkap dengan tamengnya). Kompas (mungkin) ingin membentuk opini masayarakat yang seperti ini : “ sudahlah.. ayo kita damai...” itulah sekali lagi foto yang bercerita..
Saya sarankan untuk...
Jadi.. jangan main-main dengan cita-citamu sebagai seoarng fotografer, jangan merekam peristiwa dibalik lensamu yang :
1. TIDAK BERCERITA... ini hanya membuat koran makin gag laku...
2. Membentuk opini masyarakat yang makin buruk. Pas BONEK lagi tawur, yang difoto irang yang lagi berdarah... (menurut saya, mahasiswi semester 2 itu foto buruuuukkkk...!!!!!!! gag ada angel lain apa yang bisa disampein... paraaaah..... jadi fotografer kok nanggung) soalnya opini masyarakat jadi main buruk kan tentang sepakbola Indonesia (lupa apa klo kita itu di Indondesia yang mayoritas masyarakatnya menelan bulat berita..? hah!)
3. Hanya jadi pelengkap berita.
Saya belum tentu bisa si ambil angel yang baik dan menjadikan foto saya bercerita.. tapi setidaknya saya tahu DO AND DON’T nya..
=D
Selasa, 26 Januari 2010
saya hanya melirik sinetron

Monoton! Itu yang dapat disimpulkan dari dunia persinetronan Indonesia. Dengan alur, latar, ide cerita, ending,hingga intrik yang coba saja perhatikan, hanya bergelut pada hal-hal yang seperti itu saja. Ada antogonis yang selalu menjahati protagonis. Ada adegan amnesia, tamparan, hingga pelukan mesra. Begitu seterusnya hingga sang protagonis mendapati kembali kebahagiaannya dan tamat!
Bukan bermaksud untuk menjelakkan karya anak bangsa, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa sinetron Indonesia tidak menawarakan unsur edukasi di dalamnya. Namun toh, apa pula peduli dari Production House yang membuat sinetron-sinetron striping itu tentang pendidikan, jelas darisitulah pundi-pundi rupiah mengalir, dan masyarakat Indonesia pun dengan mudahnya menjadikan sinetron sebagai alat rekreasi termurah. Jika sudah begini, siapa yang bisa dipersalahkan?
Dengan judul yang (hampir) serempak sinetron striping hadir dengan nusnsa cinta didalamnya. Namun disini, penulis tidak sedang membicarakan lanjutan cerita sinetron-sinerton itu, melainkan mencoba menganalisis ada apa di balikanya. Subjektif penulis, cerita sinetron-sinetron Indonesia merupakan cerminan budaya Indonesia.
Production House yang membuat cerita, hanya terinspirasi pada kisah-kisah masyarakat Indonesia pada kesehariannya saja. Mengapa? Karena PH tersebut hanya ingin membuat cerita yang gampang dimengerti oleh pemirsanya, untuk mempermudah maka PH hanya mengambil kisah-kisah yang familiar di masyarakat. Jarang bukan kita melihat, bagaimana kehidupan masyarakat gunung yang susah tanpa kehidupan cinta-cintaan dalam layar sinetron, atau kita juga nyaris tidak bida melihat adegan ranjang homoseksual dalam layar televisi. Karena kisah-kisah seperti itu tidak familiar oleh masyarakat kita, yang familiar adalah tayangan yang biasa ada di layar kaca sehingga kemudian dapat menaikan ratting, itulah sinetron kita.
Dengan begitu coba pikirkan, selama ini masyarakat kita, remaja hingga ibu-ibu hanya melihat tayangan yang sebenarnya familiar dengan kehidupan nyata, namun karena dibumbui oleh aktor serta artis yang good looking, maka melewatkan satu episode pun rasanya sayang.
Ironisnya, jika kebudayaan menonton sinetron ini terus merajai, yang akan terjadi adalah mental atau pandangan masyarakat kita akan terbatas pada apa yang selalu kita lihat. Contohnya, remaja putri menjadi berfikir bahwa pacaran di usia SMP adalah hal yang sebaiknya dilakukan, atau anak SMA yang berfikir jika belum berselingkuh maka belum mantap status sosialnya sebagai anak SMA. Dan lagi-lagi, itu didapat dari tanyangan indah berjudul sinetron!
Jadi, jika kita mencemooh tayangan atau jalan cerita dari sinetron, sebenarnya kita sedang mencemooh kehidupan sosial kita. Karena cerminan sinetron kita, hanya diambil dari kehidupan sosial kita sendiri. Lantas, siapa yang tidak kreatif disisni?
Dahsyat! Sinetron Indonesia dapat melakukan banyak hal. Sinetron dapat membuat produktifitas masyarakat menjadi berkurang, namun disisi lain dengan adanya sinetron dapat membuat masyarakat Indonesia menjadi termotifasi karenanya. Sinetron sukses membodohi masyarakat, namun sinerton pun berhasil membuat para insan persinetronan mengembangkan karirnya. Dilema!
Banyak macam sinetron di Indonesia. Ada sinetron yang mengedepankan aspek moralitas didalamnya yang dibungkus apik oleh tanyangan-tanyagan syuting yang sederhana, namun sinetron jenis ini hanya ada pada masa-masa tertentu seperi Ramadhan, atau natal. Ada pula jenis sinetron yang bertujuan untuk memasyarakatkan hal-hal yang tabu, seperti sinetron yang bercerita tentang poligami. Ada pula jenis sinetron yang mengedepankan aspek kekeluargaan, sehingga aman ditonton dan biasanya sinetron ini tidak mempunyai ratting yang tinggi, dan kebanyakan adalah tipe sinetron striping yang menawarkan intrik tidak berkesudahan yang menjadikan penontonnya terbuai pada alam khayal.
Seperti yang dikatakan di atas, bahwa sinetron Indonesia merupakan kebuayaan sekaligus dilema. Maka, sebagai para konsumen dan penikmat diwajibkan untuk memilih tayangan-tayangan yang dapat menambah muatan otak. Bertahan dalam globalisasi saat ini memang menuntut banyak hal. Selain harus selalu menjaga setiap perilaku dan pergaulan kita, modal yang harus dimiliki agar dapat bertahan adalah selalu meng-upgrade otak kita dengan berbagai informasi. Pilih tayangan yang dapat membangkitkan rasa igin tahu menjadi lebih besar lagi. Jadikan televisi sebagai media edukasi yang paling mudah. Sebagai masyarakat yang tidak menyukai sinetron, penulis lebih senang mendengar kabar gulung tikarnya PH, daripada lanjutan session dari sinetron yang tayang setiap jam 8 malam.
Untuk kualitas yang lebih baik, maka penulis lantangakan suara dan berkata “ hari gini.. nonton sinetron?”
Dafar pustaka
http://74.125.153.132/search?q=cache:H-HMVTi0pWsJ:www.panyingkul.com/view.php%3Fid%3D264%26jenis%3Drisetkita+persentase+orang+nonton+sinetron (28 Agustus, pukul 19:08:13)
Senin, 25 Januari 2010
ada yang tahu batik mbogo? (bulpos,ipeh)
Satu yang Bertahan
Ada satu kelebihan Prawirotaman yang banyak dilupakan oleh generasi muda saat ini, bahwa Prawirotaman dulunya merupakan daerah penghasil batik terbaik di Yogyakarta. Namun karena krisis moneter dan juga faktor modernisasi menjadikan pabrik-pabrik batik di Prawirotamna bangkrut dan mayoritas penguasahanya (pengusaha batik, -Red) beralih usaha menjadi bisnis hotel.
Namun desa Prawirotaman masih menyisakan satu pengrajin batik yang masih bertahan hingga kini. Ahmad Sumbogo merupakan satu-satunya pengrajin batik yang masih ada di desa Prawirotaman. Eksistensi usaha batiknya didorong karena kecintaannya pada batik yang luar biasa. Bahkan ketika krisis moneter pun Pak Ahmad masih tetap mempertahankan usaha batiknya.
“karena saya masih ingin mempertahankan budaya jawa, untuk itu saya tetap bertahan dari tahun 70 hingga sekarang dalam membuat batik” ungkap Pak Ahmad
Usaha batik Pak Ahmad bisa dikatakan langka karena pengerjaannya menggunakan metode cap atau lebih dikenal dengan batik cap. Dikatakan batik cap karena motif-motif dalam kain dicapkan di atas kain. Batik Pak Ahmad ini terkenla dengan batik mbogo. Batik mbogo ini diambil dari nama belakang pak Amhad.
Eksistentensi batik mbogo hingga hampir 40 tahun ini sayangnya tidak mendapat perhatian dari pemrintah daerah. “ saya tidak mendapat batuan dana atau apapun dari pemerintah daerah” ujar Pak Ammad
Rendahnya ketertarikan anak muda terhadap batik pun merupakan faktor yang cukup berperan dalam eksistensi batik mbogo selanjutnya. karena kini anak muda lebih tertarik pada bisnis hotel dibandingkan mempertahankan pabrik batik.
Kurang Promosi
Tidak banyak yang mengetahui jika dulu prawirotaman merupakan daerah pengrajin batik. Rima salah seorang wisatawan asal kota Bogor berpendapat ” saya malah tidak tahu kalo prawirotaman itu dulunya desa pengrajin batik” senada dengan Rima, “ lah wong udah ga ada pabrik batik kok mbak” ujar Ersa penjaga salah satu toko souvenir di prawirotaman. Prawirotaman kini memang lebih terkenal dengan hotelnya.
Batik mbogo yang ada di Prawirotaman pun tidak memilki alat promosi yang menarik. Pak ahmad hanya menggunakan rumahnya sebagai pabrik batik tanpa ada galeri khusus untuk memamerkan batik-batik mbogo tersebut. Akses menuju rumah pak Ahmad pun sulit dijangkau membuat lokasinya semakin terpencil dari wisatawan.
Walau mustahil untuk membuat Prawirotaman menjadi desa pengrajin batik namun bukan tidak mungkin untuk mempromosikan batik mbogo sebagai salah satu daya tarik yang ada didesa Prawirotaman. “ jangan hanya hotelnya saja yang dipromosikan tapi juga batiknya, karena batik ini kan salah satu warisan bangsa” pesan pak ahmad.
Minggu, 24 Januari 2010
saya buatan Indonesia
satu tanah lahir..
mereka menyebutnya deita
satu tanah mati
mereka menyebuntya nestapa
tanah air itu
mereka sebut indonesia..
tau apa yang aku pikirkan tentang tanah-tanah itu itu?
gersang..
tapi ak bangga..
karan dengan gersang aku hidup
Pernahkah kita merenung, apa yang bisa membuat kita (sepertinya) selalu cinta pada bangsa dengan tingkat korupsi ke lima dari 146 negara di dunia ini? Atau mengapa kita (selalu) harus bertahan di negri yang bahkan menyelenggarakan pesta demokrasinya saja kacau?
Apakah rasa nasionalisme sudah cukup mewakili? dan membuat kita tetap tersenyum dan bersikap bangga terhadap Indonesia, walaupun secara realitas Indonesia begitu memilukan untuk ditilik kondisinya. Bukan hal yang salah memang, jika kita menyimpan banyak kekecewaan dengan negeri zamrud ini. Namun, masih banyak spekulasi dan berbagai sudut pandang yang dapat digunakan sebagai alasan untuk selalu cinta dan bangga dengan Indonesia.
Tulisan ini merupakan suaru bentuk protes terhadap berbagai anggapan miring seluruh dunia bahkan warga negaranya tentang Indonesia. Kerena Indonesia mempunyai banyak hal yang dibanggakan, dan karena saya anak Indonesia yang akan bersuara lantang meneriakan kata bangga pada bagsa ini.
PEMBAHASAN
Indonesia, ya ndeso!
Bukan hal yang mengada-ada, dan seluruh dunia pun setuju bahwa Indonesia mempunyai kebudayaan yang yang beragam. Kebudayaan yang teramat kaya, dan unik. Walaupun harus berbenturan dengan sikap primordial namun berbagai kebudayaan tersebut merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya.
Suku jawa misalnya, disaat demam facebook melanda dunia, namun suku jawa masih kental dalam aksen tradisionalitasnya. Seperti dengan tetap mempertahankan berbagai rutinitas seperti Kematian Medhak, Kematian Surtanah, Upacara nyewu dina, Upacara Brobosan dalam berbagai pola kehidupan masyarakatnya yang sangat terlihat masih berpedoman dengan nilai dan norma budaya. Bahkan hingga kini bentuk pernikahan dengan unsur adat masih menjadi hal yang kerap dilakukan bukan? Padahal jika menilik dari segi kepraktisan, jelas pernikahan adat bukanlah jawaban, tapi itulah masyrakat Indonesia, dengan segudang pertimbangan masih dengan bangga menggunakan tradisonalitas warisan sang nenek moyang.
Tercatat jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia meningkat mencapai 473.200 orang atau naik 8,04% menurut Badan Pusat Statistik Februari 2009 lalu. Angka yang cukup prestice, dan cukup layak bagi Indonesia dengan berbagai keindahan alamnya. Indonesia adalah negeri yang indah, dan hal ini bukan suatu yang klise! Bahkan Indonesia tidak hanya memiliki satu atau dua tempat indah, tapi ratusan tempat indah. Bali, mungkin hanya sebagai perwakilan saja, tapi coba lihat taman laut bunaken, tengok dataran tinggi dieng, hingga berbagai panorama Indonesia yang tidak dapat dipungkiri membuat semua orang bahkan kita sebagai warga negaranya terpesona, sering bukan sebagai seorang warga Indonesia terkagum-kagum dan mengucapa syukur saat melihat tempat di Indonesia sebagai buatan Tuhan yang indah? dan hal yang unik adalah, mayoritas tempat indah di Indonesia dibungkus dengan sebuah bentuk tradisionalitas.
Tradisional adalah point pertama yang menjadikan Indonesia special bahkan di mata dunia. Dan jelas di mata kita sebagai anak bangsa.
Indonesia, sugih!
Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni). Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2). Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Pulau Jawa adalah pulau terpadat di dunia dimana sekitar 60% hampir penduduk Indonesia (sekitar 130 jt jiwa) tinggal di pulau yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah RI. Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku.
Negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa d Indonesia i. Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia walaupun bahasa daerah dengan jumlah pemakai terbanyak di Indonesia adalah bahasa Jawa. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk. Indonesia Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan Negara asal jamaah haji terbesar di dunia. Monumen Budha (candi) terbesar di dunia adalah Candi Borobudur di Jawa Tengah dengan tinggi 42 meter (10 tingkat) dan panjang relief lebih dari 1 km. Diperkirakan dibuat selama 40 tahun oleh Dinasti Syailendra pada masa kerajaan Mataram Kuno (750-850). Tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia, yaitu : Pithecanthropus Erectus” yang diperkirakan berasal dari 1,8 juta tahun yang lalu.
Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia. Indonesia adalah Negara pertama (hingga kini satu-satunya) yang pernah keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tgl 7 Januari 1965. RI bergabung kembali ke dalam PBB pada tahun 1966. Tim bulutangkis Indonesia adalah yang terbanyak merebut lambing supremasi bulutangkis pria, Thomas Cup, yaitu sebanyak 13 x (pertama kali th 1958 & terakhir 2002). Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua. Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil). Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia. Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia). Indonesia memiliki species ikan hiu terbanyak didunia yaitu 150 species. Biodiversity Anggrek terbeser didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua. Memiliki hutan bakau terbesar di dunia. Tanaman ini bermanfaat ntuk mencegah pengikisan air laut/abrasi. Binatang purba yang masih hidup : Komodo yang hanya terdapat di pulau Komodo, NTT adalah kadal terbesar di dunia. Panjangnya bisa mencapai 3 meter dan beratnya 90 kg. Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera adalah bunga terbesar di dunia. Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter. Memiliki primata terkecil di dunia , yaitu Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Hewan yang mirip monyet dan hidupnya diatas pohon ini terdapat di Sulawesi. Tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia yaitu, Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi. Ikan terkecil di dunia yang ditemukan baru-baru ini di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Tubuh ikan ini transparan dan tidak mempunyai tulang kepala.
Sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan, sehingga dengan demikian secara alamiah bangsa Indonesia merupakan bangsa bahari. Hal ini ditambah lagi dengan letak wilayah Indonesia yang strategis diwilayah tropis. Hamparan laut yang luas merupakan suatu potensi bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan sumberdaya laut yang memiliki keragaman baik baik sumberdaya hayati maupun sumberdaya lainnya.
Sebagai suatu bangsa bahari yang memiliki wilayah laut yang luas dan dengan ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar didalamnya, maka derajat keberhasilan bangsa Indonesia juga ditentukan dalam memanfaatkan dan mengelola wilayah laut yang luas tersebut.
Keunikan dan keindahan serta keanekaragaman kehidupan bawah laut dari kepulauan Indonesia yang membentang luas di cakrawala khatulistiwa masih banyak menyimpan misteri dan tantangan terhadap potensinya. Salah satu dari potensi tersebut atau sumberdaya hayati yang tak ternilai harganya dari segi ekonomi atau ekologinya adalah sumberdaya terumbu karang, apabila sumberdaya terumbu karang ini dikaitakn dengan pengembangan wisata bahari mempunyai andil yang sangat besar. Karena keberadaan Terumbu karang tersebut sangat penting dalam pengembangan berbagai sektor termasuk sektor pariwisata. Khusus mengenai Terumbu karang , Indonesia dikenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memiliki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga.
Indonesia, cukup merendah selama ini, diperolok dan mendapat sebutan negara berkembang. Negara berkembang menjadi julukan karena faktor sumber daya manusianya, namun tidak bagi kekayaan tambang Indonesia yang melimpah ruah. Gunung emas di Papua yang bisa menghidupi bangsa lain sedari masa orde lama ialah milik Indonesia. Tambang minyak di Indonesia, menjadikan Indonesia masuk dalam OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries). Bahkan sebutan negeri gemah bripah loh jinawi sekalipun ditujukan bagi negara yang memang dapat menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan.
Indonesia, pintar !
Contoh posisi Indonesia di mata internasional lainnya adalah peringkat fisika Indonesia adalah no dua setelah Cina Indonesia menempati papan atas fisika dunia (10 besar) dengan sering membawa pulang medali emas. Siswa Indonesia berkali-kali mendapat peringkat atas di First Step to Nobel Prize. Indonesia pun menempati papan cukup atas komputer (20 besar) dengan sering membawa pulang mendali perak dan perunggu. Siswa Indonesia sering menjurai kompetisi komputet mislakan di India, Las Vegas, dan lain-lain, dan sering kali siswa Indonesia meraih peringkat satu.
I Made in Indonesia
Indonesia kaya, dan patut untuk dibanggakan dan hal itu telah peulis bahas secara gamblang diatas. Kini saya ingin secara subjektif menuliskan alasan nyata mengapa kebanggaan itu akan tetap melekat.
Pertama, saya adalah anak bangsa, yang dilahirkan dari negeri indah ini. Dan untuk itu merasa bangga adalah hal wajib dilakukan. Lagipula apa yang saya banggakan dari Indonesia bukan hal yang palsu, toh hal itu memang ada. Dan pula walaupn seringkali saya merasa kagum dan tertarik melihat kemutakhiran negara-negara maju, dan Indonesia hanya sebagai penonton. Saya tetap bangga karena Indonesia tidak menjadi negara yang harus melakukan serangan militer ke belahan dunia lain, dan menimbulkan reaksi keras. Saya tetap bangga karena Indonesia tidak menjadi negara diktaktor. Lagipula apa pula untungnya bagi saya untuk merasa bangga denagn negara lain? Toh, mulai dari mencari makan, mencari ilmu, hingga mencari tanah kuburan pun saya masih berharap dengan negara katulistiwa ini.
Kedua, berkali saya membaca buku sejarah. Saya selalu merasa takjub melihat bagaimana perkembangan sejarah Indonesia dari masa ke masa. Sangat menarik untuk dibaca! Walupun Indonesia dikatakan bangsa budak karena dijajah Belanda hingga 3,5 abad kemudian dilanjutkan dengan penjajahan Jepang 3,5 tahun. Namun pada akhirnya kemerdekaan Indonesia diraih karena usaha! Bukan karena hadiah seperti yang didapat oleh negara-negara asia lain seperti Malaysia, Laos. Lantas membaca perkembangan politik dalam era perggerakan nadional, membuat saya terkagum-kagum pada golongan terpelajar seperi Tjipto Mangunkusuma, Suwardi Suryaningrat, hingga Ir Soekarno yang dengan batasan-batasan kolonial tetap mendirikan organisasi dengan tujuan merdeka. Saya bangga karena terlahir dari bangsa yang memiliki seamangat juang tinggi untuk melepaskan diri dari kemelut penjajahan selama hampir 3.8 abad!
Jika menilik dari latar belakang bangsa barat datang ke Indonesia, adalah karena ladang rempah-rempah yang melimpah, berarti saya saat saya lahir sekalipun, saya sudah menjadi bayi yang kaya. Dan tugas saya nati untuk mengelolanya. Hal ini tentu menjadi nilai tambah, dibnadingkan Amerika Serikat, yang miskin sumber daya alam.
Ketiga, alasan ketigalah yang membuat saya enggan melepas kewarganegaraan Indonesia yang saya miliki. Saya begitu terkagum-kagum dengan kebudayaan Indonesia. Lagi-lagi kebudayaan. Karena memang itulah yang unik dari Indonesia, keberagaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia dari suku-suku yang berbeda-beda dan plural merupakan kekayaan kita yang akan menjadi tiang-tiang bagi kebudayaan nasional Indonesia. Ada suku Jawa, Bugis, Sunda, Batak, dan suku lain dengan berbagai karakteristiknya. Entah mengapa, berbagai macam budaya itulah yanga kan menjadi topik seru jika suatu hari saya diwawancarai oleh turis tentang apa yang membuat saya bangga berkebangsaan Indonesia. Saya akan menceritakan dengan nada bangga, bagaimana sistem subak di Bali. Suatu sistem yang digunkan untuk pengairan sawah berdasarkan kesepakatan bersama, hal ini didasari karena masyarakat bali merupakan masyarakat sosial sehingga dibutuhkan aktivitas bersama bahkan untuk sebuah sistem pengairan sawah. Atau saya akan memperagakan beberapa dari ratusan bahasa daerah, seperti bahasa sunda.
Keempat, saya bangga dengan dunia hiburan Indonesia. Kini musik Indonesia, sudah dapat menjadi tuan rumah di Indonesia. Tidak seperti Malaysia yang didominasi musik Indonesia. Persoalan pembatasan musik Indonesia di Malaysia. Kasus ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun lalu (2007) yang di suarakan oleh Persatuan Penyanyi dan Pencipta Lagu Malaysia (Papita), dan kembali mencuat akhir-akhir ini. Persatuan Karyawan Industri Musik Malaysia, menuntut pemerintah Malaysia agar mengeluarkan pembatasan penyiaran lagu-lagu Indonesia di Malaysia 90%:10%. Karena saat ini lagu-lagu dari musisi dan penyanyi Indonesia menjadi ‘raja’ di Malaysia, sehingga musisi lokal tidak atau kurang mendapatkan tempat di negerinya sendiri. Intinya bisnis musik di Malaysia di pengaruhi oleh membanjirnya lagu-lagu Indonesia sehingga penjualan album musisi Malaysia tidak bisa bersaing dengan album musisi Indonesia
Dan lagi, cobalah tengok bagaimana kualitas musisi Indonesia, Nidji yang mempunyai kesempatan untuk membnuat Soundtract serial HEROES. Film-film Indonesia pun cukup sering menyabet beberapa penghargaan bergengsi. Itu membuktikan, bahwa saya hidup di negara yang toh tetap mempunyai jiwa kreativitas tinggi.
Terakhir, saya akan merasa sangat bodoh dan amat tidak bersyukur jika saya tidak bangga denagn Indonesia yang begitu membuat saya terkagum-kagum menjadi anak bangsanya. Terlepas dari berbagai kondii indonesia. Saya akan terus bangga.
Tetaplah berseru “ Saya bangga berada di Indonesia ! ”
Mungkin banyak generasi muda yang lebih condong ke arah barat dalam rangka mengikuti arus globalisasi. Disadari atau tidak, hal itu membuat rasa nasionalisme menjadi terkikis. Saya mempunyai beberapa opini yang bisa diaplikasikan.
Pertama, selama kita masih mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) maka selama itu pulalah kita harus bangga dengan Indonesia.
Kedua, pakailah semua hal yang berkaitan dengan Indonesia. Entah mengapa rasa bangga terhadap Indonesia selalu muncul dari jiwa sanubari kita saat apa yang telah Indonesia miliki diklaim oleh bangsa lain. Padahal sebelum itu, apa yang kita miliki kita biarkan berdebu. Seperti contohnya batik. Mulailah memberi apresiasi terhadap apapun yang dihasilkan anak bangsa. Kualitas yang dihasilkan anak bangsa akan menjadi baik dan akhirnya dapat sejajar dengan negara lain, jika kita sebagai masyarakat Indonesia selalu menggunakan produk-produk buatan sendiri. Bukankah hal itu contoh kongkrit bahwa kita bangga dengan Indonesia?
Ketiga, ada kecenderungan dari masyarakat kita untuk menganggap tinggi masyarakat luar negeri. Seakan-akan jika belum membeli barang import rasanya belum komplit saja. Sampai kapan hal ini akan terus berlanjut? Sampai kapan kita begitu silau dengan merk seperti Gucci,sophie martin, dolce and gamana dan lainnya? Orang amerika boleh bangga, namun kita? Mengapa tidak mencoba memberikan kesemapatana pada produsen kita untuk berkarya dan merebut hati kita. Ayolah, saya fikir bangsa kita kelewat gengsi untuk mengakui bahwa sebenarnya buatan Indonesia pun bisa bersaing.
Walupun dunia luar menghujat Indonesia tercinta ini, tapi bagaimana mungkin kita tidak bisa bangga dengan negara yang toh masih tetap menjunjung kuat tradisional, negara yang sangat cantik, negara dengan sejarah yang mencengangkan, negara yang kaya, negara masih berdiri walaupun berbagai krisis selalu menempel padanya. Bagaimana bisa?
Melihat betapa modern Jepang, melihat betapa berkuasanya Amerika, melihata betapa kayanya negara timur tengah, membuat decak kagum yang tak henti-henti memang, namun cobalah sejenak melihat apa yang terkandung dalam negara yang telah memberi banyak makna dalam kehidupan kita, negara yang bisa menghasilkan manusia pintar seperti BJ Habibie, dan melihat bahwa panorama indonesia begitu memukaunya. Indonesia adalah negara yang layak mendapat kebanggaan.
Entah apa yang akan terjadi jika saya tidak bangga dengan Indonesia ini. Mungkin bangsa lain dengan senang hati akan berbangga pada Indonesia. Namun saya jelaas tidak rela, negara pertiwi ini dibanggakan warga lain selama saya hidup.
Korupsi yang tak henti-henti berkibar, mempunyai cap negara pembajak, hingga bila akhirnya pun semua keindahan Indonesia lenyap dimakan kuatnya globalisasi, tapi rasa bangga ini terpatri permanen dalam hati saya. Karena (sekali lagi) saya anak Indonesia, dan saya (harus) bangga dengan Indonesia. Saya bangga, saya bangga, saya bangga, saya bangga !!!



