Sabtu, 24 Mei 2014

Manusia Dalam Sorotan #1

"Well I don't like,
Living under your spotlight,
Just because you think I might"
(Jennifer Hudson-Spotlight)

Tersebutlah seorang itu sebagai seorang yang berada dalam sorotan.
Saat berada dipanggung pasti akan dieluk-elukan.
Dengan mic dan lampu sorot, kepayanglah dia dengan teriakan-teriakan.
Berganti-ganti panggung dan menikmati tepukan tangan.
Dengan sangat takjub meneriakan namanya dan tanpa pelit memberikan pujian.
Saat naik panggung dan lampu sorot menerpa tubuhnya, maka terbiuslah satu ruangan.
Tatap mata semua tertuju padanya, seorang bintang kesayangan.

Hingar.
Bingar.
Menjadikannya sebagai seorang bintang dibawah lampu sorot.


Aku hanya ingin tahu.

Apa yang terjadi saat ia turun panggung, 
tanpa lampu sorot?

#Bagian1

Achievement Unlocked: Merbabu

Hai.
Sudah lama tidak bercerita tentang hidup. Jadi di hari sabtu yang cerah ini, ijinkanlah saya barang sedikit menceritakan tentang kehidupan saya ini. Oke, jika berkenan, baca dengan seksama ya.

Kali ini saya mau cerita pengalaman saya naik gunung untuk pertama kalinya! (Untuk yang benar-benar mengenal saya, pastinya kaget kalau tahu saya naik gunung. Kalau naik lift mall pastinya semua akan biasa saja. Tapi ini saya naik gunung. Gunung Merbabu)

Ini terjadi di awal bulan Mei. Salah seorang sahabat lelaki saya sedari SMA, Ilham, mengamini salah satu wacana saya tentang naik gunung. Sebelumnya saya memang pernah memintanya untuk mengabulkan keinginan saya naik gunung, jadi ketika Ilham bersedia naik gunung bersama saya, itu seperti jodoh.

Jujur, ketika Ilham betul-betul mengajak saya naik gunung, sebetulnya saya lebih banyak takutnya. Saya takut merepotkan, takut jatuh, takut pingsan, takut banyaklah. Tapi saya halau semua rasa itu, jadi alih-alih saya takut, saya malah lebih excited! (Muehehehe)
Jadi setelah Ilham memberitahu bahwa kami fix akan berangkat di hari sabtu, jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah siap meminjam alat-alat. Mulai dari carrier, sleeping bag, dan sepatu (maklum, sepatu saya flat shoes semua). Membeli aqua 2 botol, coklat, inilah itulah.
Awalnya Ilham bilang akan berangkat jam 2 siang, tapi senyatanya Ilham malah baru menjemput saya jam 8 malam di rumah. Jadi sepanjang itu, saya memanfaatkan waktu dengan tidur. Daaan karena saking bersemangatnya, saat tidur saya bahkan bermimpi sudah berada di puncak.

Singkat cerita, jam 8 malam, Ilham menjemput saya dirumah, dan saya sudah siap naik gunung.

"Wohoooo naik Merbabu kita ham!" Seru saya.
Ilham hanya tertawa.

Menembus malam, kamipun sampai di pintu gerbang menuju desa tempat pos inti Merbabu. Karena jalannya nanjak dan motor Ilham belum diservice maka beberapa kali saya harus turun motor dan berjalan.

Nah ini dia cerita pertamanya.
Jadi, saat turun dari motor dan berjalan, saya sudah kelelahan. Padahal belum apa-apa.
Untuk itu saya berfikir, sepertinya saya tidak akan bisa melanjutkan pendakian ini. Padahal itu bahkan belum sampai di pos inti. Payah ya saya? :(
Nah, saat sampai di pos inti, saya langsung bilang ke Ilham "Ham... aku ga ikutan deh! aku tunggu aja disini"

Tahu apa respon Ilham setelah saya bilang begitu?

Ilham tidak memberikan respon!

Duh..

Pukul 23.00.
Pos Inti Merbabu.

Saya dan Ilham harus menunggu 2 orang lainnya lagi, karena kami akan naik ber 4. Jadi kurang lebih kami baru naik jam 11 malam.

Dan dengan membaca Al-Fatihah 3 kali saya (kami) pun memulai pendakian.

15 menit pertama

"Aku ga kuat... berhenti dulu"

15 menit kedua

"Aku ga kuat. Aku dipanggilin tim SAR aja. Aku ditinggal disini aja sampe besok"

Hahahaha!
Payaaah ya?
Tapi walau banyak berhenti, dalam waktu  kurang lebih 3,5 saya sudah bisa sampai di post 2! Bahagianya saya! Kami sampai sekitar pukul 02.00. Karna pada dasarnya itu adalah pendakian massal, jadi sesampainya di post 2, sudah ada tenda avalaible yang bisa ditiduri.
Jadi tanpa menunggu komando, saya langsung masuk tenda dan tidur.

Pukul 03.00

Saya hiportemia!
Untung saya bawa 3 jaket. Walhasil saya pakailah 3 jaket itu plus sleeping bag. Tidur dengan menggigil hingga subuh datang.


Pukul 07.00

Saya sarapan bersama dengan para pendaki lainnya (tentu saja sebelumnya saya harus pipis dulu di semak-semak dan sholat subuh). Setelah sarapan, Ilhampun berkata "Ayo Peh, muncak"

Saya diam sejuta kata. Sebetulnya saya sudah merasa bangga sudah sampai sejauh ini. Tapi betul juga kata seorang pendaki, "Eman-eman nek ra muncak. Sehat to? Muncak lah"

OKE! Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Mari ke pos 3 (bukan puncak niatnya)

Pukul 08.00

Pendakian ke pos 3 dimulai. So far sih sama dengan pendakian awal. Cuma pendakian dari pos 2 ke pos 3 memang agak nanjak dan jalannya lebih sempit.

Pukul 10.00

POS 3!

"Bagus ya Haaaaam!" Kata saya sumringah.
Ilham hanya tertawa.

Lalu, sambil menunggu anak-anak lainnya tiba di pos 3 saya sibuk melihat pemandangan (dan foto-foto sealakadarnya), dan Ilham tidur.

Pukul 11.00

"Jadi Peh, Merbabu itu puncaknya banyak. Yuk tak bawa kamu ke puncak yang paling deket aja?"
Ilham baik sekali deh. Saya terharu.

Jadi naiklah kami ke puncak tower. Itu puncak yang paling dekat.
Kami naik kurang lebih 20 menitan.

Dan ditengah-tengah pendakian ke puncak, hujan lebat mengguyur.
Jadi cepat-cepatlah kami naik dan berteduh di bawah tower.
Saat reda, kami baru turun.

Nah ini serunya. Dibandingkan naik, turun gunung lebih sulit dan menyeramkan bagi saya. Apalagi saat turun, tetiba hujan nan lebat bat bat bat mengguyur! Jackpot bagi saya yang pemula!
Dari puncak tower ke pos 3 tidak butuh waktu lama walau hujan. Tapi sesampainya di pos 3, lutut saya tremor. Gemeteran hebat. Dan saya ga berani bilang ke Ilham.

Maka dengan kembali menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, saya dan Ilham turun dari pos 3 ke pos 2. Waktu naik yang hanya 2 jam itu ternyata sama dengan waktu turunnya yang juga 2 jam. Dengan sepanjang perjalanan yang hujan lebat sehingga harus melawan arus air, saya cuma bisa membaca salawat dan dzikir sepanjang jalan.

Huh hah!

Lucunya adalah ketika sampai kembali di pos 2, penampilan saya kacau. Berantakan.
Malah sampai ada bertanya "Weh, kok lebay e?"

Sial!

Pukul 14.00
Pos 2 lagi

Lemas!
Saya cuma bisa diam dan makan biskuit. Senyum sealakadarnya dan melihat pemandangan. Ditambah baju sampai sepatu saya basah, bikin saya jadi semakin ga nyaman untuk berulah macam-macam.
Keep calm dan makan biskuit gandum.

"Siap?" Kata Ilham saat kita akan turun gunung.
"Yak!" Kata Saya

Dalam hati, saya cuma pengen sampe kamar. Kamar! Saya rindu kamar. Saya mau tidur di ranjang di kamar.
Ayo turun!

Pukul 14.30

Turun gunungpun dimulai.
Lutut saya semakin tremor.
Saya jalan seperti siput.
Ilham harus menggandeng tangan saya dari awal sampe turun.
Lutut semakin tremor, hingga patah-patah untuk berjalan.
Tertatih-tatih dengan makna sebenarnya.
Saya terus-terusan minta maaf karena jalan terlalu lama.
Hingga membuat Ilham jengah dan berkata "Minta maaf sekali lagi, tak tinggal"
Lalu saya diam dan mengikuti jejak langkahnya.

Pukul 17.30
Turun gunung itu biasanya durasinya setengah perjalanan. Tapi saya? Bahkan lebih lama turunnya dibandingkan naiknya.

Hingga sampailah kami di jalan konblok.Saat Ilham mencuci jas hujan saya dan dia yang kotor, saya duduk dan memandang langit sambil menahan tangis.
Lalu dalam hati saya berkata,

"Peh, apa coba yang ada dipikiranmu buat naik gunung?"

Dan cerita klimaks dimulai.
Kaki saya keram dan tidak bsia berjalan.
Padahal pos inti tinggal 10 menit berjalan lagi.

Ilham langsung menelfon temannya namun tidak ada respon. Kemudian Ilham menelfon tim SAR yang nomornya ada di tiket masuk.
Tidak lama kemudian, sekitar 3 menitan, tim SAR datang dengan motor.

Dengan nada tertahan karena menahan tangis dan sakit, saya berkata "Kalau duduknya nyamping bisa mas?"
Mas-nya menjawab "Nanti jatuh mbak, jalannya turun banget soale, ngangkang aja mbak. Saya bantu"

Dengan menahan semua cenut-cenut yang ada, ngangkanglah saya untuk naik motor.
Ya Allah.. gini banget ya :'(

Pukul 18.00
Pos inti.

Saya sudah berganti baju, sudah minum teh anget dan siap pulang ke Jogja, dan Ilham bertanya.
"Kapok Peh?"
"Hooh!"
"Biasane sih gitu. Pendaki awal itu kapok. Trus wegah munggah maneh. Tapi ngko nek wis tekan omah, mesti kangen trus pengen munggah maneh. Hambok piye..."

Dalam hati: "Aku, ra bakal!"


Pukul 20.00
Kami meninggalkan Merbabu dan menuju Jogja.
Karena hujan yang mengguyur terlalu lebat tadi siang, jalan pulang ternyata menjadi sangat bermasalah. Sehingga saat perjalanan pulang, saya dan Ilham sempat jatuh dari motor (Kocak!).

Sampai Jogja kami makan dan Ilham mengantarkan saya ke rumah. Sebelumnya saya mengucapkan beribu-ribu terimakasih pada Ilham atas semua perhatiannya selama pendakian.

Esok hari, pukul 06.00
Badan saya kaku dan keram. Saat bangun yang bisa saya lakukan hanyalah kedip-kedip dan memanggil mama untuk membawakan mukena.
Sehabis sholat, saya melihat foto yang ada, sambil menunggu mbak fitri menelfon dari Lombok.

Di akhir telfonnya mbak fitri bertanya:

"Jadi kapok Peh?"
"Engga!"
"Rinjani kita? Mendaki bareng kita?"
"Mendaki bareng kita!"

Oh shit. Ilham benar tentang pendaki pemula.
Saya mau naik gunung lagi! Mau!

***

Apa yang saya rasakan setelah naik gunung?

1. Film 5 cm itu menipu! HA HA HA!
2. Jujur, saya ga merasa religius banget karena melihat kebesaran Allah. Ya sih, memang keren banget pemandangannya, dan Allah maha besar. Tapi bukan point itu yang saya pelajari. Naik gunung mengajarkan saya bahwa untuk mencapai puncak, kita ga bisa melakukannya sekaligus. Harus bertahap. Pelan-pelan. Dan sebenarnya, bukan pemandangan dipuncaknya yang bikin kita pengen foto, karena saya yakin, melihat dengan mata juga sudah cukup. Alasan foto di puncak itu dikarenakan rasa bangga bahwa akhirnya kita bisa berjuang berada di puncak. Kebanggaan itu yang dipublikasikan. Kebanggaan itu yang akhirnya bikin saya yakin bahwa hidup itu benar-benar perjalanan yang diijinkan oleh Allah. Ya. Naik gunung mengajarkan saya kepada sebuah proses.
3. Push your limit! Nah ini. Ini yang paling berkesan. Ternyata tidak pernah ada hal yang tidak bisa kita lakukan selama kita mau dan Allah Ridha. Makanya, kalau saya merasa lelah dan stuck, saya selalu ingat perjalanan naik gunung. Saya harus melewati semua batasan yang ada. Saya bisa kok.

Sekian cerita saya dan akan saya tutup dengan foto-foto.
Di puncak saya ketemu temen kuliah dan temen gardep saya. Ealah.. 


Special thanks:
Allah SWT and ILHAM ARISNAWAN.

Makasih dengan makna yang tanpa batas ya Ham. Suwun! :')

Kamis, 03 April 2014

Bahagia

Walau tidak sempurna, tapi saya tahu ini adalah bahagia.

Walau tidak sempurna? Ya. Tidak sempurna.
Bagaimana mungkin makan duren berpuluh-puluh, bisa disebut bahagia bagi orang yang benci duren?
Atau bagaimana bisa tertawa terbahak-bahak di kala senja, dikatakan bahagia saat ada yang tengah serius rapat untuk proyek penting, bernilai milyaran?
Bagaimana bisa berbuka puasa sambil memanjatkan doa, dikatakan bahagia bagi mereka yang tanpa memanjatkan doa saja seluruh harta dapat terbeli?

Tapi nyatanya saya bahagia dengan lepas. Karena bahagia memang tidak butuh yang sempurna. Maka saya beryukur mengenal yang sederhana sebagai cara berbahagia.

Sore ini, saya masih bisa berbuka puasa dengan es teh yang dijual diangkringan depan kantor. Harganya murah hanya 1.500. Cukup melegakan tenggorakan, manis, dan pakde penjualnya adalah orang yang ramah.
Kemudian 3 potong klapertart sudah terkunyah sempurna sebagai pengganjal perut. Setelah itu ada pesta duren dadakan di depan kantor sambil tertawa terbahak-bahak dengan orang-orang baik. Sebelum itu masih diberi kesempatan untuk pusing memikirkan konsep ulang tahun kantor. Dan setelah ini akan menonton film di bioskop.
 

Walau tidak sempurna, tapi saya bahagia.

Terimakasih ya Allah.
Terimakasih.

Rabu, 02 April 2014

Aku mengerti

"Sementara, lupakanlah rindu, sadarlah hatiku, hanya ada kau dan aku.." -float-

Karena aku ingat saat hatiku mampu melayang-layang di angkasa. Beberapa kali meledak karena kamu menyapa. Dan merah menyala karena dirayu.
Walau kini layu.
Tak apa.
Sekali lagi, biarkan saja aku merasa rindu dengan derasnya. Bahwa rindu adalah satu-satunya saksi. Walau menjadi tidak adil karena justru malah rindu yang akhirnya menjadi prasasti. Harusnya rindu bukan untuk dikenang. Tapi sayangnya aku tidak memiliki apapun lagi selain rindu untuk mengenang.

Sisanya kini hanya rindu. Hanya rindu.

Tidak lagi menjadi lebih, 
Dan tak akan menjadi kurang.

Kamu tidak akan kembali.
Aku mengerti.

Canggung

Dalam sebuah jembatan.
Membentang dengan aku dan kamu yang berada di sisi-sisinya.
Aku jauh-jauh datang membawa janji.
Tapi jembatan itu tidak menolongku untuk menjumpaimu.
Biarlah...

Maka aku pulang, kucoba esok hari.


Dalam sebuah jembatan.
Besar berdiri diantara aku dan kamu.
Kali ini kusiapkan nyali juga tekad.
Tapi tetap saja jembatan itu satu-satunya penghalangku menujumu.
Biarlah..

Maka aku kembali pulang, dan akan kucoba lagi esok hari.


Dalam sebuah jembatan.
Satu-satunya yang menjadi penghubung antara aku dan kamu.
Hari ini aku membawa rindu, sedang ranum dan kupersiapkan sebagai seserahan.
Namun tetap saja aku gagal menemuimu karena jembatan itu.
Maka biarlah..
Sudah..

Dalam sebuah jembatan bernama canggung yang ingin sekali kutaklukan itu, aku sudah menyerah.

Karena bagaimana bisa aku melewati jembatan yang telah dibangun oleh..
Oleh kamu.




***

"Apa kita akan jadi 2 orang yang saling canggung?"
"Tidak akan"


Sayang, kamu bohong.

Rabu, 12 Maret 2014

Aku bahkan hafal!

Minggu ini, partai politik betul-betul membabi-buta menyerang media untuk satu alasan: menunjukan eksistensi. Kelakuan partai politik ini membuat seluruh inderaku lelah. Hilir mudik mereka berdatangan memaksaku berfikir keras untuk membuat konten yang tepat. Harus inilah-itulah, dengan semua hal yang mereka inginkan. Padahal jika mereka memang memiliki kredibilitas yang tinggi menjadi seorang wakil rakyat, tak perlulah harus melalukan manipulasi media sedemikian rupa hanya untuk dikenal baik. Memangnya mereka produk kosmetik?

Mereka, para partai politik ini, menjadikan media seperti make up yang membuat mereka tampak apik. Atau menjadikan media seperti parfume yang membuat mereka seakan wangi. Padahal, jika mereka mampu dan berani untuk tampil telanjang, paling tidak point kejujuran yang mereka agungkan itu sudah terbuktikan. Bukan malah melakukan kebohongan yang terselubung. 

Sayang, media tidak mampu menolak. Kini, mana ada lagi media yang mampu bertahan dengan ideologi? Marketing akan sangat marah jika ideologi masih bersemayam kuat dalam suatu media. Hingga alih-alih menjadi media yang menjadi anjing pengawas, media malah bersuka cita menjadi salon. Dan jika sudah begini, maka kami-kamilah para budak salon yang harus membuat para partai politik itu tampak baik. Walau kami (saya lebih tepatnya) sudah muak hingga ubun-ubun.

Aku jelas lelah dengan pencitraan mereka. Hari ini terutama. 

Bayangkan, aku harus merubah konten, memanipulasi respon, inilah dan itulah untuk para partai politik yang sesungguhnya buruk rupa. Jangan dikira aku tidak protes. Aku sudah protes, namun dibekap oleh marketing yang berkata lantang  "Duit ini non!"
Ini semakin lama semakin tidak masuk akal. Dimana lagi posisi media yang sehat? Idealnya jika memang demi kepentingan negara, media pasti akan dengan senang hati untuk membantu warga negaranya untuk mengetahui tentang siapa-siapa saja yang kelak akan berjuang untuk mereka. Toh media juga merupakan bagian dari warga. Bukan malah seperti ini, media justru menyanggupi menjadi media kampanye hanya karena uangnya.

Entah siapa yang salah, medianya, partai politiknya, atau aku?

Dan kelelahan ini hampir mencapai puncaknya. Rasanya seperti berbohong untuk sesuatu yang tidak seharusnya berbohong. Seperti memanipulasi untuk hal yang seharusnya tidak dimanipulasi. Lelah karena menggerutu dan menjadi tidak punya kuasa menolak karena alasan "mereka sudah bayar". Hingga menyerah karena alasan "yang penting dibayar". Harga diri mudah ya digadaikan?

Jika sudah lelah begini, biasanya yang lantas aku lakukan adalah beranjak dari kursi kantor berwarna coklat dan pergi menuju meja kotak untuk melontarkan candaan sekenanya. Kemudian tak lama, beberapa rekan kerja menanggapi candaku hingga tawaku meledak-ledak berlebihan.

Namun sore ini, kesibukan yang diberikan partai politik sanggup membuatku enggan meninggalkan kubikelku barang sebentar. Malas rasanya untuk sekedar haha hihi. Hingga alih-alih aku berjalan, aku lebih memilih untuk duduk dengan posisi selonjor dan menikmati linimasa twitter sambil menghirup sisa-sisa kopi dingin. Aku lebih ingin berada pada pada kalimat demi kalimat yang tertulis di media sosial itu.

Tapi sayang, linimasa pada jam-jam segini bukan yang asik untuk diamati. Para pengguna yang kerap memberikan twit menyegarkan pikiran belum berkicau. Mungkin karena masih terlalu sore. 
Aku sebenarnya nyaris menutup twitter, hingga mataku manangkap sebuah twit dan aku memandangi twit itu lama... Lama...

Seorang pengguna yang aku ikuti twitnya menanggapi sebuah pertanyaan dari pengguna twitter yang lain yang tidak aku ikuti.
Apa isinya tanggapan twitnya? Jelas tidak penting! Hanya menjawab pertanyaan basa-basi saja.
Dan apakah aku kenal pengguna yang tidak aku ikuti itu? juga tidak.

Tapi..
Tapi aku tau siapa dia. Dia, pengguna yang tidak aku ikuti pergerakan linimasanya itu, aku tau siapa dia.

Dia adalah pengguna twitter yang juga kerap ada di linimasamu. 

Seakan menyambut rindu, aku langsung teringat kamu.




Kamu yang selalu terpantau oleh rindu.
Maaf jika selalu mengintipmu.

Kamis, 02 Januari 2014

Kemarikan 2014

Apa yang harus saya katakan pada 2013? Terimakasih.

Terimakasih pada 2013 yang memberikan kesempatan dengan sangat lapang, hingga hati saya menjadi tangguh. Tidak cengeng.

Padanya, saya diberikan kesempatan mencicipi betapa nestapanya saat harapan itu kandas terbawa dan hilang meresap oleh udara.
Padanya, saya diberikan kesempatan mencicipi sensasi kecewa yang sungguh jumpalitan rasanya.
Padanya, saya diberikan kesempatan mengenyam harapan dan impian, hingga semuanya menjadi buih muntahan.
Padanya, bertubi-tubi saya terpantul-pantul pada jurang mimpi.

Hingga habis saya merangkak, kembali ketepian tempat semuanya bermula.

Dan saya terkapar, di 2013.



Dengan begitu, apa lagi yang harus saya katakan pada 2013 selain terimakasih?

Terimakasih dengan nada tulus ala anak balita yang diberi balon merah muda saat es krim rasa jambunya terjatuh.
Terimakasih dengan nada ikhlas, seperti seorang ibu yang mengetahui anaknya telah bersusah payah membanting tulang menerbangkannya ke tanah suci.

Ya. Terimakasih katagori itu yang saya haturkan pada 2013.

Karenanya, hati saya bebal atas kecap nelangsa hidup.
Kini saya tahu persis kemampuan saya dalam bertarung untuk selanjutnya.
Karenanya, kuat saya berdiri menantang.

Walau tidak semuanya buruk, namun 2013 sungguh menerpa hati hingga sekuat baja.
Beberapa diantaranya sanggup bikin saya tumbang, terbang, kepayang, tercengang, dilanda rasa senang, dan diliputi perasaan hilang.
Bahkan asmara 2013 mengajarkan saya akan satu hal. Bahwa saya siap meninggalkan semua yang berkaitan dengan sementara. Saya jengah dengan romantika anak muda, dan saya ingin berumah tangga. Ini gara-gara 2013.

Baiklah, karena renungan telah dilakukan,
harapan telah dituliskan,
dan semangat telah dikumpulkan.

Maka sambutlah saya yang siap meluncur dibawah pelangi 2014.

Resolution to make revolution!


GO!
© RIWAYAT
Maira Gall