Kamis, 23 Mei 2013

REUNI

 "besok kalo kita udah kuliah, kita kuliah di kampus yang sama ya..." (Makassar, 2003)



Apa rasanya ketika kamu harus terpisah lama dengan orang-orang dari masa lalu kamu yang paling paham tentang kamu? Itu yang saya rasakan.
Saya, memiliki 2 sahabat lama yang bahkan sejak kami lulus SMP jarang sekali berbagi kabar. Padahal kita sekarang hidup di jaman dengan teknologi komunikasi yang canggih. Seharusnya tak ada alasan untuk bisa berkomunikasi pada jarak terjauh sekalipun.
Tapi entah apa yang membuat kami terpisah dan tanpa kabar begini. Namun  untungnya itu saya masih mendapatkan kesempatan untuk memeluk erat kedua sahabat saya itu.

Sekitar bulan februari 2013 yang lalu, saya pergi ke Bandung. Tujuan utama saya pergi kesana sih sebenarnya untuk menjumpai neneknda tercinta yang sudah marah-marah karena saya sudah lama tidak berkunjung ke Bandung. Tapi ternyata saya mendapatkan reuni cantik dengan dua sahabat perempuan saya.
Maka berbekal rindu yang menumpuk dan harapan bertemu dengan 2 sahabat lama, pergilah saya kala itu, dengan cueknya meninggalkan jogjakarta dengan seabrek kesibukan dan perkerjaan yang sepertinya tidak ada habisnya.

Demi sebuah reuni yang saya impikan, saya harus menempuh banyak cara. 3 hari sebelum perjalanan ke Bandung, demi bisa bertemu dua sahabat SMP saya, Tiffani dan Tiara saya harus bersusah payah menghubungi mereka. Bayangkan deh, kami yang selama SMP ini bak kembar dibelah 3 saking dekatnya tak terpisahkan, harus terputus komunikasinya selama 6 tahun! Bayangpun. Dan bodohnya, saya tidak lagi menyimpan nomer handphone mereka di handpone saya. Ah.. saya merasa gagal menjadi teman ._.

Maka dengan berbekal pertemanan kami di Facebook, saya pun mengirimi mereka pesan dan menulis di halaman dinding facebook mereka. Dan ternyata, niat baik tak selama berbalas. 3 hari setelah saya mengirim pesan di facebook, saya tidak mendapatkan respon sama sekali! What the...

Oke, saya tak patah arang, saya coba hubungi via twitter. Beruntung saya menemukan account twitter dari Dika, pacar Tiffani. Saya pun menghubungi via twitter. Saya banyak berdoa agar twitter saya dibalas oleh Dika, karna kalau tidak, pupus sudah harapan saya untuk bertemu mereka :(

Hari yang ditunggu pun datang. Saya ke BANDUNG tanpa mendapat kabar dari tiffani atau tiara. Saya nyaris menangis, hingga dalam perjalanan, ternyata Dika membalas twitter saya dan memberikan nomer telfon Tiffani! Aaaah... saya bahagia! Saya langsung bersms ria dengan Tiffani dan membuat jadwal, yang akhirnya membuat lebih mudah adalah, tiffani masih berhubungan dengan tiara via BBM (blackberry massanger) jadi kami bertigapun bisa bertemu.
Ah.. sungguh indah dunia..

Singkat cerita kamipun menghabiskan 3 hari bersama di Bandung dan menjelajah habis kota itu.
Dan tentu saja, kami menghabiskan 3 hari dengan bercerita tentang hidup kami masing-masing yang terpisah selama 6 tahun. Termasuk tentang cinta.

Saya tidak bisa menganggap Tiffani dan Tiara adalah gadis yang biasa. Karena mereka berdua adalah sahabat yang paling hakiki bagi saya. Mereka tau tentang saya lebih banyak dari semua teman saya punya. Mereka mengenal saya dan seluruh sifat saya, dan percaya atau tidak, sifat saya sedari SMP hingga kami bertemu lagi 6 tahun kemudian tidak banyak berubah. Begitu juga dnegan mereka. Dimata saya, mereka berdua tidak banyak berubah dari segi sifat, wajah, kelakuan, hingga kebiasaan. Masih gitu-gitu aja...

Tiffani yang sejak lulus dari SMP menjadi anak gaul Makassar melanjutkan kuliah di D3 Universitas padjajaran  jurusan public relation sedangkan tiara sejak lulus SMP melanjutkan sekolah di SMA 1 Makassar dan kuliah di London School of Public Relation.

Tiffani adalah gadis yang paling cantik diantara kami bertiga. Dulu, sewaktu SMP, tak terhitung berapa banyaknya lelaki yang mencoba mendekati Tiffani melalui saya atau Tiara... hadeh.
Kalau tiara adalah yang paling kalem dan juga orang yang paling netral diantara kami berdua. Karna biasanya saya dan tiffani kerap beradu argumen dan kami sering musuhan ala anak SMP, maka tiara akan berfungsi sebagai penetral.
Kalau saya? Saya yang selalu paling meledak-ledak diantara mereka. Ya.. tipikal lah..

Percakapan kami beragam. Sepertinya kami memang sengaja untuk mambalas dendam pada waktu yang membuat kami terpisah.
Nah ini dia yang bikin menarik.
Saat kami bercerita tentang kisah cinta! HA!
Tiffani ini akan melangsungkan pernikahannya di bulan agustus tahun ini!
Saya cukup kaget menerima kenyataan bahwa Tiffani akan menikah. Kenapa kaget? Karena tiffani masih teramat amat sangat muda, pun calonnya.
Dan kekagetan kedua adalah kisah cinta Tiara yang ternyata langgeng dengan pacarnya semasa SMP yang bernama andi riswandi. Betapa oh betapa rahasia cinta manusia sungguh tak pernah disangka-sangka.

Tiffani sudah berpacaran dengan Andika sejak mereka SMA hingga ya saat ini mereka mau menikah.
Saya yang begitu rumitnya memandang komitmen dalam sebuah hubungan, jelas penasaran, apa yang membuat Tiffani memutuskan menikah muda. Dan inilah percakapan kami :

Saya (S) : "Gimana kamu tau kalo itu jodohmu?"

Tiffani (T) : "Ga tau juga ya, tapi aku ngerasa kalo aku bisa aja kehilangan semuanya, aku bisa aja ga ketemu temen-temen aku. Aku bisa aja... tapi jangan kalo harus kehilangan dika, jangan kalau harus ga cerita sama Dika"

S : "udah, gitu doang?"

T : "iya! Aku butuh dika. Dengan semua yang udah kita lalui bareng, kita pernah dipaksa putus, aku pernah jalan sama cowo lain, tapi dika selalu berjuang buat dapetin aku lagi. Sampe akhirnya, aku juga harus berjuang buat dika"

S : "tapi nikahkan ga gampang tif.."

T : "iya.. aku tau.. termasuk masalah finansial"

S : "Nah itu gimana?"

T : "Jadi gini, aku sempet dateng ke seminarnya IPO right, dia bilang kalo sebenernya ga ada yang harus dikahwatirkan kalo dua orang mau nikah. Malah enak, dua rejeki kebuka jadi satu kan?"

Saya yang mendapat wejangan seperti itu seketika langsung berdoa. Ya Allah, berikan pada saya seorang lelaki yang mau memperjuangkan saya dengan teramat sangat dan seorang lelaki yang bagi saya, kehadirannya adalah cukup bagi saya. Hahahaha...

Beda Tiffani beda tiara.
Tiara justru sedang dilanda kegalauan tiada tara karena pacarnya yang begitu kolot pemikirannya. Belum menjadi istri saja, pacarnya sudah melarang Tiara untuk ini dan itu dan menuntut tiara macam-macam. Ya jelas dia galau ya..

Sementara saya?
Saya pendengar yang baik.
Karena hanya saya yang tidak punya pacar dan saya yang tidak punya cerita cinta yang happy ending. Ya sudahlah ya...
Dan banyak lagi yang kami bicarakan..
Ga ada yang lebih nyenengin saat 3 sahabat kembali bertemu. Doa kami bersama adalah kami akan saling berkomunikasi dan kembali bertemu saat pernikahan Tiffani dibulan Agustus, wisuda tiara dibulan desember, dan wisuda saya dibulan november. Ohya, bicara soal menikahnya Tiffani, saya seharusnya membawa pasangan. Karena Tiara pasti akan mengajak Riswandi, lah saya? :(

Kata orang, sahabat adalah teman dikala kita bisa menjadi diri kita apa adanya. Kata orang, sahabat adalah orang yang kita harap ada disaat terbaik kita dan disaat terburuk kita. Kata orang, sahabat adalah orang yang akan selalu mendukung.
Tapi bagi saya, sahabat adalah mereka yang selalu mengingat dan mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya tanpa diminta.

Reuni besar ini terwujud karena campur tangan Tuhan yang dengan baik mampu membuat kami bertemu di waktu yang tepat.
3 hari bukan waktu yang lama untuk mengganjar absennya kami dikehidupan kami. Tapi setidaknya, kami bisa saling berbagi dan melihat wujud kami di kala kami dewasa. Itu cukup untuk membuat kami tau, bahwa kami hanya terpisah jarak dan waktu tapi tidak secara emosional. Ya.. kami tetap sahabat kecil samapai kapanpun :)


NB : Untuk Tiffani Anggraeny Naim dan Tiara Indah Hedyana, angkat gelas untuk persahabatan cantik kita selama hampir 9 tahun ini

#9
#31harimenulis
#bagian2

Rabu, 22 Mei 2013

Sejarah



“apa yang kamu harapkan dari kehidupan ini?”
“bahagia!”

Entah apa yang tersembunyi pada hati manusia. Terlebih di hati manusia yang paling paling paling dalam. Entah apa yang bersemayam disana. Bisa jadi sebuah cinta yang teramat dalam, benci yang mengakar, dendam yang tak berkusadahan, hingga bahkan kecewa yang tak kunjung habis. Hati manusia memang akan selalu menjadi misteri.

Celakanya apa yang ada dihati yang paling dalam tidak serta merta ada dan tercipta. Karena apa yang tertinggal di hati manusia paling dalam adalah bentuk akumulasi dari apa yang ia dapat selama hidup. Celakanya lagi, tanpa disadari, sebagai manusia kita menyimpannya erat-erat dalam hati dan memori, dan tak bersedia membaginya. Sedikitpun dengan siapapun. Alih-alih mencoba memperbaiki, manusia justru melakukan segala cara agar dapat lupa atau yang lebih parah membohongi diri sendiri bahwa itu tidak pernah terjadi dalam dirinya. 

Mengerikan bukan ketika tanpa sadar seorang manusia menyimpan dendam, kecewa, amarah, atau apapun yang negatif? Entah seperti apa rasanya…

Betapa beratnya hidup yang seperti itu...

“Bahagia itu adalah hal yang datang dan pergi, pun kesedihan. Kamu hanya bisa menerima dan menjadikan itu salah satu dari hidup. Kamu tidak sungguh-sungguh berfikir bahwa setiap orang memiliki rasa bahagia selama 24 jam selama mereka hidup, seumur hidup mereka kan?”

Kalimat itu rasanya membantai habis hati saya.Semua orang pasti memiliki masa lalu yang juga tidak sempurna, jadi kenapa saya harus risau dengan terus menyimpan semua ketidaksempurnaan masa lalu saya. Apa pula yang saya harapkan dengan selalu membohongi hati bahwa masa lalu itu tidak pernah terjadi. Toh bagaimanapun itu sudah terjadi dan apa yang orang-orang lihat kini adalah saya dengan perpaduan masa lalu dan masa kini. 

Tapi itulah manusia, terkadang sebegitu egoisnya atau sebegitu merasa kuatnya sehingga diarasa mampu menyimpan itu semua sendiri rapat-rapat. Terlihat baik-baik saja padahal..
Ya kembali lagi pada misteri dibalik hati manusia. Tak pernah ada yang tau jika manusia itu tidak berusaha membagi, berdamai atau sekedar bermaafan dengan semua yang telah terjadi. 

“apa yang kamu rasain kalau kamu bawa tas sedemikian banyak? Kamu berjalan semakin tegak atau bongkok?”

Mungkin perlahan saya harus membuka semua kotak masa lalu itu. Bukan untuk mengingat betapa perihnya peristiwa itu terjadi. Juga bukan untuk mempertanyakan banyak kata “kenapa” yang tidak bisa dijawab. Saya harus membuka kotak masa lalu itu dan menyimpannya secara rapi ditempat yang terlihat. Saya harus berani membuka dan berdamai dengan apapun yang ada di masa lalu.

“menurutmu, ada satupun hal di dunia ini yang luput dari seijinNya?”
“enggak!”
“jadi, apa kamu alami, juga Tuhan tau dan mengijinkan?”
“iya…”

Kadang, menerima orang lain itu lebih mudah ketimbang menerima kenyataan tentang diri kita sendiri. Tapi itulah ya itulah hidup..
Berjalan dengan mengabaikan kenyataan bahwa masa lalu itu ada, ternyata bukan pilihan hidup yang menyenangkan…
 
“sekarang, apa yang kamu rasakan?”
“semua itu.. sejarah”

Jadi, itulah manusia. Yang tampak akan menutupi semua hal yang tidak tampak. 

Pertanyaannya sekarang adalah : bersediakah kita berdamai dengan sejarah?
Dan dengan semua misteri masa lalu yang secara lumrah dimiliki oleh setiap manusia, bersediakah kita menerima manusia itu dengan sepenuhnya?



NB : Untuk seorang bapak yang dengan mata teduhnya bisa membuat saya bercerita. Terimakasih, entah kata ini cukup atau tidak :)

#8
#31harimenulis
#bagian2

Selasa, 21 Mei 2013

Senja



"Kamu tau kenapa senja itu hanya sebentar? karena untuk yang berharga, kita harus berusaha mengejarnya. Paham?"

Matahari sudah akan berkemas dan benda malam mungkin tengah bersiap. Diantara seluruh waktu yang ada, senja adalah favoritku. Tak ada terik, tak juga gelap, malah terkesan indah karena senja memberikan semburat warna jingga yang menyenangkan untuk dilihat.
Senja selalu enak dipandang, gradasi warna yang diciptakan oleh senja itu jenius. Belum lagi ketika matahari turun, seakan langit tengah mengadakan parade lukisan yang gratis dinikmati. Pernah ada yang bertanya mengapa senja tidak diperpanjang saja, tapi bagiku dengan singkatnya waktu senja inilah yang membuat senja semakin dinanti. 
Senja juga menimbulkan efek perasaan nyaman tak terkatakan. Rasanya dapat melihat senja itu adalah bonus dari Tuhan. Terlebih saat hari itu matahari bekerja dengan terlalu bersemangat atau hujan mengguyur tanpa ampun. Karena tak peduli panas atau hujan, sensasi senja selalu tak terduga. Senja selalu cantik dimataku.
Karena saat senja, awan bergumul dan memberikan lukisan langit yang cantik. Ditambah juga dengan angin yang bertiup. Angin senja itu selalu membuat rambutku tertiup, dan aku selalu suka saat rambutku tertiup dan menghasilkan efek berantakan.

Saat senja kamu datang.

Ini entah untuk berapa kali, kita akan berbicara. Tentang apa yang hati kita risaukan.
Aku menggunakan terusan berwarna merah dengan rambut tergerai sempurna, sepatu flat dengan tas selempang bercorak bunga. Aku berkata dalam hati dan meyakininya bahwa aku siap dengan percakapan ini.

“ini waktu yang mepet. Bentar lagi magrib, sekalian malem aja kenapa sih? Kebiasaan!”

Katamu tanpa basa-basi dan duduk disebelahku. Kamu dengan wajah tenang, menggunakan flannel kotak-kotak dengan daleman kaos berwarna hitam, jins belel, tas ransel, sepatu convers, lengkap dengan parfume yang sedikit pasaran. Aku jatuh cinta padamu, aku tak berbohong untukyang satu ini.
Kamu langsung duduk disebelahku, menatap, dan dan merapikan rambutku yang sepertinya sempurna acak-acakan.

Aku memeluk lenganmu, tenang namun erat. Rambutku berantakan tertiup angin senja, namun semua terasa hangat ketika kepalaku menyentuh pundakmu. Aku tak tahu apakah kamu tahu bahwa pundakmu dan senja adalah dua hal yang bagiku bagai surga dunia? Tidak ada yang lebih nyaman bagiku selain pundakmu yang kunikmati sendiri dengan senja yang memeluk kita. Ah, senjaku sempurna!

Saat senja dan kamu datang.

Biasanya, aku tak mengharapkan apa-apa dari kedatanganmu. Biasanya… tapi tidak kali ini. Jika harus menodai senja yang selalu aku agungkan, aku siap.

“kamu bisa apa, kalau ini pelukan terakhirku?”
Tanyaku tanpa menatap matamu. Aku hanya takut jika hatiku semakin rontok dan niatku kandas.
“aku bosan! Kali ini apa lagi yang kamu takutkan?” katamu dengan nada yang datar.
“aku kan cuma tanya..”
“kenapa kamu harus berandai sih? Kita sama-sama tahu bahwa kita akan semakin menghitung mundur pada kenyataan dimana kamu ga bisa lagi memelukku”
“kalau itu hari ini?”
Dia melepaskan lembut pelukanku, langsung menghadapku dan siap memberikan pelukan, tapi urung.
“kamu menyerah?”
“Lantas, beritahu aku, kita berjuang untuk apa?”

Akupun bosan, sama seperti bosanmu. Aku jengah, sama seperti jengahmu. Aku merasa kebas, sama seperti kebasmu. Tapi jika kamu yang enggan melepas, maka biarkan aku dan senja ini yang melepas.
Melepas kita...

Aku berdiri, dengan senja yang menonton, angin yang tampak salah tingkah harus meniupkan udara. Air mataku menetes seiring dengan matahari yang mulai meninggalkan waktu kerjanya. Ya Tuhan, aku tidak tahu ini betul atau salah, yang aku tahu, aku lelah...

Kita sama-sama tahu, bahwa hari ini akan tiba.

Kita sama-sama tahu, bahwa kita hanya memperpanjang waktu.

Kita sama-sama tahu. 

Bahwa senja ini bukan untuk kita lalui bersama.

Kamu seharusnya sadar pada besarnya kepura-puraan yang kita hadapi sekian lama ini. Kamu seharusnya tahu pada bagaimana aku mencoba bertahan dengan kita dan kamu yang selalu acuh.
Kamu seharusnya sadar betapa luasnya hatiku yang selalu mencoba mengabaikan denial diantara kita
Kamu seharusnya tahu...
Betapa harus aku mengabaikan perasaan bahwa aku menikmati senja ini dengan bersembunyi.
Aku bersembunyi dari kenyataan.
Tapi kamu tidak pernah sadar...

Saat senja dan kamu datang. 
Saat itulah aku merasa bahwa seluruh semangatku berguguran terbawa angin. Aku mencintaimu, dan itu ternyata tidak cukup.

Itu waktu yang selalu aku rindukan. Denganmu, tawa ini akan terasa lebih semerbak. Denganmu, tangisku terasa hangat. 
Kamu, pundakmu, dan senja adalah bukti bahwa cinta itu bisa tumbuh pada ruang ketidakmungkinan yang paling tidak mungkin.
Itu senja terakhir yang aku bagi denganmu.

Senja kali ini aku berdiri,
dengan terusan panjang berwarna biru, jaket berwarna senada. Aku mengkuncir rambutku rapi, tak ingin angin membuatnya berantakan. 
Kali ini aku menikmati senja dengan kenangan senja bertahun silam. Saat aku masih dengan egosi menikmati pundakmu.

Dear senja, aku rindu...





NB : Pada semua kenangan yang menggangggu. Untuk semua orang menganggapnya begitu.

#7
#31harimenulis
#bagian2

Senin, 20 Mei 2013

RANDOM #1

Hari ini cukup menyenangkan. Selain karena hari ini unisi berulang tahun ke 38, cuaca hari ini mendung-mendung dengan sensasi kantuk tiada tara yang membuat mata mudah tergoda untuk tidur. Kemudian, tanpa direncanakan, hari ini kantor pulang cepat. Hal yang amat saya syukuri, Saya dengan cepat langsung bertemu beberapa keluarga tamleho. Kami ngobrol hangat dan dilanjutkan dengan makan malam bersama. sekian.

NB : Untuk orang-orang yang merayakan pulang sebelum senja benar-benar turun.
 
#6
#31harimenulis
#bagian2

Minggu, 19 Mei 2013

Zam Alfaris si pria behelan yang alay!

"We had the best years of our live"



Ini adalah salah satu partner in crime saya. Selama hampir satu tahun di Unisi Radio semenjak kami berdua diangkat menjadi program director team, zam ini adalah partner yang sempurna bagi saya. Saya yang membuat konsep dan script juga ide, dan zam ini yang bisa mewujudkan menjadi bentuk eksekusi yang keren!
Menyenangkan bisa mengenal zam alfaris.
Sewaktu saya memiliki masa-masa berat karena harus melanjutkan kehidupan selanjutnya, zam adalah orang yang saya cari untuk menenangkan diri.
Apalagi waktu saya sedang drop, zam ini selalu bisa membuat saya menjadi lebih baik. Entah karena guyonan yang dia berikan atau karena zam yang alay ini menraktir saya sesuatu.
Zam alfaris ini orang yang ceroboh, ada saja barang-barangnya yang hilang. Dompet yang berisi uang jutaan rupiah untuk membayar pengobatan ayahnya. Dan terakhir balckberrynya dia hilang di JEC. Ah.. ada-ada saja..
Untuk urusan wanita, zam ini tidak begitu beruntung. Beragam wanita yang coba didekatinya tak ada satupun yang berhasil. Hahahaha..
Zam adalah orang yang selalu sering pergi ke gym dan menginginkan untuk kurus! Mari kita doakan bersama.
Walau dia ini pemalu dan sering minder, jauh dari itu, zam ini orang yang humoris dan sangat baik hati! Beneran deh.
Saya dan zam adalah dua orang yang berjuang membenahi program unisi. Dengan segala keterbatasan yang ada, kita saling bahu membahu untuk memperbaiki semuanya. Itu yang membuat saya merasa bersemangat bekerja untuk Unisi.

Kami berdua sering membagi mimpi. Dan kami berencana di awal tahun kami merantau ke Jakarta.
Mari berjuang zam!

NB : Untuk zam alfaris, dalam rangka ulang tahun Unisi ke 38. Walau belum sempurna, tapi sejauh ini, kita melakukan yang terbaik bro *toss

#5
#31harimenulis
#Bagian2

Sabtu, 18 Mei 2013

19 Pencipta Kenangan

"But, I miss the thing, Are we ever gonna feel the same?" Calvin Harris

Hampir setahun yang lalu saya bertemu dengan mereka. Mereka yang sekarang menjadi sebuah keluarga baru bagi saya. Kami ber20 pernah mengarungi bersama ribuan kilometer, menembus belantara hutan, dan juga berjemur hingga kulit kami kecoklatan. Kami pernah bertahan di lautan selama belasan jam juga bertahan dengan masyarakat pedalaman tanpa sinyal komunikasi dengan dunia luar sama sekali. Kami yang tau rasanya, betapa pegalnya kaki saat harus berjalan kearah mata air yang berada beberapa kilometer dari tempat tinggal kami. Kami yang tau rasanya hidup tanpa listrik dan kami yang tau bagaimana rasanya saling membantu satu sama lain ketika tak ada obat yang paling mujarab selain diri kami sendiri.
Kami membentuk definisi keluarga menurut kami.
Kami yang merasa lebih rindu dengan 10 orang di pulau sana ketimbang keluarga sendiri.
Kami yang tau bagaimana rasanya rindu dengan es teh, kami yang setiap malam berhadapan dengan bintang.
Kami ber 20 yang pernah bertahan sekitar 5 minggu di Papua Barat. Di pelosok Papua Barat. Kami yang entah dengan apa motivasinya dipertemukan dengan tim ini.
Kami! hanya kami!

Terbuat dari apakah kenangan itu?

Kenangan itu tidak pernah dengan sengaja untuk dibentuk. Ketidaksadaran kitalah yang akhirnya menciptakan kenangan. Pun ketika kita merasa rindu dengan kenangan, bukan salah otak yang memproses memorinya. Mungkin ketidaksadaran kita kala membentuk kenangan itu yang melekat di hati.
Entahlah...
Tapi pernahkah kamu merasa sebegitu inginnya mengulang masa lalu? sampai-sampai kamu berharap ingin hidup selamanya dalam kenangan? Dan memandang lekat foto-foto, berharap dengan itu bisa kembali di masa lalu? Pernah?
Well, terkadang saya begitu, terkadang.

Kami bertemu kembali hari ini. Nyaris lengkap 20 orang. Namun sayangnya, pada akhirnya kami hanya ber19, salah satu dari kami berhalangan.
Kami tidak membahas apapun yang berhubungan dengan 5 minggu selama di Papua, kami hanya membicarakan masa kini. Entah karena kami tahu bahwa topik tentang Papuan hanya berkisar itu-itu saja, atau karena masa kini lebih menarik untuk dibicarakan?
Saya kurang tau pasti
Kami tidak berusaha menembus kenangan.
Tapi sekelebat saya merasakan bau kenangan. Apalagi ketika saya memakai kembali baju lapangan yang dirancang untuk kami. Sungguh rasanya seperti menaiki mesin waktu dengan semua kenangan yang tetiba lari berhamburan. Damn..


Terbuat dari apakah sepi itu?

Saya tersadar. Bahwasanya, seberat apapun usaha saya untuk mengembalikan diri  pada masa lalu, tetaplah nihil hasilnya. Tak ada satupun cara yang bisa membuat saya kembali ke masa lalu apalagi mendiaminya.
dan saya pasrah dengan kenyataan itu.

Tadi, saat fauzan berkata " aku duluan ya.." Saya merasa ada yang aneh di hati saya. Ada yang mecelos dan tetiba saya merasa sepi. Sepi yang tidak wajar, menjalar tanpa sebab.
Bukan karena Fauzan yang terburu karena ada acara. Lebih kepada karena kami tak lagi berada di satu lem yang sama. Kami ber 20 tak lagi membutuhkan satu sama lain untuk bertahan.

Saya merasa betapa saya dan anak-anak ini meninggalkan kenangan dan berjalan terlalu jauh. Ataukan memang begitu seharusnya?
Jika saya mampu, saya ingin menyeret kembali mereka kesatu masa dimana kami berjuang bersama. Tanpa ada kata "aku duluan ya.." atau "udah ya.. abis ini aku masih ada urusan". 
Saya rindu saat tak ada yang meninggalkan kami. Karena kami akan ber 20 hingga perjuangan ini selesai.
Saya berharap ketika Fauzan atau siapapun berkata "aku duluan ya.."
itu berarti dia duluan untuk mandi, tidur, atau berangkat mengajar, dan saya tau bahwa fauzan atau siapalah tidak akan pergi kemana-mana. Dia tak punya kehidupan lain selain kami.

Ternyata kami ber 20 telah menjadi prasasti kenangan yang entah akan diurusi atau dibiarkan mati. Itu tergantung pada bagaimana mereka menilainya.
Ingin rasanya kembali di massa dimana tidak ada kehidupan lain yang bisa dijalankan selain kami.
Sayang, saya tidak sesakti itu untuk bisa mengikat kenangan dan menjadikannya masa kini.


Terbuat dari apa hampa itu?

Terkadang takjub juga dengan apa yang bisa dilakukan waktu sesingkat itu pada kami semua. Itu yang yang membuat kami ber 20 memiliki misteri yang tidak diketahui satu dan lainnya.
Percayalah, tak banyak yang tau apa yang terjadi dalam perseorang kami memandang perseorangan lainnya. Semuanya tersimpan rapi di hati masing-masing. Ada yang bersedia membaginya, ada yang tidak. Saya termasuk yang tidak.
Sebenarnya karena ketidakmampuan saya untuk mengungkapan sebenarnya. Dan itu adalah faktor utama yang membuat rasa hampa di akhir pertemuan.

Ah jika saya bisa mengintip hati mereka semua.

Lalu, apa yang saya rindukan?
Entahlah...
Saya hanya ingin bertanya : terbuat dari apakah kenangan, sepi, dan hampa itu?
Apakah mereka saling berhubungan?

Ini kurang 4 orang, ga tau pas itu mereka dimana. Dan ini adalah waktu kami menginjakan kaki di tanah Jawa.


NB : Untuk 19 orang pencipta kenangan yang kini tengah bersibuk mempersiapkan masa depan. Jika suatu hari ada rindu yang meronta tentang kita, ajak aku untuk ikut bernostalgia ya.

#4
#31harimenulis
#bagian2
© RIWAYAT
Maira Gall