Jumat, 29 Mei 2015

Rahasia


Diantara semua warna, hanya hitam yang tidak memiliki pilihan. Hitam ya hitam. Tidak ada hitam dongker, hitam tosca, hitam tua, hitam muda, hitam cerah, atau pilihan hitam lainnya. Hitam itu warna sederhana. Seperti sederhanya rahasia.


Kini aku sadar mengapa sesuatu itu disebut rahasia. Karena itu hitam. Hitam ingin dijaga agar tetap hitam. Ada sesuatu yang gelap disana. Ada misteri dibaliknya. 

Ini sama seperti saat kita sedang asik-asiknya ngobrol di malam hari bersama beberapa teman, dan tetiba PET! mati lampu. Reflek kita akan mencari-cari dimana lilin atau korek. Sambil meraba-raba, kita tak akan sadar bahwa selangkah lagi ada meja yang akan kita tabrak, ada gelas yang akan akan kita senggol, dan ternyata sepasang teman kita tengah berciuman.
Semua yang terjadi dalam kondisi gelap adalah tentang ketidaktahuan. Itulah esensi rahasia.

Satu-satunya penyingkap gelap adalah cahaya. Itulah mengapa Tuhan itu Tuhan dan hanya Dia yang mengetahui rahasia-rahasia. Tak peduli segelap apapun, setersembunyi apapun, serahasia apapun, Dia pasti tau. Karena Dialah Cahaya. 

Well, semua orang pasti suka bila mendapatkan hadiah, tapi tidak semua orang siap diberi kejutan. Untuk itu, beberapa dari kita lebih suka membiarkan yang gelap tetap gelap, tetap menjadi rahasia. Tapi sayangnya, rahasia dan kejutan akan datang sebagai sebuah pasangan. Tepat disaat kita menerima rahasia, tepat disaat itulah kita mendapatkan kejutan. 

Dan  disinilah kejutan itu.
Di Maluku!


Surprise, surprise!

#31harimenulis
#5-31

Kamis, 28 Mei 2015

Euforia


Kurasakan lagi euforia.
Seperti akan terjadi pesta kembang api. Meledak-ledak dengan warna-warni cahaya, dengan suara yang berdetum-detum.
Seperti gunung yang hendak meletus. Panas dan tak lama memuntahkan lahar dengan api yang mengkilat-kilat.
Seperti pertandingan basket pada babak akhir. Saat para pemandu sorak dan masing-masing suporter menyerukan dukungan pada masing-masing tim. Penuh tegang dan bising.

Jika hati bisa menjelma menjadi kejadian heboh apapun yang ia mau, akan kubiarkan saja. Biar ia menjelaskan sendiri ketegangan jenis apa yang sedang terjadi, saat bertemu denganmu.

Tapi cukup hati yang euforia, kita jangan.
Kita tidak akan menjadi sebentar yang meledak-ledak. Tidak juga hingar bingar yang sesaat.
Aku bilang tidak.
 

Kita, tak akan kubiarkan menjadi euforia.
Tidak akan.
Tidak akan pernah.

Selamanya.

#31harimenulis
#bonus

Rabu, 27 Mei 2015

Hukuman

Here's to all that we kissed, and to all that we missed. To the biggest mistakes, that we just wouldn't trade. Here's to us! (Halestrom)


Pagi ini saya tidak sengaja membaca berita tentang seorang Ayah, yang menarik anak lelakinya bak anjing, karena si anak selalu bermain di luar dan  jarang belajar. Kata si Ayah setelah ditangkap polisi adalah, "Saya kehabisan kesabaran". Saya hanya mampu melongo.

Itukah alasan manusia boleh menghukum manusia lain? Karena dia adalah orang tua dan karena dia kehilangan kesabaran?

Pertanyaannya: Apakah kita layak dihukum dengan alasan-alasan artificial seperti itu?

Saya ingat sebuah hukuman yang pernah saya terima waktu saya masih SD. Saya ingat betul kesalahan saya apa. Saya menghilangkan gunting. Iya, hanya gunting. Bayangkan! Gegara itu, saya dihukum oleh mama untuk membeli gunting baru dengan memotong uang saku saya. Jadi saya harus menabung semua uang jajan saya yang kala itu masih 500 rupiah hingga bisa membeli gunting baru yang seharga 3.000 perak.
Masalahnya, yang hingga detik ini saya ingat bukanlah disiplinnya, tapi omelan mama.

Saya pernah dihukum oleh ayah karena menghilangkan topi sekolah. Memang sih, itu kali kedua atau ketiga saya menghilangkan topi sekolah yang berwarna merah itu. Karenanya, saya dihukum untuk tidur di kamar pembantu semalaman. Ya walaupun pada akhirnya ayah saya engga tega, dan menggendong saya diam-diam kembali ke kamar. Tapi tetap saja itu bentuk hukuman.
Hanya saja, hingga kini yang saya ingat adalah perasaan takutnya, bukan esensi hukumannya.

Mungkin alasan orang tua menghukum saya adalah supaya saya menjadi lebih disiplin. Tapi senyatanya bukan itu yang saya ingat. Merasa bersalahkah orang tua saya, karena mereka gagal memberikan pesan dari sebuah hukuman?
Jadi ketika saya membaca berita itu, saya tidak habis membayangkan apa jadinya anak itu ketika dewasa? Dia bisa jadi diktator hebat hanya karena hukuman itu. Saya bisa paham, mungkin si Ayah lelah dan dongkol anaknya selalu bermain. Tapi siapa yang bisa memberikan garansi bahwa hukuman itu akan membuatnya belajar sesuatu? Kalau akhirnya si anak dendam, bagaimana?

Ini membuat saya berfikir, apakah semua kesalahan akan selalu berjodoh dengan hukuman?
Kalau setiap benar harus melalui kesalahan, mengapa setiap salah harus melalui hukuman?

Rasa-rasanya tidak ada yang bisa kita lakukan dengan urusan hukuman ini. Ironisnya, kita tidak membutuhkan orang lain untuk menghukum. Kitalah yang mengambil inisiatif untuk menghukum diri kita sendiri, dan hidup bersalah seumur hidup kita. Beberapa orang bahkan merasa lebih berhak dihukum ketimbang membiarkan orang lain dihukum. Beberapa bahkan menjadikan hukuman sebagai tumbal. Well done, people!

Apalagi yang mau dikata? Toh dunia ini memang gudangnya hukuman. Manusianya juga senang-senang saja menjadi hakim bagi orang lain dan dirinya sendiri.
Mungkin ini adalah cara Tuhan meningatkan bahwa kita di sini tak lebih karena kesalahan yang dilakukan Adam dan Hawa.

Sudahlah, terima saja, dunia dan seisinya adalah hukuman. Begitu garis takdirNya.






#31harimenulis
#bonus

Selasa, 26 Mei 2015

Jatuh Cinta

"Bila kau jatuh cinta katakanlah jangan buat sia-sia..." (HiVi)


Teman saya sedang jatuh cinta. Dan benar mitos bahwa cinta itu tidak ada logika. Seberapa keras saya wanti-wanti agar dia tidak terlalu berekspektasi, sepertinya percuma. Orang yang jatuh cinta itu mirip wanita yang sedang datang bulan. Perkataannya selalu benar. Kalau sudah begini, kita hanya mampu berdoa agar mereka sehat selalu. Mereka yang jatuh cinta itu kadar logikanya minus. Berani taruhan, diminta mati demi pasangan juga pasti bersedia. Ironisnya, mereka jadi overthinking. Belum juga melakukan aksi sudah berfikir tentang reaksi. Memalukan Newton saja!

Sebagai teman yang baik, saya hanya mampu menemeninya bercerita. Hanya itu yang bisa saya lakukan.

Biarkan saja insan yang sedang kasmaran itu mabuk serambi berharap mereka tidak mabuk ekspektasi.


Aku jahat ih :(


#31harimenulis
#bonus

Asal-Usul

"While staring at the moon and the sun, just trying to remember where we came from" (Phillip Phillips)

Kalau bertemu orang baru, pertanyaan basa-basi kedua setelah menanyakan nama adalah pertanyaan: “Aslinya mana?”. Pertanyaan itu seakan menjelaskan bahwa kita ini pasti lahir dengan membawa identitas kesukuan. Padahal kan tidak semua orang Indonesia lahir dengan suku bangsa yang jelas. Belum lagi setelah menjawab pertanyaan "aslinya mana?" kita dipaksa mendengar komentar yang berkaitan dengan stereotip atau logat daerah.

“Aslinya dari mana?” 
“Jawa” 
“Ooh wong jowo” dengan logat jawa yang di medok-medokin 

“Aslinya mana?” 
“Tegal” 
“Ooh.. kepriben kabarek” Dengan aksen ngapak 

“Aslinya dari mana?” 
“kalimantan” 
“….” 
“Kok diem?” 
“Tapi situ engga makan orang kan?” 
"...."

Hingga kinipun, aku tak kunjung mengerti maksud dan tujuan dari pertanyaan itu apa. Atau mungkin akunya saja yang masih kesulitan memahami arti dari pertanyaan "Aslinya mana?". 
Lagipula apa yang membuat kita bisa mengatakan bahwa kita ini orang dari X, atau asalnya dari Y? Apakah sebatas lahir di sana sudah cukup? Atau kita harus beranak pinak dulu disana? Atau bagaimana sih? 
Saat aku kecil, Ibu selalu berpesan “Re, kalau ditanya sama orang, Re orang mana, jawabnya orang Sunda ya. Inget-inget”. Hingga kini, perkataan ibu seperti menjadi doktrin. Kemanapun dan dimanapun aku ditanya tentang asal-usulku, maka aku akan lantang menjawab “Saya dari Sunda” dan jawaban itu akan dibalas dengan “Sundanya mana?” “Sukabumi!”.

Aku sendiri tak pernah bertanya “Eh, kamu orang mana?” kepada siapapun yang aku temui. Aku punya dua alasan untuk ini. Pertama, aku tak mau membuat orang itu harus berfikir tentang asal-usulnya. Kedua, karena jujur, aku tak suka ditanya begitu. 
Sadarkah mereka, bahwa beberapa orang mencoba untuk mengubur dalam-dalam akar tempat ia tumbuh. Mereka ingin dikenal di tempat mereka saat ini, bukan masa lalu. Untuk itu, pertanyaan “Asli nya dari mana” bagi sebagian orang adalah pertanyaan setan yang akan memaksanya mengingat dari mana asalnya. 

Ditambah bagiku, pertanyaan asal-usul ini sangat sulit dijawab karena aku hanya bayi yang numpang lahir disana. Pun ayahku tidak berasal dari sana. Lalu aku tidak tumbuh besar disana. Aku juga tidak mewarisi streotipe orang Sunda yang konon katanya putih dan matre itu. Jadi Sundaku itu sebatas menghormati pesan dari Ibu saja. Abal-abal. KW!

Walau begitu, tetap saja aku menghormati akar tempatku tumbuh.
Untuk itu aku pulang.
Pulang kampung bagiku adalah pulang ke Sukabumi dan mengunjungi Nini dan Abah yang kini semakin renta. 
Kota kecil bernama Sukabumi ini sepertinya mengalami stagnasi yang cukup konsisten. Seberapa lamanyapun aku absen mengunjungi kota ini, aku pasti akan tetap hafal jalannya. Mall atau tempat hang out anak muda juga tak banyak yang dibangun. Sukabumi ya begitu saja dari tahun ke tahun, kecuali masalah kenaikan jumlah pemotornya. 
Setiap kemari, aku hanya punya satu agenda wajib yang monoton, yaitu makan!
Aku tidak akan rela untuk absen untuk makan bubur ayam Bunut, kroket, cingcau hijau, bakso depan SMA 3, dan tentunya masakan nini. Oh satu lagi, aku akan mengikuti kebiasan Nini untuk melintas di depan rumah sakit bersalin bahagia dan mendengarnya berkata “Ini nih… rumah sakit, tempat kamu lahir".  Tak peduli berapa seringnya kami lewat, kalimat itu seperi mandatori, pasti akan terucap.
Sudahlah aku datang ke daerah asal, Nini menegaskan bangunan tempat aku lahir pula. Komplit. Ini memang perjalanan rekap sejarah.

Awalnya Nini dan Abah memiliki rumah seluas 3 hektar. Lengkap dengan kebun, lapangan mini, hingga tambak ikan. Komplit. Namun karena hal-hal yang aku tidak mengerti dan tak mau mengerti, rumah itu dijual. Kini Nini dan Abah tinggal di rumah yang lebih kecil di daerah dekat gunung Salak.Tapi mau dimanapun Abah dan Nini tinggal, aku selalu bahagia mengunjungi mereka. Walaupun, aku akan sulit mengelak dari beberapa pertanyaan klasik.

“Gimana atuh kerjaan? Lancar?” 
“Alhamdulilah Ni… Ini lagi sibuk muter-muter aja, buat ngerjain proyek” 
“Syukur atuh. Didoain ku nenek, sing damang nyak. Sholat teu boleh khilaf…” 
“Muhun…” 
“Ari Re udah punya jodoh belom?”

 Tuh kan?!

“Jangan lama-lama atuh, sebelum meninggal Nini mau dateng ya ke nikahan cucu tercinta” 
“Doain aja Ni…” 
“Insha Allah. Abis ini kemana lagi?” 
“Mau ke Maluku… doain sehat ya Ni…” 
“Didoain ku nenek, damang selalu Re…” 

Nini adalah orang ketiga yang paling paham tentang aku. Jika bukan karena permintaannya, aku pasti akan selalu lupa untuk pulang ke Sukabumi. Walau singkat, tapi aku bisa kembali bersilaturahmi dengan tante, aki, dan nini yang ternyata seperti mengisi baterai hati.  

Beginilah sensasi pulang ke tempat yang selalu ditanyakan orang "Aslinya mana?" ini. 
Seakan memberi pesan bahwa akar tempat kita tumbuh adalah tempat pulang kita yang sesungguhnya. 
Karena disitulah awal mula kita sebagai manusia. Tak peduli seberapa kuatnya kita melupakan, akar tetap saja akar!




#31harimenulis
#4-31

Senin, 25 Mei 2015

P untuk Perbedaan

Kalau dilihat teori pergerakan lempeng tektonik, awalnya kita ini hidup aman sentosa di sebuah daratan indah, besar, dan nyata bernama Pangea. Seakan ingin menguji ketangguhan hati para manusia di bumi, olehNya dipisahkanlah tanah lapang itu menjadi dua, Laurasia dan Gondwana. Tak puas akan perpisahan itu, lempeng-lempeng itu terus bergerak dan bergerak hingga Laurasia berkembang menjadi Eurasia, sedangkan Gondwana berkembang menjadi  lempeng Afrika, Amerika Selatan, dan Indo-Australia. Itulah cikal bakal perpisahan yang ada saat ini. Salahkan saja pergerakan lempeng yang membuat kita tercerai berai.

Papua juga bernasib sama. Mereka sendiri konon adalah keturunan Afrika yang karena pergerakan lempeng harus menerima suratan takdir untuk berada di Indonesia, dan menjadi minoritas. Kasian sebenarnya. Jika saja aku mampu, rasanya aku ingin mengembalikan mereka kepada leluhurnya. Ah, ternyata kisah putri yang terpisah itu nyata adanya.

Seorang teman sempat bertanya sebelum aku pergi ke sini, "Kenapa sih Papua engga merdeka aja? Kasian tau mereka..".
Aduh! Pertanyaan itu lagi. Itu pertanyaan yang paling sering aku dengar. Bosan juga lama-lama. Heran sebetulnya aku, mengapa kini rasanya semua pihak pasrah melepas Papua? Padahal di tahun 1961, Bapak tampan Sokarno kita tercinta itu, sudah berkoar-koar tentang TRIKORA. Tentang bagaimana mengembalikan Papua Barat. Jangan bilang lupa!

Obrolan tentang Papua akan semakin dramatis saat kita semua ingat bahwa Papua punya ladang emas. Akhirnya menjadi samar apa yang coba kita obrolkan tentang Papua. Sebenarnya, kita ini sedang membela masyarakat Papua atau emasnya?
Pelik!

Berhari-hari di sini, melakukan aktivitas sebagai antropolog, membuatku semakin menyadari betapa pentingnya mendengar.

Apakah selama ini kita pernah benar-benar mendengar Papua?

Aku sendiri melihat Papua seperti anak kecil yang polos dan banyak maunya. Membiarkan mereka merdeka sama seperti menelantarkan balita. Lihatlah mereka, masih asik mengunyah sirih pinang dan memakan Papeda atau ulat sagu. Merasa aman dan nyaman dengan berkebun dan tidur di rumah kayu tanpa listrik. Jika besok kita biarkan mereka merdeka, apakah lantas mereka akan tidur di real estate mentereng? Itukah yang diharapkan orang-orang yang ingin Papua merdeka? Agar tak lama setelah itu mereka menjadi kaya raya? Siapa yang menjual mimpi palsu itu?
Membuat mereka terlepas dari kebiasaan mabuk yang sudah melekat sejak jaman koloial saja sulit, apalagi membuat mereka mandiri sebagai negara.

Semua orang yang pernah mengunjungi Papua pasti setuju bahwa provinsi ini tertinggal. Tapi memburu-buru mereka agar sejajar dengan orang Jawa juga bukan cara yang tepat. Orang Jawa juga pernah mengalami kertertinggalan sebelum akhirnya sejumawa sekarang. Pun Papua yang kini tengah berproses. Coba lihat sekarang, apa jadinya saat mereka diarahkan menjadi modern? Mereka akhirnya timpang.

Ini seperti memaksa meraka masuk kelas akselerasi tanpa mengukur kemampuan mereka sebelumnya.

Aku hanya melihat satu kesalahan di sini, yaitu saat mereka diminta secepat kilat keluar dari kemiskinan dan kesengsaraan. Dengan tergopoh-gopoh dibentuklah lembaga-lembaga percepatan dengan tujuan membuat mereka segara kaya. Padahal mereka sendiri tidak paham apa itu miskin.

Terlepas dari itu, berada di Papua selalu membuat hatiku hangat. Melihat dan mendengar mimpi-mimpi mereka selalu jadi pengalaman yang tidak terlupa. Mimpi adalah barang mahal di sini. Tidak semua orang mampu bermimpi.

Dalam perjalanan pulang, aku kembali mengingat kejadian semalam. Saat aku berbincang dengan seorang pastur dibawah bintang-bintang. Sambil mendengar ombak, dan melihat bulan yang bulat sempurna, kami membicarakan banyak hal.
Itu akan menjadi salah satu malam yang layak dikenang.

Di ujung perjalanan di bumi cendrawasih, aku merasa berhutang pada Papua. Bumi dengan kekayaan yang melimpah-limpah ini pada akhirnya mengajarkanku bagaimana rasanya menjadi minoritas.  Menjadi satu-satunya Islam diantara Kristen atau Katolik. Menjadi putih di antara hitam. Menjadi sendiri diantara banyak. Menjadi pendatang diantara yang tetap.

Ternyata begini rasanya menghargai perbedaan.

Sayonara, P!
You'll be in my heart.
Always and always!

http://blog.crabb.com.au/recent-work/burnet-institute-in-papua-new-guinea/


***

"Re, pulang atuh ke Sukabumi. Nini kangen..."

#31harimenulis
#3-31 

Minggu, 24 Mei 2015

Toko buku

Rasanya seperti punya kerajaan sendiri saat berada di toko buku. Berjalan memasukinya, aku seperti seorang putri yang paling cantik sejagad raya.
Tak apa tersesat karena aku tau akan tersesat di surga.
Rutinitas klise yang selalu menyenangkan di lakukan. Berjalan dari satu rak ke rak lainnya.
Jongkok dan berlama-lama membaca sinopsisnya di belakang bukunya. Lalu memilih beberapa buku untuk dibawa ke kasir. Rasanya semua penat, semua stress, dan semua keluh teruarai dan tersebar di toko buku. Sungguh menyenangkan berlama-lama di toko buku.

Apalagi saat kita pergi kesana.
Kamu dan aku akan tersesat disana. Berjalan bersama-sama melewati buku-buku, mencium aromanya, memperhatikan sampulnya, dan saling menengok pilihan buku masing-masing.

"Kenapa buku itu?"
"Penasaran aja"

Kamu, aku, dan kerajaan buku kita. Diam tersesat, berlama-lama.
Mungkin kalau kita bisa tinggal di toko buku ini selamanya, kita akan seperti  sepasang buku tua yang berdebu, karena tak mau beranjak.



Psst, kamu menawan sekali jika tengah serius begitu.

#31harimenulis
#bonus

© RIWAYAT
Maira Gall