Minggu, 21 Oktober 2018

Memakan Tempat

Walau belum pernah membaca hasil riset atau kajian tentang bagaimana sebuah tempat dapat membantu seseorang berdamai dengan masa lalunya, tapi setidaknya hal itu berlaku bagi saya.

Hal ini saya rasakan pertama kali dengan tempat yang juga sebuah ibukota Sulawesi Selatan, Makassar. Hubungan saya dengan Makassar sempat memburuk saat saya masih SMP. Bahkan saat SD, setiap kali mendengar kata Makassar atau Ujung Pandang disebut, saya pasti keringatan, ketakutan panjang, dan rasanya ingin marah. Tapi karena saat itu masih SD, emosi saya pastilah dianggap tidak valid.

Ketakutan saya bersumber dari “keharusan” saya melanjutkan SMP di Makassar. Mengapa harus? Itu juga yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Intinya dari yang tadinya berada di jogja, karena satu dan lain hal, saya harus pindah ke Makassar. Saat kejadian itu benar-benar terlaksana, saya benar-benar pindah ke Makassar dan akhirnya menjalani masa-masa SMP saya di sana, Makassar bagi saya seperti sebuah ruangan sempit yang kotor, bau, banyak coretan, dan tidak ada sinar mataharinya. Sumpek. Untuk bertahan selama 3 tahun, bukan hal yang mudah untuk saya. Banyak kejadian yang saya alami selama saya berada di Makassar, dan beberapa diantaranya menjadi titik terrendah yang saya alami sepanjang hidup saya. Walau saya mampu mengenang manis-manisnya Makassar lewat makanan dan persahabatan saya dengan 2 orang teman SMP saya, tapi selebihnya, Makassar sungguh traumatis, baik untuk dikenang, maupun untuk diulang.

Setelah lulus SMP, saya kembali ke Jogja dengan mengubur dalam-dalam semua hal tentang Makassar. Kalau ada yang bercerita tentang Makassar atau bertanya tentang masa-masa SMP, ekspresi saya pasti langsung berubah dan membuat saya terdiam. Rasanya hanya dengan mendengar kata Makassar kembali disebut, sudah cukup bikin ingatan saya melayang pada masa-masa SD di mana keputusan soal pindah ke Makassar itu dibuat, dan tentu saja… masa-masa saat menjalaninya selama 3 tahun. Makassar manjadi sebuah ingatan yang tidak pernah ingin saya kulik-kulik lagi.

Hingga 7 tahun berlalu sejak kepulangan saya ke Jogja…. ada sebuah kejadian yang mengharuskan saya kembali ke Makassar. Dan epiknya, itu kejadian sedih karena ada seseorang yang berpulang. Pikiran saya berkecamuk saat itu, entah karena saya akan kembali ke Makassar, atau karena harus menghadapi berita kematian. Yang jelas, saya ingat betapa saya, di dini hari, di bandara Soekarno Hatta, Jakarta, duduk sendiri di ruang tunggu pesawat, dan hanya memasang pandangan kosong. Saya bingung, saya takut.

Tiba di Makassar saat itu, selain disibukan dengan manata hati dalam serangkaian agenda kematian, saya melihat Makassar dengan tatapan yang berbeda. Tatapan dari pribadi yang sudah mengalami banyak hal selama 7 tahun. Selama di sana, saya memberanikan diri untuk pergi ke tempat-tempat yang memiliki riwayat traumatis bagi saya. Walau pada akhirnya saya hanya mampu terdiam dan mencoba mengingat apa yang terjadi pada diri saya 7 tahun yang lalu, tapi setidaknya saya menghadapi luka-luka dan ingatan buruk itu secara langsung. Semacam duel dengan diri sendiri. Ada satu tempat di Makassar, yang membuat saya ingin bertemu diri saya 7 tahun lalu, dan memberikan semacam pelukan hangat, dan mengatakan bahwa hidup saya akan baik-baik saja, bahwa saya hanya harus bertahan sedikit lagi.

Kenyataan bahwa saya sanggup menghadapi ketakutan demi ketakutan di masa lalu, pun membuat saya kaget (dan kagum). Dengan hati yang lebih kuat dan dengan pribadi baru yang lebih matang, saya bersedia untuk melihat semua hal yang pernah membuat saya trauma. Hingga saat kembali ke Jogja, saya tidak sadar bahwa ada bagian dari Makassar yang tadinya terluka, perlahan sembuh. Ada bagian dari diri saya, yang tidak lagi menganggap Makassar sebagai sebuah trauma. Ada bagian dari diri saya, yang menjadi enteng saat mengingat Makassar.

Tahun 2017, kurang lebih 4 tahun setelah kunjungan pertama saya ke Makassar, saya kembali ke datang ke Makassar, dan kali ini dalam rangka jelajah Sulawesi. Makassar adalah kota terkahir yang saya kunjungi bersama sahabat saya, Najiyah Nana. Walau Makassar masih tetap mengingatkan saya akan kenangatan buruk selama SMP dan SD, tapi bedanya, saya tidak lagi merasa buruk dengan itu semua. Bermodalkan pribadi yang lebih baru lagi, saya dengan berani kembali mengunjungi tempat-tempat ‘angker’ bagi saya selama SMP. Saya menghadapi trauma demi trauma dengan elegan. Kurang lebih seminggu di Makassar, saat berada di Bandara Hasasanudin menuju kepulangan saya ke Jogja, saya merasa bahwa luka-luka selama di Makassar saat SMP sudah semakin kering. Saya lebih mudah menerima Makassar sebagai bentuk masa lalu yang menjadikan diri saya seperti hari ini.

Di akhir tahun 2017, karena alasan pekerjaan, saya kembali ke Makassar. Tidak tanggung-tanggung, saya bahkan bolak-balik Makassar-Jakarta selama 4 kali dalam kurun waktu 1 bulan. Menariknya, Makassar tidak hanya memberikan saya sebuah pengalaman indah yang baru, tapi saya benar-benar bisa berdamai dengan Makassar serta semua yang pernah terjadi di tahun 2003, saat saya masih SMP. Yaaa… tidak benar-benar semuanya terobati sih… tapi luka yang memang sudah kering, kini hanya tinggal bekas dan tidak lagi mengganggu saya. Makassar tidak lagi menyeramkan, dan bahkan saya berniat mengunjunginya secara rutin.

Saya pikir semua orang akan mengakui bahwa sebuah tempat hanyalah asosiasi dari kejadian yang pernah menimpa kita. Hingga akhirnya otak kita mengaitkan tempat itu dengan sesuatu, baik itu pengalaman menyenangkan atau menyedihkan. Ya… hitung-hitung semua tempat memiliki potensi untuk menjadi monumen pribadi bagi kita. Mulai dari warung pecel hingga tempat elit, jika sesuatu pernah terjadi di situ, maka otak akan mencatat dan hati akan mengenang.

Hal yang sama kini berulang dengan Jakarta. Walau tidak semua tempat di Jakarta memiliki kenangan magis bagi saya, tapi kawasan Menteng dan Jalan Sabang adalah 2 diantaranya. Sama seperti Makassar, beberapa tempat di Jakarta mampu membuat saya diam dan menghela nafas panjang. Seperti ada sesak yang entah apa, hanya dari sekedar lewat di beberapa sudut jalan-jalan tersebut. 

Di sebuah malam di Bulan April sejak kepindahan (sementara) saya ke Jakarta, misalnya, saya bertemu dengan seorang teman di KFC Cikini. Itulah kali pertama saya ke Cikini sejak kepindahan saya tahun ini, dan otak saya seketika memutar sebuah kejadian, dan jahatnya menarik hati saya untuk mengingat. Alhasil, malam itu saya pulang ke kos, dan sedu sedan menangis. Oh… Betapa magisnya sebuah tempat bisa menarik saya pada kenangan demi kenangan.

Pun ketika saya melihat kembali salah satu Mall di Jakarta Barat, ada perasaan yang mau meledak karena pikiran saya memaksa saya untuk mengingat apa yang pernah terjadi. Bahkan di bulan-bulan awal ketika saya pindah (tidak tetap) ke Jakarta, dengan tempat tinggal di Rawasari dan kantor di Thamrin, saya seperti dipaksa untuk kembali mengingat apa yang terjadi sepanjang 2 atau 3 tahun terakhir ini. Tapi sebagaimana Makassar, tempat-tempat itu akhirnya diisi dengan pengalaman dan perasaan yang baru, dan lama kelamaan, luka-luka yang tadinya basah, mengering dengan sendirinya. Sudut-sudut Jakarta yang tadinya memiliki kenangan, menjadi bias. Tempat-tempat itu perlahan kehilangan daya magisnya. Pada akhirnya, saya berdamai dengan semua kenangan dan harapan.

Maka itulah yang saya rasakan, bahwa jika sebuah tempat berpotensi membangkitkan kenangan atau perasaan yang tidak menyenangkan, maka cara terbaik agar bisa berdamai dengan itu semua adalah dengan mengunjunginya lagi, dan lagi, dan lagi hingga tempat itu menjadi sekedar tempat. Hingga kita tidak lagi merasa terseret dengan kenangan-kenangan di tempat itu.

Tapi sebaliknya, jika kita menginginkan sebuah tempat tetap memiliki kenangan yang sama dengan apa yang pernah menimpa kita, maka mengunjunginya hanya akan membuat kenangan itu terkikis. Setidaknya itu yang saya rasakan sejauh ini. Untuk itu, ada beberapa tempat yang sengaja tidak akan saya kunjungi, kecuali sedemikian terpaksanya. Saya hanya ingin menjaga kenangan itu agar tidak hilang dan tetap ada di tempatnya. Agar saya ingat bahwa sesuatu pernah terjadi di tempat itu, dan membiarkan hati dan akal saya mengingatnya serupa dengan kejadian aslinya. Agar saya tidak mempunyai kenangan baru yang dapat menggantikan kenangan lama. Dan agar saya ingat bahwa kenangan di tempat itulah, satu-satunya yang kini tersisa. 

Satu diantara banyak tempat yang akan saya jaga kenangannya adalah Metropole. 


Senin, 16 Juli 2018

Tidak semua orang suka buah durian, dan itu wajar

Ketidakpuasan adalah hal yang baik. Tidak melulu hal-hal seperti 'tidak puas', 'tidak suka', atau 'kurang sreg' pada suatu hal harus dikaitkan dengan ketamakan, kerakusan, atau ekstrimnya sikap kurang bersyukur.

Hal ini saya sadari dari seringnya saya mendengar beberapa teman bercerita tentang hidupnya menggunakan kalimat: "Bukannya engga bersyukur nih... tapi....". Entah karena mereka ingin melembutkan materi keluhan mereka, atau memang konsep 'tidak bersyukur' dan 'hal-hal yang tidak kita sukai' hakikatnya adalah dua hal yang berbeda.

Teman saya misalnya, sudah menikah 2 tahun dan belum diberikan momongan. Dalam kasusnya, menunggu datangnya momongan adalah hal yang tidak menyenangkan, karena berbeda dengan saya yang tidak terlalu menyukai anak kecil, dia ini begitu cinta dengan anak-anak, sehingga dia merasa hidupnya akan lebih sempurna jika ada seorang anak dalam rumah tangganya. Tapi toh dia tetap bisa menikmati rumah tangganya dengan baik. Dari dia saya belajar bahwa menikmati hidup bukan berarti kita harus berpura-pura suka terhadap kejadian menyebalkan yang sedang mampir dalam hidup kita. Sebagai manusia, tentulah wajar jika kita mengeluh atau berkata dengan lantang bahwa kita tidak menyukai kondisi di mana kita merasa sedih atau sesak. Selama kita bersedia merubah keadaannya, saya pikir kita boleh-boleh saja mengatakan ketidaksukaan kita. Kecuali jika kita tidak melakukan apa-apa dan hanya bisa mengeluh sepanjang hari, kalau itu yang terjadi, barulah itu yang  dinamakan 'kurang bersyukur'.

Pun saya. 

Di akhir bulan Juni lalu, saya pergi ke Lombok. Itu adalah kunjungan ke Lombok setelah kunjungan terakhir saya di akhir tahun 2016. Dalam perjalanan dari Bandar Udara International Lombok menuju hotel, saya begitu menikmati sensasi denyutan jantung yang terhibur karena akhirnya bisa lepas dari Ibukota selama beberapa hari. Melihat langit Lombok yang cerah, merasakan lagi deburan ombak pantainya, hingga makan plecing kangkungnya yang mahsyur itu, membuat saya tersadar betapa tidak sukanya saya akan beberapa hal yang sedang saya alami di Ibukota. Perjalanan singkat saya ke Lombok mampu membuat saya kembali berharap agar saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu di daerah-daerah ketimbang berada dalam kantor hampir setiap hari. Tapi jangan salah sangka dulu, bukan berarti saya tidak bersyukur dengan apa yang sedang saya alami saat ini, yaitu berada di Ibukota dan menjalani semua aktivitasnya. Hanya saja, saya harus mengatakan bahwa walau tidak semua hal berjalan dengan buruk, tapi ada beberapa bagian yang... yang kurang saya sukai. 

Saya merasa lebih mengenal diri saya lebih baik lagi saat ini. Saya kini lebih tahu, pada hal-hal mana  saja yang ingin saya kejar dan mana yang ingin saya tinggalkan, apa yang ingin saya tuju dan apa yang ingin saya abaikan, apa yang membuat saya bahagia dan apa yang membuat saya nelangsa. Dan itu semua berawal dari rasa tidak puas dan tidak suka. Perasaan tidak suka dan tidak puaslah yang mendorong saya berusaha lebih keras untuk mencari tahu dan akhirnya berjuang untuk bertahan pada hal-hal yang telah menjadi jalan saya. Karena saya percaya bahwa 'suka' dan 'bisa' adalah dua hal yang jauh berbeda. Kita bisa saja mengerjakan sesuatu hal dengan paripurna, tanpa harus kita sukai. Yaa... paling-paling jiwa kita nanti yang akan mati pelan-pelan.

Untuk itu saya akan menghargai perasaan dan jiwa saya jika mereka merasa tidak nyaman, tidak puas, atau tidak suka akan sesuatu hal. Bagi saya itu adalah sebuah sinyal paling lembut sekaligus paling kuat bahwa saya harus mencari hal lain, atau kembali pada hal lain yang telah menjadi jalan saya. Tentu ini berbeda dengan berada dalam zona nyaman atau takut menghadapi tantangan. Saya pikir, jiwa kita bisa membedakan dengan sangat baik mana hal-hal yang secara alami kita tidak suka, dan mana hal-hal yang walaupun sulit medannya, tapi kita tahu kita harus berjuang. Tidak ada yang harus dipaksa, toh hidup juga bukan tentang paksaan. Hidup itu tentang pilihan. Sama seperti pilihan memakan buah durian, kalau tidak suka, ya pilih saja buah pisang.


It is a good thing to dislike something, that is how Universe tries to lead you into your own path.

Kamis, 12 Juli 2018

25 Juni 2018

Saya baru genap merayakan ulang tahun saya yang ke 27 tahun bulan lalu. Sedikit berbeda dari biasanya, kali ini saya merayakannya di Jakarta, dengan status baru saya sebagai penghuni tidak tetap Jakarta. 

Sedikit banyak, saya cukup tercengang dengan cepatnya saya berlari dari satu tahapan ke tahapan lainnya dalam hidup, sekaligus membuat saya merenung tentang capaian apa yang sudah saya lakukan sejauh ini. Tetapi merenungkan tentang apa yang sudah saya lakukan sebagai seorang manusia di hari ulang tahun ternyata bukanlah ide yang bagus. Ya tentu saja bukan ide yang bagus, karena di hari ulang tahun, seharusnya bukan kontemplasi yang dilakukan, tetapi melakukan perayaan dengan diri sendiri. Merayakan semua keajaiban, karena setelah sekian banyak hal yang saya lalui terhitung ulang tahun di tahun lalu, saya masih hidup, sehat, dan cantik. Yeay, alhamdulilah!

Di usia baru ini, saya lebih suka melihat dunia ini dengan imbang. Menyadari bahwa jika satu bagian dari hidup saya tidak berjalan dengan baik, bukan berarti secara keseluruhan hidup saya ambruk. Saya lebih suka melihat bahwa hidup saya, dalam fase apapun akan selalu punya skenario yang tidak menyenangkan, tapi di satu sisi juga punya skenario yang menyenangkan. Berjalan dengan seseimbang itu. Mencoba menerima dengan lapang dada pada hal-hal yang belum bisa saya gapai, entah itu mimpi yang kandas, harapan yang tidak jelas arah tujuannya, atau kepahitan-kepahitan hidup yang selalu datang. Tetapi di satu sisi, saya menerima dengan syukur karena hidup saya berjalan dengan sangat teratur di porosnya. Poros yang mengantarkan saya mencoba hal-hal menarik yang belum pernah saya coba. Mendapatkan banyak kebaikan-kebaikan dari manusia baik yang ada di sekeliling saya sekarang. Hingga merasakan banyak adrenalin baru.

Tidak semua hal harus terjadi sekarang juga, setidaknya itu yang sedang saya pelajari sekarang. Selayaknya magrib yang tidak akan pernah terlambat, semua harap dan mimpi juga akan sampai di waktu yang tepat. Maka tepatlah jika saya meminta agar saya selalu menjadi orang yang sabar, dan tidak mudah digoyahkan, baik oleh prasangka orang, atau oleh pesimistis diri sendiri.

Selamat ulang tahun, anak cantik!



PS: Tepat di tanggal 25 Juni 2018, saya mau mengucapkan terimakasih kepada manusia-manusia terkasih.

1) Mama yang selalu berdoa tanpa putus-putus buatku;
2) Geng Kosan (Icha, Yuni, Putri, Upik), yang bela-belain bikin surprise party dan ngasih kado yang lucu banget;
3) Thalia dan Yarra Regita yang menyediakan waktunya untuk ketemuan dan ngasih kado-kado lucu;
4) Titiw Hidayatiw yang walaupun telat, tetep punya bingkisan menarik;
5) Teman-teman baru aku di lantai 9 yang kasih selamat di pagi hari.

Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah SWT.

Cheers,
Alifah!

Kamis, 08 Februari 2018

Merah

Masih pagi saat itu, dan telefonku berbunyi. Dia berkata, "Aku belum tidur. Aku baru aja ngasih makan arwah leluhurku".

Dan aku tertawa. Tidak paham.

Sudah malam saat itu, saat telepon tidak juga tertutup dan suara petasan di kelentengnya terdengar jelas. Aku berkata, "Aku mau ah, foto pakai baju merah".

Dan dia tertawa. Tidak paham.



Kita pernah tenggelam dalam ketidakpahaman, lalu larut dalam ketidakmengertian.



Sabtu, 20 Januari 2018

Tidaklah berdusta semua bisikan jiwamu saat malam

Aku percaya bahwa saat malam dan tengah malam tiba, jiwa manusia bisa menjadi sejujur itu. Menjadi nyata, terang, dan jelas. Hanya malam yang tahu, penuh dan kosongnya sebuah jiwa, hingga tak mungkin lagi bisa mengelak. Dia bisa mengingat apa yang seharusnya, memanggil apa yang sudah semestinya, dan mencari apa yang dimauinya. 

Mungkin itu menjelaskan mengapa malam bisa menjadi sangat panjang, saat sebuah jiwa sedang berantakan. Mungkin itu juga menjadi alasan, mengapa langit terbuka dan menangkap semua harapan saat malam.

Mungkin malam memang sengaja dicipta, agar semua jiwa-jiwa punya pikiran yang jernih tentang apa yang dia mau, dan siapa yang dia rindu. 


Tentang Kabar

Dia pernah datang padaku, berdarah dan terluka. Hampir sekarat.
Di tengah semua kebingungan, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang bisa aku lakukan, atau apa yang sebenarnya dia butuhkan.

Tapi karena dia sudah datang, walau tidak begitu jelas apa maksudnya, maka aku mencoba merawat sebisanya.

Saat kini, tidak banyak yang aku tahu tentangnya, aku kadang bertanya-tanya, apakah dia masih sekarat? Apakah lukanya benar-benar pulih?


Kamis, 21 Desember 2017

Apa-apa yang tampak dan apa-apa yang manusia ingin lihat

"What is essential is invisible to the eye"
(Chapter 21 - The Little Prince)


Salah seorang teman saya sedang galau. Bukan galau asmara, tapi lebih kepada galau persahabatan. Dia galau karena ada seorang teman dekatnya, yang secara ajaib menjauh dari dia dan teman-temannya yang lain. Saking anehnya, si yang bersangkutan mengambil langkah ekstrem jaman now: keluar dari group chatting, untuk alasan yang entah apa. 

Teman saya mempunyai beberapa spekulasi. Pertama, dia curiga si temannya ini mengikuti pengajian atau salah menerjemahkan Islam. "Dia itu lagi hijrah gitu..". Kedua, bisa jadi karena si temannya itu ingin segera menikah, tapi urgensi keterburu-buruannya tidak bisa dipahami oleh teman saya dan gengnya, sehingga membuat dia ingin, atau merasa harus, menjauh. Maka jadilah si teman saya dan gengnya resah, dongkol, dan sedih jadi satu gegera hal ini.

Saat hal ini dibahas dengan saya, saya juga hanya manggut-manggut. Karena kalau bicara bab pernikahan dalam Islam, sebenarnya sih tidak ribet sama sekali. Selain kalau sudah dapat calonnya, hanya butuh prosesi akad nikah, dan walihamahan yang walaupun sederhana, juga bisa terlaksana. Jadi tidak perlu uring-uringan, sampai  harus menginggalkan group chatting sebenarnya. Kalau memang dia sedang hijrah dan ingin segera menikah, datangi saja KUA. Selesai perkara. Tapi ya... Kalau si teman saya saja bingung, apalagi saya, orang asing yang hanya mendengar ceritanya sepintas lalu.

Tapi apa yang menimpa temannya teman saya itu adalah satu satu contoh paling nyata bagaimana manusia selalu dan selalu saja fokus pada apa yang nampak, dibanding apa isi atau esensinya.

Contoh lain misalnya, santet. Santet adalah jalan pintas bagi siapapun yang ingin memaksakan esensi. Bertolak belakang dari kasus yang pertama, mereka yang menggunakan santet, percaya betul bahwa jika indera manusia tidak bisa membuat hati seseorang percaya, dukun pastilah bisa membantu. Sebenarnya orang-orang tipe ini sudah benar cara berfikirnya, hanya kadang terlalu percaya diri. Di satu sisi dia tau bahwa indera manusia bisa salah tafsir, sementara hati tidak. Namun di sisi lain, dia lupa bahwa hati adalah abstraksi yang dibuat di dapur rahasia milik Sang Pencipta. Tidak bisa diintervensi, tidak bisa disetir.

Pernah dengar istilah urip kui wang sinawang?

Wang sinawang adalah adalah satu ucapan Jawa klasik yang saya kagumi. Artinya kurang lebih adalah apa yang bisa kita lihat dari hidup orang lain, hanya terbatas pada indera kita saja. Misalnya, kita melihat si A selalu pake baju jelek, dan kita merasa dia itu tidak tahu fashion, oh atau miskin. Atau kita dengar si B dapat beasiswa ke Luar Negeri, dan kita merasa dia itu beruntung. Sekedar itu dan hanya sebatas itu. Yang pastinya kita tidak tahu adalah ternyata si A menyimpan uangnya untuk beli rumah daripada beli baju, atau si B dapat beasiswa setelah peristiwa pahit yang datang dihidupnya selama bertahun-tahun. 

Wang sinawang bukan sekedar mengajarkan pada saya untuk tidak boleh menilai orang semau logika saya saja, tapi menantang saya untuk memahami esensi dari banyak hal yang di dunia ini, mulai dari masalah romansa hingga agama. Karena tentu saja, jika yang selalu kita cermati adalah bungkusnya saja, kapan kita mau mempelajari isinya?

Sulit memang untuk sampai di titik dimana kita akhirnya memahami esensi dari hal-hal yang diharuskan atau dilarang tanpa punya basis yang jelas. Tapi mengapa esensi itu penting? 

Ada artikel pendek berjudul, If work dominated your every moment would life be worth living? yang ditulis oleh Andrew Taggart. Tulisan pendek tentang bagaimana hampanya hidup manusia saat kita bahkan tidak tahu lagi untuk apa dan mengapa kita bekerja selain karena uang. 

Memahami apa itu esensi seperti berfokus untuk mencari kado yang pas untuk diberikan kepada orang-orang terdekat kita, daripada menghabiskan waktu untuk memilih kertas kado mana yang layak. Dan seperti wang sinawang, mustahil memahami esensi hanya dengan menggunakan panca indera manusia yang serba terbatas ini. 

Seperti juga obrolan soal pasangan hidup, andai menemukan apa yang jiwa dan hati kita mau itu sesederhana swipe right or left melalui Tinder, atau menaruh biodata kepada Uztad, atau mendaftar speed dating, tanpa perlu menjalani proses panjang yang kadang berhasil, kadang tidak, maka pastilah tidak akan ada puisi dan romansa cinta yang ditulis oleh pujangga-pujangga. Pujangga-pujanngga itu seakan tahu betapa panjang dan melelahkannya sebuah jiwa untuk bisa bertemu belahannya. Pun bertemu, kadang takdir berkehendak lain. Pelik. 

Banyak sekali hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan. Tentang kenapa ini begini dan kenapa  itu begitu. Tapi belajar memahami esensi, kalau bagi saya, membuat saya belajar tentang apa itu kejujuran. Kadang kita dibuat kabur atau bahkan buta oleh hal-hal yang tertangkap oleh indera. Namun saya percaya satu hal, tidak ada yang mampu membohongi hati. Kalau itu terasa salah, mungkin itu memang salah. Apa yang terasa benar, mungkin memanglah benar. Manusia sering terjebak  dengan logikanya, seringnya hanya mau melihat apa yang tampak, seringnya bersender pada apa yang bisa dibuktikan. Sementara esensi, hanya bisa dilihat melalui hati. Sekali-kali, atau cobalah walau sekali, percaya pada hati.



© RIWAYAT
Maira Gall