Minggu, 06 Januari 2019

Sebuah kesoktahuan manusia yang itu-itu lagi, semoga kapok ya!

Sebuah refleksi akhir tahun.

Kata mereka, hidup tidak pernah memberikan hal-hal yang yang kita inginkan, tetapi hidup akan selalu memberikan hal-hal yang kita butuhkan. Sebuah ucapan lama nan klise yang kerap saya baca atau dengar dari banyak sumber, tapi tidak pernah merasa ada hikmah apapun dibalik ucapan itu. Namun kalau saya dapat merangkum kehidupan saya selama setahun kebelakang, di tahun 2018 ini, maka ucapan itulah yang ternyata paling relevan. Di akhir tahun ini, saya baru saja menyadari bahwasanya hidup selalu memberikan semua hal yang saya butuhkan, tapi saya, selalu saja fokus pada hal yang saya inginkan. 

Ini adalah tahun dimana kemampuan mengendalikan emosi saya dinaikan beberapa level dan janji-janji yang dulu saya ucapkan ke diri sendiri dipertanyakan. Ini adalah tahun pertama saya akhirnya menghirup udara lain di luar oksigen Jogja, tahun pertama saya merasakan puasa, ulang tahun, dan bahkan musim hujan pertama di luar Jogja. Semuanya serba baru, mulai dari rutinitas hingga cara pandang, semuanya sedang larut dalam sebuah episode hidup bernama adaptasi. 

Proses adapatasi, seperti yang dialami oleh banyak orang, pasti memiliki banyak tantangan. Sayapun tidak terkecuali. Saya ingat pagi pertama saya harus mengantri busway dan kapan untuk pertama kalinya saya membentak seseorang karena menyerobot antrian. Saya ingat sore pertama melangkah keluar dari komplek perkantoran dan merasa super kelelahan. Saya ingat rasanya belanja bulanan pertama di supermarket di Rawamangun dan menyusuri satu persatu bagian untuk mengecek apakah masih ada yang harus dibeli atau tidak. Saya akhirnya tahu bagaimana leganya ketika hari Jumat tiba dan bagaimana malasnya hari senin. Saya ingat ketika saya sedang mengalami hari yang buruk, saya kemudian duduk di busway menyusuri kota ini di malam hari, mengambil tempat duduk di paling belakang dan melamun. Namun yang paling menantang dari proses adaptasi ini adalah, ketika ada beberapa hal, di luar kapasitas saya sebagai manusia, yang akhirnya terjadi. Hal-hal yang membuat saya dengan mata nanar menengadah ke langit, dan berkata lirih, 'Wahai Rabb, aku engga paham sama ini semua...'. 

Dengan proses adapatasi dan hal-hal menantang yang harus saya jalani, di tangah-tengah proses ini, saya merasa buta dengan tujuan akhirnya. Saya tidak mengerti proses ini akan mengantarkan saya pada apa dan kemana? Tidak hanya itu, saya sempat berfikir bahwa prosesnya harusnya tidak seperti ini. Saya merasa ini semua skenario yang tidak tepat. Langit mungkin telah salah memberikan takdirnya. Saya ingin naik banding!

Hingga setahun berjalan, dan jawaban atas semua ketidakmengertian saya akhirnya terjawab satu per satu. Dan ketika jawaban itu telah datang, saya harus menyadari bahwa saya gagal hingga titik ini. Bukan karena proses adapatasinya, tapi karena saya gagal melihat apa yang seharusnya dilihat. Saya, sekali lagi, menjadi tidak sabaran karena ingin segera mengetahui apa ujung dari adaptasi ini. Saya, kembali memburu-buru sebuah proses.

Kembali ke ucapan klise bahwa hidup akan selalu memberikan kita semua hal yang kita butuhkan, maka di situlah saya akhirnya paham, apa yang sebenarnya saya butuhkan sebagai manusia.

Saya (ternyata) membutuhkan udara segar.

Saya memang tidak mendapatkan hal-hal yang saya inginkan atau hal-hal yang saya bayangkan jika saya pindah ke Jakarta, yaitu pekerjaan yang super meyenangkan yang membuat saya berkembang secara kemampuan berfikir, lengkap dengan gaji yang cukup untuk menyewa apartemen seorang diri. Saya tidak mendapatkan pekerjaan dimana saya berada di tim kerja yang mengurusi hal-hal pemting, dan setelah pulang kerja menghabiskan waktu dengan makan di mall. Saya tidak mendapatkan semua hal yang saya inginkan atau saya bayangkan. Tidak sama sekali. Dan untuk alasan itulah, saya merasa kesal, 'masa engga ada yang sesuai ekspektasiku sih', kata saya waktu itu.

Tapi itulah manusia, yang kalau melihat sesuatu, selalu saja linear.  Saya tidak melihat bahwa ternyata, saya mendapatkan semua hal yang seharusnya. Semua hal yang saya pikir tidak saya butuhkan, tapi nyatanya saya butuhkan. Semuanya. 

Saya memiliki teman kerja menyenangkan, dan kami selalu tertawa lepas setiap hari. Terlepas dari tipe pekerjaanya, tapi saya tidak harus mendengarkan hal-hal 'lama' yang bisa membuat saya bersedih di tempat kerja. Saya menjadi pribadi baru, yang tidak perlu lagi merasa malu dengan apa yang sudah terjadi. Itulah udara segar. 

Ketika saya pulang, saya punya 3 orang dengan karakter berbeda-beda, yang sanggup membuat saya ingin pulang saja tanpa mampir-mampir yang tidak perlu. Sebuah kamar dengan luas yang pas, serta obrolan-obrolan yang menyenangkan hampir setiap hari. Sebuah tempat tinggal dengan kehidupan di dalamnya. Itulah udara segar.

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, beberapa kajian rutin di Blok M mampu membuat saya tetap tenang dan logis. Dan itu merupakan udara segar yang selalu saya tunggu.

Sedihnya, saya baru menyadari itu samua di penghujung tahun. Persis seperti anak murid yang akhirnya diberi tahukan jawaban dari soal ujian ketika nilai ujian sudah keluar. Saya gagal melihat apa yang seharusnya, dan bersikap tidak bersyukur. Padahal langit tidak pernah salah dan  saya selalu saja kurang sabar menanti jawaban. Ah, andai saya bisa mengulang dari awal proses ini dan lebih menikmati semuanya dengan lapang...

Maka begitulah tahun ini berjalan. Di luar kamampuan saya yang samakin handal dalam menghapal jalur Transjakarta, atau cara saya memadang sesuatu yang kini jauh lebih tenang, saya merasa bahwa kedepannya, saya harus lebih menikmati sebuah proses. Saya harus belajar untuk sabar dan percaya bahwa seberat atau semanis apapun yang akan terjadi di depan nanti, pasti akan terjadi dengan kadar dan tujuan yang tepat. Ingat itu baik-baik, anak muda!

Hidup akan berjalan lebih gila lagi sehabis ini, tapi semoga saya selalu bisa ingat bahwa hidup akan selalu dan selalu dan selalu memberikan pada saya hal-hal yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan. Dan tentu saja, karena manusia tidak selalu tahu apa yang dibutuhkan, maka cara terbaik menjalani kehidupan di tahun yang baru nanti, adalah dengan jeli melihat apa yang sudah ditakdirkan olehNya. 

Tenang... semua pasti ada jawabannya, ini prosesnya, dijalani saja dulu. 

Cheers!


Kamis, 20 Desember 2018

mencoba rasa

Berjalanlah dia menuju sebuah pasar. Dalam hiruk pikuk pasar itu, dia melihat banyak sekali toko yang terang benderang dengan ornamen-ornamen menarik di sepanjang pasar. Dia terus berjalan hingga menemukan sebuah toko kue. Di depan toko kue itu, dia melihat pegawai toko yag mengenakan seragam menarik sambil membawa sebuah nampan penuh berisi tester kue dengan rasa yang bermacam-macam. Si pegawai toko itu dengan atraktifnya berkata sambil menyodorkan nampan itu, "Silahkan dicoba, ini adalah kue-kue terbaik dari toko kami". Dia berhenti sejenak dan menengok ke arah nampan itu, dan benarlah apa kata pegawai toko itu, nampan itu berisi potongan-potongan kecil kue dengan berbagai warna dan ukuran. Dia terdiam sejenak untuk menentukan mana kiranya yang mau ia coba. Diapun lalu memilih potongan kue dengan bentuk kotak berukuran kecil berwarna hitam. "Itu rasa coklat, salah satu andalan toko kami", kata pegawai itu bersemangat. Maka dicobalah tester itu dengan sekali suapan. Dia merasa rasanya agak aneh, aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan ucapan. Melihat wajahnya yang kurang senang dengan pilihan tester itu, pegawai itu buru-buru menyodorkan pilihan lain. "Yang ini aja, ini rasa lemon, tidak begitu manis rasanya", katanya membujuk. Dia menurut, diambilah tester itu, dan dimakannya sekali suapan. Benar saja, wajahnya seketika berubah. Rasa kue lemon itu sungguh enak, tidak begitu manis, dan ada sedikit rasa asam. Segar sekali jika ditemani dengan secangkir teh. Diapun memutuskan untuk membelinya. Namun sayang, kue lemon itu tidak tersedia saat itu, sudah habis stoknya. Dengan raut menyesal, pegawai toko itu berkata "Mau yang rasa lain?". Sudah terlanjur suka dengan kue lemon, diapun menggeleng dengan sopan. Dia akhirnya berlalu tanpa membawa apapun. Dalam hatinya dia berkata, kalau suatu hari nanti dia lewat lagi di toko itu, dan kue lemon itu tersedia, dia mungkin akan membelinya.

Beberapa lama kemudian, dia kembali mengunjungi pasar. Namun, kali ini dia mengunjungi jalan yang berbeda. Toko-toko masih saja menawarkan hal-hal yang beragam dengan pajangan yang menarik hati. Setelah lama berjalan, dia kembali menemukan toko kue. Toko kue yang letaknya cukup tersempil diantara toko-toko lainnya. Di depannya tidak ada pegawai berpakaian menarik yang menawarkan tester, hanya sebuah meja panjang berwarna hijau yang diatasnya berjejer kue-kue dengan warna dan ukuran yang beragam. Terpampang juga sebuah tulisan, 'Temukan rasamu di sini'. Dia sebetulnya ingin membeli kue lemon yang tempo hari ia coba, namun tester di toko ini sungguh berbeda dan mengundang selera. Tak seperti di toko sebelumnya, kali ini dia mencoba banyak sekali tester. Setelah mencoba banyak tester kue, pilihannya jatuh pada dua pilihan, yaitu kue pandan yang lembut, serta kue kismis yang padat. Dia pun masuk ke toko itu, hendak membeli keduanya. Dia beruntung, karena uangnya cukup membeli dua kue itu sekaligus. Dengan sumringah, dia berhasil membawa pulang kedua kue itu. Dia berencana memakannya bergantian sebagai teman membaca.

Dia pun kembali ke pasar setelah beberapa bulan. Dia berjalan dan berjalan masuk ke dalam pasar. Belum lama dia berjalan, dia melihat sebuah spanduk yang bertulisan 'Bazar Kue'. Matanya langsung berbinar, dia ingin membeli kue dengan rasa berbeda dari kue pandan dan kismis yang terakhir kali dia beli. Diapun berjalan cepat menuju area bazar. Dan benar saja, belum lama dia melangkah, dia langsung disuguhi banyak sekali kios-kios kecil yang menjual kue. Dia merasa kelimpungan untuk menentukan tester mana yang harus dicicipi karena banyak sekali pilihan yang tersedia. Hingga akhirnya dia menghabiskan waktu untuk mencicipi semua tester di bazar itu tanpa membeli satupun kue. Dia merasa kewalahan dan lidahnya tak sanggup lagi merasa. 

Kembali dia mengunjungi pasar, dan kali ini dia tidak begitu ingin mencari kue. Pengalaman terakhirnya ketika mencicipi tester, membuatnya sedikit kapok mencoba-coba. Dalam hatinya, dia ingin mempunyai satu kue langganan yang akan dia beli tanpa perlu repot-repot lagi mencicipi tester. Setelah berjalan cukup lama, pandangannya tertuju pada sebuah toko kue sederhana yang menjual hanya satu jenis kue saja. Dia pun memutuskan kesana sebelum pulang. Saat berada di toko tersebut, dia bertanya dimana tester yang bisa dia coba. Dengan sopan pegawai toko itu berkata, "Maaf, kami tidak menyediakan tester, anda bisa langsung membeli jika anda mau". Dia merasa begitu aneh dengan hal itu. Dia ragu, karena dia ingin mencicipi terlebih dahulu sebelum membelinya. Namun apalah daya, dia tidak bisa memaksa. Dari belakang, punggungnya dicoleh oleh seseorang yang telah membeli kue itu. Dengan ramah berkata, "Ini, silahkan coba saja punya saya". Dia tersenyum, dan mengambil potongan kecil itu. Seketika dia merasa itu kue yang paling tepat untuk lidahnya. Bukan yang terlezat, bukan yang terlembut, bukan yang termanis, hanya saja dia merasa bahwa kue itu pas dengan lidahnya. Setelah mengucapkan terimakasih, dia pun memesan kue itu. Namun malang, pegawai toko itu berkata "Maaf, kami hanya menjual 200 loyang per hari. Anda bisa kembali lagi besok". Walau sedih, dia pun memutuskan untuk pulang sambil mengenang rasanya.

Keesokannya, dia kembali lagi ke toko itu, namun lagi-lagi dia terlambat. Kue itu telah habis.

Dia memutuskan datang lebih awal keesokan harinya. Dan benar saja, sudah banyak orang antri. Dengan sedikit tergesa, dia ikut mengantri dengan perasaan cemas. Setelah tiba di barisan paling depan, ternyata uang yang ia bawa tidaklah cukup. Dia pun pulang dengan sedih.

Dalam perjalanan, dia berjanji untuk mempersiapkan segalanya, agar bisa membeli kue itu.

Keesokan harinya, dia berangkat lebih awal, mempersiapkan uang, dan mengantri di barisan depan. Saat sampai di depan pegawai tokonya untuk membayar, pegawai toko itu tersenyum dan berkata, "Selamat menikmati". Dia akhirnya membawa kue itu pulang dengan perasaan haru.

Hari ini dia kembali datang ke pasar. Dia melihat orang lain seperti dia sedang mencicipi tester kue. Dia tersenyum simpul. Dia tahu betul lelahnya mencari sepotong kue sebagai teman minum teh dan membaca buku. Dia tidak lagi ingin mencicipi tester apapun lagi, dia telah menemukan kuenya. Dia hanya perlu menemukan buku yang harus dia baca sebagai teman memakan kue. 


Minggu, 02 Desember 2018

Kisah Kembang Tahu

"I know you haven't made your mind up yet, but I will never do you wrong
I've known it from the moment that we met, no doubt in my mind where you belong"


Dunia sesak dengan kisah-kisah cinta. Puisi-puisi asmara hilir mudik tercipta, sajak-sajak romansa menghiasi ribuan karya seni, dua manusia yang saling jatuh cinta membuat hiruk-pikuk dengan semua kisah-kisah mereka.

Ada kisah cinta yang masih diuji kevaliditas riwayatnya, antara fiktif atau tidaknya belum ada yang berani memastikan, seperti miliknya si Romeo dan Juliet, dua pasangan yang terlalu dimabuk cinta, hingga tewas karena racun. Agak menggelikan memang.

Ada kisah cinta yang cukup beruntung untuk dikenang oleh banyak manusia, karena mencermikan kisah cinta abadi yang hanya dipisahkan oleh maut. Milik Bapak Habibie dan Ibu Ainun misalnya.

Ada juga kisah yang benar-benar fiktif namun sengaja dibuat sebagai representasi kisah-kisah cinta manusia pada umumnya. Katakanlah kisah remaja Cinta dan Rangga, atau Dilan dan Milea.

Namun, walaupun tidak banyak telinga yang mendengar, mata yang menyaksikan, atau karya seni yang mengabadikan, ada milyaran lebih kisah cinta di luar sana. Kisah cinta yang nyata dan otentik. Ada kisah cinta milik Najiyah Nana dan suaminya yang hanya bertemu selama 3 minggu untuk sampai di pernikahan. Ada kisah cinta Ulin dan suaminya yang akhirnya kembali bersama setelah beberapa tahun putus. Ada kisah cinta Shofi yang mendapatkan pasangan hatinya saat bersekolah master di Amerika. Kisah cinta Uda Uki dan Mbak Mustika yang dulu ketika KKN biasa-biasa saja, lalu karena lokasi kerjanya berseberangan di Slipi, berakhir di pernikahan. Kisah cinta Hirma dan Dendi yang dimulai dari tinder dan berujung di akad nikah.

Tersempil diantara kisah-kisah itu, kita. Kamu yang sudahlah tidak perkasa perawakannya, terlalu banyak maunya. Aku yang tidak begitu rupawan, tapi mendayu-dayu pikirannya. Klise sebetulnya.

Dulu ketika aku mendengar atau melihat kisah-kisah cinta orang lain, aku sering sekali mengerenyit dahi sebagai tanda tidak pahammnya aku atas konyolnya kisah-kisah mereka. Hingga aku memilih untuk bersikap skeptis saja jika diceritakan kisah-kisah itu. Namun kelamaan aku paham, bahwa kisah cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipahami oleh manusia lain, di luar dua manusia yang menjadi aktor utamanya.

Jika ada dua manusia yang berkisah, maka biarkan saja mereka yang paham, toh perasaan mereka yang benar. Orang lain, dipersilahkan untuk mengerenyitkan dahi.

Maka mari rayakan eksklusifitas kisah-kisah cinta itu. Diantara hiruk-pikuk itu, setidaknya ada kita yang ikut berpawai.


"The storms are raging on the rolling sea and on the highway of regret
The winds of change are blowing wild and free, you ain't seen nothing like me yet"
(Make You Feel My Love - Adele)

Sabtu, 24 November 2018

Aku dan ketakutan-ketakutanku

"Semua yang kamu percayai, menuntun langkahmu pulang di sini"
(Finest Tree)

Mungkin harus ada minimal jam, atau hari, atau tahun yang dilalui untuk bisa benar-benar beranjak.
Atau jika waktu bukan hitungan yang paten, mungkin harus ada minimal jarak yang ditempuh untuk bisa sampai pada titik akhir.
Jika ternyata waktu dan jarak tidak kuasa, mungkin harus ada minimal jumlah orang-orang baru yang dijumpai untuk bisa mempunyai awal baru.

Akupun mencoba kemungkinan-kemungkinan itu. 

Lalu waktu demi waktu bergulir, hingga aku tidak bisa lagi menghitung. 
Kemudian jarak demi jarak terlalui, ombak dari pantai timur hingga barat, gunung dari selatan ke timur, hingga aku tidak tahu lagi harus pergi kemana.
Dan orang-orang baru yang hadir, hingga aku tidak paham lagi apa arti kedatangan mereka semua.

Tapi titik awalnya tetap saja sama. Aku hanya seperti kabur dari sesuatu yang harus aku hadapi.

Menolak kegagalan usahaku, aku berpikir, oh... mungkin aku belum memenuhi jumlah minimal waktu untuk beranjak, belum sampai pada minimal jarak untuk berada di titik akhir, atau bertemu minimal jumlah orang untuk memulai sesuatu yang baru. Mungkin usahaku belum cukup keras.

Tapi ada bagian lain dari aku yang bertanya, bagaimana jika, aku sudah melalui maksimal waktu yang diperlukan, menempuh maksimal jarak yang diharuskan, dan sudah berusaha keras bertemu dengan sebanyak mungkin manusia, tetapi pada akhirnya jarak, waktu, dan manusia yang harus aku temui kembali pada titik yang sama?

Bagaimana jika ternyata ini semua, hanyalah waktu yang terulur panjang dan jalan berputar untuk kembali ke titik yang sama?


Minggu, 18 November 2018

Sebelum jam 5 sore, itu hanya kegiatan darmawisata

“Love of my life, can't you see?
Bring it back, bring it back,
don't take it away from me because you don't know what it means to me”
(Queen)

Di minggu malam, saya dan tiga wanita di rumah kos menghela nafas panjang, karena tersadar esok harinya akan kembali berjibaku dengan tugas-tugas kantor. Lantas salah satu diantara kami, si Icha, berceletuk, “Tenang aja tsaaay, kehidupan yang sesungguhnya itu kan setelah jam 5 sore….”, dia diam sejenak dan melanjutkan kalimatnya dengan paripurna, “Sebelumnya kan cuma darmawisata….”.

Kamipun tertawa, antara getir dan satir.

Beberapa minggu yang lalu, saya bersama seorang teman, pergi menuju Bogor untuk mengunjungi seorang teman lama. Karena sudah lama tidak bertemu, sepanjang perjalanan dalam KRL, kami banyak bertukar kabar dan cerita, mulai dari urusan pekerjaan hingga asmara. Dia sedang resah bagaimana harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas diri dan kebutuhan materialnya.

Sayapun menimpali kegelisahannya dengan berkata,“Tapi nih ya… menurutku, dalam hidup kita, kerjaan itu porsinya engga terlalu besar kalau dibandingin sama aspek kehidupan kita yang lain”

Dia menyerengitkan dahi dan menjawab, “Kok? Tapi kan kerjaan itu menyita hampir sebagian besar waktumu?”

Dan saya menjawab dengan mengutip perkataan Icha, “Technically sih ya… tapi kalau katanya temenku, dan aku setuju banget, kehidupan yang sebenarnya itu setelah jam 5 sore. Semenjak di Jakarta, aku sekarang ngerti sih, gimana nelangsanya kehidupan orang-orang Jakarta yang kalau pulang kerja, capek, balik ke kosan atau apartemen, sendirian…. Gimana ya… bukannya lega, malah bikin makin capek…Makanya aku bener-bener bersyukur banget di rumah kosan yang ini. Pulang tuh ada yang nyambut, weekend tau mau kemana… kayak ada kehidupan yang lebih hidup ketimbang kehidupan di kantor“

Kamipun terdiam sejanak. Sambil melihat ke arah jendela, saya bertanya, pertanyaan yang saya tujukan kepada diri saya sendiri sebenarnya, “Mana yang kira-kira bakal kita pilih, dipecat setalah 10 tahun kerja, atau pasangan kita meninggal setelah 10 tahun bersama?”. Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban, karena kami berdua hanya saling menghela nafas panjang dan tertawa.

Tepatnya dua hari setelah obrolan itu, teman saya mengirimkan sebuah pesan singkat di WhatsApp, “Kamu bener banget Peh tentang kehidupan setelah jam 5 sore itu….”

Ah…

Saya memiliki seorang kenalan, dia pernah berada di satu masa dimana dia “dipaksa” untuk memilih antara karir atau rumah tangganya. Karena satu dan lain hal, pada akhirnya dia memilih karir dan bercerai dengan pasangannya. Tentu saja alasannya tidak sesederhana karena faktor materi. Kompleksitas perasaan dan hubungan rumah tangga, saya pikir yang membuatnya merasa bahwa karir adalah pilihan terbaik untuk diambil pada saat itu. Hari ini, setiap kali kami bertemu, dia akan selalu bertanya apakah saya butuh ditemani atau tidak, apakah saya bisa menginap di rumah dia atau tidak, atau dia akan bercerita bagaimana dia merasa kesepian kalau anak-anaknya sedang berada di rumah mantan pasangannya. Namun diantara itu semua, hal yang paling membuat saya sedih adalah sorot matanya yang menggambarkan kelelahan atas semua beban-bebannya. Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantunya, dan saya juga tidak memiliki banyak saran untuk hidupnya. Tapi kalau melihat bahwa jabatan dan karir yang dia miliki ternyata tidak bisa mengisi beberapa hal dalam jiwanya, saya kadang penasaran, apa yang terjadi kalau semisalnya dia memilih pilihan untuk mempertahankan rumah tangganya?

Mungkin ini yang berarti bahwa kehidupan yang sebenarnya dimulai setelah jam 5 sore.

Saya sendiri tidak bisa mendefinisikan secara jelas apa itu kehidupan setelah jam 5 sore. Penjelasan terbaik yang saya pahami terkait ini adalah, bahwa ini merupakan kehidupan yang jujur. Sebuah kehidupan yang lebih mengandalkan rasa daripada logika, melibatkan emosi manusia yang paling dalam, dan pada akhirnya menuntut pengorbanan yang tidak sedikit. Akan banyak duka dan suka, pasang dan surut di sana. Tidak ada target yang benar-benar tertulis, seperti misalnya kepastian naik jabatan atau kenaikan gaji, bahkan tidak ada tenggat waktu dan kontrak dalam kehidupan setelah jam 5 sore, semuanya murni soal rasa dan asa.

Apa hadiahnya? Kalau berhasil, menurut saya, setiap dari kita akan memiliki tempat pulang. Memiliki sebuah kehidupan yang membantu kita berkembang, bersyukur, bersabar, dan berjuang. Membuat kita lebih awas dan berhat-hati. Lalu apa jadinya kalau kita gagal, atau memutuskan untuk tidak memiliki kehidupan setelah jam 5 sore? Besar perkiraan saya, kita akan merasa terombang-ambing dan merasa ada sesuatu yang kurang lengkap. Seperti ada lubang yang harus diisi oleh entah apa.

Jujur, sayapun baru saja menyadari urgensi dari kehidupan setelah jam 5 sore ini.

Itu terjadi ketika suatu hari, seorang sahabat membutuhkan saya untuk berbagi keluh kesah. Tapi pada saat itu, saya tidak bisa berada di sisinya karena alasan pekerjaan. Kalau diingat-ingat, saya sebetulnya bisa saja menyempatkan satu atau dua jam mengunjunginya dan memberikan dukungan moral. Namun yang saya lakukan adalah meminta maaf padanya dengan alasan kesibukan. Beberapa bulan kemudian, saya yang gantian membutuhkan dia untuk membesarkan hati saya. Lalu dengan bahasa yang cukup sopan, dia sedikit “menyentil” saya, berkata bahwa sama seperti saya dulu, dia pun sedang dalam kesibukan yang tidak bisa diganggu.

Atau suatu hari, ketika saya benar-benar membutuhkan dukungan moral, yang ada dalam benak saya adalah menelfon mama. Sayapun bercerita tentang gundah gulana di hati saya dan beliau mendengarkan dengan seksama dan memberikan dukungan moral untuk saya. Padahal, jika sedang berada di dekatnya, saya lebih sering beradu argumen dan mementingkan hal lain daripada beliau.

Tersadarlah saya bahwa kehidupan setelah jam 5 sore adalah hal yang dibutuhkan manusia untuk tetap hidup dan bertahan di dunia. Namun harga yang harus dibayar untuk mendapat kehidupan setelah jam 5 sore, sungguh sangat mahal! Sederhananya, saya tidak akan bisa mendapat semua perasaan nyaman dan aman, kalau saya sendiri tidak memiliki perjuangan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman dalam kehidupan jam 5 sore itu. Dengan kata lain, ini adalah kehidupan timbal balik yang paling berfaedah, namun di sisi lain, memiliki banyak tantangan.

Banyak orang salah kaprah dengan kehidupan jam 5 sore. Beberapa terburu-buru memilikinya, hingga lupa bahwa ini membutuhkan lebih dari sekedar keinginan untuk menjadikannya berhasil. Beberapa lainnya lari menghindari ini karena merasa terlalu banyak hal yang dituntut, dan memutuskan untuk selamanya berpindah dari satu kesibukan kepada kesibukan lain. Sedangkan yang lain merasa bahwa kehidupan jam 5 sore adalah sebuah pencapaian saja, sama seperti karir.

Namun seperti yang saya katakan, kehidupan setelah jam 5 sore adalah kehidupan yang jujur. Tidak ada yang bisa menipu atau berpura-pura dalam menjalaninya. Dan karenanya, tidak semua orang dapat mengklaim telah memiliki kehidupan ini. Kita mungkin bisa saja memutuskan untuk keluar dari tempat bekerja kita karena berbagai alasan, namun semudah itukah kalau kita ingin keluar dari kehidupan setelah jam 5 sore?

Pada akhirnya, apapun perlakuan dunia pada kita, baik atau buruk, kita butuh tempat pulang. Kita semua butuh kehidupan setelah jam 5 sore, tidak peduli seberapa berat perjuangan kita untuk memilikinya.

Maka ketika saya mengganti baju kerja dengan kaos oblong dan celana tidur, memakai masker, naik ke lantai dua, dan menyapa 3 orang wanita kosan sambil membicarakan barang apa yang sedang diskon di online shop, gosip artis apa yang sedang ramai dibicarakan netizen, atau secara random nyeletuk “Kapan sih kita nikah?”, atau “main tebak lagu yuk!”, jauh di lubuk hati, saya tahu bahwa hidup saya tidak sekedar berdarmawisata.



Itu cukup, setidaknya untuk saat ini.

dia dan ketakutan-ketakutannya

“Berlalu, lalu kini kau menunggu serap seram di pundakmu.
Lambat laun kan menari, kan berlari...”

(Api dan Lentera - Barasuara)


Semua orang punya ketakutannya masing-masing. Ketakutan, aku pikir adalah sebuah keniscayaan dalam hidup seorang manusia. Sehingga jika dipikir lagi lebih dalam, logikanya menjadi sangat sederhana, kalau ketakutan adalah sebuah keniscayaan, kenapa kita harus takut? Toh takut atau tidaknya kita dengan ketakutan, kita akan tetap memilikinya. Mungkin cara terbaik menghadapi ketakutan justru dengan menghadapinya secara langsung.

Ini seperti berdiri di tepian jurang saat di depan kita adalah sebuah tebing yang sudah ramai didaki oleh orang-orang. Sambil berdiri, kita berpikir bagaimana caranya orang-orang itu bisa sampai di tebing itu, saat jalan satu-satunya menuju ke sana adalah dengan terjun bebas ke jurang. Kita berpikir, adakah tangga yang bisa dinaiki sesampainya di bawah? Adakah parasut yang bisa digunakan? Apakah di dasar jurang itu akan sangat gelap? Apakah ini hal yang benar untuk dilakukan?

Rasanya kita ingin berbalik arah dan menuju dataran yang lama, walau kita tahu, tidak ada apa-apa lagi yang tersisa di sana, dan kitapun tahu bahwa melangkah maju adalah hal yang harus kita lakukan. Walau ada rasa penasaran dalam jiwa kita yang mengatakan, ‘kalau orang-orang itu bisa sampai di sana, kenapa aku tidak?’, namun terjun ke jurang yang tidak memiliki kepastian, juga bukan sebuah keputusan mudah. Batas antara kita dan ketakutan yang kita miliki, pada akhirnya terletak pada keputusan kita untuk berani melompat atau tidak. Secara analogi, sesederhana itulah sebuah ketakutan.

Aku pribadi tidak pernah menganggap semua ketakutanmu sebagai hal yang berlebihan, tidak relevan, atau tidak beralasan. Ketakutanmu, sebagaimana ketakutanku atau ketakutan orang-orang lain, sah dan valid apa adanya. Kita semua bebas memiliki ketakutan, kita semua memiliki hak untuk merasa takut. Tapi dalam kasusmu, ketakutanmu itu beririsan dengan hidupku, sehingga ada bagian dari ketakutanmu yang memaksaku untuk ikut merasa takut.

Kamu sering sekali hadir, tiba-tiba, dan membawa ketakutan-ketakutan yang itu-itu lagi. Sekali lagi, aku tidak menganggap itu hal yang tidak penting, namun…. setelah sekian lama, ketakutanmu ternyata hanya berputar di situ-situ saja. Dan karena ketakutanmu berisisan dengan aku, kamu selalu bisa membawa aku merasakan ketakutanmu dan merasa bahwa memang tidak ada jalan keluar dari ketakutan itu. Kamu selalu membiarkan ketakutan itu tetap menjadi sebuah ketakutan, bahkan setelah sekian lama. Kamu selalu punya cara membuat aku merasa bahwa ketakutan itu adalah milik kita, dan karenanya aku harus merasakan ketakutan itu. Lalu kamu akan pergi dan kita akan kembali berjarak. Selalu bukan titik akhir, hanya koma panjang yang tidak berkesudahan.

Maka biarkan aku menyampaikan ini.

Aku bisa memahami kalau kamu memiliki banyak ketakutan. Hanya saja, itu bukan ketakutanku, bahkan bukan ketakutan kita. Kita memiliki irisan ketakutan yang cukup lebar, namum masing-masing dari kita memiliki ketakutan yang berbeda, jauh berbeda. Kamu mungkin berpikir aku tidak memikirkan ketakutanmu, tapi aku memikirkan ketakutanmu. Hanya saja itu bukan ketakutanku, itu ketakutanmu dan hanya kamu yang tahu bagaimana cara menghadapinya. Dan apa kamu pikir aku tidak punya ketakutanku sendiri? Tentang kita, tentang aku, tentang kamu? Aku punya, dan akupun harus menghadapinya.

Tidakkah kamu menyadari bahwa sebagian besar dari setiap ketakutan hanya bersemayam di kepala manusia? Semua ketakutan selalu bersumber pada masa depan, pada hal-hal yang belum jelas di masa yang akan datang, pada hal-hal yang belum bisa diprediksi. Manusia akan selalu takut pada hal-hal yang tidak dia kenali atau belum dia pahami, bukankah manusia selalu begitu? Maka siapapun yang merasakan ketakutan, hanya perlu diperlu dibesarkan hatinya untuk berjalan. Hanya perlu ditemani untuk melihat sesuatu agar dapat memahami lebih baik lagi. Kamu, hanya perlu sedikit bantuan.

Selama ini kita tidak pernah saling memaksa. Aku percaya kamu bisa mengatasi banyak ketakutanmu sendiri. Kamu tidak selemah itu, dan tidak sepenakut itu, itupun aku paham. Tapi demi semua waktu, dan semua pertanyaan, kamu benar-benar harus memutuskan untuk berani menghadapi ketakutanmu yang berisisan dengan aku, atau selamanya hidup dengan ketakutan itu. Kamu sudah terlalu lama berada di tepian jurang. Dan andai aku bisa, aku sudah mendorongmu masuk jurang, dan memaksamu berjalan ke depan. Jika saja aku diperbolehkan, sebetulnya aku bisa membantumu. Tapi ini kan hidupmu, kamu yang harus putuskan. 

Cukup untuk mengingatkanku soal ketakutanmu. Aku sudah lebih dari paham perkara itu. Jika kamu harus hadir lagi hanya untuk memberitahuku bahwa kamu masih memiliki ketakutan yang itu-itu lagi, tidak peduli seberapa besar perasaan yang kamu punya, aku akan membiarkan ketakutanmu memakan habis semua waktumu. 

Kecuali jika kamu bersedia menghadapinya.



“Kita kan pulang dengan waktu yang terbuang dan kenangan yang berjalan bersama”

Minggu, 28 Oktober 2018

Saran


Lepaskan saja, karena mengikatkan diri terlalu dekat membuat kita tidak bisa bernafas.

Lepaskan saja, karena menggenggam terlalu erat dan terlalu lama itu bentuk siksaan.

Lepaskan saja, karena kebebasan yang menanti akan menjadi hadiah.

Lepaskan saja, biar terbuka jalannya...

Lepaskan saja, sudahlah...

Lepaskan saja.


Kata mereka.


Aku menjawab, bagian mana yang harus dilepaskan? Tidak ada lagi yang masih tersisa, selain keinginan-keinginan lama dan sisa-sisa harapan. 

Ya, lepaskan itu juga.

Lalu aku bertanya, apakah masih disebut manusia, jika tidak lagi memiliki keinginan dan harapan?

Dan mereka terdiam.


© RIWAYAT
Maira Gall