Senin, 18 November 2013

Tahanan

"So promise me only one thing, would you?
Just don't ever make me promises.. "
incubus

Karena seingatku, kamu rewel sekali membuatku berjanji. Dan ketika aku berjanji, senyatanya aku malah membuat kita menjadi sedemikian jauh...

Iya. Salahmu!

***

Hingga waktu yang tersisa, kita terkepung saja oleh kenangan.
Pernah kamu begitu menahan keinginan untuk menyambangi kita? Mungkin malu-malu iya.
Mengintip sedikit dan lantas  berfikir: 'jika melangkah masuk, apakah aku bisa keluar?'

Ah.. rutinitas.

Bagiku kamu seharusnya menjadi tawanan. Tidak seharusnya kamu berkeliaran begini. Bebas lalu lalang dan berjalan-jalan.
Kamu seharusnya menjadi narapidana. Berada di penjara dan tidak bebas lepas begini.
Kamu tidak seharusnya berada di pikiran bebas.
Datangilah dukun, maka secara ramalan kamu pasti akan cocok di penjara.
Untuk orang yang pernah memaksaku berjanji, sepertimu. Alam ini jelas tidak cocok untukmu...

Ah... kamu lagi.
Dan aku, egois lagi.

Mengapa bisa kamu berada di alam bebas?
Merepotkan saja!
Kamu membuat semua egoku mencuat keluar tanpa menghiraukan sopan santun.
Kamu membuatku megap-megap seperti tak bernafas.
Nanti kamu bisa membuatku berjanji lagi, dan aku akan melanggar lagi.
Sungguh, kamu tak seharusnya berada di alam bebas.

Drama ini kembali berserak saat kamu kini bebas.
Aku takut jika kamu bebas begini, dan aku dengan mudah terperosok.
Jika terperosok maka kamu akan membuatku kembali berjanji.
Jika aku berjanji maka aku akan membuat kita sedemikian jauh lagi.
Dan iya, itu akan jadi salahmu lagi!

Ah... menakutkan!

***

Bisakah kamu kembali menjadi tahanan?
Dan membuatku aman?

Bisakah kita tidak terjebak dengan ketakutan?
Takut kehilangan padahal kita tahu bahwa kehilangan itu telah melingkari kita sejak lama.

Bisakah kamu berjanji untuk tidak akan membuatku berjanji?


Ah... lalu.

Semoga kamu cepat tertangkap!


Jumat, 01 November 2013

Cukup

Seorang lelaki yang kutemui bukanlah elang yang dengan perkasa terbang membelah cakrawala dan bebas mengepakan sayap membentuk siluet.
Seorang lelaki yang kutemui bukanlah seorang hujan yang dingin dan tanpa prediksi.
Seorang lelaki yang kutemui tidak pula matahari yang perkasa berdiri angkuh.
Seorang lelaki yang kutemui bukan karang yang tegak dan acuh tak peduli seberapa sering ombak menghantam.
Lelaki ini bukan lelaki yang mampu melakukan segalanya, tapi menemuinya membuatku ikhlas. Sungguh kupasrahkan waktu serta kusajikan semua rongga yang aku punya untuknya.

Di satu rongga waktu,
Aku menemui seorang lelaki dan telah kembali dalam kelananya.
Telah berputar-putar dan memasukan banyak sekali makna kedalam kerongkongannya yang haus itu.
Ia telah mengitari bahaya dan selamat dari amukan nestapa.
Badannya telah terkoyak namun matanya tidak koyah.
Kulitnya tidak terawat dengan baik namun senyumnya membuatku mabuk
Cengkramannya kuat, mungkin karena ia telah bertarung pada setiap sisi gelap dunia.
Dia telah menyisir pilu dan kini ia bertemu denganku.

Di satu warna hidup,
Aku berapapasan dengan seorang lelaki yang sanggup mengajarkanku apa itu cukup.
Kelak, dia akan mampu menjelma menjadi apapun, elang, karang, matahari, hujan, dan angin. Tanpa perlu menjadi salah satunya. Baginya, cukup tak berarti melahap semua sekaligus atau memiliki dengan sporadis.

Cukup lelaki seperti itu yang akan aku temui.
Menicumku dengan semua sabar yang ia simpan.
Melihatku dengan semua syukur yang ia rasa.
Mengajaku berlama-lama melamunkan cinta.
Mendebatku dengan semua bijak yang ia tabung

Menemukan lelaki ini, membuatku cukup.
Karena dia lelaki yang tahu caranya melumatkan arti kata cukup pada setiap inci nafasku.
Mengajariku dengan sungguh,
dan mengantarkanku kepada cukup.

Maka cukup itu saja lelakiku.
Yang mencukupkanku pada cukup.



Pantai

Banyak yang mengadukan nasibnya pada pantai. Berteriak kencang pada ombak layaknya bercerita pada sebuah teman dekat. Mengelus dan menuliskan harap pada pasir pantai layaknya menulis pada buku harian.

Pada sebuah pantai, manusia menitipkan hatinya yang tengah berderai.

Berharap pada ombak yang bergulung-gulung agar memberi jawaban.
Berharap pada pasir agar diberi ketenangan.
Berharap pada karang agar diberi kekuatan.
Berharap pada angin yang berhembus agar mampu melepaskan.
Berharap pada matahari yang terbit dan tenggelam untuk menyampaikan kerinduan.

Manusia menyimpan harap, agar pantai dapat melarung kisah,

Sebagian berharap kisah itu hilang terbawa ombak menuju lautan.


Sebagian berharap ombak menjadi kurir pengantar,
dan membawa kisah itu kembali ke pasar pantai.



Senin, 14 Oktober 2013



Kadang memang begitu,
Menjadi aman selalu dijadikan jawaban.
Takut melihat peluang karena pasti akan banyak kerikil menghadang.
Menatap takut-takut pada batasan,
enggan untuk menapak terjang.
Hingga akhirnya hanya bisa mengikuti,
dan selamanya menjadi penonton sejati.
Padahal, jika jeli..
menjadi berbeda sesekali tak akan menjadi rugi.
Justru malah membuat diri semakin terlatih.

Hingga nanti,
seluruh dunia akan mengakui,
bahwa kaulah sang ahli.

Selagi muda, selagi bisa,
Jadilah berbeda!





For more curiousity, visit my art portfolio on www.menjualdiri.tumblr.com
Thanks :)
Happy kepo!

Jadi bagaimana?

Lantas bagaimana lagi harus menjalani hidup setelah dipukul bertubi-tubi oleh realita?
Lantas formula seperti apa lagi yang harus digunakan agar paham bahwa cahaya sedang menunggu di ujung jalan sana?
Lantas apa lagi yang bisa diselamatkan saat kemudian yang berguguran bukan lagi ego tapi mimpi?
Lantas ketika satu per satu yang senjata mulai rontok, bagaimana caranya untuk berperang?
Lantas jika semua menjadi begitu berhamburan di tanah, bagaimana memungutinya sekali lagi?
Dan ketika berantakan menjadi semakin menjadi dan lantas bagaimana membenahi?

Lantas bagaimana ini?

Bagaimana ini?
Semuanya seperti berputar-putar tanpa akhir.

Bagaimana ini?
Semuanya mulai bertanya tanpa henti.

Bagaimana ini?
Semuanya tampak tak mengerti.

Bagaimana ini?
Semuanya ingin hasil yang pasti.

Saat rasanya hanya ada kabur, sepertinya hanya ingin menarik selimut dalam-dalam dan lantas tenggelam saja didalamnya.
Saat rasanya bingung sudah mencapai puncaknya, rasanya hanya ingin menyalakan air hangat, membuat gelembung dan berdiam diri semalaman.
Saat rasanya gamang menjadi tuan rumah, rasanya ingin sekali duduk di pinggir pantai dan membiarkan diri dilarung.


Jadi harus bagaimana ini?
Bagaimana selanjutnya.
Seperti apa lagi?
Bagaimana lagi?

Dimana kompas harus dibeli?

Jumat, 11 Oktober 2013

Menua

Bagaimana kalau saat tua menghadang, kita menghilang saja?

Kita bersembunyi pada kabut, menghirup dalam-dalam sejuk, dan mendengkur pada lereng gunung.
Kita akan biarkan dingin tetap syahdu agar peluk terasa semakin perlu. Biar saja begitu hingga hati berkabung.

Lalu kita akan menatap pucuk daun yang basah karena embun, lalu segelas teh akan tiba saat matahari muncul dengan anggun. Menemanimu dan aku yang sibuk duduk melamun.

Kita biarkan saja masa muda tertinggal jauh pada deru kota dan bersiap berjalan pada waktu. Sehingga nanti, saat waktu semakin menarik semua indah rupamu dan rupaku, diam-diam semakin mendekati detakmu dan detakku, kita hanya tinggal merayakan.

Bahkan ketika waktu akhinya benar-benar tiba, maka kita akan saling mengantar.

Bagaimana kalau kita bungkus setiap malam untuk sibuk menghitung semua cintamu, sesuatu yang jarang kita lakukan dulu. Lantas kita akan menertawai nyali ciut mudamu itu. Boleh juga dengan mengingat betapa konyolnya aku saat tersedu. Dan kemudian tertidur dengan rasa haru.

Jadi,
Bagaimana?

Siapakah kita menua bersama?




Rabu, 04 September 2013

BISU!

"silence is a loudest cry"


Pipiku panas, air mata menamparku dengan begitu keras.
Aku punya ribuan kata nestapa yang ingin aku keluarkan.

Tapi hingga kondisi berubah segenting inipun, kamu masih sibuk bertanya.

Lucunya kamu ini. Kamu pikir semua hal ingin kamu ketahui haruslah dengan perantara kata?
Lantas bagaimana kamu mencoba menjelaskan cara semesta memainkan hujan?
Bagaimana kamu mencoba memahami cara semesta mengeluarkan larva?
Apakah selama ini kamu hanya memahami pertanda dengan kata?
Tidakkah kamu pahami kata bisa saja berupa angin yang berbisik, hujan yang berderu, bahkan sinar yang silau. Kata bisa berupa lembutnya aku tersenyum. Kata bisa berupa pilunya aku menangis.
Pernahkah?

Lantas setelah kamu tak lagi mendapatkan kata, kamupun pergi. Kamu pergi dengan tetap berfikir bahwa seluruh tanya hanyalah mampu dijawab dengan kata.

Kamu betul-betul lucu…

Pahamilah..
Ada sesuatu yang seharusnya kamu pahami tidak lewat kata.
Sesuatu dibalik senyumku, sesuatu dibalik tangisku, Pernah kamu sadar itu adalah kata yang tidak mampu aku keluarkan?
Aku tidak semampu seperti apa yang dibenakmu. Aku tidak mampu untuk berkata betapa aku ingin kamu ada disini, disampingku.
Sebegitu tidak mampunyakah kamu merangkai semua peristiwa untuk mendapatkan jawaban?
Apakah kamu tidak pernah sadar bahwa paksaanmu padaku tentang kata begitu menyakitkan?

Untukmu, yang mengaggungkan kata.
Berbaliklah dan hadapi aku.
Janganlah bertanya, aku tak punya daya untuk menjawab.
Andai kamu bisa intip sedikit sudut mataku,
Andai kamu bisa bersabar untuk mengorekku lebih dalam,
Andai kamu bisa membaca pertanda,
Andai kamu bisa merangkai semua gerak,
Andai kamu mau membacaku secara tidak biasa,
Mungkin kamu akan ada disini, seperti apa yang aku ingini.

Andai kamu paham.. bahwa aku tak pernah punya kata, untuk semua hal yang aku alami. Aku hanya mampu menyampaikan lewat udara. Bagiku, itu perantara paling mujarab untuk menyampaikan kata. Karena hanya udara yang mampu menyampaikan kata dalam bentuk doa.

Untukmu, yang selalu memahami kata sebagai sebuah pertanda.
Pahamilah..
Bahwa ada sesuatu, yang seharusnya kamu pahami tapi tidak lewat kata.



Tidak lewat kata.
© RIWAYAT
Maira Gall