Minggu, 07 Juni 2015

Jalani Aja Dulu Relationship



Suatu hari saya pernah mengantar seorang teman ke bandara. Sebagai gudangnya pertemuan dan perpisahan, bandara memang tempat yang tepat untuk melihat pemandangan-pemandangan unik tentang manusia yang hendak berpisah, atau akan bertemu. Tapi hari itu sepertinya saya mendapatkan jackpot!
Saat itu, tepat di hadapan saya, ada sepasang, entah suami-istri, atau entah sepasang kekasih yang hendak berpisah. Lalu si perempuannya berkata, “mas.. jaga hatimu buat aku yaa”. Dengan gantle si lelaki hanya menganggukan kepala dengan mantap seracaya mengiyakan si perempuan. Pertemuan itu kemudian diakhiri dengan pelukan. Si lelaki masuk ke bandara dan si perempuan melambaikan tangan. Telenovela sekali deh pokoknya. Tepat di depan mata saya pula kejadiannya. Mau muntah tapi kok rasanya tidak sopan.

Ketika teman saya sudah berangkat, saat dalam perjalanan pulang, saya jadi teringat kejadian tadi saat si perempuan berkata “mas.. jaga hatimu buat aku yaa”. Dan kemudian saya bertanya-tanya sendiri apakah hati memang bisa dikontrol?

Saya ingat kejadian dua tahun silam, saat saya tidak sengaja jatuh cinta. Itu terakhir kali saya merasa terlibat perasaan romansa dengan seorang lelaki. Saya katakan tidak senagaja karena saya tidak meniatkan untuk jatuh cinta pada dia. Kami sudah sama-sama kenal dan berteman, lalu dengan beberapa hal yang tidak disengaja, tetiba hubungan kami menjadi sangat dekat, dan tanpa saya sadari, saya terlanjur nyaman berhubungan dengan dia. 

Saat itu, tidak ada ekspektasi apapun yang saya bebankan untuknya. Pun saya tidak merengek-rengek minta penjelasan tentang bagaimana hubungan kami, atau apapun itu. Saya mengikuti alur dan lajunya. Mengikuti dia bermain petak umpet, dan tersesat di labirin. Singkat cerita, kami menjalani hubungan yang bernama “Jalani Aja Dulu Relationship”. Konon hingga kini, hubungan tipe itu adalah hubungan yang paling sering dijalani anak-anak kekinian. Buat yang belum pernah atau akan mengalami, Well, I tell you, Jalani Aja Dulu Relationship is bullshit!
 
Engga ada satupun hubungan di dunia ini yang bisa berjalan dengan niatan ‘Jalanin Aja Dulu’. Apa yang mau dijalanin kalau gitu? Itu hanya alibi semata. Jadi jangan terpengaruh.
Berhubung detik ini pun saya masih jomblo, sudah bisa ditebak bagaimana akhir dari hubungan kami kan? Saya tidak perlu menuliskannya dengan gamblang kan? Oke.

Namun saya bersyukur karena pernag menjalani “Jalani Aja Dulu” relationship. Setelah menjalani hubungan seperti itu, saya jadi punya jawaban, bahwa ternyata hati adalah sesuatu yang tidak bisa dikontrol oleh manusia. Ternyata manusia itu powerless untuk urusan hati. Jangankan hati orang lain, menjaga hati sendiri saja kadang kewalahan.

Jika tuan dan puan sekalian saat ini sedang menjalani hubungan yang dinamakan “Jalani Aja Dulu Relationship”, saran saya hanya satu, segera saja diakhiri.

Kecuali, komitmen “Jalani Aja Dulu Relationship” itu disepakati oleh kedua belah pihak, yang juga harus dibarengi dengan komitmen akan konsisten menjalani hubungan itu. Ribet ya?
Memanlah hubungan terbaik dua orang yang mencintai itu hanya pernikahan. Ujung-ujungnya cuma mau ngomong ini. 

Haha. Selamat malam.

#31harimenulis
#bonus

Sabtu, 06 Juni 2015

Morotai #1

Perjalanan panjang di Maluku akhirnya mempertemukanku pada cipratan surga di dunia bernama Morotai. Menurut desas-desus yang beredar, inilah pulau yang paling sering dikunjungi oleh Presiden tampan kita, Ir. Soekarno. Apalagi saat itu pulau ini dijadikan basis pertahanan tentara Jepang dan sekutu saat perang dunia ke-2 antara tahun 1942 hingga 1944. Tentu saja Ir. Soekarno menjadi lebih intens mendatangi Morotai. Dan memang itu bukan sebuah isapan jempol belaka. Buktinya di pulau ini ada museum hasil dari perang dunia II.
Pulau ini sepertinya punya peranan yang cukup penting bagi sejarah Indonesia. Bahkan ikon pulau ini adalah monumen trikora. Ya kapan-kapan lah aku bahas tentang Trikora. Namun agak aneh saja meletakan monumen Trikora di tempat yang tidak punya ikatan sejarah dengan peristiwa Trikora. Jika aku orang penting, mungkin akan aku ganti maskot pulau ini dengan neptunus atau putri duyung.

Tentunya tidak lengkap mengunjungi Morotai tanpa mencicipi bagaimana rasanya bermain-main air. Mengingat pulau ini pernah menjadi daerah tujuan Sail di tahun 2012, aku pikir pastilah tidak sulit untuk menemukan informasi pariwisata.

Tapi ternyata, aku salah.

Pulau seindah ini ternyata punya managemen wisata yang cukup buruk. Sebal aku dibuatnya. Bahkan ketika mengunjungi dinas pariwisatanya, aku tidak mendapat harga yang pasti untuk pergi ke pulau-pulau di sekitar Morotai. Hal ini tentu akan membuat para nelayan lokal menaikan harganya dengan membabi-buta, apalagi saat ini bukan waku liburan. Keterkejutanku semakin lengkap saat mengetahui bahwa di pulau secantik ini, hanya ada satu diving center yang dikelola oleh orang yang bukan berasal dari warga lokal. Tentang itu sih, aku sih tidak begitu terkejut, dengan kondisi geografis yang cukup jauh dari pusat kota, mustahil orang lokal kemampuan mengelola diving center. Sesuatu yang baru biasanya memang dibawa dan ditularkan dari luar.
Aku tidak punya pilihan lain selain mengunjungi diving center itu, apalagi aku tidak membawa alat-alat menyelam atau sekedar untuk snorkeling.

Aku sedang bertanya harga dan fasilitas apa yang akan aku dapatkan pada petugas yang berjaga, saat sesuatu yang indah tetiba melintas. “Nahhh ini dia nih, dia ini fotografer bawah laut kita. Diver juga”.

Dan dia terseyum.

Alamak! Manisnya.

***
Pagi yang cerah dengan matahari yang terlalu semangat bersinar di pulau Morotai. Hari yang sempurna untuk bermain air. Dan hari yang baik untuk membuat kenangan.

Setelah berdiskusi panjang, diantara semua pulau, akhirnya kami sepakat untuk mengunjungi Pualu Dodola.
Perjalanan menuju Dodola besar melalui Morotai kami tempuh dengan kapal kayu. Kami yang mana artinya adalah aku dan lelaki manis itu pergi ke Dodola Besar. Pihak diving center ingin menjaga semua barang-barang selam tetap terjaga seperti sedia kala.
Apapun itu, aku sungguh bersemangat karenanya. Horay!

Perjalanan kami tempuh dalam sekitar 45 menit. Panas matahari membuat kami harus membuat perlindungan kepala dari matras. Sepanjang perjalanan aku hanya mampu berteduh sambil sesekali mengintip senyumnya. Sungguh maut!

Hingga akhirnya kamipun tiba di Pulau Dodola Besar.

Well, bagaimana aku bisa mendeskripsikan Dodola? Sungguh aku tidak punya kata. Pasirnya terlalu putih dan lembut, airnya yang dingin berwarna gradasi hijau menuju biru, terumbu karang dan ikan-ikan yang bersembunyi di bawah air, dengan dua pemisahan ombak. Pulau Dodola terdiri dari Dodola besar dan Dodola kecil, jika air pasang dan kiat berdiri di tengah-tengahnya maka kita serasa berdiri diantara dua ombak. Extremely beautiful!   

Dia membantuku memasangkan fin dan snorkel, kemudian seketika kami sudah bersama di lautan. Sesekali ia menarikku memuju pada ikan dan terumbu karang yang cantik.

Sejenak aku lupa segalanya.

Waktu membeku dan yang ada hanyalah aku, dia, dan air.

Hanyut.

***

Matahai mulai tenggelam saat kami mulai meninggalkan Dodola Besar.
“Sayang ya kita ga bisa liat sunset” katanya.
“Gapapa... Ini juga udah cantik banget. Eh ngomong-ngomong, kapan mulai suka laut?” 
“Sejak semumur dia” Katanya sambil menunjuk anak dari nelayan yang mengantar kami.
“Oh wow! Dari sekecil itu?”
“Iya... Aku suka banget laut dari itu. Tapi aku tumbuhnya di gunung. Baru pas SMA aku mulai kenal laut. Dan terus ambil sekolah divers. Sampe sekarang deh. Aku suka banget laut, apalagi hiu”  “Kenapa?” 
“Kenapa suka? Engga tau. Apa aku harus punya alasan untuk suka sesuatu?” 
 “Engga sih... Hehe...”

Lalu mata kami tak sengaja bertemu.

Sore yang baik. Saat angin laut berhembus, saat birunya laut menjadi diam bergelombang.

Aku tau, sesuatu sedang terjadi di sini.

"Eh, nanti malam kamu mau kemana?"
"Engga tau sih... paling liat bintang"
"Oh kamu suka bintang?"
"Banget!"
"Aku tau tempat liat bintang yang bagus di sini"
"Aku mau dong kesana"
"Nanti malam, kita ketemu di kantor diving ya"
"Ya"



I just have one more fine day.
Gosh! 

#31harimenulis
#9-31
#Part1

Jumat, 05 Juni 2015

Pencarian

Menurut sejarah, abad ke 15 adalah abad yang penting bagi peradaban dunia. Rupanya di abad ke 15 ini, manusia sudah lelah direcoki oleh dogma-dogma agama. Perseteruan agama dan ilmu pengetahuan dibiarkan berakhir di abad ke 14. Terutama ketika perang salib yang mahsyur dikata orang itu, pun akhirnya berada pada titik kulminasinya. Manusia menjadi gamang setelah sebegitu lamanya direcoki oleh sesuatu yang spiritual. Bukannya mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa malah semakin merumitkan pikiran.
Untuk itulah, manusia memutuskan untuk melakukan pencarian!

Abad ke 15 dikenal sebagai abad kelana. Tentu saja, bagaimana caranya melakukan pencarian tanpa melakukan perjalanan bukan? Dan tentu saja, abad ke 15 adalah awal mula ekpedisi samudera!

Are you ready captain?

Pencarian demi pencarian mengantarkan manusia untuk tersesat dan menemukan. Pada tahun 1512 seorang bernama Afonso de Albuquerque mengirim seorang lelaki bernama Antonio Albreu dan Franscisco Serrao untuk memimpin armadanya mencari sesuatu yang penting dalam hidup mereka, yaitu rasa.

Menurut gossip yang berhembus, para kompeni itu mengalami masalah dengan lidah dan makanan yang mereka tanam sehari-harinya. Maklumlah, dengan cuaca eropa yang dingin, mereka tidak bisa menanam rempah-rempah. Akibatnya, selain tidak bisa menghangatkan diri, makananpun menjadi lebih mudah basi. Apalagi Thomas Alfa edison belum menemukan listrik dan William Cullen belum menemukan kulkas. Untuk itu, banyak rumah tangga yang goyah hanya karena masalah lidah, setidaknya begitu menurut kabar burung yang berhembus. Tak ingin dipersalahkan karena tak becus memasak, para wanita akhirnya berseru pada pria-pria “Daripada sambat, mending kalian berlayar dan temukan rempah-rempah untukku” Begitu kira-kira omelan sang istri.

Akhirnya pergilah para suami itu menjelajah samudera dan akhirnya tiba di surga rempah dunia, Maluku! 

Coba bayangkan, beginilah awal mula penjajahan itu saudara-sudariku. Hanya dari masalah rasa, hanya dari persoalan lidah. Lidah yang membuat kita akhirnya rela berbagi rempah dan hal yang lainnya, dengan Belanda selama berabad-abad lamanya.
Pencarian mereka akan rempah-rempahlah yang membuat mereka ingin menaklukan Indonesia. Namun apa yang terjadi sekarang? Kita malah lebih memilih untuk menggunakan penyedap rasa untuk mengolah makanan. Jangan sampai kita dijajah lagi karena tidak paham masalah rasa. Sungguh generasi yang kaspiran!

Itulah mengapa perjalananku di sini sangat berarti.  Karena di sinilah awal mula Indonesia dikenal dunia, di sinilah awal mula penjajahan itu, di sinilah kolonialisme terjadi, inilah pintu itu, Maluku!

Mempelajari bagaimana perjalanan bisa terjadi seakan membuka mataku akan sesuatu yang baru. Jangan-jangan alasan kita bergerak selama ini sebetulnya hanya berasal dari sesutau yang sangat sederhana? Aatu Mungkin saja, kita sudah mencapai tujuan dari apa yang kita niatkan di awal. Namun lalu kita keblinger dan mencari hal yang lain lagi, hingga akhirnya melenceng jauh dari apa yang kita niatkan saat awal melakukan perjalanan. 
Atau bisa jadi, perjalanan yang kita lakukan saat ini sebetulnya adalah hasil dari ketersesatan yang tidak kunjung usai?
Aku harus sabar, mungkin aku butuh waktu seumur hidup untuk membahas menjawab perkara temu-ditemukan. 

Anyway, aku sungguh senang berada di sini. Ternyata ada beberapa bagian dariku yang aku temukan. Dan jujur, aku sangat menikmati moment-moment saat aku menemukan bagian diriku. Perjalanan memang akan mengantarkan seseorang pada sebuah perkenalan. 

Lagipula aku berada di surga dunia, dimana gunung dan laut berada di satu lokasi yang sama. 

“Mbak Re, sekalian aja kalau udah ke sini, pergi ke Morotai” kata salah satu kawan baruku.
“Oh yang pernah dijadiin sail Morotai itu ya?” 
"Iya mbak. Bagus looh..."

Hmmm… Kulihat agenda dan rasanya aku masih punya waktu untuk pergi ke Morotai.
Mari kita cari tahu, ada pada di sana.

"Oke kak. Yuk!"



***
#31harimenulis
#8-31

Kamis, 04 Juni 2015

Telanjang

Bagaimana rasanya telanjang?
Apa rasanya menjadi tidak punya apa-apa lagi untuk ditutupi? Tak ada rahasia, tak ada apapun yang tersembunyi.

Sungguh, katakan padaku, bagaimana rasanya menjadi telanjang?

Apakah itu menyenangkan? Apakah begitu rasanya?

Bagaimana rasanya telanjang? Coba katakan padaku, bagaimana rasanya?

Tidakkah kita sama-sama lelah mengenakan pakaian ini? Jadi, mengapa kita tidak telanjang saja?

Biar aku tau, ada apa di balik pakaianmu.
Biar aku tau, apa yang kau coba tutupi.

Bagaimana kalau kita telanjang saja?


#31harimenulis
#Bonus


Rabu, 03 Juni 2015

Skenario!



Setiap manusia, pasti memiliki setidaknya satu luka terbesar yang tersebunyi jauh di hatinya yang paling dalam. Tidak peduli seberapa lama waktu berjalan, tetap tidak akan menjadi penawar. Luka itu akan ada di sana, entah sebagai pajangan, atau bom waktu.

Bicara tentang luka, hanya ada dua katagori manusia. Pertama pemaaf dan kedua pendendam. 
Pembedanya sederhana, cukup perhatikan cara mereka mengingat sebab musabab dari luka itu sendiri. Bagi mereka yang mengingatnya sebagai ketidakadilan, dan menilainya sebagai sesuatu yang pantas dan tidak pantas, maka katagorikan mereka pendendam. Namun yang mampu mengingat sebagai anugerah, sebagai sesuatu yang harus terjadi, katagorikan mereka sebagai pemaaf. 

Konon, manusia yang bijak adalah manusia yang tau bagaimana caranya berdamai dengan masa lalu. Termasuk berdamai dengan semua luka-luka yang pernah ada. Kalau begitu, apakah Indonesia termasuk Negara yang bijak? Sudahkah kita berdamai dengan semua luka dan masa lalu? Atau alih-alih berdamai, apakah justru kita masih gagu tentang masa lalu kita sendiri?

Aku tidak tahu mana yang lebih menyeramkan bagi sejarah Indonesia, apakah tahun 1965 atau tahun 1998? Tapi yang aku tau, keduanya jelas seperti luka yang tidak akan pernah sembuh. Alih-alih sembuh, justru melahirkan rahasia-rahasia gelap hingga detik ini. 

Jawaban-jawaban penting sepertinya raib dibawa mereka hingga mati. Yang akibatnya, kita-kita ini hanya bisa bertanya-tanya juga sampai mati. Pertanyaan macam: siapa yang mengeluarkan super semar?; Siapa yang bertanggung jawab atas kerusuhan 1998?; Siapa biang keladi peristiwa PKI?; pada akhirnya hanya Tuhan yang kuasa menjawab.

Kembali pada katagorisasi manusia yang terluka, aku ingin memberikan label pemaaf (alih-alih menyebutnya naif) pada semua penduduk Maluku Utara. 

***

Tahun 1999 adalah tahun yang penting bagi Maluku Utara. Walau sudah hampir 16 tahun berlalu, tapi luka itu masih ada di sana. Tidah lagi sebagai nanah, tapi sudah mengering dan menjadi koreng. Di tahun itulah awal mula konflik berdarah yang konon katanya akibat perbedaan agama. Coba cari saja di google, tentang sebab-musabab konflik yang terjadi di tahun itu. Hampir semua headline surat kabar menyebutkan peristiwa itu adalah konflik agama, antara laskar merah dan laskar putih, antara Kristen dan Islam. 

Dipikir-pikir cerdas juga ya dalang dari konflik ini.

Oh iya, aku lupa menceritakan tentang betapa uniknya Maluku Utara ini. Jika di Jawa, kita sudah terbiasa hidup secara heterogen dalam satu desa, maka jangan bayangkan itu terjadi di Maluku Utara. Mereka hidup terpisah antara Islam dan Kristen. Tidak ada batasan yang jelas memang antara satu desa dengan desa lainnya, namun yang jelasnya, Islam dan Kristen tidak hidup bersama di satu desa yang sama. Walaupun demikian, masih ada beberapa desa dengan penduduk Islam dan Kristen yang bercampur, namun itu hanya satu atau dua desa saja. Sisanya, mereka hidup terpisah, dan belum ada tanda-tanda untuk hidup bersama. 

Kondisi ini di mayoritas wilayah rural di Maluku Utara, bagiku, justru disitulah letak bahayanya.

Masih ada lagi keunikannya. Walau mereka hidup terpisah secara agama, tapi mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama. Bagi mereka, sudah sangat wajar memiliki kakak dan adik yang berbeda agama. Agama bagi mereka adalah pembagian yang harus dibagi rata antara Kristen dan Islam. Jika ada dua saudara dalam satu kepala keluarga, maka yang satu akan memeluk agama Islam dan tingga di desa beragama Islam, dan yang satu akan beragama Kristen dan tinggal di desa yang beragama Kristen.
Inilah adat mereka, sesuatu yang harusnya dihormati (atau setidaknya didiamkan saja), bukan dijadikan strategi.

Aku percaya, bahwa hanya orang-orang dengan hati miskin yang mampu menjadikan agama sebagai tersangka. Karena bagaimana mungkin agama bisa menjadi biang keladi? Agama itu pada dasarnya atribut, sama seperti adat, tradisi, atau kepercayaan. Jadi bagaimana bisa atribut yang notabene pasif menjadi sumber keonaran? Dimana logikanya?

Tapi di satu sisi, aku salut pada mereka yang mampu memainkan suasana di tahun itu. Ini semakin menguatkan asumsiku bahwa hanya mereka yang memiliki kecerdasan tinggi, yang mampu menjadi diktator kelas kakap. Betapa pintarnya mereka memainkan suasana saat itu. Saat mereka paham bahwa tak ada lagi kekuasaan, maka jalan satu-satunya adakah membuat kerusuhan. Standing ovation!

Medan perang yang digunakanpun sangat tepat. Maluku Utara dengan kultur agama yang kuat namun terpisah-pisah. Bravo brother, bravo!

Sudah bisa ditebak bagaimana akhir dari cerita ini. Para dalang bersembunyi manis sambil sesekali membisikan nada-nada provokatif berbau SARA. Sesuai ekspektasi, BLAM! Konflik terjadi. Darah berjatuhan, senjata diangkat, tak ada lagi istilah keluarga, yang ada hanyalah Islam pembunuh Kristen, dan Kristen pembunuh Islam.  Hanya itu yang terjadi selama kurang lebih 3 tahun hingga rekonsiliasi terjadi.

Siapa yang tidak terluka saat agamanya di cela? Semua pasti akan bangkit atas nama Tuhan untuk membela. Bukankah ini skenario yang hebat? Para dalang menyentuh ranah paling pribadi dari setiap manusia, yaitu agama. Merenggut hak beragama dan membuat seolah-seolah merekalah yang bermasalah. Membungkam media dan mengatakan bahwa agamalah akar masalahhnya. Padahal sebelum para dalang kehilangan jabatan, mereka sudah hidup bersama, berdampingan tanpa pernah satupun ada konflik agama. Konflik yang memang sengaja dibuat, bukan? Hanya demi kredibiltas.

Good job!

Luka itu masih disana. Diam dan mengering, alih-alih menyebutnya terlupakan. Beberapa enggan membicarakannya, beberapa berusaha menutupi realitanya, beberapa bercerita dengan air mata. Namun mereka tabah, dan memilih jalan sebagai manusia pemaaf.

Jika mereka memilih memaafkan, aku memilih untuk tetap mengingat runtutan kejadian ini, sebagai sesuatu yang belum selesai.Bagaimana aku bisa menganggap selesai, saat nyawa yang merenggang sebenyak itu, bebas melenggang tanpa proses peradilan?Dan masih pula ada yang percaya bahwa itu konflik agama?

Aku memang katagori pendedam dalam urusan luka.


Exactly!


16 tahun setelah kejadian itu, Maluku Utara masih sama indahnya, walau disipisi luka.Tapi perjalanan di bumi Pattimura belum berakhir...


#31harimenulis
#7-31

Selasa, 02 Juni 2015

Dear Fauzan,



Ada salah satu orang di hidup saya, yang secara konstan terus-menerus ada tanpa saya minta. Kami tidak punya hubungan romansa, tapi dia mendapat semua ketulusan dan hormat yang saya punya. Selayaknya pertemanan, kami tidak punya syarat untuk bersama.

Namanya Fauzan Nur Rokhim.

Saat saya sedang berjuang masuk UGM, dia adalah salah satu orang yang punya peranan penting. Saya ingat kata-katanya di hari-hari menjelang tes SNMPTN, “Sehari sebelum tes, kamu ga boleh belajar Peh! Kamu tuh gagal di UM karena kebanyakan belajar” Begitu katanya. “Ohya? Kenapa gitu?”, jawabannya tengil “Udah, percaya aja sama yang udah ketrima”. Gitu coba, jawaban macam apa!

Fauzan punya pacar waktu itu, namanya Amel, tapi lalu dengan tengilnya dia mengajak saya nonton bioskop dan bilang kalau saya ini butuh refreshing. Saat mengantar pulang, di depan rumah dia kembali bilang “Satu lagi Peh, kalau mau lolos, kamu harus punya nazar!”

“hah?”

***

Hari ketika pengumuman, ada 3 orang yang menantikan kabar apakah saya diterima di UGM atau tidak. Orang itu adalah Ridi, Ujang Fahmi, dan Fauzan. Mereka lebih kalut sepertinya dibandingkan orang tua saya sendiri. Fauzan bahkan nelfon “Kamu lolos ga Peh? Mau tak liatin aja engga?”, saya jawab “Engga usah, aku bisa liat sendiri.”

Singkat cerita saya diterima, dan belum sempat saya mengabari dia, dia sudah sms “Ciyee… selamat ya Peh keterima!”. 

Saat itu, sebetulnya saya berjanji buat mentraktir dia, sebagai syukuran. Tapi sampai detik ini, itu janji yang belum saya tepati…

***

Kami kuliah di satu fakultas yang sama, tapi beda jurusan. Saya di komunikasi, Fauzan di administrasi Negara. Kesibukan kuliah, perbedaan circle pertemanan, dan seribu satu alasan lainnya, membuat kami jarang main bersama lagi.

Hingga akhirnya, kami kembali bertemu di tahun 2012. Bukan hanya kembali bertemu, tapi saya dan Fauzan adalah teman satu sub unit KKN Papua. Surprise! Hidup memang gudangnya kejutan.

Pada awalnya saya agak ketakutan berangkat ke Papua karena satu dan lain hal. Hingga saya ingat, saya mengancam Fauzan, “Zan, karena aku belum akrab sama siapa-siapa disini, jadi kamu, kamu harus jagain aku ya Zan. Harus. Pokoknya cuma kamu yang bakal aku repotin dan kamu ga boleh nolak. Oke?!”. Fauzan yang tengil itu menjawab dengan cengengesan “Siap nyonya! Nanti kalau ada yang mau bunuh kamu, aku biarin aja!”. Kan, rese’ jawabannya.

Tapi pada akhirnya, selama di Papua memang Fauzanlah yang selalu saya repotkan.

Dia yang mengambilkan air saat saya butuh tambahan air kala haid. Maklum, sumber air berada cukup jauh dari rumah, dan butuh beberapa kali bolak-balik. Yang tadinya saya butuh 4 dirijen, selama haid saya butuh 8 dirijen. Untung Fauzan bersedia mengambilkan 4 dirijen air tambahan buat saya selama haid.

Saya ini keplesetable. Diantara anak-anak KKN, hanya Fauzan yang paling sering rela saya jadikan tumbal. Kalau jalanan licin, dan saya nyaris jatuh, saya pegang lengannya, dan dia malah yang jatuh. Lalu saya tertawa.

Pun kami mengajar kelas yang sama. Kelas satu SD dengan anak-anak ingusan dan susah diatur itu. Bahkan, jadwal piket cuci piring di kali juga barengan. Fauzan yang engga pernah nyuci itu, dengan nyebelinnya bilang “pilih mana, aku nyuci tapi ga bersih, atau kamu nyuci tapi bersih?”. PIlihan macam apa?

Hingga puncaknya ketika saya kesurupan di hari terakhir KKN, tepat di saat yang sama, kami diundang menghadiri pesta perpisahan. Akhirnya Fauzan yang (sepertinya) sukarela menjadi volunteer menjaga saya sampai tenang, sampai larut malam. 

Di akhir masa-masa KKN, dan saya patah hati di Papua, Fauzan juga yang dengan klise berkata, “Dia itu ga pantes Peh ditangisin. Udahlaaah”. Dan bener sih Zan, dia emang engga pantes.

Pertemanan kami menjadi cukup intens sekembalinya dari Papua. 

Saya ingat saat saya kecelakaan di bulan April 2013, waktu itu bertepatan dengan waktu kerja di Srengenge. Karena kecelakaan itu, otomatis saya harus diantar-jemput. Dan seperti biasa, selain Uda Uki yang engga kalah baik itu, Fauzan dengan sigap bolak-balik jalan godean-jalan kaliurang-warung boto buat mengantar saya.

Saat saya ulang tahun, dia mengantarkan spanduk sebesar gajah buat saya. Itu spanduk idenya anak-anak tamleho sih, tapi dia yang desain kalau engga salah. 

Juga saat saya harus masuk rumah sakit karena ISK saya kambuh, dia dan anak-anak tamleho yang repot-repot masak buat saya.

Tapi apalah saya ini… bukan teman yang baik. Saya bahkan absen di hari-hari pentingnya. 

Saat Fauzan pendadaran, saya sedang berada di luar kota.
Saat Fauzan wisuda, saya berhalangan hadir.
Bahkan saya absen saat dia ijab kabul hari ini.

***

Sebagai teman, kami pernah beberapa kali berbeda argumen. Kami sering berdebat untuk hal-hal yang kurang penting. Ada beberapa pemikiran Fauzan yang saya kurang setuju, pun dia kepada saya. Tapi itu engga akan lama, kami pasti akan main bareng lagi. Karena saya tau, Fauzan itu ya begitu itu orangnya. Saya juga tahu, walau selama apapun kami tidak bertukar kabar, Fauzan akan tetap di sana dan saya di sini. 

Tapi apakah pertemanan punya deadline?

Hari ini Fauzan menikah. Itu artinya, pertemanan saya dan Fauzan engga akan sama seperti dulu lagi. Engga ada lagi anter-jemput karena kepepet. Muter-muter Jogja liat lampu. He belongs to someone now. Ternyata, semenderita-menderitanya patah hati, lebih nelangsa kehilangan teman ya…
Diantara semua perasaan yang campur aduk dalam hati, ternyata perasaan kehilanganlah yang paling mendominasi. Saya tau ini bukan akhir dari pertemanan saya dan Fauzan. Kami hanya akan berada di fase pertemanan yang berbeda. Tentu setelah pernikahannya hari ini, akan ada batas-batas yang tidak bisa lagi dilangkahi, baik oleh saya, oleh Fauzan, atau oleh siapapun.

Jadi apakah benar, pertemanan juga punya masa kadaluarsa?

Oh men!
Aku bahkan belom ngomong makasih Zan buat semuanya. Kamu udah nikah aja loh! Aku bahkan belom ngasih hadiah kelulusanmu loh Zan, kamu udah jadi suami orang aja.
Aku engga tau mau ngomong apa Zan selain selamat menempuh hidup baru. Aku doain, semoga kalian selalu jadi pasangan yang saling mengingatkan karna Allah, selalu berjuang, dan kelak jadi orang tua, jadi orang tua yang baik buat anak-anak.
Pokoknya, sampe kapanpun juga, kamu temen terbaik sepanjang massa! Jangan bales dendam ya Zan, please dateng ke nihakan aku, yang entah kapan itu. Oke?

Selamat buat Shinta, kamu dapet suami yang engga bisa minum susu karena takut asam uratnya kambuh.
Kidding! Kamu dapet suami yang baik kok. Ngomong-ngomong kita baru ketemu sekali di karokean, tapi yaudahlah yaaa… selamat menempuh hidup baru yaa!

With Love,

A.


#31harimenulis
#Bonus

Senin, 01 Juni 2015

Juni



 

Mari kita sambut bulan kesayangan hati ini.
Bulan yang terbuat dari kegembiraan dan kebahagiaan.
Dimana semua doa-doa akan kembali terucap. 
 

Inilah bulan itu.
Konon bau hujan dimulai dibulan ini.
Dan asmara mulai tumbuh.

Mari kita sambut bulan kesayanganku ini.


#31harimenulis

© RIWAYAT
Maira Gall