Senin, 21 Oktober 2019

Cobalah Mulai Belajar Hal-Hal yang Seharusnya Tidak Harus Dipelajari

Di suatu pagi menjelang siang, seorang teman bercerita pada saya dengan nada sedikit geram. Ternyata, agenda kopi darat yang akan dia lakukan dengan seorang lelaki gagal terlaksana. Begini ceritanya, teman saya itu sedang menghadiri pesta pernikahan temannya yang lain di luar kota, kebetulan di kota yang sama itu jugalah si lelaki itu tinggal. Maka si teman saya itu berpikiran bahwa inilah saat yang tepat untuk mereka saling bertemu. Awal mula si teman saya dan lelaki itu saling mengenal adalah karena campur tangan keluarga besar mereka masing-masing. Berhubung keduanya sedang mencari pasangan hidup, maka bagi teman saya itu, ide kopi darat ini pas untuk dilakukan. Saya sebagai temannya, sudah sibuk mencie-cie kan dia sejak sebelum dia berangkat ke luar kota. Dan berhubung si teman saya itu sedang aktif berkopi darat sana-sini, kesempatan ini bukan hal yang  baru. Biasa aja...

Tapi rencana tinggalah rencana, karena pertemuan itu gagal total. "Dia masa bilang ya Peh... di posisi aku udah siap nunggu dia, 'Lah, aku kira engga jadi'. Langsung aja aku screenshot WA kita, aku kirimin ke dia, biar dia tau kalau aku engga pernah membatalkan apapun.", katanya menggebu.

Saya yang melihat screenshot itu juga harus setuju, bahwa teman saya ini tidak membatalkan janjinya untuk bertemu. Bahkan dia dengan tegas bertanya melalui pesan singkat itu, 'besok jadi kan?' dan dibalas 'insha Allah'. 

Maka sayapun balik bertanya, "Kok dia  bisa berpendapat kamu batalin sih?"
"Kan aku pasang status gambar singa itu loh Peh, tahu kan? nah dia komen, dia bilang 'kucing garong'. Ya udah engga aku bales chat dia lagi. Lagian mau bales apa juga kan? Nah... mungkin aja dia ngerasa karena aku engga bales, itu artinya aku engga jadi ketemuan sama dia"
"Kok aneh sih? Trus kamu bales apa pas dia bilang 'kirain engga jadi' itu?"
"Ya aku nasehatin dia lah, abis ku sebel banget. Aku bilang aja, jangan diulangi lagi ke siapapun karena itu engga baik. Aku bilang kalau aku ini tamu dan dia itu tuan rumah, ya kalau tuan rumah emang engga mau ketemu, jangan nawarin bukain pintu, jangan malah tamu yang disuruh nunggu. Aku juga bilang sama dia, 'tahu gitu kan aku pulang ke Jakartanya sore aja, engga usah malem. Aku kan pulang malem karena kamu ngajak ketemuannya malem'."

Saya ngangguk-ngangguk...

"Dia terus bilang kalau di tempat dia ujan, Peh. Ya emang ujan sih Peh... tapi cuma bentar. Jadi alesannya juga aneh. Abis itu, abis aku nasehati dia, eh dia malah bales gini... 'terserah kamu mau anggap aku apa, aku minta maaf ya"
"Kamu tanggepin?"
"Aku jawab pas di kereta, aku bilang aku maafin tapi jangan diulangi, trus aku hapus chatnya. Sebel deh. Trus aku sugesti diri kalau dia itu ga worth it bikin aku marah lama-lama. Dia juga kan bukan siapa-siapa..." 

Kita terdiam sejenak...

"Apa gitu loh susahnya bilang kalau emang dia engga mau ketemu. Kan aku bisa susun rencana lain. Kayak gitu kan basic ya..."
"Mungkin bagi dia, kamu engga bales itu... bisa diartikan kalau kamu ngebatalin janji....?"
"Ya kan dia bisa mastiin lagi. Lagian engga ada kalimat yang bilang kalau aku engga jadi ketemu sama dia. Ya kan? Childish banget dia tuh. Tahu gitu kan aku pulangnya sore aja. Hih sebel!"

Saya dan teman saya akhirnya melanjutkan pembicaraan kami siang itu sambil makan tahu baxo khas Semarang yang dia bawa sebagai oleh-oleh. 

Di hari yang sama, tetiba mama saya Whatsapp dan meminta tolong untuk menghubungi adik bungsu saya, Enzo. Mama saya bilang kalau si Enzo ngambek dan engga mau diajak pergi, dan berharap saya bisa membujuk dia supaya ngambeknya tidak terlalu lama. Maka sayapun coba hubungi Enzo. Awalnya saya cerita basa-basi kalau madu yang saya beli, pas dibuka tutupnya eh meledak (ini beneran).

Enzo awalnya menimpali dengan lucu, eh lama-lama... tanpa saya mintapun akhirnya dia mau curhat. Remaja kelas 1 SMP ini bilang kalau harusnya dia punya janji main basket dengan adik perempuan saya Pasha di hari Sabtu, tapi mama tetiba muncul dengan agenda lain dan ngotot. Enzo engga dikasih ruang buat menjelaskan agendanya dan yang ada mama malah maksa. Dengan polosnya Enzo berkata, "Kan aku jadi engga jadi basket, mama semua-semuanya diurusin deh." Kekecewaan yang sangat beralasan bagi saya. Ya siapa sih yang suka jadwalnya dibongkar-pasang mendadak begitu? Bahkan bagi Enzo si remaja tanggung ini, hal-hal seperti itu seharusnya engga kejadian. Kayak... ya kalau orang udah punya agenda, ya tanya dulu dong kalau mau ngerubah. Basic gitu...

Pernah sekali waktu saya jalan-jalan ke sebuah mall dan kebelet pipis. Kebetulan di kamar mandi perempuan antriannya panjang. Kami semua mengantri dengan model berbaris satu garis, jadi nantinya kalau ada pintu toilet manapun yang terbuka duluan, maka orang yang paling depan yang akan masuk lebih dulu. Lalu tetiba, ada seseorang yang nyelonong dan berdiri di salah satu pintu kamar mandi dan mengantri di situ. Beruntungnya, dia tidak harus lama mengantri karena pintu toilet itu terbuka sehingga dia bisa langsung masuk. Semua wanita yang mengantri, termasuk saya cuma bisa geleng-geleng kepala melihat perilaku mbak yang satu itu. Dalam hati kami semua mungkin berkata,  'Tjuy! Engga liat apa ini kita semua ngantri panjang? Situ langsung aja ngantri depan toilet'. Kayak.... hal seperti itu kan  basic banget ya... masa sih harus juga diajarin?

Mau contoh kasus lebih banyak? Coba deh cek twitter. Di twitter banyak kejadian bagaimana hal-hal yang mungkin basic tapi nyatanya tidak basic bagi orang lain. Ada orang yang tidak mau membayar pesanan makanannya di aplikasi online dan malah memarahi driver online-nya. Ada orang yang malah marah waktu ditegur karena naik motor di trotoar. Ada orang yang ketika makan food court, meja yang harusnya untuk umum, malah dipakai untuk makan sendirian padahal sedang banyak orang yang tidak kebagian tempat. Ada orang menyerobot naik kendaraan umum, dia lupa peraturan dasar bahwa penumpang yang hendak keluar seharusnya diberi jalan terlebih dahulu, barulah penumpang yang akan naik itu bisa masuk. Dan lain-lainnya yang kalau saya tulis semua bisa jadi lembaran manuskrip.

Basic loh ini padahal, engga perlu lagi diajarin lagi kalau sudah dewasa seharusnya, tapi kenapa kasusnya makin beragam ya? 

Mencoba melihat dari perspektif sebaliknya. Saya jadi ingat ketika saya berada di posisi yang tidak memahami ke 'basic' an ini. Pernah suatu ketika, saat ulang tahun radio tempat saya dulu bekerja mengadakan acara ulang tahun, seluruh penyiar dan crews mengadakan acara makan malam di sebuah restoran sambil membuat foto bersama. Sebagai salah satu yang menggagas idenya, di hari H tersebut saya jutsru datang terlambat nyaris 1 jam lebih. Dan bukan karena kesalahan teknis, tapi karena saya keasikan nonton drama series. Tapi sebentar, belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, anak-anak radio saya ini punya kebiasaan telat yang gila-gilaan. Jadi saya berfikir bahwa mungkin kali ini juga akan telat seperti yang sudah-sudah. Dan dari info terakhir yang saya pahami, acaranya akan berlangsung sampai malam, makanya saya agak santai dan malas-malasan. 

Sampai di sana, semua orang sudah memasang muka engga enak. Dan saya masih lempeng-lempeng saja... sampai salah satu rekan kerja saya bilang, "Kamu engga sadar ya Peh, salah kamu apa?" Saya langsung deg. Di titik itu saya merasa bahwa keterlambatan saya cukup fatal. Saya akhirnya meminta maaf dan mencoba untuk menjelaskan kondisinya dengan perasaan carut marut. Jadi ternyata, sebagai bagian dari kerjasama, pihak restoran tersebut hanya menyediakan waktu 2 jam saja untuk kami. Untuk itu acara dimulai tepat jam 4 sore sampai jam 6 sore saja, dan selebihnya adalah acara bebas yang tidak termasuk dalam paket kerjasama ulang tahun. Ada salah pemahaman yang saya tangkap. Dan berhubung saya datang sudah mendekati jam 5 lebih, ya tentulah semua orang keki, karena acara ulang tahun itu tidak bisa terlaksana dengan ideal karena menunggu kedatangan saya.

Tapi baru kali itu mereka semua datang tepat waktu, makanya saya kaget! Saya tahu kok kalau datang terlambat itu engga baik, tapi toh mereka juga selalu datang terlambat selama ini, jadi saya kira ya akan biasa saja. Nah... dari sini lah akhirnya saya menyadari konsep basic ini semakin ke sini, semakin bias dan ambigu. Dan karenanya, kita sering memberikan banyak toleransi pada diri kita sendiri untuk melalukan hal-hal yang sebenarnya kurang menyenangkan bagi orang lain, serambi berkata dengan santainya:

"Aku ngaret 2 jam, biasa aja tuh..."
"Biasa aja ah, engga usah terimakasih kayak apa, emang udah tanggung jawab dia kali buat ngelakuin itu"
"Dasar A@&88909--hjk, gua doain ketabrak..."
"Engga usah lebay deh, gitu aja dipermasalahin"
"Iya udah iya maaf, lagian kan udah kejadian kan, ya udah lah..."
"Jangan baper deh, aku kalau digituin juga bakal biasa aja kok"
"Ah elah... bohong-bohong dikit gapapa kali"

Di sinilah pemakluman itu terjadi. Saya baru saja pertama kali melihat anak-anak radio saya itu on time, saya engga punya ekspektasi itu akan jadi msalah. Si lelaki yang seharusnya diajak kopi darat oleh teman saya itu, mungkin dia baru pertama kali mendapat pengalaman melakukan kopi darat dan akhirnya merasa grogi sehingga berperilaku begitu. Mama saya mungkin engga tahu bagaimana caranya  untuk berkomunikasi dengan anak remaja. Dan si mbak-mbak penyerobot di toilet itu, mungkin itu adalah  pengalaman pertamanya masuk toilet di mall, jadi cuma itu yang dia tahu, kalau ngantri ya di depan pintunya langsung. Sehingga saya dan orang-orang ini, kami belum memahami dengan baik apa itu basic.

Tapi tenang saja... toh semesta tidak akan tinggal diam dan semua orang akan punya pelajaran pertamanya. Di satu titik, satu per satu kejadian dan perilaku tidak mengenakan yang sadar atau tidak sadar kita lakukan itu, nantinya akan berbalik menyerang diri kita sendiri. Dan di saat itulah kita akan berkata:

"Gilak ya... ada loh orang, udah tau dia yang salah, eh masih bisa ngeles..."
"Dia yang bikin ini ribet, dia juga yang ngegas"
"Masa ya dia engga bisa ngeliat kalau apa yang dia lakuin itu ngerugiin orang?"
"Apa sih susahnya ngomong? Kan tinggal di jelasin aja kan?"
"Udahlah dia salah, masih loh gengsi, trus marah-marah..."
"Ada loh ya... orang udah dibantu kayak apa, masih aja lempeng, terimakasih engga... apa kek..."
"Wow, udah dinasehatin dengan baik, masih aja defense! Mantab!"

HA!

Dan di sini lah penyamaan persepsi itu terjadi. Beginilah cara manusia belajar untuk lebih peka pada hal-hal yang basic: yaitu saat mereka sudah kena batunya.  Saat akhirnya kita tahu bagaimana tidak enaknya saat janji dibatalkan tanpa pemberitahuan, saat kita akhirnya merasa terluka saat difitnah, saat kita akhirnya gemas sendiri dengan perilaku orang lain yang tidak tahu rasanya berterimakasih, saat itulah hukum sebab akibat berlaku.

Saya pun sebenarnya juga bingung bagaimana harus menjelaskan arti kata 'basic' ini, ya karena itu tadi, rupanya tiap-tiap orang mempunyai standar dan nilainya masing-masing dalam berperilaku. Tapi idealnya... sebagai manusia, kita semestinya lebih tahu bagaimana cara memperlakukan spesies yang sama dengan diri kita sendiri, tanpa perlu diajari berkali-kali, atau sampai mengikuti kelas-kelas kepribadian. Ya... hal-hal basic. Hal-hal yang secara alami bisa kita rasakan sejak lahir. 

Misalnya, kalau kita merasa lebih senang ditraktir dan merasa kesal kalau dihutangi (apalagi tanpa ada niatan membayar dari orang yang bersangkutan), ya tentunya orang lain yang berspesies manusia juga akan merasakan hal yang sama dengan kita. Basic. Semua orang yang dibohongi dan injak-injak harga dirinya akan marah, dan sebaliknya, jika seseorang itu dipuji, maka dia akan sumringah. Basic. Walaupun dalam beberapa konteks, hal itu bisa menjadi lebih rumit karena perbedaan kultur, budaya, pola asuh, lingkungan, dan lain sebagainya. Tapi terlepas dari itu semua, saya yakin bahwa semua manusia pasti punya satu garis merah yang sama, yang tidak akan berubah hingga mentari tak bersinar lagi, yaitu semua manusia selalu suka diberi hal-hal yang baik dan benci mendapat hal-hal yang buruk. Basic. 

Kecuali tiga kondisi: Dia belum merasakan hal tersebut menimpa dirinya, dia memang terlahir anomali, atau dia luar biasa bebal!

Sebuah ucapan kuno 'perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlalukan', mungkin bisa dijadikan sebagai sebuah penjelasan yang lengkap tentang bagaimana kita bisa menerapkan basic ini ke siapapun. 

Ini memang tentang interaksi dengan sesama manusia. Kita akan diminta untuk selalu bertanya pada intuisi, bahwa kalau kita saja tidak nyaman diperlakukan demikian, kenapa kita berharap orang lain akan merasa nyaman? Dan kalaupun kita yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan itu, coba maklumi saja, mungkin itu kali pertama dia melakukan itu sehingga persepsi akan basic ini tidak sama. Shantay...


PS: Jangan pakai tas ransel di punggung kalau sedang naik transjakarta, tapi taruh di depan, karena orang lain jadi susah masuk dan geraknya, dan kamu engga bisa monitor ruang gerak penumpang lain! Ini sungguhlah basic! Kecuali kalau kamu baru pertama kali naik transjakarta, ya oke lah, aku maklum.

Jumat, 18 Oktober 2019

Hei, Tarik Nafas...!

Hidup saya jauh dari sempurna, bahkan dalam pikiran dan definisi saya tentang kesempurnaan sajapun, hidup saya masih tidak sempurna. Coreng-moreng di sana-sini, kegagalan di sana-sini, sungguh jauh dari kesempurnaan. 

Tiap saatnya, ada saja hal-hal yang membuat saya sedih dan kecewa. Mau itu yang levelnya tinggi atau rendah, tapi tetap saja hadir dalam bentuk kekecewaan. Sesuatu yang akan membuat saya terdiam dan sedih. Kebanyakan memang berasal dari ekspektasi saya sendiri, atau saya yang salah dalam mengkalkulasi keadaan. Sebagiannya yang lain, terjadi di luar keinginan atau di luar kontrol saya sebagai manusia. 

Tapi dibalik ketidaksempurnaan itu, saya merasa hidup saya lengkap. Pernah di satu hari, saat saya salah mengkalkulasi keadaan dan akhirnya berujung pada rasa kecewa yang harus saya telan sendiri,  saya ingat bahwa teman dekat saya, Aghnia akan memasakan saya spaghetti dengan taburan keju permesan yang banyak diatasnya. Seketika saya merasa hari saya bersinar kembali karena dia mau memasakan saya spaghetti dan kita bisa ngobrol panjang lebar sambil leyeh-leyeh di kosanya. 

Pernah juga, saya mengalami hari yang panjang karena melakukan ini dan itu, lalu saya ingat bahwa Icha ada di kosan dan kami bisa makan snack berdua sambil karokean. 

Mungkin sampai di ambang waktu yang ditentukan untuk saya ada di dunia ini, kesempurnaan itu entah akan terwujud atau tidak. Tapi saya yakin bahwa pertolongan itu dekat, dan itu berwujud pada hal-hal kecil yang selalu ada di sekitar saya. Hal-hal sederhana yang akan selalu menjadi pelengkap dan tidak bisa saya bayar dengan cara apapun juga.

Pun dikatakan dua kali, bahwa setelah kesusahan pasti ada kemudahan. 


Siap? Apa Itu Siap?


Banyak dari kita semua memulai harinya dengan mempersiapkan sesuatu. Entah itu seorang ibu yang menyiapkan sarapan sederhana bagi keluarganya, seorang anak yang mencoba mengerjakan pekerjaan rumahnya padahal 15 menit lagi harus berangkat, seorang pekerja yang sedang menyetrika bajunya, atau bahkan seorang pedagang yang sudah siap menyambut pelanggannya. Setiap pagi datang, maka setiap dari kita akan bersiap untuk memulai hari itu.

Seperti awal yang baru, pagi hari belum memiliki warna tertentu. Ya kalaupun ada, warnanya adalah putih polos tanpa sentuhan apapun. Seakan memberikan kesan bahwa kita tidak pernah mengetahui apapun yang akan terjadi di penghujung hari itu. Setelah hari itu terlewati, barulah kita bisa memberikan warna yang tepat. Setiap pagi datang, seakan menjadi sebuah kerahasiaan, sesuatu yang tidak bisa kita tebak kemana arah larinya. Dan walaupun begitu, walaupun misterius, kita tetap saja mencoba mempersiapkan sebuah hari dengan baik.

Tapi apakah kita akan benar-benar siap menghadapi sebuah hari? Apakah seorang anak yang sudah mengerjakan PR dan memakan sarapannya, seorang pedang yang sudah siap dengan uang kembalian dan barang dagangannya, serta seorang pegawai dengan baju klimis rapi yang dikenakannya, menjadi siap menghadapi apapun yang akan terjadi di hari itu? Mungkin juga tidak. Karena mungkin, hari si anak itu akan berakhir dengan si guru tidak jadi datang dan PR yang dikerjaan tidak jadi dikumpulkan. Seorang pegawai ternyata kecipratan kuah bubur ayam saat sarapan di pinggir jalan padahal dia punya rapat penting, dan si pedagang… pedagang itu ternyata harus lari ke sana-kemari karena pasarnya di razia oleh petugas sosial. Jadi, apakah persiapan yang dilakukan itu menjadi sia-sia?

***

Di akhir bulan yang lalu, saya sempat pulang ke Jogja. Kepulangan saya ke Jogja saat itu salah satunya juga dalam rangka rehat dan memupuk semangat. Cukup lama saya menghabiskan waktu di sana. Mencoba sedemikian rupa agar punya energi untuk kembali menghadapi ibukota. Sayapun makan gudeg kesukaan, makan kue non-gluten di kafe Jalan Prawirotaman, sampai sekedar naik motor sendirian. Saya bahkan menunda kepulangan saya ke Jakarta beberapa hari karena saya merasa belum siap kembali dan masih butuh rehat. Hingga tiba akhirnya, waktu untuk kembali ke Jakarta. Duh berat sekali rasanya…

Di malam sebelum saya kembali ke Jakarta, saya membuang nafas berat berkali-kali karena menyadari bahwa sebentar lagi saya akan kembali ke kota yang tingkat polusinya gila-gilaan itu, serambi memberikan sugesti diri bahwa saya sudah mendapatkan istirahat yang cukup, dan siap melanjutkan semua kegiatan di sana. Tapi ternyata itu semua tidak cukup. Buktinya, saat kereta saya sudah memasuki area Jabodetabek, saya menangis tersedu entah kenapa. Saya mau kembali ke Jogja lagi rasanya, entahlah… rasanya seperti ada yang mengganjal di hati, ya atau memang karena sayanya aja yang belum siap kembali ke Jakarta walaupun itu harus.

Atau jangan-jangan manusia memang tidak akan pernah siap untuk hal apapun? Bahkan ketika dia sudah mempersiapkan diri dengan seabrek persiapan ini dan itu, tapi kalau harus ditanyakan kembali ke manusia tersebut, ‘Jadi gimana, siap atau engga?’, jawabannya mungkin akan ‘Ya… siap engga siap, ya gimana, tetep harus dijalani kan?’.

Ah… saya jadi ingat ketika dulu, ketika masih SMA, masa-masa di mana saya mencoba Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Kala itu saya belajar hampir sepanjangan hari selama berbulan-bulan, belum lagi tiap minggu saya ikut try out agar bisa lebih siap menghadapi ujian. Seminggu menjelang hari ujian, saya sudah muak dengan semua materi yang harus dikuasai seperti algoritma dan gradien tegak lurus. Rasanya saya mau segera ujian, segera pengumuman, dan saya bisa move on. Dengan tingkat kemuakan yang tinggi, saya ada di posisi pasrah pada semua hasil belajar saya selama berbulan-bulan itu, saya engga tahu apakah saya benar-benar siap atau tidak, yang jelas saya sudah mempersiapkan yang terbaik yang bisa saya lakukan, dan saya mau segera ujian! Tapi entah karena grogi atau apa, H - beberapa hari, masih saja terbesit dalam pikiran saya materi yang belum sempat saya pelajari, dan sayapun berharap saya bisa punya lebih lama lagi untuk belajar. Hadeuh…

Untuk sesuatu yang sudah dipersiapkan saja, kita masih bisa merasa tidak siap, lalu apa kabar jika bahkan kita tidak mempersiapkan apapun untuk sesuatu yang kita tidak tahu akan terjadi di depan mata? Apa jadinya saat kita harus berhadapan dengan sesuatu yang kita tidak tahu apa bentuknya dan bagaimana bentuk persiapannya? Lalu tiba-tiba hal itu terjadi dan kita tidak punya pilihan apapun selain menjalaninya, siap atau tidak siap.

Sebuah keluarga yang sangat saya kagumi, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan saya karena dalam pandangan saya mereka memiliki nilai-nilai keluarga yang baik, baru-baru ini mengabarkan pada saya bahwa mereka sedang dalam proses perceraian. Bagaikan kepeleset dari puncak Gunung Everest, saya merasa kaget dan agak terguncang. Ya bagaimana tidak, saya engga begitu punya banyak potret rumah tangga yang bisa saya jadikan model, dan mereka adalah salah satu yang bisa saya teladani. Ada bagian dari diri saya yang juga ikut terluka karena keputusan mereka.

Terlepas dari apapun alasan yang mendasarinya, nyatanya tidak ada yang benar-benar mempersiapkan perceraian sampai itu benar-benar terjadi, tidak si pasangan atau bahkan saya yang hanya orang luar. “Aku engga nyiapin ini semua, Peh. Aku pikir yaudah, aku sama dia udah tinggal nunggu anak-anak dewasa dan kita bisa tua bareng-bareng. Masih kayak mimpi di aku, kita berdua pisah begini,” Kata si istri itu menjelaskan. Si istri bahkan meminta tolong pada saya untuk membenahi CV dan cover letter karena dia akan kembali bekerja setelah belasan tahun vakum. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam agenda hidupnya setelah melahirkan anak pertamanya, bahwa dia akan berpisah setelah belasan tahun bersama dan kembali bekerja. Semuanya terjadi begitu saja, dengan cepat, dan tidak menyisakan ruang apapun untuk bersiap. Seakan kesiapan kami tidak lagi penting untuk ditanyakan, karena yang terpenting adalah menjalani hidup kedepannya dengan kondisi yang telah terjadi. Menyebalkan? Oh sangat!

Menakutkan lebih tepatnya! Bagaimana bisa kita harus merasa siap pada sesuatu yang tidak kita persiapkan sebelumnya? Pada sesuatu yang tidak pernah dicobakan terlebih dahulu? Terlebih saat sesuatu itu datang tiba-tiba? Masih mending tes SNMPTN karena saya masih bisa ikut try out dan bimbingan belajar, masih mending ketika saya bisa meniatkan diri untuk rehat di Jogja agar bisa lebih siap menghadapi Jakarta, tapi persiapan macam apa yang harus saya lakukan untuk kondisi yang saya sendiripun tidak bisa membayangkan akan terjadi?

Lucunya adalah, kita sebenarnya sudah tahu bahwa hal-hal yang telah menjadi kodrat itu ya pasti akan terjadi, seperti pertemuan-perpisahan contohnya. Bahwa ungkapan ‘tidak ada yang bertahan selamanya’, juga sesuatu yang kita hapal di luar kepala. Tapi ya tetap saja, kita tidak pernah benar-benar siap saat hal itu benar-benar terjadi.

Saya sering membaca istilah bahwa tidak ada waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, jadi jangan tunggu hingga siap, lakukan saja sekarang. Begitu katanya. Kini saya semakin sepakat, karena menunggu hingga manusia siap memang ambigu. Kita tidak akan benar-benar bisa tahu dan yakin bahwa kita sedang ada dalam posisi siap menghadapi sesuatu. Kalau mau ditunggu sampai siap, ya kapankah itu waktu siapnya?

Walau begitu, manusia tetap akan mempersiapkan banyak hal untuk sesuatu yang akan dihadapinya. Seperti seseorang yang perlu membawa baju hangat ketika akan pergi hiking, atau seseorang tetap harus membuat presentasi dan laporan ketika akan menghadapi presentasi, atau semua orang akan membawa payung jika terlihat di luar sana sudah mendung gelap. Bentuknya seperti persiapan teknis, sesuatu yang kita lakukan agar kita merasa lebih siap menghadapi sesuatu yang bisa kita prediksi. Semacam memberikan ruang antisipasi kalau-kalau hal-hal teknis itu terjadi, maka kita akan siap dalam bereaksi. Pun dalam hal mempersiapkan hati, misalnya kita mencoba menurunkan ekspektasi, tidak terlalu mengandalkan orang lain, atau mencari cara-cara penyelesaian masalah yang paling efektif. Kita bersiap untuk sesuatu yang bisa terjadi kapanpun, dalam bentuk apapun. Urusan bagimana kesiapan kita sesungguhnya, itu nanti!

Seorang teman baik saya, baru-baru ini diterima di salah satu media internasional sebagai data jurnalis. Dari ceritanya, dia juga tidak benar-benar siap untuk melakoni peran barunya sebagai manager. Dia merasa kemampuan dia belum memenuhi apa yang diharapkan oleh media itu, tapi ternyata dia diterima dan akan segera bekerja di akhir tahun ini. Ya siap atau tidak, memang sudah begitu jalannya, kan?

Saya juga, pada suatu hari merasa kelabakan menghadapi sebuah kejadian. Selama nyaris 4 tahun, saya mencoba menata hati, mental dan semua ekspektasi, agar saya bisa memiliki hati yang tegar dan lebih kuat, kalau-kalau suatu hari nanti saya akan kembali bertemu dengan seseorang di masa lalu saya. Namun nyatanya, di suatu hari yang mendung, tanpa ada prediksi apapun, saya harus menghadapi dia, melihat dia secara langsung, mendengar suara dia, dan bahkan tertawa dia itu. Ternyata, tidak peduli seberapa banyak hal yang sudah saya lakukan selama ini untuk mempersiapkan diri, itu juga belum cukup. Saya tetap saja tidak siap. Saya tetap saja pulang dengan perasaan gontai. Besok paginya, saya bangun tetap perasaan yang campur aduk. Deuuh… engga selesai-selesai…

Saya pikir, hal terbaik yang bisa manusia lakukan adalah secara sadar melangkah dan memperhitungkan risiko yang akan terjadi dari setiap langkah yang akan dia tempuh. Sekedar memetakan kemampuan diri sendiri dan membaca pola yang mungkin akan terjadi. Sebatas itu saja, tanpa bisa dikatakan bahwa kita benar-benar siap untuk menghadapi sesuatu. Kemudian kita akan berjalan ke depan, menghadapi apapun yang harus dihadapi.

Saya jadi ingat sebuah jargon terkenal di acara kriminal, bahwa kejahatan ada bukan karena ada niat, tapi karena ada kesempatan. Sebuah jargon yang juga bisa diterapkan untuk perkara lain dalam hidup, mulai dari pekerjaan, pertemanan, hingga percintaan. Kadang kita tidak meniatkan sesuatu itu terjadi, tapi kalau tetiba ada kesempatan atau ada sebuah kejadian terjadi di depan mata kita, ya mau bagaimana lagi, ya tetap juga harus dihadapi, ya kan?

Tapi tenang saja, walaupun kesiapan itu sulit diukur, tapi pelan-pelan kita akan berlatih bahwa ‘siap atau tidak siap’ bukanlah hal yang penting untuk diketahui, tapi lebih ke bagaimana kita membiasakan diri menghadapi kondisi apapun. Lagipula, siapa yang akan siap jika tanpa pemberitahuan, tetiba besok kita akan ditinggalkan semua orang yang kita sayangi? Pun kita diberi tahu bahwa besok kita akan sendirian tanpa orang-orang yang kita sayangi, memangnya kita akan siap juga? Jika memang sudah harus begitu jalannya, pilihan yang kita miliki juga hanya menerima dengan lapang kan?

Dijalani saja dulu, hidup kan memang selalu begitu, tidak ada angin, tidak ada hujan, lalu... knock.. knock… SURPRISE!!


Kamis, 18 Juli 2019

Ketantruman Ini, Tolonglah Cepat Berlalu...


Waktu sedang pergi ke salah satu swalayan, saya melihat sebuah pemandangan yang cukup lumrah terjadi, yaitu ada seorang anak yang tantrum lengkap dengan satu paket teriakan, tangisan, dan rengekannya. Saya yang kebetulan berada dalam satu lorong yang sama dan juga sedang mencari beberapa makanan ringan, cuma bisa menatap iba ke arah ibunya yang sepertinya juga bingung harus melakukan apa. Anak itu sepertinya mau membeli makanan ringan, entah coklat atau entah apa tapi dilarang oleh ibunya. Dan larangan itu berbuah cukup fatal karena akhirnya semua orang melihat ke arah mereka dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Si ibu akhirnya menyerah ketika teriakan si anak semakin kencang, sambil menaikan nada bicaranya dia akhirnya mau membelikan keinginan si anak, “Iya udah, mama beliin tapi diem. Oke, mama beliin. Diem sekarang….!”. Entah apa lagi yang terjadi setelah itu karena saya sudah kabur ke tempat lain. Saya sendiri memang kurang nyaman kalau harus mendengar anak kecil yang menangis terlampau keras.

Serupa, hanya berbeda kasus dengan si anak di swalayan itu, saya punya seorang teman yang kalau dipikir-pikir sering sekali tantrum. Bedanya ya tentu saja si teman saya ini tidak tantrum dengan duduk di lantai dan teriak-teriak sambil menangis, tapi ya esensinya sama, ngambek karena keinginannya tidak dituruti. Waktu itu kami pernah janjian di salah satu kefe kesukaanya karena katanya ada menu dessert yang musti saya coba. Tapi naasnya, kebetulan si dessert itu sedang tidak dibuat. Maka alih-alih menerima fakta itu dengan mengganti menu lain dan menjelaskan kondisinya pada saya, dia terlebih dahulu malah menceramahi si petugas kasir dan penjaga tokonya dengan berkata bahwa seharusnya, pihak toko memberikan informasi mengenai menu yang tidak tersedia di media sosial mereka. Agak malu saya melihat itu, dan akhirnya saya menarik tangannya sambil berkata, “Halah, engga apa-apa, kita kan bisa ke sini lagi lain waktu. Sans aja cin…..”.

Saya sendiri akhirnya berkesimpulan bahwa tantrum memang bisa terjadi pada siapa saja. Tidak peduli berapa usianya atau bahkan apa latar pendidikanya, jika manusia sudah berkeinginan terhadap sesuatu dan ternyata tidak bisa dia dapatkan, mau sudah tua atau masih muda, usia TK atau lulus S3, semua bisa meledak.

Tapi apakah harus, setiap kali kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita mau, lantas kita menjadi tantrum?

Kembali pada anak-anak, saat lebaran tahun ini, saya dan beberapa sepupu pergi berlibur ke pantai. Dalam satu mobil itu, ada sepasang om dan tante saya yang masih memiliki anak usia 3 tahunan. Sepupu saya yang berusia 3 tahunan itu sebenarnya cukup manis dan kooperatif sepanjang perjalanan, namun ya… yang namanya anak balita, ada saja ulahnya. Si anak ini diminta untuk tidur oleh ibunya karena khawatir kecapekan, tapi si anak ini menolak karena masih mau main dengan kami semua, dan tantrumlah dia. Saat tantrum, dia refleks memukul ibunya dengan kencang, dan ibunya menegurnya dengan cukup tegas. Kaget ditegur ibunya, si anak menangis semakin kencang.
Tante saya, si ibu anak ini iba karena anaknya tidak berhenti menangis. Tapi di satu sisi, tante saya mau anaknya  ini meminta maaf karena telah memukulnya. Maka mulailah pembujukan itu terjadi.

“Adli, mama minta Adli minta maaf sama mama, kan sakit dipukul. Lagian Adli harus nurut sama mama. Adli harus bobo, katanya mau main di Pantai”, kata ibunya menegur.
Si anak tetap konsisten menangis dan menolak, “Engga mau….”
“Ya udah, kalau engga mau, Adli engga usah main di Pantai”
Si anak semakin menangis, “Kok mama gitu sih…. Adli mau main di Pantai”
“Ya kalau mau main di Pantai, Adli isitarahat sekarang, dan Adli minta maaf karena udah mukul mama…” katanya lembut
“Engga….” katanya dengan nada keras
“Adli engga mau minta maaf? Engga mau istirahat juga?”
“Engga mau…. ”
“Oh yaudah, Adli engga main di Pantai ya…”
“ENGAAAAAAAAAAA…. MAMA JAHAAAATTT, AADLIIII… MMMAAAUU… MAAIIIIIN, ENGAAA MAU BOBOOOO!!”
“Adli, nanti Adli kecapekan. Udah bobo sekarang sama mama, dan minta maaf sama mama juga, ‘mama, Adli salah mukul mama, Adli minta maaf ya ma…’”, sambil tetap menasehati dan mencontohkan. Hingga 10 menit kedepan, si ibu masih sabar membujuk anaknya untuk minta maaf dan agar mau tidur, hingga kami satu mobil lelah dan kegelian sendiri mendengarnya.

Tapi apa yang dilakukan oleh tante saya itu adalah hal yang tepat, karena tante saya sedang melatih anaknya satu pelajaran penting yang akan dia pakai dalam kehidupannya kelak, yaitu bagaimana caranya bernegosiasi.

Siapapun dari kita pasti memiliki keinginan, kondisi yang kita anggap ideal, atau hal-hal yang akan membuat kita bahagia jika kita bisa memiliknya. Dan juga bukan hal yang terlarang untuk merasakan itu semua. Tapi sebenarnya, di usia yang masih belia pun, kita sudah belajar bahwa realitas seringkali berada pada sisi sebaliknya. Kita sebenarnya sudah tahu dari kecil, bahwa tidak semua yang kita mau, akan selalu kita dapatkan. Menyebalkan memang, tapi itu faktanya.

Jika kita masih balita, saat kita merengek meminta sesuatu dan tidak diberi, kita bisa menambah volume rengekan kita, serta mendramatisir aksi dengan menghentak-hentak kaki atau bergulingan di lantai, atau bahkan menarik-narik baju orang tua atau orang dewasa di sekililing kita, hingga robek kalau perlu. Seakan kita ingin berkata bahwa, mereka bertanggung jawab atas kekecewaan kita terhadap sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan. Semakin kencang teriakan, maka semakin baik pikir kita, karena kemungkinan besar, mereka akan menyerah dan memberikan pada kita apa yang kita mau.

Pun akhirnya kita mendapatkan apa yang kita mau, sebenarnya kita telah memaksa agar keinginan tersebut dapat terwujud dengan cara yang menyebalkan. Coba saya tanya, siapalah yang kuat dan senang hati melihat anak kecil ngamuk di tempat umum sambil teriak-teriak dan susah dikendalikan begitu? Lalu apa solusinya agar dia diam? Ya sudah turuti saja, daripada semakin menjadi, ya kan? Tapi apakah si anak mengerti bahwa sebenarnya, tidak semua keinginan itu baik untuk dia?

Apakah kita juga akan tantrum seperti anak-anak, saat sebenarnya tidak terwujudnya keinginan kita itu, adalah karena alasan yang baik?

Untuk itulah negosiasi perlu dilakukan untuk menjembatani antara keinginan-keinginan kita dengan realitas yang harus kita hadapi. Saat kekecawaan datang di saat kita telah menjadi manusia dewasa, kita akan memainkan peran ganda, yaitu sebagai anak kecil yang tantrum sekaligus orang tua yang harus mengkontrol anaknya. Tujuannya sederhana, agar kita bisa lebih tenang bersikap jika ada sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan saat itu.

Dalam hidup saya, tidak terhitung berapa banyak hal-hal yang tidak saya dapatkan. Kalau bisa diibaratkan sebagai petinju, hati saya sudah babak belur karena jatuh berkali-kali dari keinginan-keinginan yang tidak terwujud. Tidak terhitung juga berapa banyaknya saya tantrum. Mengunci diri dari kehidupan sosial, kecewa pada entah siapa, dan hingga harus memandang rendah diri sendiri. Hingga di satu titik, saya tersadar bahwa tantrum tidak akan pernah menyelesaikan masalah, tapi negosiasi justru akan mengantarkan saya pada satu titik baru dalam hidup.

Salah satu negosiasi terbesar saya hingga saat ini adalah saat saya merelakan keinginan saya di awal lulus kuliah untuk dapat bekerja di dunia iklan, sesederhana karena setelah saya mencicipinya, dan ternyata itu bukan hal yang ingin saya jalani. Berat rasanya melepaskan semua hal yang sudah saya raih dan pelajari dan harus berbelok arah yang tidak tahu kemana. Tapi kepasrahan saya bernegosiasi dengan kondisi, justru megantarkan saya di satu kehidupan yang malah lebih tepat untuk saya.

Oh dan saya ingat betul keputusan saya beberapa tahun yang lalu untuk akhirnya resign dari radio tempat saya bekerja. Galau bukan kepayang rasanya. Saat itu saya takut kalau-kalau saya tidak akan menemukan tempat bekerja semenyenangkan di radio. Dan nyatanya, hingga saat ini, ya memang tidak ada tempat semenyenangkan itu he..he…he…. Tapi sekali lagi, negosiasi yang berani saya lakukan saat itu, justru membuat saya merasakan keseruan dengan jenis yang berbeda.

Atau saat garis hidup mempertemukan saya dengan beragam tipe manusia, dan saya harus mengalami berkali-kali sakit hati, saat itulah saya harus bernegosiasi dengan kondisi. Saya misalnya yang harus terdepak dari kelompok pertemanan, karena kami tidak lagi memiliki pandangan yang sama, saya yang berkali-kali menemukan teman bekerja yang klop tapi akhirnya harus merenggang karena faktor ini dan itu, bahkan saya harus bersedia bernegosisasi tentang lelaki seperti apa yang akan saya nikahi kelak.

Keberanian kita melakukan negosiasi pada realita hidup yang harus dihadapi, sebenarnya menjadi cara terbaik untuk mengatur kembali keinginan-keinginan agar lebih sesuai untuk kita. Terlebih dengan kita yang secara konsisten akan menemukan hal-hal menyenangkan dan menginginkan banyak harapan, kita sering kali harus diingatkan bahwa hidup akan selalu berputar dan kondisi akan selalu berubah. Maka dari itu, lihailah bernegosiasi.

Kita akan kecewa dengan banyak keinginan yang tidak terwujud hingga memaksa kita mengelus dada, menarik nafas, dan tantrum. Saat itu terjadi, jangan dilawan. Kita boleh tantrum, silahkan saja tantrum selama tidak didepan umum, tapi jangan lupa bahwa sebagai manusia dewasa kita bisa memainkan peran lain dalam diri kita untuk bernegosiasi dengan segala macam kondisi. Semakin handal kita bernegosiasi, semakin mudah kita menghadapi tantrum.

Semoga kita tidak menjadi seperti bocah kecil, meraung-raung keras hanya untuk keinginan-keiniginan yang sebetulnya, akan berdampak buruk untuk hidup kita. 






Ya kan, menggemaskan sekaligus menyebalkan?

Selasa, 16 Juli 2019

Walau Tidak Banyak Tapi Itu Cukup

"But you're gonna live forever in me, I'll guarantee, it's your destiny"
(John Mayer)

Manusia memang selalu dipenuhi dengan banyak sekali keinginan. 

Jika aku harus menuliskan semua keinginanku dalam satu lembar panjang, maka kamu akan berada dalam urutan paling atas. Memikirkan keinginanku soal kamu, aku akan lebih sering memutar otak dan memeras perasaan yang berujung pada helaan nafas panjang. Menginginkan kamu seperti aku harus berjalan pada kabut gelap yang entah di depan sana jurang atau jalan setapak. 

Tapi mengingat sepanjang hidupnya manusia tidak akan pernah berhenti untuk memiliki keinginan, maka akan kubiarkan saja kamu berada di puncaknya, duduk diam melihat keinginan-keinginan lainnku yang berada tepat di bawahmu. 

Aku tidak punya banyak tuntutan untuk mewujudkan keinginanku tentangmu, karena sialnya, hatiku sudah menuntut untuk tidak lagi memiliki banyak keinginan selain itu. Jadi cukuplah keinginan itu sebagai satu-satunya tuntutan, tanpa perlu aku menuntut apapun lagi. Pun aku pada dasarnya tidak benar-benar tahu apa yang aku maksud dengan 'menginginkan kamu' dalam daftar keinginanku, jadi ini memang murni sebuah permintaan hati untuk menjadikanmu sebagai keinginan. 

Untuk itu, jika hidup membawaku pada kejutan-kejutan yang membuatku bisa memilikimu dengan porsi sesedikit apapun, sebenarnya itu cukup. Karena jikapun keinginan itu tidak terwujud, kamu yang menempati urutan paling atas saja, sudah merupakan keinginanku yang terwujud. 

Jadi sekali lagi, di setiap kejutan tentang keinginananku tentang kamu, walau itu hanya sedikit, aku akan selalu berkata, "Itu cukup, daripada tidak sama sekali"



Jumat, 31 Mei 2019

Kita Sebagai Baut-Baut Kehidupan


Sebelum lulus kuliah, saya sempat bekerja di salah satu agensi iklan sebagai strategic account executive. Bagi saya yang memang merupakan mahasiswa komunikasi pada saat itu, bergabungnya saya dengan salah satu agensi iklan yang saat itu menjadi salah satu yang terbaik, adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Saya juga merasa bahwa kesempatan bisa bekerja di sektor periklanan merupakan salah satu pencapaian yang penting dalam hidup saya, terlebih karena memang dari awal masuk kuliah, hal itulah yang saya idam-idamkan. Saat itu saya berpikir bahwa saya akan memiliki kehidupan karir yang cemerlang, yang akan melejit dan membanggakan. Belum lagi pada saat itu saya berpikir betapa beruntungnya saya karena sudah bisa mulai bekerja di tempat yang baik, sementara teman-teman sepantaran saya, kebanyakan bahkan masih bingung mau melakukan apa setelah lulus. Jiwa kompetisi saya seakan berkata, “Bagus Alifah, kamu memang selalu selangkah lebih maju”.

Jiwa muda yang penuh dengan ambisi dan kesoktahuan memang.

Namun ternyata, kenyataannya tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Memang betul saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan juga sesuai dengan rencana yang sudah saya rakit sejak awal masa perkuliahan. Memang betul bahwa saya selangkah lebih maju dibanding kebanyakan teman-teman saya, yang lulus saja belum. Tapi senyatanya, bergabung di agensi iklan tersebut justru malah membuat saya seperti menjalani kehidupan yang tidak dirancang untuk saya. Alhasil, alih-alih mendapatkan kehidupan yang menyenangkan dimana karir gemilang siap dimulai, pengalaman itu justru menjelma menjadi salah satu titik terendah dalam kehidupan saya di awal usia 20 tahunan. Jika harus kembali mengingat bagaimana saya pernah berada di titik itu, saya akan selalu ingat bagaimana saya merasa kerdil karena terhempas dari mimpi-mimpi yang sudah saya rakit sejak lama.

Saya merasa hilang arah saat itu.

Di tengah-tengah kebingungan saya dalam menentukan arah tujuan setelah lulus kuliah, salah satu teman kuliah saya, panggilan akrabnya Bunda, dia bertanya pada saya bagaimana pengalaman bekerja di agensi iklan. Maka tanpa babibu dan basa-basi, saya dengan fasih menceritakan bagaimana tidak sesuainya saya dengan pekerjaan di agensi, lengkap dengan semua keluh kesah dan duka nestapanya. Bunda yang mendengarkan saat itu tidak banyak komentar, hanya menganggung-angguk saja.

Hidupun akhirnya memberikan saya angin baru. Saya mengistilahkan sebagai putar haluan kapal kehidupan. Setelah setahun kebingungan mau membawa hidup ke mana, sebuah saran yang berharga dari Mas Aji dan Mbak Nina, pasangan suami istri kesayangan saya, membawa saya berkenalan dengan sektor pembangunan sosial. Awal mula saya menapaki kaki di sektor ini, saya sendiri kebingungan bukan main. Kata saya waktu itu, “Ini sebenernya apaan sih, kerjaan kok random begini?”. Saya sendiri awalnya tidak segitu inginnya untuk menekuni sektor ini. Awalnya saya berfikir karena sektor ini tidak begitu sesuai dengan apa yang saya pelajari di kuliah, mungkin juga karena saya masih asing dengan tipe pekerjaannya, atau mungkin juga karena mimpi menjadi seorang strategic planner di salah satu agensi multinasional di Jakarta masih menggebu-gebu saat itu. Tapi semua asumsi itu kandas karena justru hingga sekarang, saya masih betah-betah saja bekerja sektor ini.

Lagi, saya dibuat tidak paham dengan alur kehidupan.

Kurang lebih 5 tahun berlalu sejak semua kebingungan di awal usia 20 tahunan, beberapa waktu yang lalu, setelah cukup lama tidak berjumpa, saya dan Bunda janjian untuk bertemu di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Saya mengajaknya bertemu karena dia melakukan lompatan signifikan dalam hidupnya dengan berhenti bekerja dan memilih untuk sementara waktu menjadi ibu rumah tangga. Maka bertemulah kami, di bulan puasa, di salah satu kafe. Seperti biasa, saya tidak banyak bercerita, hanya sedikit memberitahukannya intisari dari apa yang sedang saya kerjakan sekarang. Sedangkan dia, dia bercerita panjang lebar soal kehidupannya, baik pilihannya untuk sementara ini menjadi ibu rumah tangga hingga hal-hal pribadi lainnya.

Siapa yang menyangka, Bunda yang 5 tahun lalu mendapatkan testimoni kurang menyenangkan dari saya yang bekerja di agensi iklan, kini malah memiliki rekam jejak pekerjaan di bidang periklanan yang membanggakan. Dia bahkan pernah nyaris akan menerima pekerjaan di Malaysia, yang akhirnya harus dia tolak karena dia akan menikah. Sedangkan saya, yang tadinya justru berpikir akan menggeluti bidang periklanan, malah putar haluan di sektor pembangunan sosial. Tiap kali bertemu dengan Bunda, saya selalu takjub dengan betapa berbedanya kami dalam menyikapi satu tipe pekerjaan yang sama. Saya bisa segitu kapoknya bekerja di sektor periklanan, sedangkan Bunda bisa sangat melejitnya. Kebalikannya, teman-teman yang saya ketahui dulunya berasal dari Jurusan Antropologi atau Sosiologi, yang seharunsya bekerja di tempat saya bekerja saat ini, malah kebanyakan menjadi content adviser atau social media officer di perusahaan-perusahaan startup.

Mungkin inilah yang dinamakan life will find the way.

Dulu saya sempat memiliki klasifikasi pekerjaan yang bagi saya menarik dan yang tidak menarik, saya bahkan memiliki kategori pilihan hidup yang tepat atau tidak tepat berdasarkan definisi yang saya buat sendiri. Misalnya, saya tidak habis pikir kenapa di usia yang sangat muda, seseorang bisa memutuskan untuk menjadi PNS yang notabene pekerjaan jangka panjang, kenapa dia tidak menikmati hidup dia dulu? Atau kenapa seseorang bisa putar haluan menjadi pebisinis saat jabatannya di kantor sedang bagus-bagusnya? Kenapa seseorang memilih untuk tinggal di desa saja dan kenapa tidak pindah ke kota yang lebih banyak kesempatan? Tanpa saya sadari klasifikasi itu justru malah membuat saya melakukan penilaian subjektif atas pilihan-pilihan hidup seseorang. Butuh waktu yang cukup lama, hingga akhirnya saya sadar bahwa setiap manusia pada dasarnya hanya akan menjalani kehidupan yang memang sudah dirancang untuk dirinya sendiri. Dimana jalur kehidupan setiap orang akan sangat berbeda satu sama lainnya. Sayapun kini meyakini bahwa pilihan hidup apapun yang dipilih oleh setiap orang dalam hal menentukan tipe pekerjaan yang dia mau, menjadi jawaban akan peran yang sedang dia jalankan.

Jika kehidupan bisa saya ibaratkan, mungkin saya akan mengibaratkan hidup seperti halnya sebuah jam dinding rakasasa dengan semua komponen di dalamnya, mulai dari jarum menit, jarum detik, jam jam, angka-angka penunjuk, baterai, mesin penggerak, rangka, hingga background pemanisnya. Dengan memahami bahwa setiap dari komponen jam tersebut memiliki fungsinya masing-masing, seharusnya tidak ada yang pada akhirnya mengatakan bahwa jarum jam lebih penting dari baterai. Apa pentingnya juga mengukur siapa yang lebih berjasa dari siapa, toh pada akhirnya kita akan bertanya ‘jam berapa sih ini?’ dan melihat jam sebagai sebuah komponen utuh.

Sama juga. Seseorang yang memilih tinggal di desa atas dasar pertimbangan yang matang, artinya dia sedang menjalani porsi denyut kehidupan yang harus dijalankan dari desa. Seseorang yang pada akhirnya harus pindah ke kota, artinya dia sedang menjalani perannya di kota yang memang harus dijalani. Harus ada yang menjadi PNS dan dengan suka hati menjalaninya, dan harus ada yang menjual gorengan dan juga merasa itu sebagai pilihan hidupnya.

Seorang mantan teman siaran saya yang kini bermukim di Bali, memiliki pandangan hidup bahwa jika setiap dari kita pada akhirnya mengetahui dimana dia harus bertindak dalam alam semesta yang sebesar ini, maka seharunya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan berlebihan. Saya sepaham dengan apa yang dia pikirkan, maka itulah saya merasa bahwa hidup akan selalu menjani perannya dengan melakukan plot twist yanga akan mengejutkan kita. Tiba-tiba saja kita disuruh ke kanan atau kiri, ke depan atau ke belakang, yang pada akhirnya mengantarkan kita pada peran kita masing-masing di jam besar bernama kehidupan.

Sebagai manusia, kita butuh untuk bisa berlapang dada dan juga bersedia untuk bersabar agar bisa memahami di mana seharusnya kita berada. Dan jika sudah menemukan, maka jangan lagi mencoba untuk menjalani peran orang lain, jalani saja peran kita sebaik mungkin jika ingin membantu kehidupan ini tetap berjalan secara manis.

Ini memang tidak seliterlek jam dinding yang saya ibaratkan, tapi ini cukup untuk menggambarkan bagaimana setiap orang, jika fokus mencari perannya masing-masing, akan memandang hidup seperti sebuah kesatuan yang utuh. Tidak ada peran yang sangat menonjol dibanding yang lain, tidak ada pilihan hidup yang lebih superior dibanding yang lain, semuanya sesuai dengan posrsinya dalam memutar kehidupan.

Di akhir pertemuan saya dengan Bunda, kami akhirnya mendiskusikan tentang pekerjaan di bidang komunikasi yang sekarang sedang naik daun karena banyaknya perusahaan startup, serta jika harus dibandingkan dengan tipe pekerjaan yang sedang saya geluti saat ini, maka seperti apa bandingannya. Namun seperti yang Bunda katakan, “Kerjaan itu engga dirancang untuk semua orang”, maka kamipun mengamini bahwa semua orang memiliki jalan kehidupannya masing-masing dan akan sangat membingungkan jika kita harus membandingkan peran kita dengan orang lain melalui kacamata materialistis.

Tidak apple to apple istilahnya.

Kehidupan memang berjalan dengan harmoni yang cantik seperti halnya jam dinding yang berputar. Kita dan peran yang kita jalani adalah bagian dari komponen kehidupan itu sendiri. Ada baiknya jika kita menerima plot twist kehidupan ini dengan semua syukur yang kita punya, dan menjalaninya sebaik-baiknya. Toh ini juga tidak akan lama, cepat atau lambat peran yang kita jalani ini akan tergantikan oleh orang lain. Di waktunya nanti, kita harus siap untuk menuju pada satu-satunya pemberi peran dalam hidup kita, dan akhirnya menyadari bahwa peran-peran kecil yang kita jalani selama ini tidak akan lebih besar dari peran yang sesungguhnya melekat pada diri kita: yaitu sebuah ciptaan.



Menemukan Itu Sekali, Selebihnya Adalah Negosiasi

Beberapa tahun yang lalu, aku akhirnya menemukan sebuah kafe kecil, dengan ornamen kekinian, dan rasa kopi yang enak. Hingga kinipun, kafe itu menjadi kafe kesukaanku untuk melamun hingga mengerjakan hal-hal besar. Tidak lagi aku berpikiran untuk mencari kafe atau berpindah-pindah kafe lagi. Kafe itu selalu menjadi kesukaanku. Saat aku membutuhkan tempat untuk sekedar melamun atau melakukan hal-hal besar, sedangkan aku tidak berada di kotaku, maka aku akan membayangkan berada di kafe itu, dan memesan kopi kesukaan. Rasanya menyenangkan bisa menemukan kafe yang sudut ruangannya bisa sanyaman itu dengan suguhan rasa kopi yang pas.

Aku pernah juga, waktu itu menemukan satu tempat makan mie ayam yang dijual di pinggir jalan. Rasanya enak sekali dan harganya murah. Lama tak pernah lagi aku datangi, tempat itu kini tak ada lagi. Aku coba bertanya pada orang-orang di sekitar, mereka menjawab bahwa bapak itu pindah namun tidak tahu di mana. Sampai sekarang, aku masih ingat bagaimana rasa enak mie ayam itu. Aku menemukan beberapa mie ayam yang juga enak, namun mie ayam gerobak itu, tetap saja idolaku.

Aku seringkali berganti-ganti produk perwatan wajah. Mulai dari Korea hingga yang berasal dari Eropa, aku mencobanya dengan sabar. Beberapanya malah membuat wajahku jerawatan, namun beberapanya bisa membuat kulit wajah menjadi lebih lembab. Rasanya lega sekali mengakhiri masa pencarian produk perawatan wajah dan bisa dengan rutin membelinya jika habis.

Aku menemukan banyak sekali hal di masa yang berbeda-beda. Ada perasaan tenang dalam hati saat akhirnya menemukan sesuatu seperti yang selama ini dicari. Ada semacam perasaan lega bahwa akhirnya penantian dan pencarian itu menemukan jawabannya. Walau seringkali pencarian itu harus tergantikan karena satu dan lain hal, namun pengalaman menemukan sesuatu itu, selalu saja menjadi hal yang menyenangkan.

Di suatu masapun, aku menemukan kita.

Hidup entah akan mengarahkan ke mana lagi setelah aku menemukan kita. Rasa-rasanya, kata menemukan hanya diciptakan sekali saja, selebihnya adalah aku yang bernegosiasi dengan segenap jiwa raga untuk dapat berdamai dengan arah kehidupan, yang kalau-kalau tidak lagi ada kita didalamnya. 


© RIWAYAT
Maira Gall