dear dyari...
Tampilkan postingan dengan label dear dyari.... Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Februari 2016

Jejak

“I look at everything I was,  
And everything I ever loved, 
And I can see how much I've grown”
 (This Time)  

Sudah bulan februari saja, tidak terasa. Rasanya baru kemarin orang-orang heboh untuk membicarakan fatwa valentine itu haram atau tidak untuk diucapkan, eh sekarang sudah sampai lagi kita di bulan perdebatan valentine yang boleh atau tidak diarayakan atau diucapkan ini.

Tapi terlepas dari apakah valentine itu boleh atau tidak, tapi saya pribadi sepertinya membutuhkan asupan coklat yang banyak. Bayangkan saja, saya memulai bulan februari yang katanya penuh cinta ini, dengan sebotol kiranti lengkap dengan adegan berguling-guling di kamar seorang diri. Keram perut itu menyiksa, bung!   

Tapi saya sungguh bersyukur dengan adanya keram perut di awal bulan ini. Gegaranya saya jadi hanya tinggal di rumah, dan kembali menulis! Hore!

Di sela-sela pergulatan dengan keram perut, saya kembali membuka-buka folder foto sambil mendengarkan beberapa lagu di laptop. Bagi saya, membuka folder foto lama dan melihat kembali beberapa pose yang kadang kampungan, kadang kece itu, adalah satu hal yang menyenangkan. Rasanya seperti dipaksa melihat betapa menakjubkannya hidup saya ini.

Saat melihat beberapa foto, saya seperti diingatkan tentang banyak hal yang sudah terjadi. Hanya dari foto, tetiba saya sudah berpetualang jauh ke masa lalu.

Tidak ada dampak yang nyata sih memang, tapi dengan melihat kembali masa lalu, walau itu hanya dengan scrolling ke kanan dan kiri, ternyata mampu membuat saya ingat banyak hal. Salah satunya adalah mengingatkan saya tentang banyaknya hal yang sudah saya lupakan.
Ah tapi kan kita ini, memang gudangnya lupa.
Ya kan?
Lupa tentang betapa jauhnya kita sudah berjalan, lupa betapa hebatnya kita sudah banyak melewati keadaan sulit, dan lupa betapa tangguhnya kita ketika harus dipaksa berdiri oleh kenyataan.

Dan sesederhana melihat foto lama, sanggup membuat kita jadi ingat hal-hal itu lagi.
Saya tersenyum sendiri, saat melihat beberapa foto yang sejarahnya sebenarnya kelam.
Saya juga tersenyum, nyaris menangis, saat kembali melihat foto dengan senyum bahagia saya dan teman-teman yang entah dimana mereka sekarang.

Perasaan ini seperti halnya ketika saya sedang beres-beres kamar. Dimana kadang saya kembali menemukan surat cinta, pernak-pernik pemberian orang, hingga tiket-tiket atau prikitilan yang tidak pernah saya buang. Walaupun dipaksa bagaimanapun saya tidak akan membuang barang-barang kecil yang bagi mama adalah sampah itu.
Alasannya ya seperti hari ini: sebagai pengingat, bahwa saya sudah berada di masa ini, dan tidak lagi di masa lalu. Dan betapa penjagaanNya tidak pernah putus walau sedetik untuk saya hingga hari ini.
Walaupun semuanya terasa  kabur dan abu-abu, tapi semua benda dan foto itu, hadir seperti meteran yang mengukur sejauh apa saya sudah melangkah, sedewasa apa saya, dan seikhlas apa saya hari ini.

Sungguh membahagiakan.

Untuk alasan yang entah apa, tapi sungguh membahagiakan saat saya mengijinkan diri sendri untuk melihat lagi masa lalu. Berenang-renang disana sebelum kembali berjalan maju. Seperti sebuah colokan energi.

Seperti kembali diingatkan alasan apa yang membuat saya bahagia di masa lalu. Apa yang membuat saya sedih di masa lalu.  Mengingat kembali, apa yang terjadi dan apa yang saya lakukan saat itu.

Karena saya membutuhkannya sekarang.

Saya butuh untuk tahu, apa yang akhirnya bisa mengantarkan saya di masa lalu kepada saya di hari ini.
Agar kelak, saat saya di masa depan bertanya hal yang sama, saya di hari ini bisa memberikan jawabannya.



Ahh…

***

Ya Rabb, terimakasih untuk semua kisah. 

Selasa, 02 Juni 2015

Dear Fauzan,



Ada salah satu orang di hidup saya, yang secara konstan terus-menerus ada tanpa saya minta. Kami tidak punya hubungan romansa, tapi dia mendapat semua ketulusan dan hormat yang saya punya. Selayaknya pertemanan, kami tidak punya syarat untuk bersama.

Namanya Fauzan Nur Rokhim.

Saat saya sedang berjuang masuk UGM, dia adalah salah satu orang yang punya peranan penting. Saya ingat kata-katanya di hari-hari menjelang tes SNMPTN, “Sehari sebelum tes, kamu ga boleh belajar Peh! Kamu tuh gagal di UM karena kebanyakan belajar” Begitu katanya. “Ohya? Kenapa gitu?”, jawabannya tengil “Udah, percaya aja sama yang udah ketrima”. Gitu coba, jawaban macam apa!

Fauzan punya pacar waktu itu, namanya Amel, tapi lalu dengan tengilnya dia mengajak saya nonton bioskop dan bilang kalau saya ini butuh refreshing. Saat mengantar pulang, di depan rumah dia kembali bilang “Satu lagi Peh, kalau mau lolos, kamu harus punya nazar!”

“hah?”

***

Hari ketika pengumuman, ada 3 orang yang menantikan kabar apakah saya diterima di UGM atau tidak. Orang itu adalah Ridi, Ujang Fahmi, dan Fauzan. Mereka lebih kalut sepertinya dibandingkan orang tua saya sendiri. Fauzan bahkan nelfon “Kamu lolos ga Peh? Mau tak liatin aja engga?”, saya jawab “Engga usah, aku bisa liat sendiri.”

Singkat cerita saya diterima, dan belum sempat saya mengabari dia, dia sudah sms “Ciyee… selamat ya Peh keterima!”

Saat itu, sebetulnya saya berjanji buat mentraktir dia, sebagai syukuran. Tapi sampai detik ini, itu janji yang belum saya tepati…

***

Kami kuliah di satu fakultas yang sama, tapi beda jurusan. Saya di komunikasi, Fauzan di administrasi Negara. Kesibukan kuliah, perbedaan circle pertemanan, dan seribu satu alasan lainnya, membuat kami jarang main bersama lagi.

Hingga akhirnya, kami kembali bertemu di tahun 2012. Bukan hanya kembali bertemu, tapi saya dan Fauzan adalah teman satu sub unit KKN Papua. Surprise! Hidup memang gudangnya kejutan.

Pada awalnya saya agak ketakutan berangkat ke Papua karena satu dan lain hal. Hingga saya ingat, saya mengancam Fauzan, “Zan, karena aku belum akrab sama siapa-siapa disini, jadi kamu, kamu harus jagain aku ya Zan. Harus. Pokoknya cuma kamu yang bakal aku repotin dan kamu ga boleh nolak. Oke?!”. Fauzan yang tengil itu menjawab dengan cengengesan “Siap nyonya! Nanti kalau ada yang mau bunuh kamu, aku biarin aja!”. Kan, rese’ jawabannya.

Tapi pada akhirnya, selama di Papua memang Fauzanlah yang selalu saya repotkan.

Dia yang mengambilkan air saat saya butuh tambahan air kala haid. Maklum, sumber air berada cukup jauh dari rumah, dan butuh beberapa kali bolak-balik. Yang tadinya saya butuh 4 dirijen, selama haid saya butuh 8 dirijen. Untung Fauzan bersedia mengambilkan 4 dirijen air tambahan buat saya selama haid.

Saya ini keplesetable. Diantara anak-anak KKN, hanya Fauzan yang paling sering rela saya jadikan tumbal. Kalau jalanan licin, dan saya nyaris jatuh, saya pegang lengannya, dan dia malah yang jatuh. Lalu saya tertawa.

Pun kami mengajar kelas yang sama. Kelas satu SD dengan anak-anak ingusan dan susah diatur itu. Bahkan, jadwal piket cuci piring di kali juga barengan. Fauzan yang engga pernah nyuci itu, dengan nyebelinnya bilang “pilih mana, aku nyuci tapi ga bersih, atau kamu nyuci tapi bersih?”. PIlihan macam apa?

Hingga puncaknya ketika saya kesurupan di hari terakhir KKN, tepat di saat yang sama, kami diundang menghadiri pesta perpisahan. Akhirnya Fauzan yang (sepertinya) sukarela menjadi volunteer menjaga saya sampai tenang, sampai larut malam. 

Di akhir masa-masa KKN, dan saya patah hati di Papua, Fauzan juga yang dengan klise berkata, “Dia itu ga pantes Peh ditangisin. Udahlaaah”. Dan bener sih Zan, dia emang engga pantes.

Pertemanan kami menjadi cukup intens sekembalinya dari Papua. 

Saya ingat saat saya kecelakaan di bulan April 2013, waktu itu bertepatan dengan waktu kerja di Srengenge. Karena kecelakaan itu, otomatis saya harus diantar-jemput. Dan seperti biasa, selain Uda Uki yang engga kalah baik itu, Fauzan dengan sigap bolak-balik jalan godean-jalan kaliurang-warung boto buat mengantar saya.

Saat saya ulang tahun, dia mengantarkan spanduk sebesar gajah buat saya. Itu spanduk idenya anak-anak tamleho sih, tapi dia yang desain kalau engga salah. 

Juga saat saya harus masuk rumah sakit karena ISK saya kambuh, dia dan anak-anak tamleho yang repot-repot masak buat saya.

Tapi apalah saya ini… bukan teman yang baik. Saya bahkan absen di hari-hari pentingnya. 

Saat Fauzan pendadaran, saya sedang berada di luar kota.
Saat Fauzan wisuda, saya berhalangan hadir.
Bahkan saya absen saat dia ijab kabul hari ini.

***

Sebagai teman, kami pernah beberapa kali berbeda argumen. Kami sering berdebat untuk hal-hal yang kurang penting. Ada beberapa pemikiran Fauzan yang saya kurang setuju, pun dia kepada saya. Tapi itu engga akan lama, kami pasti akan main bareng lagi. Karena saya tau, Fauzan itu ya begitu itu orangnya. Saya juga tahu, walau selama apapun kami tidak bertukar kabar, Fauzan akan tetap di sana dan saya di sini. 

Tapi apakah pertemanan punya deadline?

Hari ini Fauzan menikah. Itu artinya, pertemanan saya dan Fauzan engga akan sama seperti dulu lagi. Engga ada lagi anter-jemput karena kepepet. Muter-muter Jogja liat lampu. He belongs to someone now. Ternyata, semenderita-menderitanya patah hati, lebih nelangsa kehilangan teman ya…
Diantara semua perasaan yang campur aduk dalam hati, ternyata perasaan kehilanganlah yang paling mendominasi. Saya tau ini bukan akhir dari pertemanan saya dan Fauzan. Kami hanya akan berada di fase pertemanan yang berbeda. Tentu setelah pernikahannya hari ini, akan ada batas-batas yang tidak bisa lagi dilangkahi, baik oleh saya, oleh Fauzan, atau oleh siapapun.

Jadi apakah benar, pertemanan juga punya masa kadaluarsa?

Oh men!
Aku bahkan belom ngomong makasih Zan buat semuanya. Kamu udah nikah aja loh! Aku bahkan belom ngasih hadiah kelulusanmu loh Zan, kamu udah jadi suami orang aja.
Aku engga tau mau ngomong apa Zan selain selamat menempuh hidup baru. Aku doain, semoga kalian selalu jadi pasangan yang saling mengingatkan karna Allah, selalu berjuang, dan kelak jadi orang tua, jadi orang tua yang baik buat anak-anak.
Pokoknya, sampe kapanpun juga, kamu temen terbaik sepanjang massa! Jangan bales dendam ya Zan, please dateng ke nihakan aku, yang entah kapan itu. Oke?

Selamat buat Shinta, kamu dapet suami yang engga bisa minum susu karena takut asam uratnya kambuh.
Kidding! Kamu dapet suami yang baik kok. Ngomong-ngomong kita baru ketemu sekali di karokean, tapi yaudahlah yaaa… selamat menempuh hidup baru yaa!

With Love,

A.


#31harimenulis
#Bonus

Jumat, 27 Februari 2015

Pertemuan

Kadang saya takjub pada kemampuan Allah dalam mempertemukan saya dengan manusia-manusia selama hidup saya ini. Rasanya pertemuan saya dengan si a, si b, si c, si d adalah kunci untuk sekelumit kehidupan saya yang akan datang. Sebegitu takjubnya saya, sampai-sampai saya selalu bersemangat bertemu orang-orang baru. Bahkan ketika dalam pertemuan itu, ada hal-hal yang kemudian tidak saya sukai atau justru malah menyakitkan hati saya, namun tetap saja di lain kesempatan saya akan mengetahui alasan mengapa saya harus bertemu orang. Seperti puzzle yang siap ditata pada waktunya. 




Luar biasa!

Kamis, 31 Juli 2014

Cukupkah?

Lelaki itu, aku temui pada sebuah malam, dengan kondisi yang tidak begitu menggembirakan. Tubuhnya lemah karena terlalu lelah berjalan.Pakaiannya compang tak karuan, rambutnya acak-acakan, dan yang paling menyedihkan adalah ia tengah menggendong seorang anak perempuan. 
Kuhampiri dia, lalu kuberikan apa yang sekiranya bisa kuberikan untuknya. Dia tersenyum, begitu tulus. Kutanya berapa umur anaknya, dia menjawabnya dengan lirih "10 tahun mbaak, mboten saged jalan niki".
Ingin aku tanya mengapa, namun urung. Aku takut itu membuatnya sedih karna harus bercerita, atau sedih karena terpaksa menggali hati untuk hanya untuk menjawab pertanyaanku. Usai memberikan sedikit yang bisa aku berikan, aku tawarkan lelaki itu tumpangan kemanapun dia mau. Angin malam tak pernah baik untuk paru-paru, setidaknya, aku ingin ia tidur dibawah atap dan berhenti berjalan. Namun lagi-lagi gagal. Lelaki itu bersikeras untuk berjalan ketempat tujuannya, yang tak jelas dimana. Tak berhak memaksa, maka kupeluk erat dan kudoakan ia agar selamat sampai tempat tujuan. Melajulah aku membelah malam dengan bayangan lelaki itu yang semakin mengecil dalam kaca spionku. 

Lemah.

Aku menangis.

Kubayangkan dia, lelaki itu, menjaga anak perempuannya sekuat tenaga. Menggendongnya siang dan malam. Setiap malam akan berbisik pelan padanya, "Nak, apakah nyaman posisi tidurmu?"
Kubayangkan betapa doa dan harap lelaki itu pada anak perempuannya. Pastilah dibelai selalu rambutnya tiap pagi seraya berdoa "Nak, nyenyak tidurmu untuk menjalani hari ini?"

Sungguh anak perempuan yang sangat beruntung.
Dapat berada di pelukan ayahnya tiap malam, di doa ayahnya tiap pagi, dan berada di resah ayahnya yang akan selalu bertanya "Nak, apakah cukup hangat hatimu hari ini?"



*Al Fatihah untuk Ahyar Anwar*

Kamis, 03 April 2014

Bahagia

Walau tidak sempurna, tapi saya tahu ini adalah bahagia.

Walau tidak sempurna? Ya. Tidak sempurna.
Bagaimana mungkin makan duren berpuluh-puluh, bisa disebut bahagia bagi orang yang benci duren?
Atau bagaimana bisa tertawa terbahak-bahak di kala senja, dikatakan bahagia saat ada yang tengah serius rapat untuk proyek penting, bernilai milyaran?
Bagaimana bisa berbuka puasa sambil memanjatkan doa, dikatakan bahagia bagi mereka yang tanpa memanjatkan doa saja seluruh harta dapat terbeli?

Tapi nyatanya saya bahagia dengan lepas. Karena bahagia memang tidak butuh yang sempurna. Maka saya beryukur mengenal yang sederhana sebagai cara berbahagia.

Sore ini, saya masih bisa berbuka puasa dengan es teh yang dijual diangkringan depan kantor. Harganya murah hanya 1.500. Cukup melegakan tenggorakan, manis, dan pakde penjualnya adalah orang yang ramah.
Kemudian 3 potong klapertart sudah terkunyah sempurna sebagai pengganjal perut. Setelah itu ada pesta duren dadakan di depan kantor sambil tertawa terbahak-bahak dengan orang-orang baik. Sebelum itu masih diberi kesempatan untuk pusing memikirkan konsep ulang tahun kantor. Dan setelah ini akan menonton film di bioskop.
 

Walau tidak sempurna, tapi saya bahagia.

Terimakasih ya Allah.
Terimakasih.

Kamis, 02 Januari 2014

Kemarikan 2014

Apa yang harus saya katakan pada 2013? Terimakasih.

Terimakasih pada 2013 yang memberikan kesempatan dengan sangat lapang, hingga hati saya menjadi tangguh. Tidak cengeng.

Padanya, saya diberikan kesempatan mencicipi betapa nestapanya saat harapan itu kandas terbawa dan hilang meresap oleh udara.
Padanya, saya diberikan kesempatan mencicipi sensasi kecewa yang sungguh jumpalitan rasanya.
Padanya, saya diberikan kesempatan mengenyam harapan dan impian, hingga semuanya menjadi buih muntahan.
Padanya, bertubi-tubi saya terpantul-pantul pada jurang mimpi.

Hingga habis saya merangkak, kembali ketepian tempat semuanya bermula.

Dan saya terkapar, di 2013.



Dengan begitu, apa lagi yang harus saya katakan pada 2013 selain terimakasih?

Terimakasih dengan nada tulus ala anak balita yang diberi balon merah muda saat es krim rasa jambunya terjatuh.
Terimakasih dengan nada ikhlas, seperti seorang ibu yang mengetahui anaknya telah bersusah payah membanting tulang menerbangkannya ke tanah suci.

Ya. Terimakasih katagori itu yang saya haturkan pada 2013.

Karenanya, hati saya bebal atas kecap nelangsa hidup.
Kini saya tahu persis kemampuan saya dalam bertarung untuk selanjutnya.
Karenanya, kuat saya berdiri menantang.

Walau tidak semuanya buruk, namun 2013 sungguh menerpa hati hingga sekuat baja.
Beberapa diantaranya sanggup bikin saya tumbang, terbang, kepayang, tercengang, dilanda rasa senang, dan diliputi perasaan hilang.
Bahkan asmara 2013 mengajarkan saya akan satu hal. Bahwa saya siap meninggalkan semua yang berkaitan dengan sementara. Saya jengah dengan romantika anak muda, dan saya ingin berumah tangga. Ini gara-gara 2013.

Baiklah, karena renungan telah dilakukan,
harapan telah dituliskan,
dan semangat telah dikumpulkan.

Maka sambutlah saya yang siap meluncur dibawah pelangi 2014.

Resolution to make revolution!


GO!

Rabu, 04 September 2013

BISU!

"silence is a loudest cry"


Pipiku panas, air mata menamparku dengan begitu keras.
Aku punya ribuan kata nestapa yang ingin aku keluarkan.

Tapi hingga kondisi berubah segenting inipun, kamu masih sibuk bertanya.

Lucunya kamu ini. Kamu pikir semua hal ingin kamu ketahui haruslah dengan perantara kata?
Lantas bagaimana kamu mencoba menjelaskan cara semesta memainkan hujan?
Bagaimana kamu mencoba memahami cara semesta mengeluarkan larva?
Apakah selama ini kamu hanya memahami pertanda dengan kata?
Tidakkah kamu pahami kata bisa saja berupa angin yang berbisik, hujan yang berderu, bahkan sinar yang silau. Kata bisa berupa lembutnya aku tersenyum. Kata bisa berupa pilunya aku menangis.
Pernahkah?

Lantas setelah kamu tak lagi mendapatkan kata, kamupun pergi. Kamu pergi dengan tetap berfikir bahwa seluruh tanya hanyalah mampu dijawab dengan kata.

Kamu betul-betul lucu…

Pahamilah..
Ada sesuatu yang seharusnya kamu pahami tidak lewat kata.
Sesuatu dibalik senyumku, sesuatu dibalik tangisku, Pernah kamu sadar itu adalah kata yang tidak mampu aku keluarkan?
Aku tidak semampu seperti apa yang dibenakmu. Aku tidak mampu untuk berkata betapa aku ingin kamu ada disini, disampingku.
Sebegitu tidak mampunyakah kamu merangkai semua peristiwa untuk mendapatkan jawaban?
Apakah kamu tidak pernah sadar bahwa paksaanmu padaku tentang kata begitu menyakitkan?

Untukmu, yang mengaggungkan kata.
Berbaliklah dan hadapi aku.
Janganlah bertanya, aku tak punya daya untuk menjawab.
Andai kamu bisa intip sedikit sudut mataku,
Andai kamu bisa bersabar untuk mengorekku lebih dalam,
Andai kamu bisa membaca pertanda,
Andai kamu bisa merangkai semua gerak,
Andai kamu mau membacaku secara tidak biasa,
Mungkin kamu akan ada disini, seperti apa yang aku ingini.

Andai kamu paham.. bahwa aku tak pernah punya kata, untuk semua hal yang aku alami. Aku hanya mampu menyampaikan lewat udara. Bagiku, itu perantara paling mujarab untuk menyampaikan kata. Karena hanya udara yang mampu menyampaikan kata dalam bentuk doa.

Untukmu, yang selalu memahami kata sebagai sebuah pertanda.
Pahamilah..
Bahwa ada sesuatu, yang seharusnya kamu pahami tapi tidak lewat kata.



Tidak lewat kata.

Jumat, 12 April 2013

Jalani saja.

”Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.” (Al Insyiroh [94]: 5-6)


Jadi dengarkan saja. Tak usah banyak mencela, hanya cukup mendengar saja.
Saat hidupmu harus berjalan, terkadang tak banyak pilihan yang kau punya. Walaupun seakan banyak pilihan yang bisa dipilih, namun sesungguhnya itu adalah pilihan yang tidak sepatutnya untuk dipilih.

Dengarkan saja, cermati saja, jangan membantah.

Tak selamanya bahagia itu ada dalam pilihan yang bisa dipilih
Juga tak selama kesedihan itu dalam pilihan.
Seperti memilih mata kuliah dalam proses kuliah, ada beberapa mata kuliah yang tak ingin kita ambil tapi harus kita ambil bukan? Padahal pilihan untuk tidak mengambil itu juga ada untuk dipilih?
Ya seperti itulah.
Saat hidup itu berjalan, kadang beberapa pilihan hadir untuk mengaburkan. Muncul seakan ada tapi sesungguhnya tak ada.
Tak ada yang bisa dipilih selain jalani saja. 

Dengarkan saja.
Cermati saja.

Ada sepasang kaki yang terpasang untuk menopang semua raga.
Kaki ini yang akan menggerakan semuanya.
Bayangkan jika kaki ini tak pernah melangkah,
Apa bisa mata menangkap objek yang indah?
Apa bisa tangan menggapai sesuatu yang baik?
Apa bisa memori mengenang sesuatu yang berkesan?
Apa bisa hidung menghirup sesuatu yang melegakan?
Tidak kan?
Tidak jika kakimu tidak berjalan.
Tidak, jika kaki ini tidak dipaksa berjalan.

Kadang itulah yang dirasakan oleh kaki.
Kaki harus berjalan terseok-seok oleh keadaan hanya agar seluruh indra mengecap pada sesuatu yang baru.
Agar nurani tau apa yang harus dipilih pada akhirnya.
Karena tanpa banyak pilihan, maka nurani tak mampu bekerjasam dengan logika untuk menentukan apa yang baik pada akhirnya.
Walau tak jarang kaki dipakasa berjalan dan terseret-seret agar supaya semua indra ini mengarah untuk sesuatu yang lebih mendewasakannya.

Dalam prosesnya.
Dalam proses kaki itu melangkah. Tak akan ada kebahagiaan, sepertinya memang bahagia tak ada dalam daftar menu saat kaki itu melangkah.
Lihatlah mata. Seringkali mata memerah, memendam pilu. Hingga meneteskan butir-butir air.
Dengarkanlah telinga. Seringkali ia mendengar banyak nasihat dalam perjalanannya dan hanya bertahan pada motivasi sesaat.
Dan perhatikan hati. Hati seringkali gamang saat kaki melangkah. Hati mendegar seksama semua suara resah dari perjalanan kaki ini
Terlebih logika. Kerap dia berteriak nyaring agar si kaki berehenti melangkah.
Tapi kaki ini tau. Walaupun semua indra yang dibawanya ini menjerit perih dengan jalannya. Dia harus tetap berjalan.
Hingga waktu yang akan menghentikannya.

Waktu yang akan menjawab pada jalan apa kaki itu harus berputar.
Waktu yang akan menjawab pada apa kaki ini harus berhenti.
Waktu akan meneguhkan hati. Sehingga hati tau harus meyakini apa.
Waktu akan menguatkan mata. Sehingga mata tak lagi harus memberai tangis
Waktu akan memantapkan logika. Sehingga pikiran akan lebih jernih lagi dalam berfikir.

Hingg saat itu.
Pilhan yang tersedia adalah berjalan.
ya..
berjalanlah.
melangkahlah.
Walau terseok-seok apapun.
dan kamu akan tau.
Kamu akan tau.
Akan tau.
Apakah jalan yang selama ini ditempuh salah, atau benar.
Tidak jika belum sampai tujuan,

Dengarkan saja, tak usah banyak bercakap.
Jika ini tentang pilihan,
Maka temani saja aku melewati semua pilihan ini, yang padanya lah semua konsekuensi itu berlabuh.
Jika ini tentang waktu
maka temani saja aku melewati pilihan ini, yang padanyalah semua hikmahnya akan terbaca.
Jika ini tentang adaptasi
maka temani saja aku melewati pilihan ini, yang padanya lah semua mental ini terbentuk.

tentu saja.
tentu saja syukur itu bersembunyi malu-malu pada setiap kesempatan.
Percayalah,
tak ada pilihan yang ada saat ini.
Selain tetap berjalan.
Ya...
Jalani saja,
Dan aku akan tau.
Kemana jalannya.




Kuat-kuatlah hati dan tetap berjalanlah kaki.
Sering-seringlah sujud bersimpuh wahai dahi.
Dan semua akan berterimakasih pada perjalanan ini, itu yang dijanjikan waktu.

Jumat, 11 Januari 2013

Hey, kita sang pejuang!


"Cause I'm Fighter.. This Love Fighting For.."

Siapa menurutmu seorang pejuang yang sesunggguhnya?

Cut nyak dien? Pattimura? Habibie? Seorang ibu? Seorang tukang sampah? Atau siapa?

Oke, mungkin terlalu cepat untuk sampai ke ‘siapa’ mungkin kita kita bisa mulai dari lupa point ‘apa’. Jadi marilah dulu kita bicara tentang apa. Dan memangnya apa yang bisa membuat seseorang berjuang? Atau layak dikatakan sebagai seoarang pejuang?

Jadi begini, saya sempat mendapati diri saya merasa sangat tidak ada apa-apanya dibandingkan bagi mereka yang bisa dan pernah pergi ke gunung, ke laut, atau berkelanana dari satu daratan ke daratan lainnya. Bagi saya, mereka itu terutama perempuan yang bisa melakukan hal-hal seperti itu pastilah hebat. Sakti mandraguna kalau kata saya.

Bayangkan,dia pastinya kuat ke naik ke gunung yang berarti harus berperang melawan rasa pegalkan? Lah saya, ke solo naik motor aja udah ngerasa pegel-pegel dan ogah deh, mending naik kereta aja! Lagi, dia bisa bertahan dari dinginnya udara gunung yang entah berapa derajat celcius. Lah saya? saya punya hiportemia, jadi tidak usah menunggu sampai ada di titik terendah untuk menyikas saya. Dia mampu pergi ke satu pulau ke  pulau lainnya tanpa takut hitam. Ya saya tidak takut hitam sih, secara saya memang sudah hitam dari lahir tapi batin saya merasa tidak sekuat itu untuk membiarkan kulit ciptaan yang maha agung ini lama-lama dibawah sinar matahari untuk tujuan kepuasan. Sungguh, saya tak bisa..

Atau ketika dia bisa pergi menyelam, diving, snorkeling, apalah namanya itu sementara saya berenang saja tidak bisa. Wasalam deh buat saya. saya merasa diri saya benar-benar bukan apa-apa dibandingkan wanita yang bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang saya ceritakan tadi. Hebatnya udahlah, khatam!

Atau ketika saya melihat ada orang dengan mudahnya keluar masuk salon untuk kecantikan yang lebih baik dan bisa bebas membeli baju apapun yang dia inginkan hingga menjaga pola makan sedemikian rupa hingga bisa terlihat ayu rupawan 24 jam non stop. Saya? oh no baby no.. jangan harap. Perawatan yang standar saja bagi saya itu cukup. Dengan tujuan menjaga apa yang sudah ada. salon? Ya kalo ada waktu deh. Baju? Hmm.. bagaimana kalau pergi ngawul di sekaten?

Saya lagi-lagi merasa kalah dengan wanita tipe itu yang mampu berjuang menjadi wanita yang enak dipandang semua jenis mata.

Dua tipe wanita itu hanya beberapa tipe wanita yang ada di dunia. Tapi sepertinya mereka berjuang ya kan? Mereka berjuang kan?
Saya tersadar sesuatu disini. Sebenarnya itu ketika hari senin kemarin, saya iseng melihat tayangan kesukaan saya di channel 156 star world. Dan ada satu percakapan bagus di sebuah serial TV New Girl :
“kalo kamu lihat bagaimana awal mula saya, kamu akan tau bagaimana saya berjuang”

Ah..  I got the point!

Semua orang adalah pejuang disini. Kamu. Saya. Dia. Mereka. Semua orang.

Sayapun demikian berarti. Saya seoarang pejuang, mungkin saya satu diantara sekian banyak wanita yang berjuang.

Saya harus berkenalan dengan kemandirian dan kedewasaan mungkin lebih cepat dibandingkan dengan teman sebaya saya. Dengan alasan satu dan lain halnya saya harus berjuang untuk dewasa dan mandiri dengan jalur cepat. Saat teman sebaya saya mungkin masih sibuk memikirkan cinta pertamanya di sekolah menengah pertama, saya juga tak kalah sibuk saat itu. Saya sibuk berkenalan dengan kemandirian. Kemandirian bentuk lain. Saat itu saya dipaksa untuk mengerti masalah orang dewasa tanpa banyak bertanya dan melakukan insrupsi. Yang saya tau pasti saat itu adalah saya harus hidup dengan tidak lagi seperti bagaimana sebaya saya hidup. Untuk pertama kalinya saya dipaksa untuk mengiyakan keinginan orang agar situasi bisa berjalan dengan lebih baik.  Tak hanya kemandirian tapi saya lebih mengerti arti ikhlas lebih cepat sepertinya.
Hingga kini, saya mungkin berdiri seperti wanita-wanita pada umumnya. Berpaikaian rapi dengan make up tipis rambut yang lebih sering dikuncir dan juga semprotan parfum. Sekilas saya biasa saja ketika orang melihat, tapi hey… jika semuanya mengerti saya telah berjuang lebih besar dibandingkan yang lain.

Tak ada lagi terbesit dari hati saya untuk menciutkan nyali atau bahkan memandang diri saya tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita lain. Karena sayapun berjuang dengan apa yang juga saya yakini benar.

Saya berjuang dengan deadline di dunia iklan yang luar biasa gila itu. Diangkat menjadi tim creative dalam usia saya yang masih sangat muda. Mempunyai karya. Mampu membayar cicilan motor 36 kali dengan biaya sendiri. Hey, saya juga mampu dan layak untuk dibanggakan dan diceritakan oleh orang lain kan?

See, kalau orang sebiasa alifah farhana saja bisa, apalagi kamu?

Menutup tulisan ini, lagi-lagi saya merasa tersentil pada sebuah peristiwa yang baru-baru ini saya alami.

Seorang wanita yang saya kenal, sebut saja bernama indah, dia baru saja melangsungkan pernikahan. Pernikahan yang terlalu terburu-buru menurut saya. Walaupun saya tidak begitu mengenal indah ini, namun bagi saya pernikahannya cenderung ditutup-tutupi dan juga terburu-buru. Pokoknya pernikahannya benar-benar penuh dengan prasangka negatif. Saya sih tidak diundang dalam pernikahan si Indah ini, ya karena saya tidak mengenal dekat sosok Indah. Hanya saja saya ikut membicarakan si Indah ini bersama dengan teman-teman saya yang lainnya. Ya.. kami membicarakan si Indah ini hamil di luar nikah (sungguh omongan yang…)

Hmm…

Satu bulan setelah pernikahan Indah berlangsung dan obrolan saya juga teman-teman berlangsung. Saya mendapat informasi yang cukup mengaggetkan. Ternyata seorang Indah harus menikah karena masalah ekonomi keluarganya. Cukup klise seperti cerita di TV, tapi itulah yang terjadi. Indahlah yang kemudian menyelamatkan keluargnya dengan keikhlasannya untuk menikah dengan pilihan orang tuanya.

Pernikahan yang biasa. Indah pun sosok yang biasa. Tapi dia.. dia berjuang dan orang-orang mungkin lupa melihat bukan pernikahannya tapi perjuangnnya untuk mengikhlaskan banyak hal.
See, semua orang adalah pejuang. Bahwa kita harus melihat bahwa diri kita telah berjuang untuk apa yang kita yakini benar pun kita harus melihat bahwa semua orang punya perjuangannya sendiri yang tak kasat mata. Karena perjuangan sesungguhnya adalah yang tak tertangkap indrawi bukan?
Jadi hargailah. Hargailah kamu. Dan semua orang di sekelilingmu. Karena kamu, seperti juga saya, tak tahu persis perjuangan macam apa yang pernah dialami oleh orang-orang itu.

Seorang mahasiswi dengan kerja part time, masih bisa menyeleseikan kuliahnya tepat waktu, dan masih bisa membagi waktunya dengan pacar adalah pejuang.

Sama dengan seorang ibu kantin yang memiliki anak banyak tanpa suami yang bekerja juga pejuang.

Bahwa kamu yang masih meraih mimpi-mimpimu pun seorang pejuang.

Seorang anak yang selalu bisa mempertahankan sikap diantara mereka yang labil juga seorang pejuang.

Seorang yang rela dan mampu memendam perasaannya selama bertahun-tahun juga seorang pejuang

Apalagi saya.

Saya adalah pejuang, yang kamu mungkin belum tahu dimana letaknya :)




Karena hidup itu hakikatnya adalah berjuang maka orang-orang yang hidup dinamakan pejuang. Selamat berjuang semuanya.

Perjalanan 2013, siap? MULAI!


Kalau tidak salah, perjalan pertama saya itu adalah ketika usia saya 8 tahun. Saat itu saya berada di kelas 3 SD, ya sedang lucu-lucunya lah. Itu perjalanan singkat yang juga termasuk perjalan panjang bagi saya. perjalanan saya saat itu dalam rangka pergi berlibur ke Sukabumi, tempat dimana saya dilahirkan. Dan perjalanan itu saya lakukan seorang diri hanya dengan hanya menggunkan BIS.
Saya ingat, kala itu, orang tua saya mengantarkan ke terminal dan berpesan pada supirnya untuk menurunkan saya di terminal tertentu di Sukabumi dan berkali-kali saya dipesankan bahwa saya dilarang untuk turun dari bis untuk alasan apapun. Jika mau pipis, saya harus menggunakan fasilitas bis yang notabene itu bau dan tidak nyaman. Saya tidak diperbolehkan turun untuk makan malam, karena mama membuatkan saya bekal makanan yang cukup banyak. Yang saking banyaknya, jikapun saya harus berada di bis dalam waktu seminggupun saya tidak akan merasa kelaparan. Dan mama saya berkali-kali mengingtkan untuk langsung bertemu dengan nenek saya sesampainya di terminal. Cerewet sekali mama saat itu. Biasanya saja sudah cerewet, malam itu rasanya lebih cerewet. Mama menyampaikan rules berpergian untuk kesekian kalinya yang membuat saya ingin berkata “ya kalo ga boleh pergi sendiri, ya udah deh ma..” tapi di usia saya yang masih 8 tahun saat itu, saya hanyalah anak kecil yang hanya mampu mengagguk dan ber “iya ma..” ria.
Oh ya, mama juga menitipkan saya pada penumpang di sebelah saya. Belakangan saya tau, ternyata mama menitipkan saya pada hampir penumpang bis. Ah, kalau saya jadi penumpang bis, saya sudah bersekongkol untuk menculik saya, toh mereka sudah tau kalau saya sendiri dan usia baru 8 tahun.
Hingga perjalanan Yogyakrta-Sukabumipun berjalan dengan sempurna. Saya tiba di terminal yang dituju. Langsung melihat nenek saya dan memeluknya. Nenek saya adalah tipikal nenek yang heboh. Seperti Ida Kusuma lah, persis seperti itu dan beliau memang cukup menjadi artis di Sukabumi. Sehingga ketika saya turun dari Bis, saya seperti halnya putri yang habis berkelana mencari babi hutan. Beberapa orang di terminal menyalami saya memberikan tanda selamat. Hey hey.. saya ini hanya melakukan perjalan dari jogja menuju sukabumi yang lumrah dilakukan siapa saja bukan? Ya walaupun saya memang masih 8 tahun dan itu adalah perjalanan pertama saya. Atau saya memang pantas mendapatkan penghargaan itu atas keberanian saya melakukan perjalan sendiri ini?
Hingga bertemu seluruh keluarga, nenek saya masih sangat bangga menceritakan hal ini. Walau saya sudah memasang muka jengah juga, nenek saya masih saya sibuk bercerita.
Itulah perjalanan pertama saya di usia 8 tahun dan selanjutnya saya sadari bahwa perjalanan sesungguhnya telah dimulai. Bedanya kali ini, tanpa ada mama yang sibuk menitipkan saya kepada orang lain atau nenek saya yang sibuk menceritakan tentang betapa beraninya cucunya. Perjalanan kali ini akan lumrah adanya. Akan ada saya dan tujuan saya.
       Satu perjalanan panjang di tahun 2012 telah selesai. Saya meyakini bahwa tidak ada perjalanan yang benar-benar selesai. Karena jika benar-benar selesai maka akhiratlah tempatnya. Perjalanan panjang ini hanya mengantarkan pada satu pemberhentian ke pemberhentian yang lainnya.

Di 2012, perjalanan saya panjang adanya. Bahan bakar yang paling cepat habis dan membutuhkan resctock dari Tuhan yang maha kuasa adalah IKHLAS dan SABAR. Sungguh, dua hal itu di tahun 2012 adalah bahan bakar yang terkuras dengan cepat. Lomba demi lomba iklan, KKN, kuliah,cinta, kerjaan,  pertemanan, dan banyak lagi mengantarkan pada satu muara keihklasan. Ya apapun itu, perjalanan panjang yang penuh pembelajaran di 2012 terselesaikan juga.
Beberapa harap dan asa seperti biasa sudah tertulis seperti ritual tak wajib di hidup saya. Ya hanya agar saya mampu mengukur terminal-terminal tujuan itu sudah sempat saya kunjungi atau belum. Bahan bakar berupa semangat, ikhlas, sabar, gigih, cinta, dan semua amunisi yang bisa membuat saya mengunjungi terminal-terminal tujuan itu telah saya siapkan dengan baik. Saya pastikan itu penuh hingga akhir tahun 2013. Jika habis ditengah jalan, maka Allah yang maha melihat pasti sudah siap menyuntikan itu pada saya di setiap sujud yang pinta yang saya haturkan.

Dari keseluruhan resolusi yang saya tulis di tahun 2013, beberapa diantaranya adalah resolusi yang saya tak tahu harus bagaimana atau saya harus melakukan apa agar bisa terlakasana. Karena beberapa resolusi itu ada yang saya serahkan penuh dan saya titipkan saja jalan ceritanya pada Tuhan, biar Dia yang menuntun dan memberi jalan.
Satu lagi perjalanan telah selesai dan perjalanan lainnya sudah menunggu. Hidup. Selalu begitu.



Selamat tahun baru 2013 :)

Rabu, 31 Oktober 2012

Kamu harusnya beruntung karena kamu gagal

"Pergilah sedih, pergilah gundah, jauhkanlah aku, dari salah prasangka.
pergilah gundah, jauhkan resah, lihat segalanya lebih dekat, dan ku bisa menilai lebih bijaksana" -Sherina-

Hidup mengajarkan kita untuk bertahan. Mengajarkan betapa semua titik peluh yang dihasilkan adalah satu usaha untuk bertahan. Entah kita bertahan untuk tetap hidup, atau memang hidup yang mempunyai aturan agar kita bertahan.

Bertahan membutuhkan usaha.Usaha inilah yang akan mengajarkan kita bagaimana sebuah proses itu terbentuk. Usaha yang akan membimbing kita bahwa kelayakan dari setiap hal yang kita lakukan adalah proses untuk dihargai.

Usaha adalah keinginan. Adalah waktu yang harus dilalui. Adalah tenaga yang harus disediakan. Adalah hati yang lapang untuk menerima.

Dengan usaha itu, kita akan mengukur dengan pasti apa yang selanjutnya harus dilakukan. Usaha mengajarkan bahwa payah adalah jerih yang diperjuangkan. Waktu yang dikorbankan, tenaga yang diberikan itu semua akan bermuara pada keikhlasan kita sebagai manusia. Karena usaha akan memberikan jawaban, ya..tentu saja.

Usaha akan mengantarkan kita pada pelajaran. Pada hasil yang akan kita maknai. Pada moral yang akan kita syukuri. Pada hikmah yang tersembunyi malu-malu, menunggu untuk dipahami.

Walau kejam, namun secara pasti usaha hanya akan berbuah pada dua hal yaitu kegagalan atau keberhasilan. Keduanya adalah jawaban pasti dari sebuah usaha. Hal yang pasti akan kita rasakan. Dan yang jelas, baik kegagalan maupun keberhasilan akan punya kisahnya sendiri-sendiri.

Semua paham akan indahnya keberhasilan. Semua akan memanjatkan doa pada sebuah keberhasilan. Akan ada senyum bahagia dan hati yang berbunga yang menyambut keberhasilan.
Tapi, manusia kadang lupa. Manusia kadang khilaf, bahwa keberhasilan itu seperti racun. Jika kita tidak memiliki anti racunnya, maka matilah kita karena itu.
Sehingga tak ada yang berdoa, tidak ada yang meminta, dan sekedar berharap untuk mendapatkan kegagalan."Idih.. amit-amit" kata mereka

Manusia kadang lupa...

Manusia lupa, bahwa kegagalan adalah satu-satunya anti racun dari keberhasilan.
Manusia lupa, bahwa kegagalan adalah shock therapy yang ampuh untuk tak berlama-lama pada keberhasilan.

Mereka menangisi kegagalan dan mulai menyalahkan. 
Tapi percayalah bahwa tak akan ada yang salah dari sebuah kegagalan yang tercipta dari proses usaha.

Malah justru, kegagalan yang akan lebih sabar untuk mengajari kita untuk bertahan.
Gagal yang menampar kita untuk tahu bahwa kita sudah layak mendapatkan keberhasilan.
Gagal menyadarkan kita bahwa keberhasilan bukan hal yang mudah untuk didapatkan.
Karena kegagalan yang kelak akan membuat sebuah keberhasilan menjadi berharga.
Gagal yang membuat kita akan bersyukur pada sebuah keberhasilan nantinya.

Sesederhana itu.

Ikhlas melepas,
Rela menerima kegagalan adalah kunci bahwa kita sudah menghargai perjuangan.
Terima itu sebagai bukti bahwa Tuhan selalu tahu apa yang kita butuhkan.
Saat kegagalan datang, saat itu Tuhan ingin kita lebih dekat dengannya dan menebak apa hikmahnya.

Hanya gagal yang akan membuat kita tertunduk dan membuatmu kembali berusaha.
Karena gagal yang akan mendewasakan untuk melihat semuanya dengan lebih bijaksana.
Hanya gagal..
Jadi selamat gagal!



 31 Oktober 2012


"Berserah pasrahkan semua, pada yang kuasa. Beri yang terbaik sepenuh jiwa..."

Rabu, 17 Oktober 2012

Maaf, saya sibuk mencintai

Yang sedang saya lakukan sekarang adalah mencintai.
Itu satu-satunya aktivitas yang saya jalani saat ini.
Bagi saya, aktivitas itu tidak melelahkan, tidak juga membosankan. Hanya rasa senang dan Ketergantungan yang saya rasakan ketika melakukan aktivitas ini.

Dari sana, saya mendapati diri saya lebih banyak tersenyum.
Menjalani aktivitas ini, membuat saya lebih banyak mengucap syukur padaNya.

Langkah saya terasa ringan,
Senyum dengan mudah saya bagikan,
Dan setiap detik waktu yang berdetak seperti kumpulan cheerleaders yang bersorak sorai memberi saya semangat untuk tetap produktif.

Yang saya lakukan saat ini memang hanya mencintai.
Saya mencintai jabatan baru saya saat ini.
Karenanya membuat otak saya terus bekerja,
Karenanya membuat kreatifitas saya terasah,
Saya hanya mencintai.

Yang saya lakukan saat ini memang hanya mencintai,
Saya mencintai semua teman dan sahabat yang ada di sekeliling saya saat ini.
Yang selalu membuat saya terenyuh dengan sapaan mereka  yang tiba-tiba dan mengatakan rindu.
Dengan tawa cekikik sambil menikmati segelas jus
Dengan gosip dan cerita khas yang akan menghasilkan gelak tawa.
Saya hanya mencintai.

Yang saya lakukan saat ini adalah mencintai.
Mencintai saat di mana mama saya membangunkan saya di pagi hari untuk sholat subuh,
Saat adik lelaki saya yang paling kecil menangis kencang karena dengan sengaja, saya menyembunyikan pedang-pedangnya.
Saat ayah saya, mengelus kepala saya dengan lembut saat saya akan mulai beraktifitas di pagi hari.
Saya hanya mencintai

Yang saya lakukan saat ini adalah mencintai.
Pada peluang yang hadir
Pada kesempatan yang terbuka untuk saya
Pada hal positif yang harus saya coba
Saya hanya mencintai

Saat ini saya sedang sibuk untuk mencintai.
Hal yang dulunya tidak pernah dengan sungguh saya lakukan.

Karena dengan mencintai, saya merasa diberikan cinta yang berlimpah.
ya.
Saya hanya cukup untuk mencintai. Dan itu adalah satu-satunya kesibukan saya saat ini :)

Senin, 25 Juni 2012

hai, 21

apa formula yang membuat orang menjadi dewasa?
wajah yang bertransformasi menjadi cantik?
tubuh yang menjadi tinggi semampai?
hadirnya pasangan?
atau tersimpannya dikumen resmi atas nama kita di dompet?

atau itu semua hanya bentuk resmi sebuah kedewasaan?

lantas,
apa yang saya butuhkan untuk menjadi dewasa?
saya butuh pengalaman!
cukup itu.

tidak mudah menjadi dewasa.
kaena toh, tidak ada satupun alat ukur yang paten dapat mengukur kedewasaan.
malah seringkali kita terkecoh pada yang tampak dan kemudian berasumsi bahwa kedewasaan melekat disitu.
padahal kedewasaan justru tidak melekat pada apa-apa. Kedewasaa tampak dari apa yag bisa kita lakukan dan kerjakan.
Walau demikian, kedewasaan bisa kita kejar, selama kita mau.

saat saya membuka mata saya dini hari tadi, saya berbissik dalam hati. Sedewasa apa saya selama setahun ini?
saya dewasa?
apakah saya dewasa?
iya saya dewasa?
apa betul saya dewasa?

alih-alih saya menemukan jawaban, saya justru berkelahi sendiri untuk menentukan saya dewasa atau tidak.

at least, saya harus menjadi dewasa jika selama ini kedewasaan belum tampak nyata.

saya tak perlu harus punya pacar terlebih dahulu atau yang seperti kata hawwin "semoga, ipeh ga lesbi"
saya tak juga harus punya pekerjaan yang mapan dan mengambil semua gold di ajang periklanan tahun ini
saya tak harus berpakaian ala mbak-mbak berusia 30 tahun untuk mencerminkan itu,

saya sadar, yang harus saya perbaiki adalah bagiamaman saya menyikapi sesuatu dan bagaimana saya bersikap konsisten pada pilihan yang telah saya buat. Kedewasaan bisa tercermin dengan itu.
cukup itu.

semua pengalaman hidup di 20 tahun saya, sudah lebih dari cukup. semuanya proses mendewasakan. semua proses memiliki kesan.
dan smeuanya bermuara pada keihlasan dan ya lagi-lagi pembelajaran pendewasaan.

well, Siti Alifah Farhana Dinanta

jadilah deawasa dengan baik. Walaupun menjadi dewasa sebelum waktunya secara harafiah sudah terjadi, maka sekarang bijaklah menjadi dewasa.

tak perlu lilin, kue, atau surprise party,
yang kamu butuhkan hanyalah bijak menyikapi 21 tahun.
semoga di tahun ini, saya bisa menjalani satu per satu fikus saya di dunia iklan. Bisa lebih produktif, bisa sholat tepat waktu, bisa magang dengan baik, KKN lancar, dan semua yang baik2. AMIN!


selamat 21 tahun!
:)

NB : terimakasih untuk Fahmi si pengucap pertama. Untuk Bunda si pemberi kue. Lalu Rahadian untuk kado nya. Rima Rimbow untuk 4GB yang SANGAT berharga dan 25 Juni :)

Sabtu, 21 April 2012

Semesta

sebuah semesta



Lengkap dengan orbit, matahari sebagai pusat segala energi, planet yang memberikan kehidupan, dan segala macam porosnya.
Saya punya itu semua
Dalam kehudupan ini saya menjalankan semesta ini dengan semua komponen didalamnya.
berjalan lengkap dan saling mendukung
bintang yang bersinar dan memberikan kilau anggun
Matahari yang memberi semua sumber kekuatan yang tak pernah habis saya minta
bumi tempat saya menyandarkan segala peluh
hujan yang turun karena secara harafiah, memang harus muncul dan jatuh.
dibarengi dengan muncul pelangi untuk mengusap segala kesedihan.

poros yang saya buat berjalan tanpa menabrak semuanya.
sempurna.
indah
walau tidak teratur.

seorang teman bertanya bagaimana saya akan bertemu dengan lelaki? bagaimana saya akan berhubungan dengan lelaki?

simple saya jawab. lelaki itu tidak boleh merubah tatanan tata surya yang telah ada.

jangan rusak tatanan tata surya saya.
jangan ganggu matahari yang telah saya percaya untuk memberi kekuatan
jangan gantikan bintang yang selalu mampu membuat saya tersenyum
jangan rusak bumi sebagai tempat saya bersandar
biarkan hujan itu turun,
jangan hapus pelangi.
yang terpenting jangan buat poros itu bertabrakan.
jangan.

semesta ini adalah otoriter milik saya tanpa intervensi siapapun.

"lantas bagaimana?" kata teman saya

percayalah bahwa semua orang selalu punya semestanya sendiri.
semua punya tatanan tata suryanya sendiri
semua punya orbit yang telah berputar sesuai porosnya dengan baik
tanpa harus diganggu.

lelaki itu, akan bisa bersatu dengan semesta milik saya tanpa merusak tatanannya
sayapun mampu masuk pada semsetanya tanpa merusak poros yang telah dibuatnya

kita akan membuat galaksi bersama.
saya dan dia
semesta saya dan semestanya
dengan poros yang berjalan sinergi


saya menunggu saat dua semesta itu terbentuk.



Rabu, 04 April 2012

keluarga kecil 42

Apa jadinya hidup tanpa kita tidak lagi harus mengingat besok shift apa dan dimana.
Apa jadinya hidup tanpa kita tidak lagi merasakan handphone yang ramai karena jarkoman
Apa jadinya hidup tanpa kita bertanya “siapa SPV nya?”
Apa jadinya hidup tanpa kita tidak bisa lagi menyantap nasi urap, nasi usus, nasi langgi, capcay goreng warung ijo?
Apa jadinya hidup tanpa kita tidak lagi bisa menyebut kata ON DUTY.
Apa jadinya hidup setelah 8 bulan dan kita lalui semuanya bersama.
Life must go on?
As simple as that?

Saya berjajnji untuk tidak menangis kali ini. At least saat menulis ini deh (karena ketika nanti saya mebaca tulisan ini nanti atau beberapa tahun lagi, saya tentu tidak bisa menjamin bagaimana egoisnya arimata akan keluar)

Tulisan ini saya tujukan untuk 31 anak yang tergabung dalam gardep 42.

Saya tidak pernah peduli apa yang orang katakan tentang angkatan kita.

Jikapun ada yang mengatakan angkatan kita menjadi angkatan yang paling rebel. Saya akan menanggapi dengan senyum.
Jikapun ada yang berkata angkatan kita angkatan bisa merubah tradisi. Saya juga akan tersenyum.
Jikapun ada yang mengatakan angkatan kita adalah angkatan yang paling soilid. Saya juga akan tersenyum untuk menjawab.
Mengapa? Karena saya tidak peduli apa yang mereka katakan.
Bagi saya, tidak ada yang tahu betul apa yang saya dan 31 anak ini rasakan.
Menjadi teman itu mudah. Menjadi keluarga? Itulah kami.
Untuk itu izinkan saya menulis sesuatu tentang kita.
Sesuatu yang ketika dibaca, kapanpun iyu, akan menarik kita pada sebuah memori.



Hai 42,
Sadarkah betapa banyaknya sumber tenaga yang kalian hasilkan?
Tanpa sadar kalian mampu membuat banyak tenaga yang tadinya low menjadi full

Sadarkah  berapa banyaknya sentuhan yang kkita berikan?
Tanpa sadar kita saling memberi sentuhan sebagai tanda peduli, sebagai tanda kita ada, sebagai tanda  kita keluarga. Sebagai tanda apapun..

Sadarkah berapa banyak nasihat yang kalian keluarkan?
Tanpa sadar semua nasihat dan solusi kalian ciptakan tanpa perlu merasa terbebani untuk memberi itu.

Sadarkah kalian, berapa banyak cinta yang telah terjadi?
Tanpa sadar kita menanan cinta dan kini kita menuai untuk entah kapan. Karena saya yakin itu tidak akan pernah habis

Sadarkah kalian, berapa banyak kesedihan yang malam itu kita rasakan?
Tanpa sadar kita akan kehilangan itu. kita dipertemukan. Dan kini kita mau tidak mau, suka tidak suka harus melangkah ke jengjang kehidupan lainnya. Kita harus melangkah ke fase kehidupan yang lainnya. Dan itu, tanpa kalian.

Dan itu…

Tanpa kalian.

Kita akan melangkah dan beradpasi dengan yang baru lagi. Itu mungkin yang kita tangisi.
Jangan menangis lagi 42.
Jangan gamang.
Ingat, betapa kita menanam cinta. Dan kemudian sekarang kita menuai.
Sampai kapanpun, kita 42.
Thanks god, I’m 42

Dedikasi untuk 32 anak luar biasa yang saya temui dalam hidup.


Sabtu, 03 Desember 2011

yang saya...

sesuatu yang entah apa namanya...
yang jelas sangat mengganjal, dan biarkan saya bercerita tentang sesuatu-yang-entah-apa-ini

saya merasa begitu kecanduannya menerima telfon tengah malam yang dengan suaranya yang menghipnotis, bisa membuat saya tertidur dengan senyum.
bagian yang saya suka adalah ketika dia berkata "tidur ya.. itu udah ga bisa nafas begitu" karena sinus saya yang kambuh hampir tiap malam.

saya merasa harus menatapnya selagi saya bisa menatapnya. dan itu membuat saya tenang dan nyaman no matter happen .
bagian yang saya suka adalah ketika kemudian dia juga kembali menatap dan tersenyum juga.

saya merasa harus tersenyum ketika berpapasan dengannya atau ketika pesan singkat itu hadir di handphone saya.
bagian yang suka adalah cara kamu yang dengan-apa-juga-saya-bingung bisa membuat saya tersenyum

diantara seringnya pembicaraan malam kita.
kadang kita sering terdiam karena kehabisan topik
diantara banyaknya pulsa yang terbuang tapi tak pernah sekalipun kita menyinggung tentang "harus dibawa kemana hubungan kita"
bagi saya, dan mungkin bagi kamu juga. nyaman yang seperti ini sudah teramat cukup.

atau mungkin kita yang akan bingung jika harus dipusingkan dengan "bagaimana dengan dia, bagaimana dengan saya, bagaimana dengan kita"

mungkin juga karena kita tak ingin harus merusak nyaman yang ada hanya untuk masalah tipikal menganai "harus dibagaimanakan kita"

saya harus menangis ketika saya tau, tak ada lagi kamu di hari saya.
yang saya benci adalah ketika kamu mengusap air mata

saya merasa harus menagih sebuah janji itu, hanya supaya saya punya cara untuk tetap terikat denganmu
yang saya benci adalah ketika kamu mengiyakan janji itu dan berjanji mengabulkan janji itu untuk saya.

tapi saya merasa tak harus mengatakan ini.
saya tak perlu mengatakan betapa takutnya saya.
kalau saya terjebak di kamu.

dan kalaupun kamu terjebak di saya.

Jumat, 18 November 2011

moment kecil

Captain jack, JEC, takoyaki, jamur chrispy.
tanggal 11.11.11
bicara tentang mimpi, masa depan, magang, anak dan kerandoman lainnya.
disekililing kita hujan turun rintik dengan malu.

semoga tulisan ini tak pernah kau sentuh.
kalaupun iya.
jangan dibahas.
deal?

just wanna say,
thank you, untuk moment kecilnya :)

Kamis, 27 Oktober 2011

Un-status

alasan paling masuk akal ketika mereka bertanya "kenapa masih sendiri" adalah karena belum ada alasan yang tepat untuk "berdua"
itu yang ingin saya sampaikan pada postingan kali ini

orang kadang tidak paham. orang kadang menganggap aneh.
tapi,
saya tidak peduli.

kesalahan demi kesalahan yang dilakukan hati saya, seperti tamparan bagi otak.
actually, saya mengutuk mengapa hati selalu punya logika sendiri dan itu tak pernah sejalan dengan pikiran?
How come?
hati dengan mudah mengendalikan otak?

"jadi ini tentang kamu yang sok-sok an anti komitmen Peh?"
"bukan, ini tentang status.."

kadang saya menjalanai hubungan dengan orang, entah itu teman, lawan jenis, demgan lebih tua, dan saya ga paham saya menjalani hubungan macam apa.

teman? bukan. terlalu sederhana
pacar? bukan terlalu jauh
Teman tapi mesra? enggak mesra kok, cuma perhatian
selingkuhan? mungkin, tapi enggak ah
hubungan tanpa status? NO! semua hubungan itu punya statusnya tapi ga ada dalam kamus bahasa Indoensia

pertemanan saya dengan 7 anak komunikasi dinamakan binaling. binaling itu apa? itu status yang kemudian dijadikan nama.
hubungan sama dengan Udjang Fahmi dinamakan racun. Racun itu apa? ya status.
hubungan saya dengan kamu?

status itu un-definited
saya baru tau hubungan itu seperti, setelah dijalani

"wah Peh.. tapi status itu tetep perlu"
" iya perlu, Perlu kalau kamu mau dengan sadar mengikatkan diri pada hak dan kewajiban. secara sadar atau tidak"
"berarti kamu ga perlu status? ntar ga jelas peh hubungannya apa.."
" iya sih. tapi bukan status dulu yang dibentuk. tapi hubungannya dulu yang dibentuk"

bagi saya ya itu...

bentuk dulu hubungannya,
endapkan dulu rasanya,
eratkan dulu chemistrynya,
baru status itu akan terbentuk

dan saya menyukai dengan sangat salah satu percakapan di film 500 day's of summer ini. MUCH :)


McKenzie: So do you have a boyfriend?


Summer: No.

McKenzie: Why not?


Summer: Because I don’t want one.


McKenzie: Come on; I don’t believe that.


Summer: You don’t believe that a woman could enjoy being free and independent?


McKenzie: Are you a lesbian?


Summer: No I’m not a lesbian. I just, don’t feel comfortable being anyone’s girlfriend. I don’t actually feel comfortable being anyone’s anything.


McKenzie: I don’t know what you’re talking about.


Summer: Really?


McKenzie: Nope.


Summer: Ok, let me break it down for you–


McKenzie: Break it down!


Summer: Ok. I, like being on my own. I think relationships are messy and people’s feelings get hurt. Who needs it? We’re young, we live in one of the most beautiful cities in the world; might as well have fun while we can and, save the serious stuff for later.




as simple as that 




-500 day's of summer-
© RIWAYAT
Maira Gall