Selasa, 21 Mei 2019

kereta saat itu

Saat itu bulan sedang bulat, dan dia tidur bersandar pada jendela kereta.
Saat itu dini hari dan dia terbangun.

Diam sejenak dan dia terisak.

Entah lewat apa, boleh udara, boleh juga bisikan. Tapi beritahu, beritahukanlah, bahwa dia ingin sekali meminta maaf, karena dia tidak menyebutkan sepatah kata, atau bahkan melempar sesimpul senyum saat dia tahu bahwa dia sebenarnya mau dan mampu.

Dia terisak, berharap maafnya sampai pada pemiliknya.

Dia terisak.

Hingga reda rindunya dan lapang hatinya.

Dia terisak di sudut malam di sebuah perjalanan kereta menuju kotanya.


Bukan Kanan, Bukan Kiri, Tidak Depan, Tidak Belakang. Ya terus?

 “Redam badai, lakukan dengan tenang”
(Jikustik)

Salah satu hal yang saya pelajari dari perjalanan umroh yang sempat saya lakukan beberapa waktu yang lalu adalah, betapa manusia diajarkan untuk dapat tegar menghadapi ketidakpastian hidup. Saya merenungi hal ini ketika melakukan Sa’i, yaitu berjalan kaki 7 kali bolak balik dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah yang setara dengan 3,5 kilo. Sa’i sendiri bisa dikatakan seperti napak tilas perjalanan seorang perempuan bernama Siti Hajar yang ditinggal sendiri dengan bayi mungilnya, Ismail, tanpa petunjuk apapun ribuan tahun yang lalu.

Saya sendiri mencoba membayangkan bagaimana jika saya menjadi seorang Siti Hajar, berada di gurun pasir, sendirian, ditemani dengan seorang bayi mungil yang menangis karena kehausan. Saya mencoba membayangkan betapa clueless nya Siti Hajar saat itu. Detik demi detik yang dia habiskan dalam proses mencari air, dilakukan tanpa kepastian. Mungkin pada saat itu yang dia bayangkan adalah dia harus berjalan kaki seharian demi mencari air, atau mungkin dia membayangkan bahwa bayi mungilnya akan meninggal dunia karena dia gagal mendapatkan air. Dalam ketidakpastian itu, tidak ada yang memberitahukannya bahwa sebenarnya dia hanya cukup berjalan 3,5 kilo bolak-balik di bawah sengatan matahari dan di padang pasir yang gersang. Serta tidak ada yang memberikannya petunjuk bahwa ternyata, air yang dia cari justru keluar tidak jauh dari tempat Ismail di letakkan. Mungkin jika Siti Hajar tidak memiliki sopan santun, dia akan mengadahkan kepalanya ke langit, dan berkata, ‘Ya Rabb, jauh-jauh jalan, ujung-ujungnya cuma di sini airnya?’.

Siti Hajar dan usahanya naik turun bukit sebanyak 7 kali demi mencari air, menyadarkan saya bahwa dalam kondisi terbingung manusia saat berada dalam ketidakpastian hidupnyapun, usaha yang dilakukan manusia sering kali meleset dengan hasil yang dia terima.

Tahun 2018, saya sempat bekerja di salah satu institusi pemerintah, dan salah satu teman kerja saya pada saat itu sedang dalam usaha untuk menemukan tempat kerjaan lain, yang menurut dia lebih stabil. Dia pun mencoba berbagai macam lowongan, mulai dari CPNS, BUMN, Seleksi Bank Indonesia, dan banyak hal. Saat proses mencoba mencari peruntungannya, saya kerap melihat dia uring-uringan. Sedikit-sedikit mengecek website untuk mencari tahu apakah dia lolos tahap selanjutnya atau tidak. Bahkan kalau sedang hari pengumuman, dia tidak bisa bekerja dengan fokus, yang dia lakukan hanyalah menghela nafas berkali-kali dan menjadi sangat berisik. Di hari pengumuman, dia selalu berkata ‘Duh buruan pengumuman dong, biar gue tenang nih’. Hidup dalam ketidakpastian ternyata mampu membuat dia lunglai seharian.

Hal yang sama juga dialami oleh junior saya di radio, yang curhat panjang lebar tentang ketidakpastian hidup setelah lulus kuliah. Dia merasa bahwa bekerja di bank bukan hal yang dia inginkan, tapi jika dia memutuskan untuk keluar, dia juga bingung harus menghidupi diri dengan seperti apa. Tipikal masalah fresh graduate memang. Dia merasa resah menatap masa depannya yang sangat kabur. Maka sayapun membalas kegalauan hatinya dengan bercerita bahwa sayapun pernah mengalami kegalauan yang persis seperti yang dia hadapi saat baru lulus kuliah. Saat itu juga saya merasa hidup ke depan menjadi sangat berkabut. Tidak tahu apakah di depan sana ada jurang atau jalan searah, bahkan lebih dari itu, saya tidak tahu harus berjalan ke kanan atau ke kiri. Saya katakan dengan cukup diplomatis bahwa pada akhirnya, waktu akan menjawab semua keresahan itu, dan sambil menunggu itu semua, yang bisa dia lakukan adalah mencoba berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan hidup yang dia inginkan.

Tapi hidup memang tidak pernah menjadi pasti, dan kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah itu semua.

Dalam pengalaman saya mengalami puluhan kali ketidakpastian hidup, saya merasa bahwa yang pada akhirnya yang membuat menderita adalah karena tidak adanya kepastian kapan ini semua akan berkahir. Dengan kata lain, menunggu sebuah kepastian dalam proses ini, sungguh luar biasa menantang. Jangankan ketidakpastian dalam skala besar, menunggu kepastian apakah bapak atau ibu gojeg akan menjemput saya atau tidak saja, bisa menjadi waktu yang meresahkan. Sehingga saya menyadari bahwa bukan ketidakpastiannya yang menyakitkan, atau menyulitkan untuk dilalui, tapi waktu yang berjalan di tengah-tengah ketidakpastian itulah yang sangat meresahkan.

Jikalau Siti Hajar diberitahu bahwa dia hanya akan mendaki bukit sebanyak 7 kali, dan pada akhirnya mata air yang dia cari ada di dekat anaknya, mungkin dia tidak akan merasa kelelahan dan seketakutan itu. Mantan teman kantor saya itu misalnya, yang saat ini dia sudah diterima di salah satu BUMN. Jika pada akhirnya dia diberitahu bahwa dia hanya akan melewati proses panjang itu selama 3 bulan saja, mungkin dia akan berkata ‘oh 3 bulan, bentar lah…’. Saya yakin dia pasti tidak akan sedemikian resah gelisah dan bersikap menyebalkan selama 3 bulan dalam menghadapi proses mencari kerja baru. Atau jika saya diberitahu dari awal bahwa hanya berselang satu tahun saja setelah saya lulus, saya akan mendapatkan pekerjaan yang menarik, pasti saya akan menjalani setahun dengan banyak tertawa dan bersenda gurau, tidak perlu segitunya bercemas.

Mungkin sebagai manusia, kita merasa bahwa akan lebih memudahkan jika kita diberitahu sedikit bocoran tentang waktu, atau tentang jawaban yang kita tunggu dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Tapi mungking, jika itu dilakukan, kita tidak akan pernah belajar mengenai satu nilai penting dalam kehidupan. Kita tidak akan belajar bahwa ketidakpastian sengaja dihadirkan sebagai pengingat, bahwa sebagai manusia, kita punya keterbatasan untuk mengkontrol banyak hal, termasuk mengkontrol hidup kita sendiri.

Semua orang berjuang dalam ketidakpastian, bertahan dalam kebingungan, dan mencoba sekuat tenaga untuk tetap berjalan walau jalan di depan mata terlihat sangat remang-remang. Namun kabar baiknya adalah, pada waktunya, itu akan menjadi jelas dan terang.

Siapapun yang pernah berada dalam ketidakpastian pasti tahu bagaimana cemasnya menjalani hidup di setiap detiknya. Mereka yang menganggur misalnya, pasti akan sangat cemas memikirkan apakah dia bisa membiayai hidupnya esok hari atau tidak tanpa memiliki pekerjaan. Mereka yang mencoba program bayi tabung, berharap-harap cemas apakah program ini akan menjadikan mereka memiliki keturunan atau tidak. Hingga pada akhirnya, tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain sekuat tenaga berjalan ke depan, mencoba melalukan seribu satu usaha, dan berharap esok hari sedikit kepastian akan terbuka.

Ketidakpastian menjadi sebuah sistem di alam ini untuk mengajarkan manusia agar mau memahami, bahwa pada dasarnya, terbuka atau tidaknya sebuah jalan, bukan bagian dari intervensi manusia itu sendiri. Setidaknya, inilah cara termudah agar manusia mau merendah dan mengakui keterbatasannya.

Lantas jika hidup kita yakini sebagai sebuah proses panjang, di mana kita akan berjalan dari satu ketidakpastian menuju ketidakpastian lainnya, lalu bagaimana cara terbaik agar manusia dapat bertahan?

Di akhir tahun 2018, saya dan beberapa teman merencanakan untuk pergi berlibur. Mengingat bahwa kami berempat tidak memiliki waktu yang panjang, maka diputuskanlah bahwa kami akan melakukan glamping (berkemah tapi fancy) saja di Ciwidey, yang murah dan dekat. Mengantisipasi ramainya orang yang akan datang ke Ciwidey untuk Glamping dan harga yang melonjak karena peak season, maka kamipun melalukan pemesanan tenda 2 bulan sebelum berlibur. Alasan sederhana, biar ada kepastian sehingga liburan tetap jadi dilakukan. Selama 2 bulan menunggu waktu liburan, rasanya beban ‘mau berlibur di mana’ sudah terjawab, PR selanjutnya kala itu hanyalah mengurusi hal-hal teknis seperti itenari perjalanan dan mau pake baju apa.

Sudah menjadi tabiatnya bahwa manusia akan senantiasa mencari kepastian-kepastian kecil yang akan membuat hidupnya sedikit lebih tenang. Bukankah itu alasan kita melakukan reservasi beberapa jam sebelumnya untuk bisa makan di sebuah restoran saat jam makan siang? Atau membayar uang DP sebagai jaminan memiliki properti pilihan kita? Atau bertanya berulang kali pada anggota group WhatsApp, siapa yang bisa hadir dalam acara buka bersama? Karena kita butuh mendapatkan sedikit saja kepastian dalam mengarungi ketidakpastian hidup ini. Tidakkah ini menunjukan bahwa pada akhirnya manusia membutuhkan janji dalam menjalani ketidakpastian? Membutuhkan Penjamin bahwa dalam proses menunggunya, kita bisa tenang melewatinya?

Lalu jika tidak tidak mau berpegang pada hal-hal yang pasti, atau meyakini pada satu janji bahwa ini akan terlewati, lantas bagaimana cara manusia menjalani detik demi detik proses dalam ketidakpastian dengan waras?

Ataukah mungkin ada cara lain?


Jumat, 10 Mei 2019

Hidup Tidak Akan Menjadi Obesitas

Kita selalu hidup dengan pilihan. Tapi entah kenapa, semakin ke sini, pilihan yang tersedia bukannya semakin membantu, tapi malah semakin membingungkan.

Saat saya harus bergelut mencari pilihan jurusan, kampus serta beasiswa yang sesuai dengan idealisme saya untuk melanjutkan sekolah master, saya dibuat mabuk kapayang dengan banyaknya jurusan dan kampus yang menurut saya menarik. Sama halnya seperti mencari baju lebaran di Thamrin City, yang setiap tenantnya membuat saya mampir sebentar untuk bertanya harganya, saya ini cukup mudah terdistraksi dengan program-program yang berkaitan dengan manusia dan tindak-tanduknya. Maka jadilah, saya menghabiskan waktu berbulan-bulan lamanya hanya untuk membaca program descriptions dan course syllabuses dari program yang mayoritasnya tidak sesuai dengan latar belakang pekerjaan dan pendidikan saya. Saya pernah ingin putar haluan dan belajar mind and humanity, padahal itu sebenarnya jurusan untuk lulusan psikologi klinis. Hingga akhirnya seorang teman mengingatkan saya, “Kan ada filternya, kamu pake dong filternya, pilih aja yang sesuai tujuan kamu belajar. Kamu mau mendalami apa, jangan dibaca semuanya, abis waktunya”

Saat dia berkata ‘habis waktunya’, saya agak sedikit kesal mendengarnya. Di satu sisi saya merasa dia tidak menghargai usaha saya untuk membaca dengan teliti semua program master yang menarik bagi saya. Tapi di sisi lainnya, saya merasa dia benar, bahwa saya akan menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan membaca program jurusan yang saya sendiri tidak akan keterima, sederhananya karena tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya. Maka sesuai dengan sarannya, sayapun menggunakan fitur filter dengan baik. Saya memasukan semua kata kunci yang sesuai, dan hasilnya, jurusan yang saya inginkan justru hanya sedikit dan bahkan di beberapa negara dan kampus tertentu, jurusan yang saya inginkan malah tidak tersedia. Dan barulah saya menyadari bahwa pembatasan adalah yang baik. Limitasi adalah hal yang sesungguhnya akan membantu saya sebagai manusia untuk dapat memilih.

Namun jika pembatasan adalah hal yang berguna, apakah semua orang bersedia dibatasi atau diberi batasan? Terutama para manusia dewasa yang ketika semakin banyak melihat dunia, dan semakin sering berinterasi, maka semakin menganggap bahwa tanpa batas adalah sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh semua manusia yang merdeka. Menganggap bahwa dengan memiliki pilihan yang tanpa batas maka sebagai manusia, mereka akan lebih merasakan esensinya, dan berdalih ‘memangnya kenapa kalau aku mau melakukan ini, ini kan hidup aku’.

Semua orang pasti pernah berada dalam masa-masa hidup dimana dia ingin melakukan eksplorasi pada hidupnya, mencoba semua hal, melawan semua batasan, ingin ini dan ingin itu, hanya untuk mencari tahu tujuan hidup. Kalau begitu, mari kita tanyakan pada mereka yang telah melakukan eksplorasi itu, tanyakan pada meraka satu pertanyaan, ‘Coba deh kasih tau aku, what is your life hack”, dan mari dengar jawaban mereka. Saat saya mencoba ini kepada beberapa teman-teman dan saudara, mayoritas dari mereka menjawab dengan menggunakan kata jangan.

Mantan teman kerja saya, seorang lelaki, dia berkata “Jangan pernah ngelakuin friend with benefit habis putus. Intinya jangan pernah nyari rebound deh. Bukannya ngobatin, malah bikin runyam”. Yang lain pernah berkata “Kalau masih muda, jangan dulu lah ngejar gaji gede, yang penting bosnya enak, mau mentoring dan bagi ilmunya, trus job desk kerjaanya kamu banget. Uang gede ntaran lah…”. Atau kalau kata tante saya yang dulunya terkenal super engga bisa diatur berkata, “Jangan ngelawan orang tua”.

Seakan-akan dengan kata ‘jangan’ yang mereka gunakan, meraka ingin memberikan sebuah batasan bahwa hal-hal tersebut bukan hal yang baik untuk dilakukan. Tapi apakah sebagai manusia, lantas kita akan menurut begitu saja? Padahal, semua life hacks yang mereka katakan itu sama maknanya dengan nasihat kehidupan dari jaman dulu, hanya beda redaksinya saja. Ini membuktikan apa? Kalau pada dasarnya, mungkin memang kitanya saja yang kalau belum kena getahnya, belum mau dibatasi?

Hidup memang cukup membosankan dengan adanya pembatasan, terlebih bagi mereka yang pada dasarnya percaya pada prinsip-prinsip hidup tertentu. Tapi pengalaman mengajarkan pada saya, bahwa justru dengan adanya pembatasan, hidup saya menjadi lebih mudah untuk dijalani. Mengutip apa yang selalu teman saya lakukan saat memesan makanan di restoran, dia akan selalu bertanya pada pramusajinya, ‘apa yang habis atau lagi engga ada di menunya mbak/mas?’. Saat saya tanya alasannya, dia menjawab, ‘ya ketimbang aku harus mendengar jawabaan ‘oh yang itu lagi kosong mbak…’, kan buang-buang tenaga, mending fokus sama makanan dan minuman yang tersedia aja’.

Sebenarnya, tidak semua pembatasan itu mengekang, dan tidak semua hal yang membebaskan itu memerdekakan. Sering kejadian, justru kekacauan terjadi saat semua hal dibebaskan, dan keteraturan terjadi saat pembatasan dilakukan. Itu juga yang kita rasakan saat menunggu lampu merah, bukan? Apa jadinya jika pada sebuah perempatan, lalu semua pengguna jalan bebas jalan ke semua arah tanpa mengikuti lampu lalu lintas?

Di sebuah malam, saya pernah melakukan reuni kecil-kecilan dengan beberapa teman kuliah. Saat sudah semakin malam, kami berempat beralih dari topik soal kerjaan ke topik asmara. Topiknya waktu itu adalah bagaimana caranya kita tahu bahwa dari milyaran manusia, seseorang itu adalah jodoh kita. Klise, bukan? Saya bilang begini, “katanya orang-orang sih… you know, when you know. When you know, you know”. Perkataan saya langsung dibantai oleh seorang teman saya, dia bilang, “itu abstrak banget, harus ada indikator konkritnya. Kalau aku, aku akan nentuin dulu deal breakernya, misalnya nih, aku engga suka sama perempuan yang bau ketek. Kalau setiap hari dia bau ketek, ya itu udah deal breaker buatku. Berarti bukan dia”. Saya jawab lagi, “Tapi kalau kamunya nyaman? Hayo?”. Dan dia menjawab, “aku ga nyaman. Makanya itu deal breaker”. “Trus kalau dia bisa jadi perempuan yang wangi?”, tanya saya lagi. “Ya aku bisa sama dia”.

Pada akhirnya, kita harus menentukan dulu apa yang kita cari, sebelum menentukan filter atau deal breakernya, atau sebelum kita dibuat kebingungan dengan semua pilihan hidup. Jika kita sudah tau apa yang kita cari, kita sebenarnya bisa mengatur hidup yang kita mau. Anggaplah tujuan kita adalah ‘ingin hidup sehat’, maka pastilah pilihan kita menjadi terbatas pada mengkonsumsi makan-makanan sehat, rutin olahraga, atau lainnya. Atau kalau tujuan kita adalah ‘memilik hati tenang’, mungkin pilihannya menjadi terbatas pada jangan punya hutang kartu kredit, atau jangan jadi pelakor. Akan runyam perkaranya jika kita mencoba makan makanan berlemak setiap harinya tapi berharap sehat tanpa kolestrol atau asam uart. Atau bagaimana bisa bertemu tujuan memiliki hati yang tenang jika kita selalu hidup selalu dengan kepura-puraan? Akan tetapi, kalaupun kita sudah menetapkan tujuan dan hidup pada akhirnya memberikan kita banyak batasan, pertanyaannya yang harus dijawab adalah: akankah kita menurutinya?

Saya pribadi melihat bahwa hidup itu sendiri sudah memiliki keterbatasan, begitupun saat kita hadir di dunia, kita hadir dengan pilihan yang terbatas. Dengan waktu yang juga terbatas, kematian bisa terjadi kapan saja, manusia sebenaranya tidak dibiarkan untuk mencoba semua pilihan dan menderita karenanya. Untuk itulah kita lahir dengan akal dan perasaan untuk dapat menilai mana pilihan yang tepat dan mana yang tidak. Untuk belajar menerima bahwa pembatasan itu, dibuat untuk mempermudah hidup manusia. Dan tentunya agar waktu kita tidak terbuang percuma hanya untuk pindah dari satu kebingungan ke kebingungan lainnya.

Namun apalah daya, sesuai kodratnya, manusianya yang sering kali tidak mau tahu, atau tidak mau diberitahu, dan akhirnya mencoba menerabas batasan. Memang betul bahwa semua orang pasti akan belajar dari kesalahan yang diperbuatnya, dan itu bukan menjadi sesuatu yang sia-sia. Tapi jika pada dasarnya kita sendiri yang menolak dibatasi untuk sesuatu yang memang buruk untuk hidup kita, tidakkah itu namanya kita membuang waktu untuk menderita secara sia-sia?


Kita saat tidak mengerti apa-apa

 “Lihat segalanya lebih dekat dan ku bisa menilai lebih bijaksana.
Mengapa bintang bersinar, mengapa air mengalir, mengapa dunia berputar.
Lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti”
(Sherina - Lihat Lebih Dekat)


Beberapa minggu yang lalu, saya sempat melihat video menarik berjudul ‘How To Choose A Partner Wisely’ dari channel youtube ‘The School of Life’. Awalnya saya berpikir bahwa video itu hanya akan menjelaskan tips-tips mencari pasangan hidup melalui teori-teori psikologi pada umumnya, ya katakanlah seperti bagaimana kita harus menyesuaikan karakter kita dengan pasangan atau hal-hal semacam itu. Namun rupanya, video itu menjelaskan keterkaitan antara masa kecil dan remaja kita dengan preferensi kita setelah menjadi orang dewasa dalam mencari pasangan hidup dan menjalin hubungan. Secara singkat, video itu memberikan saran agar kita mau untuk duduk sejenak, mengingat masa lalu kita saat masih kecil, lalu menuliskan hal-hal apa saja yang kita anggap sebagai kasih sayang, siapa yang kita anggap sebagai pribadi yang menyenangkan, hingga hal-hal apa saja yang mengecawakan bagi kita.

Dalam bagian akhirnya, si narator berkata “Examining our personal histories, we learn that we can't just be attracted to anyone. Ultimately, we stand to be liberated to love different people to our initial types. When we find the qualities we like and the ones, we very much fear can be found in different constellations from those we encountered in the people who first thought us about affection. Long ago, in a childhood, we should strive to understand and in many ways free ourselves from”


Bertepatan dengan itu, di hari minggu yang lalu, teman baik saya, datang ke saya dan bercerita.

“Aku barusan ngabisin waktu satu jam buat telfonan sama mama dan adekku, tahu ga tadi mamaku bilang apa? Dia bilang, mungkin alasan kenapa sampe sekarang aku belum ketemu sama jodohku, itu karena aku masih marah sama papahku soal kejadian waktu dia selingkuh, waktu aku masih SMP”

“Hah?” Kata saya bingung

“Iya, katanya mamaku, bisa aja karena aku masih belum maafin papahku, aku sekarang susah ketemu jodohku. Aku kan bingung ya, makanya aku tanya ke mama, ‘lah yang harus minta maaf itu aku atau papah si ma?’. Kata mamaku ‘ya kamu lah’. Trus aku jawab ‘aku udah maafin sejak lama, aku malah udah lupa kejadiannya’. Coba deh, aneh banget kan si mama? Kamu kan liat sendiri, aku sama papaku baik-baik aja. Ya kan?”

Saya menggangguk tanda setuju.

“Ya emang sih… aku tuh lebih deket sama mamaku, tapi aku juga masih sering kok diskusi sama papa, apalagi untuk urusan-urusan yang ada hubungannya sama masa depan.”

“Tapi kamu sendiri gimana? Sejujurnya udah maafin papahmu?” Tanya saya menyelidiki.

“Udah kok… ya biasa aja sekarang, aku anggap sebagai kejadian di masa lalu. Bukan jadi beban gitu loh” Katanya dengan nada tenang, lalu melanjutkan dengan berkata, “Tapi kalau itu yang mamaku mau, ya gapapa aku jabanin. Pas pulang ke rumah, aku nanti minta maaf sama papa”

Lalu kamipun berdiskusi tentang perselingkuhan yang sempat mewarnai kehidupan remaja teman saya itu, dan bagaimana dia dan mamanya menghadapi kejadian itu.

Setelah selesai, saya terdiam dan berkata padanya, “Aku sekarang bisa lebih ngerti sih, kenapa kamu suka sama lelaki-lelaki yang terlalu rasional dan logis, dan kamu sendiri juga engga suka berada di hubungan yang terlalu menye-menye. Dan kamu punya banyak standar dan kesannya heartless banget sama lelaki. Ya gimana engga, kamu di usia sebelia itu, harus jadi yang paling kuat, ngurusin adek-adekmu, ngurusin mamamu, dan tetap harus hormat sama papamu. Di saat yang bersamaan, kamu juga harus tetap menjaga mimpimu masuk ke SMA favorit. Kamu harus jadi yang paling logis dan rasional saat itu, supaya tetep ada orang yang waras. Kamu udah jalanin peran pemimpin kayak gitu di usia yang semuda itu… ya pantes aja kalau kamu selalu tertarik sama lelaki yang bisa diandalin, yang engga banyak rayuan gombal, dan kamu sendiri juga tumbuh jadi anak yang practical banget. Mungkin masa kecilmu itu kebawa sampe sekarang, yang ngebentuk kamu sekarang ini” Kata saya panjang lebar mencoba menjadi analis gadungan.

Obrolan menarik dengan teman saya itu lantas membuat saya sendiri ikut merenung dan berbalik ke belakang, mengintip masa-masa kecil dan remaja saya. Saya mencoba mengingat perlakukan apa yang saya alami, cinta pertama seperti apa yang saya rasakan, hingga siapa yang berperan paling besar dalam pertumbuhan emosi saya.

Saya mencoba membuat garis merah dari kehidupan masa kecil dan remaja yang saya alami dengan hubungan percintaan saya. Dan hasilnya, cukup membuat saya akhirnya menyadari beberapa hal.

Saya baru tersadar, bahwa lelaki-lelaki yang saya ijinkan masuk dalam hidup saya, terlepas dari apakah kami punya status hubungan atau tidak, adalah mereka yang mengejar saya hingga titik darah penghabisan dan yang telah mencoba 1001 cara supaya mereka bisa dekat dengan saya. Dulu, seorang teman bahkan pernah memarahi saya karena saya hobi membuat perasaan lelaki seperti bermain layang-layang. Kalau sudah jauh ditarik, kalau terlalu dekat diulur, kalau sudah bosan diputus sepihak. Baru sekarang semua itu terasa masuk akal dan saya merasa itu memang ada hubungnnya dengan kehidupan di masa kecil dan remaja saya.

Waktu kecil, saya mengalami banyak peristiwa yang membuat saya merasa ditinggalkan dan tidak diinginkan oleh siapa-siapa. Dan karena tidak ada yang memberikan penjelasan pada saya apa yang sedang terjadi saat itu, maka kejadian itu terekam dalam pikiran saya dan sedikit banyak terbawa hingga dewasa. Jadilah kini saya sulit sekali berada di suatu hubungan. Saya bisa dekat dengan banyak lelaki, tapi tidak sampai punya hubungan kuat. Ada bagian dalam diri saya yang berkata bahwa saya harus melihat dia berdarah-darah dulu agar saya yakin, dan kalau dia pergi saat saya belum merasa yakin (dan ini sering kejadian), saya tidak akan mencari dia atau melunakan sikap saya.

Teman-teman sayapun merasa bahwa saya mempunyai standar dan kriteria yang terlalu tinggi, padahal sebenarnya, saya hanya ingin merasakan sebuah perasaan di mana saya merasa bahwa saya ini diingkan. Bahkan dalam hubungan asmara saya yang terakhir, tiap kali tugas lapangan, saya akan memberikan jadwal keluar lapangan dan memintanya untuk menelfon saya tepat waktu. Mungkin itu ada kaitannya dengan betapa inginnya saya merasakan perasaan bahwa saya dicari, bahwa saya ini ada. Parasaan masa kecil dimana saya merasa diabaikan dan ditinggalkan, mungkin menjadi sebuah indikator bagi saya dalam menentukan keseriusan seorang lelaki.

Tapi sebenarnya hal ini tidak adil bagi saya. Karena bisa jadi, saya melewatkan kesempatan bersama dengan lelaki-lelaki baik hati, hanya karena di mata saya seseorang itu belum berusaha sekuat tenaga untuk menunjukan keseriusannya. Padahal mungkin saja, mereka itu, ya sudah berusaha sedemikian keras menurut versi mereka. Hmmm…

Tidak hanya berkaitan dengan percintaan saja sepertinya, saya yakin masa-masa kecil dan remaja juga berdampak pada aspek lainnya di kehidupan orang dewasa.

Baru-baru ini salah satu teman kos tercinta saya menonton drama korea berjudul, New Castle. Katanya, itu adalah drama korea yang menceritakan obsesi keluarga untuk mendidik anak-anak mereka agar meneruskan reputasi orang tuanya yang sudah mahsyur. Salah satu tokohnya, akhirnya tumbuh menjadi seorang anak yang angkuh bukan main, merasa bahwa dia berasal dari gen keluarga yang berkualitas.

Maka di malam senin sambil menikmati keong rebus dan makaroni panggang, kami bertiga di kos, membahas drama korea itu dan mengaitkan dengan perlakukan orang tua kami saat kami masih SD. Dan kasus yang kami angkat adalah momen kenaikan kelas.

Saat Wahyuni menceritakan kisahnya, barulah saya paham kenapa dia bisa tumbuh jadi anak periang dan pekerja keras di saat yang bersamaan, katanya, “Waktu aku SD, aku kan mau ya kalau namaku dipanggil di aula karena masuk 3 besar. Tapi aku ngerasa aku ga bisa dapet rangking 3 besar. Aku bilang ke bapakku, yang intintinya aku takut kalau nanti bikin dia malu pas rapotan. Trus bapakku ngomong, ‘kamu lulus aja, udah bikin bapak seneng kok’. Trus pas bagi rapot, kan siswa-siswanya engga boleh masuk ya, cuma boleh ngintip di jendela aja. Pas bapakku masuk, aku ngintip tuh, dari luar aku liat bapakku ngacungin jempolnya, dan itu udah cukup bikin aku lega. Abis bapakku ngasih jempolnya, aku bisa main sama teman-temenku”. Saya dan Ica yang mendengar cerita itu hanya serempak memberikan suara terharu ‘aaa…..’

Sebuah artikel menarik dari TIME berjudul ‘They Were Orphaned by the Rwandan Genocide. 25 Years Later, They’re Interviewing the Perpetrators’ menceritakan seorang fotografer, David Jiranek, yang membuat sebuah workshop bernama Through the Eyes of Children. Workshop itu dibuat agar anak-anak yang selamat dari genosida dapat bercerita tentang perasaannya. Saat karya itu di pamerkan di keduataan besar Rwanda di Kigali, di kantor pusat United Nations di New York, serta di semua museum Holocaust di seluruh dunia, Joanne McKinney, project director Through the Eyes of Children berkata, “When you give a child a chance to tell their story from their perspective, it tells them they matter, and that their story matters,”.

Namun tentu saja, apa yang sudah terjadi di masa-masa kecil dan remaja kita, tidak akan bisa diubah lagi. Dan jadilah kita, sebagai produk masa kecil. Dan sayangnya juga, tidak akan ada organisasi kemanusiaan yang bersedia meluangkan waktunya untuk satu persatu mendatangi seluruh manusia dewasa dan membuat mereka semua mau berdamai dengan masa kecil mereka, terutama jika masa-masa itu memberikan beban yang besar bagi kehidupan dewasanya. Kita sendiri adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk membereskan semua masa kecil kita, dan berdamai dengan itu semua.

Hidup adalah proses pajang yang akan selalu berjalan. Sebagai manusia dewasa, kita tidak bisa menjadikan masa kecil kita sebagai pembenaran atas tindakan-tindakan kita, atau menghalangi kita memiliki kebahagiaan yang sebenarnya. Jadi walaupun masa-masa itu tidak bisa diulang, tapi kita bisa memperbaikinya sekarang. Jika di masa kecil kita tidak punya banyak pilihan, hari ini kita bisa memilih untuk menjadi manusia dewasa seperti yang kita inginkan.

Saya jadi teringat adegan Robin Williams dan Matt Damon di film Good Will Hunting (1997) pada saat akhirnya Robin menyadari bahwa masa kecil Matt dipenuhi dengan kekerasan fisik. Robbin hanya berkata, ‘it is not your fault’ sebanyak lebih dari 5 kali hingga Matt memahami bahwa apa yang terjadi di masa kecilnya, bukan salahnya. Saya setuju dengan Robin, tidak boleh ada penghakiman untuk masa lalu. We learn and we grow.

Maka kembali lagi pada korelasi hubungan percintaan dengan masa kecil kita. Jika pada akhirnya kita memilih untuk bersama dengan seseorang yang entah mengapa membuat kita merasa utuh, sedang diri kita tidak mengetahui secara pasti apa alasannya, mengutip istilah dari Ica, katakan pada diri kita sendiri dan mereka yang bertanya, ‘soalnya dia itu my childhood’.

Dan semoga kita bisa bersama dengan seseorang yang membuat kita bersedia untuk pelan-pelan membawanya ke masa-masa kecil dan remaja kita, mengenalkannya pada semua emosi-emosi pertama yang kita rasakan sebagai manusia, dan berkata padanya, “Banyak hal dari aku yang masih eror, dan aku masih berjuang buat menerima hidupku apa adanya. Biar kamu paham, bahwa aku yang hari ini, terbentuk dari aku yang kemaren. Tapi dalam proses aku tumbuh dan berkembang sebagai manusia, aku sedang belajar untuk mencintai hal baru, mencintai kita”


Jumat, 25 Januari 2019

Bukan Manusia yang Bebal, Tapi Harapan Adalah Harapan

Dalam sebuah makan malam bersama seorang teman baik, dia menceritakan pada saya sebuah kisah, bahwa pada suatu malam, seorang wanita kenalanya menelfonnya tersedu-sedu. Karena bingung harus menjawab apa, si teman saya itu hanya mampu menjadi pendengar yang baik saat si wanita itu berbicara dengan susah payah sambil menangis.  "Yang aku inget cuma dia bilang, 'ini itu engga ada harapan... aku tau ini engga ada harapan'", Kata teman saya menirukan si wanita. Teman saya itu lalu menceritakan pada saya sedikit kisah si wanita itu, bahwa si perempuan itu jatuh cinta pada seorang lelaki yang telah memiliki istri. "Dia itu ya dari awalnya udah sadar kalau engga ada harapan, tapi ya... engga tau juga kenapa masih aja dilanjutin", Kata teman saya antara tidak mengerti tapi kashian.

Saya mengangguk.

Beberapa malam yang lalu, saya bertemu dengan teman baik lainnya, Fian, kali itu dia bercerita soal novel hantu Belanda yang telah selesai dia baca. Di novel itu, si hantu itu bercerita pada si penulis mengapa dia masih belum mau pulang ke haribaan ruh. Usut punya usut, ternyata sebelum dia meninggal, orang tua angkatnya berjanji akan kembali datang untuk membawakannya dokter terbaik dari Belanda. Si anak yang kesakitan karena menderita kanker, percaya bahwa hal itu akan terjadi. Diapun menunggu dan menunggu hingga akhirnya meninggal dunia. "Dia masih berharap sampai sekarang orang tuanya bakal dateng beneran, bawain dia dokter, makanya dia masih gentayangan"

Saya mengangguk.

Sejak kecil hingga dewasa, kita selalu diajarkan untuk berjuang dan berusaha. Kita seakan diberitahu bahwa hidup adalah perjuangan dan bahan bakarnya adalah harapan. Maka selama masih ada harapan, maka hidup akan terus berjalan, dan perjuangan belum selesai. Itu bukan hal yang salah, tapi kurang lengkap, karena manusia  juga perlu belajar bagaimana caranya menyerah.

Baru kali ini selama saya hidup, saya mempelajari benda abstrak bernama harapan, yang digadang-gadang sebagai kekuatan utama manusia. Awalnya sederhana, pertanyaan saya tentang move on yang tidak kunjung bisa saya jawab dan putuskan. 

Dulu teman saya pernah berkata bahwa move on adalah perkara 'mau atau tidak', bukan 'bisa atau tidak'. Tapi rasa-rasanya, move on bukanlah sebuah kesanggupan atau keinginan, melainkan sebuah keberanian. Karena dia yang harus menghadapi dirinya sendiri, dan menikam mati harapannnya. Itu move on. Bisakah?

Saat heboh #10yearschallenge, saya tertegun melihat sebuah ilustrasi yang memperlihatkan bahwa selama 10 tahun berjalan, setiap hari kamis, seorang wanita tegap berdiri menggunakan baju warna hitam, membawa payung dan menuntut keadilan atas sanak saudaranya yang hilang. Dia adalah segelintir yang masih melakuan aksi #kamisan. Ini sedikit mengingatkan saya pada Amba, sosok fiktif di Novel Amba yang juga menunggu kekasih hatinya pulang saat pengakapan komunis tahun 65, hingga pada saat ia meninggal dunia pun, wasiatnya kepada anaknya adalah mencari si kekasih hatinya.

Beranikah kita, lantas berkata pada wanita yang tegap berdiri setiap hari kamis, atau kepada Amba, sebuah kalimat klise berbunyi, 'Sudahlah.... move on!'. Pada titik ini, tidakkah kita harus mengakui bahwa perkara move on bukan tentang hal-hal fisik. Ini tentang harapan. Ini tentang bahan baku manusia yang tidak dengan mudah bisa dimatikan.

Saya memiliki keyakinan bahwa Istri Almarhum Munir tidak lagi bersedih akan kematian suaminya, atau mereka yang berdiri tiap hari kamispun tidak lagi berharap sanak sudaranya masih hidup. Mereka semua sudah dipaksa sanggup menerima kenyataan bahwa secara fisik, mereka telah tiada. Bukan kesedihan merongrong macam itu yang mereka hadapi sekarang. Jadi kalau move on memiliki tingkatan, mereka telah lulus pada tingkatan pertama, tingkatan fisik. Tapi jika mereka dipaksa untuk membunuh harapan mereka yang hanya tinggal satu-satunya,  dipaksa untuk move on pada tingkatan ini, saya yakin mereka lebih memilih untuk mati saja.

Mungkin jika kita bisa mendampingi seseorang yang berharga dalam hidup kita menghadapi kematian, mulai dari menghembuskan nafas terakhir hingga masuk ke liang lahat, kita bisa menerima satu paket kehilangan, dan move on dengan suka cita. Atau ketika kalung berharga seharga milyaran milik kita jatuh dari ketinggian 1000 M dan hancur berkeping-keping. Maka sudah ya sudah, wong sudah hancur. Tapi bagaimana jika kita dipaksa untuk bertahan hidup dengan mengenggam harapan bahwa mungkin suatu hari, mereka atau sesuatu itu akan kembali? Mereka harus berhadapan dengan ketidakmungkinan yang dibungkus dengan harapan.

Memangnya apa lagi sih yang diharapkan? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan. Jawabannya tentu saja beragam. Mungkin bagi mereka yang memiliki kasus pada masa orde baru, harapannya terletak pada pengusutan keadilan. Mungkin bagi mereka yang tidak mungkin lagi menjadi seorang atlet karena satu dan lain hal, berharap anak keturunannya bisa mendapat medali emas. Mungkin bagi mereka yang tidak bisa melihat jasad orang yang mereka sayangi meninggal saat kecelakaan pesawat, berharap mendapat informari paling akurat tentang penyebabnya. Dengan beragam macam jenis harapan itu, mereka berharap bisa menentukan langkah selanjutnya, apakah terus berjalan atau berhenti berusaha. Dan bagi kita yang tidak berada dalam posisi itu, tugas kita hanya satu: meng-har-ga-i. Karena harapan adalah harapan.

Pernah ada yang mengatakan pada saya, bahwa harapan jangan pernah digantungkan kepada manusia, tapi pada Tuhan. Justru itulah poin pembicaraan ini, justru karena saking tingginya harapan mereka, mereka tidak lagi berharap pada manusia melainkan langsung menghubungi Yang Maha Kuasa. Inilah yang menjadikan sebuah harapan mempunyai kedudukan yang sulit untuk dihapus, karena bagaimana bisa manusia menghapus nama besar Tuhan sebagai sandaran semua harapan?

Jadi mungkinkah, untuk hal seabastrak harapan, juga harus kita kembalikan padaNya? Lalu apa yang tersisa dari manusia, jika harapan saja harus dikembalikan?

Di malam saya bertemu dengan Fian, dia bekata, 'Tapi semua harapanku tuh Peh, dikabulin. Cuma yaaa.. waktu sama kondisinya aja yang beda. Dulu pas S1, aku mau banget masuk UGM. Aku engga keterima, keterimanya di UPN. Ya udah, aku engga lagi berharap. Aku matiin harapanku. Tapi pas aku S2, semunya serba mudah, dan aku masuk UGM. Kayak... harapanku dikembaliin, dan aku diingetin lagi"

Perkataan Fian membuat saya menyadari bahwa harapan pun ternyata, adalah sebuah bentuk permainan antara kita dan Dia. Bisa jadi, saat harapan itu diminta kembali oleh pemiliknya, itu adalah titik awal harapan baru akan muncul di hidup kita. Bisa jadi, saat kita dengan lapang menyerahkan harapan kita padaNya, maka dia akan mengembalikan dengan jawaban yang kita tunggu, di waktu yang tepat. Bisa jadi, kita diminta menggenggam harapan itu, dan Dia sendiri yang memberi paket lengkap berupa kekuatan dan jalan keluar. Bisa jadi, harapan itu merupakan pertanyaan atas kesanggupan kita bertahan. Bisa jadi, saat harapan itu berdebu, maka Dia sendiri yang akan membersihkan. Bisa jadi, harapan itu kembali dengan wujud yang berbeda.

Lalu haruskah kita move on? Bisakah harapan itu mati, dimatikan? 

Saya memilih untuk menjawab tidak bisa. Karena harapan adalah udara yang tidak bisa dibunuh. Harapan adalah bahan bakar manusia. Maka hal terbaik yang harus manusia lakukan dengan harapannya, selain berusaha adalah, menunggu dengan pasrah.

Pada akhirnya, harapan hanya milik mereka yang percaya, yang dengan kelapangan hatinya, bersedia untuk ikhlas menunggu, hingga waktu dan jawaban itu akhirnya tiba. Juga milik mereka yang berjiwa besar untuk menerima, saat harapan itu akhirnya tidak hadir dalam bentuk keterkabulan seperti yang dia harapkan.

Mungkin bersyukur menjadi kata yang tepat, karena harapan tidak akan pernah hadir pada mereka yang dengan mudah berputus asa. Dengan memahami bahwa harapan adalah pemberian dariNya agar kita, walau berat, tetap merengek, dan tetap bergantung padaNya, kita dipaksa  untuk memahami bahwa ketika kita bicara soal harapan, kita tidak bicara soal berapa lamanya seseorang menunggu atau bertahan, tapi seberapa kuat dia percaya.

Hanya butuh waktu untuk memahami. Dan untuk itulah, manusia harus belajar bagaimana caranya berpasrah. Tapi berikan keyakinan, bertahanlah untuk yakin, bahwa semua harapan pasti memiliki jawaban.

Minggu, 06 Januari 2019

Sebuah kesoktahuan manusia yang itu-itu lagi, semoga kapok ya!

Sebuah refleksi akhir tahun.

Kata mereka, hidup tidak pernah memberikan hal-hal yang yang kita inginkan, tetapi hidup akan selalu memberikan hal-hal yang kita butuhkan. Sebuah ucapan lama nan klise yang kerap saya baca atau dengar dari banyak sumber, tapi tidak pernah merasa ada hikmah apapun dibalik ucapan itu. Namun kalau saya dapat merangkum kehidupan saya selama setahun kebelakang, di tahun 2018 ini, maka ucapan itulah yang ternyata paling relevan. Di akhir tahun ini, saya baru saja menyadari bahwasanya hidup selalu memberikan semua hal yang saya butuhkan, tapi saya, selalu saja fokus pada hal yang saya inginkan. 

Ini adalah tahun dimana kemampuan mengendalikan emosi saya dinaikan beberapa level dan janji-janji yang dulu saya ucapkan ke diri sendiri dipertanyakan. Ini adalah tahun pertama saya akhirnya menghirup udara lain di luar oksigen Jogja, tahun pertama saya merasakan puasa, ulang tahun, dan bahkan musim hujan pertama di luar Jogja. Semuanya serba baru, mulai dari rutinitas hingga cara pandang, semuanya sedang larut dalam sebuah episode hidup bernama adaptasi. 

Proses adapatasi, seperti yang dialami oleh banyak orang, pasti memiliki banyak tantangan. Sayapun tidak terkecuali. Saya ingat pagi pertama saya harus mengantri busway dan kapan untuk pertama kalinya saya membentak seseorang karena menyerobot antrian. Saya ingat sore pertama melangkah keluar dari komplek perkantoran dan merasa super kelelahan. Saya ingat rasanya belanja bulanan pertama di supermarket di Rawamangun dan menyusuri satu persatu bagian untuk mengecek apakah masih ada yang harus dibeli atau tidak. Saya akhirnya tahu bagaimana leganya ketika hari Jumat tiba dan bagaimana malasnya hari senin. Saya ingat ketika saya sedang mengalami hari yang buruk, saya kemudian duduk di busway menyusuri kota ini di malam hari, mengambil tempat duduk di paling belakang dan melamun. Namun yang paling menantang dari proses adaptasi ini adalah, ketika ada beberapa hal, di luar kapasitas saya sebagai manusia, yang akhirnya terjadi. Hal-hal yang membuat saya dengan mata nanar menengadah ke langit, dan berkata lirih, 'Wahai Rabb, aku engga paham sama ini semua...'. 

Dengan proses adapatasi dan hal-hal menantang yang harus saya jalani, di tangah-tengah proses ini, saya merasa buta dengan tujuan akhirnya. Saya tidak mengerti proses ini akan mengantarkan saya pada apa dan kemana? Tidak hanya itu, saya sempat berfikir bahwa prosesnya harusnya tidak seperti ini. Saya merasa ini semua skenario yang tidak tepat. Langit mungkin telah salah memberikan takdirnya. Saya ingin naik banding!

Hingga setahun berjalan, dan jawaban atas semua ketidakmengertian saya akhirnya terjawab satu per satu. Dan ketika jawaban itu telah datang, saya harus menyadari bahwa saya gagal hingga titik ini. Bukan karena proses adapatasinya, tapi karena saya gagal melihat apa yang seharusnya dilihat. Saya, sekali lagi, menjadi tidak sabaran karena ingin segera mengetahui apa ujung dari adaptasi ini. Saya, kembali memburu-buru sebuah proses.

Kembali ke ucapan klise bahwa hidup akan selalu memberikan kita semua hal yang kita butuhkan, maka di situlah saya akhirnya paham, apa yang sebenarnya saya butuhkan sebagai manusia.

Saya (ternyata) membutuhkan udara segar.

Saya memang tidak mendapatkan hal-hal yang saya inginkan atau hal-hal yang saya bayangkan jika saya pindah ke Jakarta, yaitu pekerjaan yang super meyenangkan yang membuat saya berkembang secara kemampuan berfikir, lengkap dengan gaji yang cukup untuk menyewa apartemen seorang diri. Saya tidak mendapatkan pekerjaan dimana saya berada di tim kerja yang mengurusi hal-hal pemting, dan setelah pulang kerja menghabiskan waktu dengan makan di mall. Saya tidak mendapatkan semua hal yang saya inginkan atau saya bayangkan. Tidak sama sekali. Dan untuk alasan itulah, saya merasa kesal, 'masa engga ada yang sesuai ekspektasiku sih', kata saya waktu itu.

Tapi itulah manusia, yang kalau melihat sesuatu, selalu saja linear.  Saya tidak melihat bahwa ternyata, saya mendapatkan semua hal yang seharusnya. Semua hal yang saya pikir tidak saya butuhkan, tapi nyatanya saya butuhkan. Semuanya. 

Saya memiliki teman kerja menyenangkan, dan kami selalu tertawa lepas setiap hari. Terlepas dari tipe pekerjaanya, tapi saya tidak harus mendengarkan hal-hal 'lama' yang bisa membuat saya bersedih di tempat kerja. Saya menjadi pribadi baru, yang tidak perlu lagi merasa malu dengan apa yang sudah terjadi. Itulah udara segar. 

Ketika saya pulang, saya punya 3 orang dengan karakter berbeda-beda, yang sanggup membuat saya ingin pulang saja tanpa mampir-mampir yang tidak perlu. Sebuah kamar dengan luas yang pas, serta obrolan-obrolan yang menyenangkan hampir setiap hari. Sebuah tempat tinggal dengan kehidupan di dalamnya. Itulah udara segar.

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, beberapa kajian rutin di Blok M mampu membuat saya tetap tenang dan logis. Dan itu merupakan udara segar yang selalu saya tunggu.

Sedihnya, saya baru menyadari itu samua di penghujung tahun. Persis seperti anak murid yang akhirnya diberi tahukan jawaban dari soal ujian ketika nilai ujian sudah keluar. Saya gagal melihat apa yang seharusnya, dan bersikap tidak bersyukur. Padahal langit tidak pernah salah dan  saya selalu saja kurang sabar menanti jawaban. Ah, andai saya bisa mengulang dari awal proses ini dan lebih menikmati semuanya dengan lapang...

Maka begitulah tahun ini berjalan. Di luar kamampuan saya yang samakin handal dalam menghapal jalur Transjakarta, atau cara saya memadang sesuatu yang kini jauh lebih tenang, saya merasa bahwa kedepannya, saya harus lebih menikmati sebuah proses. Saya harus belajar untuk sabar dan percaya bahwa seberat atau semanis apapun yang akan terjadi di depan nanti, pasti akan terjadi dengan kadar dan tujuan yang tepat. Ingat itu baik-baik, anak muda!

Hidup akan berjalan lebih gila lagi sehabis ini, tapi semoga saya selalu bisa ingat bahwa hidup akan selalu dan selalu dan selalu memberikan pada saya hal-hal yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan. Dan tentu saja, karena manusia tidak selalu tahu apa yang dibutuhkan, maka cara terbaik menjalani kehidupan di tahun yang baru nanti, adalah dengan jeli melihat apa yang sudah ditakdirkan olehNya. 

Tenang... semua pasti ada jawabannya, ini prosesnya, dijalani saja dulu. 

Cheers!


Kamis, 20 Desember 2018

mencoba rasa

Berjalanlah dia menuju sebuah pasar. Dalam hiruk pikuk pasar itu, dia melihat banyak sekali toko yang terang benderang dengan ornamen-ornamen menarik di sepanjang pasar. Dia terus berjalan hingga menemukan sebuah toko kue. Di depan toko kue itu, dia melihat pegawai toko yag mengenakan seragam menarik sambil membawa sebuah nampan penuh berisi tester kue dengan rasa yang bermacam-macam. Si pegawai toko itu dengan atraktifnya berkata sambil menyodorkan nampan itu, "Silahkan dicoba, ini adalah kue-kue terbaik dari toko kami". Dia berhenti sejenak dan menengok ke arah nampan itu, dan benarlah apa kata pegawai toko itu, nampan itu berisi potongan-potongan kecil kue dengan berbagai warna dan ukuran. Dia terdiam sejenak untuk menentukan mana kiranya yang mau ia coba. Diapun lalu memilih potongan kue dengan bentuk kotak berukuran kecil berwarna hitam. "Itu rasa coklat, salah satu andalan toko kami", kata pegawai itu bersemangat. Maka dicobalah tester itu dengan sekali suapan. Dia merasa rasanya agak aneh, aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan ucapan. Melihat wajahnya yang kurang senang dengan pilihan tester itu, pegawai itu buru-buru menyodorkan pilihan lain. "Yang ini aja, ini rasa lemon, tidak begitu manis rasanya", katanya membujuk. Dia menurut, diambilah tester itu, dan dimakannya sekali suapan. Benar saja, wajahnya seketika berubah. Rasa kue lemon itu sungguh enak, tidak begitu manis, dan ada sedikit rasa asam. Segar sekali jika ditemani dengan secangkir teh. Diapun memutuskan untuk membelinya. Namun sayang, kue lemon itu tidak tersedia saat itu, sudah habis stoknya. Dengan raut menyesal, pegawai toko itu berkata "Mau yang rasa lain?". Sudah terlanjur suka dengan kue lemon, diapun menggeleng dengan sopan. Dia akhirnya berlalu tanpa membawa apapun. Dalam hatinya dia berkata, kalau suatu hari nanti dia lewat lagi di toko itu, dan kue lemon itu tersedia, dia mungkin akan membelinya.

Beberapa lama kemudian, dia kembali mengunjungi pasar. Namun, kali ini dia mengunjungi jalan yang berbeda. Toko-toko masih saja menawarkan hal-hal yang beragam dengan pajangan yang menarik hati. Setelah lama berjalan, dia kembali menemukan toko kue. Toko kue yang letaknya cukup tersempil diantara toko-toko lainnya. Di depannya tidak ada pegawai berpakaian menarik yang menawarkan tester, hanya sebuah meja panjang berwarna hijau yang diatasnya berjejer kue-kue dengan warna dan ukuran yang beragam. Terpampang juga sebuah tulisan, 'Temukan rasamu di sini'. Dia sebetulnya ingin membeli kue lemon yang tempo hari ia coba, namun tester di toko ini sungguh berbeda dan mengundang selera. Tak seperti di toko sebelumnya, kali ini dia mencoba banyak sekali tester. Setelah mencoba banyak tester kue, pilihannya jatuh pada dua pilihan, yaitu kue pandan yang lembut, serta kue kismis yang padat. Dia pun masuk ke toko itu, hendak membeli keduanya. Dia beruntung, karena uangnya cukup membeli dua kue itu sekaligus. Dengan sumringah, dia berhasil membawa pulang kedua kue itu. Dia berencana memakannya bergantian sebagai teman membaca.

Dia pun kembali ke pasar setelah beberapa bulan. Dia berjalan dan berjalan masuk ke dalam pasar. Belum lama dia berjalan, dia melihat sebuah spanduk yang bertulisan 'Bazar Kue'. Matanya langsung berbinar, dia ingin membeli kue dengan rasa berbeda dari kue pandan dan kismis yang terakhir kali dia beli. Diapun berjalan cepat menuju area bazar. Dan benar saja, belum lama dia melangkah, dia langsung disuguhi banyak sekali kios-kios kecil yang menjual kue. Dia merasa kelimpungan untuk menentukan tester mana yang harus dicicipi karena banyak sekali pilihan yang tersedia. Hingga akhirnya dia menghabiskan waktu untuk mencicipi semua tester di bazar itu tanpa membeli satupun kue. Dia merasa kewalahan dan lidahnya tak sanggup lagi merasa. 

Kembali dia mengunjungi pasar, dan kali ini dia tidak begitu ingin mencari kue. Pengalaman terakhirnya ketika mencicipi tester, membuatnya sedikit kapok mencoba-coba. Dalam hatinya, dia ingin mempunyai satu kue langganan yang akan dia beli tanpa perlu repot-repot lagi mencicipi tester. Setelah berjalan cukup lama, pandangannya tertuju pada sebuah toko kue sederhana yang menjual hanya satu jenis kue saja. Dia pun memutuskan kesana sebelum pulang. Saat berada di toko tersebut, dia bertanya dimana tester yang bisa dia coba. Dengan sopan pegawai toko itu berkata, "Maaf, kami tidak menyediakan tester, anda bisa langsung membeli jika anda mau". Dia merasa begitu aneh dengan hal itu. Dia ragu, karena dia ingin mencicipi terlebih dahulu sebelum membelinya. Namun apalah daya, dia tidak bisa memaksa. Dari belakang, punggungnya dicoleh oleh seseorang yang telah membeli kue itu. Dengan ramah berkata, "Ini, silahkan coba saja punya saya". Dia tersenyum, dan mengambil potongan kecil itu. Seketika dia merasa itu kue yang paling tepat untuk lidahnya. Bukan yang terlezat, bukan yang terlembut, bukan yang termanis, hanya saja dia merasa bahwa kue itu pas dengan lidahnya. Setelah mengucapkan terimakasih, dia pun memesan kue itu. Namun malang, pegawai toko itu berkata "Maaf, kami hanya menjual 200 loyang per hari. Anda bisa kembali lagi besok". Walau sedih, dia pun memutuskan untuk pulang sambil mengenang rasanya.

Keesokannya, dia kembali lagi ke toko itu, namun lagi-lagi dia terlambat. Kue itu telah habis.

Dia memutuskan datang lebih awal keesokan harinya. Dan benar saja, sudah banyak orang antri. Dengan sedikit tergesa, dia ikut mengantri dengan perasaan cemas. Setelah tiba di barisan paling depan, ternyata uang yang ia bawa tidaklah cukup. Dia pun pulang dengan sedih.

Dalam perjalanan, dia berjanji untuk mempersiapkan segalanya, agar bisa membeli kue itu.

Keesokan harinya, dia berangkat lebih awal, mempersiapkan uang, dan mengantri di barisan depan. Saat sampai di depan pegawai tokonya untuk membayar, pegawai toko itu tersenyum dan berkata, "Selamat menikmati". Dia akhirnya membawa kue itu pulang dengan perasaan haru.

Hari ini dia kembali datang ke pasar. Dia melihat orang lain seperti dia sedang mencicipi tester kue. Dia tersenyum simpul. Dia tahu betul lelahnya mencari sepotong kue sebagai teman minum teh dan membaca buku. Dia tidak lagi ingin mencicipi tester apapun lagi, dia telah menemukan kuenya. Dia hanya perlu menemukan buku yang harus dia baca sebagai teman memakan kue. 


© RIWAYAT
Maira Gall