tulisan (lebih) ilmiah
Tampilkan postingan dengan label tulisan (lebih) ilmiah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Desember 2010

TERGEMPUR TEKNOLOGI KOMUNIKASI


Berkembanganya teknologi komunkasi yang semakin pesat saat ini memang menjadikan kita terbuai oleh nikmatnya kemudahan berkomuniaksi. Kini hampir semua orang memilki handphone, kini hampir semua orang memilki account facebook, kini hampir semua orang bisa mengkritik suatu peristiwa yang dibaca sekilas dalam twitter. Kini semua orang ibarat penyokong informasi bagi semua orang.
Apakah hal ini buruk? Tentu saja tidak. Namun ada yang membuatnya menjadi buruk ketika dalam kenyataannya Indonesia ternyata belum sepenuhnya siap menerima tempuran dari teknologi komunikasi yang ada. Konsekuensi tentunya ada dalam setiap teknologi yang berkembngan di Indonesia termasuk teknologi komunikasi.
Untuk itu mari kita bahas apa saja yang menjadikan teknologi itu “buruk” dilihat dari aspek dampak.

Dampak Terbesar dan Akar Masalah
Berbiacara mengenai dampak teknologi komunikasi maka terlebih dahulu, saya ingin mengutarakan pendapat tentang mengapa dampak itu dapat melekat pada setiap teknologi terutama teknologi komunikasi yang memang notabene akrab dengan dunia semua orang.
Menurut saya, adanya ketidaksiapan dari masyarakat Indonesia ketika dikenalkan dengan teknologi komunikasi. Indonesia hingga detik ini masih belum bisa menjadi pencetus pertama teknologi. Indonesia baru menjadi followers yang mengikuti kemana arah berkembanganya teknologi ini. Misalkan saja, ketika seluruh dunia heboh dengan Blackberry maka Indonesia pun heboh dengan mengganti seluruh handphone dengan BB tapi apakah masyarakat Indonesia mengerti secara benar apa maksud dan kegunaan dari BB? Atau hanya sekedar mengikuti jaman?
Motif nasyarakat Indonesia dalam menggunakan teknologi komunikasi yang ada dengan motif ‘mengikuti jaman’ kemudian yang membuat dampak sosial itu akan terus melekat. Inilah awala mula permasalahannya.
Dan dampak terbesar dari adanya motif ‘mengikuti jaman’ yang ada di Indonesia adalah Indonesia akan terus menjadi followers bagi perkembangan teknologi. Mengapa? Ya karena kita selalu menunggu dan siap menggunakan teknologi yang masuk tersebut. Tidak ada dalam kamus Indonesia untuk membuat teknologi baru dan memerkan ke seluruh dunia. Andaipun ada produsen dari Indonesia yang membuat teknologi itu yang kemudian menjadi masalah sekaligus dampak sosial selanjutnya adalah ‘apakah masyarakat Indonesia mau menggunakan teknologi komunikasi asli Indonesia itu?’ subjektif saya, saya sangsi!

Berefek samping
Meningkatnya rasa percaya diri
Kemajuan ekonomi di negara-negara Asia melahirkan fenomena yang menarik. Perkembangan dan kemajuan ekonomi telah meningkatkan rasa percaya diri dan ketahanan diri sebagai suatu bangsa akan semakin kokoh. Bangsa-bangsa Barat tidak lagi dapat melecehkan bangsa-bangsa Asia.
Tekanan, kompetisi yang tajam di pelbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras
Menurut Paul C Saettler dari California State University, Sacramento, hasil tersebut muncul karena banyak penelitian membandingkan pendidikan yang konvensional dan yang dibantu teknologi tidak pernah berhasil melakukan perbandingan setara karena banyaknya aspek yang tidak teramati. Satu hal yang pasti, interaksi anak dan komputer yang bersifat satu (orang) menghadap satu (mesin) mengakibatkan anak menjadi tidak cerdas secara sosial.
Violence and gore. Violence and gore ini adalah bentuk kekekrasan atau tayangan kekerasan kyang ada di dunia maya. Banyak situs yang ada di internet membuat ratusan ribu situ situ bererbut untuk memperoleh pengunjung. Hal yang mereka lakukan untuk dapat memikat pengunjung adalah dengan menampilakan aksi kekerasan. Padahal aksi kekerasan ang terdapat dalam games atau internet itu lebih berpotensi buruk daripada kekerasan yang ada di televisi. Apa dampaknya? Anak-anak atau remaja yang melihat akan lebih agresif, anti sosial, dan cenderung menirukan di dunia nyata.

Addiction. Iya, ketergantungan terhadap komputer. Dampak sosial yang terjadi adalah anti sosial yang akan semakin banyak merajarela. Pasti!

Harus bagaimana?
Indonesia sebenarnya bisa meminimalisir dampak sosial yang ada. Bisa saja kan Indonesia menolak masuknya teknologi komuniaksi baru yang dinilai belum dapat diefektifkan oleh masyarakat Indonesia, tapi sayangnya ini jamannya globalisasi yang semuanya akan tanpa batas bertindak.
Lantas harus seperti apa?
Itulah yang menjadi pertanyaan besarnya.
Kita harus apa dengan gempuran teknologi komunikasi ini?

Rabu, 28 April 2010

mumpung setaun sekali..


Lagi-lagi proses komunikasi

Para artis yang menggunakan baju dan perhiasan yang mahal saat acara red carpet merupakan proses komunikasi yang ingin disampaikan. Kita dapat lihat dari proses komunikasi sebagai isyarat. Selebriti itu mencoba untuk mengisyaratkan pesan non verbal kepada media,  masyarakat, dan pencitraan dirinya dengan fashion yang dikenakannnya. Isayarat yang disamapaikan adalah persaan ingin dipuji oleh media dalam hal ini kritik fashion bahwa selebriti itu mampu membeli baju yang mahal dan bagus. Adanya keinginan untuk dipuji bahwa dirinya terlihat menawan dan pantas untuk hadir di ajang red carpet itu dan bagi seorang sselebritis menegluarkan biaya dan mempersiapkan waktu yang panjang demi red carpet merupakan hal yang worth it.
Komunikasi merupakan hal yang bersifat tak reversibel. Artinya komunikasi yang sudah dilakukan tidaka dapat lagi ditarik atau dibuat seolah-olah belum perna terjadi. Begitu pula yang terjadi dalam kasus selebriti Hollywood. Mereka akan rela membeli perhiasan mahal karena mencoba mengkomuniaksikan kepada media fashion bahwa mereka layak, terlihat bagus, tampil menawan dalam acara setingkat red carpet. Karena jika selebriti itu terlihat buruk maka ia akan menjadi bahan obrolan yang entah kapan akan selesai atau malah mendaptkan award ‘dresscode terburuk’.
Pada intinya adalah ini merupakan proses komunikasi non verbal yang coba diungkapkan para selebriti melalui simbol-simbol seperti perhiasan, sepatu, baju yang ia kenakan itu.

Mari bicara persepsi

persepsi merupakan proses dimana kita sadar akan banyaknya stimulus yang memengaruhi indera kita. Dalam hal selebriti yang mengeluarkan banyak biaya serta mengarah pada proses persepsi. Setelah berbagai macam proses komunikasi yang coba diutarakan oleh selebriti itu saat acara red carpet maka persepsi akan dibentuk  pada saat acara red carpet itu dimulai.
            Proses persepsi itu akan dimulai dari selebriti yang menstimulan media untuk memperhatikannya. Selebriti itu seolah-olah ingin berkata “ hey.. perhatiin dong, aku udah maksimal!” setelah stimulan yang diberikan oleh selebriti itu melalui pakaian dan seluruh aksesorisnya maka media, pengamata busana, hingga masyarakat awam akan menangkap stimulan itu dengan berbagai pemikiran, barulah setelah itu “kerja keras” artis untuk mengeluarkan uang hanya untuk tampil di red carpet akan mendapatkan timbal balik. Entah itu berupa kritikan atau pujian. Hal yang menarik adalah ketika nanti masyarakat serta pengamat mode itu mempunyai persepsi sendiri seperti “ waah.. karena film nya sukses jadi dia beli kalung mahal ni...”
            Ada dua teori yang bisa dijadikan kacamata untuk melihat kasus ini. Pertama adalah Atribusi-Diri (self Atribition)selebriti itu mencoba untuk menilai perilakunya sendiri. Sebagia contoh perilaku artis yang rela membeli kalung mahal yang hanya akan dipakai sekali itu merupakan bentuk atribusi diri. Selebriti itu ingin terlihat paling menonjol, paling menawan, paling berbeda dalam perhelatan red carpet. Paling tidak ia dapat memuaskan keinginananya berusaha menjadi yang terbaik walaupun entah apa yang menjadi persepsi media atau masyarakat tapi sebelumnya ia ingin mengarahkan persepsi media atau masyarakat itu tentang dirinya. Dan selebriti itu melauakn dengan keadaan sadar.
            Kedua adalah teori konsistensi. Teori ini mempunyai karakteristik bahwa kita sebagai manusia selau ingin hal-hal yang menyenangkan dan hal yang kita inginkan. Kita menjaga ritme agar itu tetap konsisten. Inilah yang terjadi dalam red carpet, yakni bagaimana keninginan sesungguhnya para selebriti itu untuk dipuji dan diberi komentar yang baik. Karena selain kepuasan telah berkorban, bentuk pencitraan diri, itu juga sebagai eksistensi dirinya kedepan. Dengan tampil di red carpet, ia mungkin dapat mendapat peran atau jika tampil menawan di red carpet maka bisa membuat lawan aktingnya menjadi kalah pamor.

Kamis, 22 April 2010

media equation theory

MEMBEDAH TEORI PERSAMAAN MEDIA

Saat melihat episode Indonesian Idol ketika salah satu kontestannya menyanyikan sebuah lagu dengan gaya yang lucu hingga terkesan aneh maka kita akan membesarkan volume, mendekat pada layar televisi dan tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah kontestan itu. Begitu pula saat kita melihat tayangan kriminal tentang kasus mutilasi, kita bisa mengerutkan dahi dan merasa ngeri melihat tayangan itu. Atau realita ketika kita begitu betahnya berada di depan layar komputer hanya untuk ‘memporakporandakan’ situs jejaring sosial. Tanpa sadar kita menjadikan media sebagai seorang manusia yang bisa diajak berbicara. Tanpa sadar akhirnya media bisa memberi dan menerima respon seperti layaknya manusia. Seperti itulah contoh dari Media Equation Theory atau teori persamaan media.
Teori persamaan media tergolong teori komunikasi yang baru. Dikeluarkan pada tahun 1996 oleh Byron Reeves dan Clifford Nass (professor jurusan komunikasi Universitas Standford Amerika).Teori ini diperkenalkan pertama kali dalam jurnal yang berjudul, The Media Equation: How People Treat Computers, Television and New Media Like Real People and place. Teori komunikasi yang menarik karena membahas bagaimana interaksi antara media dan manusia yang seolah-olah terjadi secara face to face dan menimbulkan sebuah proses komunikasi.
Komunikasi merupakan dimensi koseptualisasi, dimana komunikasi bisa sebagai proses, transaksional, serta praktik simbolik yang akan kita lihat implimentasinya dalam teori ini karena dalam teori ini media dapat menjadi komunikan sekaligus menjadi komunikator, begitu juga sebaliknya.
Saat Luna Maya menulis dalam akun Twitternya mengenai sikap wartawan infotaiment yang membuatnya kecewa maka sebenarnya Luna Maya sedang menganggap Twitter sebagai teman untuk bercerita.
 
Luna telah menganggap internet sebagai manusia. Saat mengetik, mungkin ia menekan keyboard dengan emosi dan berharap setelah menulis status itu perasaanya menjadi lebih baik padaha twitter tidak lebih dari sekedar situ jejaring sosial atau media virtual. Saat itu Luna maya menjadi seorang komunikator, Twitter sebagai komunikan dan status sebagai sebuah pesan. Sedangkan wartawan yang membaca status twitter Luna Maya akan menganggap media internet sebagai komunikator dan dirinya sebagai seorang komunikan dan terjadilah transaksi komunikasi. Wartawan yang membaca status Luna Maya kemudian menganggap twitter sebagai reprsentasi dari Luna Maya. Jadi ketika status itu terbaca, yang kemudian terjadi adalah mendekatkan kepala pada komputer sebagai reaksi terkejut membaca. Luna mengirim pesan, wartawan menerima pesan dan itu dijembatani oleh akun twitter maka terjadilah komunikasi sebagai transaksional. 
Kemudian wartawan akan menggelengkan kepala sebagai tanda tersinggung dengan status Luna Maya dan memandangi layar komputer seolah-olah Luna Maya yang berbicara langsung pada wartawan itu. Padahal itu hanya status dan itu hanya komputer yang tersambung internet. Disinilah Teori persamaan media mengungkapkan komunikasi sebagai praktik simbolik. Status Luna yang berisi “ pekerjaan infotaiment lebih hina dari pelacur” itu hanya sebuah simbol. Yang akhirnya menjadi masalah adalah karena kalimat yang menjadi simbol itu tersebar di internet yang dapat diakses semua orang. Dari hanya sebuah status sebuah twitter dapat membuat media menja manusia yang menghebohkan.
Komunikasi sebagai sebuah proses. Dalam teori persamaan media ini,komunikasi tetap sebuah proses, diamana tidak ada awal dan tidak ada akhir yan jelas dalam posesnya. Saat ini kita bahkan lebih dekat dengan media komunikasi seperti film, TV, radio, koran, internet sebagai teman. Komunikasi antara media dan manusia akan terus menjadi proses. Sadar atau tidak kita akan terkejut melihat status facebook sahabat kita menjadi in relationship padahal sebagai sahabat kita tidak merasa diberitahu dan menuding-nuding layar komputer sebagai bentuk komuniksi non verbal. Atau saat kita menangis melihat adegan mengharukan dalam film romantis. Media yang sudah banyak ragamnya ini akan semakin dekat dengan kita. Hingga dapat diambil kesimpulan jika media sama dengan real life.

kaus ryan dan analisis medianya :)

            “ ya ampuun..” kata itu mungkin bisa mewakili mayoritas masyarakat Indonesia saat mendengar atau melihat kasus Ryan. Pria penyuka sesama jenis (gay) asal Jombang ini melakukan pembunuhan berantai dengan berbagai motif. Saat kasus ini muncul, entah sadar atau tidak kita sebagai khalayak selalu melirik televisi saat berita ini disiarkan. Walau jijik tapi kita masih bertanya pada teman yang membaca koran bagaimana perkembangan kasus Ryan. Rasanya ingin tahu dan penarasan, mengapa pria pendiam seperti Ryan bisa dengan sadis melakukan pembunuhan. Selama hampir sebulan media memberitakan kasus Ryan dengan berbagai sudut pandang dan selama itu pula kita mencoba mencari kepuasan dengan mengkonsumsi media. Mengapa sejak kasus Ryan mencuat kita seperti ingin tahu apapun tentang ryan, tentang kehidupan gaynya, bahkan tentang psikopat. Terpuaskankah kita dengan media yang memberitakan kasus Ryan?
           
            Kacamata untuk melihat kasus Ryan
Tulisan ini membahas bagaimana aundiens dalam melihat berita tentang Ryan. Uses and Gratification Theory dan Social Learning Theory merupakan teori yang akan dijadikan kacamata dalam melihat kasus ini.  Uses and Gratification Theory merupakan teori yang mempelajari tentang pemilihan dan konsumsi media oleh individu untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut para pendirinya, Elihu Katz; Jay G. Blumler; dan Michael Gurevitch (), uses and gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain , yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (atau keterlibatan pada kegiatan lain), dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain.
Elihu Katz;Jay G. Blumler; dan Michael Gurevitch (dalam Baran dan Davis, 2000) menguraikan lima elemen atau asumsi-asumsi dasar dari Uses and Gratification Media sebagai berikut:
            1. Audiens adalah aktif, dan penggunaan media berorientasi pada tujuan.
            2. Inisiative yang menghubungkan antara kebutuhan kepuasan dan pilihan media spesifik terletak di tangan audiens
            3. Media bersaing dengan sumber-sumber lain dalam upaya memuaskan kebutuhan audiens
            4. Orang-orang mempunyai kesadaran-diri yang memadai berkenaan penggunaan media, kepentingan dan motivasinya yang menjadi bukti bagi peneliti tentang gambaran keakuratan penggunaan itu.
            5. Nilai pertimbangan seputar keperluan audiens tentang media spesifik atau isi harus dibentuk.

Ryan dan penggemarnya
Saya melihat kasus Ryan dan Khalayak yang menontonnya seperti artis dan penggemarnya. Berhubung kacamata kita dalam melihat kasus ini adalah Uses and Gratification Theory maka kita akan berbicara pada khalayak yang aktif. Khalayak aktif adalah khalayak memiliki keputusan aktif tentang bagaimana menggunakan media. Artinya khalayak itu tahu bagaimana merasa terpuaskan (apa yang harus ia ketahui) dengan melihat tayangan Ryan tanpa merasa terbawa arus oleh media yang memberitakan; dan kita juga akan berbicara seberapa besar dampak dari pemberitaan Ryan yang dirasakan oleh Khalayak. Baik kita mulai...
Pertama adalah selektifitas (selectivity). Audiens yang aktif merupakan audiens yang begitu selektif adalam memilih tayangan dan mempunyai tujuan serta maksud yang jelas dalam melihat media. Kita semua tahu, saat berita ryan muncul maka semua media meliput dengan berbagai gaya. Tapi sebagai audiens aktif,  ada stasiun televisi yang kita pilih sebagai media yang mewakili kita mendapatkan tujuan. Ia akan memilih satu stasiun televisi yang menurutnya mewakili berita tentang ryan. Jika dalam waktu yang sama di Metro TV dalam tayangan headline news dan juga di Trans TV dalam tayangan insert investigasi memberitakan hal yang sama yakni tentang Ryan maka bagi mereka yang ingin melihat proses hukum ryan maka jelas ia lebih memilih melihat Metro TV karena tujuannya ingin mengetahui bagaimana seorang gay yang akhirnya dihukum. Tapi berbeda bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana rumor hubungan ryan dengan artis indra bulgrman, jelas Trans TV yang menjadi pelabuhan dalam memuaskan keingintahuannya. Ada maksud yang jelas dari mengapa ia menonton tayangan.
Kedua adalah utilitarianisme (utilitarianism) di mana khalayak aktif dikatakan mengkonsumsi media dalam rangka suatu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu yang mereka miliki. Bagi pelajar SMA melihat tayangan tentang Ryan hanya sebagai informasi selingan, tapi bagi mahasiswa akhir Psikologi, peristiwa Ryan dapat dijadikan bahan skripsi.
Ketiga adalah intensionalitas (intentionality), yang mengandung makna penggunaan secara sengaja dari isi media. Khalayak aktif, tidak akan dengan mudah meghakimi bahwa dengan adanya Ryan maka kaum penyuka sesama jenis (gay) adalah psikopat. Karena khalayak itu akan berfikir bahwa tidak adil jika menyamaratakan semua gay dan menariknya dalam satu image yakni Ryan yang merupakan seorang psikopat. Bagaimanapun media memberitakan tentang Ryan yang kahirnya menilai Ryan itu seperti apa dan kaum gay itu bagaimana adalah khalayak. Untuk itu bagi khalayak aktif, tidak akan dengan mentah menelan seluruh berita tentang Ryan.
Keempat adalah keikutsertaan (involvement) atau usaha. Maksudnya khalayak secara aktif berfikir mengenai alasan mereka dalam mengkonsumsi media. William J. McGuire menyebutkan bahwa hanya dua motif khalayak mendapat berita yaitu  motif kognitif (berhubungan dengan pengetahuan) dan motif afektif (berkaitan dengan “perasaan”)[1]. Dengan dua motif itulah khalayak akan tahu untuk apa dan apa yang ia cari dari tayangan Ryan.
Kelima, khalayak aktif dipercaya sebagai komunitas yang tahan dalam menghadapi pengaruh media (impervious to influence), atau tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri. Ketika kasus Ryan mencuat dan madia memberitakan dengan derasnya maka yang secara tidak langsung terkena imbasnya adalah kaum gay, orang-orang alim, oramg-orang pendiam, orang-orang desa, anak-anak brogen home yang jarang bersosialisasi. Media memotret kasus Ryan dengan banyak celah sehingga banyak pula aspek yang tergali dan terbuka. Karena bukan berarti jika ada artikel yang berjudul ciri-ciri psikopat yang salah satu cirinya adalah cemburu berlebih lantas menuduh pasangan atau saudara yang cemburuan itu sebagai psikopat. Namun sebaliknya, bagi masyarakat yang menganggap kaum gay sebagai kaum yang ramah, dapat berubah persepsinya karena kasus Ryan.
Iih.. Ada gay
Dengan teori ini maka media yang memberitakan tentang Ryan yang paling mendekati tujuanlah yang akan banyak ditonton, karena yang memilih media untuk pemuasan kebutuhan adalah khalayak itu sendiri.
Jika kita bicara efek dalam Uses and Gratification Theory maka khalayak tidak langsung percaya bahwa semua gay adalah pembunuh berantai, tapi tetap saja mereka sedikit waspada ketika mengetahui jika cowo ganteng itu tenyata gay, hanya kita tidak akan langsung lari terbirit-birit karena takut dibunuh kan? Sekedar waspada dan mengambil jarak mungkin iya.

Jumat, 29 Januari 2010

framing! itu kekuatannya..


Kekuatan gambar dalam media jurnalistik sangat besar. Foto atau gambar yang tercetak dalam media massa disadari atau tidak mempunyai makna yang terekam dalam frame gambar itu. Kita sebut sajalah foto jurnalistik.

Jika kita membeli koran, selain ingin membaca berita utama (headline) kita akan tertarik melirik koran itu karena foto yang tercetak dihalamn depan. Foto yang termuat itu bukan sekedar pelengkap berita tapi sebagai representasi dari peristiwa yang diberitakan dalam koran itu. Foto dalam dunia jurnalistik harus menjdai foto yang bercerita. *ini yang akan saya bahas!*



baca koran dot Com

Saya permudah bahasanya..

Di era yang semua nya serba cepat, semua ya serba online, mendapatkan berita menjadi hal yang mudah. Orang tidak perlu lagi menunggu koran esok hari terbit hanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada sore hari. Tahu kenapa? Karena detik (dot) com sudah rilis dan banyak dikases, begitu juga dengan situs berita lainnya. Internet merupakan saluran yang efektif dan efisien untuk mengetahui semua hal yang up date. Belum lagi tayangan TV berita seperti “sekilas info” atau headline news yang menjadi favorit kalau-kalau ada berita baru. Ditambah lagi radio seperti BBC atau 68 H yang bisa didengar. Lah kalo sudah se ektrem ini pergerakan informasi ke masyarakat, apa media bernama koran masih menarik?

Jawabannya? Masih! (buktinya kalo Sholat idul fitri, koran-koran masih banyak kan? Juga profesi wartawan masih eksis kan) tapi sehubung dengan modernnnya zaman koran hanya di gunakan sebagai wahana bagi mereka yang ingin mengetahui lebih detail mengenai suatu berita atau mendapatkan apa yang tidak didaptkan dari media online atau media broadcasting itu. Diluar negri malah, orang baca koran hanya di perjalanan menuju tempat aktifitas. Setelah itu mereka bekerja. Yaa.. sedikit berbeda dengan Indonesia yang d i kantor malah membaca koran...


Lah terus dimana foto jurnalistiknya?

Foto jurnalistik kini lebih berbicara daripada berita yang di tulis dalam koran. Contohnya gini. Saat gusdur meninggal, kita semua sudah atau beritanya di TV, Internet (saya tahu lewat status orang di FB coba..), dan radio. Koran? Baru bsok pagi kan? Kita semua sudah tahu berita ringkasnya dari media-media itu. Tapi saat kita lihat koran esok paginya dengan headline news dan foto suasana berduka di rumah gusdur kita seakan-akan melihat kejadian sebenarnya saat gusdur wafat hanya dari foto itu. Pengembilan angel dari foto itu membuat emosi kita tergugah bahkan foto itu lebih “bergaung” daripada berita di TV atau malah berita yang dutis di koran.. itu yang saya maksud foto jurnalistik, foto yang bercerita!



Hanya satu frame!

Foto jurnalistik juga bukan sekedar foto yang dipas-pasin sama beritanya(saya belum melakukan penelitian si, tapi kayknya banyak koran yang melakukan seperti itu deh... sekedar jepret) tapi harus punya cerita. Jadi apa yang ingin disampaikan ke pembaca. Emosi apa yang ingin dibangun. Nah ini dia, kita bicara emosi dan betapa pentingnya foto yang bercerita itu.

Misalnya (yang lagi hot-hotnya) berita tentang antasari. SEMUA TV bisa mengshoot SEMUA adegan saat Antasari sidang hingga ia bertemu anaknya. Tapi untuk foto? Dia hanya terbatas pada satu jepretan, terbatas pada satu frame. Hanya 1 foto kan yang bakal di cetak.. nah itu yang akan digunakan untuk membangun emosi orang. Contohnya, pas Anatasi di foto di angel yang miring saat dia peluakn sama anaknya. Melihat foto itu, orang sebenci apapun sama antasari bakal mikir kalo gimana-gimanapun anatasari itu seorang ayah. Dia punya keluarga dan bgaimana anaknya kecewa dengan ayahnya. (ya bukan berarti juag, ngeliat itu trus anatasari dibebasin...) dan itu TIDAK tertangakap atau minimal itu tidak membangun emosi orang sebagaimana orang melihat foto di koran.

Foto jurnalistik itu juga digunakan untuk membentuk opini orang (ingat bahwa semua media mempunyai kecenderungan untuk membentuk opini ealaupun caranya implisit). Contohnya waktu tahun 1998 deh.. saat orde baru mau lengser, nah mahasiswa banyak demo kan. Tpi kompas pernah memajang foto tentang mahasiswi yang menyerahkan bunga sama polisi yang lagi baris (lengkap dengan tamengnya). Kompas (mungkin) ingin membentuk opini masayarakat yang seperti ini : “ sudahlah.. ayo kita damai...” itulah sekali lagi foto yang bercerita..



Saya sarankan untuk...

Jadi.. jangan main-main dengan cita-citamu sebagai seoarng fotografer, jangan merekam peristiwa dibalik lensamu yang :

1. TIDAK BERCERITA... ini hanya membuat koran makin gag laku...

2. Membentuk opini masyarakat yang makin buruk. Pas BONEK lagi tawur, yang difoto irang yang lagi berdarah... (menurut saya, mahasiswi semester 2 itu foto buruuuukkkk...!!!!!!! gag ada angel lain apa yang bisa disampein... paraaaah..... jadi fotografer kok nanggung) soalnya opini masyarakat jadi main buruk kan tentang sepakbola Indonesia (lupa apa klo kita itu di Indondesia yang mayoritas masyarakatnya menelan bulat berita..? hah!)

3. Hanya jadi pelengkap berita.

Saya belum tentu bisa si ambil angel yang baik dan menjadikan foto saya bercerita.. tapi setidaknya saya tahu DO AND DON’T nya..

=D

Selasa, 26 Januari 2010

saya hanya melirik sinetron

SAYA (TIDAK) NONTON SINETRON!
“fitri… bertahanlah sayang!” ujar Farel dengan raut wajah panik, sementara si istri, terus memgangi perutnya yang buncit dan berbicara perlahan…”sakit….”



Monoton! Itu yang dapat disimpulkan dari dunia persinetronan Indonesia. Dengan alur, latar, ide cerita, ending,hingga intrik yang coba saja perhatikan, hanya bergelut pada hal-hal yang seperti itu saja. Ada antogonis yang selalu menjahati protagonis. Ada adegan amnesia, tamparan, hingga pelukan mesra. Begitu seterusnya hingga sang protagonis mendapati kembali kebahagiaannya dan tamat!
Bukan bermaksud untuk menjelakkan karya anak bangsa, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa sinetron Indonesia tidak menawarakan unsur edukasi di dalamnya. Namun toh, apa pula peduli dari Production House yang membuat sinetron-sinetron striping itu tentang pendidikan, jelas darisitulah pundi-pundi rupiah mengalir, dan masyarakat Indonesia pun dengan mudahnya menjadikan sinetron sebagai alat rekreasi termurah. Jika sudah begini, siapa yang bisa dipersalahkan?

Sinetron Budaya Kita, Awas di Klaim!
Setiap harinya, coba hitung berapa banyak sinetron striping yang ditampilkan dalam layar kaca kita? Sebanyak itulah sinetron Indonesia, mencoba untuk menghipnotis para pencintanya. Terkadang terasa menggelikan jika banyak dari masyarakat kita, yang begitu melibatkan emosinya ketika menonton sinetron striping. Tak jarang dari mereka meneteskan air mata, hingga perasaan kesal ketika iklan memotong adegan tersebut. Seperti terhipnotis bukan?
Dengan judul yang (hampir) serempak sinetron striping hadir dengan nusnsa cinta didalamnya. Namun disini, penulis tidak sedang membicarakan lanjutan cerita sinetron-sinerton itu, melainkan mencoba menganalisis ada apa di balikanya. Subjektif penulis, cerita sinetron-sinetron Indonesia merupakan cerminan budaya Indonesia.
Production House yang membuat cerita, hanya terinspirasi pada kisah-kisah masyarakat Indonesia pada kesehariannya saja. Mengapa? Karena PH tersebut hanya ingin membuat cerita yang gampang dimengerti oleh pemirsanya, untuk mempermudah maka PH hanya mengambil kisah-kisah yang familiar di masyarakat. Jarang bukan kita melihat, bagaimana kehidupan masyarakat gunung yang susah tanpa kehidupan cinta-cintaan dalam layar sinetron, atau kita juga nyaris tidak bida melihat adegan ranjang homoseksual dalam layar televisi. Karena kisah-kisah seperti itu tidak familiar oleh masyarakat kita, yang familiar adalah tayangan yang biasa ada di layar kaca sehingga kemudian dapat menaikan ratting, itulah sinetron kita.
Dengan begitu coba pikirkan, selama ini masyarakat kita, remaja hingga ibu-ibu hanya melihat tayangan yang sebenarnya familiar dengan kehidupan nyata, namun karena dibumbui oleh aktor serta artis yang good looking, maka melewatkan satu episode pun rasanya sayang.
Ironisnya, jika kebudayaan menonton sinetron ini terus merajai, yang akan terjadi adalah mental atau pandangan masyarakat kita akan terbatas pada apa yang selalu kita lihat. Contohnya, remaja putri menjadi berfikir bahwa pacaran di usia SMP adalah hal yang sebaiknya dilakukan, atau anak SMA yang berfikir jika belum berselingkuh maka belum mantap status sosialnya sebagai anak SMA. Dan lagi-lagi, itu didapat dari tanyangan indah berjudul sinetron!
Jadi, jika kita mencemooh tayangan atau jalan cerita dari sinetron, sebenarnya kita sedang mencemooh kehidupan sosial kita. Karena cerminan sinetron kita, hanya diambil dari kehidupan sosial kita sendiri. Lantas, siapa yang tidak kreatif disisni?

Pilih tayanganmu = Pilih Kualitas otakmu
Dari hasil analisis tayangan sinetron, didapatkan data bahwa dalam satu minggu sebanyak 7 stasiun tv swasta menyediakan waktu kurang lebih 5.640 menit untuk menayangan sinetron, lebih dari 51 judul dalam seminggu atau 7 judul sinetrondalam sehari. Data yang diolah Litbang SCTV (tahun 2001-2005) menunjukkan bahwa program sinetron FTV rata-rata ditonton 23,6 persen pemirsa pada jam tayang 19.00 WIB, sedangkan Galasinema, salah satu program andalan SCTV, pada tahun 2005-2006 diminati oleh 18,4 persen pemirsa dengan rating rata-rata 4,9. (www.panyingkul.com)
Dahsyat! Sinetron Indonesia dapat melakukan banyak hal. Sinetron dapat membuat produktifitas masyarakat menjadi berkurang, namun disisi lain dengan adanya sinetron dapat membuat masyarakat Indonesia menjadi termotifasi karenanya. Sinetron sukses membodohi masyarakat, namun sinerton pun berhasil membuat para insan persinetronan mengembangkan karirnya. Dilema!
Banyak macam sinetron di Indonesia. Ada sinetron yang mengedepankan aspek moralitas didalamnya yang dibungkus apik oleh tanyangan-tanyagan syuting yang sederhana, namun sinetron jenis ini hanya ada pada masa-masa tertentu seperi Ramadhan, atau natal. Ada pula jenis sinetron yang bertujuan untuk memasyarakatkan hal-hal yang tabu, seperti sinetron yang bercerita tentang poligami. Ada pula jenis sinetron yang mengedepankan aspek kekeluargaan, sehingga aman ditonton dan biasanya sinetron ini tidak mempunyai ratting yang tinggi, dan kebanyakan adalah tipe sinetron striping yang menawarkan intrik tidak berkesudahan yang menjadikan penontonnya terbuai pada alam khayal.
Seperti yang dikatakan di atas, bahwa sinetron Indonesia merupakan kebuayaan sekaligus dilema. Maka, sebagai para konsumen dan penikmat diwajibkan untuk memilih tayangan-tayangan yang dapat menambah muatan otak. Bertahan dalam globalisasi saat ini memang menuntut banyak hal. Selain harus selalu menjaga setiap perilaku dan pergaulan kita, modal yang harus dimiliki agar dapat bertahan adalah selalu meng-upgrade otak kita dengan berbagai informasi. Pilih tayangan yang dapat membangkitkan rasa igin tahu menjadi lebih besar lagi. Jadikan televisi sebagai media edukasi yang paling mudah. Sebagai masyarakat yang tidak menyukai sinetron, penulis lebih senang mendengar kabar gulung tikarnya PH, daripada lanjutan session dari sinetron yang tayang setiap jam 8 malam.
Untuk kualitas yang lebih baik, maka penulis lantangakan suara dan berkata “ hari gini.. nonton sinetron?”


Dafar pustaka
http://74.125.153.132/search?q=cache:H-HMVTi0pWsJ:www.panyingkul.com/view.php%3Fid%3D264%26jenis%3Drisetkita+persentase+orang+nonton+sinetron (28 Agustus, pukul 19:08:13)

Senin, 25 Januari 2010

ada yang tahu batik mbogo? (bulpos,ipeh)


Batik mbogo merupakan pabrik batik yang tersisa di desa prawirotaman. Diantara deretan hotel serta toko-toko souvenir, pabrik batik ini menjadi terpencil dan dilupakan oleh masyarakat, bahkan diabaikan oleh wisatawan. Padahal dulunya Prawirotaman menjadi daerah yang terkenal karena pengrajin batiknya.
Satu yang Bertahan
Ada satu kelebihan Prawirotaman yang banyak dilupakan oleh generasi muda saat ini, bahwa Prawirotaman dulunya merupakan daerah penghasil batik terbaik di Yogyakarta. Namun karena krisis moneter dan juga faktor modernisasi menjadikan pabrik-pabrik batik di Prawirotamna bangkrut dan mayoritas penguasahanya (pengusaha batik, -Red) beralih usaha menjadi bisnis hotel.
Namun desa Prawirotaman masih menyisakan satu pengrajin batik yang masih bertahan hingga kini. Ahmad Sumbogo merupakan satu-satunya pengrajin batik yang masih ada di desa Prawirotaman. Eksistensi usaha batiknya didorong karena kecintaannya pada batik yang luar biasa. Bahkan ketika krisis moneter pun Pak Ahmad masih tetap mempertahankan usaha batiknya.
“karena saya masih ingin mempertahankan budaya jawa, untuk itu saya tetap bertahan dari tahun 70 hingga sekarang dalam membuat batik” ungkap Pak Ahmad
Usaha batik Pak Ahmad bisa dikatakan langka karena pengerjaannya menggunakan metode cap atau lebih dikenal dengan batik cap. Dikatakan batik cap karena motif-motif dalam kain dicapkan di atas kain. Batik Pak Ahmad ini terkenla dengan batik mbogo. Batik mbogo ini diambil dari nama belakang pak Amhad.
Eksistentensi batik mbogo hingga hampir 40 tahun ini sayangnya tidak mendapat perhatian dari pemrintah daerah. “ saya tidak mendapat batuan dana atau apapun dari pemerintah daerah” ujar Pak Ammad
Rendahnya ketertarikan anak muda terhadap batik pun merupakan faktor yang cukup berperan dalam eksistensi batik mbogo selanjutnya. karena kini anak muda lebih tertarik pada bisnis hotel dibandingkan mempertahankan pabrik batik.

Kurang Promosi
Tidak banyak yang mengetahui jika dulu prawirotaman merupakan daerah pengrajin batik. Rima salah seorang wisatawan asal kota Bogor berpendapat ” saya malah tidak tahu kalo prawirotaman itu dulunya desa pengrajin batik” senada dengan Rima, “ lah wong udah ga ada pabrik batik kok mbak” ujar Ersa penjaga salah satu toko souvenir di prawirotaman. Prawirotaman kini memang lebih terkenal dengan hotelnya.
Batik mbogo yang ada di Prawirotaman pun tidak memilki alat promosi yang menarik. Pak ahmad hanya menggunakan rumahnya sebagai pabrik batik tanpa ada galeri khusus untuk memamerkan batik-batik mbogo tersebut. Akses menuju rumah pak Ahmad pun sulit dijangkau membuat lokasinya semakin terpencil dari wisatawan.
Walau mustahil untuk membuat Prawirotaman menjadi desa pengrajin batik namun bukan tidak mungkin untuk mempromosikan batik mbogo sebagai salah satu daya tarik yang ada didesa Prawirotaman. “ jangan hanya hotelnya saja yang dipromosikan tapi juga batiknya, karena batik ini kan salah satu warisan bangsa” pesan pak ahmad.

Minggu, 24 Januari 2010

saya buatan Indonesia

satu tanah lahir..

mereka menyebutnya deita

satu tanah mati

mereka menyebuntya nestapa

tanah air itu

mereka sebut indonesia..

tau apa yang aku pikirkan tentang tanah-tanah itu itu?

gersang..

tapi ak bangga..

karan dengan gersang aku hidup


Pernahkah kita merenung, apa yang bisa membuat kita (sepertinya) selalu cinta pada bangsa dengan tingkat korupsi ke lima dari 146 negara di dunia ini? Atau mengapa kita (selalu) harus bertahan di negri yang bahkan menyelenggarakan pesta demokrasinya saja kacau?

Apakah rasa nasionalisme sudah cukup mewakili? dan membuat kita tetap tersenyum dan bersikap bangga terhadap Indonesia, walaupun secara realitas Indonesia begitu memilukan untuk ditilik kondisinya. Bukan hal yang salah memang, jika kita menyimpan banyak kekecewaan dengan negeri zamrud ini. Namun, masih banyak spekulasi dan berbagai sudut pandang yang dapat digunakan sebagai alasan untuk selalu cinta dan bangga dengan Indonesia.

Tulisan ini merupakan suaru bentuk protes terhadap berbagai anggapan miring seluruh dunia bahkan warga negaranya tentang Indonesia. Kerena Indonesia mempunyai banyak hal yang dibanggakan, dan karena saya anak Indonesia yang akan bersuara lantang meneriakan kata bangga pada bagsa ini.

PEMBAHASAN

Indonesia, ya ndeso!

Bukan hal yang mengada-ada, dan seluruh dunia pun setuju bahwa Indonesia mempunyai kebudayaan yang yang beragam. Kebudayaan yang teramat kaya, dan unik. Walaupun harus berbenturan dengan sikap primordial namun berbagai kebudayaan tersebut merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya.

Suku jawa misalnya, disaat demam facebook melanda dunia, namun suku jawa masih kental dalam aksen tradisionalitasnya. Seperti dengan tetap mempertahankan berbagai rutinitas seperti Kematian Medhak, Kematian Surtanah, Upacara nyewu dina, Upacara Brobosan dalam berbagai pola kehidupan masyarakatnya yang sangat terlihat masih berpedoman dengan nilai dan norma budaya. Bahkan hingga kini bentuk pernikahan dengan unsur adat masih menjadi hal yang kerap dilakukan bukan? Padahal jika menilik dari segi kepraktisan, jelas pernikahan adat bukanlah jawaban, tapi itulah masyrakat Indonesia, dengan segudang pertimbangan masih dengan bangga menggunakan tradisonalitas warisan sang nenek moyang.

Tercatat jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia meningkat mencapai 473.200 orang atau naik 8,04% menurut Badan Pusat Statistik Februari 2009 lalu. Angka yang cukup prestice, dan cukup layak bagi Indonesia dengan berbagai keindahan alamnya. Indonesia adalah negeri yang indah, dan hal ini bukan suatu yang klise! Bahkan Indonesia tidak hanya memiliki satu atau dua tempat indah, tapi ratusan tempat indah. Bali, mungkin hanya sebagai perwakilan saja, tapi coba lihat taman laut bunaken, tengok dataran tinggi dieng, hingga berbagai panorama Indonesia yang tidak dapat dipungkiri membuat semua orang bahkan kita sebagai warga negaranya terpesona, sering bukan sebagai seorang warga Indonesia terkagum-kagum dan mengucapa syukur saat melihat tempat di Indonesia sebagai buatan Tuhan yang indah? dan hal yang unik adalah, mayoritas tempat indah di Indonesia dibungkus dengan sebuah bentuk tradisionalitas.

Tradisional adalah point pertama yang menjadikan Indonesia special bahkan di mata dunia. Dan jelas di mata kita sebagai anak bangsa.

Indonesia, sugih!

Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni). Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2). Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Pulau Jawa adalah pulau terpadat di dunia dimana sekitar 60% hampir penduduk Indonesia (sekitar 130 jt jiwa) tinggal di pulau yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah RI. Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku.
Negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa d Indonesia i. Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia walaupun bahasa daerah dengan jumlah pemakai terbanyak di Indonesia adalah bahasa Jawa. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk. Indonesia Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan Negara asal jamaah haji terbesar di dunia. Monumen Budha (candi) terbesar di dunia adalah Candi Borobudur di Jawa Tengah dengan tinggi 42 meter (10 tingkat) dan panjang relief lebih dari 1 km. Diperkirakan dibuat selama 40 tahun oleh Dinasti Syailendra pada masa kerajaan Mataram Kuno (750-850). Tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia, yaitu : Pithecanthropus Erectus” yang diperkirakan berasal dari 1,8 juta tahun yang lalu.
Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia. Indonesia adalah Negara pertama (hingga kini satu-satunya) yang pernah keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tgl 7 Januari 1965. RI bergabung kembali ke dalam PBB pada tahun 1966. Tim bulutangkis Indonesia adalah yang terbanyak merebut lambing supremasi bulutangkis pria, Thomas Cup, yaitu sebanyak 13 x (pertama kali th 1958 & terakhir 2002). Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua. Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil). Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia. Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia). Indonesia memiliki species ikan hiu terbanyak didunia yaitu 150 species. Biodiversity Anggrek terbeser didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua. Memiliki hutan bakau terbesar di dunia. Tanaman ini bermanfaat ntuk mencegah pengikisan air laut/abrasi. Binatang purba yang masih hidup : Komodo yang hanya terdapat di pulau Komodo, NTT adalah kadal terbesar di dunia. Panjangnya bisa mencapai 3 meter dan beratnya 90 kg. Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera adalah bunga terbesar di dunia. Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter. Memiliki primata terkecil di dunia , yaitu Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Hewan yang mirip monyet dan hidupnya diatas pohon ini terdapat di Sulawesi. Tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia yaitu, Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi. Ikan terkecil di dunia yang ditemukan baru-baru ini di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Tubuh ikan ini transparan dan tidak mempunyai tulang kepala.

Sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan, sehingga dengan demikian secara alamiah bangsa Indonesia merupakan bangsa bahari. Hal ini ditambah lagi dengan letak wilayah Indonesia yang strategis diwilayah tropis. Hamparan laut yang luas merupakan suatu potensi bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan sumberdaya laut yang memiliki keragaman baik baik sumberdaya hayati maupun sumberdaya lainnya.

Sebagai suatu bangsa bahari yang memiliki wilayah laut yang luas dan dengan ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar didalamnya, maka derajat keberhasilan bangsa Indonesia juga ditentukan dalam memanfaatkan dan mengelola wilayah laut yang luas tersebut.

Keunikan dan keindahan serta keanekaragaman kehidupan bawah laut dari kepulauan Indonesia yang membentang luas di cakrawala khatulistiwa masih banyak menyimpan misteri dan tantangan terhadap potensinya. Salah satu dari potensi tersebut atau sumberdaya hayati yang tak ternilai harganya dari segi ekonomi atau ekologinya adalah sumberdaya terumbu karang, apabila sumberdaya terumbu karang ini dikaitakn dengan pengembangan wisata bahari mempunyai andil yang sangat besar. Karena keberadaan Terumbu karang tersebut sangat penting dalam pengembangan berbagai sektor termasuk sektor pariwisata. Khusus mengenai Terumbu karang , Indonesia dikenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memiliki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga.

Indonesia, cukup merendah selama ini, diperolok dan mendapat sebutan negara berkembang. Negara berkembang menjadi julukan karena faktor sumber daya manusianya, namun tidak bagi kekayaan tambang Indonesia yang melimpah ruah. Gunung emas di Papua yang bisa menghidupi bangsa lain sedari masa orde lama ialah milik Indonesia. Tambang minyak di Indonesia, menjadikan Indonesia masuk dalam OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries). Bahkan sebutan negeri gemah bripah loh jinawi sekalipun ditujukan bagi negara yang memang dapat menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan.

Indonesia, pintar !

Contoh posisi Indonesia di mata internasional lainnya adalah peringkat fisika Indonesia adalah no dua setelah Cina Indonesia menempati papan atas fisika dunia (10 besar) dengan sering membawa pulang medali emas. Siswa Indonesia berkali-kali mendapat peringkat atas di First Step to Nobel Prize. Indonesia pun menempati papan cukup atas komputer (20 besar) dengan sering membawa pulang mendali perak dan perunggu. Siswa Indonesia sering menjurai kompetisi komputet mislakan di India, Las Vegas, dan lain-lain, dan sering kali siswa Indonesia meraih peringkat satu.

I Made in Indonesia

Indonesia kaya, dan patut untuk dibanggakan dan hal itu telah peulis bahas secara gamblang diatas. Kini saya ingin secara subjektif menuliskan alasan nyata mengapa kebanggaan itu akan tetap melekat.

Pertama, saya adalah anak bangsa, yang dilahirkan dari negeri indah ini. Dan untuk itu merasa bangga adalah hal wajib dilakukan. Lagipula apa yang saya banggakan dari Indonesia bukan hal yang palsu, toh hal itu memang ada. Dan pula walaupn seringkali saya merasa kagum dan tertarik melihat kemutakhiran negara-negara maju, dan Indonesia hanya sebagai penonton. Saya tetap bangga karena Indonesia tidak menjadi negara yang harus melakukan serangan militer ke belahan dunia lain, dan menimbulkan reaksi keras. Saya tetap bangga karena Indonesia tidak menjadi negara diktaktor. Lagipula apa pula untungnya bagi saya untuk merasa bangga denagn negara lain? Toh, mulai dari mencari makan, mencari ilmu, hingga mencari tanah kuburan pun saya masih berharap dengan negara katulistiwa ini.

Kedua, berkali saya membaca buku sejarah. Saya selalu merasa takjub melihat bagaimana perkembangan sejarah Indonesia dari masa ke masa. Sangat menarik untuk dibaca! Walupun Indonesia dikatakan bangsa budak karena dijajah Belanda hingga 3,5 abad kemudian dilanjutkan dengan penjajahan Jepang 3,5 tahun. Namun pada akhirnya kemerdekaan Indonesia diraih karena usaha! Bukan karena hadiah seperti yang didapat oleh negara-negara asia lain seperti Malaysia, Laos. Lantas membaca perkembangan politik dalam era perggerakan nadional, membuat saya terkagum-kagum pada golongan terpelajar seperi Tjipto Mangunkusuma, Suwardi Suryaningrat, hingga Ir Soekarno yang dengan batasan-batasan kolonial tetap mendirikan organisasi dengan tujuan merdeka. Saya bangga karena terlahir dari bangsa yang memiliki seamangat juang tinggi untuk melepaskan diri dari kemelut penjajahan selama hampir 3.8 abad!

Jika menilik dari latar belakang bangsa barat datang ke Indonesia, adalah karena ladang rempah-rempah yang melimpah, berarti saya saat saya lahir sekalipun, saya sudah menjadi bayi yang kaya. Dan tugas saya nati untuk mengelolanya. Hal ini tentu menjadi nilai tambah, dibnadingkan Amerika Serikat, yang miskin sumber daya alam.

Ketiga, alasan ketigalah yang membuat saya enggan melepas kewarganegaraan Indonesia yang saya miliki. Saya begitu terkagum-kagum dengan kebudayaan Indonesia. Lagi-lagi kebudayaan. Karena memang itulah yang unik dari Indonesia, keberagaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia dari suku-suku yang berbeda-beda dan plural merupakan kekayaan kita yang akan menjadi tiang-tiang bagi kebudayaan nasional Indonesia. Ada suku Jawa, Bugis, Sunda, Batak, dan suku lain dengan berbagai karakteristiknya. Entah mengapa, berbagai macam budaya itulah yanga kan menjadi topik seru jika suatu hari saya diwawancarai oleh turis tentang apa yang membuat saya bangga berkebangsaan Indonesia. Saya akan menceritakan dengan nada bangga, bagaimana sistem subak di Bali. Suatu sistem yang digunkan untuk pengairan sawah berdasarkan kesepakatan bersama, hal ini didasari karena masyarakat bali merupakan masyarakat sosial sehingga dibutuhkan aktivitas bersama bahkan untuk sebuah sistem pengairan sawah. Atau saya akan memperagakan beberapa dari ratusan bahasa daerah, seperti bahasa sunda.

Keempat, saya bangga dengan dunia hiburan Indonesia. Kini musik Indonesia, sudah dapat menjadi tuan rumah di Indonesia. Tidak seperti Malaysia yang didominasi musik Indonesia. Persoalan pembatasan musik Indonesia di Malaysia. Kasus ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun lalu (2007) yang di suarakan oleh Persatuan Penyanyi dan Pencipta Lagu Malaysia (Papita), dan kembali mencuat akhir-akhir ini. Persatuan Karyawan Industri Musik Malaysia, menuntut pemerintah Malaysia agar mengeluarkan pembatasan penyiaran lagu-lagu Indonesia di Malaysia 90%:10%. Karena saat ini lagu-lagu dari musisi dan penyanyi Indonesia menjadi ‘raja’ di Malaysia, sehingga musisi lokal tidak atau kurang mendapatkan tempat di negerinya sendiri. Intinya bisnis musik di Malaysia di pengaruhi oleh membanjirnya lagu-lagu Indonesia sehingga penjualan album musisi Malaysia tidak bisa bersaing dengan album musisi Indonesia

Dan lagi, cobalah tengok bagaimana kualitas musisi Indonesia, Nidji yang mempunyai kesempatan untuk membnuat Soundtract serial HEROES. Film-film Indonesia pun cukup sering menyabet beberapa penghargaan bergengsi. Itu membuktikan, bahwa saya hidup di negara yang toh tetap mempunyai jiwa kreativitas tinggi.

Terakhir, saya akan merasa sangat bodoh dan amat tidak bersyukur jika saya tidak bangga denagn Indonesia yang begitu membuat saya terkagum-kagum menjadi anak bangsanya. Terlepas dari berbagai kondii indonesia. Saya akan terus bangga.

Tetaplah berseru “ Saya bangga berada di Indonesia ! ”

Mungkin banyak generasi muda yang lebih condong ke arah barat dalam rangka mengikuti arus globalisasi. Disadari atau tidak, hal itu membuat rasa nasionalisme menjadi terkikis. Saya mempunyai beberapa opini yang bisa diaplikasikan.

Pertama, selama kita masih mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) maka selama itu pulalah kita harus bangga dengan Indonesia.

Kedua, pakailah semua hal yang berkaitan dengan Indonesia. Entah mengapa rasa bangga terhadap Indonesia selalu muncul dari jiwa sanubari kita saat apa yang telah Indonesia miliki diklaim oleh bangsa lain. Padahal sebelum itu, apa yang kita miliki kita biarkan berdebu. Seperti contohnya batik. Mulailah memberi apresiasi terhadap apapun yang dihasilkan anak bangsa. Kualitas yang dihasilkan anak bangsa akan menjadi baik dan akhirnya dapat sejajar dengan negara lain, jika kita sebagai masyarakat Indonesia selalu menggunakan produk-produk buatan sendiri. Bukankah hal itu contoh kongkrit bahwa kita bangga dengan Indonesia?

Ketiga, ada kecenderungan dari masyarakat kita untuk menganggap tinggi masyarakat luar negeri. Seakan-akan jika belum membeli barang import rasanya belum komplit saja. Sampai kapan hal ini akan terus berlanjut? Sampai kapan kita begitu silau dengan merk seperti Gucci,sophie martin, dolce and gamana dan lainnya? Orang amerika boleh bangga, namun kita? Mengapa tidak mencoba memberikan kesemapatana pada produsen kita untuk berkarya dan merebut hati kita. Ayolah, saya fikir bangsa kita kelewat gengsi untuk mengakui bahwa sebenarnya buatan Indonesia pun bisa bersaing.

tetap saja!

Walupun dunia luar menghujat Indonesia tercinta ini, tapi bagaimana mungkin kita tidak bisa bangga dengan negara yang toh masih tetap menjunjung kuat tradisional, negara yang sangat cantik, negara dengan sejarah yang mencengangkan, negara yang kaya, negara masih berdiri walaupun berbagai krisis selalu menempel padanya. Bagaimana bisa?

Melihat betapa modern Jepang, melihat betapa berkuasanya Amerika, melihata betapa kayanya negara timur tengah, membuat decak kagum yang tak henti-henti memang, namun cobalah sejenak melihat apa yang terkandung dalam negara yang telah memberi banyak makna dalam kehidupan kita, negara yang bisa menghasilkan manusia pintar seperti BJ Habibie, dan melihat bahwa panorama indonesia begitu memukaunya. Indonesia adalah negara yang layak mendapat kebanggaan.

Entah apa yang akan terjadi jika saya tidak bangga dengan Indonesia ini. Mungkin bangsa lain dengan senang hati akan berbangga pada Indonesia. Namun saya jelaas tidak rela, negara pertiwi ini dibanggakan warga lain selama saya hidup.

Korupsi yang tak henti-henti berkibar, mempunyai cap negara pembajak, hingga bila akhirnya pun semua keindahan Indonesia lenyap dimakan kuatnya globalisasi, tapi rasa bangga ini terpatri permanen dalam hati saya. Karena (sekali lagi) saya anak Indonesia, dan saya (harus) bangga dengan Indonesia. Saya bangga, saya bangga, saya bangga, saya bangga !!!

© RIWAYAT
Maira Gall