Selasa, 21 Mei 2013

Senja



"Kamu tau kenapa senja itu hanya sebentar? karena untuk yang berharga, kita harus berusaha mengejarnya. Paham?"

Matahari sudah akan berkemas dan benda malam mungkin tengah bersiap. Diantara seluruh waktu yang ada, senja adalah favoritku. Tak ada terik, tak juga gelap, malah terkesan indah karena senja memberikan semburat warna jingga yang menyenangkan untuk dilihat.
Senja selalu enak dipandang, gradasi warna yang diciptakan oleh senja itu jenius. Belum lagi ketika matahari turun, seakan langit tengah mengadakan parade lukisan yang gratis dinikmati. Pernah ada yang bertanya mengapa senja tidak diperpanjang saja, tapi bagiku dengan singkatnya waktu senja inilah yang membuat senja semakin dinanti. 
Senja juga menimbulkan efek perasaan nyaman tak terkatakan. Rasanya dapat melihat senja itu adalah bonus dari Tuhan. Terlebih saat hari itu matahari bekerja dengan terlalu bersemangat atau hujan mengguyur tanpa ampun. Karena tak peduli panas atau hujan, sensasi senja selalu tak terduga. Senja selalu cantik dimataku.
Karena saat senja, awan bergumul dan memberikan lukisan langit yang cantik. Ditambah juga dengan angin yang bertiup. Angin senja itu selalu membuat rambutku tertiup, dan aku selalu suka saat rambutku tertiup dan menghasilkan efek berantakan.

Saat senja kamu datang.

Ini entah untuk berapa kali, kita akan berbicara. Tentang apa yang hati kita risaukan.
Aku menggunakan terusan berwarna merah dengan rambut tergerai sempurna, sepatu flat dengan tas selempang bercorak bunga. Aku berkata dalam hati dan meyakininya bahwa aku siap dengan percakapan ini.

“ini waktu yang mepet. Bentar lagi magrib, sekalian malem aja kenapa sih? Kebiasaan!”

Katamu tanpa basa-basi dan duduk disebelahku. Kamu dengan wajah tenang, menggunakan flannel kotak-kotak dengan daleman kaos berwarna hitam, jins belel, tas ransel, sepatu convers, lengkap dengan parfume yang sedikit pasaran. Aku jatuh cinta padamu, aku tak berbohong untukyang satu ini.
Kamu langsung duduk disebelahku, menatap, dan dan merapikan rambutku yang sepertinya sempurna acak-acakan.

Aku memeluk lenganmu, tenang namun erat. Rambutku berantakan tertiup angin senja, namun semua terasa hangat ketika kepalaku menyentuh pundakmu. Aku tak tahu apakah kamu tahu bahwa pundakmu dan senja adalah dua hal yang bagiku bagai surga dunia? Tidak ada yang lebih nyaman bagiku selain pundakmu yang kunikmati sendiri dengan senja yang memeluk kita. Ah, senjaku sempurna!

Saat senja dan kamu datang.

Biasanya, aku tak mengharapkan apa-apa dari kedatanganmu. Biasanya… tapi tidak kali ini. Jika harus menodai senja yang selalu aku agungkan, aku siap.

“kamu bisa apa, kalau ini pelukan terakhirku?”
Tanyaku tanpa menatap matamu. Aku hanya takut jika hatiku semakin rontok dan niatku kandas.
“aku bosan! Kali ini apa lagi yang kamu takutkan?” katamu dengan nada yang datar.
“aku kan cuma tanya..”
“kenapa kamu harus berandai sih? Kita sama-sama tahu bahwa kita akan semakin menghitung mundur pada kenyataan dimana kamu ga bisa lagi memelukku”
“kalau itu hari ini?”
Dia melepaskan lembut pelukanku, langsung menghadapku dan siap memberikan pelukan, tapi urung.
“kamu menyerah?”
“Lantas, beritahu aku, kita berjuang untuk apa?”

Akupun bosan, sama seperti bosanmu. Aku jengah, sama seperti jengahmu. Aku merasa kebas, sama seperti kebasmu. Tapi jika kamu yang enggan melepas, maka biarkan aku dan senja ini yang melepas.
Melepas kita...

Aku berdiri, dengan senja yang menonton, angin yang tampak salah tingkah harus meniupkan udara. Air mataku menetes seiring dengan matahari yang mulai meninggalkan waktu kerjanya. Ya Tuhan, aku tidak tahu ini betul atau salah, yang aku tahu, aku lelah...

Kita sama-sama tahu, bahwa hari ini akan tiba.

Kita sama-sama tahu, bahwa kita hanya memperpanjang waktu.

Kita sama-sama tahu. 

Bahwa senja ini bukan untuk kita lalui bersama.

Kamu seharusnya sadar pada besarnya kepura-puraan yang kita hadapi sekian lama ini. Kamu seharusnya tahu pada bagaimana aku mencoba bertahan dengan kita dan kamu yang selalu acuh.
Kamu seharusnya sadar betapa luasnya hatiku yang selalu mencoba mengabaikan denial diantara kita
Kamu seharusnya tahu...
Betapa harus aku mengabaikan perasaan bahwa aku menikmati senja ini dengan bersembunyi.
Aku bersembunyi dari kenyataan.
Tapi kamu tidak pernah sadar...

Saat senja dan kamu datang. 
Saat itulah aku merasa bahwa seluruh semangatku berguguran terbawa angin. Aku mencintaimu, dan itu ternyata tidak cukup.

Itu waktu yang selalu aku rindukan. Denganmu, tawa ini akan terasa lebih semerbak. Denganmu, tangisku terasa hangat. 
Kamu, pundakmu, dan senja adalah bukti bahwa cinta itu bisa tumbuh pada ruang ketidakmungkinan yang paling tidak mungkin.
Itu senja terakhir yang aku bagi denganmu.

Senja kali ini aku berdiri,
dengan terusan panjang berwarna biru, jaket berwarna senada. Aku mengkuncir rambutku rapi, tak ingin angin membuatnya berantakan. 
Kali ini aku menikmati senja dengan kenangan senja bertahun silam. Saat aku masih dengan egosi menikmati pundakmu.

Dear senja, aku rindu...





NB : Pada semua kenangan yang menggangggu. Untuk semua orang menganggapnya begitu.

#7
#31harimenulis
#bagian2

Senin, 20 Mei 2013

RANDOM #1

Hari ini cukup menyenangkan. Selain karena hari ini unisi berulang tahun ke 38, cuaca hari ini mendung-mendung dengan sensasi kantuk tiada tara yang membuat mata mudah tergoda untuk tidur. Kemudian, tanpa direncanakan, hari ini kantor pulang cepat. Hal yang amat saya syukuri, Saya dengan cepat langsung bertemu beberapa keluarga tamleho. Kami ngobrol hangat dan dilanjutkan dengan makan malam bersama. sekian.

NB : Untuk orang-orang yang merayakan pulang sebelum senja benar-benar turun.
 
#6
#31harimenulis
#bagian2

Minggu, 19 Mei 2013

Zam Alfaris si pria behelan yang alay!

"We had the best years of our live"



Ini adalah salah satu partner in crime saya. Selama hampir satu tahun di Unisi Radio semenjak kami berdua diangkat menjadi program director team, zam ini adalah partner yang sempurna bagi saya. Saya yang membuat konsep dan script juga ide, dan zam ini yang bisa mewujudkan menjadi bentuk eksekusi yang keren!
Menyenangkan bisa mengenal zam alfaris.
Sewaktu saya memiliki masa-masa berat karena harus melanjutkan kehidupan selanjutnya, zam adalah orang yang saya cari untuk menenangkan diri.
Apalagi waktu saya sedang drop, zam ini selalu bisa membuat saya menjadi lebih baik. Entah karena guyonan yang dia berikan atau karena zam yang alay ini menraktir saya sesuatu.
Zam alfaris ini orang yang ceroboh, ada saja barang-barangnya yang hilang. Dompet yang berisi uang jutaan rupiah untuk membayar pengobatan ayahnya. Dan terakhir balckberrynya dia hilang di JEC. Ah.. ada-ada saja..
Untuk urusan wanita, zam ini tidak begitu beruntung. Beragam wanita yang coba didekatinya tak ada satupun yang berhasil. Hahahaha..
Zam adalah orang yang selalu sering pergi ke gym dan menginginkan untuk kurus! Mari kita doakan bersama.
Walau dia ini pemalu dan sering minder, jauh dari itu, zam ini orang yang humoris dan sangat baik hati! Beneran deh.
Saya dan zam adalah dua orang yang berjuang membenahi program unisi. Dengan segala keterbatasan yang ada, kita saling bahu membahu untuk memperbaiki semuanya. Itu yang membuat saya merasa bersemangat bekerja untuk Unisi.

Kami berdua sering membagi mimpi. Dan kami berencana di awal tahun kami merantau ke Jakarta.
Mari berjuang zam!

NB : Untuk zam alfaris, dalam rangka ulang tahun Unisi ke 38. Walau belum sempurna, tapi sejauh ini, kita melakukan yang terbaik bro *toss

#5
#31harimenulis
#Bagian2

Sabtu, 18 Mei 2013

19 Pencipta Kenangan

"But, I miss the thing, Are we ever gonna feel the same?" Calvin Harris

Hampir setahun yang lalu saya bertemu dengan mereka. Mereka yang sekarang menjadi sebuah keluarga baru bagi saya. Kami ber20 pernah mengarungi bersama ribuan kilometer, menembus belantara hutan, dan juga berjemur hingga kulit kami kecoklatan. Kami pernah bertahan di lautan selama belasan jam juga bertahan dengan masyarakat pedalaman tanpa sinyal komunikasi dengan dunia luar sama sekali. Kami yang tau rasanya, betapa pegalnya kaki saat harus berjalan kearah mata air yang berada beberapa kilometer dari tempat tinggal kami. Kami yang tau rasanya hidup tanpa listrik dan kami yang tau bagaimana rasanya saling membantu satu sama lain ketika tak ada obat yang paling mujarab selain diri kami sendiri.
Kami membentuk definisi keluarga menurut kami.
Kami yang merasa lebih rindu dengan 10 orang di pulau sana ketimbang keluarga sendiri.
Kami yang tau bagaimana rasanya rindu dengan es teh, kami yang setiap malam berhadapan dengan bintang.
Kami ber 20 yang pernah bertahan sekitar 5 minggu di Papua Barat. Di pelosok Papua Barat. Kami yang entah dengan apa motivasinya dipertemukan dengan tim ini.
Kami! hanya kami!

Terbuat dari apakah kenangan itu?

Kenangan itu tidak pernah dengan sengaja untuk dibentuk. Ketidaksadaran kitalah yang akhirnya menciptakan kenangan. Pun ketika kita merasa rindu dengan kenangan, bukan salah otak yang memproses memorinya. Mungkin ketidaksadaran kita kala membentuk kenangan itu yang melekat di hati.
Entahlah...
Tapi pernahkah kamu merasa sebegitu inginnya mengulang masa lalu? sampai-sampai kamu berharap ingin hidup selamanya dalam kenangan? Dan memandang lekat foto-foto, berharap dengan itu bisa kembali di masa lalu? Pernah?
Well, terkadang saya begitu, terkadang.

Kami bertemu kembali hari ini. Nyaris lengkap 20 orang. Namun sayangnya, pada akhirnya kami hanya ber19, salah satu dari kami berhalangan.
Kami tidak membahas apapun yang berhubungan dengan 5 minggu selama di Papua, kami hanya membicarakan masa kini. Entah karena kami tahu bahwa topik tentang Papuan hanya berkisar itu-itu saja, atau karena masa kini lebih menarik untuk dibicarakan?
Saya kurang tau pasti
Kami tidak berusaha menembus kenangan.
Tapi sekelebat saya merasakan bau kenangan. Apalagi ketika saya memakai kembali baju lapangan yang dirancang untuk kami. Sungguh rasanya seperti menaiki mesin waktu dengan semua kenangan yang tetiba lari berhamburan. Damn..


Terbuat dari apakah sepi itu?

Saya tersadar. Bahwasanya, seberat apapun usaha saya untuk mengembalikan diri  pada masa lalu, tetaplah nihil hasilnya. Tak ada satupun cara yang bisa membuat saya kembali ke masa lalu apalagi mendiaminya.
dan saya pasrah dengan kenyataan itu.

Tadi, saat fauzan berkata " aku duluan ya.." Saya merasa ada yang aneh di hati saya. Ada yang mecelos dan tetiba saya merasa sepi. Sepi yang tidak wajar, menjalar tanpa sebab.
Bukan karena Fauzan yang terburu karena ada acara. Lebih kepada karena kami tak lagi berada di satu lem yang sama. Kami ber 20 tak lagi membutuhkan satu sama lain untuk bertahan.

Saya merasa betapa saya dan anak-anak ini meninggalkan kenangan dan berjalan terlalu jauh. Ataukan memang begitu seharusnya?
Jika saya mampu, saya ingin menyeret kembali mereka kesatu masa dimana kami berjuang bersama. Tanpa ada kata "aku duluan ya.." atau "udah ya.. abis ini aku masih ada urusan". 
Saya rindu saat tak ada yang meninggalkan kami. Karena kami akan ber 20 hingga perjuangan ini selesai.
Saya berharap ketika Fauzan atau siapapun berkata "aku duluan ya.."
itu berarti dia duluan untuk mandi, tidur, atau berangkat mengajar, dan saya tau bahwa fauzan atau siapalah tidak akan pergi kemana-mana. Dia tak punya kehidupan lain selain kami.

Ternyata kami ber 20 telah menjadi prasasti kenangan yang entah akan diurusi atau dibiarkan mati. Itu tergantung pada bagaimana mereka menilainya.
Ingin rasanya kembali di massa dimana tidak ada kehidupan lain yang bisa dijalankan selain kami.
Sayang, saya tidak sesakti itu untuk bisa mengikat kenangan dan menjadikannya masa kini.


Terbuat dari apa hampa itu?

Terkadang takjub juga dengan apa yang bisa dilakukan waktu sesingkat itu pada kami semua. Itu yang yang membuat kami ber 20 memiliki misteri yang tidak diketahui satu dan lainnya.
Percayalah, tak banyak yang tau apa yang terjadi dalam perseorang kami memandang perseorangan lainnya. Semuanya tersimpan rapi di hati masing-masing. Ada yang bersedia membaginya, ada yang tidak. Saya termasuk yang tidak.
Sebenarnya karena ketidakmampuan saya untuk mengungkapan sebenarnya. Dan itu adalah faktor utama yang membuat rasa hampa di akhir pertemuan.

Ah jika saya bisa mengintip hati mereka semua.

Lalu, apa yang saya rindukan?
Entahlah...
Saya hanya ingin bertanya : terbuat dari apakah kenangan, sepi, dan hampa itu?
Apakah mereka saling berhubungan?

Ini kurang 4 orang, ga tau pas itu mereka dimana. Dan ini adalah waktu kami menginjakan kaki di tanah Jawa.


NB : Untuk 19 orang pencipta kenangan yang kini tengah bersibuk mempersiapkan masa depan. Jika suatu hari ada rindu yang meronta tentang kita, ajak aku untuk ikut bernostalgia ya.

#4
#31harimenulis
#bagian2

Jumat, 17 Mei 2013

CUPU!



Dari dulu saya bukan termasuk anak yang gaul, pun sekarang. Eh sebentar, memang definisi orang dikatakan gaul itu apa sih? Apa karena dia punya kenalan orang beken yang biasa nongkrog di kafe-kafe elite dengan harga yang mahal? Atau karena dia mempunyai gadget super keren dan terbaru walupun useless? Ah pokoknya saya kurang paham deh tentang konsep kegaulan itu sebenarnya seperti apa. Yang jelas saya bukan termasuk orang gaul pokoknya. 

Apalagi sewaktu saya masih ada di SMP. Beeeh…

Alifah Farhana waktu SMP adalah mahluk-cupu-abis-yang-sering-dipandang-sebelah-mata-karena-ga-punya-banyak-sepatu-bermerek HAH!!

 SMP saya itu di Makassar, Sulawesi selatan. Saya SMP di SMP Athirah, lebih tepatnya di sekolah islam Athirah yang notabene adalah sekolah paling baik fasilitasnya, paling mahal, dan termasuk sekolah dengan anak-anak paling borjuis yang ada di Makassar atau malah yang ada di Sulawesi selatan. Ohya satu lagi, Athirah ini sekolah miliknya Jusuf Kalla, jadi ya jangan heran kalau sekolah saya ini mewahnya tiada tara.
Oke, saya harus cerita dulu tentang ekspektasi saya tentang Makassar yang melenceng 180 derajat dari kenyataan sebenarnya. Jadi saya pikir dulu ketika lulus SD dan harus ke Makassar adalah, Makassar ini kota yang terpencil, ga akan ada mall disana, dan ya.. pokoknya ndeso lah. Membayangkan 3 tahun saya akan hidup di makasar, awalnya membuat saya sedih.

Eh ternyata, setelah sampai di Makassar dan menuju kotanya, ekspektasi saya terhadap Makassar berubah bah bah bah baaah! Makassar ini kota yang canggih bro. ditengahnya kotanya ada pantai, pantai losari namanya. Makanannya enak-enak. Mallnya bagus-bagus, lebih bagus dari jogja malah, dan ternyata biaya hidup di Makassar itu mahaaaal!

Kenyataan ini cukup menghibur saya. Ya setidaknya, walaupun terpisah dari mama (iya, selama SMP saya tidak hidup dengan mama) setidaknya makassar adalah kota yang menyenangkan.

Oke, back to the topic.

Athirah! 

Saya ga tau ya, apa kabar athirah setelah nyaris 6 tahun lebih saya tidak berkunjung kesana. Tapi yang jelas, athirah adalah sekolah yang paling borjuis yang pernah ada. Hari pertama saya masuk SMP saya disuguhkan pengalaman yang ga enak. Tau apa? Ga ada satupun anak di kelas yang mau berbicara dengan saya. Oke, saya ulang. Ga ada satupun anak di kelas yang mau berbicara dengan saya. GA ADA! Tau kenapa? Karena saya tidak berbicara dengan logat makassar seperti anak-anak lainnya. Oh PEOPLEE! PLEASE!

Dan sapaan pertama saya adalah 2 atau 3 hari setelah masuk, ketika seorang teman saya melihat merek sepatu saya. 

X : “ih, sepatu kamu merek gosh ya? yang edisi apa?” (dengan logat makassar)
Saya : (ngelirik sepatu) “hehehe.. ga tau ya! ini Cuma dibeliin ibukku” (ya emang Cuma dibeliin mama, mana saya tau itu merek apa?)
X : (manggil temen-temennya) “eh kenalan yuk, dia pake sepatu GOSH juga loh!” (pake logat makassar)
Dan setelah itu saya berkenalan secara informal dan mulai tau nama-nama teman sekelas saya.

DAMN. BITCH! Sejak kapan pertemanan dimulai dari kamu-pake-sepatu-merek-apa

Wabillahitaufik wall hidyah, BYE!

What do you expect deh kalau udah kayak gini? Syureeeem -__-

Kondisi saya ga punya temen itu, syukurnya ga lama. Selebihnya saya bisa  diterima dan bergaul selayaknya anak SMP pada umumnya. Tapi balik lagi tentang masalah gaul tadi. Saya jarang bertemu dan berkumpul dengan gerombolan orang-orang yang gaul atau eksis di SMP, saya lebih banyak untuk berkumpul dengan anak-anak di kelas dan memilih untuk mengamati sekelililng. Hingga lulus.
Anak-anak yang gaulnya amat sangat, tiap minggu ke mall bro, nonton, kalau pergi apa pulang dijemput supir, trus ah ya gitu deh…

Saya? Saya lebih tertarik ikutan KIR *tsaaah udah ilmiah dari mudanya*
Ya nonton sih suka, tapi ya ga tiap minggu lah. 

Hingga akhirnya, sa ada yang kemudian menyangka bahwa ketika lulus dari SMP, ternyata saya adalah siswa berprestasi. Seorang-anak-yang-biasa-biasa-aja-ternyata-lulus-dengan-nilai-baik dan voila, seluruh mata memandang ke arah saya. Mau kagum? Telat! Hahaha *kibas rambut*

Sebenarnya anak Athirah itu banyak yang pinter namun habbit kota makassar itu lebih dominan ke konsumerisme dan hedonism, jadi pendidikan, kreativitas, atau apalah tidak begitu banyak dianggap atau dilirik kalau kita emang bukan orang kaya.
Saya aja, ga bisa masuk Athirah kalau bukan karena almarhum kakek saya yang seorang Dekan dan orang yang cukup disegani di Makassar. Ya karena orang ga bisa masuk Athirah tanpa uang yang besar. Kasian ya…

Dan hari ini, saya penasaran pada kabar dari teman-teman saya yang borjuis itu. Sayapun membuka  facebook dan mengintip group kelas saya dan group angkatan.
Ya macem-macem ya..
Ada yang ternyata sekarang sekolah di luar negeri (mungkin pake duit bapaknya yang banyak, ataau.. ya ga taulah ya…)
Tapi kebanyakan tetap ada di Makassar.

Saya yang memandang diri saya 6 tahun setelah lulus dari Athirah begitu bersyukur. Ya.. initinya, nasib harus diubah ya cyiin. Dan tanpa harus menjadi orang yang gaul saat SMP, sayapun tetap bisa menjadi diri saya sendiri. Apalagi sebenerya ga penting-penting banget kok menjadi golongan yang kebanyakan. Somehow itu sungguh palsu pertemanannya.  

Saya sekarang, Alifah Farhana sekarang, anak gaul? Bukan kok! Hanya saya mencoba memantaskan untuk menjadi wanita yang berkualitas dan berkelas *benerin sanggul*. 

Seorang teman SMP saya sempat berkata, ketika bertemu saya 

“Ya Ampun, Ifa… kamu berubah banget, kamu blab la bla (yang positif)"
Well, semua orang itu berubah. Dan memang harus berubah. Cupu 2 tahun yang lalu, ya harus jadi modern 2 tahun setelahnya. Kalau engga? ya kita merugi dong!

ini saya, waktu kelas 2 SMP. Cupu ya?


Kapan ya reunian?
Saya mau liat jadi apa anak-anak Athirah itu sekarang. Hehe

NB : Untuk semua orang yang merasa bahwa mengikuti trend itu penting, yang terpenting adalah ketika kamu nyaman, menjadi diri kamu apa adanya.

#3
#31harimenulis
#bagian2

Kamis, 16 Mei 2013

So, Tell Me

"Teruslah engkau bertahan bertahan sampai waktunya datang. Aku pasti akan menemukanmu" -The Finest Tree-


Setidaknya, beritahu aku apa rencanamu.

Mau itu hanya sekilas lalu saat percakapan di telfon, atau secara lengkap saat kita bisa duduk berjam-jam. Itu terserah kamu! Tapi berikan saja aku gambaran tentang apa yang ingin kamu lakukan setelah ini. Beritahu aku, apa rencanamu.
 Bisikan aku tentang apa mimpi-mimpimu, angan-anganmu, bahkan tentang semua impian konyolmu. 

Aku mau tau!

Ajak aku untuk juga berdoa demi semua yang kamu impikan sejak lama.
Sertakan aku untuk juga mendukung semua langkah jatuh bangunmu metintis hidupmu.
Pinta aku juga untuk malu bersama dalam melakukan semua impian konyolmu.

Apakah itu terlalu berlebihan?

Karena menurutku, ini adalah satu-satunya tanda yang paling mampu untuk kamu lakukan saat ini.
Karena saat kamu bercerita tentang semua mimpi dan rencanamu. Kamu menyertakan aku dalam setiap prosesnya. Sehingga aku bisa tau bahwa aku penting untuk terlibat.
Karena ketika kamu memberitahukannya padaku, itu tanda yang lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa aku ada.

Tidak semua rencanamu akan mulus.
Tidak semua mimpimu akan terwujud
Tidak semua impian konyolmu itu benar-benar konyol.

Kamu akan jatuh, akan tertaih-tatih, akan terseok-seok, hingga mungkin kamu berubah haluan, atau apalah yang mungkin terjadi dalam prosesnya. Tapi setidaknya ada aku yang bisa selalu bertanya “Hallo, kamu udah makan belom? Kalo belom makan gimana mau kerja?”

Atau aku bisa menghiburmu saat mimpi-mimpimu berguguran. Mungkin dengan kata-kata motivasi yang lawas terdengar atau dengan suara sumbangku yang menyanyikan lagu proklamasi agar kamu tetap semangat.

Atau aku yang bisa memberi selamat ketika impianmu terwujud. Sekedar emotikon senyum atau bahkan gambar betapa hebatnya kamu yang telah berjuang sedemian rupa untuk semua mimpi-mimpimu.
Apakah ini terlalu berlebihan?

Setidaknya beritahu aku, apa rencanamu.
Apakah kamu tidak ingin ada aku dalam setiap rencanamu?

Aku memintamu untuk memberitahukan setiap hal rencanamu adalah karena akupun kamu mendengar tentang apa mimpi-mimpiku, angan-anganku, dan semua tentang impian konyolku.
Agar kamu ada disana dan ikut menikmatinya. 

Coba beritahu aku, bagaimana kamu mendefinisikan kita, jika kita tidak saling bercerita tentang semua rencana kedepan?
Lantas darimana aku mendapatkan tandanya?
Aku buta akan semua makna. Dan mari kita tutup jalan untuk saling beromansa ala anak remaja yang membuat perut mual tidak karuan. Kamu bisa berbagi mimpi disini bersamaku, pun aku.
Dan saling dukunglah. Hingga waktunya tiba.

Alih-alih sendiri membuatmu gamang, pun aku. Jadi bagaimana jika kita saling bercerita?

Apakah ini terlalu berlebihan?


Jadi, apa rencanamu setelah ini?

NB : Untuk semua orang yang sedang melakukan perjalanan. Membagi tak berarti rencanamu terumbar, itu justru membuatmu tahu, bahwa ada seorang disana yang peduli.


 #2
#31harimenulis
#bagian2


© RIWAYAT
Maira Gall