Rabu, 29 Desember 2021

Yang Sudah Ya Sudah, Kita Sambut Yang Akan Datang

Sebuah refleksi akhir tahun. 

“Let it go, can't hold it back anymore. Let it go, the cold never bothered me anyway.”

(Let It Go – Demi Lovato)

Tahun ini adalah tahunnya melepaskan. Tidak tanggung-tanggung, semua hal yang saya lepaskan tahun ini adalah hal-hal yang besar. Sebagiannya adalah mimpi saya di pertengahan 20 tahunan, dan sebagian lainnya adalah tentang support system yang hilang. Walau melepaskan itu semua sempat membuat jalan hidup saya berkabut dan kehilangan arah, tapi rupanya itu adalah 'cara' untuk mengantarkan saya pada tujuan baru.

Tahun lalu saya berdoa dengan sungguh-sungguh, agar saya diberikan takdir final yang menjawab semua perasaan dan usaha yang sudah saya kerahkan untuk seorang pria. Apapun takdirnya, saya berharap 2021 adalah tahun penentuannya. Dan yang terjadi adalah, di sebuah perjalanan ke Raja Ampat tahun ini, seorang teman baik memberikan pencerahan pada saya tentang konsep melepaskan dan itulah momen saya memutuskan untuk berhenti merasakan dan mengusahakan apapun untuk pria ini. Maka diantara ribuan koral laut Raja Ampat, di situlah saya melepaskan semua perasaan saya selama 5 tahun dengan selepas-lepasnya. Saya ingat sore itu, saya duduk di pantai melihat matahari terbenam dan berkata dengan tegas dalam hati, ‘It is okay. I let this go because I don’t deserve this’

Tidak hanya asmara, setelah 4 tahun lebih berusaha untuk mendapatkan beasiswa S2, tahun ini saya tiba di satu titik bahwa saya berhenti melihat S2 sebagai pencapaian yang akan membuat hidup saya lengkap. Terimakasih untuk sahabat saya Shofi Awanis yang dengan lembutnya berkata, “Aku engga pernah liat kamu itu engga complete kok Peh walau kamu engga S2. Aku malah engga ngerti kenapa kamu bisa mikir inferior banget soal dirimu sendiri?”. Sebuah ucapan yang akan saya ingat sampai kapanpun juga.

Mungkin bagi yang lain, S2 itu seperti iseng-iseng berhadiah, dapat syukur, engga pun hidup berjalan. Tapi tidak bagi saya. Bagi saya, ini seperti mengubah roadmap dan perspektif hidup secara keseluruhan. Ada bagian dari identitas diri saya yang terluka di sini. Alasan saya berhenti sebenarnya tidak terlepas dari satu pertanyaan, mau sampai kapan saya menunggu untuk sesuatu yang tidak bisa saya kontrol? Sementara hidup berjalan, dan saya masih memiliki mimpi-mimpi lain yang lebih konkrit. Mau sampai kapan saya melihat S2 sebagai pencapaian? Di satu titik, saya harus berani memberi ruang untuk mimpi saya yang lain.

Tahun ini juga menjadi tahun yang sangat bermakna bagi persahabatan saya dan Ica. Saya sempat berpikir bahwa saya dan Ica tidak akan lagi bersahabat. Namun rupanya, perang dingin yang sempat terjadi diantara kami hanyalah karena saya hanya merasa sedih dia akan menikah, yang di saat bersamaan, mental saya sedang lelah karena terlalu banyak hal yang terjadi.

Dan tentunya, tahun ini juga menjadi tahun saya kehilangan salah satu mentor dan atasan terbaik, Pak Arif. Kehilangan yang masih sangat membekas dan bahkan saya tidak yakin kalau dalam waktu dekat saya akan berhenti merasa kehilangan. Kehilangan yang membuat ritme kerja tim menjadi berantakan, dan secara personal membuat saya demotivasi.

Tepat di saat saya benar-benar kehilangan arah, tahun ini, saya malah harus menghadapi fakta bahwa saya mengidap Kolitis Ulseratif hingga harus melakukan biopsi untuk melihat apakah ada sel kanker atau tidak. Masih segar dalam ingatan saya proses menjalani 2 kali kolonoskopi dengan semua prosedurnya, dan bagaimana tidak enaknya cairan yang harus diminum agar proses itu bisa dilakukan. Pun saya yang harus bolak-balik rumah sakit di Jakarta dan Jogja di saat varian Delta sedang tinggi-tingginya. Sungguh sebuah pengalaman yang berkesan.

Saya tidak akan berbohong dengan mengatakan bahwa saya kuat menghadapi itu semua, karena faktanya, pada saat itu terjadi, saya ingin menyerah saja. Terbesit dalam pikiran saya untuk segera ‘pulang’ dan mengakhiri ini semua sampai di sini. Saya merasa hidup tidak lebih dari sekedar checklist yang harus saya lakukan tanpa tahu apa tujuannya.

Tapi bukan hidup namanya jika tidak ada plot twist. Karena di saat saya kehilangan, di situ lah saya mendapatkan gantinya. 

Ibarat adegan di film-film, saat tokoh utama merasa tidak ada lagi pertolongan, justru di saat itulah pertolongan datang. Di suatu sore tahun ini, seseorang mengajak saya berdiskusi tentang masa depan dan membuka pikiran saya sebesar-besarnya tentang apa yang seharusnya saya lakukan selanjutnya. Obrolan singkat yang terasa seperti menemukan sekoci di tengah badai ketika saya terombang-ambing di lautan. Sebuah obrolan yang mengantarkan saya pada keputusan untuk putar haluan arah kehidupan. Sebuah obrolan yang terasa seperti penerang di saat jalan hidup saya sangat berkabut. Obrolan yang saya syukuri tahun ini.

Walau tahun ini terasa seperti badai, tapi saya juga perlu mengakui bahwa masih banyak hal baik yang terjadi dalam hidup saya. Saya adalah satu diantara ‘sedikit’ yang tidak kehilangan pekerjaan di masa pandemi, saya masih memiliki banyak teman-teman yang peduli, dan tinggal di apartemen yang menjadi tempat paling aman dan nyaman di Ibukota. Saya perlu mengakui bahwa banyak hal berjalan sebagaimana mestinya terlepas dari semua hal yang tidak menyenangkan itu.

Satu hal yang juga saya pelajari tahun ini adalah tidak semua badai datang untuk merusak. Badai kali ini datang untuk menjernihkan pikiran saya, mengajarkan cara agar lebih mahir bertahan hidup, dan mengantarkan pada tujuan yang baru. Tahun ini memang menjadi tahunnya melepaskan, tapi tahun ini juga menjadi tahunnya saya menentukan harapan baru. 

Kalau katanya Bangtan sih,

'Cause it's not over, till it's over, say it one more time:

I wanna dance, the music's got me going, ain't nothing that can stop how we move. Let's break our plans and live just like we're golden and roll in like we're dancing fools.

We don't need to worry, 'cause when we fall, we know how to land.
Don't need to talk the talk, just walk the walk tonight….


Source picture: https://id.pinterest.com/pin/11118330321586416/

'Cause we don't need permission to dance!

Selasa, 28 Desember 2021

25 Juni Untuk Ketigapuluh Kalinya

“….with every broken bone, I swear I lived”

(I Lived – One Republic)

Tanggal 25 Juni 2021 adalah hari ulang tahun saya yang ke 30. Jangan percaya pada ungkapan yang bilang kalau umur hanyalah sekedar angka, karena dalam ilmu monitoring dan evaluasi, angka adalah landasan valid dalam menganalisis fenomena yang akan digunakan untuk mengambil keputusan. Jadi usia 30 adalah usia yang penting untuk menentukan langkah hidup saya selanjutnya. Sekali lagi, itu bukanlah sekedar angka! Lagipula, siapa sih yang awalnya menyebarkan ungkapan umur hanyalah kumpulan angka? Meremehkan sekali.

Kembali ke tanggal 25 Juni 2021. Seharusnya, tanggal itu menjadi sebuah selebrasi bagi saya, atau setidaknya, saya bisa memposting satu foto di sosial media dengan caption reflektif tentang perjalanan hidup saya sejauh ini.  Tapi boro-boro itu kejadian, tahu apa yang terjadi di hari itu? Oke, saya akan ceritakan garis besarnya.

Hari itu adalah hari Jumat, hari yang saya sukai sebenarnya, tapi rupanya hari itu adalah hari yang sangat hampa. Saya ingat di hari itu, saya harus ikut rapat dengan eselon 1 dan 2 untuk topik pekerjaan yang sedang saya lakukan. Kondisi mental saya sedang jauh dari stabil, karena pertama, saya masih berduka setelah kematian Pak Arif, dan kedua, karena saya sedang dalam proses dirujuk ke rumah sakit bedah. Kondisi apartemen saya sangat berantakan, dan saya belum makan dengan baik dari pagi karena tidak merasa lapar. Saya membaca ucapan selamat ulang tahun dari beberapa WhatsApp group, tapi tetap saja hampa. Sekitar jam setengah 7 malam, saat saya hendak pipis, saya melihat di celana dalam sudah penuh dengan darah dan saya tahu itu bukan darah haid. Saya duduk di kamar mandi apartemen, menangis sejadi-jadinya dengan celana dalam penuh darah. Saat itu juga varian Delta sedang tinggi-tingginya, jadi saya tidak berani bahkan ke UGD karena takut terpapar Covid-19. Sekitar pukul 8 malam, sahabat-sahabat saya video call, dan saya menghabiskan sekitar 10 menitan hanya untuk menangis dalam video call itu.

Begitulah usia 30 saya dimulai, dengan pendarahan, kelaparan, dan sendirian.

***

Di awal tahun 2021, saya sempat mengunjungi Raja Ampat setelah selesai menyelesaikan salah satu tugas lapangan di Papua Barat. Dalam perjalanan di kapal menuju penginapan, saya sejenak melihat kondisi saya di hari itu. Saya mengenakan sepatu Crocks, celana training dan baju lengan panjang, membawa tas carrier berwarna orange, berusia 29 tahun, tidak memiliki pacar, memiliki pekerjaan yang baik, teman-teman yang baik, Allah yang selalu menjaga dan akan snorkelling di surga lautan untuk beberapa hari kedepan. Sejenak saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah itu seharusnya gambaran perempuan yang akan berusia 30 tahun? Entahlah. Tapi yang pasti, saya menikmati menjadi diri saya di hari itu. Saya merasa baik-baik saja.

Di situlah saya sempat berpikir tentang perjalanan hidup saya selama 29 tahun. Di kapal itu, saya mendapat pencerahan bahwa jika ada satu kata yang menggambarkan perjalanan saya sejauh ini, maka kata itu adalah ‘bongkar pasang’.

Saya melakukan banyak bongkar pasang selama 10 tahun terakhir. Banyak nilai-nilai yang saya lepaskan dan banyak juga yang saya ambil. Sebenarnya, proses bongkar pasang ini tidak terlepas dari perjalanan hidup saya secara keseluruhan. Dimulai dari 10 tahun pertama, di mana sebagai manusia, saya adalah mahluk sosial yang menyerap apapun di sekitar saya. Semua hal pertama yang saya pelajari berasal dari lingkungan terdekat saya, mulai dari orang tua, tetangga, sekolah, media, hingga artis-artis yang terkenal pada jaman itu, semuanya memberikan sumbangsih karakter pada saya. Saat itu, saya tidak punya banyak keberanian untuk menolak, atau sekedar diberikan referensi untuk memilih. Semua itu disodorkan tanpa saya bisa bernegosiasi. Untuk itulah, di usia 20an saya mulai mencari tahu mana yang benar-benar tepat untuk saya, dan mana yang tidak. Saya mulai melakukan bongkar-pasang untuk mencari tahu siapa diri saya sebenarnya.

Sebagai contoh, saya melepaskan nilai-nilai liberalisme yang sempat ada dalam pikiran saya, mulai dari konsep agnostik atau sekulerisme dan menerima konsep Islam yang diajarkan para ulama secara komprehensif, lengkap dengan konsep jilbab yang sekarang saya kenakan.

Tidak hanya itu, usia 20an juga menjadi usia di mana saya mengenal semua jenis emosi dan bagaimana saya melakukan bongkar pasang respon yang tepat. Ternyata emosi itu kompleks, dan tidak sesederhana apa yang saya rasakan saat berusia dibawah 10 tahun. Saya mulai belajar untuk mencari cara terbaik dalam memperlakukan emosi-emosi itu, dan menenangkan diri saya sendiri. Alhasil, saya pernah patah hati sebesar-besarnya, dan jatuh cinta sedalam-dalamnya. Saya tahu seperti apa rasanya punya persahabatan yang tulus, tapi pernah juga memutuskan hubungan pertemanan. Saya tahu rasanya punya bos yang sangat suportif, dan pernah juga menangis di toilet kantor saking frustasinya dengan teman kantor.

Usia 20an juga menjadi usia eksploratif. Saya tidak lagi tertarik untuk bekerja di sektor komunikasi dan lebih memilih bekerja di sektor pembangunan sosial karena alasan nurani (dan finansial). Saya pernah merasakan sensasinya belanja bulanan di supermarket mahal dan saya juga tahu rasanya menawar di pasar tradisional. Saya pernah berada di lautan selama 14 jam dan pernah tidur dengan berdekatan dengan babi. Mimpi mengelilingi Indonesia juga kesampaian di usia 20an, bahkan saya dimudahkan untuk bisa umroh sebelum usia 30.

Dan tentu saja, hal terpenting di usia 20an adalah keputusan saya untuk berdamai pada luka-luka masa lalu. Mempelajari kembali awal mula semua kejadian masa kecil yang sudah terjadi, memafkan semua pihak yang terlibat, dan memilih untuk menjadikan itu sebagai bagian dari hidup. Ibarat medan perang, saya berhasil melewati usia 20an dengan luka-luka yang menjadikan saya prajurit terhormat.

Di usia 20an, saya sering bertanya-tanya sendiri tentang perjalanan hidup saya terasa sangat berliku-liku. Awalnya, saya cenderung kesal dengan semua takdir-takdir itu. Namun kini, saya bisa mengatakan dengan ikhlas betapa semua itu masuk akal. Semua lika-liku itulah yang ternyata mengantarkan saya di hari ini, sekaligus yang membuat hidup saya menarik.

Sebelum ulang tahun, adek saya pernah bertanya tips apa yang bisa dia ambil dari pengalaman hidup saya selama 20an tahun hidup. Saya menjawab bahwa sebelum usia 30, cobalah berani untuk melakukan bongkar pasang nilai-nilai kehidupan. Usahakanlah untuk mendapatkan pengalaman TER sebanyak mungkin, terpahit dan termanis. Kenalilah Dia yang mengirimkan kita ke dunia ini dan banyak-banyaklah membaca. Jangan takut terluka, usia 20an tahun adalah usia yang tepat untuk babak belur. Percayalah, itu semua akan berguna untuk melatih jiwa kita agar lebih tenang menghadapi apapun di usia selanjutnya.

Dan untuk diri saya sendiri, tidak banyak yang saya harapkan di usia 30 tahun ini. Saya hanya berharap agar saya tidak pernah ditinggalkan oleh Allah. Satu keinginan yang merangkum semua hal, termasuk agar saya selalu diberi petunjuk, selalu dijaga, selalu dicukupkan, selalu diberi kekuatan, dan kelak, saya ditunggu kepulangannya dengan rindu yang besar olehNya. Apapun yang terjadi kedepannya, selama Allah ridho, saya akan baik-baik saja.

Source picture: https://id.pinterest.com/pin/281543706666672/

I have become someone better than I expected to be by 30. Dear Rabb, You are the GREATEST director.

Kamis, 29 April 2021

Cerita Tentang Kehilangan


Di tahun 2020, beberapa bulan sebelum Covid-19 menyerang Indonesia, om saya, adek bungsu mama, meninggal dunia di usia 40an. Almarhum meninggal tanpa ada penyakit bawaan apapun, kematian dadakan kalau kata orang. Begini cerita singkatnya, almarhum baru pulang ke rumah saat lewat tengah malam setelah menjadi pengisi acara di salah satu acara di Bandung (Beliau drummer band indie). Paginya, beliau mengantar anak-anaknya sekolah, dan setelah pulang mengantar, beliau berkeringat di bagian dada, dan… ya…  tidak lama setelah itu, beliau meninggal dunia. Diagnosa dokter adalah om saya itu terkena serangan jantung. Kepergiannya yang mendadak membuat semua keluarga kaget, tidak terkecuali saya. Saya yang kebetulan waktu itu sedang tugas lapangan di wilayah Jawa Barat, langsung ijin sorenya dan pergi ke rumah duka di Bandung.

Ada satu hal yang saya ingat ketika kejadian itu. Ketika subuh, H+1 setelah om saya dikebumikan, saya terbangun karena mendengar lolongan panjang dari kamar depan. Rupanya, itu adalah suara tante saya, istri dari almarhum. Lolongan dan ratapan panjang yang membuat saya bingung harus merespon apa. Tante saya yang lain akhirnya ikut terbangun dan menenangkan istri almarhum. Sementara saya, di pagi-pagi buta itu, hanya bisa bengong, tidak punya ide harus melakukan apa. Pedih sekali hati saya kalau ingat suasana subuh itu, rasanya seperti menyaksikan ada orang yang kesakitan karena terluka parah, tapi lukanya tidak kelihatan. Mau diobati, tapi bagaimana caranya?

Kepergian om yang mendadak itu membuat semua keluarga terguncang, terutama bagi nenek saya. Bahkan hingga di hari pertama puasa tahun ini, saat saya menginap untuk menemaninya di awal-awal puasa, nenek saya menangis tersedu sepanjang siang, sambil melihat foto almarhum. Berkali-kali nenek bergumam, “Akang udah engga ada… Akang udah engga ada…. Gimana ini?” Dan lagi, saya kembali tidak tahu harus melakukan apa. Hal terbaik yang akhirnya saya lakukan adalah menepuk tanggannya lembut tanpa berani mengatakan apapun.

Sebagai ponakan, saya pribadi tidak begitu dekat dengan almarhum om saya itu. Saya lebih dekat dengan saudara mama yang lain, tanta-tante yang lain, tapi tidak dengan beliau. Saya sedih tentu saja beliau meninggal di usia muda, tapi tidak sampai membuat saya mengeluarkan lolongan panjang penuh ratapan, ataupun kerinduan mendalam saat bulan Ramadhan. Bagi saya, om sudah meninggal, dan ya sudah. Kepergiannya, jujur saja, tidak begitu berpengaruh dalam hidup saya.

Kepergian om saya itu mengingatkan saya pada banyak episode dalam series favorit sepanjang jaman, Grey’s Anatomy. Banyak sekali episode-episode yang membuat saya menangis bombay karena kehilangan yang dinarasikan terlalu dalam, hingga membuat saya bertanya, sebegitunyakah rasanya kehilangan? Semenderita itukah?

Waktu SMA, ada satu cerita yang cukup “populer” karena selalu diceritakan oleh alumni-alumni. Yaitu, ada satu siswa yang sangat pintar namun suatu hari dia ditemukan bunuh diri di kamarnya, karena tidak lolos beasiswa ke luar negeri saat dia terpilih mewakili provinsi untuk pertukaran pelajar. Kata para-alumni, semua orang kaget waktu mendengar kabar itu, karena siswi ini selain terkenal pintar, dia juga pribadi yang baik dan supel. Orang-orang tidak habis pikir membayangkan bahwa kegagalan dia pergi ke luar negeri, sanggup mendorong dia untuk bunuh diri. Pun saya juga akhirnya ikut bertanya, harus sampai seperti itu kah, jika seseorang mengalami kehilangan?

Dulu, saya selalu berkeyakinan bahwa seluruh kehilangan pasti ada gantinya, dan seharusnya kehilangan tidak perlu direspon berlebihan. Saya misalnya, sebagai manusia, saya kehilangan banyak hal dalam hidup saya. Contohnya, dalam 3-4 tahun terakhir, saya kehilangan kesempatan untuk sekolah S2 karena tidak lolos satupun beasiswa. Sedih sih rasanya, tapi saya beranggapan, selama saya tidak berhenti mencoba, suatu hari nanti kesempatan itu pasti akan datang pada saya. Jadi saya tidak berpikiran untuk bunuh diri, walau sangat depresi waktu itu. Bahkan ketika saya kehilangan orang-orang terdekat dalam hidup saya, seperti kakek meninggal, patah hati, atau temen-teman yang tadinya dekat lalu renggang, saya merasa tidak segitu nelangsanya merespon kehilangan. Saya sedih sih, nangis juga kok, tapi tidak segitunya.

Ya tapi itu dulu, sebelum saya tiba di satu titik, saat hidup mengenalkan saya pada arti baru kehilangan.

Semua pengalaman saya tentang kehilangan menjadi tidak relevan saat berpisah dengan lelaki ini. Semua pengertian yang terbangun dalam pikiran saya soal kehilangan dan bagaimana saya harus meresponnya, seketika nihil di satu hari ketika saya merasa kehilangan lelaki ini. Saya ingat sore di tahun 2015, untuk pertama kalinya, saya mengeluarkan lolongan panjang yang bahkan tidak berhenti hingga berbulan-bulan lamanya. Saya pun bergumam tidak jelas menyebutkan betapa sakitnya hati saya, hingga beberapa tahun setelahnya. Semua hal yang saya ketahui soal kehilangan, rasanya menguap entah kemana, detik ketika saya kehilangan lelaki ini. Kalau mati itu mudah, kehilangan ini sudah menjadi penyebabnya.

Oh, begini rasanya…

Rupa-rupanya, ada jenis kehilangan yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, yang tidak pernah sekalipun kita persiapkan, dan tidak pernah terbayang akan terjadi. Ada jenis kehilangan, di mana kita akan terbangun di tengah malam, memegang dada, dan melolong panjang putus asa berharap kesedihan hati kita bisa hilang. Ada jenis kehilangan, yang membuat dunia kita jatuh berhamburan dan membawa serta diri kita. Jenis kehilangan ini bahkan membuat saya tidak merasa perlu mencari penggantinya, karena sekali hal itu hilang, setelahnya hanya akan menjadi negosiasi yang coba dilakukan agar menjadi utuh kembali. Dan tidak peduli mau seberapa lama sejak kejadian itu berlalu, akan selalu ada bagian dari diri saya yang tidak bisa kembali seperti semula. Akan ada luka, setiap kali saya ingat tentang itu.

Mungkin, jenis kehilangan ini berbanding lurus dengan apa yang akhirnya kita temukan. Mungkin alumni di sekolah saya yang bunuh diri itu, merasa menemukan sesuatu ketika dia memiliki kesempatan pergi ke luar negeri untuk pertukaran pelajar. Tapi saat kesempatan itu gagal, mungkin ada bagian dari dirinya yang sangat terluka. Mungkin tante saya, menemukan cinta dalam hidupnya yang dia yakini akan bertahan lama, dan dia tidak menyangka bahwa di pagi hari yang biasa-biasa saja, cinta itu hilang selamanya. Dan bagi orang yang tidak percaya komitmen, saya akhirnya menemukan seseorang yang ingin saya temani selamanya, hingga itu terasa tidak mungkin.

Untuk itu, setiap kali saya melihat sebuah kejadian yang melibatkan kehilangan, seperti tenggelamnya Nanggala-402 baru-baru ini, atau pesawat hilang, saya akan selalu membayangkan diri saya di tahun 2015. Mengingat sekali lagi seperti apa lukanya, berempati untuk semua yang ditinggalkan, dan mendoakan dari jauh agar mereka bisa diberikan kekuatan untuk kembali berfungsi sebagai manusia. Mungkin tidak akan kembali utuh seperti sedia kala, tapi kehilangan terbesar akan melahirkan jiwa baru yang lebih tenang. Sejauh yang saya rasakan, jika kehilangan terbesar dapat terlewati, kehilangan selanjutnya akan menjadi sebuah repitisi yang cenderung lebih mudah ditangani. Mungkin memang kita harus mencicipi kehilangan terbesar, sekedar untuk menjadi pengingat, bahwa tidak akan ada yang benar-benar menetap di dunia ini, bahkan untuk hal yang benar-benar kita inginkan. Mungkin...

sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/229683649733909134/


 

 

Ikatan Darah


Dalam ilmu biologi, darah dipandang sebagai alat transportasi yang mengangkut zat-zat penting yang diperlukan oleh tubuh. Jika kita terpaksa harus melakukan operasi, maka dokter bedah dan pihak rumah sakit akan bertanya pada kita tentang jenis golongan darah kita apa, sebagai salah satu syarat sebelum kita masuk ke ruang operasi.  Jika ternyata persediaan di rumah sakit atau di bank darah mereka habis, maka pihak rumah sakit akan bertanya apakah ada kenalan atau keluarga yang bisa mendonorkan darah untuk kita. Dalam ilmu biologi, darah dipandang sangat teknis, sebatas bagian dari anatomi tubuh manusia.

Tapi dalam bahasan yang lain, darah diartikan sebagai sesuatu yang jauh berbeda. Darah berarti sebuah keterikatan. Satu darah akan berarti satu keluarga, satu ras, bahkan satu etnis. Orang selalu bilang, “darah lebih kental daripada air” yang berarti juga kalau kita sudah memiliki satu ikatan darah, mau bagaimanapun akrabnya kita dengan orang lain berbeda darah, tetap saja keterikatan alami jatuh pada mereka yang sedarah dengan kita.

Menyadari bahwa kita terhubung hanya karena ikatan darah, bagi saya itu cukup aneh, tapi juga masuk akal. Masuk akal karena kita tidak akan pernah ada di dunia ini tanpa perantara si A dan si B yang diberi label ayah dan ibu. Ayah dan Ibu memiliki saudara, yang lantas secara otomatis membuat kita juga memiliki keterikatan dengan mereka. Ketika om dan tante itu menikah, secara langsung atau tidak langsung, membuat kita juga terhubung dengan pasangan mereka, anak-anak mereka.

Sementara anehnya adalah memiliki satu ikatan darah, seringnya tidak ada hubungannya dengan kedekatan emosional kita. Berapa banyak orang yang lebih dekat dengan orang asing yang diberi label sahabat ketimbang adik atau kakak kandung mereka sendiri? Atau lebih dekat dengan tetangga ketimbang dengan orang tua sendiri? Saya yakin, lebih dari sekedar banyak.

Di Indonesia, ikatan darah dipahami dengan lebih kompleks lagi. Di sini, kita akan secara otomatis memiliki identitas kesukuan tertentu, walapun kita tidak benar-benar paham atau menganut nilai-nilai yang diajarkan oleh suku tersebut. Jadi misalnya kita terlahir dan besar di Sukoharjo, tapi dari orang tua suku Batak, ya tetap saja didoktrin orang Batak.

Dalam cerita saya misalnya, ikatan darah ini termasuk cerita yang kompleks. Waktu itu saya sudah berusia 11 atau 12 tahun ketika saya diberitahu kalau memiliki darah Bugis. Sebelumnya, saya pikir bahwa darah Sunda dan Jawa saja yang menjadi bagian dari identitas saya. Walau sempat marah dan tidak menerima, namun apa yang bisa diubah dari fakta bahwa darah Bugis sudah terlanjur mengalir dalam diri saya? Aneh, tapi mau bagaimana juga kan?

Butuh proses yang cukup panjang bagi saya menerima darah identitas ini. Tapi sekarang saya sudah bisa dengan santai mengatakan pada semua orang bahwa saya adalah campuran Sunda dan Bugis-Bone.

Di suatu kesempatan, saya ada kunjungan kerja ke Sulawesi Tengah, setelah selesai, saya sempatkan untuk mampir ke Sulawesi Selatan, mengunjungi keluarga saya di sana. Dalam kesempatan kali itu, H-1 menjelang pulang ke Jakarta, ternyata ada arisan keluarga bulanan yang dihadiri oleh semua keluarga dari almarhum ayah. Hari keberuntungan bagi saya karena bisa lebih mengenal identitas saya. Maka saya sempatkan pergi kesana. Bertemu dengan keluarga-keluarga, mendengar logat Makassar-Bugis yang tidak begitu familiar di telinga saya, mendengar cerita sepupu yang tidak pernah saya hubungi bertahun-tahun, mencicipi makanan khas yang dibuat oleh tante-tante, dan mencoba mengingat nama ponakan yang baru lahir atau ipar yang baru masuk dalam keluarga besar. Rasanya canggung tapi juga cukup hangat untuk dirasakan. Dan di akhir pertemuan arisan itu, seorang kakek memberikan kepada saya uang jajang dari dompetnya, sambil mengelus kepala saya lembut dan berkata, “Baik-baik di Jakarta ya Nak.”

Ikatan darah itu aneh, tapi realitanya, mau seberapa keras kita mencoba menghapus atau melawan ikatan darah, tidak mengakui, atau mencoba mengabaikan, darah itu sudah mengalir dalam tubuh kita, membentuk identitas diri kita, siapa kita sebenarnya. Jadi alih-alih memberontak, sekarang saya akan lebih memilih untuk mengapresiasi darah-darah identitas yang mengalir dalam diri saya.

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/229683649735769360/


 

Minggu, 28 Juni 2020

25 Juni ke 29 kalinya


Five hundred twenty-five thousand six hundred minutes, how do you measure a year?
In daylights? In sunsets? In midnights? In cups of coffee? 
In inches? In miles? In laughter? In strife?
In five hundred twenty-five thousand six hundred minutes, how do you measure a year in the life?
How about love? 
Measure in love.
(Rent-Seasons of Love)

Coba bayangkan sebuah iklan krim anti penuaan. Sudah? Visualisasikan dengan jelas iklan itu, yang biasanya dimulai dengan adegan seorang model wanita yang sedang bercermin sambil memegang matanya yang telah muncul kerutan halus. Setelah memegang kerutan halus tersebut, muncul adegan yang menampilkan kesedihan si wanita karena dia merasa telah menua dan dilanjutkan dengan tampilan produk krim anti penuaan yang akhirnya digunakan oleh si model. Tak lama, adegan berubah dengan menampilkan senyum manis si model sesaat setelah menggunakan produk tersebut, dan terakhir akan muncul sebuah tagline untuk mempersuasi penonton membeli produknya.

Terbayang jelas? Nah, seperti itulah yang kira-kira saya alami di sebuah malam. Di malam ketika saya sedang membersikan wajah di depan cermin, dan adegan iklan krim anti penuaan itu akhirnya saya alami sendiri. Saya memegang mata, lebih mendekat kearah cermin, dan menyadari bahwa beberapa kerutan halus sudah muncul di sana. Juga persis seperti adegan dalam iklan tersebut, sayapun seketika menjadi muram. Hanya bedanya, jika di dalam iklan krim anti penuaan itu tidak ada adegan yang menceritakan mengapa si wanita itu bersedih, sehingga seakan-akan alasan wanita itu bersedih adalah semata karena muncul kerutan, sementara saya dalam kenyataannya, justru duduk termenung dan menyadari bahwa setahun lagi, saya akan memasuki kepala 3.

Tidak saya sangka bahwa insight yang dipakai dalam membuat iklan krim anti penuaan yang berdurasi 30 hingga 60 detik itu benar-benar nyata. Yaitu tentang kecemasan seorang wanita yang menyadari bahwa usianya tidak lagi remaja dan mulai berpikir tentang hal-hal besar seperti pernikahan, memiliki anak, dan bagaimana membagi hidup antara mimpi pribadi dan kodrat alaminya sebagai wanita. Walaupun iklan tersebut tidak menampilan secara gambling kecemasan-kecemasan macam itu, tapi saya yakin, kerutan menjadi sebuah simbol yang diamini semua wanita bahwa dia harus lebih “serius” lagi dalam menentukan keputusan untuk hidupnya kedepan.

Saya ingat waktu saya masih berusia 12 tahun, saya sering membaca majalah Femina yang mama beli. Bagian yang selalu saya baca adalah bagian kolom curhat dari wanita-wanita berusia antara 25-35 tahun. Biasanya mereka akan curhat masalah rumah tangga, keuangan, pekerjaan, dan bahkan seks yang akan dijawab oleh pakar psikologi. Muncul dalam pikiran saya saat membaca itu adalah betapa rumitnya menjadi wanita dewasa, masalah mereka menyeramkan, belum lagi banyak konteks-konteks yang belum saya pahami, seperti mertua yang tidak akur dengan menantulah, hingga perkara hutang piutang. Jika sudah begitu, saya akan langsung menutup majalah Femina dan kembali membaca serial Oki dan Nirmala di Majalah Bobo.

Hingga akhirnya adegan kerutan halus itu muncul dan mengingatkan saya bahwa ternyata saya sudah masuk dalam kategori wanita dewasa menurut versi saya saat berusia 12 tahun.  Tidak terasa juga ya waktu berjalan. Saya jadi berpikir, jangan-jangan saya sudah mendengar sendiri masalah-masalah kehidupan yang dulu saya baca di majalah Femina melalui teman-teman saya, atau malah mengalaminya sendiri beberapanya. Hmm…

Jadi, bagaimana sebetulnya menjadi wanita dewasa itu? Apakah benar menyeramkan dan rumit?

Hal terbaik yang bisa saya katakan tentang menjadi wanita dewasa adalah soal tanggungjawab dan mencintai diri sendiri. Walaupun klise, tapi saya membenarkan bahwa tidak ada ukuran atau indikator tertentu yang bisa mengatur jalan hidup seorang wanita dewasa. Menikah contohnya, bukan berarti karena sudah 29 tahun seorang wanita harus menikah, tapi lebih kepada kalau sudah berada pada “titik” nya dia ingin menikah karena alasan-alasan yang bisa dia pertanggungjwabakan, maka menikahlah. Jadi sangat penting bagi saya untuk menjalani kehidupan sebagai wanita dewasa, dengan selalu berpikir bahwa saya harus bisa bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan hidup saya tanpa merepotkan orang lain, dan belajar untuk bisa mencintai diri sendiri dengan cara yang tepat.

Namun begitu, tidak bisa dipungkiri, kecemasan tetap saja kecemasan. Apalagi menuju usia 30, di saat kebanyakan wanita sebaya saya bahkan sudah hamil anak kedua, tentu saja ada bagian dari diri saya yang resah. Apakah saya juga akan menikah dan punya anak? Atau apakah saya akan seperti ini terus?

Hingga suatu hari ketika saya naik bus transjakarta yang sepi, sambil melihat hiruk-pikuk Jakarta, saya tersadarkan bahwa mungkin saja saya ini sedang diberikan waktu yang lebih lama untuk menyenangkan diri saya sendiri sepuas-puasanya sebelum menikah. Mungkin memang Rabb melihat bahwa hal yang paling saya butuhkan saat ini adalah bagaimana saya belajar mencintai dan memanjakan diri sendiri dulu. Mungkin ini adalah waktu yang diberikan sebagai hadiah karena saya belum pernah benar-benar memikirkan hidup saya sendiri selama ini. Dan saya menyusukuri hal itu dengan sungguh-sungguh. Saya menikmati momen-momen saya bisa membeli barang dan makanan apapun yang saya mau. Saya menikmati waktu yang saya curahkan untuk diri saya sendiri. Saya mensyukuri kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bisa mengenal diri saya lebih baik lagi dan untuk menyembuhkan trauma-trauma masa lalu. Saya senang diberi kesempatan untuk bisa pelan-pelan selesai dengan diri saya sendiri.

Sebenarnya ini mirip dengan iklan krim anti penuaan. Bedanya, saya tidak tersenyum karena sebuah produk, tapi saya tersenyum karena saya menjadi wanita dewasa dalam keadaan sehat, memiliki pekerjaan yang baik, dikelilingi teman-teman yang suportif, tidak memiliki hutang dan masalah keuangan, serta baru saja merasa terbebas dari kisah asmaara yang berbeli-belit. Saya tersenyum karena saya memiliki lebih dari cukup hal-hal yang bisa membuat saya tersenyum.

Saya menjadi wanita dewasa dengan sosok yang saya banggakan. Tidak sempurna menurut standar kehidupan pada umumya, tapi saya merasa cukup dan bersyukur dengan hidup saya sendiri. Alhamdulilah..

Hari ini saya resmi berusia 29 tahun. Untuk itu, ijinkanlah saya menghaturkan harap agar perlahan-lahan, semua mimpi yang saya upayakan dapat terwujud. Ingin ini-ingin itu banyak sekali. Terlebih, keinginan terbesar saya saat ini agar diberikan jalan dan kesempatan untuk kembali mencintai, dan dapat memiliki keluarga kecil yang saling cukup-mencukupi. Di mana kelak, pernikahan menjadi ternyaman bagi saya dan pasangan sebagai tempat pulang. Juga agar keberadaan satu sama lainnya dapat saling membantu untuk bisa tumbuh sebagai manusia yang lebih baik lagi. Semoga Rabb membukakan jalanNya dengan waktu yang disegerakan.

Aamiin.


https://id.pinterest.com/pin/229683649733547810/

Sabtu, 20 Juni 2020

Cendol Duren dan Koordinat Bahagia

You could sustain or are you comfortable with the pain? 
You've got no one to blame for your unhappiness, you got yourself into your own mess. 
Lettin' your worries pass you by. Don't you think it's worth your time to change your mind?
(Hold On - Wilson Phillips)

Untuk pertama kalinya, di minggu kedua Bulan Juni, pimpinan saya akhirnya mencari cara agar kami dalam satu unit dapat bekerja di kantor walau hanya beberapa jam saja. Tentu kami semua merespon usulan itu dengan gembira. Bayangkan saja, setelah nyaris 3 bulan harus bekerja di rumah masing-masing, rasanya sangat senang bisa kembali ke kantor dan bertemu dengan semua orang di tim. Kamipun mengatur hari serta agendanya, kami mencoba untuk membuat fasilitasi dengan daerah secara daring, tetapi kali ini kami melakukannya dengan semua anggota tim lengkap berkumpul di ruang rapat.

Beberapa hari sebelum itu, saya merasa bahwa suasana hati saya kembali tidak menentu, acak-acakan dan tidak bisa diajak kompromi. Mungkin saya yang tidak sadar mengalami burnout atau mungkin metabolisme tubuh yang kurang baik dikarenakan periode menstruasi yang berantakan dan ditambah dengan saya yang berpuasa juga saat itu. Atau bisa juga karena saya yang segitu kesepiannya sehingga saya miliki ekspektasi yang berlebihan untuk bisa bertemu dengan seseorang saat itu. Intinya saya seperti harus berjuang untuk tidak terus-terusan bertahan dengan perasaan seperti itu, hingga usulan untuk bisa kembali ke kantor walau sejenak terdengar begitu menyenangkan.

Hingga tibalah di hari H saat kami semua akhirnya datang ke kantor. Saat melihat satu per satu anggota tim yang terdiri dari 5 orang itu datang semua, saya benar-benar terharu. Akhirnya bisa kembali berkomunikasi secara langsung dengan mereka. Di tengah-tengah konsultasi virtual, pimpinan saya membisikan pada saya, “Alifah, kamu sudah cendol duren engga?” Saya menjawab dengan juga berbisik, “SUKA DONG PAK!’ Lalu beliau berkata, “Tunggu ya kira-kira 10 menit.” Katanya sambil berlagak melihat jam tangannya. Dan benar saja, tidak lama kemudian, satu kardus cendol duren datang untuk satu tim. Di hari itu saya sebenarnya sedang berpuasa, tapi melihat ekspresi pemimpin saya yang sebegitu semangatnya menyuruh saya mencoba es cendol, saya tidak tega. Ditambah lagi, salah satu anggota tim yang lain juga berencana untuk mentraktir kita semua makan siang, maka semakin besarlah keinginan saya untuk membatalkan puasa dan menikmati semua sajian hari itu.

Saya pun akhirnya mengambil satu gelas cendol tersebut, membukanya, dan menuangkan gula merah kental ke dalamnya, serta mengaduknya perlahan. Saya meminum es cendol duren itu dengan takzim karena rasanya yang enak sekali! Seketika, suasana hati saya kembali membaik dan saya seperti dapat energi tambahan. Mungkin karena hormon PMS dan saya yang tadinya sedang berpuasa, sehingga ketika mendapat asupan gula, tubuh saya menjadi lebih bersemangat. Atau bisa juga karena karena saya tersadar bahwa saya menjadi salah satu yang beruntung hari itu karena memiliki pemimpin super loyal serta tidak termasuk dari mereka-mereka yang dirumahkan di masa pandemi ini.
Hari itu berjalan yang cukup lancar. Konsultasi virtual dengan daerah berjalan dengan tanpa kendala, setelahnya kami sempat melakukan briefing singkat tentang apa yang kami lakukan pada bulan ini dan bulan depan, dan berakhir dengan makan bersama satu tim dengan makanan yang lezat dibeli dari aplikasi daring.

Tetapi hari itu belum selesai. Sesampainya di kosan, setelah mandi dan bebersih, saya masih harus mengikuti satu sesi conference call hingga sore dan berjanji untuk menelpon sahabat saya di Jogja setelahnya. Maka sesuai janji, setelah sesi conference call selesai dilakukan, saya berbincang panjang dengan sahabat saya. Dia bercerita tentang rencananya melakukan inseminasi kehamilan dan perjuangannya agar tetap waras ditengah gempuran ibu mertua yang memaksanya untuk segera hamil. “Aku belum pernah cerita ini nih sebelumnya, semuanya aku pendem sendiri, lega banget bisa cerita sama kamu akhirnya sist.” Katanya sambil menangis. Saya yang mendengar hanya bisa memberikannya ruang untuk mengeluarkan semua emosinya saja sambil sesekali berkata, “Gapapa…. Keluarin aja sist.” Rupanya, bagi teman saya itu, bercerita dengan saya adalah salah satu hal yang ia nantikan, salah satu hal yang menjadi hiburannya.

Hari itu saya kembali diingatkan bahwa rasa syukur memang tentang perspektif dan kebahagiaan adalah tentang sudut pandang. Dalam satu hari itu, sebetulnya ada banyak hal yang membuat hati saya uring-uringan, tapi rupanya, sesederhana 3 gelas cendol duren yang saya minum dan mendengarkan teman baik saya bercerita dapat membuat saya kembali tersenyum dan bersyukur karenanya.

Terkadang, kita memang tidak perlu untuk melihat satu hari secara utuh. Untuk apa juga? Toh sering kali kita gagal memahami apa yang terjadi sepenuhnya dalam satu hari itu. Kenapa ini begini, kenapa itu begitu, kita lebih sering merasa bingungnya daripada memahaminya. Mungkin semua yang kita gerutukan hari ini, akan terjawab di hari lain. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah membuat kordinat tertentu, menyerongkan sudut pandang, dan melihat sisi di mana kita bisa merasa bahagia dan bersyukur di hari itu. Tidak perlu melihat dari atas, hanya perlu menggeser sudut pandang dan merasa cukup atas apa yang terjadi. Jadi misalnya, kalau hari itu saya mempunyai cendol duren, mungkin besok saya bisa tersenyum dan bersyukur hanya karena saya bisa tidur dengan nyenyak dengan memeluk guling yang empuk. 


Minggu, 14 Juni 2020

Perihal Beradaptasi Seorang Diri (1)



Di masa pandemi seperti ini, saya yakin semua orang memiliki tantangannya masing-masing. Pernah satu ketika, saya menyapa salah satu teman yang bekerja di bidang event organizer. Dia bercerita tentang bagaimana pandemi ini membuat aspek finansialnya berantakan, karena tentu saja, tidak ada satupun event yang bisa dijalankan karena semua orang menghindari keramaian. “Aku bahkan sampe cari cara buat bikin konten online loh. Trus sekarang aku juga jualan online barang-barang yang aku beli dari luar negeri biar ada tambahan income.” Dia juga menambahkan bahwa kondisi seperti ini kemungkinan besar akan berlangsung hingga akhir tahun, yang artinya dia harus melakukan penghematan besar-besaran demi menjaga kelangsungan hidup. Teman saya yang lain, harus mendapat episode hidup yang tidak kalah mengaggetkan. Selain rencana pernikahannya yang harus dijalankan secara virtual karena pandemi, dia juga harus menerima fakta bahwa tunangannya didiagnosa kanker pangkreas. Di saat semua orang menghindari datang ke rumah sakit karena takut terpapar virus covid-19, si teman saya dan tunangannya justru harus harus bolak-balik dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya untuk mencari perawatan yang tepat. Tidak hanya harus menjaga kesehatan fisik, tapi dia juga harus menjaga kesehatan mentalnya dan tunangannya tetap stabil. Sungguh bukan perkara yang mudah. Ada juga teman saya yang lain, dia baru saja pindah kerja dari bidang jurnalistik ke perbankan. Dia bercerita bahwa belum juga dia memulai pekerjaan barunya secara langsung, dia kini harus beradaptasi dengan sistem work from home yang seumur-umur belum pernah dia lakukan. Alhasil, dia mengaku kesulitan untuk melakukan pekerjaan barunya dengan maksimal, serta kebingungan bagaimana caranya harus berkenalan dengan rekan kerjanya di kantor baru dengan kondisi semua serba virtual. “Duh, Peh, lumayan stress loh aku, engga bisa catch up gini sama kerjaan dan orang-orang baru.”

Semua orang berjuang dengan tantangannya masing-masing, tidak terkecuali saya.

Di masa pandemi seperti ini, beruntung saya tidak mengalami masalah finansial karena sektor pekerjaan saya bukan salah satu yang terdampak, tidak juga harus berjuang untuk menyesuaikan ritme kehidupan dengan sistem work from home karena saya sudah terbiasa melakukannya sejak awal saya bekerja, pun saya tidak dalam kondisi sakit atau memiliki tanggungan orang sakit yang mengharuskan saya untuk bolak-balik ke rumah sakit dengan resiko terpapar virus covid-19. Saya tidak mengalami itu semua, memang betul, tapi saya harus menjalani masa pandemi ini, melakukan karantina ini, sendirian. Sen-di-ri-an.

Ica, teman baik saya yang juga tinggal satu rumah kos dengan saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman bahkan sebelum status PSBB resmi diterapkan pemerintah. Saya ingat di suatu sore saat dia mengetuk kamar saya dan mengatakan bahwa dalam 2 atau 3 hari kedepan dia akan pulang dan mungkin akan kembali ke Jakarta setelah semua ini reda, yang mana entah kapan itu terjadi. Bisa 2 bulan, 3 bulan, atau entah kapan. Jujur, berat awalnya untuk menerima keputusan itu. Sulit bagi saya membayangkan bahwa nanti di Bulan Ramadhan dan bahkan lebaran, saya harus menjalani semuanya sendiri. Saking sulitnya saya menerima keputusan itu, saya bahkan puasa bicara dengannya hingga H-1 sebelum dia pulang. Di hari H saat Ica pulang, perasaan saya campur aduk, tidak karu-karuan. Saya putuskan hari itu untuk ke kantor walaupun tidak ada orang dan dilanjutkan jalan-jalan keliling Jakarta dengan seorang teman saya yang lain. Saya butuh mempersiapkan diri menghadapi kesendirian yang cukup panjang.

Saya tidak bisa pulang kampung atau lebih tepatnya memilih untuk tidak pulang untuk banyak sekali alasan. Alasan terbesar adalah karena saya merasa lebih aman dan nyaman menjalani karantina di Jakarta, di kamar saya yang luas ini dibandingkan di tempat manapun. Hingga detik ini, saya tidak menyesali keputusan untuk tidak pulang, saya hanya perlu menelan konsekuensi dari pilihan yang telah saya buat ini.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti menaiki roller coaster. Ada hari di mana saya menangis sesenggukan hingga sesak nafas, ada hari di mana saya tidak mau melakukan apapun selain membuka hal-hal tidak bermanfaat di sosial media, ada hari di mana saya bisa bekerja dengan efektif, ada hari di mana saya sangat bergembira, dan ada hari di mana saya merasa kebas dan hanya ingin melamun tanpa diganggu virtual meeting, WhatsApp chats, atau komunikasi apapun. Hari-hari berjalan dengan tantangannya masing-masing.

Saya mencoba berbagai cara untuk tetap waras. Mulai dari mencoba menu masakan baru, lebih banyak membaca, mendengarkan musik-musik alternatif, memperkuat nilai-nilai hidup, memasang target harian, membeli barang-barang yang bisa mempercantik kamar, menonton film dan drama televisi, olahraga, dan bahkan memulai proyek menulis bersama seorang teman. Tapi rupanya, kesepian tetap saja tidak terelakan. Bahkan sesering apapun video call yang saya lakukan dan sebanyak apapun percakapan yang terjadi melalui whatsapp, nyatanya tidak bisa menggantikan bagaimana menyenangkannya dapat berbincang dengan manusia secara langsung. Ketika saya membeli sayur di tukang sayur, saya benar-benar menikmati percakapan secara langsung dengan abang tukang sayur. Sesuatu yang terasa seperti meminum kelapa muda dingin di siang hari yang terik. Menyegarkan bagi jiwa.

Sebenarnya sih, secara teknis, saya tidak benar-benar sendirian. Masih ada 2 orang yang juga bertahan di sini, satu di atas dan satu di bawah, serta si pemilik kosan. Tapi kami jarang sekali berinteraksi lansgung, sehingga bagi saya itu tidak berarti apa-apa, jadi bisalah saya dikatagorikan seorang diri di masa pandemi seperti ini.

Ibarat perjalanan, ada masa-masa terberat yang saya rasakan di masa karantina ini, dan itu adalah ketika awal dan akhir puasa. Wah, jangan tanya bagaimana rasanya. Kalau ada orang yang bisa muak dengan kesendirian, saya salah satunya. Rasanya seperti menginginkan sesuatu yang tidak bisa saya beli dengan uang. Seperti ada yang kurang tapi saya tidak tahu harus melakukan apa agar itu terasa lengkap. Di malam takbiran, saat saya mengambil paket makanan lebaran di pos satpam yang dikirimkan oleh teman baik saya, Mbak Nina, saya ingat bagaimana saya menatap langit malam dengan gemeteran dan akhirnya menangis sejadi-jadinya di jalan. Itu titik puncak saya marasa sangat kesepian. Sungguh jika interaksi itu bisa dibeli, sudah pasti akan saya beli berkardus-kardus dan memasukannya ke freezer kulkas agar tidak basi dan bisa saya hangatkan sewaktu-waktu. Pada saat menangis itu, berputar dalam pikiran saya bagaimana Bulan Ramadhan tahun ini juga berlalu tanpa saya bisa mengunjungi mesjid sekalipun, tanpa ada buka puasa bersama, bahkan tanpa bisa bertemu siapa-siapa di penghujungnya. Lengkap sudah. Saya tidak bisa lagi membandingkan mana yang lebih nestapa, mereka yang tidak memiliki makanan enak di hari lebaran tapi dikelilingi orang-orang tercinta, atau memiliki makanan lebaran tapi sendirian. Hidup memang tidak pernah menawarkan paket lengkap.

Untunglah di hari lebaran itu, saya dan seorang teman kos, kami sepakat untuk merayakan lebaran bersama. Kami berbincang dari pagi hingga malam tentang banyak hal. Rasanya sungguh menyenangkan, sekalipun kami berdua harus membagi waktu dengan silaturahmi online yang tidak habis-habisnya di hari lebaran. Malam harinya, di hari yang sama, saya putuskan untuk mengungsi ke rumah sahabat saya yang lain dan menghabiskan waktu beberapa hari di sana. Alasannya sederhana, saya masih butuh interaksi nyata dengan manusia.

Hari-hari setelah lebaran berjalan serupa. Perasaan kesepian itu perlahan-lahan kembali muncul. Kesepian yang entah bagaimana harus saya hadapi. Hal ini malah semakin diperburuk dengan hormon menstruasi yang acak-acakan, sehingga membuat saya semakin berantakan moodnya.

Baru kali ini saya merasakan bagaimana kesepian bisa sebegitu menyiksanya. Dulu saya beranggapan bahwa hidup seorang diri mungkin saja lebih mudah ketimbang harus diribetkan dengan urusan emosi-emosi dengan manusia lainnya, tapi rupanya saya harus merivisi kembali padangan itu. Sekuat-kuatnya seorang introvert bertahan, ternyata tumbang juga dihantam kesepian berkepanjangan. Dari dulu saya selalu menikmati kesendirian dan kesibukan yang saya lakukan seorang diri, namun baru kali ini saya merasa overdosis dengan kesendirian dan semua hal yang berkait dengan virtual. Saya ingin berbincang, berpelukan, menggegam tangan, meninju halus bahu seseorang, dan bahkan bersalaman hormat pada orang lain. Lebih dari itu, saya ingin ditemani oleh manusia yang saya kenal. Saya tidak ingin sendiri, tolong.

Hal ini membuat saya memandang sinis pada mereka yang beranggapan bahwa bertahan sendirian di masa pandemi menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka yang tetap harus mencari nafkah di luar sana sehingga memungkinkan dia terpapar virus covid-19, karena bagi saya, semua orang berjuang dengan tantangannya masing-masing.

Saya sendiri tidak bisa membandingkan mana yang lebih berat dari tantangan-tantangan yang dihadapi orang-orang di masa pandemi ini, apakah mereka yang harus berpikir seribu cara agar tetap bisa membayar listrik, ataukah mereka yang harus dilanda kesedihan karena keluarga atau teman terdekat mereka sakit atau bahkan meninggal dunia, mereka yang harus bersusaha keras agar dapat bekerja dengan baik dan imbang di rumah, atau meraka yang seperti saya, sendiri digerogoti kesepian. Pun saya juga tidak bisa sebegitu yakinnya apakah jika saya diuji dengan ketidakstabilan finansial akan lebih baik dibandingkan kalau saya sendiri seperti ini. Ini memang bukan tentang perlombaan siapa yang lebih sulit kondisinya di masa pandemi, ini tentang bagaimana menyadari bahwa semua orang sedan berjuang dengan tantangannya masing-masing, dengan kondisi yang tidak bisa kita tebak kapan berakhirnya. Dan saat inilah, kita perlu sedikit lebih sensitif dalam merespon tantangan masing-masing orang yang mungkin berbeda dengan kita. Jika seseorang itu tidak dipecat di masa pandemi ini, bukan berarti dia sepenuhnya baik-baik saja, bisa jadi dia tersiksa dengan kesendirian.

Lalu apa yang bisa dilakukan jika kesendirian menjadi tantangan yang harus dihadapi? Saya juga gelagapan tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan ini. Mungkin hal terbaik yang bisa saya sarankan sebagai seorang praktisi adalah dengan menjadikan kesepian sebagai sebuah kondisi yang temporer, bukan permanen. Ini hanya sebuah kondisi yang harus dijalani saat ini. Memang tidak enak, memang menyesakan, tapi jangan berpikir ini akan selamanya. Ini hanya sementara.



source: https://id.pinterest.com/pin/229683649734454559/

© RIWAYAT
Maira Gall