Kamis, 21 Mei 2015

Laboratorium

Indonesia memang laboratorium manusia. Jika mau meneliti apa saja tentang manusia, tinggal datang kesini. Semuanya lengkap tersedia. Dari yang paling kaya hingga yang paling miskin. Dari yang paling pintar sampai yang berpura-pura pintar, semuanya ada.
Jika ini makanan, maka benarlah bahwa Indonesia adalah gado-gado.
Mengakui bahwa kita adalah bagian dari Indonesia, berarti mengakui ke gado-gadoan itu. Itulah mengapa Bhineka Tunggal Ika menjadi sangat sedap ketika diucapkan, mungkin karena inilah saus kacang yang jadi pengikat semua keragaman suku dan bangsa.

Tapi gado-gado tak melulu lengkap dan komplit sebagaimana adanya. Sama seperti kita ketika memesan gado-gado, kadang kita punya special request yang bikin ribet si penjual.
"Mas, engga pake telor ya",
"Mas, ketupatnya separo aja",
"Engga pake ketimun ya mas",
"Sayurnya dikit aja"
"Ga pedes mas. Ehh... pedes deh dikit. Dikit aja tapi"

See? Jadi konsep gado-gado itu sebetulnya bukan makanan mutlak, itu semua terserah bagaimana kita mau mengkastemnya.

Ya sama seperti Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jika benar bahwa kita adalah penghuni tulen negeri ini, seharusnya kita memakan semua keragaman ini dengan lengkap, tapi berhubung kita ini penikmat gado-gado dengan special request. Jadi suka-suka kita dong bagaimana Indonesia itu. Ada yang merasa sangat Indonesia walau belum pernah keluar dari Pulau Jawa. Ada juga yang merasa sangat Indonesia karena sering membuat aksi-aksi sosial untuk Indonesia. Apapun itu, pokoknya jangan sampai lupa bumbu kacangnya alias Bhineka Tunggal Ika nya.

Apakah aku paham soal Indonesia? Entahlah. Tapi aku akan selalu tertarik dengan manusia-manusia di Indonesia. Untuk itulah aku di sini, tiba dengan selamat bahkan ketika matahari bahkan belum terlihat jelas. Aku tiba dengan penampilan yang masih sangat kacau. Mata yang masih setengah melek, mulut masih asam, dan hati masih belum sepenuhnya sadar.
Ini sih bukan pengalaman pertama aku ke sini. Beberapa tahun silam aku pernah kesini bersama dengan teman-teman kuliah. Kami dengan bangganya bisa mendarat di Bumi Cendrawasih untuk melakukan kegiatan paling seru, KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Tapi ini pun tak kalah seru. Ada misi yang harus dituntaskan di sini. Sebagai Antropologis, pulang ke Indonesia sama halnya seperti berkutat di labolatorium bagi para ilmuwan. Jadi ini bukan dalam rangka diving di Raja Ampat atau mendaki pegunungan Jayawijaya. Ini dalam rangka bermain di labolatorium manusia.

"E.. Kakak Re, mobil su ada.."
"Oh iya. Kita pergi sekarang aja kak" Aku menjawab supir.

Papua pagi ini memesona seperti seharusnya. Cantik sekali. Bukit di kiri dipadu dengan danau Sentani di kanan adalah hiburan sempurna untuk mata. Danaunya bersih dan sangat biru, bukit batunya juga meliuk-liuk apik sepanjang jalan. Aku serasa disambut tarian alam.
Untung aku tiba di pagi hari, jadi masih bisa kebagian udara segarnya. Komplit sudah pagi ini.
Aku hirup dalam-dalam udara Papua yang berbeda ini, sebelum habis.

Here I am, Papua.






#31harimenulis
#2-31

Bandara

Selalu ada tujuan bagi setiap orang yang berpergian.
Pada setiap koper yang mereka tarik, ransel yang mereka pikul, tas tangan yang mereka genggam, disematkanlah tujuan pada setiap langkahnya. Masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda. Beberapa diantaranya dengan lugas mengatakan pergi adalah proses untuk menemukan diri sendiri, tapi ada juga yang meniatkan pergi agar tau tempat untuk kembali. Aku sendiri tidak tahu pasti masuk ke golongan yang mana. Mungkin keduanya atau mungkin bukan keduanya.

Di setiap perjalanan, pastilah kita akan bersisipan dengan satu atau dua orang, atau bahkan lebih. Beberapa dari mereka mampu membuat kita terkenang, sisanya hanya sebagai pemanis saja. Tapi itulah yang aku nikmati dari setiap perjalanan, karena perjalanan bagiku berarti perjumpaan. Perkara nanti akan jadi masalah atau anugerah, yang jelas perjumpaan itu sendiri sudah menjadi berkah. 
Perjumpaan demi perjumpaan membuatku akhirnya memiliki sebuah hobi, yaitu menganalisis manusia. Rasanya bahagia sekali bisa melihat, mendengar, dan kemudian menganalisis manusia-manusia yang aku temui secara membabi buta. So if you ask me what my guilty plessure? I will tell you loudly, guessing human! Jahat engga sih?
Dan karena ruang tunggu bandara adalah rutinitas bagiku, maka disinilah lokasi paling strategis untuk menyalurkan hobi dan kesenanganku itu. Maka sembari menunggu, aku dengan senang hati melakukan observasi. Aku kadang suka lupa diri jika sudah begini. Pikiranku akan menjadi sangat liar dan tidak tahu diri. Aku bisa jadi sangat kejam didalam pikiran untuk menghakimi mereka. Jahat sih..

Seperti saat ini. Di hadapanku ada seorang lelaki berjas hitam dengan sepatu kulit, sibuk benar dia dengan handphonenya. Dari caranya berbicara di telfon dan lokasi tujuannya, aku bisa pastikan kalau dia adalah broker proyek. Hidupnya kemungkinan besar hanya didekasikan untuk meyakinkan orang-orang penting di pemerintahan agar mau memberinya proyek.Kasian aku dengan orang tipe ini.
Saat aku menolehkan kepala, aku melihat wanita menggunakan baju yang sangat tidak modis. Well, aku bukan fashion blogger tapi siapapun setuju bahwa jegging leopard warna coklat akan sangat aneh jika dipadukan dengan tank top warna ungu. Sepertinya dia hanya anak orang kaya baru yang baru mengalami pengalaman naik pesawat mentereng. Dari caranya berpakaian, caranya memegang handphone, dia berusaha keras menunjukan statusnya agar layak disebut kaya dan modern. Biasanya hanya orang-orang yang baru kenal dengan kekayaan saja yang mau bersikap begitu. Orang kaya betulan mana sudi sok pamer di ruang tunggu bandara?. Orang kaya beneran akan melenggang dengan anggunnya ke kelas bisnis tanpa perlu susah-susah show off.

“Panggilan terakhir untuk para penumpang dengan nomor penerbangan GA 456 tujuan Manokwari, diharapkan untuk segera naik ke pesawat melalui pintu nomor 5”

Oke cukup observasinya. 
Papua, aku datang lagi!

#31harimenulis
#1-31

Rabu, 20 Mei 2015

Prolog



Saya percaya, bahwa setiap hati adalah panggung. Dimana pertunjukan demi pertunjukan akan terjadi setiap detiknya. Ada kalanya pertunjukan itu tentang cerita klasik yang sering terulang, atau bisa juga tentang cerita modern dari sesuatu yang tengah ramai dibicarakan.

Keduanya sama, baik klasik atau modern, jika itu sudah dimainkan di hati maka akan selalu menarik untuk disimak.

Karena setiap hati adalah pangung, maka tak ada satupun yang mampu lari dari drama-dramanya.
Siapalah yang mampu menahan godaan menyaksikan pertunjukan dalam lakon klasik yang berjudul ‘patah hati’ atau ‘jatuh cinta’?
Saya sebegitu yakinnya bahwa siapapun tak akan mampu lari saat hatinya tengah memainkan drama jatuh cinta. Saat hatinya penuh bunga, terompet yang berbunyi nyaring, dan kembang api menyala.
Pun tak ada yang mampu pergi saat tetiba hatinya layu, sendu, dan biru saat drama dihatinya berubah menjadi drama patah hati.

Hati memang gudangnya pertunjukan.

Menulis adalah merayakan pertunjukan hati, agar tak hanya dinikmati oleh si pemain, tapi juga seluruh penonton.
Letupan-letupan yang terjadi dalam hati sama semaraknya seperti pertunjukan di broadway. Untuk itulah saya menulis.

***

Saya payah dalam urusan berjanji, tapi saya berniat untuk bisa menyuguhkan cerita yang berbeda tahun ini. Untuk itu, jika tidak ada kesibukan, saya ingin mengajak tuan dan puan berjalan-jalan bersama saya. Cukup duduk dan siapkan saja hati yang tenang, karna ini adalah waktu yang tepat untuk berpetualang!

Selamat datang kembali, 31 hari menulis!


#31harimenulis
#1

Selasa, 28 April 2015

BE RI SIK!

Hujan deras mengguyur hutan, lengkap dengan petir yang menyambar-nyambar.
Seekor beruang yang sedang tidur terbangun dan tersambar petir hingga bulunya terbakar.
Datanglah seorang peri baik hati yang dengan sihirnya mampu membuuat langit kembali cerah.
Namun tak lama gunung api meletus!
Suara letusannya mampu membuat para kurcaci hutan berlari kesana-kemari.
Beberapa diantaranya terlihat para unicorn dengan tanduk warna merah jambunya ikut berlarian.
Keadaaan semakin tidak terkendali.
Mereka berteriak-teriak memanggil peri. Kata mereka "Peri... peri... tolong kami.... Peri..."
Namun peri-peri sedang sibuk mengurusi raksasa langit yang dengan bengisnya menyemburkan api.
Perang tak bisa dihalaukan.
Riuh.
Bising.
Korbang berjatuhan.
Para kurcaci hutan bergelimpangan tewas di tanah.
Hewan-hewan mati mengenaskan.
Dan hujan tetap saja turun dengan derasnya.
Belum berakhir, tetiba datang dari pantai, ombak besar yang siap mengulum daratan!
Aku disana! Aku disana! Dan tak ada yang menolongku. Aku terjebak diantara peri-peri mati dan gunung meletus dan kini ada ombak yang siap untuk mengulumku hidup-hidup.
Bagaimana jika aku naik saja ke pohon?
Oh shit! Tidak ada pohon, sudah dikuasai golongan kerdil. Aku harus kemana lagi?
Aku mau terbang saja, tapi aku tidak punya sayap. Sial! Gelombangnya semakin tinggi.
Atau aku berenang saja?
Tapi aku tidak memakai baju renang. Bagaimana jika Neptunus melihatku berenang tapi tidak menggunakan baju renang yang mahal?
Atau biarlah aku membatu peri-peri itu bertarung.
Tapi aku tidak tau jurus mematikan yang bisa aku gunakan.
Aku jadi korban sajalah. Biar nanti aku tunggu Peterpan menyelamatkanku.
Tapi bagaimana jika dia tidak ada?

Oh tidaaaaak! Ombak semakin tinggi.
Aku akan tenggelam. Eh, aku kan bisa berenang, tapi tidak untuk ombak sebesar itu.
Kalau aku mati, siapa yang akan mencemaskanku?

Oke, aku akan mati.
Tidak! Aku belum siap mati konyol



Toloooong! Toloooooooong!
Pikiranku berisik sekali!

Sabtu, 04 April 2015

Perjalanan

Hidup memang gudangnya tebakan. Sejauh mana memandang, yang ada hanya duga-menduga dan sisanya hanya raba-meraba. Sepertinya memang sejak awal diciptakan, dunia tidak dirancang untuk kepastian, walau sekecil apapun itu. Tak heran jika para ilmuwan itu berkata bahwa yang paling abadi di dunia ini adalah ketidakabadian itu sendiri.

Jika memang begitu adanya, lantas untuk apa sibuk-sibuk memikirkan kepastian? Kalau kepastian itu sendiri adalah hal paling langka yang ada saat ini. Apa yang dicari oleh manusia sebetulnya? Kepastian? Atau perasaan aman?
 

Kemarin malam, berbicanglah saya dengan seorang teman lama yang masih sedemikian galau dengan mimpinya. Setiap kali kami mencoba membantunya membicarakan mimpi, pembicaraan kami akan terhenti pada ucapan “Yo… pokokmen BUMN”. Ketika ditanya apa alasannya, dia pun menjawab “Soalnya itu pasti mbel kerjaannya. Gajine po meneh”. 
Hmmm… Apakah sedemikian abstraknya dunia ini, hingga segala macam hal kongkrit akan diburu habis oleh manusia? Jika memang begitu diburu, apakah masih tersisa hal bernama kepastian itu? Boleh saya pesan satu, jika masih ada?
 

Lalu saya yang penasaran, bertanya padanya, “Nek mapan, kabeh-kabeh jelas, kerjaan tetep. Kowe njuk arep ngopo?” (Kalau semuanya udah jelas, pekerjaan mapan, terus kamu mau ngapain). “Lah arep ngopo? Yowis to, enak” (Lah, emang mau ngapain lagi? Yasudah, enak kan) katanya menjawab. 
Oh, begitu ya?
 

Pembicaraan ‘tetap dan tidak tetap’ ini ternyata tidak terhenti sampai disitu saja. Seorang teman baik  yang sangat saya cintai, belum lama ini bergabung bersama dengan ribuan manusia yang siap mendedikasikan hidupnya untuk Negara. Entah apa motivasi dari ribuan manusia itu, yang jelasnya salah satu diantara mereka adalah teman baik saya. Ketika bertemu di Jakarta beberapa bulan yang lalu, saya penasaran bertanya apa rasanya menjadi Pegawai Negeri Sipil? Profesi yang diciptakan untuk para manusia yang pemuja kepastian (setidaknya itu alasan yang saya dengar dari beberapa orang. Beberapa loh ya, jangan marah loh).
 

“Yagitu deh Peh! PNS, tau kan?” begitu jawabannya. Rasanya saya ingin balik menjawab dengan ‘Oh.. ya jelas tau! Aku kan nanyanya cuma buat ngetawain’ tapi urung, saat melihat sorot matanya yang seakan berkata ‘Ipeh, please!’. 
Kemudian kami pun berbincang banyak tentang kehidupan. Sebagai saksi hidup kehidupan PNS, ternyata teman saya merasa bahwa PNS bukanlah kehidupan yang seharusnya dia dapatkan. Bukan dalam konteks kufur nikmat, tapi dalam konteks kebebasan manusia. Rupa-rupanya menjadi aman, tetap, dan terstruktur itu membosankan baginya. Hmmm…. 

Begitu ya?
 

Jika harus memilih, saya tidak tau mana yang akan jadi jawaban bagi manusia. Menjadi tetap tapi tidak menjadi manusia. Atau tetap menjadi manusia tapi di jalan yang tidak tetap?
Sebetulnya apa sih yang salah dengan menjalani tidak tetap? Toh hidup ini juga tidak akan menjanjikan kapastian walapun kita berada di jalur pasti. Atau hidup tidak akan menjadi aman bahkan saat kita bermain aman. Jadi apa yang salah dengan mengikuti kata hati dan bermain di jalur tidak aman, dan memilih hidup yang tidak tetap?
 

Saya tidak berbicara dalam konteks pekerjaan. Tidak sama sekali (garis bawahi ya, tolong). Yang ingin saya bicarakan adalah tentang pilihan menjadi aman itu sendiri. Bukankah menjadi sangat sangat kontradiktif, saat hidup bahkan tidak akan pernah memberikan kepastian, tapi jutru kita mati-matian mencari kepastian, hanya supaya bisa merasa aman?
 

Like, seriously?
 

Coba beritahu saya, siapa yang mencoba mencari kepastian lalu mendapatkannya? Atau siapa yang berada di jalur aman dan lantas merasa aman?
 

Yang kita coba lakukan saat ini, esok, dan kemarin adalah mengantisipasi hidup. Manusia hanya mampu berada di titik itu, mengantisipasi.
 

Mengantisipasi agar kelak kita bisa membeli rumah, maka bekerjalah kita. Jika ternyata kita mendapat hadiah rumah dari undian di Mirota, artinya apa yang kita antisipasikan itu tidak terjadi kan? Atau kita mencoba mengantisipasi kehidupan tua kita kelak, dengan memilih pekerjaan bergaji besar, dengan harapan kita bisa menabung untuk masa tua. Eh… ternyata kita meninggal di usia muda atau kita menikah dengan seorang miyuner, atau ternyata kita anak Micheal Jackson yang hilang. Tuh kan, apa yang kita antisipasikan gagal juga kan? Atau nih, kita mencoba lulus cumlaude, ini dan itu, mengantisipasi supaya kita bisa mendapat pekerjaan mentereng. Lalu ternyata garis hidupnya adalah kita menikah atau justru malah membuka usaha warung.
 

Tidak ada yang salah dengan mengantisipasi, lah wong hanya itu yang bisa dilakukan. Dan memang kita harus membuat langkah antisipasi. Hanya saja, jangan harap itu akan membuat kita merasa aman atau mendapatkan kepastian. Karena satu-satunya hal yang dirahasiakan oleh hidup adalah kepastian.
 

Jikalau memang hidup tidak akan pernah memberikan kepastian, kita bisa hidup dengan berpetualang.
 

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer “Kau terpelajar, bersetialah pada kata hati”.
Itu susah. Iya saya tau.



Cheers!

Jumat, 27 Februari 2015

Pertemuan

Kadang saya takjub pada kemampuan Allah dalam mempertemukan saya dengan manusia-manusia selama hidup saya ini. Rasanya pertemuan saya dengan si a, si b, si c, si d adalah kunci untuk sekelumit kehidupan saya yang akan datang. Sebegitu takjubnya saya, sampai-sampai saya selalu bersemangat bertemu orang-orang baru. Bahkan ketika dalam pertemuan itu, ada hal-hal yang kemudian tidak saya sukai atau justru malah menyakitkan hati saya, namun tetap saja di lain kesempatan saya akan mengetahui alasan mengapa saya harus bertemu orang. Seperti puzzle yang siap ditata pada waktunya. 




Luar biasa!

Rabu, 18 Februari 2015

Katanya idealis itu...

Kalau ditanya, apakah saya pernah melihat mayat mati atau belum. Saya akan jawab ‘tiap hari malah. Di mana-mana ada’. Mayat adalah tubuh tanpa jiwa, jadi boleh dong kalau saya bilang orang yang menggadaikan jiwanya untuk melakukan sesuatu yang tidak dia suka itu, tak ubahnya sebagai mayat hidup?. Tidak salah juga dong kalau saya bilang mereka yang tidak punya mimpi sebagai mayat hidup? Kan mimpi hanya dimiliki oleh orang-orang dengan jiwa yang hidup. Iya kan?

Tapi tentu saja pendapat saya ini akan menjadi perdebatan di dunia persilatan. Dan saya juga tau, mereka akan melempar pendapat saya dengan sebuah kata sakti mandraguna yang niscaya akan membuat saya diam seribu bahasa. Dan kata itu bernama realistis!
 

“Mimpi? bah! Bulshit! Ini hidup men, kudu re a lis tis!”

Yang mana sih yang namanya realistis, sepertinya ganteng, sini coba saya mau kenalan.
Seorang teman saya yang berprofesi sebagai model berkata “hidup itu harus realistis. Butuh make up nih, jadi ya sesekali gapapa lah jadi SPG. Apalagi SPG rokok, kerja ga ribet, duit banyak”. Itu jawaban yang saya dapatkan saat bertanya “Itu kamu engga apa-apa tuh, pake rok mini, trus diliat-liatin pahanya sama mas-mas?”
 

Atau teman saya yang memilih bekerja di sebuah bank, bukan karena dia suka tapi karena desakan. “kudu realistis mbel, aku isin nek ra entuk kerjaan. Tak tompo wae ah…”
Atau teman yang pindah kerjaan bukan karena ingin belajar hal baru tapi karena realisitis “Realistis wae lah, duite ki akeh, yo aku pindah”
 

Tu.. tu.. tunggu dulu! Itu kenapa semua jawabannya itu jawaban pasrah dan lunglai? Jadi realistis itu uang? Kemapanan? Kalau lawannya realistis itu idealis, artinya menjadi idealis adalah menjadi kere, tidak mapan, dan engga asik gitu hidupnya? Woh! Kejam juga ya masyarakat ini. Kalau memang anggapannya begitu, saya boleh dong punya pendapat bahwa mereka yang realistis itu penakut dan yang idealis itu pemberani?
 

Berarti menjadi realitis sama juga seperti menerima semua pilihan tanpa mengerti berapa nilainya? Apakah begitu, wahai pemuda-pemudi yang sering berkata “realitis aja laah…”?
Jika bagi saya realistis itu bukan tentang uang, apakah saya akan menerima sorakan penolakan lengkap dengan lemparan sampah, layaknya penyanyi bersuara sumbang di panggung hiburan?
 

Hmmm…
 

Belum lama ini, saya bertemu dengan teman saya yang kini bekerja di perusahaan raksasa dunia, Unilever. Seperti biasa, pertemuan dengan teman lama akan dimulai dengan “piye mbel, urip?” barulah setelah itu obrolan dan curhatan kami muncrat ke sana-ke sini. Dengan seksama saya mendengar ceritanya tentang pengalaman bekerjanya.
“Ono Peh, bawahanku, cah hukum, cah anyaran, gek ntas lulus. Durung suwi kerjo, dekne ngomong ‘mbak, ternyata kita disini cuma dijadiin babu ya?’. Aku lak yo mung ngguyu to? Pekok po polos je sakajae dekne? Trus aku ngomong ‘Lah iya. Aku juga udah tau kalau aku bakal jadi babu disini, tapi karena emang passion ku di marketing, ya aku suka-suka aja. Kamu kalau ga suka, resign aja’ "

 
“Trus, bawahanmu ngomong opo meneh?”


“Ngene jare ‘aku ga tau ternyata kerja di perusahaan besar itu cuma jadi babu’. Lah yo soyo ngguyu to aku. kok le polos?”

 
Lalu kami tertawa. Satir dan getir. Mungkin jika ada petir akan semakin lengkap adegan itu.
 

Ah hidup. Katanya idealis hanya milik pelukis atau seniman yang siap hidup hanya dengan kanvas dan cat air saja. Bukan itu konon katanya yang dibutuhkan hidup, hidup butuh realistis, butuh uang Bung!
 

Lalu apakah kini saya bersiap-siap untuk menjadi miskin dan tak berdaya?
 

Ih! Saya engga mau! Mit amit mit amit *ketok meja 3 kali*
Mungkin masalahnya bukan terletak dalam perdebatan menjadi realitis atau idealis. Kita bahkan tidak perlu memilih salah satu diantara itu untuk menjalani hidup, itu tidak masuk akal. Celakanya memang, kita hidup dalam kungkungan masyarakat pemuja kemapanan. Tak tangung-tanggung, kemapanan yang dipuja itu berbentuk rumah elit, gadget canggih, dan aktualisasi diri. Mereka yang hidup dengan membawa mimpi, berharap kelak akan menjadi seoarang yang berguna, akan jadi tertawaan masyarakat. Alih-alih mendukung, mereka akan melihat sebagai calon-calon orang gagal. Untuk itulah realitis terlihat lebih menarik dibandingkan idealis.
 

Tapi apakah iya, kita bersedia menjual nilai kepada harga yang tidak seberapa? Tunduk takluk pada realistis?
 

Jika begitu terus, bisa-bisa kita tidak punya warisan apa-apa kepada anak cucu kita selain kepongahan kapitalis. Bisa-bisa kita akan berkata begini “Kakek itu suskes karena realitis. Tuh liat papa kamu, rumah cuma satu, mobil cuma dua, itu gara-gara apa? Gara-gara idealis!” Dan dijawab dengan “Kakek, om idealis itu jahat yaa?”. Waduh… bisa-bisa anak cucu kita kelak semakin percaya bahwa realistis itulah komponen utama hidup, dan idealis adalah dongeng tua. Kemudian besarlah mereka dengan skeptisme akut. Ah, dibayangkan saja sudah syerem.
 

Untungnya Nabi Muhammad SAW tidak menyerah pada idealismenya. Bayangkan kalau dia menyerah dan mewariskan kita pedang, uang, atau keturunannya untuk dinikahi, dan lantas berkata sebelum meninggal “Ini semua, agar kalian hidup secara realisitis. Realistis sajalah kalian hidup nanti ya. Kalau sibuk kerja, ya sudah jangan sholat. Pokoknya realistis!”. Bisa dipastikan, hilang sudah islam yang rahmatan lil alamin.
 

Jadi begini sajalah, bagaimana jika mulai sekarang kita ketok palu untuk sebuah definisi baru? Idealis itu adalah tetap berpegang pada nilai dan tujuan. Sedangkan realistis adalah luwes dan fleksibel dalam menjalankan rencana-rencana.  Sisanya bonus.
Nah, kalau begitu bagaimana? Sepakat kita? Berjalan bersama kita?
Salaman dulu dong!









Cheers!
© RIWAYAT
Maira Gall