Kamis, 20 Desember 2012

Tepat itu tetap.

Pada kesempatan yang bersembunyi, saya ingin mengingatkannya.
Pada rasa yang masih meraba, saya ingin menegaskannya.
Pada keinginan yang masih mencari, saya ingin menyampaikannya.

Bahwa..

Jauhkanlah pada yang semestinya.
Dekatkan pada yang seharusnya.
Dan yakinkan.

Ada sabar tak terhingga disini untuk menanti yang tepat.
Pastikan itu tepat karena kalau tidak maka akan ada jera.
Tak perlu terburu, karena itu bisa menjadi sesal.
Pada waktu, semoga ia menyiapkan saat yang tepat untuk mempertemukan.
Untuk yang tepat maka menunggu adalah permainan yang harus dimenangkan..

Tenangkan hati.
Luaskan sabarnya.
Beri waktu yang sempurna.
Simpan dengan baik untuk yang tepat.
Dan pertemukan pada satu kesempatan yang manis.
Pada satu kebetulan yang dirancang olehNya.

Jadi tenang-tenanglah dulu hati,
tak usah banyak mengebu.
Santai-santai sajalah dulu akal,
Tak usah banyak memburu.
Yang tepat itu tetap, akan stagnan dan tidak akan berlari.
Dia yang tepat, diam pada waktu dan kesempatan yang tepat.
Yakini itu.
:)


Senin, 03 Desember 2012

Kebetulan

Efek rumah kaca malam ini menyendukan pikiran dan hatinya dengan lumat.
Liriknya mengatakan bahwa jatuh cinta itu biasa saja.
Dia bertanya, apa memang seharusnya jatuh pada cinta itu sesuatu yang biasa saja?

Dia menatapnya. Tapi hanya punggung.
Awas dia mengawasi dan mengintip hidupnya. Tidak banyak, tapi dia tahu apa yang dia suka dan dia tengah geluti.
Dia menatapnya. Tapi hanya punggung.
Sebuah kolom pencarian nama di berbagai jejaring sosial sudah berteriak bosan padanya karena lagi dan lagi harus menerima nama yang sama. Hobi sekali dia mengintipnya.

Dia menatapnya. Tapi hanya punggung.
Hingga hatinya kadang bergoyang-goyang genit. Hingga hatinya mengalami demam.

Dia yang bodoh akan kode. Dia yang merasa bahwa semua hal di dunia adalah kode yang harus dipecahkan. Layaknya cerita horor, dia percaya dari setiap yang terjadi dalam kehidupan ini adalah misteri yang harus dipecahkan.
Tapi dia adalah si bodoh yang tak pernah mahir menebak kode.

Dia melihatnya.
Dengan sengaja menyempatkan waktu untuk melihatnya memakai toga wisuda. Kesengajaannya adalah untuk mengentaskan rasa ingin tahu yang mengebu. Baginya cukup.

Dan Tuhan sempat membalasnya untuk kedua kalinya.
Tepat saat dia tak memikirkan apa-apa lagi tentangnya, tepat saat dia berhenti mengintip hidupnya, tepat saat dia tak lagi ingin tahu tentangnya, tepat saat itulah Tuhan memainkan kuasaNya untuk membuat kode. Dibuatlah seperti kebetulan. Kebetulan yang kebetulan.
Mungkin karena Tuhan tahu bahwa dia bodoh akan kode, jadi semuanya terlihat kebetulan.
Ya, Tuhan mempertemukan lagi dia dengannya. Dengan jarak hanya empat langkah. Tanpa dia mampu berbuat apa-apa. Hanya mampu menatap.
"Tuhan memang cerdik" katanya dalam hati.

Kini dia lunglai,
Jika bisa dia berdoa, dia ingin menyudahi kelunglaian hati dan pikirannya yang aneh ini.
Kata hatinya jelas berkata "bahkan mengenalnya pun kamu tidak"
Kata logikanya jelas berkata "Layakpun belum tentu. Pantaspun kamu tak yakin"

Dia menatapnya. Tapi hanya punggung.

Padahal, saat dia sibuk menatapnya, seorang lain sibuk menatap dirinya. Tapi hanya menatap punggungnya, sama seperti yang dia lakukan padanya.

Jadilah, saling tatap menatap punggung ini dimulai. Dia yang menatap dia sedang ditatap pula oleh dia.
Andai saja dari mereka ada yang mau berbalik arah.
Andai dari mereka ada yang ikhlas memalingkan tatapan.
Mungkin mata akan bertemu mata, bukan lagi punggung.
Mungkin akan sepasang mata yang bertemu.
Andai saja.
tapi..

Yang terjadi adalah mereka menunggu agar para punggung itu mau berbalik badan dan menunjukan wajahnya.
Mereka menunggu. Mereka berharap. Klaim mereka adalah menuggu merupakan satu-satunya usaha. Padahal jika mereka merasa jatuh dalam cinta maka mereka harus berkenalan pada kepastian dan kenyataan.
Dan jadilah, mereka saling tatap menatap punggung. Untuk waktu yang...

Yang itulah masalahnya. Mau sampai kapan tatap menatap punggung ini selesai?



"selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam.
semoga ada, yang menerangi sisi gelap ini, 
menanti seperti pelangi menunggu hujan reda" Efek Rumah Kaca

Rabu, 14 November 2012

Kali ini, aku bacaanmu

Ini seperti membaca buku.
Kegiatan yang kamu sukai kan?
Kamu bisa tenggelam dalam ratusan paragraf dan terhanyut pada tanda baca yang membuatmu enggan diusik oleh kejadian paling penting sekalipun.

Ini hanya seperti membaca buku.
Kegiatan yang kamu gemari kan?
Kamu melakukannya untuk meladeni waktu yang berjalan lambat. Atau waktu yang berjalan membosankan. Atau menemanimu melintasi waktu.

Ini hanya seperti membaca buku.

Kumohon, ini hanya sesederhana seperti kamu membaca buku.
Seperti saat kamu melakukan kegiatan kesukaanmu itu.

Ijinkan saya menjadi bagian yang kamu baca.
Sama selayaknya sebuah buku.

Karena mungkin, aku akan menjadi buku  favoritmu dan akan kamu beri sampul dan taruh di rak kaca paling atas.
Karena mungkin, aku akan menjadi buku yang lecek dan usang karena selalu kamu baca berulang-ulang kali.
Karena mungkin, aku bisa menjadi buku yang covernya paling memikat dan kamu pamerkan kepada teman-temanmu.
Atau..
Aku bisa jadi buku yang paling tidak menarik yang pernah kamu baca dan kamu berhenti membacanya di halaman yang baru mencapai belasan. Dan kamu tidak pernah berniat membacanya lagi.
Atau aku menjadi buku yang begitu membingungkan hingga kamu harus membaca dengan serius dan setelah selesai, kamu akan menaruhku disembarang tempat.
Atau kamu bisa menjadikan aku buku yang tak akan pernah kamu ingat karena membosankan.


Mungkin kamu akan keranjingan membacaku, atau mungkin tidak.
Mungkin kamu akan mencermati setiap kata dan rentetan kalimat, atau mungkin tidak.
Mungkin kamu akan tersenyum saat tahu kisahku, atau mungkin tidak


Tapi, kamu tidak akan pernah tahu bukan?
Tidak, sebelum kamu membaca!

Jadi bacalah dulu.
Kuhomohon..
Cobalah dulu untuk membaca aku.
Denotatif atau konotatif, apapun. Tapi ijinkanlah aku menjadi hal yang kamu baca.
Niatkanlah sejenak.

Dan setelah itu,
Kamu boleh bersikap apapun, bertindak apapun, dan melakukan apapun seperti layaknya sebuah buku.

Ya berikanlah kesempatan padaku agar bisa menjadi yang kamu baca.

Sungguh,
Ini hanya seperti kamu melakukan kegiatan yang kamu sukai itu.
Ini hanya seperti saat kamu tenggelam dalam asiknya membaca.
sungguh hanya sesederhana ini.



Cobalah.
Aku mohon.

Senin, 12 November 2012

Konspirasi Anatomi

If I don't try and I don't hope

jatuh cinta memang tentang konspirasi.
saat mata tiba-tiba tidak berkedip
saat jantung tiba-tiba berdegup lebih cepat
saat mulut tiba-tiba mengeluarkan suara jeritan yang tertahan
saat tangan tiba-tiba lemas
dan saat otak sibuk mencari tahu 'siapa dia'

Jatuh cinta memang konspirasi anatomi tubuh.

Saya termasuk yang tak sering merasakan kosnpirasi ini.
Orang bilang saya selektif. Tapi bagi saya jatuh cinta itu bukan tentang selektif tapi tentang kesempatan.
Dan kesepatan seperti ini memang tak sering hinggap pada saya.

Saya tidak mengenalnya. Walau orang-orang disekitar saya mengenalnya.
Lucu memang, saat orang jatuh cinta pada pandangan pertama tapi saya justu jatuh cinta pada stalking yang pertama.


Ini tepat 2 minggu, saya mengawasinya dalam diam.
Melihatnya menulis tweet dan berharap ada kode tersembunyi walaupun nyatanya tidak.
Ini tepat 2 minggu saya saya mengganggu sahabat saya dengan ocehan tentang dia.


Saat anatomi telah berkonspirasi.
Kini saatnya saya berharap semesta ikut melakukan konspirasinya.
Buatlah senatural mungkin wahai semesta, agar saya bisa dan berani untuk..
Untuk...

berkenalan. 

Jumat, 02 November 2012

Mungkin


"bagaimana kalau aku ingat kamu suatu saat nanti?"

"Bagus kan? itu menandakan pernah ada kita di masa lalu"

"Lantas, bagaimana jika aku rindu kamu suatu saat nanti?"

"Beritahu saja aku, saat itu terjadi"

"Untuk?"

"Untuk memastikan, bahwa kamu tidak menanggungnya sendiri dan kita bisa membagi rindu itu"

"Jadi kita berpisah?"

"Hmm.. mungkin kita hanya menunggu untuk kembali saling ingat dan saling rindu"

"Mungkin..."

"Mungkin..." 


Rinduku padamu itu sebanding dengan rasa benciku padamu.
Rinduku padamu ini, selabil cuaca Jogja saat ini.
Rinduku padamu ini mengantarkan pada entah kemana dan entah apa.

Mungkin kamu bertanya, bagaimana caraku bertahan untuk mengabaikan semua pesan dan sapaan singkatmu. Karena aku membiarkan titik yang bekerja bukan lagi koma.

Saat aku ingat, kamu menelfonku, saat aku terisak dengan semua masalah yang ada. Dan kamu tak pernah sekalipun memberikan kata-kata hangat. Hanya berkata "Ya udah sih" tapi justru itu yang menguatkan.
Saat sesekali aku mengetik namamu di kolom pencarian.
Saat aku sakit dan harus ingat bagaimana kamu yang menanyakan kabarku.
Saat... saat aku ingat kamu atau bahkan rindu,
Adalah saat dadaku dipukul oleh entah apa. Dan aku benci!

Tapi kepedihan itu hanya sesekali saja.
Sesekali mengoda.
Sesekali hadir.
Hanya sesekali.

Sesekali seperti hari ini.

Rabu, 31 Oktober 2012

Kamu harusnya beruntung karena kamu gagal

"Pergilah sedih, pergilah gundah, jauhkanlah aku, dari salah prasangka.
pergilah gundah, jauhkan resah, lihat segalanya lebih dekat, dan ku bisa menilai lebih bijaksana" -Sherina-

Hidup mengajarkan kita untuk bertahan. Mengajarkan betapa semua titik peluh yang dihasilkan adalah satu usaha untuk bertahan. Entah kita bertahan untuk tetap hidup, atau memang hidup yang mempunyai aturan agar kita bertahan.

Bertahan membutuhkan usaha.Usaha inilah yang akan mengajarkan kita bagaimana sebuah proses itu terbentuk. Usaha yang akan membimbing kita bahwa kelayakan dari setiap hal yang kita lakukan adalah proses untuk dihargai.

Usaha adalah keinginan. Adalah waktu yang harus dilalui. Adalah tenaga yang harus disediakan. Adalah hati yang lapang untuk menerima.

Dengan usaha itu, kita akan mengukur dengan pasti apa yang selanjutnya harus dilakukan. Usaha mengajarkan bahwa payah adalah jerih yang diperjuangkan. Waktu yang dikorbankan, tenaga yang diberikan itu semua akan bermuara pada keikhlasan kita sebagai manusia. Karena usaha akan memberikan jawaban, ya..tentu saja.

Usaha akan mengantarkan kita pada pelajaran. Pada hasil yang akan kita maknai. Pada moral yang akan kita syukuri. Pada hikmah yang tersembunyi malu-malu, menunggu untuk dipahami.

Walau kejam, namun secara pasti usaha hanya akan berbuah pada dua hal yaitu kegagalan atau keberhasilan. Keduanya adalah jawaban pasti dari sebuah usaha. Hal yang pasti akan kita rasakan. Dan yang jelas, baik kegagalan maupun keberhasilan akan punya kisahnya sendiri-sendiri.

Semua paham akan indahnya keberhasilan. Semua akan memanjatkan doa pada sebuah keberhasilan. Akan ada senyum bahagia dan hati yang berbunga yang menyambut keberhasilan.
Tapi, manusia kadang lupa. Manusia kadang khilaf, bahwa keberhasilan itu seperti racun. Jika kita tidak memiliki anti racunnya, maka matilah kita karena itu.
Sehingga tak ada yang berdoa, tidak ada yang meminta, dan sekedar berharap untuk mendapatkan kegagalan."Idih.. amit-amit" kata mereka

Manusia kadang lupa...

Manusia lupa, bahwa kegagalan adalah satu-satunya anti racun dari keberhasilan.
Manusia lupa, bahwa kegagalan adalah shock therapy yang ampuh untuk tak berlama-lama pada keberhasilan.

Mereka menangisi kegagalan dan mulai menyalahkan. 
Tapi percayalah bahwa tak akan ada yang salah dari sebuah kegagalan yang tercipta dari proses usaha.

Malah justru, kegagalan yang akan lebih sabar untuk mengajari kita untuk bertahan.
Gagal yang menampar kita untuk tahu bahwa kita sudah layak mendapatkan keberhasilan.
Gagal menyadarkan kita bahwa keberhasilan bukan hal yang mudah untuk didapatkan.
Karena kegagalan yang kelak akan membuat sebuah keberhasilan menjadi berharga.
Gagal yang membuat kita akan bersyukur pada sebuah keberhasilan nantinya.

Sesederhana itu.

Ikhlas melepas,
Rela menerima kegagalan adalah kunci bahwa kita sudah menghargai perjuangan.
Terima itu sebagai bukti bahwa Tuhan selalu tahu apa yang kita butuhkan.
Saat kegagalan datang, saat itu Tuhan ingin kita lebih dekat dengannya dan menebak apa hikmahnya.

Hanya gagal yang akan membuat kita tertunduk dan membuatmu kembali berusaha.
Karena gagal yang akan mendewasakan untuk melihat semuanya dengan lebih bijaksana.
Hanya gagal..
Jadi selamat gagal!



 31 Oktober 2012


"Berserah pasrahkan semua, pada yang kuasa. Beri yang terbaik sepenuh jiwa..."

Rabu, 17 Oktober 2012

Maaf, saya sibuk mencintai

Yang sedang saya lakukan sekarang adalah mencintai.
Itu satu-satunya aktivitas yang saya jalani saat ini.
Bagi saya, aktivitas itu tidak melelahkan, tidak juga membosankan. Hanya rasa senang dan Ketergantungan yang saya rasakan ketika melakukan aktivitas ini.

Dari sana, saya mendapati diri saya lebih banyak tersenyum.
Menjalani aktivitas ini, membuat saya lebih banyak mengucap syukur padaNya.

Langkah saya terasa ringan,
Senyum dengan mudah saya bagikan,
Dan setiap detik waktu yang berdetak seperti kumpulan cheerleaders yang bersorak sorai memberi saya semangat untuk tetap produktif.

Yang saya lakukan saat ini memang hanya mencintai.
Saya mencintai jabatan baru saya saat ini.
Karenanya membuat otak saya terus bekerja,
Karenanya membuat kreatifitas saya terasah,
Saya hanya mencintai.

Yang saya lakukan saat ini memang hanya mencintai,
Saya mencintai semua teman dan sahabat yang ada di sekeliling saya saat ini.
Yang selalu membuat saya terenyuh dengan sapaan mereka  yang tiba-tiba dan mengatakan rindu.
Dengan tawa cekikik sambil menikmati segelas jus
Dengan gosip dan cerita khas yang akan menghasilkan gelak tawa.
Saya hanya mencintai.

Yang saya lakukan saat ini adalah mencintai.
Mencintai saat di mana mama saya membangunkan saya di pagi hari untuk sholat subuh,
Saat adik lelaki saya yang paling kecil menangis kencang karena dengan sengaja, saya menyembunyikan pedang-pedangnya.
Saat ayah saya, mengelus kepala saya dengan lembut saat saya akan mulai beraktifitas di pagi hari.
Saya hanya mencintai

Yang saya lakukan saat ini adalah mencintai.
Pada peluang yang hadir
Pada kesempatan yang terbuka untuk saya
Pada hal positif yang harus saya coba
Saya hanya mencintai

Saat ini saya sedang sibuk untuk mencintai.
Hal yang dulunya tidak pernah dengan sungguh saya lakukan.

Karena dengan mencintai, saya merasa diberikan cinta yang berlimpah.
ya.
Saya hanya cukup untuk mencintai. Dan itu adalah satu-satunya kesibukan saya saat ini :)
© RIWAYAT
Maira Gall