Jumat, 10 Mei 2019

Kita saat tidak mengerti apa-apa

 “Lihat segalanya lebih dekat dan ku bisa menilai lebih bijaksana.
Mengapa bintang bersinar, mengapa air mengalir, mengapa dunia berputar.
Lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti”
(Sherina - Lihat Lebih Dekat)


Beberapa minggu yang lalu, saya sempat melihat video menarik berjudul ‘How To Choose A Partner Wisely’ dari channel youtube ‘The School of Life’. Awalnya saya berpikir bahwa video itu hanya akan menjelaskan tips-tips mencari pasangan hidup melalui teori-teori psikologi pada umumnya, ya katakanlah seperti bagaimana kita harus menyesuaikan karakter kita dengan pasangan atau hal-hal semacam itu. Namun rupanya, video itu menjelaskan keterkaitan antara masa kecil dan remaja kita dengan preferensi kita setelah menjadi orang dewasa dalam mencari pasangan hidup dan menjalin hubungan. Secara singkat, video itu memberikan saran agar kita mau untuk duduk sejenak, mengingat masa lalu kita saat masih kecil, lalu menuliskan hal-hal apa saja yang kita anggap sebagai kasih sayang, siapa yang kita anggap sebagai pribadi yang menyenangkan, hingga hal-hal apa saja yang mengecawakan bagi kita.

Dalam bagian akhirnya, si narator berkata “Examining our personal histories, we learn that we can't just be attracted to anyone. Ultimately, we stand to be liberated to love different people to our initial types. When we find the qualities we like and the ones, we very much fear can be found in different constellations from those we encountered in the people who first thought us about affection. Long ago, in a childhood, we should strive to understand and in many ways free ourselves from”


Bertepatan dengan itu, di hari minggu yang lalu, teman baik saya, datang ke saya dan bercerita.

“Aku barusan ngabisin waktu satu jam buat telfonan sama mama dan adekku, tahu ga tadi mamaku bilang apa? Dia bilang, mungkin alasan kenapa sampe sekarang aku belum ketemu sama jodohku, itu karena aku masih marah sama papahku soal kejadian waktu dia selingkuh, waktu aku masih SMP”

“Hah?” Kata saya bingung

“Iya, katanya mamaku, bisa aja karena aku masih belum maafin papahku, aku sekarang susah ketemu jodohku. Aku kan bingung ya, makanya aku tanya ke mama, ‘lah yang harus minta maaf itu aku atau papah si ma?’. Kata mamaku ‘ya kamu lah’. Trus aku jawab ‘aku udah maafin sejak lama, aku malah udah lupa kejadiannya’. Coba deh, aneh banget kan si mama? Kamu kan liat sendiri, aku sama papaku baik-baik aja. Ya kan?”

Saya menggangguk tanda setuju.

“Ya emang sih… aku tuh lebih deket sama mamaku, tapi aku juga masih sering kok diskusi sama papa, apalagi untuk urusan-urusan yang ada hubungannya sama masa depan.”

“Tapi kamu sendiri gimana? Sejujurnya udah maafin papahmu?” Tanya saya menyelidiki.

“Udah kok… ya biasa aja sekarang, aku anggap sebagai kejadian di masa lalu. Bukan jadi beban gitu loh” Katanya dengan nada tenang, lalu melanjutkan dengan berkata, “Tapi kalau itu yang mamaku mau, ya gapapa aku jabanin. Pas pulang ke rumah, aku nanti minta maaf sama papa”

Lalu kamipun berdiskusi tentang perselingkuhan yang sempat mewarnai kehidupan remaja teman saya itu, dan bagaimana dia dan mamanya menghadapi kejadian itu.

Setelah selesai, saya terdiam dan berkata padanya, “Aku sekarang bisa lebih ngerti sih, kenapa kamu suka sama lelaki-lelaki yang terlalu rasional dan logis, dan kamu sendiri juga engga suka berada di hubungan yang terlalu menye-menye. Dan kamu punya banyak standar dan kesannya heartless banget sama lelaki. Ya gimana engga, kamu di usia sebelia itu, harus jadi yang paling kuat, ngurusin adek-adekmu, ngurusin mamamu, dan tetap harus hormat sama papamu. Di saat yang bersamaan, kamu juga harus tetap menjaga mimpimu masuk ke SMA favorit. Kamu harus jadi yang paling logis dan rasional saat itu, supaya tetep ada orang yang waras. Kamu udah jalanin peran pemimpin kayak gitu di usia yang semuda itu… ya pantes aja kalau kamu selalu tertarik sama lelaki yang bisa diandalin, yang engga banyak rayuan gombal, dan kamu sendiri juga tumbuh jadi anak yang practical banget. Mungkin masa kecilmu itu kebawa sampe sekarang, yang ngebentuk kamu sekarang ini” Kata saya panjang lebar mencoba menjadi analis gadungan.

Obrolan menarik dengan teman saya itu lantas membuat saya sendiri ikut merenung dan berbalik ke belakang, mengintip masa-masa kecil dan remaja saya. Saya mencoba mengingat perlakukan apa yang saya alami, cinta pertama seperti apa yang saya rasakan, hingga siapa yang berperan paling besar dalam pertumbuhan emosi saya.

Saya mencoba membuat garis merah dari kehidupan masa kecil dan remaja yang saya alami dengan hubungan percintaan saya. Dan hasilnya, cukup membuat saya akhirnya menyadari beberapa hal.

Saya baru tersadar, bahwa lelaki-lelaki yang saya ijinkan masuk dalam hidup saya, terlepas dari apakah kami punya status hubungan atau tidak, adalah mereka yang mengejar saya hingga titik darah penghabisan dan yang telah mencoba 1001 cara supaya mereka bisa dekat dengan saya. Dulu, seorang teman bahkan pernah memarahi saya karena saya hobi membuat perasaan lelaki seperti bermain layang-layang. Kalau sudah jauh ditarik, kalau terlalu dekat diulur, kalau sudah bosan diputus sepihak. Baru sekarang semua itu terasa masuk akal dan saya merasa itu memang ada hubungnnya dengan kehidupan di masa kecil dan remaja saya.

Waktu kecil, saya mengalami banyak peristiwa yang membuat saya merasa ditinggalkan dan tidak diinginkan oleh siapa-siapa. Dan karena tidak ada yang memberikan penjelasan pada saya apa yang sedang terjadi saat itu, maka kejadian itu terekam dalam pikiran saya dan sedikit banyak terbawa hingga dewasa. Jadilah kini saya sulit sekali berada di suatu hubungan. Saya bisa dekat dengan banyak lelaki, tapi tidak sampai punya hubungan kuat. Ada bagian dalam diri saya yang berkata bahwa saya harus melihat dia berdarah-darah dulu agar saya yakin, dan kalau dia pergi saat saya belum merasa yakin (dan ini sering kejadian), saya tidak akan mencari dia atau melunakan sikap saya.

Teman-teman sayapun merasa bahwa saya mempunyai standar dan kriteria yang terlalu tinggi, padahal sebenarnya, saya hanya ingin merasakan sebuah perasaan di mana saya merasa bahwa saya ini diingkan. Bahkan dalam hubungan asmara saya yang terakhir, tiap kali tugas lapangan, saya akan memberikan jadwal keluar lapangan dan memintanya untuk menelfon saya tepat waktu. Mungkin itu ada kaitannya dengan betapa inginnya saya merasakan perasaan bahwa saya dicari, bahwa saya ini ada. Parasaan masa kecil dimana saya merasa diabaikan dan ditinggalkan, mungkin menjadi sebuah indikator bagi saya dalam menentukan keseriusan seorang lelaki.

Tapi sebenarnya hal ini tidak adil bagi saya. Karena bisa jadi, saya melewatkan kesempatan bersama dengan lelaki-lelaki baik hati, hanya karena di mata saya seseorang itu belum berusaha sekuat tenaga untuk menunjukan keseriusannya. Padahal mungkin saja, mereka itu, ya sudah berusaha sedemikian keras menurut versi mereka. Hmmm…

Tidak hanya berkaitan dengan percintaan saja sepertinya, saya yakin masa-masa kecil dan remaja juga berdampak pada aspek lainnya di kehidupan orang dewasa.

Baru-baru ini salah satu teman kos tercinta saya menonton drama korea berjudul, New Castle. Katanya, itu adalah drama korea yang menceritakan obsesi keluarga untuk mendidik anak-anak mereka agar meneruskan reputasi orang tuanya yang sudah mahsyur. Salah satu tokohnya, akhirnya tumbuh menjadi seorang anak yang angkuh bukan main, merasa bahwa dia berasal dari gen keluarga yang berkualitas.

Maka di malam senin sambil menikmati keong rebus dan makaroni panggang, kami bertiga di kos, membahas drama korea itu dan mengaitkan dengan perlakukan orang tua kami saat kami masih SD. Dan kasus yang kami angkat adalah momen kenaikan kelas.

Saat Wahyuni menceritakan kisahnya, barulah saya paham kenapa dia bisa tumbuh jadi anak periang dan pekerja keras di saat yang bersamaan, katanya, “Waktu aku SD, aku kan mau ya kalau namaku dipanggil di aula karena masuk 3 besar. Tapi aku ngerasa aku ga bisa dapet rangking 3 besar. Aku bilang ke bapakku, yang intintinya aku takut kalau nanti bikin dia malu pas rapotan. Trus bapakku ngomong, ‘kamu lulus aja, udah bikin bapak seneng kok’. Trus pas bagi rapot, kan siswa-siswanya engga boleh masuk ya, cuma boleh ngintip di jendela aja. Pas bapakku masuk, aku ngintip tuh, dari luar aku liat bapakku ngacungin jempolnya, dan itu udah cukup bikin aku lega. Abis bapakku ngasih jempolnya, aku bisa main sama teman-temenku”. Saya dan Ica yang mendengar cerita itu hanya serempak memberikan suara terharu ‘aaa…..’

Sebuah artikel menarik dari TIME berjudul ‘They Were Orphaned by the Rwandan Genocide. 25 Years Later, They’re Interviewing the Perpetrators’ menceritakan seorang fotografer, David Jiranek, yang membuat sebuah workshop bernama Through the Eyes of Children. Workshop itu dibuat agar anak-anak yang selamat dari genosida dapat bercerita tentang perasaannya. Saat karya itu di pamerkan di keduataan besar Rwanda di Kigali, di kantor pusat United Nations di New York, serta di semua museum Holocaust di seluruh dunia, Joanne McKinney, project director Through the Eyes of Children berkata, “When you give a child a chance to tell their story from their perspective, it tells them they matter, and that their story matters,”.

Namun tentu saja, apa yang sudah terjadi di masa-masa kecil dan remaja kita, tidak akan bisa diubah lagi. Dan jadilah kita, sebagai produk masa kecil. Dan sayangnya juga, tidak akan ada organisasi kemanusiaan yang bersedia meluangkan waktunya untuk satu persatu mendatangi seluruh manusia dewasa dan membuat mereka semua mau berdamai dengan masa kecil mereka, terutama jika masa-masa itu memberikan beban yang besar bagi kehidupan dewasanya. Kita sendiri adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk membereskan semua masa kecil kita, dan berdamai dengan itu semua.

Hidup adalah proses pajang yang akan selalu berjalan. Sebagai manusia dewasa, kita tidak bisa menjadikan masa kecil kita sebagai pembenaran atas tindakan-tindakan kita, atau menghalangi kita memiliki kebahagiaan yang sebenarnya. Jadi walaupun masa-masa itu tidak bisa diulang, tapi kita bisa memperbaikinya sekarang. Jika di masa kecil kita tidak punya banyak pilihan, hari ini kita bisa memilih untuk menjadi manusia dewasa seperti yang kita inginkan.

Saya jadi teringat adegan Robin Williams dan Matt Damon di film Good Will Hunting (1997) pada saat akhirnya Robin menyadari bahwa masa kecil Matt dipenuhi dengan kekerasan fisik. Robbin hanya berkata, ‘it is not your fault’ sebanyak lebih dari 5 kali hingga Matt memahami bahwa apa yang terjadi di masa kecilnya, bukan salahnya. Saya setuju dengan Robin, tidak boleh ada penghakiman untuk masa lalu. We learn and we grow.

Maka kembali lagi pada korelasi hubungan percintaan dengan masa kecil kita. Jika pada akhirnya kita memilih untuk bersama dengan seseorang yang entah mengapa membuat kita merasa utuh, sedang diri kita tidak mengetahui secara pasti apa alasannya, mengutip istilah dari Ica, katakan pada diri kita sendiri dan mereka yang bertanya, ‘soalnya dia itu my childhood’.

Dan semoga kita bisa bersama dengan seseorang yang membuat kita bersedia untuk pelan-pelan membawanya ke masa-masa kecil dan remaja kita, mengenalkannya pada semua emosi-emosi pertama yang kita rasakan sebagai manusia, dan berkata padanya, “Banyak hal dari aku yang masih eror, dan aku masih berjuang buat menerima hidupku apa adanya. Biar kamu paham, bahwa aku yang hari ini, terbentuk dari aku yang kemaren. Tapi dalam proses aku tumbuh dan berkembang sebagai manusia, aku sedang belajar untuk mencintai hal baru, mencintai kita”


Jumat, 25 Januari 2019

Bukan Manusia yang Bebal, Tapi Harapan Adalah Harapan

Dalam sebuah makan malam bersama seorang teman baik, dia menceritakan pada saya sebuah kisah, bahwa pada suatu malam, seorang wanita kenalanya menelfonnya tersedu-sedu. Karena bingung harus menjawab apa, si teman saya itu hanya mampu menjadi pendengar yang baik saat si wanita itu berbicara dengan susah payah sambil menangis.  "Yang aku inget cuma dia bilang, 'ini itu engga ada harapan... aku tau ini engga ada harapan'", Kata teman saya menirukan si wanita. Teman saya itu lalu menceritakan pada saya sedikit kisah si wanita itu, bahwa si perempuan itu jatuh cinta pada seorang lelaki yang telah memiliki istri. "Dia itu ya dari awalnya udah sadar kalau engga ada harapan, tapi ya... engga tau juga kenapa masih aja dilanjutin", Kata teman saya antara tidak mengerti tapi kashian.

Saya mengangguk.

Beberapa malam yang lalu, saya bertemu dengan teman baik lainnya, Fian, kali itu dia bercerita soal novel hantu Belanda yang telah selesai dia baca. Di novel itu, si hantu itu bercerita pada si penulis mengapa dia masih belum mau pulang ke haribaan ruh. Usut punya usut, ternyata sebelum dia meninggal, orang tua angkatnya berjanji akan kembali datang untuk membawakannya dokter terbaik dari Belanda. Si anak yang kesakitan karena menderita kanker, percaya bahwa hal itu akan terjadi. Diapun menunggu dan menunggu hingga akhirnya meninggal dunia. "Dia masih berharap sampai sekarang orang tuanya bakal dateng beneran, bawain dia dokter, makanya dia masih gentayangan"

Saya mengangguk.

Sejak kecil hingga dewasa, kita selalu diajarkan untuk berjuang dan berusaha. Kita seakan diberitahu bahwa hidup adalah perjuangan dan bahan bakarnya adalah harapan. Maka selama masih ada harapan, maka hidup akan terus berjalan, dan perjuangan belum selesai. Itu bukan hal yang salah, tapi kurang lengkap, karena manusia  juga perlu belajar bagaimana caranya menyerah.

Baru kali ini selama saya hidup, saya mempelajari benda abstrak bernama harapan, yang digadang-gadang sebagai kekuatan utama manusia. Awalnya sederhana, pertanyaan saya tentang move on yang tidak kunjung bisa saya jawab dan putuskan. 

Dulu teman saya pernah berkata bahwa move on adalah perkara 'mau atau tidak', bukan 'bisa atau tidak'. Tapi rasa-rasanya, move on bukanlah sebuah kesanggupan atau keinginan, melainkan sebuah keberanian. Karena dia yang harus menghadapi dirinya sendiri, dan menikam mati harapannnya. Itu move on. Bisakah?

Saat heboh #10yearschallenge, saya tertegun melihat sebuah ilustrasi yang memperlihatkan bahwa selama 10 tahun berjalan, setiap hari kamis, seorang wanita tegap berdiri menggunakan baju warna hitam, membawa payung dan menuntut keadilan atas sanak saudaranya yang hilang. Dia adalah segelintir yang masih melakuan aksi #kamisan. Ini sedikit mengingatkan saya pada Amba, sosok fiktif di Novel Amba yang juga menunggu kekasih hatinya pulang saat pengakapan komunis tahun 65, hingga pada saat ia meninggal dunia pun, wasiatnya kepada anaknya adalah mencari si kekasih hatinya.

Beranikah kita, lantas berkata pada wanita yang tegap berdiri setiap hari kamis, atau kepada Amba, sebuah kalimat klise berbunyi, 'Sudahlah.... move on!'. Pada titik ini, tidakkah kita harus mengakui bahwa perkara move on bukan tentang hal-hal fisik. Ini tentang harapan. Ini tentang bahan baku manusia yang tidak dengan mudah bisa dimatikan.

Saya memiliki keyakinan bahwa Istri Almarhum Munir tidak lagi bersedih akan kematian suaminya, atau mereka yang berdiri tiap hari kamispun tidak lagi berharap sanak sudaranya masih hidup. Mereka semua sudah dipaksa sanggup menerima kenyataan bahwa secara fisik, mereka telah tiada. Bukan kesedihan merongrong macam itu yang mereka hadapi sekarang. Jadi kalau move on memiliki tingkatan, mereka telah lulus pada tingkatan pertama, tingkatan fisik. Tapi jika mereka dipaksa untuk membunuh harapan mereka yang hanya tinggal satu-satunya,  dipaksa untuk move on pada tingkatan ini, saya yakin mereka lebih memilih untuk mati saja.

Mungkin jika kita bisa mendampingi seseorang yang berharga dalam hidup kita menghadapi kematian, mulai dari menghembuskan nafas terakhir hingga masuk ke liang lahat, kita bisa menerima satu paket kehilangan, dan move on dengan suka cita. Atau ketika kalung berharga seharga milyaran milik kita jatuh dari ketinggian 1000 M dan hancur berkeping-keping. Maka sudah ya sudah, wong sudah hancur. Tapi bagaimana jika kita dipaksa untuk bertahan hidup dengan mengenggam harapan bahwa mungkin suatu hari, mereka atau sesuatu itu akan kembali? Mereka harus berhadapan dengan ketidakmungkinan yang dibungkus dengan harapan.

Memangnya apa lagi sih yang diharapkan? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan. Jawabannya tentu saja beragam. Mungkin bagi mereka yang memiliki kasus pada masa orde baru, harapannya terletak pada pengusutan keadilan. Mungkin bagi mereka yang tidak mungkin lagi menjadi seorang atlet karena satu dan lain hal, berharap anak keturunannya bisa mendapat medali emas. Mungkin bagi mereka yang tidak bisa melihat jasad orang yang mereka sayangi meninggal saat kecelakaan pesawat, berharap mendapat informari paling akurat tentang penyebabnya. Dengan beragam macam jenis harapan itu, mereka berharap bisa menentukan langkah selanjutnya, apakah terus berjalan atau berhenti berusaha. Dan bagi kita yang tidak berada dalam posisi itu, tugas kita hanya satu: meng-har-ga-i. Karena harapan adalah harapan.

Pernah ada yang mengatakan pada saya, bahwa harapan jangan pernah digantungkan kepada manusia, tapi pada Tuhan. Justru itulah poin pembicaraan ini, justru karena saking tingginya harapan mereka, mereka tidak lagi berharap pada manusia melainkan langsung menghubungi Yang Maha Kuasa. Inilah yang menjadikan sebuah harapan mempunyai kedudukan yang sulit untuk dihapus, karena bagaimana bisa manusia menghapus nama besar Tuhan sebagai sandaran semua harapan?

Jadi mungkinkah, untuk hal seabastrak harapan, juga harus kita kembalikan padaNya? Lalu apa yang tersisa dari manusia, jika harapan saja harus dikembalikan?

Di malam saya bertemu dengan Fian, dia bekata, 'Tapi semua harapanku tuh Peh, dikabulin. Cuma yaaa.. waktu sama kondisinya aja yang beda. Dulu pas S1, aku mau banget masuk UGM. Aku engga keterima, keterimanya di UPN. Ya udah, aku engga lagi berharap. Aku matiin harapanku. Tapi pas aku S2, semunya serba mudah, dan aku masuk UGM. Kayak... harapanku dikembaliin, dan aku diingetin lagi"

Perkataan Fian membuat saya menyadari bahwa harapan pun ternyata, adalah sebuah bentuk permainan antara kita dan Dia. Bisa jadi, saat harapan itu diminta kembali oleh pemiliknya, itu adalah titik awal harapan baru akan muncul di hidup kita. Bisa jadi, saat kita dengan lapang menyerahkan harapan kita padaNya, maka dia akan mengembalikan dengan jawaban yang kita tunggu, di waktu yang tepat. Bisa jadi, kita diminta menggenggam harapan itu, dan Dia sendiri yang memberi paket lengkap berupa kekuatan dan jalan keluar. Bisa jadi, harapan itu merupakan pertanyaan atas kesanggupan kita bertahan. Bisa jadi, saat harapan itu berdebu, maka Dia sendiri yang akan membersihkan. Bisa jadi, harapan itu kembali dengan wujud yang berbeda.

Lalu haruskah kita move on? Bisakah harapan itu mati, dimatikan? 

Saya memilih untuk menjawab tidak bisa. Karena harapan adalah udara yang tidak bisa dibunuh. Harapan adalah bahan bakar manusia. Maka hal terbaik yang harus manusia lakukan dengan harapannya, selain berusaha adalah, menunggu dengan pasrah.

Pada akhirnya, harapan hanya milik mereka yang percaya, yang dengan kelapangan hatinya, bersedia untuk ikhlas menunggu, hingga waktu dan jawaban itu akhirnya tiba. Juga milik mereka yang berjiwa besar untuk menerima, saat harapan itu akhirnya tidak hadir dalam bentuk keterkabulan seperti yang dia harapkan.

Mungkin bersyukur menjadi kata yang tepat, karena harapan tidak akan pernah hadir pada mereka yang dengan mudah berputus asa. Dengan memahami bahwa harapan adalah pemberian dariNya agar kita, walau berat, tetap merengek, dan tetap bergantung padaNya, kita dipaksa  untuk memahami bahwa ketika kita bicara soal harapan, kita tidak bicara soal berapa lamanya seseorang menunggu atau bertahan, tapi seberapa kuat dia percaya.

Hanya butuh waktu untuk memahami. Dan untuk itulah, manusia harus belajar bagaimana caranya berpasrah. Tapi berikan keyakinan, bertahanlah untuk yakin, bahwa semua harapan pasti memiliki jawaban.

Minggu, 06 Januari 2019

Sebuah kesoktahuan manusia yang itu-itu lagi, semoga kapok ya!

Sebuah refleksi akhir tahun.

Kata mereka, hidup tidak pernah memberikan hal-hal yang yang kita inginkan, tetapi hidup akan selalu memberikan hal-hal yang kita butuhkan. Sebuah ucapan lama nan klise yang kerap saya baca atau dengar dari banyak sumber, tapi tidak pernah merasa ada hikmah apapun dibalik ucapan itu. Namun kalau saya dapat merangkum kehidupan saya selama setahun kebelakang, di tahun 2018 ini, maka ucapan itulah yang ternyata paling relevan. Di akhir tahun ini, saya baru saja menyadari bahwasanya hidup selalu memberikan semua hal yang saya butuhkan, tapi saya, selalu saja fokus pada hal yang saya inginkan. 

Ini adalah tahun dimana kemampuan mengendalikan emosi saya dinaikan beberapa level dan janji-janji yang dulu saya ucapkan ke diri sendiri dipertanyakan. Ini adalah tahun pertama saya akhirnya menghirup udara lain di luar oksigen Jogja, tahun pertama saya merasakan puasa, ulang tahun, dan bahkan musim hujan pertama di luar Jogja. Semuanya serba baru, mulai dari rutinitas hingga cara pandang, semuanya sedang larut dalam sebuah episode hidup bernama adaptasi. 

Proses adapatasi, seperti yang dialami oleh banyak orang, pasti memiliki banyak tantangan. Sayapun tidak terkecuali. Saya ingat pagi pertama saya harus mengantri busway dan kapan untuk pertama kalinya saya membentak seseorang karena menyerobot antrian. Saya ingat sore pertama melangkah keluar dari komplek perkantoran dan merasa super kelelahan. Saya ingat rasanya belanja bulanan pertama di supermarket di Rawamangun dan menyusuri satu persatu bagian untuk mengecek apakah masih ada yang harus dibeli atau tidak. Saya akhirnya tahu bagaimana leganya ketika hari Jumat tiba dan bagaimana malasnya hari senin. Saya ingat ketika saya sedang mengalami hari yang buruk, saya kemudian duduk di busway menyusuri kota ini di malam hari, mengambil tempat duduk di paling belakang dan melamun. Namun yang paling menantang dari proses adaptasi ini adalah, ketika ada beberapa hal, di luar kapasitas saya sebagai manusia, yang akhirnya terjadi. Hal-hal yang membuat saya dengan mata nanar menengadah ke langit, dan berkata lirih, 'Wahai Rabb, aku engga paham sama ini semua...'. 

Dengan proses adapatasi dan hal-hal menantang yang harus saya jalani, di tangah-tengah proses ini, saya merasa buta dengan tujuan akhirnya. Saya tidak mengerti proses ini akan mengantarkan saya pada apa dan kemana? Tidak hanya itu, saya sempat berfikir bahwa prosesnya harusnya tidak seperti ini. Saya merasa ini semua skenario yang tidak tepat. Langit mungkin telah salah memberikan takdirnya. Saya ingin naik banding!

Hingga setahun berjalan, dan jawaban atas semua ketidakmengertian saya akhirnya terjawab satu per satu. Dan ketika jawaban itu telah datang, saya harus menyadari bahwa saya gagal hingga titik ini. Bukan karena proses adapatasinya, tapi karena saya gagal melihat apa yang seharusnya dilihat. Saya, sekali lagi, menjadi tidak sabaran karena ingin segera mengetahui apa ujung dari adaptasi ini. Saya, kembali memburu-buru sebuah proses.

Kembali ke ucapan klise bahwa hidup akan selalu memberikan kita semua hal yang kita butuhkan, maka di situlah saya akhirnya paham, apa yang sebenarnya saya butuhkan sebagai manusia.

Saya (ternyata) membutuhkan udara segar.

Saya memang tidak mendapatkan hal-hal yang saya inginkan atau hal-hal yang saya bayangkan jika saya pindah ke Jakarta, yaitu pekerjaan yang super meyenangkan yang membuat saya berkembang secara kemampuan berfikir, lengkap dengan gaji yang cukup untuk menyewa apartemen seorang diri. Saya tidak mendapatkan pekerjaan dimana saya berada di tim kerja yang mengurusi hal-hal pemting, dan setelah pulang kerja menghabiskan waktu dengan makan di mall. Saya tidak mendapatkan semua hal yang saya inginkan atau saya bayangkan. Tidak sama sekali. Dan untuk alasan itulah, saya merasa kesal, 'masa engga ada yang sesuai ekspektasiku sih', kata saya waktu itu.

Tapi itulah manusia, yang kalau melihat sesuatu, selalu saja linear.  Saya tidak melihat bahwa ternyata, saya mendapatkan semua hal yang seharusnya. Semua hal yang saya pikir tidak saya butuhkan, tapi nyatanya saya butuhkan. Semuanya. 

Saya memiliki teman kerja menyenangkan, dan kami selalu tertawa lepas setiap hari. Terlepas dari tipe pekerjaanya, tapi saya tidak harus mendengarkan hal-hal 'lama' yang bisa membuat saya bersedih di tempat kerja. Saya menjadi pribadi baru, yang tidak perlu lagi merasa malu dengan apa yang sudah terjadi. Itulah udara segar. 

Ketika saya pulang, saya punya 3 orang dengan karakter berbeda-beda, yang sanggup membuat saya ingin pulang saja tanpa mampir-mampir yang tidak perlu. Sebuah kamar dengan luas yang pas, serta obrolan-obrolan yang menyenangkan hampir setiap hari. Sebuah tempat tinggal dengan kehidupan di dalamnya. Itulah udara segar.

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, beberapa kajian rutin di Blok M mampu membuat saya tetap tenang dan logis. Dan itu merupakan udara segar yang selalu saya tunggu.

Sedihnya, saya baru menyadari itu samua di penghujung tahun. Persis seperti anak murid yang akhirnya diberi tahukan jawaban dari soal ujian ketika nilai ujian sudah keluar. Saya gagal melihat apa yang seharusnya, dan bersikap tidak bersyukur. Padahal langit tidak pernah salah dan  saya selalu saja kurang sabar menanti jawaban. Ah, andai saya bisa mengulang dari awal proses ini dan lebih menikmati semuanya dengan lapang...

Maka begitulah tahun ini berjalan. Di luar kamampuan saya yang samakin handal dalam menghapal jalur Transjakarta, atau cara saya memadang sesuatu yang kini jauh lebih tenang, saya merasa bahwa kedepannya, saya harus lebih menikmati sebuah proses. Saya harus belajar untuk sabar dan percaya bahwa seberat atau semanis apapun yang akan terjadi di depan nanti, pasti akan terjadi dengan kadar dan tujuan yang tepat. Ingat itu baik-baik, anak muda!

Hidup akan berjalan lebih gila lagi sehabis ini, tapi semoga saya selalu bisa ingat bahwa hidup akan selalu dan selalu dan selalu memberikan pada saya hal-hal yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan. Dan tentu saja, karena manusia tidak selalu tahu apa yang dibutuhkan, maka cara terbaik menjalani kehidupan di tahun yang baru nanti, adalah dengan jeli melihat apa yang sudah ditakdirkan olehNya. 

Tenang... semua pasti ada jawabannya, ini prosesnya, dijalani saja dulu. 

Cheers!


Kamis, 20 Desember 2018

mencoba rasa

Berjalanlah dia menuju sebuah pasar. Dalam hiruk pikuk pasar itu, dia melihat banyak sekali toko yang terang benderang dengan ornamen-ornamen menarik di sepanjang pasar. Dia terus berjalan hingga menemukan sebuah toko kue. Di depan toko kue itu, dia melihat pegawai toko yag mengenakan seragam menarik sambil membawa sebuah nampan penuh berisi tester kue dengan rasa yang bermacam-macam. Si pegawai toko itu dengan atraktifnya berkata sambil menyodorkan nampan itu, "Silahkan dicoba, ini adalah kue-kue terbaik dari toko kami". Dia berhenti sejenak dan menengok ke arah nampan itu, dan benarlah apa kata pegawai toko itu, nampan itu berisi potongan-potongan kecil kue dengan berbagai warna dan ukuran. Dia terdiam sejenak untuk menentukan mana kiranya yang mau ia coba. Diapun lalu memilih potongan kue dengan bentuk kotak berukuran kecil berwarna hitam. "Itu rasa coklat, salah satu andalan toko kami", kata pegawai itu bersemangat. Maka dicobalah tester itu dengan sekali suapan. Dia merasa rasanya agak aneh, aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan ucapan. Melihat wajahnya yang kurang senang dengan pilihan tester itu, pegawai itu buru-buru menyodorkan pilihan lain. "Yang ini aja, ini rasa lemon, tidak begitu manis rasanya", katanya membujuk. Dia menurut, diambilah tester itu, dan dimakannya sekali suapan. Benar saja, wajahnya seketika berubah. Rasa kue lemon itu sungguh enak, tidak begitu manis, dan ada sedikit rasa asam. Segar sekali jika ditemani dengan secangkir teh. Diapun memutuskan untuk membelinya. Namun sayang, kue lemon itu tidak tersedia saat itu, sudah habis stoknya. Dengan raut menyesal, pegawai toko itu berkata "Mau yang rasa lain?". Sudah terlanjur suka dengan kue lemon, diapun menggeleng dengan sopan. Dia akhirnya berlalu tanpa membawa apapun. Dalam hatinya dia berkata, kalau suatu hari nanti dia lewat lagi di toko itu, dan kue lemon itu tersedia, dia mungkin akan membelinya.

Beberapa lama kemudian, dia kembali mengunjungi pasar. Namun, kali ini dia mengunjungi jalan yang berbeda. Toko-toko masih saja menawarkan hal-hal yang beragam dengan pajangan yang menarik hati. Setelah lama berjalan, dia kembali menemukan toko kue. Toko kue yang letaknya cukup tersempil diantara toko-toko lainnya. Di depannya tidak ada pegawai berpakaian menarik yang menawarkan tester, hanya sebuah meja panjang berwarna hijau yang diatasnya berjejer kue-kue dengan warna dan ukuran yang beragam. Terpampang juga sebuah tulisan, 'Temukan rasamu di sini'. Dia sebetulnya ingin membeli kue lemon yang tempo hari ia coba, namun tester di toko ini sungguh berbeda dan mengundang selera. Tak seperti di toko sebelumnya, kali ini dia mencoba banyak sekali tester. Setelah mencoba banyak tester kue, pilihannya jatuh pada dua pilihan, yaitu kue pandan yang lembut, serta kue kismis yang padat. Dia pun masuk ke toko itu, hendak membeli keduanya. Dia beruntung, karena uangnya cukup membeli dua kue itu sekaligus. Dengan sumringah, dia berhasil membawa pulang kedua kue itu. Dia berencana memakannya bergantian sebagai teman membaca.

Dia pun kembali ke pasar setelah beberapa bulan. Dia berjalan dan berjalan masuk ke dalam pasar. Belum lama dia berjalan, dia melihat sebuah spanduk yang bertulisan 'Bazar Kue'. Matanya langsung berbinar, dia ingin membeli kue dengan rasa berbeda dari kue pandan dan kismis yang terakhir kali dia beli. Diapun berjalan cepat menuju area bazar. Dan benar saja, belum lama dia melangkah, dia langsung disuguhi banyak sekali kios-kios kecil yang menjual kue. Dia merasa kelimpungan untuk menentukan tester mana yang harus dicicipi karena banyak sekali pilihan yang tersedia. Hingga akhirnya dia menghabiskan waktu untuk mencicipi semua tester di bazar itu tanpa membeli satupun kue. Dia merasa kewalahan dan lidahnya tak sanggup lagi merasa. 

Kembali dia mengunjungi pasar, dan kali ini dia tidak begitu ingin mencari kue. Pengalaman terakhirnya ketika mencicipi tester, membuatnya sedikit kapok mencoba-coba. Dalam hatinya, dia ingin mempunyai satu kue langganan yang akan dia beli tanpa perlu repot-repot lagi mencicipi tester. Setelah berjalan cukup lama, pandangannya tertuju pada sebuah toko kue sederhana yang menjual hanya satu jenis kue saja. Dia pun memutuskan kesana sebelum pulang. Saat berada di toko tersebut, dia bertanya dimana tester yang bisa dia coba. Dengan sopan pegawai toko itu berkata, "Maaf, kami tidak menyediakan tester, anda bisa langsung membeli jika anda mau". Dia merasa begitu aneh dengan hal itu. Dia ragu, karena dia ingin mencicipi terlebih dahulu sebelum membelinya. Namun apalah daya, dia tidak bisa memaksa. Dari belakang, punggungnya dicoleh oleh seseorang yang telah membeli kue itu. Dengan ramah berkata, "Ini, silahkan coba saja punya saya". Dia tersenyum, dan mengambil potongan kecil itu. Seketika dia merasa itu kue yang paling tepat untuk lidahnya. Bukan yang terlezat, bukan yang terlembut, bukan yang termanis, hanya saja dia merasa bahwa kue itu pas dengan lidahnya. Setelah mengucapkan terimakasih, dia pun memesan kue itu. Namun malang, pegawai toko itu berkata "Maaf, kami hanya menjual 200 loyang per hari. Anda bisa kembali lagi besok". Walau sedih, dia pun memutuskan untuk pulang sambil mengenang rasanya.

Keesokannya, dia kembali lagi ke toko itu, namun lagi-lagi dia terlambat. Kue itu telah habis.

Dia memutuskan datang lebih awal keesokan harinya. Dan benar saja, sudah banyak orang antri. Dengan sedikit tergesa, dia ikut mengantri dengan perasaan cemas. Setelah tiba di barisan paling depan, ternyata uang yang ia bawa tidaklah cukup. Dia pun pulang dengan sedih.

Dalam perjalanan, dia berjanji untuk mempersiapkan segalanya, agar bisa membeli kue itu.

Keesokan harinya, dia berangkat lebih awal, mempersiapkan uang, dan mengantri di barisan depan. Saat sampai di depan pegawai tokonya untuk membayar, pegawai toko itu tersenyum dan berkata, "Selamat menikmati". Dia akhirnya membawa kue itu pulang dengan perasaan haru.

Hari ini dia kembali datang ke pasar. Dia melihat orang lain seperti dia sedang mencicipi tester kue. Dia tersenyum simpul. Dia tahu betul lelahnya mencari sepotong kue sebagai teman minum teh dan membaca buku. Dia tidak lagi ingin mencicipi tester apapun lagi, dia telah menemukan kuenya. Dia hanya perlu menemukan buku yang harus dia baca sebagai teman memakan kue. 


Minggu, 02 Desember 2018

Kisah Kembang Tahu

"I know you haven't made your mind up yet, but I will never do you wrong
I've known it from the moment that we met, no doubt in my mind where you belong"


Dunia sesak dengan kisah-kisah cinta. Puisi-puisi asmara hilir mudik tercipta, sajak-sajak romansa menghiasi ribuan karya seni, dua manusia yang saling jatuh cinta membuat hiruk-pikuk dengan semua kisah-kisah mereka.

Ada kisah cinta yang masih diuji kevaliditas riwayatnya, antara fiktif atau tidaknya belum ada yang berani memastikan, seperti miliknya si Romeo dan Juliet, dua pasangan yang terlalu dimabuk cinta, hingga tewas karena racun. Agak menggelikan memang.

Ada kisah cinta yang cukup beruntung untuk dikenang oleh banyak manusia, karena mencermikan kisah cinta abadi yang hanya dipisahkan oleh maut. Milik Bapak Habibie dan Ibu Ainun misalnya.

Ada juga kisah yang benar-benar fiktif namun sengaja dibuat sebagai representasi kisah-kisah cinta manusia pada umumnya. Katakanlah kisah remaja Cinta dan Rangga, atau Dilan dan Milea.

Namun, walaupun tidak banyak telinga yang mendengar, mata yang menyaksikan, atau karya seni yang mengabadikan, ada milyaran lebih kisah cinta di luar sana. Kisah cinta yang nyata dan otentik. Ada kisah cinta milik Najiyah Nana dan suaminya yang hanya bertemu selama 3 minggu untuk sampai di pernikahan. Ada kisah cinta Ulin dan suaminya yang akhirnya kembali bersama setelah beberapa tahun putus. Ada kisah cinta Shofi yang mendapatkan pasangan hatinya saat bersekolah master di Amerika. Kisah cinta Uda Uki dan Mbak Mustika yang dulu ketika KKN biasa-biasa saja, lalu karena lokasi kerjanya berseberangan di Slipi, berakhir di pernikahan. Kisah cinta Hirma dan Dendi yang dimulai dari tinder dan berujung di akad nikah.

Tersempil diantara kisah-kisah itu, kita. Kamu yang sudahlah tidak perkasa perawakannya, terlalu banyak maunya. Aku yang tidak begitu rupawan, tapi mendayu-dayu pikirannya. Klise sebetulnya.

Dulu ketika aku mendengar atau melihat kisah-kisah cinta orang lain, aku sering sekali mengerenyit dahi sebagai tanda tidak pahammnya aku atas konyolnya kisah-kisah mereka. Hingga aku memilih untuk bersikap skeptis saja jika diceritakan kisah-kisah itu. Namun kelamaan aku paham, bahwa kisah cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipahami oleh manusia lain, di luar dua manusia yang menjadi aktor utamanya.

Jika ada dua manusia yang berkisah, maka biarkan saja mereka yang paham, toh perasaan mereka yang benar. Orang lain, dipersilahkan untuk mengerenyitkan dahi.

Maka mari rayakan eksklusifitas kisah-kisah cinta itu. Diantara hiruk-pikuk itu, setidaknya ada kita yang ikut berpawai.


"The storms are raging on the rolling sea and on the highway of regret
The winds of change are blowing wild and free, you ain't seen nothing like me yet"
(Make You Feel My Love - Adele)

Sabtu, 24 November 2018

Aku dan ketakutan-ketakutanku

"Semua yang kamu percayai, menuntun langkahmu pulang di sini"
(Finest Tree)

Mungkin harus ada minimal jam, atau hari, atau tahun yang dilalui untuk bisa benar-benar beranjak.
Atau jika waktu bukan hitungan yang paten, mungkin harus ada minimal jarak yang ditempuh untuk bisa sampai pada titik akhir.
Jika ternyata waktu dan jarak tidak kuasa, mungkin harus ada minimal jumlah orang-orang baru yang dijumpai untuk bisa mempunyai awal baru.

Akupun mencoba kemungkinan-kemungkinan itu. 

Lalu waktu demi waktu bergulir, hingga aku tidak bisa lagi menghitung. 
Kemudian jarak demi jarak terlalui, ombak dari pantai timur hingga barat, gunung dari selatan ke timur, hingga aku tidak tahu lagi harus pergi kemana.
Dan orang-orang baru yang hadir, hingga aku tidak paham lagi apa arti kedatangan mereka semua.

Tapi titik awalnya tetap saja sama. Aku hanya seperti kabur dari sesuatu yang harus aku hadapi.

Menolak kegagalan usahaku, aku berpikir, oh... mungkin aku belum memenuhi jumlah minimal waktu untuk beranjak, belum sampai pada minimal jarak untuk berada di titik akhir, atau bertemu minimal jumlah orang untuk memulai sesuatu yang baru. Mungkin usahaku belum cukup keras.

Tapi ada bagian lain dari aku yang bertanya, bagaimana jika, aku sudah melalui maksimal waktu yang diperlukan, menempuh maksimal jarak yang diharuskan, dan sudah berusaha keras bertemu dengan sebanyak mungkin manusia, tetapi pada akhirnya jarak, waktu, dan manusia yang harus aku temui kembali pada titik yang sama?

Bagaimana jika ternyata ini semua, hanyalah waktu yang terulur panjang dan jalan berputar untuk kembali ke titik yang sama?


Minggu, 18 November 2018

Sebelum jam 5 sore, itu hanya kegiatan darmawisata

“Love of my life, can't you see?
Bring it back, bring it back,
don't take it away from me because you don't know what it means to me”
(Queen)

Di minggu malam, saya dan tiga wanita di rumah kos menghela nafas panjang, karena tersadar esok harinya akan kembali berjibaku dengan tugas-tugas kantor. Lantas salah satu diantara kami, si Icha, berceletuk, “Tenang aja tsaaay, kehidupan yang sesungguhnya itu kan setelah jam 5 sore….”, dia diam sejenak dan melanjutkan kalimatnya dengan paripurna, “Sebelumnya kan cuma darmawisata….”.

Kamipun tertawa, antara getir dan satir.

Beberapa minggu yang lalu, saya bersama seorang teman, pergi menuju Bogor untuk mengunjungi seorang teman lama. Karena sudah lama tidak bertemu, sepanjang perjalanan dalam KRL, kami banyak bertukar kabar dan cerita, mulai dari urusan pekerjaan hingga asmara. Dia sedang resah bagaimana harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas diri dan kebutuhan materialnya.

Sayapun menimpali kegelisahannya dengan berkata,“Tapi nih ya… menurutku, dalam hidup kita, kerjaan itu porsinya engga terlalu besar kalau dibandingin sama aspek kehidupan kita yang lain”

Dia menyerengitkan dahi dan menjawab, “Kok? Tapi kan kerjaan itu menyita hampir sebagian besar waktumu?”

Dan saya menjawab dengan mengutip perkataan Icha, “Technically sih ya… tapi kalau katanya temenku, dan aku setuju banget, kehidupan yang sebenarnya itu setelah jam 5 sore. Semenjak di Jakarta, aku sekarang ngerti sih, gimana nelangsanya kehidupan orang-orang Jakarta yang kalau pulang kerja, capek, balik ke kosan atau apartemen, sendirian…. Gimana ya… bukannya lega, malah bikin makin capek…Makanya aku bener-bener bersyukur banget di rumah kosan yang ini. Pulang tuh ada yang nyambut, weekend tau mau kemana… kayak ada kehidupan yang lebih hidup ketimbang kehidupan di kantor“

Kamipun terdiam sejanak. Sambil melihat ke arah jendela, saya bertanya, pertanyaan yang saya tujukan kepada diri saya sendiri sebenarnya, “Mana yang kira-kira bakal kita pilih, dipecat setalah 10 tahun kerja, atau pasangan kita meninggal setelah 10 tahun bersama?”. Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban, karena kami berdua hanya saling menghela nafas panjang dan tertawa.

Tepatnya dua hari setelah obrolan itu, teman saya mengirimkan sebuah pesan singkat di WhatsApp, “Kamu bener banget Peh tentang kehidupan setelah jam 5 sore itu….”

Ah…

Saya memiliki seorang kenalan, dia pernah berada di satu masa dimana dia “dipaksa” untuk memilih antara karir atau rumah tangganya. Karena satu dan lain hal, pada akhirnya dia memilih karir dan bercerai dengan pasangannya. Tentu saja alasannya tidak sesederhana karena faktor materi. Kompleksitas perasaan dan hubungan rumah tangga, saya pikir yang membuatnya merasa bahwa karir adalah pilihan terbaik untuk diambil pada saat itu. Hari ini, setiap kali kami bertemu, dia akan selalu bertanya apakah saya butuh ditemani atau tidak, apakah saya bisa menginap di rumah dia atau tidak, atau dia akan bercerita bagaimana dia merasa kesepian kalau anak-anaknya sedang berada di rumah mantan pasangannya. Namun diantara itu semua, hal yang paling membuat saya sedih adalah sorot matanya yang menggambarkan kelelahan atas semua beban-bebannya. Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantunya, dan saya juga tidak memiliki banyak saran untuk hidupnya. Tapi kalau melihat bahwa jabatan dan karir yang dia miliki ternyata tidak bisa mengisi beberapa hal dalam jiwanya, saya kadang penasaran, apa yang terjadi kalau semisalnya dia memilih pilihan untuk mempertahankan rumah tangganya?

Mungkin ini yang berarti bahwa kehidupan yang sebenarnya dimulai setelah jam 5 sore.

Saya sendiri tidak bisa mendefinisikan secara jelas apa itu kehidupan setelah jam 5 sore. Penjelasan terbaik yang saya pahami terkait ini adalah, bahwa ini merupakan kehidupan yang jujur. Sebuah kehidupan yang lebih mengandalkan rasa daripada logika, melibatkan emosi manusia yang paling dalam, dan pada akhirnya menuntut pengorbanan yang tidak sedikit. Akan banyak duka dan suka, pasang dan surut di sana. Tidak ada target yang benar-benar tertulis, seperti misalnya kepastian naik jabatan atau kenaikan gaji, bahkan tidak ada tenggat waktu dan kontrak dalam kehidupan setelah jam 5 sore, semuanya murni soal rasa dan asa.

Apa hadiahnya? Kalau berhasil, menurut saya, setiap dari kita akan memiliki tempat pulang. Memiliki sebuah kehidupan yang membantu kita berkembang, bersyukur, bersabar, dan berjuang. Membuat kita lebih awas dan berhat-hati. Lalu apa jadinya kalau kita gagal, atau memutuskan untuk tidak memiliki kehidupan setelah jam 5 sore? Besar perkiraan saya, kita akan merasa terombang-ambing dan merasa ada sesuatu yang kurang lengkap. Seperti ada lubang yang harus diisi oleh entah apa.

Jujur, sayapun baru saja menyadari urgensi dari kehidupan setelah jam 5 sore ini.

Itu terjadi ketika suatu hari, seorang sahabat membutuhkan saya untuk berbagi keluh kesah. Tapi pada saat itu, saya tidak bisa berada di sisinya karena alasan pekerjaan. Kalau diingat-ingat, saya sebetulnya bisa saja menyempatkan satu atau dua jam mengunjunginya dan memberikan dukungan moral. Namun yang saya lakukan adalah meminta maaf padanya dengan alasan kesibukan. Beberapa bulan kemudian, saya yang gantian membutuhkan dia untuk membesarkan hati saya. Lalu dengan bahasa yang cukup sopan, dia sedikit “menyentil” saya, berkata bahwa sama seperti saya dulu, dia pun sedang dalam kesibukan yang tidak bisa diganggu.

Atau suatu hari, ketika saya benar-benar membutuhkan dukungan moral, yang ada dalam benak saya adalah menelfon mama. Sayapun bercerita tentang gundah gulana di hati saya dan beliau mendengarkan dengan seksama dan memberikan dukungan moral untuk saya. Padahal, jika sedang berada di dekatnya, saya lebih sering beradu argumen dan mementingkan hal lain daripada beliau.

Tersadarlah saya bahwa kehidupan setelah jam 5 sore adalah hal yang dibutuhkan manusia untuk tetap hidup dan bertahan di dunia. Namun harga yang harus dibayar untuk mendapat kehidupan setelah jam 5 sore, sungguh sangat mahal! Sederhananya, saya tidak akan bisa mendapat semua perasaan nyaman dan aman, kalau saya sendiri tidak memiliki perjuangan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman dalam kehidupan jam 5 sore itu. Dengan kata lain, ini adalah kehidupan timbal balik yang paling berfaedah, namun di sisi lain, memiliki banyak tantangan.

Banyak orang salah kaprah dengan kehidupan jam 5 sore. Beberapa terburu-buru memilikinya, hingga lupa bahwa ini membutuhkan lebih dari sekedar keinginan untuk menjadikannya berhasil. Beberapa lainnya lari menghindari ini karena merasa terlalu banyak hal yang dituntut, dan memutuskan untuk selamanya berpindah dari satu kesibukan kepada kesibukan lain. Sedangkan yang lain merasa bahwa kehidupan jam 5 sore adalah sebuah pencapaian saja, sama seperti karir.

Namun seperti yang saya katakan, kehidupan setelah jam 5 sore adalah kehidupan yang jujur. Tidak ada yang bisa menipu atau berpura-pura dalam menjalaninya. Dan karenanya, tidak semua orang dapat mengklaim telah memiliki kehidupan ini. Kita mungkin bisa saja memutuskan untuk keluar dari tempat bekerja kita karena berbagai alasan, namun semudah itukah kalau kita ingin keluar dari kehidupan setelah jam 5 sore?

Pada akhirnya, apapun perlakuan dunia pada kita, baik atau buruk, kita butuh tempat pulang. Kita semua butuh kehidupan setelah jam 5 sore, tidak peduli seberapa berat perjuangan kita untuk memilikinya.

Maka ketika saya mengganti baju kerja dengan kaos oblong dan celana tidur, memakai masker, naik ke lantai dua, dan menyapa 3 orang wanita kosan sambil membicarakan barang apa yang sedang diskon di online shop, gosip artis apa yang sedang ramai dibicarakan netizen, atau secara random nyeletuk “Kapan sih kita nikah?”, atau “main tebak lagu yuk!”, jauh di lubuk hati, saya tahu bahwa hidup saya tidak sekedar berdarmawisata.



Itu cukup, setidaknya untuk saat ini.

© RIWAYAT
Maira Gall