Rabu, 22 April 2020

Siapakah Kontak Darurat Itu?


Minggu ini ada beberapa tumpukan kertas di meja setrikaan di lantai bawah rumah kosan saya. Karena tidak ada pemberitahuan apa-apa dari pemilik rumah kosan, saya jadi tidak memiliki keharusan untuk mengitip apa isi kertas-kertas itu. Saya diamkan saja ada di sana selama beberapa hari. Hingga suatu ketika, saya iseng bertanya dengan salah satu penghuni rumah yang kamarnya paling dekat dengan meja setrikaan. Ternyata itu adalah formulir data diri seluruh penghuni kos yang ada di kecamatan saya ini. Sayapun akhirnya membaca formulir itu dengan seksama. Selain formulir yang kosong, ada satu formulir milik salah satu penghuni kosan yang sudah terisi. Ada dua hal yang saya perhatikan dari formulir yang tersisi itu. Pertama, si teman kosan saya itu menulis status hubungannya adalah menikah; kedua, kontak darurat yang dicantumkan adalah nomor kakaknya. 

Saya jadi bertanya-tanya, kenapa bukan pasangannya saja ya yang dimasukan sebagai kontak darurat?

Dua hal itu sedikit banyak mempengaruhi saya. Bukan karena saya penasaran dengan kehidupan pribadi si teman kosan saya itu, tapi lebih kepada, siapa sebetulnya yang dapat dijadikan sebagai kontak darurat dan kenapa harus orang itu?

Ah iya, saya belum bercerita tentang alasan kita semua harus mengisi biodata sebagai penghuni kosan. Di lembar pertama formulir itu, dijelaskan bahwa di salah satu kosan di kecamatan ini, ada seseorang yang ditemukan tewas di kamarnya seorang diri. Naasnya, si pemilik kos tersebut bahkan tidak mengetahui nomor keluarga atau siapapun yang bisa dihubungi. Entah bagaimana akhirnya, yang jelas kejadian itulah yang membuat pihak kelurahan akhirnya melakukan pendataan, lengkap dengan kontak darurat yang bisa dihubungi.

Padahal baru saja beberapa hari yang lalu, saya juga mendapat sebuah surat elektronik dari kantor yang mengharuskan saya untuk mengisi data kontak darurat. Tertulis dalam penjelasanya bahwa data itu dibutuhkan perusahaan jika sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diingkan.
Jadi kembali ke pertanyaan saya di awal, siapa sebenarnya kontak darurat itu dan apa alasan pemilihannya?

Saya sempat bertanya kepada beberapa teman melaui WhatsApp tentang hal ini. Seorang teman yang sudah menikah menjawab bahwa kontak darurat yang dia masukan adalah suaminya, lalu ibunya. Teman saya yang belum menikah kebanyakan menjawab keluarganya di rumah. Alasannya cukup klise… “Ya karena suamiku lah Peh. Siapa lagi?”

Lalu saya melanjutkan pertanyaan pada mereka tentang apa alasan seseorang yang sudah menikah tapi tidak mencantumkan pasangannya sendiri sebagai kontak darurat. Ada yang menjawab, mungkin karena si pasangan itu sedang tinggal berjauhan atau long distance marriage, dan kontak darurat yang dibutuhkan adalah seseorang yang bisa menolong dengan cepat tanpa terkendala jarak. Jadi dipilihlah orang lain yang tinggal satu kota sekalipun itu bukan pasangannya. Ada juga yang berpendapat mungkin dia tidak mau membuat pasangannya khawatir.

Tapi sebentar…. Sepertinya kita harus mundur sedikit dan membahas tentang kondisi darurat itu sendiri. Memangnya kondisi darurat itu apa?

Beberapa teman saya mengatakan jawaban yang umum seperti kecelakaan, kerampokan, bencana alam atau kalau tetiba kita sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit. Ada juga yang menjawab kondisi darurat itu adalah hal-hal yang berhubungan dengan pihak berwajib, seperti kita digerebek oleh polisi kerena pesta narkoba atau meninggal dunia karena bunuh diri atau dibunuh.

Uhm… Saya juga bukan seorang ahli yang bisa mengklasifikasikan jenis situasi darurat seperti apa yang membutuhkan bantuan macam apa. Tapi menurut saya, kondisi darurat adalah sebuah kondisi di mana kita tidak mampu untuk memutuskan sesuatu atau bertindak dengan justifikasi kita sebagaimana normalnya. Karena kejadian itu terjadi cepat dan diluar control kita. Coba sekarang bayangkan, di sebuah pagi misalnya, kita mendapat kejahatan seksual. Apa yang bisa kita lakukan? Apa yang harus kita putuskan? Kalau itu terjadi pada saya, kemungkinan besar saya akan menangis dan minta dijemput. Ah, tidak usahlah terlalu jauh perkara yang seperti itu, ada teman saya yang hapenya kecopetan di Stasiun Duri saja, seharian dia gemeteran dan tidak bisa bekerja. Dia baru tenang setelah menghubungi keluarganya dan diberi saran untuk jangan pulang dengan KRL. Dalam kondisi-kondisi seperti itu, dibutuhkan orang lain sebagai pengambil keputusan atau setidaknya menenangkan kita yang sedang panik. Kita butuh diwakilkan sementara waktu.

Kalau begitu, bagi saya kontak darurat memang tidak harus seseorang yang memiliki hubungan keluarga, tetapi seseorang yang benar-benar mengenal saya dan tidak ada perasaan sungkan di hati saya untuk meminta tolong padanya saat kondisi darurat. Tidak wajib juga seseorang yang tinggal satu kota atau berada di radius yang dekat, tapi seseorang yang mampu memberikan instruksi pada siapapun yang menghubunginya saat itu, dan saya percayakan semua instruksi yang dia berikan. Seseorang itu mungkin juga panik saat dihubungi, tapi kehadirannya, walaupun itu hanya lewat suara, membuat saya tidak merasa sendiri. Dan yang terpenting adalah seseorang yang sebisa mungkin memprioritaskan saya saat kondisi darurat itu terjadi. Seperti itu kriteria yang saya bayangkan sebagai kontak darurat.

Saya bukan seseorang yang ahli membaca hubungan antar manusia, namun urusan kontak darurat ini membuat saya sedikit banyak berpikir tentang posisi seseorang di hidup manusia. Kontak darurat saya adalah teman dekat saya, Ica. Di semua formulir yang mengharuskan saya mengisi kontak darurat, maka nama dan nomor telepon Ica yang akan saya cantumkan, barulah jika ada opsi kedua, saya akan meletakan nama dan nomor mama saya.

Selain tiga alasan itu, kontak darurat adalah orang yang juga akan ikut bertanggung jawab atas semua keputusan yang telah dia ambil. Saya ingat waktu Ica akhirnya memutuskan untuk menginapkan saya di rumah sakit bulan Desember lalu, dia jugalah orang yang bolak-balik mengurus saya selama opname. Memilih Ica sebagai kontak darurat juga dengan pertimbangan yang sangat matang. Ica saat ini adalah satu-satunya orang yang paling memahami emosi saya, siapa keluarga saya yang harus dihubungi, dan fakta bahwa kami memang tinggal satu rumah membuat aktivitas saya terpantau jelas olehnya. Kami sebagai dua temanpun sudah melewati cukup banyak kejadian, sehingga bagi saya, tidak ada yang paling bisa saya percayakan untuk mengambil keputusan di saat mengalami kondisi genting selain dia. Setidaknya hingga hari ini, dia adalah kontak darurat saya.

Pemilihan kontak darurat akan berbicara banyak tentang siapa orang yang bisa menerima kita di kondisi tidak terduga. Tentang siapa orang yang akan menerima hutang budi kita seumur hidup. Tentang siapa orang yang membantu kita untuk kembali tenang. Sungguh bukan posisi yang ringan.

Untuk itu, mari kita bayangkan sejenak, jika ada formulir di depan mata kita sekarang dan kita harus mencantumkan maksimal dua orang sebagai kontak darurat, siapakah mereka?


Source: https://id.pinterest.com/pin/739082988820747989/


Rabu, 15 April 2020

Tiga - Kampung Santri


Seorang ibu dapat diartikan dengan banyak makna. Bagi sebagian orang, ibu adalah sosok yang dapat memberikan kehangatan dan kelembutan yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan apapun atau siapapun. Tapi bagi sebagian yang lain, sosok ibu justru dipandang sebagai sumber ketakutan dan kesedihanya. Malah adapula yang melihat peran ibu sebagai peran yang janggal dan hilang sehingga tidak banyak yang bisa dideskripsikan darinya.

Tidak peduli seberapa berbedanya kita dalam menggambarkan sosok seorang ibu, kita harus sepakat bahwa kita semua berasal dari rahim seorang wanita. Entah apa sebutannya, entah bagaimana proses kita mengenalnya, tapi dialah orang yang mengandung kita dalam rahimnya dan dengan nafasnya mencoba sekuat tenaga melahirkan kita. Mungkin karena alasan itu pula, karena kita sudah tinggal di rahimnya sekian bulan, berbagi makanan dengannya, dan menjadi bagian dari pengorbanannya, wanita yang melahirkan kita itu akan selalu ada di hati setiap dari kita. Sering kali, saat manusia sudah berjalan sangat jauh, hingga akhirnya merasa lelah dan sendirian, yang dia inginkan adalah menemui ibunya, bercerita tentang hari-harinya yang panjang, bersandar sejenak dalam pelukannya, dan meminta didoakan agar bisa selalu bertahan.

***

Namanya Jina. Dia adalah anak terakhir dari 6 bersudara. Bukan hanya kelahirannya yang paling terakhir, tapi jarak kelahirannya dengan kakak-kakaknya pun juga cukup berjauhan. Ayahnya sudah lama meninggal saat dia belum tahu banyak hal, di usia 4 tahun lebih tepatnya. Hingga tidak heran, Jina memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibunya. Dia lahir dan besar di lingkungan pesantren, sehingga dia terbiasa memiliki penampilan dengan identitas keislaman yang cukup kuat. Rok dan baju atasan yang panjang serta jilbab yang dijulurkan hingga depan. Anaknya cukup manis dengan postur tubuh sedang standar Indonesia.

Tahun 2012, takdir mempertemukan kami karena kami menjalani KKN bersama di Papua Barat. Sempat ada sedikit drama tentang urusan asmara, yang mana sangat lucu dan menghibur kalau harus diingat sekarang, tapi selebihnya kami justru menjadi sepasang teman dekat. Dia adalah teman berkelanaku keliling Indonesia selama 4 tahun lebih. Lucu memang kalau diingat. Aku yang serba cepat, realistis, dan suka menyendiri, sementara dia yang agak lambat, emosional, dan apa-apa harus selfie. Harusnya sih kami berantem di jalan, tapi nyatanya akur-akur saja tuh hingga detik ini.

Di satu ketika, saat kami berdua sedang dalam perjalanan ‘Jelajah Sumatra’ tahun 2016, kami duduk di tempat makan kecil serambi menunggu seorang teman kami datang dari Medan untuk sama-sama menyebrang ke Pulau Samosir. Di tempat itu, entah bagaimana awalnya, kami akhirnya bercerita tentang keluarga kami masing-masing. Sebelumnya, kami sangat jarang untuk masuk ke topik obrolan yang sangat personal, maka itulah kali pertama kami berbincang dengan lebih jujur dan terbuka tentang keluarga kami.

Setelah selesai dengan ceritaku, diapun memulai ceritanya, “Aku engga tahu ya… tapi menurutku, ini adalah saat terberat loh sist di hidupku. Aku masih adaptasi sama hidupku setelah mimi meninggal dunia. Sampe sekarang tuh aku masih kaget sama semua perubahan di hidupku. Masih nyoba buat nerima kondisi kalau udah engga ada lagi mimi di hidupku”

Sambil mencemil makanan, aku bertanya, “Segitu deketnya ya kamu sama ibumu?”

“Deket banget! Aku tuh dimanja banget sama dia sist. Mungkin karena aku anak terakhir dan semua kakak-kakakku udah pada menikah kali ya… jadi kayak disayang banget gitu. Semuanya tuh disiapin sama mimi kalau aku pulang kampung. Pokoknya aku diperhatiin banget deh. Sampe sekarang aja aku masih engga kuat kalau harus pulang kampung. Masih aneh rasanya pulang kampung, pulang ke rumah sementara mimi udah engga ada…. Kayak bukan rumah.”

Diapun melanjutkan, “Ada satu hal yang bikin aku galau banget…”

“Apa?” Kataku mendekat.

“Sebelum mimi meninggal, dia itu ngasih wasiat kalau dia itu engga setuju tentang hubunganku sama Deka.”

“Wah, serius?”

“Iya…. Padahal kamu tahu kan aku udah serius sama dia sejak KKN itu… tapi ya gimana dong sist, aku engga bisa dong bantah mimiku. Mana semua kakak-kakakku juga udah jadi saksinya lagi, jadi akan sangat susah banget kalau ngelanjutin hubunganku sama dia.”

“Jadi kamu mau putus?”

“Iya. Tapi aku engga bisa sih kasih tau itu alasannya sih ke dia… ya tapi intinya aku akan putus dari dia.”

Aku yang juga kisah asmaranya tidak lebih baik dari dia hanya bisa diam. Aku jujur tidak tahu harus menghibur atau memberikan dukungan seperti apa. Rumit.

Setelah perbincangan itu, kehidupan Jina berjalan dengan amat sangat tidak mulus. Pertama dia harus menghadapi patah hati yang cukup dahsyat karena harus sengaja memutuskan hubungannya dengan lelaki yang sudah lama dia cintai. Setelah itu, Jina harus mengalami beberapa kali diputuskan sepihak oleh dua lelaki yang awalnya sudah siap untuk menikahinya. Belum lagi cukup waktu untuk mengobati patah hatinya, desakan kakak-kakak Jina tetap saja tidak mereda untuk menyuruhnya segara menikah. Rasanya kehidupan Jina saat itu hanya berputar-putar di masalah menikah dan menikah saja. Tidak ada hal lain. Padahal aku tahu, dia sebenarnya punya banyak mimpi yang ingin dia kejar. 

"Mungkin kalau mimi masih hidup, ceritanya bakal berbeda kali ya sist?" Katanya bertanya suatu ketika.

Setelah 2 tahun masa penantiannya, Jina akhirnya menikah dengan seorang lelaki baik hati, anak tunggal, lahir dan besar di lingkungan yang sama dengan Jina, di lingkungan pesantren. Bahkan sebagai hadiah pernikahannya, dia diberangkatkan umroh oleh keluarga suaminya di bulan Ramadhan. Sebuah hadiah yang pantas dia dapatkan. Aku sangat senang waktu mendengar kabar itu. Aku pikir kehidupannya berjalan baik-baik saja setelah dia menikah. Jina akhirnya menemui akhir yang indah dan akan memulai hidup barunya sebagai seorang istri. Sejak saat itu, aku juga sudah mulai jarang berkomunikasi dengan dia. Aku dengan hidupku sendiri di Jakarta dan dia di Jogjakarta.

Hingga suatu hari saat aku pulang ke Jogja, aku sempatkan untuk datang ke rumahnya.  Aku ingat sekali, saat itu adalah di bulan Ramadhan tahun 2018.

“Jadi gimana rasanya menikah? Sesuai sama ekspektasi engga?” Kataku penasaran.
“Gimana ya sist… aku takut nih kalau aku cerita malah jadi engga bersyukur”
“Eh loh? Kamu kenapa?” Aku yang malah tidak menduga dia akan menjawab dengan nada seperti itu.

Dia pun akhirnya bercerita panjang tentang hubungan dengan ibu mertuanya, termasuk apa yang diharapkan dari keluarga suaminya tentang kehadiran seorang cucu dari rahimnya. Dengan nada tertekan, dia mencoba untuk kuat sambil menyembunyikan perasaan tersudutkan karena keharusan menjadi seorang ibu. “Sist, aku nikah tuh baru… masa ya udah dipaksa harus hamil?”

Dia kembali bercerita bahwa beberapa kali dia harus pergi ke dokter kandungan dan bukannya mendapatkan solusi, dia malah menemui banyak kendala. Dia menyebutkan padaku tentang bagaimana proses penetrasi yang justru malah menimbulkan pendarahan hebat karena dilakukan dengan terburu-buru. Dengan nada tercekat dia bercerita, “Aku sampe dikasih saran sama dokter untuk sebulan sekali atau dua kali ke hotel biar lebih rileks ngelakuinnya.”

Cerita Jina sangat emosional dan lagi-lagi, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku hanya bisa tersenyum dan mencoba mengingatkannya betapa berliku perjalanan asmaranya hingga ada di titik ini. Berharap apa yang aku katakan bisa meringankan bebannya, walaupun aku tahu itu mustahil.

Satu hal yang paling membuat Jina tersiksa adalah kenyataan bahwa dia harus tinggal bersama dengan mertuanya dan menuruti semua aturan yang dibuat oleh keluarga suaminya. Tidak ada yang neko-neko sih sebenarnya, hanya saja dia tidak diperbolehkan lagi untuk berpergian. Jangankan keliling Indonesia bersamaku, untuk sekedar makan di luar bersama temannya saja, sudah terasa seperti sebuah mukjizat. Dan bagi seorang Jina yang sudah terbiasa mandiri dan selalu bergerak kesana kemari, hal itu tentu menjadi perubahan hidup yang sangat tidak mudah untuk dia dijalani.  

Sejak pertemuan itu, kamipun beberapa kali berkomunikasi via telepon. Saat berbincang, aku selalu memperhatikan betapa senangnya dia ketika diperbolehkan untuk pulang ke kampung halamannya walaupun hanya beberapa hari saja.

“Tapi ya sist… aneh banget deh. Aku tuh kan sempet ngerasa engga betah kalau harus pulang kampung karena tiap kepulanganku ke kampung, itu selalu ingetin aku sama mimi. Tapi ya sekarang kondisinya malah begini. Aku malah engga punya pilihan lain lagi selain pulang. Itu malah satu-satunya alasanku biar aku bisa deket lagi sama mimi. ” Katanya dengan nada yang kembali muram.
“Iya sist… kamu pulang gih, puas-puasin kamu nostalgia sama mimi ya, sebelum balik lagi ke rumah Jogja.” kataku mencoba menghibur.

Beberapa saat yang lalu, saat masa-masa awal karantina karena COVID-19 mulai diberlakukan, kamipun sempat berkomunikasi lagi untuk saling menanyakan kabar. Dalam sebuah pesan singkatnya, dia berkata, “Aku jarang banget dikasih kesempatan untuk pulang, dan waktu pulangku ya kalau mau puasa dan lebaran kayak gini. Aku mungkin egois, tapi aku berharap keadaannya cepet normal dan aku bisa pulang lagi…. Aku engga kuat sebenernya…”

Aku yang membaca itu, jujur sangat berat untuk mengamini permintaannya. Aku hanya bisa memberikanya emotikon peluk. 

***

Betapa tidak ada yang mudah dalam perjalanan seorang manusia. Bagi Jina, proses hidupnya saat ini akan selalu terasa kurang lengkap tanpa hadirnya seorang ibu. Terlebih di masa-masa sekarang, ketika dia dipaksa siap untuk menjadi seorang ibu, Jina malah tidak tahu harus berkiblat pada siapa, tidak tahu harus bercerita pada siapa. Satu-satunya keinginannya adalah pulang kampung, pulang ke tempat di mana dia bisa memeluk semua jejak-jejak ibunya dan mengingat sejenak kenangan saat ibunya menyanyikan sebuah lagu sebelum dia tidur. Tempat yang sebetulnya menyedihkan dan hampa, tapi bagi Jina, itu satu-satunya tempat di mana dia tidak harus dipaksa untuk menjadi apa-apa. 


Sebuah proses kolaborasi dengan Kamalia Rahman sebagai ilustrator tentang Sesuatu yang Disebut Rumah.

Jumat, 03 April 2020

Dua - Kamar Masa Kecil


Tidak semua orang menyukai Jakarta atau lebih tepatnya, tidak semua orang sanggup menghadapi Jakarta. Di Jakarta, waktu seperti berjalan dengan sangat cepat, orang-orangnya tidak punya banyak energi dan waktu untuk saling melontarkan senyum di jalan atau bertanya kabar. Bahkan terkadang sulit membedakan mana ketulusan dan mana yang artifisial. Mereka bilang, Jakarta itu lebih kejam dari ibu tiri.

Namun begitu, seringkali manusia tidak bisa menolak Jakarta yang digadang-gadang sebagai pusat kehidupan Indonesia. Berbagai macam slogan, iming-iming, bahkan cerita kesuksesan seakan dilontarkan untuk menghias nama Jakarta sebagai tempat yang tepat untuk meraih cita-cita. Namanya sangat sohor untuk para pengejar mimpi, rasanya jika belum bisa bertarung di Jakarta, belum bisa dikatakan tangguh. Doktrin yang sesat memang.

Tapi toh sebenarnya, tidak pernah ada paksaan untuk menyukai Jakarta. Pun Jakarta, juga tidak pernah memaksa seseorang untuk datang padanya, terlebih jika harus jatuh cinta padanya. Jakarta hanya menjadi apa adanya, hiruk-pikuk yang terkadang semu. Pilihan untuk jatuh cinta, sepenuhnya diserahkan pada masing-masing orang.

***

Waktu itu sudah cukup malam ketika aku kedatangan tiga orang teman lama. Sama seperti aku, ketiganya adalah perantau dari Jogja. Kedatangan mereka malam itu cukup dadakan sebenarnya, dimulai dari obrolan singkat kami di pagi hari melalui Whatsap group, hingga kesepakatan bersama untuk datang ke tempatku nanti malam.

Salah satu dari kami bertiga bernama Kharis. Orangnya cukup enerjik. Walau tidak memiliki lekuk tubuh macam Pevita Pearce, tapi dia menarik. Kalau dia bercerita, intonasinya bisa naik turun. Kadang dia bisa berlaku sangat polos, tapi kadang dia bisa bertingkah sangat dewasa. Satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari seorang Kharis adalah kegemarannya pada makanan dan Youtube.
Malam itu, dia adalah orang pertama yang memulai untuk bercerita, sekaligus orang yang ceritanya paling banyak kami respon.

“Aku mau balik aja ke Jogja.” katanya dengan ekspresif.

Kami menjawab degan nada yang berbeda-beda. Aulia menanggapi dengan simpati, “Yaampun, kenapa?”, Bili dengan nada sedikit sarkas, “Kenapa e emangnya? Kamu bokek po?” dan aku yang penasaran, “Wah, ada cerita apa nih?”

“Aku engga tau apa yang sebenernya aku cari di sini. Kalian tau kan kerjaan aku itu engga pas sama aku. Aku tuh lulusan kedokteran hewan tapi sekarang aku malah kerja di marketing komunikasi buat jualan obat hewan. Bayangin dong gais, bayangiiin… makanya kan awal-awal itu akan tanya terus ke kamu mbak, soal marketing komunikasi. Soalnya aku blas engga ngerti!”

“Eh sebentar deh, tapi bukannya kamu juga engga suka-suka amat ya jadi dokter hewan? Trus katamu juga, kamu lebih suka kerjaan yang ketemu orang? Lah pas bukan?” Kataku mencoba mengklarifikasi.

“Iya sih, tapi yang ini tuh aneh banget mbaaak, managementnya tuh dikit-dikit nyuruh aku mikir sendiri lah, inisitaif sendirilah, kan aku engga punya pengalaman ya di bidang marketing komunikasi, tapi kalau aku tanya nih, misal minta masukan, mereka tuh juga engga ngasih tau persisnya aku kudu gimana. Kan bingung ya. Capek aku tuh gais” Kharis mencoba menjelaskan emosinya.

“Trus kamu udah gitu, pulang aja ke Jogja? Mau ngapain di sana?” Sanggah Aulia dengan realistis.

“Aku juga ga tauuuuu….. huaaaaa jangan gitu dooong mbak Auuuul… aku jadi makin bingung nih” Kata kharis dengan nada gabungan antara minta tolong tapi juga tidak tidak mau dinasehati.

“Ya aku juga engga begitu suka kok sama kerjaan aku. Kamu bayangin aja ya… kantorku tuh rasis banget tau engga. Aku sebagai HRD nih ya, aku cuma boleh nerima orang dengan kriteria tertentu. Kalau ditanya sebel apa engga? Wah ini tuh udah engga sesuai sama nilai-nilaiku, tapi ya sekarang aku engga punya banyak pilhan. Kalian tahukan tunanganku barusan di PHK, trus aku belom dapet kerjaan yang oke sekarang, nah ditambah lagi aku mau nikah taun ini kan. Ora iso sekarepe dewe aku ki (engga bisa seenaknya sendiri aku tuh). Jadi kalau kamu engga sreg sama kerjaanmu, ya sama, aku juga. Tapi jangan langsung pulang ke Jogja gitu aja dong.” Kata Aulia sambil menyemil gorengan.

“Kamu yakin mau pulang ke Jogja? Mungkin kamu bisa buat cari kerjaan lain atau pindah di posisi lain?” Kataku menawarkan pilihan.

Kharis terdiam, lalu berkata, “I don’t know mbak…. Tapi kayaknya aku mau lanjut S2 aja”

Penjelasan yang langsung disanggah oleh Aulia, “Kamu yakin? Kamu harus mikir baik-baik loh, jangan jadiin S2 mu itu pelampiasan aja karena kamu engga bisa bertahan di pekerjaan kamu. Kamu harus mikir baik-baik. Nih ya sebagai HRD, aku bisa bilang kalau di beberapa posisi itu, S2 itu udah engga kepake Ris. Mereka lebih ngandalin pengalaman mereka. Mungkin sekarang kamu tuh cuma ada di kerjaan yang engga kamu banget, tapi mana tau ada pekerjaan yang lebih baik. Kamu jangan nyerah dulu…”

“Kamu mungkin bisa belajar juga sih Ris dari aku. Ngejar S2 tuh engga segampang itu juga, apalagi kalau kamu engga punya banyak duit buat biayain sendiri dan jadinya harus pake beasiswa. Ya aku ga tau ya… mana tau kamu emang seberuntung itu, jadi pas percobaan pertama daftar beasiswa, eh langsung lolos. Tapi kalau engga, ya kamu harus siap mental buat jatuh bangun. Belom biayanya… mahal cin! Secara emosional tuh capek banget loh” Kataku mencoba memberikan pandangan lain.

“Trus ojo lali (jangan lupa)... Kamu kan engga pinter-pinter amat Ris! Kamu betah po belajar di kelas gitu lama-lama?” Sambung Bili yang langsung dikeplak oleh Aulia, “Heh dasar. Pinter tau diaaa!” Dan tawa kami semuapun pecah.

“Trus aku harus gimana dong gaiiis?” Kharis bertanya dengan nada bingung.

Kami terdiam sebentar, mencoba untuk memikirkan jawaban yang paling diplomatis atas pertanyaan yang sebenarnya tidak ada satupun orang yang benar-benar bisa menjawab. Akhirnya, Aulia menjawab bahwa Kharis harus memikirkan niat S2 nya dengan sangat hati-hati, karena tidak bijak untuk melanjutkan S2 hanya atas dasar kepepet. Aku dan Bili memiliki respon yang sama yaitu apapun yang akan Kharis lakukan, dia harus mampu bertanggungjawab. Kata Bili, “Kowe ki wis gede Ris… (Kamu itu udah besar Ris)“

Pertemuan malam itu pun akhirnya selesai pada tengah malam, disaat kami berempat sudah memiliki waktu dan kesempatan untuk saling bercerita.

***

Waktupun berjalan sejak malam kami berempat berkumpul. Kharis akhirnya benar-benar memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai marketing komunikasi di perusahaan penjual obat hewan dan kembali ke Jogja. Hingga di satu kesempatan, akhirnya aku menyapanya kembali. Aku bertanya tentang kabarnya, bagaimana dia menghadapi keputusannya untuk kembali ke Jogja, serta apakah dia jadi melanjutkan S2 nya atau tidak.

“Tau engga sih mbak, aku tuh ada di titik aku malu ketemu sama orang, soalnya kayaknya aku tuh engga ngapa-ngapain.” Katanya.

Diapun melanjutkan ceritanya, “Aku tuh kan deket banget sama Ibuku. Apa-apa tuh aku cerita sama dia. Tapi semakin kesini, aku semakin ngerasa kalau ibuku tuh ngelepas aku karena ya aku kan udah dewasa, harus mutusin semua sendiri. Aku jadi bingung sekarang harus gimana.”

“Apa kata Ibumu Ris?”

“Ya semuanya terserah sama aku aja sih mbak sekarang… makin bingung engga sih jadi aku? Tapi seenggaknya aku di Jogjalah… cooling down dulu sambil mikir.”

Aku yang membaca pesannya melalui Whatsapp, jujur saja tidak memiliki banyak hal yang bisa aku sampaikan, selain berharap agar dia bisa melewati proses perjalanan hidupnya setelah ini dengan optimis serta tidak melihat proses itu sebagai sebuah kegagalan.

Cerita Kharis mungkin sama dengan cerita perantau lainnya di Jakarta. Mereka yang lahir dan tumbuh besar di kota seperti Jogja, tidak serta-merta mudah beradaptasi dengan kota sebesar Jakarta, atau mengubah pandangannya tentang kenyamanan untuk bisa tinggal di Jakarta. Jakarta memang bukan untuk semua orang. Bahkan sebenarnya, tidak ada salahnya juga jika para pemimpi itu memutuskan untuk berada di Jogja atau kota-kota lainya. Jakarta memang menawarkan banyak petualangan. Tempat di mana kita kita bisa merasakan denyut nadi adrenalin berpacu dengan target-target, tantangan, dan kompetisi. Tapi jangan lupa, banyak hal yang menipu di Jakarta. Jakarta sangat pandai mengemas kebahagiaan agar terlihat menarik, padahal sering kali itu bentuk lain dari kehampaan. Jakarta memang menawarkan banyak paket lengkap, semua kenikmatan duniawi tersedia untuk dipilih. Tapi bagi sebagian orang, tidak peduli selengkap apapun paket yang ditawarkan Jakarta, tidak akan pernah bisa menawarkan sebuah perasaan seperti menemukan rumah. Bagi mereka, Jakarta bukan tempat untuk pulang.

Kharis pernah berada di Jakarta, menjadi salah satu wanita muda yang yang ikut berdesakan dengan kemacetan Ibukota. Bangun di pagi hari, pulang di sore hari, dan mengunjungi pusat perbelanjaan terkini. Mencoba melakoni perannya sebagai seorang marketing komunikasi dengan niatan untuk menguji ketahanan mental diri. Hingga dia berada di satu titik ketika perjalanannya di Jakarta menemui episode akhir. Di saat itulah, tidak ada yang lebih baik baginya selain kembali ke Jogja, bertemu dengan ibunda dan merancang kembali rencana-rencana. Apakah itu nantinya adalah untuk kembali ke Jakarta atau melanjutkan S2, apapun itu, untuk sejenak Kharis memilih untuk berjalan pulang. Tempat yang sudah dia kenal sejak kecil. Tempat yang paling aman, nyaman, dan hangat. Seperti kata Kla Project, pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu….


Kolaborasi dengan Kamalia Rahman sebagai ilustrator

Rabu, 01 April 2020

Satu - Sesuatu yang Disebut Rumah


Pernahkah kamu merasakan patah hati yang sebenar-benarnya patah? Hingga kamu tidak yakin pada dirimu sendiri untuk bisa kembali berdiri, kembali mencintai? Tapi kamu tidak menyesal, tidak pula merutuk atau menggerutu. Karena setelah itu, kamu seperti terlahir kembali dengan hati yang lebih berani.

Pernahkah kamu, bertemu seseorang yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya dan ternyata dia mengubah hidupmu, caramu melihat dunia? Orang yang awalnya mungkin biasa saja dalam pertemuannya denganmu, namun entah bagaimana skenario itu terjadi, dia bisa membantumu untuk mengenali dirimu lebih baik lagi.

Pernahkah kamu, berada di sebuah tempat di mana kamu tidak ingin berpikir tentang hari esok, yang ingin kamu lakukan hanyalah bernafas dan menikmati waktu yang berjalan dengan sangat lambat di sekelilingmu? Kamu akan makan makanan lokalnya, berbicara dengan orang lokal di sana, lalu entah bagaimana, berada di tempat itu seperti memberimu ilham untuk memahami banyak hal tentang hidup ini.

Lalu apakah kamu pernah merasa kebas dengan perjalanan hidupmu sendiri? Kamu ingin pulang, tapi kamu tidak tahu bagaimana, kepada apa atau siapa, kapan? Hingga di satu titik, kamu merasakan perasaan yang sulit sekali kamu bahasakan, di mana kamu tahu bahwa kamu sedang pulang, kamu seperti menemukan rumah.

Pernahkah kamu merasakan itu semua?

Aku tidak tahu, apakah aku harus berharap kamu merasakan itu semua atau tidak. Jatuh cinta yang membuatmu kepayang, lalu kemudian patah hati yang membuatmu muram. Aku tidak tahu apakah kamu harus melewati jatuh bangun perjalanan dulu untuk bisa berkata pada dirimu sendiri bahwa kamu sedang dalam perjalanan untuk pulang ke rumah. Aku sungguh tidak tahu bagaimana kisah-kisah terbaik itu seharusnya dilalui.

Tapi aku bisa membagikan cerita-ceritaku untukmu. Cerita tentang bagaimana aku melihat orang-orang itu sedang dalam perjalanannya untuk menemukan yang mereka sebut rumah. Termasuk, ceritaku sendiri.



Sebuah kolaborasi dengan Kamalia Rahman sebagai ilustrator

Jumat, 27 Maret 2020

Saya Pikir Saya Ketinggalan, Ternyata Tidak. Tidak Sama Sekali!



Kalau ada satu kata yang paling mendekati untuk mewakili hidup saya selama tahun 2019, maka kata itu adalah penolakan! Hampir di semua aspek yang coba saya perjuangkan dalam hidup selama 2019, semuanya berakhir dengan penolakan. Saya akan coba ceritakan beberapanya.

Pertama adalah tentang beasiswa S2. Kalau bisa diibaratkan, perjuangan saya untuk mendapatkan beasiswa sudah seperti permainan roller coaster. Dari yang mengebu-gebu, pasrah, demotivasi, hingga kembali menggebu-gebu. Dari menulis motivation letter dengan penuh idealisme ingin mengubah dunia dan menjadikannya tempat yang lebih baik, hingga motivation letter yang pragmatis dan realistis. Dari yang sangat amat berharap, sampai ada di titik, yaudahlah-kita-coba-aja-berhasil-atau-engga-mah-bebas. Belum lagi tentang biaya yang harus dikeluarkan untuk seleksinya (ada beberapa tipe beasiswa yang harus sejalan dengan pendaftaran kampus yang dituju), tes kemampuan bahasa inggrisnya, dan biaya prikitilan lainnya, yang kalau dikalkulasi sangat lumayan nominalnya. Kenapa perjuangan S2 ini akhirnya masuk dalam kategori penolakan? Karena IELTS saya kadaluarsa di Januari 2020. Jadi ketika di akhir 2019 tidak satupun aplikasi beasiswa yang dinyatakan lolos, maka apa yang sudah saya mulai sejak 2015 untuk sekolah master, harus saya mulai lagi dari awal, dari tes IELTS lagi!

Kedua adalah penolakan demi penolakan demi penolakan pada posisi-posisi pekerjaan yang saya idam-idamkan sejak lama. Tidak hanya satu, banyak! Pattern-nya bahkan hampir semuanya seragam. Saya apply, lalu ada e-mail yang menyatakan bahwa saya adalah kandidiat terpilih, saya diundang untuk wawancara dan setelah itu mereka akan memberikan penilaian yang baik. Bahkan ada yang sampai berkata bahwa saya adalah kandidat yang paling tepat untuk mengisi posisi itu, bukan kandidat lain. Tapi pada akhirnya semuanya berakhir sama, mereka tetiba menghilang dan ketika saya tanyakan kabar kepastian proses seleksinya, jawabannya mengambang. Ngeselin.

Dan penolakan-penolakan lainnya yang tidak bisa saya ceritakan satu per satu karena terlalu banyak dan cukup menguras emosi kalau harus diingat kembali.

Perlu saya tegaskan bahwa selama hidup saya, belum pernah saya mendapati penolakan sebanyak dan seintens tahun 2019. Sebelumnya, paling-paling saya mengalami beberapa kali kegagalan di satu hal di hidup saya saja, tapi di sisi kehidupan lainnya semuanya berjalan cukup baik. Tapi penolakan demi penolakan yang cukup intens terjadi tahun lalu itu, berbeda. Terjadi secara maraton dan mengantarkan saya pada titik demotivasi. Tahun lalu saya kehilangan semua gairah untuk bermimpi dan tidak memiliki keinginan untuk bisa bangkit berdiri lagi, bisa jadi karena saking banyaknya penolakan yang terjadi hampir di semua lini. Saya seperti di lockdown olehNya.

Pikiran yang paling mendominasi saya waktu itu adalah saya tertinggal dari semua target-target hidup yang saya rancang sendiri. Saya merasa bahwa saya membuang-buang waktu. Saya seperti berada bukan pada jalur yang seharusnya.

Barulah ketika awal tahun 2020, ketika saya sudah mempunyai aktivitas yang baru dan semua perlahan-lahan memiliki titik terang, saya mulai bisa melihat skenario besar dari semua penolakan tersebut. Bahwa ternyata, dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang manusia, semua penolakan di 2019 mengajarkan saya untuk diam. Benar-benar diam. Tidak terdistraksi oleh hal-hal lain.

Semua penolakan yang saya alami pada dasarnya menyiratkan dua hal. Pertama, saya mempunyai banyak hal yang saya perjuangankan dalam hidup. Artinya saya tetap berusaha hingga di titik di mana semua keputusan akhir itu berada di luar kemampuan saya. Kedua, ada sesuatu yang hanya bisa dipahami kalau saya benar-benar dalam kondisi diam dan tidak sibuk melakukan apapun.

Dengan semua penolakan yang gila-gilaan itu, menjadikan saya memiliki waktu untuk berdiam diri lebih banyak. Dan tanpa saya sadari, saya jadi punya banyak waktu untuk bertemu dengan banyak orang. 2019 mempertemukan saya dengan beberapa orang yang akhirnya membantu saya untuk menemukan diri saya sendiri. Saya cukup kaget bahwa tanpa diduga-duga, saya bisa memiliki teman-teman baru dan kami bisa berbicara banyak hal soal hidup. Mereka bahkan yang menjadi sebab saya bisa menyembuhkan diri. Tanpa saya duga juga, saya memiliki banyak percakapan kaya makna yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya.

Hal yang paling terasa dalam diam adalah ketika saya mau tidak mau harus banyak berhadapan dengan diri saya sendiri. Saya seperti dipaksa untuk benar-benar duduk dengan semua kekecewaan lama, luka lama dan trauma lama yang sebenarnya sudah saya kenali. Bedanya kali ini, saya diberikan waktu untuk menyembuhkan luka, trauma, dan kekecewaan itu. Saya tidak menyadari bahwa saya sedang diberikan kesempatan untuk sembuh dan melapangkan hati atas semua hal itu. Dalam diam, saya akhirnya belajar tentang bagaimana menciptakan boundaries, saya belajar apa itu mindfulness, saya akhirnya menyadari bahwa saya memiliki banyak definisi yang kurang tepat tentang hubungan yang sehat, konsep kepercayaan diri, dan juga konsep mencintai diri sendiri.

Harus saya akui bahwa benar-benar diam dan proses untuk duduk kembali dengan semua luka-luka itu berat, begitu juga belajar untuk bisa sembuh dan berdamai dengan diri sendiri. Itulah kenapa saya bilang bahwa ternyata ada hal yang tidak bisa dipelajari jika tidak dalam kondisi benar-benar diam. Dalam diam itu, justru yang saya rasakan adalah kesibukan luar biasa secara mental dan kejiwaan, dan pun sisa energi lainnya sudah saya habiskan untuk melakukan pekerjaan yang memang harus saya lakukan.

Di akhir 2019, saya sudah mulai terbiasa dengan kondisi diam ini. Tidak ada lagi dalam pikiran saya bahwa saya telah membuang-buang waktu atau apapun yang nadanya menyalahkan diri. Konsep membuang waktu adalah ketika saya tidak melakukan apapun, tapi kan ini tidak, saya demotivasi karena saya mengalami banyak penolakan, dan penolakan itu berarti saya telah mencoba melakukan banyak hal dalam hidup. Dan dalam diam ini, justru banyak hal dalam diri saya yang akhirnya pulih. Saya menjadi tersadar bahwa saya tidak bisa terdistraksi dengan banyak kesibukan jika saya ingin menyembuhkan apa yang ada di dalam diri saya.

Ketika saya sudah lebih terbiasa dengan kondisi diam dan mulai tenang, ketika itu juga semua hal yang saya inginkan datang tanpa saya melakukan usaha apapun. Di akhir 2019, sebuah international agency mengkontak saya untuk sebuah posisi yang cukup strategis. Sebuah posisi yang sebenarnya kalau dibaca dari ToR nya, saya bukan orang tepat karena saya belum S2 dan saya belum punya pengalaman sebanyak yang diinginkan dalam ToR. Tapi karena saya sudah diundang untuk panel interview, tentu saja tetap saya jalani. Singkat cerita, saya diterima untuk posisi itu dan mulai bekerja per Januari 2020. Oh betapa hidup ya…. Setahun terkahir saya pontang-panting apply sana-sini untuk posisi yang saya inginkan, semuanya ditolak. Dan ini, saya malah mendapat posisi yang lebih baik dari yang saya bayangkan tanpa saya harus melakukan usaha apapun. Saya seperti diajak lompat dua langkah sekaligus, seperti masuk pada kelas akselerasi.

Saya kira, dengan semua penolakan yang terjadi itu, saya terlambat dan membuang-buang waktu. Saya kira, target hidup saya yang begini dan begitu itu tidak akan pernah tercapai karena tidak ada satupun keberhasilan terjadi. Tapi rupa-rupanya, tidak ada yang terlambat dan saya tidak ketinggalan apapun. Semuanya terjadi tepat pada jalurnya. Sayanya saja yang sok tahu dengan menganggap bahwa 2019 adalah waktu saya untuk keterima beasiswa, dapat pekerjaan yang seperti ini itu, memenuhi target ini itu. Rupa-rupanya target 2019 yang sebenarnya adalah menyembuhkan luka batin dan trauma masa kecil. Dan untuk mencapai target itu, saya harus fokus dan tidak bisa terdistraksi oleh kesibukan pekerjaan atau apapun.

Bukan penolakan yang sebenarnya terjadi di tahun 2019 tapi kesempatan untuk benar-benar diam dan menjadi pribadi yang sehat secara mental dan kejiwaan. 2019 mengajarkan pada saya bahwa tidak akan pernah ada keterlambatan selama kita bergerak. Bahkan penolakan sekalipun, itu semua diijinkan terjadi untuk sebuah mencapai target yang lebih baik.

Hal ini mungkin serupa dengan kondisi hari ini, saat satu dunia dipaksa untuk diam. Saya bisa memahami betapa kagetnya dunia hari ini, ketika awalnya kita hanyut dalam sibuk, dan kini harus diam tanpa kepastian. Tapi tidakah kalau saja kita mau memahami, bahwa mungkin memang bukan target dalam angka yang harus kita kejar tahun ini. Mungkin kita semua saat ini sedang berada dalam target untuk kembali menjadi manusia. Untuk kembali mengenal bahwa tidak ada hal yang benar-benar bisa kita kontrol. Untuk kembali memahami bahwa mungkin saja, semua kesibukan kita selama ini telah menjadi distraksi dari tujuan kita yang sebenarnya di dunia.

Diam saja dulu. Percayalah, kita tidak akan ketinggalan apapun.  

Source: https://id.pinterest.com/pin/229683649734175670/


Kamis, 26 Maret 2020

Sebuah Tantangan Untuk Diri Sendiri

Seperti halnya semua orang yang ada di hampir satu dunia, yang sedang berada di kediamannya masing-masing, berdiam diri sambil menunggu tanpa kepastian kapan virus ini selesai mengintai, begitu juga saya. Tentunya, seperti halnya semua orang, sayapun bosan, kadang gelisah, dan ingin bertemu dengan dunia luar.

Salah satu teman dekat mewanti-wanti saya bahwa fenomena Covid-19 ini bisa sangat berpengaruh pada mentalitas dan emosional seorang empath (Dr. Judith Orloff, a pioneer in the field, describes empaths as those who absorb the world's joys and stresses like “emotional sponges") di mana saya punya kecenderungan seperti itu. Dan benar saja, di minggu pertama saat saya sudah mulai harus work from home, hampir sebagian besar kegiatan yang saya lakukan adalah membuka Twitter, membaca semua berita, dan menangis sendirian di kamar merasa bersalah. 

Hingga akhirnya, pada awal minggu ini, saya putuskan untuk memberi tantangan pada diri sendiri, yaitu saya tidak akan secara sadar membuka media apapun termasuk Twitter untuk mencari tahu soal Covid-19. Tantangan ini semata agar saya tidak perlu meyerap emosi yang berlebihan dan tidak harus merasa gelisah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk itu, agar semakin tenang dan mempunyai pelampiasan emosi yang tepat, saya putuskan untuk membuat tulisan-tulisan selama masa karantina. Tulisan-tulisan lama yang masih tertulis di draft, akan saya publikasikan satu demi satu. Saya pun akan menghubungi Kamalia, ilustrator kesayangan saya, agar saya boleh membuat cerita dari gambar-gambar yang dia hasilkan. Sambil tentu saja, saya harus tetap merampungkan kewajiban pekerjaan, komitmen merampungkan beberapa buku dan jurnal, dan film. Hidup tetap harus berjalan, bukan?

Semoga saya dapat menghadapi masa karantina dengan lebih produktif. Tantangan untuk diri sendiri ini akan saya mulai hari ini. 

Selasa, 31 Desember 2019

Untuk Semua Luka yang Terobati dan Untuk Kemenangan Atas Peperangan Dengan Diri Sendiri, Rayakanlah!

Cause everyone hurts, everyone cries, everyone tells each other all kinds of lies.
Everyone loves, everybody gets their hearts ripped out. 
Got to keep dancing when the lights go out. Hold tight for everyday life.
(Coldplay - Everyday life)

Setiap kali saya tugas lapangan atau ketika saya berpergian ke sebuah daerah, pasti ada saja perayaan-perayaan unik yang saya temui. Unik dari segi alasan penyelenggaraannya, maupun unik dari segi teknis penyelenggaraannya. Perayaan-perayaan itu beraneka macam bentuknya, mulai dari perayaan yang cukup populer seperti sunatan atau pernikahan yang diselenggarakan menurut tata cara adat setempat, sampai perayaan yang sepertinya hanya ada di lokasi itu saja, contohnya jahit kuping di Papua Barat. Setiap itu juga saya berusaha untuk bertanya apa motivasi di balik setiap perayaan itu kepada masyarakat lokal. Jawabanya sangat beragam. Ada yang diselenggarakan karena alasan spriritual, ada yang karena alasan mistis, dan yang paling standar adalah karena norma sosial yang sudah terjadi sejak lama.

Di setiap perayaan lokal tersebut, pasti diikuti dengan serangkaian kegiatan, seperti dangdutan atau apalah, yang dalam kacamata saya terkesan merepotkan dan bisa jadi membebani masyarakat itu sendiri. Saya pernah ngobrol dengan sebuah keluarga dengan tingkat ekonomi sederhana di sebuah kampung kecil yang sudah mengeluarkan dana sekitar 11 juta untuk acara sunatan. Kan lumayan ya…

Tapi saya sendiri juga harus menghargai, karena perayaan kan memang bukan tentang seberapa besar usaha dan upaya yang dilakukan. Perayaan adalah tentang suka cita. Tentang sebuah harapan dan rasa syukur yang ingin dibagi-bagikan kepada orang lain. Atau mungkin tentang sebuah peristiwa yang hanya terjadi sekali seumur hidup atau malah jarang terjadi, sehingga layak untuk dikenang dan dirayakan bersama.

Saya jadi ingat waktu SMA dulu, saya punya teman yang setiap tanggal jadiannya harus dirayakan setiap bulan dan dia akan posting di laman friendsternya, “SeLaMaD 12 yAn9 k3 4 eAaa cyaNk.” Tentu saja saya bingung, saya pikir perayaan jadian itu dirayakan sekali saja tepat di bulan dan di tanggal yang sama, dengan syarat hubungan itu langgeng sampai setahun, lah kok ini setiap bulan? Mubazir amat. Ketika saya tanyakan alasannya pada teman saya itu, dia menjawab santai, “Yang lain juga gitu Peh kalau pacaran.” Oke sip.

Jawaban teman saya itu menarik sebenarnya! Artinya, perayaan bisa saja dilakukan walaupun itu artifisial, membosankan, atau bahkan tidak berkesan. Hmm...

Sayapun mencoba mengingat perayaan apa di hidup saya yang berkesan. Ulang tahun? Mmm… sepertinya sih tidak ada yang berkesan dari perayaan ulang tahun dan ditambah saya juga jarang merayakan ulang tahun. Bahkan di masa kecilpun, seingat saya, hanya dua kali ulang tahun yang dirayakan dengan mengundang teman-teman saya, selebihnya ya hanya makan atau tiup lilin di rumah, atau ya… ucapan dan doa dari keluarga. Jadi kalau perayaan ulang tahun dibilang berkesan? Engga deh, coret! Perayaan lain yang pernah saya lakukan adalah ketika saya wisuda, tapi kalau dibilang berkesan? Ya biasa aja sih. Lebih ke lega sih karena sudah merampungkan sebuah tanggung jawab pada diri sendiri, nusa dan bangsa, dan keluarga. Oh dan ada satu lagi perayaan yang berhasil saya ingat, itu adalah ketika waktu kecil, keluarga saya mengadakan syukuran di tempat anak yatim karena dalam tahun itu saya banyak ditimpa kemalangan, mulai dari tenggelam nyaris meninggal sampai sakit demam berdarah. Curiga saya mungkin sebenarnya saya mau diganti nama waktu itu. Syukurlah engga kejadian. Itu agak berkesan sih, tapi berkesan yang tidak menyenangkan. Jadi kalau dipikir-pikir, tidak banyak perayaan berkesan yang pernah saya lakukan dalam hidup saya. Eh, atau sayanya ya yang memang tidak berhasil mengingat? Ah entah.

Sebuah artikel menarik yang pernah saya baca adalah bagaimana mahalnya menjaga hubungan pertemanan di era saat ini. Ketika banyak sekali perayaan yang harus diikuti atau dilakukan atas nama pertemanan. Mulai dari bridal shower sampai nanti baby shower. Mending kalau teman kita hanya 2 atau 3 orang saja, lah kalau ada belasan atau puluhan, ya lumayan tekor juga kan. Artikel itu menarik, karena membahas bagaimana konstruksi sosial soal pertemanan yang sepertinya cukup artifisial, hingga bagaimana perayaan-perayaan baru dibuat entah dengan tujuan apa. Artikel itulah yang membuat saya berfikir ulang tentang makna perayaan. Apakah perayaan memang benar tentang suka cita? Apakah perayaan selalu tentang kejadian yang nampak-nampak saja? Kenapa kita harus merayakan sesuatu, atau kenapa sesuatu itu harus dirayakan? Dan dengan siapa sebenarnya perayaan itu seharusnya dilakukan?

Tentu saja tidak ada yang mengelak untuk mengakui bahwa lulus kuliah, pernikahan, memiliki anak, dapat beasiswa S2, punya mobil batu atau rumah baru, dapat pekerjaan, promosi, dan bahkan menang undian liburan adalah hal-hal dalam hidup yang menggembirakan. Sesuatu yang ingin kita rayakan sebagai luapan kegembiaraan dan juga rasa syukur. Bahkan untuk hal-hal tahunan seperti ulang tahun, pesta tahun baru, atau ritual keagamaan, semua itu dirayakan untuk memperingati sesuatu berulang tanpa kita tahu apa esensinya.  Jadi sebetulnya, apa itu perayaan?

Saya ingat sebuah kejadian di tahun lalu, saat saya masih ngantor di salah satu lembaga negara. Ketika jam pulang kantor, teman dekat saya yang juga satu kantor dengan saya, secara dadakan mentraktir makan di angkringan depan kantor. Dia bilang waktu itu, “Yuk Peh aku traktir, aku baru aja dapet atasan baru dan dia lebih manusiawi dari yang lama.” Maka kami pun jalan menuju angkringan. Di malam itu, kami berdua membahas dengan tuntas bagaimana dia merasa dizolimi dengan atasan lamanya dan merasa lega dengan dengan atasan barunya yang lebih baik. Dan untuk sebuah rasa syukur telah terbebas dari bos lama, teman saya mengadakan perayaan sederhana dengan hanya hanya mengeluarkan uang kurang dari 50 ribu rupiah saja. 

Teman saya lainnya pindah ke sebuah apartemen dengan anak-anaknya sesaat setalah proses cerai dengan suaminya resmi berjalan. Dia bilang, “Anak-anak udah engga bisa Peh ada di sini, inget ayahnya terus. Aku juga engga bisa di sini, terlalu nyakitin. Yuk main ke apartemen aku yuk.” Saya  pun singgah ke apartemennta, mencoba memberikan dorongan moral sebisanya, dan membelikan pizza untuk dimakan bersama. Sebelum pulang dia berkata, “Di sini lebih tenang, ya semoga awal yang baru untuk aku dan anak-anak ya Peh.”

Bagi saya, dua kejadian itu lebih terasa seperti sebuah perayaan. Mereka ingin melakukan sesuatu untuk menjadikan hibup mereka lebih baik, ya dengan mentraktir saya makan angkringan sebagai tanda terbebas dari atasan menyebalkan, atau dengan pindah dari tempat lama menuju tempat baru demi menghindari rasa sakit.

Mungkin selama ini kita diajari bahwa perayaan adalah tentang capaian atau tentang kejadian langka. Kita terbiasa merayakan tahun baru, karena kita sudah mencapai satu tahun ke belakang dan siap untuk memasuki tahun baru. Tanpa peduli apakah kita jadi orang yang baru atau tidak. Kita terbiasa merayakan pernikahan, sunatan, lahiran, wisudaan karena itu semua adalah kejadian kasat mata yang berhasil kita jalani. Di hari itu, kita akan menerima ucapan-ucapan seperti,“Selamat ya bla bla bla” dan disambung dengan harapan-harapan, “Semoga bla bla bla.” Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hal-hal seperti itu lah yang harus dirayakan. Kita tidak pernah diberitahukan sebelumnya, atau mencoba membiasakan diri bahwa kepahitanpun adalah hal yal yang harus dirayakan. 

Di sebuah hari di pertengahakn tahun, saya berbincang cukup intensif dengan seorang teman. Kami bercerita panjang tentang hal-hal di masa lalu dan trauma-trauma yang kami rasakan. Di tengah-tengah obrolan kami, dia bertanya sebuah pertanyaan yang tidak bisa saya jawab langsung saat itu. “Peh, kenapa kamu perbolehin orang lain untuk bikin kamu nelangsa. Maksudku, aku ga peduli alasan mereka ngelakuin hal-hal buruk itu ke kamu, pertanyaanku adalah, kenapa kamu perbolehin diri kamu terlalu lama sedih karena perlakukan buruk orang lain?” 

Pertanyaan itu tidak bisa saya jawab saat obrolan kami berlangsung, tidak bahkan beberapa hari setelahnyapun. Hingga akhirnya di sebuah pagi, saya terbangun dengan cukup lunglai dan merasa bahwa saya harus segera menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan itu seakan memaksa saya untuk menemukan bagian dari diri saya yang hilang.

Maka seperti mengendarai mesin waktu, di hari itu, tidak ada yang saya lakukan selain masuk ke dalam pikiran saya dan pergi ke masa-masa lalu, jauh ke masa-masa kecil saya. Hari itu saya putuskan untuk berani melihat kembali apa yang saya lewatkan. Melihat kembali apa yang terjadi, siapa yang terlibat, dan perlakukan seperti apa yang saya terima. Perjalanan ke masa lalu, ke masa-masa kecil, seperti biasa, selalu melelahkan. Tapi demi menjawab pertanyaan itu, saya siap membayar berapapun harganya. Seperti melihat di etalase kaca, saya yang sudah dewasa ini kembali melihat apa yang yang terjadi di masa lalu, dan disitulah saya menemukan sebuah kejadian. Kejadian yang tidak menyenangkan. Kejadian yang tidak saya sadari, telah menjadi pola yang terbentuk hingga saya dewasa. Kejadian yang sempat beberapa kali terjadi di masa kecil, tapi terlalu takut saya tanyakan kepada orang dewasa. 

Sekembalinya saya dari perjalanan mesin waktu ke masa lalu, saya koyak lahir dan batin. Saya seperti membuka satu luka yang selama ini tertutup. Menyakitkan pada awalnya, karena ibarat plester yang menempel pada kulit yang terlalu lama, saya menjerit saat plester di buka. Luka yang ada dibaliknya pun masih ternyata masih sangat basah dan bernanah karena selama puluhan tahun ini tertutup. Dan untuk mengakhiri perjalanan itu dan agar pertanyaan teman saya itu bisa terjawab, saya hanya tinggal melakukan satu hal: memastikan!

Saat sahabat saya, Ica, pulang dari kantor, di malam hari saya memberanikan diri untuk bercerita tentang perjalanan saya. Kata demi kata saya ucapkan dan saya bertanya sebuah pertanyaan pamungkas, “Itu wajar engga sih kalau terjadi ke anak kecil, Ca?” Ica hanya menatap saya dalam-dalam dan sambil menahan tangis dia berkata, “Engga, Peh”. Maka kami pun berpelukan sambil menangis, saya bisa mendengar Ica berkata lirih, “kamu kuat Peh.” 

Dan itulah dia, akhirnya saya menemukan apa jawabannya!

Saya remuk redam di hari setelah saya tahu apa yang terjadi dan kenapa saya tumbuh seperti ini. Tapi alih-alih menghindar dari kenyataan, malam itu sebelum tidur, saya menatap diri saya di cermin dan dengan menarik nafas super panjang, saya mengiyakan kejadian itu ada di hidup saya. Tidak akan saya tutupi dan tidak akan saya sembunyikan. Saya terima dengan lapang. Malam itu saya tidur dengan mata sembab setelah menangis seharian, tapi hati saya lega. Saya merasa sudah melakukan sesuatu yang berani karena bersedia menghadapi luka dan kejadian itu. Malam itu, saya sedang merayakan sesuatu.

Hari-hari setelahnya cukup berat dan saya membuat itu selayaknya perayaan pada umumnya. Sayapun merayakan dengan makan enak, membaca artikel menarik, atau menonton hal-hal random di YouTube agar pelan-pelan luka itu bisa mengering. Pun saya tidak merayakan ini seorang diri, saya bercerita pada beberapa orang terpercaya tentang apa yang saya alami, agar saya percaya bahwa saya tidak sendiri. Hingga setelahnya, pelan-pelan saya mulai bisa tersenyum lagi.

Malam itu mengajarkan saya tentang apa perayaan yang sebenarnya. Detik di mana kita mengenal diri kita sediri, itulah detik di mana kita harus merayakannya. Saat kita akhirnya berani berdamai dengan diri kita sendiri, dengan kajadian tidak menyenangkan, dengan hal-hal yang tidak bisa kita jangkau, maka saat itulah perayaan. Ketika kita merasa berani untuk memafkan, memulai sesuatu yang baru, atau bersedia menjadi lebih baik lagi, ketika itulah jugalah perayaan.

Perayaan memang tentang suka cita, karena siapa yang tidak bergembira saat kita berhasil mengenal diri kita lebih baik lagi atau saat kita berhasil memenangkan perang dengan iblis yang ada diri kita sendiri. Perayaan memang tentang kejadian langka, karena membuka luka lama dan berani mengobatinya adalah hal yang tidak setiap hari terjadi. Perayaan memang tentang rasa syukur, karena siapa yang tidak bersyukur ketika kita akhirnya diberikan penjelasan oleh Yang Memiliki Hidup. Rayakanlah dengan diri kita sendiri dan rayakanlah dengan manusia-manusia terbaik sebagai sebuah kisah yang bisa diceritakan. 

Untuk semua penerimaan diri, untuk semua kekuatan hingga kita sanggup berdiri, rayakanlah, kita layak untuk itu!

sumber: https://id.pinterest.com/pin/229683649733811672/

© RIWAYAT
Maira Gall