Kamis, 31 Mei 2012

Berjuni-juni

tanpa terasa, ternyata hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei.
cepat sekali ya?
sudah pertengahan tahun, dan Juni akan kembali menyapa.

tapi tak apa, karena saya menunggu hadirnya Juni.
Karena saya menyukai Juni.
Juni selalu menjadi bulan yang mendewasakan bagi saya.
Kenpa? karena bulan ini, saya akan genap beruysai 21 tahun di tanggal 25 nanti.

perpisahan dengan bulan mei, menyadarikan saya akan cepatnya waktu berlari di kanan dan kiri saya.
Bulan Mei akan berakhir dengan banyak meninggalkan kenangan atas perpisahan.
Bulan yang menguras emosi karena perpisahan terjadi hilir mudik seperti bis.
ada rasa lelah dalam jiwa ketika saya harus mengalami perpisahan yang kesemuanya ini terjadi dibulan Mei.
sama seperti saya akan berpisah dengan #31 hari menulis.
"proyek selo penuh komitmen" ini akhirnya bisa saya selesaikan.

well, kata beberapa teman saya, saya orang yang susah sekali memegang komitmen dalam hungungan. Namun dalam #31harimenulis ini, saya memegang penuh komitem inil. Hingga kini selesai sudah.

Halo Juni,
harumnya semakin terasa hari ini.
jangan cepat beranjak ya nanti.
sediakan dulu sebuah kisah untuk aku kenang di bulanmu

Halo Juni,
berikan aku satu keberanian untuk melangkah dan menjadi orang yang lebih baik lagi
berikan aku kode bahwa aku mampu menjalani bulanmu dengan baik

halo Juni.
selamat datang :)

#31harimenulis

Tanpa paket

"anak komunikasikan jombloable. Itu semacam strongnya anak komunikasi"

Tulisan ini sedikit banyak terinspirasi dari sebuah obrolan singkat yang saya alami dengan dua orang teman saya, Rani dan Ria. Saat itu, siang hari di kantin fisipol dan saya sedang mengumpulkan niat untuk pergi melakukan pemeriksaan di GMC untuk KKN.

Saya mulai dengan menyapa Rani dengan pertanyaan agak basa-basi "Halo, Rani, masih sama itu?".
Tapi ternyata respon Rani agak berbeda dari apa yang saya harapkan. Dan kemudian dia berkata "aku udah putus Peh. Aku ga lama sama dia..."
MATI! saya salah berbasa-basi.

Dari ketidaksengajaan pertanyaan konyol saya, akhirnya terjadilah pembicaraan random antara saya, Rani, dan Ria. Pembicaraan tentang cinta tentu saja.
Kami mentertawakan keadaan yang sebetulnya miris di kalangan anak komunikasi. Anak komunikasi seperti begitu mudahnya menjadi single. Pacaran ga lama dan kemudian putus. Bisa  dibilang kalau komunikasi ini ternak jomblo. Saking banyaknya anak komunikasi yang jomblo.

"Ada apa sih sama anak komunikasi?" kata saya.
karna aneh aja gitu. Katanya anak komunikasi itu belajar komunikasi. Tapi buat maintance perasaan orang dengan komunikasi kok rasanya susah.
apa sebetulnya bukan komunikasi masalahnya?
hmm... sepertinya sih begitu
mungkin masalahnya ada di cara penerimaan anak komunikasi yang rendah. Atau singkat kata, mayoritas anak komunikasi standar "nyaman" nya terlalu tinggi.
ya ga bisa disalahkan juga sih. Karena tiap orang punya kadar nyaman yang berbeda-beda.

Ada juga yang kemudian bilang bahwa anak komunikasi itu susah dideketin karena habbitnya yang "aneh" dan jarang ada yang bisa tahan. Sekalinya tahan, anak komunikasinya yang merasa "tidak tertantang"
hahahaa.. saya ngakak denger ini. Kok ya sebegitunya..

Pembicaraan antara saya dan kedua teman saya itu agak random sebetulnya. Ga begitu random juga sih, tapi dari situ saja jadi tersadar akan satu hal.
Pembicaraan siang  itu membuat saya berfikir tentang konsep penerimaan.
Pembicaraan siang itu seperti menyadarkan saya bahwa tidak ada satupun didunia ini yang bisa hidup dalam satu paketan lengkap.
semuanya penuh dengan kelebihan dan kelemahan.

Klise ya?

sekilas memang iya.
tapi percayalah "ikhlas menerima" ini konsep yang sulit.

tak ada yang sempurna. Tak ada yang sanggup untuk dipandang baik oleh semua orang. Kekurangan secara kodrati telah melekat sedari lahir, mengajarkan kita pada konsep penerimaan.

sulitkah sebetulnya menerima itu?
sejujurnya iya! Dalam angan, kita berharap ada paket komplit dalam hidup yang dapat kita pilih. Berharap bertemu dengan seseorang yang at least mermpunyai karakter yang tidak berbeda jauh dengan kita. Berharap hidup semudah memilih pake attack di KFC yang didalamnya sudah ada ayam, nasi, dan pepsi dengan harga murah.
Tapi, kabar buruknya, hidup tidak mempunyai paketan ekonomis yang bisa kita pilih. Kita harus mengcustom dan meracik sendiri baru akan tau tatanan komponen yang tepat untuk hidup.
disinilah kita butuh penerimaan yang tinggi. Untuk semua hal, termasuk asmara.

Dalam urusan asmara.
Jika kita terlalu memaksa untuk mempush orang lain seperti apa yang kita inginkan. Maka semakin susah untuk kita mengamalkan konsep penerimaan itu.
Dan yang ada, kita akan mencari kebahagian itu. Kita mengejar rasa nyaman yang tanpa kita sadar, bahagia itu diciptakan bukan dikejar.

Tidak sulit sebetulnya melakukan konsep ini. Cukup dengan berhenti berfikir mengenai paketan lengkap kehidupan yang keberadaannya sungguh utopis. Tapi cobalah untuk berfikir betapa orang selalu punya caranya sendiri untuk menunjukan pada kita, pada dunia, tentang berbagai macam pandangan. Ya kan?
Jangan selalu bersikap egois dengan membenarkan apa yang kita anggap benar. Terimalah pikiran orang dengan baik.
Karena sekali lagi, hidup itu tidak punya paket lengkap yang bisa dipilih.

Terimalah dengan berlapang hati mereka yang "tidak sempurna" tapi mempunyai cara untuk menjadikannya sempurna.
Sesederhana itu. Ya diterima saja.
karena penerimaan adalah hal yang agung. Itu juga bentuk keikhlasan kita untuk berlapang dada menerima semua hal yang telah terjadi.



NB : Untuk Rani dan Ria. Semoga dengan ini kita menemukan cara untuk "menerima" mereka yang "non komunikasi" dengan baik. Cheers ya girls :)

#31
#31harimenulis


Rabu, 30 Mei 2012

Lebayisme goodbye syndrome


“waktu telah tiba, aku kan meninggalkan. Tinggalkan kamu, tuk sementara…”

Saya orang yang sulit menerima perpisahan.

Saya merasa ada penyakit psikologis yang saya idap, yang membuat saya begitu sulitnya menerima perpisahan. Dulu, saat saya kecil, SD lebih tepatnya, jika ada tamu yang menginap di rumah barang 3 atau 4 hari, saya akan diliputi perasaan was-was. Saya takut jika tamu itu pulang dan saya merasa sedih. Dan ketakutan saya itu ternyata benar. Setelah tamu itu pulang, saya kan menangis jejeritan seperti ditinggal oleh orang itu selamanya. Padahal sebetulnya, saya tidak mempunyai hubungan darah dengan orang itu. Tapi saya merasa sangat kehilangan.

Kejadian seperti itu selalu berulang. 

Dengan orang yang jauh dan tak punya hubungan darah saja, saya seperti itu lantas bagaimana dengan keluarga? Wah jangan tanya. Saya bisa lebih parah untuk meratapi kepergian keluarga saya itu. Semisal, nenek saya datang dan menginap selama seminggu, nanti menjelang nenek saya pulang, saya akan menangis tak berhenti hingga nenek saya pulang.

Sebetulnya bukan menangisnya yang saya permasalahkan. Toh saya juga kerap menangis. Yang saya permasalahkan adalah perasaan “sesak” karena ditinggal ini. Saya sedih dan sangat kehilangan sekali. Mungkin saya menderita lebayisme goodbye syndrome kali ya?

Saya merasa itu sangat mengganggu. Saya tentu tidak bisa begitu terus. Saya capek untuk menanggung perasaan sedih karena ditinggal. Beruntungnya, semenjak saya SMA dan hingga kuliah, saya jarang dirumah, jadinya jika ada saudara atau kerabat yang menginap dirumah saya, saya tak harus menderita lebayisme goodbye syndrome lagi.

Saya pikir, penyakit lebayisme goodbye syndrome saya ini sudah sembuh.

Tapi ternyata belum -__-

Saya masih menderita penyakit ini ternyata.

Yang saya sadar adalah ketika perpisahan gardep 42.
Saya merasa kambuh lagi dengan penyakit ini. Saat perpisahan gardep 42 ini, saya menangis tak henti selama 2 hari, 2 malam. Sebetulnya tak jelas juga apa yang kita tangisi. Tapi yang jelas ada perasaan sesak yang mendalam ketika saya tau saya akan mengalami perpisahan.
Dan rasa sesak itu akan mengantarkan pada air hangat yang keluar dari pelupuk mata. Dan samapi rasa sesak itu berhenti, maka air itu akan terus mengucur. Sungguh ironi saya yang menderita lebayisme goodbye syndrome ini.

Dan pagi ini, saya kembali mendapati diri saya terkena lebayisme goodbye syndrome lagi.
Kali ini adalah karena partner siaran saya yang bernama arga nalasukma telah pergi dari acara morning sunrise. dia telah mendapat pekerjaan yang lebih “layak” di malang dan akan segera hidup di fase selanjutnya.

Di siaran terakhir kami tadi pagi, saya tak kuasa untuk menahan air mata, bahkan saat on air. Perasaan sesak menyebalkan ini hadir lagi dan membuat saya betul-betul merasa kehilangan. ya bagaimana saya bisa tidak sedih, setiap harinya, dari senin sampai jumat, pukul 05.00-08.00 saya menghadapi program morning sunrise dengan seorang arga nalasukma selama hampir 6 bulan ini. Tidak akan mudah tentunya bagi saya  untuk menghadapi hari-hari di unisi tanpa kehadiran arga nalasukma.

Penyakit langka yang menyerang saya ini membuat saya sangat takut merasa memiliki secara emosional terhadap orang. Lah wong, tidak terlibat secara emosional saja saya sudah bisa menangis meraung-raung dan “sesak hati” karena ditingal, bagaimana jika saya mencintai dengan amat sangat sesorang nantinya?
Terakhir kali saya merasa mencintai sepenuh hati, saya merasa sangat ditinggalkan dan penyakit lebayisme goodbye syndrome kembali menyerang. Untuk itu, saya sangat berhati-hati dengan lelaki yang akan masuk dalam hidup saya. Saya memproteksi diri saya dengan amat agar saya tidak mudah terkena lebayisme goodbye syndrome ini dengan sembarang orang. (Loh, kok jadi nyambung kesini sih? Hehehe)

lebayisme goodbye syndrome ini harus saya atasi. Karena secara pasti, saya akan kehilangan satu persatu semua oarng yang ada di dunia ini. Entah itu selamanya atau sementara. Tapi pasti aan kehilangan.
Bahkan hingga kini saya masih tak bisa menampik ketakutan saya akan kematian yang kelak akan menimpa mama, ayah, serta nenek-kakek saya. Walaupun saya juga tidak tahu pasti, siapa yang akan lebih dulu menghampiri garis kematian. Tapi tetap saja saya takut.

Saya takut menerima perpisahan.

Saya benci konsep perpisahan, walapun itu merupakankonsep mutlak  kehidupan yang  nyata adanya.

Tapi walupun saya mengidap lebayisme goodbye syndrome tapi saya juga percaya bahwa dliuar sana sejuta pertemuan telah menanti saya. hidup ini imbang. Ketika satu perpisahan memilukan saya, tapi itu akna terganti dengan pertemuan yang menghadang. Itu pasti!

Pertemuan yang indah akan terjadi, sesaat setelah saya mengharu biru mengikhlaskan perpisahan. Sama seperti pertemuan saya dengan kamu *eh, kok nyambungnya kesini lagi*


NB : tulisan ini untuk mereka yang belum paham arti perpisahan. Saadrailah bahwa saat perpisahan ada di dekat mata, maka pertemuan akan segera hadir. Begitupun saat pertemuan itu terjadi, maka perpisahan itu ada di belakangnya sebagai bayangan. Jadi tidak ada yang perlu ditangisi dari konsep perpisahan ini J

#30
#31harimenulis

Selasa, 29 Mei 2012

sekat

Alasan paling rasional yang bisa aku berikan padamu atas perpisahan ini adalah karena aku memelihara sekat.

walaupun katamu itu tak apa, dan tak masalah
tapi bagiku, justru inilah masalahnya.

Ada beribu batu yang terbangun, dan bahkan aku tak tahu lagi harus mengahncurkan batu itu dengan apa lagi.
Batu yang kedap suara yang tidak memungkinkan aku mendengar jeritanmu.
Batu yang juga tak tembus pandang sehingga aku tak juga bisa melihat pilunya matamu melihat aku.

Tak akan pernah cukup kata maaf untuk mengobati kamu dan semua sakit hati yang ada
dan apa pula gunanya, saat sekat itu toh masih ada disana, terbangun kokoh dan tak bisa dihilangkan.

Kini, selama sekat itu masih ada dan terbangun kokoh yang harus kamu lakuakn adalah mengikhlaskan kita untuk berjalan di dua arah yang berbeda. Berjalan berpunggungan dan tak lagi meributkan tentang sekat itu.

Dan satu pesanku,
suatu saat nanti, jika kamu melihat sekat itu terbuka perlahan dan ternyata kamu tak ada lagi disitu. Maka jangan kembali.
Karena, bisa jadi sekat itu memang tak mau roboh karenamu.

NB : tulisan untuk seorang sevira putri, atas perjuangannya yang sangat berani. Semangat ya cantik! :)
#29
#31harimenulis

Senin, 28 Mei 2012

Konstan beranjak

"bagaimanapun hidup ini hanya cerita. Cerita, tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan"

Arga nalaksukma, seorang teman siaran saya setiap pagi hampir 6 bulan ini memutuskan untuk resign. Bukan karena ada masalah tertentu, tapi lebih kepada karena keputusannya untuk mencari pekerjaan yang lebih mapan. Maklumlah sebagai seorang lulusan kedokteran hewan UGM, menjadi penyiar radio swasta di Jogja bukanlah pekerjaan idaman. Terlebih ketika arga sejak beberapa bulan ini juga ditawari oleh banyak perusahaan untuk bekerja. Dengan gaji dan fasilitas yang ditawarkan padanya, dia tentu saja lebih memilih itu. Jika saya jadi dia, mungkin saya juga akan melakukan hal sama.

Arga menemukan jalannya.
Menuju fase yang lain dalam hidup dan meinggalkan saya di program pagi.
Tak banyak yang bisa saya lakukan kecuali melihat dengan kacamata positif bahwa hal seperti ini lumrah. Hanya soal masalah waktu.

***
konsep waktu yang telah dirancang ini hanya memungkinkan pada dua skenario besar. Meninggalkan dan ditinggalkan.
Semua pasti mengerti bahwa memang tak ada yang abadi di dunia ini.
Semuanya konstan akan berubah.
sama seperti halnya daun yang pasti akan jatuh meninggalkan rantingnya
Matahari yang secara konstan akan meninggalkan siang.
Bulan yang akan meninggalkan malam
Hujan yang akan meninggalkan pelangi.

Tinggal-meninggalkan seperti hukum alam yang sudah sewajarnya ada.
Harus terjadi karena hidup ini juga hanya tentang konsep datang dan pergi.
Tapi percayalah itu sulit. Baik itu menjadi aktor yang ditinggalkan atau yang meninggalkan.
Tak ada yang mudah.

Meninggalkan berarti pula beranjak. Entah pada sesuatu yang lebih baik atau justru pada sesuatu yang lebih fana.
Sementara ditinggalkan berarti pula pada kondisi dimana kita masih berada pada sebuah titik sementara pihak satunya telah beranjak.

Satu konsep yang tak pernah rukun.
Konsep yang menyakitkan sekaligus menjadi konsep yang adil.

***
Mungkin semua orang pernah mengalami fase ini. Fase yang mendewasakan jika saya bilang. Fase yang saya sebut sebagai fase pertahanan.
saat kita berada dalam garis pertahanan. Bertahan pada perasaan dan siap untuk menggempur apapun masalah yang ada.
Siap untuk selalu berkorban apapun yang sekiranya bisa kita usahakan.
Siap untuk merubah apapun yang sekiranya bisa membuat situasi berubah.
kita siap. Bahkan jika harus matipun, kita akan siap.

Tapi ternyata, orang  yang kita perjuangkan itu telah lebih dulu menyerah.

Disini kita akan merasa ditinggalkan.

atau ketika situasinya berbalik.
Saat kita justru malah mengabaikan semua perjuangan yang ditujukan khusus untuk kita.
kita tak melihat itu sebagai nilai yang harus kita pertahankan.
hingga akhirnya kitalah yang lebih dulu untuk keluar.

Disini kitalah yang meninggalkan.

Karena hidup itu hanya berputar, maka kita pasti akan meninggalkan. Meninggalkan fase lama untuk beranjak ke fase baru. Disinilah kita akan dibuat bingung, apakah kita akan mengajak serta apa yang ada di fase lama untuk ikut ke fase baru atau akan meninggalkannya disana.
Karena kita tidak akan bisa untuk bertahan di satu titik.
Kita harus bergerak.
Sehingga meninggalkan dan ditinggalkan akan selalu ada.


***

Tapi masalahnya, tak ada dari kita yang tau akan berada pada garis apa.
Tak ada dari kita yang mampu menebak apa yang terjadi setelahnya setelah memilih salah satunya.
Tak ada dari kita yang bisa dengan mudah memutuskan akan berada pada bagian yang mana.

waktu dengan tegasnya tidak akan memberitahu kita pada skenario yang ada.
Waktu hanya mampu memaksa kita melakoni salah satu dari itu. Tanpa kita sanggup untuk kompromi.
dan saat waktu itu telah datang maka kita akan mempunyai sebuah kisah. Entah sebagai orang yang ditinggalkan atau yang meninggalkan.

saya jadi ingat perkataan mama saya, saat dimana beliau merasa sangat kehilangan saya adalah ketika saya masuk TK. Saat saya tanya apa alasannya, beliau menjawab "waktu berjalan cepat loh lif. Waktu mama nganter Alif ke TK, mama mikir, mungkin ga lama lagi, mama bakal nganter alif ke pelaminan"
Agak lebay untuk saya tangkap saat saya berusia 18 tahun.
Tapi, sekarang saya paham maksudnya.

NB : tulisan ini saya dedikasikan pada semua orang yang tengah bersiap untuk beranjak. selamat beranjak. Selamat mendewasakan diri :)

#28
#31harimenulis

Minggu, 27 Mei 2012

Bufonophobia

"ada kodok tengoek tengoek di pinggir kali tengoek temgoek.
ingin kubunuh..
tengoek tengoek.
dan kubinasakan!"

Harusnya, lirik lagu kodok ngorek itu seperti itulah adanya.

Daftar kebencian saya nomer sekian setelah saya benci bisikan syaitan yang terkutuk adalah KODOK!
bahkan menulis namanya aja saya benci!

bagi saya, kodok adalah hewan terburuk rupa yang pernah diciptakan Tuhan di muka bumi ini.
matanya jelek, kakinya aneh, tubuhnya berlendir menjijikan, dan kemampuan melompatnya sungguh memuakan!
Oh Ya Tuhan, bukan maksud hati menjelekan mahlukMu, tapi apa mau dikata ketika saya dikarunia kemampuan untuk "fobia" pada kodok.

Bagi saya fobia itu lebih dari sekedar takut. Tapi juga benci.Ya kerena sangat takut itu jadinya bencikan?

Darimana awalnya?
well, saya juga lupa bagaimana awalnya, sampai saya harus dapat "anugerah" untuk fobia kodok.
tapi at least, saya bisa cerita beberapa kejadian memalukan yang terjadi karena kodok.

Yang paling saya ingat adalah ketika saya harus pingsan di LAB biologi saat SMP.
saat itu, di SMP saya ada praktikum untuk membedah hewan.
dan apesnya, kelompok saya mendapatkan kodok untuk dibedah!
saking stressnya, ditambah guru biologi yang tdak bersahabat dengan baik, akhirnya mau tidak mau, saya harus melakoni itu. Apa daya saya sebagai anak SMP kelas 2 saat itu juga kan.

Setelah stress berhari-hari menanti hari pembedahan hewan itu. Akhirnya hari itupun datang juga.
keringat dingin dan jantung berdebar kencang menjadi kawan saya.
Sialnya, kelompok praktikum saya itu terdiri dari 5 orang. ARTINYA, semuanya bekerja dalam pembedahan. Kalau tidak kan, saya akan mengemis-ngemis untuk jadi anggota yang bertugas mencatat hasil pembedahan aja.

Saat masuk ruang LAB, dan menuju meja lab, saya sudah melihat kodok dalam toples. Masih hidup dan yeyek sekali.
saya hanya terpaku terdiam melohat pemandangan tidak senonoh itu.
saya takuuuuuut sekali!
perlahan tapi pasti, kodok itu akan segera dibedah.
ketika kodok itu dikeluarkan dan ditaruh di papan bedah, saya hanya terdiam. Terdiam. TERDIAM.
dan setelah itu...
saya tak sadarkan diri.

saya pingsan!
saking takutnya. Saking jijiknya. Saking stressnya.

Dua.
waktu itu malam hari.
Dan karena rumah saya yang ada di kampung, maka ada tradisi untuk memberikan uang receh bagi yang ronda.
Begitupun rumah saya. Di pagar, ada semacam centelan dari botol aqua untuk menaruhkan recehan.
Suatu malam, ketika saya hendak memberikan uang receh di tempat itu, tangan saya tak sengaja menyentuh semacam "benda" yang berlendir. Bodohnya, bukannya saya lepas, malah saya remas dan remas. Hingga saya lihat sepasang mata yang sungguh.. sungguh.. hoooeeeeeek...
dan saya berteriak kencang sambil menangis masuk kedalam rumah.

tangis saya berhenti saat mama saya mengambil lidi dan menusuk-nusukannya pada tangan saya agar saya lupa rasanya.

Dan banyak lagi kejadian konyol yang tak sepatutnya ada karena fobia saya akan kodok!

Bahkan hingga kini, kalau saya pulang ke rumah, dan ada kodok yang berdiam diri di depan pagar. Maka saya akan mengsms orang rumah untuk mengusir kodok itu agar saya bisa masuk.

jadi, saya akan sangat membenci dan marah tujuh turunan yang punya ide ngerjain saya menggunakan media kodok. awas aja!

semoga kodok menjadi hewan yang langka dan akan punah dalam waktu yang tidak lama lagi. AMIN!!

#27
#31harimenulis

Sabtu, 26 Mei 2012

Pulang

kalaupun aku harus pergi.
pasti itu hanya sebentar. Dan aku pasti akan pulang.

aku akan pulang.
pasti.

aku akan kembali.
pasti.

karena semua rindu dan semua asa ini akan mengantarkan aku pada pintumu lagi.

tapi,
mari kita bicarakan segala kemungkinan.

kalau aku terlambat pulang,
taruh saja kuncinya didekat pintu. Biarkan aku membukanya sendiri.
Jadi kamu bisa tidur tanpa harus menungguku didepan pintu.

kalau aku lupa arah pulang,
nyalakan percik api, dan lemparkan ke udara.
atau beri kode pada angin untuk menuntunku untuk pulang.

kalau aku tak mau pulang,
ingatkan aku pada hangatnya rumahmu.
ingatkan aku pada nyamannya mejamu.
ingatkan aku pada lembutnya selimutmu.
ingatkan aku pada kerasnya kamu menunggu aku di rumah.
bagaimana caranya.
aku juga tak tahu, tapi berusahalah untuk mencari tahu caranya.

atau begini saja.

bagaimana jika kamu jangan membiarkan aku untuk keluar dari pintumu. sesebentar apapun itu.

karena aku takut semua kemungkinan itu terjadi.
aku takut pulang terlalu larut dan kamu menguncinya dari dalam tak mengijinkan aku masuk lagi.
aku takut lupa jalan pulang, dan masuk pada pintu yang salah.
aku takut tersesat, dan kamu tak bisa lagi menemukan aku.
dan yang paling aku takutkan, jika aku tak mau lagi pulang. Padahal, itulah tempat dimana aku harus pulang.
Aku takut tak bisa mengetuk pintumu lagi.
aku takut...

Berjanjilah.
Tolong berjanji untuk tidak membiarkan aku keluar dari pintumu tanpa kamu tau caranya untuk membuat aku kembali.

jadi, kalaupun aku harus pergi.
bawa aku kembali pulang.

kembali pada hati yang lembut.
kembali pada pelukan hangat.
kembali pada senyum yang manis.
kembali padamu.

dan aku tak akan berkeberatan untuk tertahan selamanya di hatimu.



ya?

#26
#31harimenulis
© RIWAYAT
Maira Gall