Rasanya seperti punya kerajaan sendiri saat berada di toko buku. Berjalan memasukinya, aku seperti seorang putri yang paling cantik sejagad raya.
Tak apa tersesat karena aku tau akan tersesat di surga.
Rutinitas klise yang selalu menyenangkan di lakukan. Berjalan dari satu rak ke rak lainnya.
Jongkok dan berlama-lama membaca sinopsisnya di belakang bukunya. Lalu memilih beberapa buku untuk dibawa ke kasir. Rasanya semua penat, semua stress, dan semua keluh teruarai dan tersebar di toko buku. Sungguh menyenangkan berlama-lama di toko buku.
Apalagi saat kita pergi kesana.
Kamu dan aku akan tersesat disana. Berjalan bersama-sama melewati buku-buku, mencium aromanya, memperhatikan sampulnya, dan saling menengok pilihan buku masing-masing.
"Kenapa buku itu?"
"Penasaran aja"
Kamu, aku, dan kerajaan buku kita. Diam tersesat, berlama-lama.
Mungkin kalau kita bisa tinggal di toko buku ini selamanya, kita akan seperti sepasang buku tua yang berdebu, karena tak mau beranjak.
Psst, kamu menawan sekali jika tengah serius begitu.
#31harimenulis
#bonus
Sabtu, 23 Mei 2015
Yakin?
Hari ini masih dalam rangka absennya saya dalam menulis kisah perjalanan. Ugh mengingkari janji ternyata engga enak juga ya. Tuh kan benar, saya payah dalam urusan berjanji. Kzl!
Oke anyway, hari ini saya punya tugas yang lebih mulia karena saya harus menemani seorang teman yang datang ke Jogja. Konon kabarnya, dia sedang patah hati yang mendalam karena hubungannya kandas. Dengar-dengar alasannya adalah karena mereka tidak yakin atas hubungan mereka sendiri. Saat ini ia sedang dalam proses menenangkan diri. Bukan hal yang spekatakuler sih, tapi menemani orang yang sedang dalam proses penyembuhan itu memang selalu menjadi hiburan.
Selalu saya bilang pada mereka yang tengah mendayu-dayu pikirannya, bahwa patah hati itu ibarat imunisasi pada bayi. Walau sakit tapi manfaatnya jelas, yaitu membuat daya tahan tubuh menjadi kuat. Sewaktu saya bilang ini, seorang teman saya menjawab, "Harus dong kita patah hati? Harus banget?"
Hmmm...
Iya ya? Apakah patah hati itu suatu keharusan? Apakah itu satu-satunya cara membuat kita kuat?
Saya pernah patah hati dan pernah membuat orang patah hati. Ajaibnya, ketika saya patah hati saya selalu mempertanyakan 'kenapa', namun jika saya membuat orang lain patah hati, saya akan diam saja. Hmm.. kenapa ya?
Saya jadi ingat tentang seorang lelaki yang pernah mendekati saya. Dalam usahanya mendekati saya dia pernah bertanya, "Peh, kamu tuh nyari cowo kayak gimana sih?" Ini pertanyaan jebakan. Karena apapun jawaban yang akan saya jawab pasti dia akan menjawab dengan jawaban tentang dirinya sendiri. Maka saya putuskan untuk bertemu langsung dan menjawab pertanyaannya.
Singkat cerita, dia patah hati karna saya tidak bisa menerima cintanya. Seorang teman saya, yang juga temannya bertanya
"Kenapa sih Peh? Dia kurang apa coba?"
Saya jawab "Gimana bisa aku ngejalin hubungan sama orang, yang bahkan engga yakin kalau aku bisa yakin sama dia?"
"engga ngerti!"
"gini loh... dia bahkan engga yakin, kalau aku bisa yakin sama dia. Dia coba yakinin aku, kalau dia itu lelaki yang baik"
"kamu ga suka diyakinin"
"Aku yang harus ngeyakinin diri aku sendiri, bukan dia"
Cinta itu seharusnya bukan tentang meyakinkan orang lain. Tapi meyakinkan diri sendiri. Banyak pasangan yang kandas ataupun hati yang patah karena alasan yakin-meyakinkan ini. Bagaimana caranya kita bisa meyakinkan orang lain, saat kitapun merasa tidak yakin? Bukankah jadinya kita melakukan dua hal yang berbeda dalam waktu yang sama?. Belum selesai kita meyakinkan diri sendiri, kita sudah berusaha meyakinkan orang lain. Hubungan macam apa yang sekiranya akan terjadi dari proses seperti ini?
Itulah kenapa Sheila On 7 bernyanyi "Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu? Cukup tangguhkan dirimu untuk selalu ku andalkan? Sanggupkah kau menyakinkan disaat aku bimbang?"
Coba perhatikan liriknya. Lagu itu sebenarnya monolog, tentang seberapa pantasnya 'aku untuk menunggunya', bukan sebaliknya.
Patah hati itu lumrah. Alasan-alasannya yang kadang konyol.
Jadi apakah kita sedang patah hati? atau hanya sekedar gagal meyakinkan diri sendiri?
#31harimenulis
#bonus
Pada sebuah malam dengan mata yang belekan.
Oke anyway, hari ini saya punya tugas yang lebih mulia karena saya harus menemani seorang teman yang datang ke Jogja. Konon kabarnya, dia sedang patah hati yang mendalam karena hubungannya kandas. Dengar-dengar alasannya adalah karena mereka tidak yakin atas hubungan mereka sendiri. Saat ini ia sedang dalam proses menenangkan diri. Bukan hal yang spekatakuler sih, tapi menemani orang yang sedang dalam proses penyembuhan itu memang selalu menjadi hiburan.
Selalu saya bilang pada mereka yang tengah mendayu-dayu pikirannya, bahwa patah hati itu ibarat imunisasi pada bayi. Walau sakit tapi manfaatnya jelas, yaitu membuat daya tahan tubuh menjadi kuat. Sewaktu saya bilang ini, seorang teman saya menjawab, "Harus dong kita patah hati? Harus banget?"
Hmmm...
Iya ya? Apakah patah hati itu suatu keharusan? Apakah itu satu-satunya cara membuat kita kuat?
Saya pernah patah hati dan pernah membuat orang patah hati. Ajaibnya, ketika saya patah hati saya selalu mempertanyakan 'kenapa', namun jika saya membuat orang lain patah hati, saya akan diam saja. Hmm.. kenapa ya?
Saya jadi ingat tentang seorang lelaki yang pernah mendekati saya. Dalam usahanya mendekati saya dia pernah bertanya, "Peh, kamu tuh nyari cowo kayak gimana sih?" Ini pertanyaan jebakan. Karena apapun jawaban yang akan saya jawab pasti dia akan menjawab dengan jawaban tentang dirinya sendiri. Maka saya putuskan untuk bertemu langsung dan menjawab pertanyaannya.
Singkat cerita, dia patah hati karna saya tidak bisa menerima cintanya. Seorang teman saya, yang juga temannya bertanya
"Kenapa sih Peh? Dia kurang apa coba?"
Saya jawab "Gimana bisa aku ngejalin hubungan sama orang, yang bahkan engga yakin kalau aku bisa yakin sama dia?"
"engga ngerti!"
"gini loh... dia bahkan engga yakin, kalau aku bisa yakin sama dia. Dia coba yakinin aku, kalau dia itu lelaki yang baik"
"kamu ga suka diyakinin"
"Aku yang harus ngeyakinin diri aku sendiri, bukan dia"
Cinta itu seharusnya bukan tentang meyakinkan orang lain. Tapi meyakinkan diri sendiri. Banyak pasangan yang kandas ataupun hati yang patah karena alasan yakin-meyakinkan ini. Bagaimana caranya kita bisa meyakinkan orang lain, saat kitapun merasa tidak yakin? Bukankah jadinya kita melakukan dua hal yang berbeda dalam waktu yang sama?. Belum selesai kita meyakinkan diri sendiri, kita sudah berusaha meyakinkan orang lain. Hubungan macam apa yang sekiranya akan terjadi dari proses seperti ini?
Itulah kenapa Sheila On 7 bernyanyi "Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu? Cukup tangguhkan dirimu untuk selalu ku andalkan? Sanggupkah kau menyakinkan disaat aku bimbang?"
Coba perhatikan liriknya. Lagu itu sebenarnya monolog, tentang seberapa pantasnya 'aku untuk menunggunya', bukan sebaliknya.
Patah hati itu lumrah. Alasan-alasannya yang kadang konyol.
Jadi apakah kita sedang patah hati? atau hanya sekedar gagal meyakinkan diri sendiri?
#31harimenulis
#bonus
Pada sebuah malam dengan mata yang belekan.
Jumat, 22 Mei 2015
Human Nature
"If They Say 'Why..? why..?' Tell 'Em That Is Human Nature" -Micheal Jackson-
Oke, mari rehat sebentar dari menulis cerita perjalanan panjang, yang proses meulisnya lebih ribet dari apa yang saya bayangkan. Huft.
Hari ini tetiba saya memutar semua lagu-lagu Micheal Jackson tanpa sebab. Dari mulai Smooth Criminal, Black and White, Billie Jean, Beat it, They Don't Care About Us, P.Y.T, Rock With You, Man In The Mirror, sampai lagu Micheal Favorite saya: Human Nature.
Ngomong-ngomong soal Human Nature, saya bersyukur bahwa Human Nature itu tidak di daur ulang oleh siapapun. Saya engga akan rela kalau ada yang mencoba menyanyikan lagu itu kemudian mempunyai versi yang lebih baik dari Micheal. Saya akan tanpa ampun menudingnya sebatas mengambil cahaya dari bintang tanpa pernah menjadi bintangnya. Begitu juga kalau ternyata itu lebih buruk. Saya pasti akan menudingnya sebagai perusak lagu.
Syukur tidak ada yang berinisiatif, jadi saya aman dari dosa menggunjingkan orang lain.
Dimulai dari mendengarkan lagu-lagunya, saya lalu iseng bertanya ke beberapa teman "eh kenapa sih Micheal Jackson bisa sampe operasi pelastik trus jadi mengerikan begitu?"
Jawabannya ternyata beragam. Ada yang bilang dia berusaha keras agar diterima sebagai golongan kulit putih. Ada yang bilang juga kalau Micheal jackson itu punya penyakit fitiligo. Ada juga yang dengan cueknya bilang "Ya... biasalah artis", dan jawaban yang terakhir itu bikin saya ketawa keras. Dasar ih, sukanya memukul rata!
Bagi saya, apa yang dilakukan dan dinyanyikan Micheal Jackson itu sudah sangat mampu membuat ribuan jiwa termotivasi, tanpa perlu kita peduli seperti apa bentukan dari Micheal Jackson itu sendiri.
Jadi kenapa ya dia harus punya wajah yang aneh di akhir hayatnya? Why? Saya juga engga tau alasannya sampai sekarang.
Oh atau mungkin itulah yang namanya human nature. Mungkin pada dasarnya manusia itu adalah mahluk yang tidak akan pernah puas, banyak maunya, dan susah sekali bersyukur! Itu mungkin human nature.
Seumur hidup, kita akan selalu menggunakan human nature, no matter what!
Kita disakiti, kita sedih.
Kita lapar, kita makan.
Kita diserang, kita melawan.
Kita diejek, kita sakit hati.
Kita liat yang lebih baik, kita insecure.
Wajar kan? Kalau ada yang disakiti dan dia merasa bahagia, mungkin dia punya sifat angel nature.
Karena saya percaya Tuhan itu adil, saya pun percaya bahwa kita ini diciptakan dengan paketan sifat yang sama satu dan yang lainnya. Barulah di dunia sifat-sifat itu berkompetisi, menjadi unggul satu dengan lainnya. Kalau mau tau sifat mana yang dominan dalam diri kita, sayangnya, kita harus sabar menunggu hingga akhir.
Masalahnya adalah jika sudah sampai di akhir, dan kita sadar sifat mana yang lebih dominan tumbuh dalam diri kita, apakah kita akan merasa puas? atau justru akan menyesal?
Apakah Michael Jackson bahagia di akhir hayatnya? Atau Whitney Houston menikmati apa yang pernah dia miliki? Saya tidak tahu. Satu yang saya tahu, human nature bisa sangat mematikan jika tidak dipergunakan dengan baik.
Jadi ini bukan semata-mata karena human nature yang kita miliki, lalu kita berkuasa penuh akan itu. Ini justru tentang bagaimana kita menggunakan human nature.
Bukankah kita masih ingat saat Micheal Jackson menyanyikan dengan syahdunya "Heal The World.. Make It A Better Place.. For You... And For Me... And The Entire Human Race.."
Jika demikian, bagaimana kita akan menggunakan human nature kita mulai saat ini? Itu pertanyaannya.
I miss you dear M.J
#31HariMenulis
#Bonus
Kamis, 21 Mei 2015
Laboratorium
Indonesia memang laboratorium manusia. Jika mau meneliti apa saja tentang manusia, tinggal datang kesini. Semuanya lengkap tersedia. Dari yang paling kaya hingga yang paling miskin. Dari yang paling pintar sampai yang berpura-pura pintar, semuanya ada.
Jika ini makanan, maka benarlah bahwa Indonesia adalah gado-gado.
Mengakui bahwa kita adalah bagian dari Indonesia, berarti mengakui ke gado-gadoan itu. Itulah mengapa Bhineka Tunggal Ika menjadi sangat sedap ketika diucapkan, mungkin karena inilah saus kacang yang jadi pengikat semua keragaman suku dan bangsa.
Tapi gado-gado tak melulu lengkap dan komplit sebagaimana adanya. Sama seperti kita ketika memesan gado-gado, kadang kita punya special request yang bikin ribet si penjual.
"Mas, engga pake telor ya",
"Mas, ketupatnya separo aja",
"Engga pake ketimun ya mas",
"Sayurnya dikit aja"
"Ga pedes mas. Ehh... pedes deh dikit. Dikit aja tapi"
See? Jadi konsep gado-gado itu sebetulnya bukan makanan mutlak, itu semua terserah bagaimana kita mau mengkastemnya.
Ya sama seperti Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jika benar bahwa kita adalah penghuni tulen negeri ini, seharusnya kita memakan semua keragaman ini dengan lengkap, tapi berhubung kita ini penikmat gado-gado dengan special request. Jadi suka-suka kita dong bagaimana Indonesia itu. Ada yang merasa sangat Indonesia walau belum pernah keluar dari Pulau Jawa. Ada juga yang merasa sangat Indonesia karena sering membuat aksi-aksi sosial untuk Indonesia. Apapun itu, pokoknya jangan sampai lupa bumbu kacangnya alias Bhineka Tunggal Ika nya.
Apakah aku paham soal Indonesia? Entahlah. Tapi aku akan selalu tertarik dengan manusia-manusia di Indonesia. Untuk itulah aku di sini, tiba dengan selamat bahkan ketika matahari bahkan belum terlihat jelas. Aku tiba dengan penampilan yang masih sangat kacau. Mata yang masih setengah melek, mulut masih asam, dan hati masih belum sepenuhnya sadar.
Ini sih bukan pengalaman pertama aku ke sini. Beberapa tahun silam aku pernah kesini bersama dengan teman-teman kuliah. Kami dengan bangganya bisa mendarat di Bumi Cendrawasih untuk melakukan kegiatan paling seru, KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Tapi ini pun tak kalah seru. Ada misi yang harus dituntaskan di sini. Sebagai Antropologis, pulang ke Indonesia sama halnya seperti berkutat di labolatorium bagi para ilmuwan. Jadi ini bukan dalam rangka diving di Raja Ampat atau mendaki pegunungan Jayawijaya. Ini dalam rangka bermain di labolatorium manusia.
"E.. Kakak Re, mobil su ada.."
"Oh iya. Kita pergi sekarang aja kak" Aku menjawab supir.
Papua pagi ini memesona seperti seharusnya. Cantik sekali. Bukit di kiri dipadu dengan danau Sentani di kanan adalah hiburan sempurna untuk mata. Danaunya bersih dan sangat biru, bukit batunya juga meliuk-liuk apik sepanjang jalan. Aku serasa disambut tarian alam.
Untung aku tiba di pagi hari, jadi masih bisa kebagian udara segarnya. Komplit sudah pagi ini.
Aku hirup dalam-dalam udara Papua yang berbeda ini, sebelum habis.
Here I am, Papua.
#31harimenulis
#2-31
Jika ini makanan, maka benarlah bahwa Indonesia adalah gado-gado.
Mengakui bahwa kita adalah bagian dari Indonesia, berarti mengakui ke gado-gadoan itu. Itulah mengapa Bhineka Tunggal Ika menjadi sangat sedap ketika diucapkan, mungkin karena inilah saus kacang yang jadi pengikat semua keragaman suku dan bangsa.
Tapi gado-gado tak melulu lengkap dan komplit sebagaimana adanya. Sama seperti kita ketika memesan gado-gado, kadang kita punya special request yang bikin ribet si penjual.
"Mas, engga pake telor ya",
"Mas, ketupatnya separo aja",
"Engga pake ketimun ya mas",
"Sayurnya dikit aja"
"Ga pedes mas. Ehh... pedes deh dikit. Dikit aja tapi"
See? Jadi konsep gado-gado itu sebetulnya bukan makanan mutlak, itu semua terserah bagaimana kita mau mengkastemnya.
Ya sama seperti Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jika benar bahwa kita adalah penghuni tulen negeri ini, seharusnya kita memakan semua keragaman ini dengan lengkap, tapi berhubung kita ini penikmat gado-gado dengan special request. Jadi suka-suka kita dong bagaimana Indonesia itu. Ada yang merasa sangat Indonesia walau belum pernah keluar dari Pulau Jawa. Ada juga yang merasa sangat Indonesia karena sering membuat aksi-aksi sosial untuk Indonesia. Apapun itu, pokoknya jangan sampai lupa bumbu kacangnya alias Bhineka Tunggal Ika nya.
Apakah aku paham soal Indonesia? Entahlah. Tapi aku akan selalu tertarik dengan manusia-manusia di Indonesia. Untuk itulah aku di sini, tiba dengan selamat bahkan ketika matahari bahkan belum terlihat jelas. Aku tiba dengan penampilan yang masih sangat kacau. Mata yang masih setengah melek, mulut masih asam, dan hati masih belum sepenuhnya sadar.
Ini sih bukan pengalaman pertama aku ke sini. Beberapa tahun silam aku pernah kesini bersama dengan teman-teman kuliah. Kami dengan bangganya bisa mendarat di Bumi Cendrawasih untuk melakukan kegiatan paling seru, KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Tapi ini pun tak kalah seru. Ada misi yang harus dituntaskan di sini. Sebagai Antropologis, pulang ke Indonesia sama halnya seperti berkutat di labolatorium bagi para ilmuwan. Jadi ini bukan dalam rangka diving di Raja Ampat atau mendaki pegunungan Jayawijaya. Ini dalam rangka bermain di labolatorium manusia.
"E.. Kakak Re, mobil su ada.."
"Oh iya. Kita pergi sekarang aja kak" Aku menjawab supir.
Papua pagi ini memesona seperti seharusnya. Cantik sekali. Bukit di kiri dipadu dengan danau Sentani di kanan adalah hiburan sempurna untuk mata. Danaunya bersih dan sangat biru, bukit batunya juga meliuk-liuk apik sepanjang jalan. Aku serasa disambut tarian alam.
Untung aku tiba di pagi hari, jadi masih bisa kebagian udara segarnya. Komplit sudah pagi ini.
Aku hirup dalam-dalam udara Papua yang berbeda ini, sebelum habis.
Here I am, Papua.
#31harimenulis
#2-31
Bandara
Selalu ada tujuan bagi setiap orang yang berpergian.
Pada setiap koper yang mereka tarik, ransel yang mereka pikul, tas tangan yang mereka genggam, disematkanlah tujuan pada setiap langkahnya. Masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda. Beberapa diantaranya dengan lugas mengatakan pergi adalah proses untuk menemukan diri sendiri, tapi ada juga yang meniatkan pergi agar tau tempat untuk kembali. Aku sendiri tidak tahu pasti masuk ke golongan yang mana. Mungkin keduanya atau mungkin bukan keduanya.
Pada setiap koper yang mereka tarik, ransel yang mereka pikul, tas tangan yang mereka genggam, disematkanlah tujuan pada setiap langkahnya. Masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda. Beberapa diantaranya dengan lugas mengatakan pergi adalah proses untuk menemukan diri sendiri, tapi ada juga yang meniatkan pergi agar tau tempat untuk kembali. Aku sendiri tidak tahu pasti masuk ke golongan yang mana. Mungkin keduanya atau mungkin bukan keduanya.
Di setiap perjalanan, pastilah kita akan bersisipan dengan satu atau dua orang, atau bahkan lebih. Beberapa dari mereka mampu membuat kita terkenang, sisanya hanya sebagai pemanis saja. Tapi itulah yang aku nikmati dari setiap perjalanan, karena perjalanan bagiku berarti perjumpaan. Perkara nanti akan jadi masalah atau anugerah, yang jelas perjumpaan itu sendiri sudah menjadi berkah.
Perjumpaan demi perjumpaan membuatku akhirnya memiliki sebuah hobi, yaitu menganalisis manusia. Rasanya bahagia sekali bisa melihat, mendengar, dan kemudian menganalisis manusia-manusia yang aku temui secara membabi buta. So if you ask me what my guilty plessure? I will tell you loudly, guessing human! Jahat engga sih?
Dan karena ruang tunggu bandara adalah rutinitas bagiku, maka disinilah lokasi paling strategis untuk menyalurkan hobi dan kesenanganku itu. Maka sembari menunggu, aku dengan senang hati melakukan observasi. Aku kadang suka lupa diri jika sudah begini. Pikiranku akan menjadi sangat liar dan tidak tahu diri. Aku bisa jadi sangat kejam didalam pikiran untuk menghakimi mereka. Jahat sih..
Dan karena ruang tunggu bandara adalah rutinitas bagiku, maka disinilah lokasi paling strategis untuk menyalurkan hobi dan kesenanganku itu. Maka sembari menunggu, aku dengan senang hati melakukan observasi. Aku kadang suka lupa diri jika sudah begini. Pikiranku akan menjadi sangat liar dan tidak tahu diri. Aku bisa jadi sangat kejam didalam pikiran untuk menghakimi mereka. Jahat sih..
Seperti saat ini. Di hadapanku ada seorang lelaki berjas hitam dengan sepatu kulit, sibuk
benar dia dengan handphonenya. Dari caranya berbicara di telfon dan lokasi
tujuannya, aku bisa pastikan kalau dia adalah broker proyek. Hidupnya
kemungkinan besar hanya didekasikan untuk meyakinkan orang-orang penting di
pemerintahan agar mau memberinya proyek.Kasian aku dengan orang tipe ini.
Saat aku menolehkan kepala, aku melihat wanita menggunakan baju yang sangat tidak modis. Well, aku bukan fashion blogger tapi siapapun setuju bahwa jegging leopard warna coklat akan sangat aneh jika dipadukan dengan tank top warna ungu. Sepertinya dia hanya anak
orang kaya baru yang baru mengalami pengalaman naik pesawat mentereng. Dari
caranya berpakaian, caranya memegang handphone, dia berusaha keras menunjukan
statusnya agar layak disebut kaya dan modern. Biasanya hanya orang-orang yang
baru kenal dengan kekayaan saja yang mau bersikap begitu. Orang kaya betulan
mana sudi sok pamer di ruang tunggu bandara?. Orang kaya beneran akan melenggang dengan anggunnya ke kelas bisnis tanpa perlu susah-susah show off.
“Panggilan terakhir untuk para penumpang dengan nomor
penerbangan GA 456 tujuan Manokwari, diharapkan untuk segera naik ke pesawat
melalui pintu nomor 5”
Oke cukup observasinya.
Papua, aku datang lagi!
#31harimenulis
#1-31
Rabu, 20 Mei 2015
Prolog
Saya percaya, bahwa setiap hati adalah panggung. Dimana
pertunjukan demi pertunjukan akan terjadi setiap detiknya. Ada kalanya
pertunjukan itu tentang cerita klasik yang sering terulang, atau bisa juga
tentang cerita modern dari sesuatu yang tengah ramai dibicarakan.
Keduanya sama, baik klasik atau modern, jika itu sudah
dimainkan di hati maka akan selalu menarik untuk disimak.
Karena setiap hati adalah pangung, maka tak ada satupun yang
mampu lari dari drama-dramanya.
Siapalah yang mampu menahan godaan menyaksikan pertunjukan
dalam lakon klasik yang berjudul ‘patah hati’ atau ‘jatuh cinta’?
Saya sebegitu yakinnya bahwa siapapun tak akan mampu lari
saat hatinya tengah memainkan drama jatuh cinta. Saat hatinya penuh bunga,
terompet yang berbunyi nyaring, dan kembang api menyala.
Pun tak ada yang mampu pergi saat tetiba hatinya layu,
sendu, dan biru saat drama dihatinya berubah menjadi drama patah hati.
Hati memang gudangnya pertunjukan.
Menulis adalah merayakan pertunjukan hati, agar tak hanya
dinikmati oleh si pemain, tapi juga seluruh penonton.
Letupan-letupan yang terjadi dalam hati sama semaraknya seperti pertunjukan di broadway. Untuk itulah saya menulis.
***
***
Saya payah dalam urusan berjanji, tapi saya berniat untuk
bisa menyuguhkan cerita yang berbeda tahun ini. Untuk itu, jika tidak ada
kesibukan, saya ingin mengajak tuan dan puan berjalan-jalan bersama saya. Cukup
duduk dan siapkan saja hati yang tenang, karna ini adalah waktu yang tepat
untuk berpetualang!
#31harimenulis
#1
Selasa, 28 April 2015
BE RI SIK!
Hujan deras mengguyur hutan, lengkap dengan petir yang menyambar-nyambar.
Seekor beruang yang sedang tidur terbangun dan tersambar petir hingga bulunya terbakar.
Datanglah seorang peri baik hati yang dengan sihirnya mampu membuuat langit kembali cerah.
Namun tak lama gunung api meletus!
Suara letusannya mampu membuat para kurcaci hutan berlari kesana-kemari.
Beberapa diantaranya terlihat para unicorn dengan tanduk warna merah jambunya ikut berlarian.
Keadaaan semakin tidak terkendali.
Mereka berteriak-teriak memanggil peri. Kata mereka "Peri... peri... tolong kami.... Peri..."
Namun peri-peri sedang sibuk mengurusi raksasa langit yang dengan bengisnya menyemburkan api.
Perang tak bisa dihalaukan.
Riuh.
Bising.
Korbang berjatuhan.
Para kurcaci hutan bergelimpangan tewas di tanah.
Hewan-hewan mati mengenaskan.
Dan hujan tetap saja turun dengan derasnya.
Belum berakhir, tetiba datang dari pantai, ombak besar yang siap mengulum daratan!
Aku disana! Aku disana! Dan tak ada yang menolongku. Aku terjebak diantara peri-peri mati dan gunung meletus dan kini ada ombak yang siap untuk mengulumku hidup-hidup.
Bagaimana jika aku naik saja ke pohon?
Oh shit! Tidak ada pohon, sudah dikuasai golongan kerdil. Aku harus kemana lagi?
Aku mau terbang saja, tapi aku tidak punya sayap. Sial! Gelombangnya semakin tinggi.
Atau aku berenang saja?
Tapi aku tidak memakai baju renang. Bagaimana jika Neptunus melihatku berenang tapi tidak menggunakan baju renang yang mahal?
Atau biarlah aku membatu peri-peri itu bertarung.
Tapi aku tidak tau jurus mematikan yang bisa aku gunakan.
Aku jadi korban sajalah. Biar nanti aku tunggu Peterpan menyelamatkanku.
Tapi bagaimana jika dia tidak ada?
Oh tidaaaaak! Ombak semakin tinggi.
Aku akan tenggelam. Eh, aku kan bisa berenang, tapi tidak untuk ombak sebesar itu.
Kalau aku mati, siapa yang akan mencemaskanku?
Oke, aku akan mati.
Tidak! Aku belum siap mati konyol
Toloooong! Toloooooooong!
Pikiranku berisik sekali!
Seekor beruang yang sedang tidur terbangun dan tersambar petir hingga bulunya terbakar.
Datanglah seorang peri baik hati yang dengan sihirnya mampu membuuat langit kembali cerah.
Namun tak lama gunung api meletus!
Suara letusannya mampu membuat para kurcaci hutan berlari kesana-kemari.
Beberapa diantaranya terlihat para unicorn dengan tanduk warna merah jambunya ikut berlarian.
Keadaaan semakin tidak terkendali.
Mereka berteriak-teriak memanggil peri. Kata mereka "Peri... peri... tolong kami.... Peri..."
Namun peri-peri sedang sibuk mengurusi raksasa langit yang dengan bengisnya menyemburkan api.
Perang tak bisa dihalaukan.
Riuh.
Bising.
Korbang berjatuhan.
Para kurcaci hutan bergelimpangan tewas di tanah.
Hewan-hewan mati mengenaskan.
Dan hujan tetap saja turun dengan derasnya.
Belum berakhir, tetiba datang dari pantai, ombak besar yang siap mengulum daratan!
Aku disana! Aku disana! Dan tak ada yang menolongku. Aku terjebak diantara peri-peri mati dan gunung meletus dan kini ada ombak yang siap untuk mengulumku hidup-hidup.
Bagaimana jika aku naik saja ke pohon?
Oh shit! Tidak ada pohon, sudah dikuasai golongan kerdil. Aku harus kemana lagi?
Aku mau terbang saja, tapi aku tidak punya sayap. Sial! Gelombangnya semakin tinggi.
Atau aku berenang saja?
Tapi aku tidak memakai baju renang. Bagaimana jika Neptunus melihatku berenang tapi tidak menggunakan baju renang yang mahal?
Atau biarlah aku membatu peri-peri itu bertarung.
Tapi aku tidak tau jurus mematikan yang bisa aku gunakan.
Aku jadi korban sajalah. Biar nanti aku tunggu Peterpan menyelamatkanku.
Tapi bagaimana jika dia tidak ada?
Oh tidaaaaak! Ombak semakin tinggi.
Aku akan tenggelam. Eh, aku kan bisa berenang, tapi tidak untuk ombak sebesar itu.
Kalau aku mati, siapa yang akan mencemaskanku?
Oke, aku akan mati.
Tidak! Aku belum siap mati konyol
Toloooong! Toloooooooong!
Pikiranku berisik sekali!
Langganan:
Postingan (Atom)
