Sabtu, 01 September 2012

Hemat makan ya nak..


Dengan medan yang jauh dari peradaban, juga tak adanya warung atau pasar yang terjangkau. Maka jelas kami harus pintar-pintar mengolah makanan yang ada. kami memang membawa semua bahan makanan di awal keberangkatan. Dan juga pemerintah daerah yang ikut menyumbang alat masak dan juga bahan makanan seperti beras, mie, telur, sayur, minyak dan lain sebagainya. Jelas, kami harus pintar-pintar dalam mengolah makanan. Jangan samapi kami kelaparan atau teralalu boros sehingga hanya makan mie atau sarden saja. Cuaca papua yang kadang tak menentu tak boleh membuat stamina kami turun. Apalagi jika fisik kami drop, nyamuk malaria akan lebih mudah “membunuh kami”. Beruntunglah kami punya mbak mustika (seperti merek alat masak kami) yang selalu punya pikiran dan juga cerewet tentang urusan kerumah tanggaan. Jadi kami selalu bisa makan bergizi.

kami buka puasa dengan kolak! terpujilah yang piket!


Jadi ketika kami butuh serat, maka ada mengingatkan bahwa kami harus masak jelly atau agar. Dan kami akan memakannya setelah tarawih.

Jika telur belum habis dan nyaris busuk, ada yang mengingatkan.

Jika selama dua hari kami tidak masak yang ada kuahnya, juga ada yang mengingatkan.

Dan mbak mus ini bersih sekali kalau masak. Jadi semuanya harus dicuci bersih, semuanya. Semuanya. (ya memang harusnya seperti itu sih, tapi berhubung saya, faizal, dan ozi, ya kadang ditambah uda, fauzan, dan dedi ini orang cuek, jadi kalau masak, agak suka jorok gitu.) mbak mus tidak sendiri, ada mas yoyo, mbak fitri, juga mbak omi yang harus diwaspadai. Jika ketahuan mereka kalau selama kita masak tidak higienis, wah wah wah.. tamatlah sudah. Hahahaha

Anyway, we love you kok mbak mus!

Tapi, Allah SWT memang maha penyayang. Hari ini, melalui tangan kakak spanyel, Dia memberikan kami udaaaaang!!! Aaah… sungguh membahagiakan buka puasa hari ini.
Makan udang di hari ini, ada enaknya ada tidaknya.
Enaknya, ya enak karena kami bisa makan udang.



Tidak enaknya,
Karena saya yang piket! Jeng jeng jeng.
Selalu deh, setiap kali mbak mus, mas yoyo, dan entah siapa satunya lagi masak. Masakannya pasti enak tapi pasti membutuhkan semua alat masak dan peralatan masak yang kotor menjadi banyak sekali dibandingkan dengan yang masak anak lainnya. Entah apes atau apa, tapi ketika yang harus dicuci itu banya selalu saja pas saya, fauzan, dan ozi yang piket. Jadilah, saya, fauzan, dan ozi yang harus membawa seluruh pelaratan masak dan makan itu ke laut dan mencuci disana.
Oh iya, saya mau cerita tentang piket.
Karena piket itu punya 3 tugas. Satu mengambil air. Dua, menyapu rumah. Tiga mencuci piring! Jadi setiap piket pasti yang bersangkutan menjadi agak sibuk. Ya seperti saya hari ini. saya dan dua lelaki itu harus membawa semua peralatan itu untuk dicuci malam-malam yang gelap dan tidak ada lampu.

lihat jalan di belakang saya? nah airnya masih jauh ada di bawah.. dan kalau malam gelap GULITA


Mau tau piket ala kami? Piket ala kami berbeda dengan piket kelompok lainnya. Pembagian tugasnya seperti ini :

Fauzan dan ozi : membawa seluruh peralatan kotor dari rumah ke tempat cuci. Ipeh ga boleh bawa apa-apa. Nanti kulitnya lecet!

Ipeh : mencuci! Termasuk menyabuni dan membilas. Serambi ipeh mencuci, fauzan dan ozi akan berdebat ga penting! -__-



Kenapa fauzan dan ozi tidak ikut menyentuh aktivitas mencuci piring? Karena fauzan kalo nyuci ga bersih. Dan kalau ozi nyuci piring, saking bersihnya jadi luamaaa! So, biarkan saya yang melakukannya.

Yeaah..
J

Pendidikan


"Guru niku, digugu lan di tiru.."

Dari dulu, saya selalu suka mengajar. Bahkan sempat, mama saya menyuruh saya masuk pendidik guru di IKIP karena saya memang  suka mengajar.

Dan keberadaan saya di papua ini membuat hasrat mengajar saya menjadi tersalurkan.
Di yakati ini, hanya terdapat satu gedung sekolah. Satu gedung untuk seluruh aktifitas belajar mengajar. Gedung yang menampung seluruh masayarakat yakati yang harus bersekolah. Pendidikan di yakati ini hanya sampai pada jenjang SMP saja, sehingga bagi mereka yang ingin melanjutkan penididikan ke jenjang selanjutnya harus pergi ke bintuni.


tampak depan



                Sekolah dasar yang ada di Yakati ini terdiri secara normal oleh enam kelas. Kelas yang paling banyak siswanya adalah kelas satu SD. Saya tak tahu persisnya berapa jumlahnya, tapi anak kelas satu ini ada sekitar 20 an lah.. sementara kelas dua hanya satu orang bernama martin, kelas tiga ada 3 atau 4 orang begitu juga kelas 5 dan kelas 6 nya. Hanya terdiri beberapa siswa saja.
                Kalau biacara pendidikan di yakati ini, saya hanya bisa tersenyum galau. Mereka kan juga anak Indonesia yang harusnya punya hak pendidikan yang sama seperti anak-anak yang ada di jawa. Tapi nyatanya mereka memang tidak seberuntung mereka yang ada di Jawa sana. Dari segi sarana prasaran yang snagat kurang memadai, kurikulum yang masih berantakan, dan juga minimnya inovasi pengajaran dan motivasi untuk mereka semua.
Tenaga pengajar disini sebetulnya sudah ada. namanya adalah bu afrida. Bu afrida ini adalah guru honorer dari dinas pendidikan. Dia ada di yakati karena pembagian tugas. Saya melihat, ada kejenuhan yang membuat profesinya sebagai guru menjadi tidak enjoy lagi. Awalnya saya malah menjudge guru ini tidak komit dengan pekerjaanya. Jadi di awal, saya sedikit tidak respek dengan dia. Karena, seharusnya dia bisa melakukan banyak hal lagi untuk anak-anak disini. Tapi lantas saya jadi berfikir, bahwa tidak mudah menjadi seperti dia. Menjadi guru honorer di yakati yang tidak ada hiburan apa-apa. Anak-anaknya pun tidak mudah menangkap materi yang diberikan. Memang tantangan dan kendalanya besar untuk mengajar di Yakati ini. Belum lagi, tenaga pengajar yang ada saat ini, ya hanya bu Afrida saja. Bayangkan, dia harus mengajar 6 kelas SD ditambah SMP. Berat juga sih. Pengajar yang lain entah kemana saat ini. katanya masih di Bintuni.
                Untuk itu kami membantu mengajar.
                Hmm.. anak-anak ini, tidak bisa diajarkan dengan cara biasa atau konvensional. Harus ada cara pembelajaran yang cocok untuk mereka. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena mereka tidak terbiasa berada di lingkungan intelektual. Jadi tidak bisa sepenuhnya menerapkan cara mengajar seperti di Jawa. Saya setuju dengan apa yang dikatakan fauzan.
“penididikan awal itu harusnya dari keluarga. Tapi, keluarganya saja juga mendidik mereka dengan kekerasan
Ya welcome to the club man. Pendidikan bagi mereka seperti kebutuhan tersier. Sehingga mereka tak akan segan meninggalkan sekolah untuk membantu orang tuanya mencuci di daratan.
Kembali lagi pada sistem belajar mengajar disini. Ya sepertinya tidak bisa dengan teknik biasa saja untuk mengajarkan materi belajar kepada mereka. Mereka terbiasa dikerasi jika mereka  tidak bisa mengingat sesuatu. Jadi cara kami yang mengajar dengan penuh kelembutan di awal itu malah membuat mereka menyepelekan materi dari kami. Tapi overall, mereka anak-anak yang memiliki jiwa belajar yang besar. Keingin tahuan mereka akan banyak hal juga banyak ditujukan dengan keaktifan mereka datang ke pastori kami untuk membaca buku atau menyusun puzzle.
                Selain yang kelas 1, hampir mayoritas siswa-siswinya telah bisa membaca walaupun masih ada satu dua  yang masih tertatih.
                Karena kami tak begitu paham akan kurikulum SD maka kami hanya berpedoman pada buku teks belajar saja. Bagi saya dan fauzan yang memegang kelas 1, fokus kami adalah membuat mereka bisa membaca dan berhitung secara sederhana. Ya itu saja bagi kami membutuhkan usaha yang tidak mudah.
                Setiap harinya kami mengajar. Aktifitas belajar dimulai pada pukul 08.00 WIT. Jika hujan, dan jalan licin, saya harus menggangandeng fauzan agar saya tidak jatuh. Wajah-wajah calon pemimpin ini menyenangkan untuk dilihat, terlebih saat mereka sedang berdoa. Mereka terlihat khusyuk dan begitu lucu. Wajah mereka begitu kecil. Tapi selebihnya, mereka hanyalah anak kelas 1 yang sangat menyukai kegaduhan. Saat saya menegajarkan membaca pada mereka, di sisi sebelah kanan seorang anak bisa menangis karena dinakali temannya. Di sebelah kiri, ada anak yang sibuk memakan sagu. Di bagian depan ada anak yang sibuk mendengarkan. Ada anak yang ingin keluar ruangan. Ah.. anak-anak ini…
topi saya bundar...

ga pake seragam gapapa, asal sekolah


jumlah seluruh anak kelas 1, 2, 3 SMP hanya sekitar 12 orang


Yakati, 28 Juli 2012 

Kasti hingga demam


Kasti dan jak-jakan adalah dua permainan yang kerap saya mainkan sewaktu SD. Permainan unik yang semakin jarang saya lihat lagi keeksisannya di jogja. Entah masih ada atau tidak yang memainkan permainan itu di jogja. Tapi di papua, tepatnya di yakati, Kasti dan jak-jakan itu adalah hiburan sekaligus olahraga yang juga merangkap sebagai permainan yang menjadi kawan setia dari masyarakat.Pada dasarnya, setiap pelajaran olahraga di Yakati, yang siswa-siswinya lakukan adalah bermain kasti dan jak-jakan. Mereka tidak menyebut jak-jakan memang, mereka menyebutnya permainan benteng.
Untu pertama kalinya, saya kembali memainkan kasti dan melihat anak didik saya kelas satu untuk bermain benteng. Awalnya, saya hanya melihat, tapi kok seru ya, jadi saya ikutan. Memegang papan pemukul sederhana dan berlari dari satu tiang ke tiang lain ternyata seru juga ya. hahaha.. namun bodohnya, ketika saya memukul, pukulan saya tidak terlempar jauh sehingga bola hanya terpental tak jauh dari tempat saya memukul, dan karena kemampuan lari saya yang pas-pasan maka saya pun terkena pukulan bola, dan regu saya harus keluar lapangan. Aduh, saya jadi merasa bersalah. hehehe
Permainan itu menjadi olahraga saya pagi ini, sekaligus permainan yang membawa memori saya pada masa kecil saya. ahh…

sebelum mulai, kita pemanasan dulu..

run baby run..





Siang ini, setelah selesai mengajar, saya lanjutkan aktifitas dengan melatih drama dengan warga lokal untuk persiapan peresmian acara puncak dan juga acara perpisahan. Aiiih, demi apa, susah sekali mendirect orang-orang ini.. ya iyaalah ya, what do you expect coba dari mereka yang bahkan bahasa Indonesia saja jarang digunakan. Jadi yang untuk membuat drama yang baik, saya harus mayi-matian membuat mereka berlatih.
Belum lagi masalah kulit saya yang lagi-lagi mendapatkan musibah. Setelah agas tipe satu yang hanya menimbulkan bentolan tanpa gatal, lalu agas tipe 2 yang membuat gatal sanubari jiwa raga, sekarang agas sudah ada di tipe 3, yakni yang membuat daya garuk meningkat, kini entah agas atau bukan, tapi membuat kulit saya ruam dan bentol dengan warna merah menyala dan kali ini disertai dengan nanah dan pegal juga demam. what the... *sigh
Rasa demam yang tidak nyaman ini betul-betul membuat lemas, akhirnya saya beranikan diri untuk curhat ke mas Yoyo, menurut mas Yoyo, demam saya ini karena ruam kaki yang memar akibat agas. Kalau mau sembuh, maka nanahnya harus dikeluarkan. Jadilah saya sore itu dioperasi oleh mas Yoyo. Dikeluarkan nanahnya dan saya berteriak kenacang didapur. Dan dengan kreatifitas mas yoyo, luka saya diberikan obat yang harusnya diminum tapi dengan mas yoyo malah di cocolkan ke luka, katanya biar lukanya kering. Lets see lah ya.. dan semoga saya cepat sembuh. AMIN!

Yakati, 31 Juli 2012

Ke Yensei!


Kami dibedakan menjadi 2 sub unit. Yang satu berada di desa Yakati, yakni desa tempat saya berKKN. Sementara yang satunya lagi, terdapat di di desa yensei. Berbeda mungkin dengan KKN yang berada di Jawa yang walaaupun satu unitnya terdiri dari beberapa sub unit taopi masih sangat memungkinkan untuk dikunjungi dan bertukar kabar. Tapi kami? Ah..

Semenjak berpisah di tanggal 10 juli kami ber 20 kemudian betul-betul putus kontak. Bahkan ketika kami mengantar 10 orang lainnya ke desa yensei dengan speed boat, kami hanya bisa melambaikan tangan dan kemudian mereka pergi tanpa kami tahu bagaimana kabar mereka. Apakah mereka tiba dengan selamat dan bagaimana kondisi mereka di desa sana. Apakah mereka sehat atau bagaimana. Kami tak tahu, dan tak tahu cara menghubungi mereka.

Hari jumat ini, tepat dua minggu kami resmi berpisah dengan mereka. Rasanya rindu kami (ya saya dan mbak fitri sih yang snagat kentara) pada mereka ber 10 sudah ada di ubun-ubun. Untuk itu, keinginan kami untuk bertemu mereka sekaligus juga menjawab rasa penasaran kami akan desa Yensei, maka dipustuskanlah, hari jumat kami berangkat ke yensei. Tidak semuda dari kami yang berangkat. Hanya 6 dari kami yang berangkat, 4 lainnya tetap berada di yakati. Dan kami yang pergi adalah mbak fitri, mbak omi, dedy, mas yoyo dan uda uki.

di dermaga.
bersedia... siap.. GO


Perjalanan ini sudah kami rencanakan pada minggu lalu padahal, tapi karena terhalang program, bensin yang dipesan dari Bintuni yang tak kunjung datang maka agenda mengunjungi Yensei baru bisa terlaksana minggu ini. never mind..
Perjalanan dimulai pada pukul 9 pagi, karena toh kami juga harus menunggu air laut pasang. Dengan diantar kakka spaniel yang gagah berani, kami berangkat menggunakan long boat. katanya, perjalanan ke yensei hanya di tempuh paling lama 60 menit dan menggunakan 10 liter bensin. Dan bagi kami, itu sepertinya juga hanya menjadi katanya.
Karena ternyata perjalanan kami tidak semulus kulit Angelina jolie. Ditengah perjalanan, kami menjumpai ombak yang cukup besar. Kata kaka spanyel, jika orang awam yang mengemudikan, maka long boat ini sudah terbalik. wah wah.. untung saja, kakak spaniel bukan orang awam. Tapi betulan agak serem sih. Dengan kapal yang rendah dan posisi duduk kami yang hampir sejajar dengan air, maka ketika ada ombak, kami langsung banyak menyanyikan lagu rohani.

lihat, dibelakang itu kaka spanyel #eaa


Tapi itu tak lama, kemudian saya asik melihat pemandangan. Karena sepanjang perjalanan, saya begitu takjubnya dengan alam Papua. Tak ada dipikiran saya dulunya untuk menaiki long boat sekecil ini dan berlayar di teluk sebesar ini dengan pemandangan yang demi apapun bagus sekaliii. Burung bangau bertebangan dengan selonya, pohon yang beraneka macam. Subhanallah, indah sekali…
Jika diibaratakan jalan aspal, jalan menuju yansei ini harus berbelok ke gang kecil. Tapi karena ini air, maka kita harus berbelok pada belokan air. Tak jauh setelah belok, kami disambut oleh sebuah pohon besar yang menghadang. Pohon besar itu membuat perjalanan menjadi terhambat agak lama. Untung saja kaka spaniel begitu cekatan membantu kami. Belum lagi kami yang menabrak pohon. Tabrakan ini menyebabkan saya basah kuyup. Sungguh perjalanan tak terduga. Perjalanan ini ibarat wahana permainan di dufan, yang bisa basah dan bergoyang2. Bedanya, jika di dufan ada alat pengaman, jika ini jatuh maka wassalam.. mana hari itu saya sedang haid pula. Basah-basahan sungguh bukan hal yang menyenangkan lagi.

Perjalanan yang harusnya ditempuh paling lambat 60 menit, tapi harus kami tempuh selama kurang lebih 100 menit. Dan betul apa yang disampaikan orang-orang Yakati tentang Yensei, bahwa air di Yensei ini jernih.
Setelah literaly kami sampai, kami takjub melihat air laut di yensei yang begitu jernih. Pernah lihat air nutrisari jeruk nipis? nah.. seperti itu airnya. Baguuus sekali.

bagus ya?


Baru menginjak beberapa langkah, kami langsung disambut Adit dan Nana. Rupanya mereka sedang ada program kerja bakti. Nana dan Adit begitu bersemangat mengajak kami melihat pondokan mereka. Well, pondokan mereka tidak seperti pondokan kami yang rapid an bersih. Pondokan mereka itu rumah guru yang lama tidak terpakai, jadi ya.. ya …ya gitu lah :p
     Setelah mengunjungi rumah, kami turun dan menyapa 8 orang lainnya. Riuh rendah kami disambut riuh anak-anak sub unit yensei. HUWAAAH kangen mereka! Mereka bercerita bahwa mereka memiliki warung tempat mereka jajan biskuat dan harganya adalah 5000 rupiah.

Setdah, gaul bener ini kampung, ada warungnya… di Yakati? Di boro-boro…”

Hal paling membedakan anatara yensei dan yakati adalah sumber airrnya. Jika diyakati hanya ratusan meter dengan track yang agak naik dan terjal. Sementara di yensei jarak airnya sekita 1,5 kilo dan medanya sangat curaaaam! dibawahnya langsung jurang. Saya dan anak-anak Yakati langusng diajak mereka ke sumber air untuk masak. Wuih hard core men! Saya yang tidak membawa dirigen air saja, jalannya sudah tidak seimbang, bagaimana yang membawa coba. NO WONDER deh kalau anak-anak perempuan Yensei hanya tinggal berteriak “lelaki, aaiiir…” dan airnya akan dibawakan oleh mereka. Hahaha kocak juga para wanita menganiyaya pria di sini.
Karna kami tamu, ya kami hanya diajak berkeliling saja di yensei tanpa ikut membawakan air atau apapun, hehe. Salah satu tempat wisata yang kami kunjungi adalah pusat airnya. Tapi memang sih airnya sangat sejuk, jernih, dengan pemandangan yang menakjubkan tapi akses kesananya ampun deh saya... untuk orang yang jatuh-able seperti saya, perjalanan menuju sumber air itu sungguh tidak sederhana.
Sebetulnya, sumber air mereka ada dua. Satu disitu, yang kedua langsung di dermaga tempat kami “mendarat” menggunakan long boat itu. Dan keduanya, sama jauhnya! Ini dia beda yang kedua, anak-anak yensei itu jika mandi, buang air besar, ataupun mencuci apapun itu, langsung ke dermaga. Tanpa ada kamar mandi atau apa. aiiih.. mereka hard core. Ya tapi kalau saya jadi mereka juga akan begitu sih, dibandingkan ambil air yang jauhnya ampun. Mending langsung byuuuur… hahaha :D
Berhubung saya sedang dapat bulanan, saya tidak bisa mersakan dingin dan segaranya air itu, dan saya jadi kangen fauzan yang setia mengambilkan saya air.
Perjalanan ke yensei sehari semalem itu cukup seru. Saya berbincang nyaris semalaman dengan bang budi dan tertawa-tawa bersama dengan dia. Aduh, saya kangen lelucon bang budi deh ah..
Dan ya.. bisa dibilang jika cara hidup anak yensei dengan cara hidup anak yakati jauuh berbeda. Atmosfir anak-anaknya pun begitu kontras. Jika harus memilih, sejujurnya, saya jauh lebih bersyukur berada di yakati. hehe
Puas bertemu dan menjelajahi Yensei, kami berenam pun berpamitan dan siap menuju yakati.

ini rumah mereka, dan masyarakat yensei


kalau saja bulan tidak datang, saya pasti sudah nyebeur!
lihat tangga dibelakang itu? nah rumah mereka masih sangaaaat jauuuuuh dari sini

ya.. harus pisah lagi :(



well papua, indahnya alammu itu sungguh melekat di seluruh indera.

Yakati, 28 Juli 2012

DAAAAMN YOU AGAAAAS!!!!


Alhamdulilah saya tidak terkena malaria (setidaknya hingga hari ini) tapi saya terkena yang lebih parah sekaligus yang menyebelkan. Saya terkena agas!!!!
Kalau ada yang belum tau agas itu apa, bisa di searching di google. Ya krena saya juga tidak tahu, si agas itu nyamuk laknat yang seperti apa. Yang jelasnya, agas ini semacam naymuk yang suangat kueciiil berwarna hitam, sakin kecilnya bisa dikatakan agas ini nyamuk INVISIBLE.
Mungkin betul kata pepatah. Kecil-kecil cabe rawit. Agas ini juga kecil-kecil moster! Agas ini jika mengigit tidak akan terasa. Kalau nyamuk kebanyakan, ketika dia menggigit, kita akan segera merasakan gigitan itu dan reflex memukulkan, tapi agas ini berbeda! Dia tidak terasa saat mengigit tapi nanti efeknya langsung ke rasa gatal yang mematikan. SUNGGUH! Karna rasa gatalnya yang sangat mematikan, maka akan membuat kita harus menggaruk. Dan percayalah, sekali kita menggaruk walau hanya dengan kekuatan garukan paling minimum saja, maka kita akan terjerat dan tidak akan berhenti menggaruk. Jadilah kita akan terus menggaruk, menggaruk, dan menggaruk terus. Saya tak ubahnya wanita gatal di yakati ini L bullshit bagi yang mengatakan “kalo kena agas, jangan digaruk” yak arena gatalnya kelewatan. Dan tidak ada yang bisa kita lakukan selain pasrah. Segala macam, jenis lotion, semuanya mental, katanya jika ingin tidak terkena agas, maka harus melumuri kulit dengan minyak. Eh.. YAKALI kan… -__-

ini tangan fauzan

ini juga kaki fauzan


Agas tak hanya membuat gatal tiada tara, tapi kelamaan kulit kita akan terdapat benjoloan kecil yang kelamaan akan menjadi besar yang tampak menjijikan berwarna merah, dan bahkan mengeluarkan nanah. Ya Seperti cacar air, seperti kutil juga bisa, dan jumlahnya itu banyak sodara-sodara. Selain membuat kulit menjadi tidak indah, rasa gatalnya juga membuat emosi jiwa raga.
Great, karea agas, saya ingin bernyanyi dengan lantang “pulangkan saja.. aku pada ibuku juga bapaku.. huwooh huwooh…” ya Cuma ini nih yang membuat Yakati tak lagi menakjubkan.

sungguh agas si monster!!

yakati, 24 juli 2012

kado puasa pertama adalah bintang jatuh



Saya berada beribu-ribu kilometer dari semua hal yang biasa ada di bulan ramadhan tahun lalu. Saya dihalangi lautan dan pulau juga ribuan pohon yang bahkan membuat signal telefon saja hilang.
Saya jauh dari jogja. Saya jauh dari mama dan ayah. Saya jauh dari seluruh iklan televisi edisi ramadhan. Saya jauh dari sinetron para pencari tuhan yang entah jilid berapa untuk tahun ini. Jauh dari ngabuburit dan buka bersama. Dan jauh dari sirine buka puasa TVRI.

Untuk pertama kalinya saya berpuasa di tempat yang bahkan adzan saja tidak pernah saya dengar secara langsung dari masjid. Tempat yang seluruh masyarakatnya beragama non islam. Ya beginilah adanya, tanpa listrik, tanpa sirup marjan, tanpa es, tanpa semua hal khas ala Ramadhan.
Ini puasa pertama di tahun ini yang saya lewatkan dengan ketidakadaan signal untuk menanyakan kabar pada orang-orang yang saya kenal, bahkan sekedar untuk meminta maaf dan mengucapkan selamat berbuka puasa pada orang-orangpun itu tidak bisa lagi. Puasa pertama tahun lalu saya ada di gerai dagadu dan saya lewati dengan 31 orang yang saya sayang. Dan tahun ini saya berada di papua, tepatnya di desa yakati dengan 9 orang lainnya yang sudah seperti keluarga sendiri.
Sahur pertama kami adalah sayur lodeh dengan daun singkong yang dipetik di hutan dan dimasak oleh koki handal mas yoyo, dengan perkedel jagung juga nutrijell rasa leci. Saat sahur, saya sengaja menyetel lagu-lagu islam rohani untuk menyadarkan saya dan memberikan feel bahwa Ramadhan telah tiba dan hari ini saya akan puasa.

Rasanya agak aneh sih dan jujur saja, tidak terasa seperti bulan ramadhan. Ya sekali lagi, tak ada semerbak apapun yang memperlihatkan bahwa bulan agung penuh berkah ini telah tiba. Tiba-tiba sedih melanda, dan rasanya ingin pulang untuk sekedar berbuka puasa pertama dengan keluarga..

Tapi saya yakin 9 orang lainnyapun memiliki perasaan yang sama. Hingga mungkin, , akumulasi perasaan ini justru menjadikan suasana ramadhan yang tidak akan pernah bisa saya lupakan seumur hidup saya.
Pada dasarnya, hari pertama puasa ini, sama seperti hari-hari sebelumnya selama kami di papua. Panas terik tanpa hujan yang mengguyur seperti beberapa hari lalu. Untungnya hari ini kami libur program dan meluangkan waktu untuk membersihkan pastori tempat kami menginap. Panas papua sungguh membuat energi terkuras dan juga pikiran menjadi sangat kacau. Untungnya , canda dari 9 orang lainnya mampu membuat suasana menjadi lebih dingin.
Kami berbuka puasa lebih lama dari di jawa. Kami berbuka pada pukul 18.30 waktu indonesia bagian timur. Yap, inilah buka puasa pertama tahun ini. kami berbuka dengan natadecoco yang hanya dicampur air gula. Tapi anehnya, bagi saya yang tidak menyukai nata de coco,saya harus mengakui bahwa ini adalah buka puasa terlezat dan tersyukur yang pernah ada semumur hidup saya. I swear!
Ada pula pisang goreng sebagai teman berbuka puasa kami hari ini. Dalam hati saya bersyukur bahwa akahirnya saya berjumpa kembali dengan ramadhan, bulan yang selalu menjadi bulan favorite saya. Dan saya bisa berbuka puasa untuk yang pertama kalinya juga dengan rasa syukur tiada tara.
Walaupun rasa rindu banyak tersimpan dan entah bagaimana menyampaikannya pada mereka yang berhak pada rindu ini. Tapi berbuka puasa tadi adalah moment yang tak akan saya lupakan!



Well, karena hari ini saya ada jadwal piket, maka setelah makan besar, saya, fauzan, dan ozi, harus mencuci piring di kali. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang memberikan langit cerah sehingga saya bisa melihat bintang yang teramat indah di hari pertama puasa ini. Dan sebagai bonus, ada sebuah bintang jatuh di angkasa. Saat itu terjadi, saya pun segera mematikan head lamp dan memejamkan mata. Beberapa permohonan yang ada di hati, segera saya lontarkan, semoga bintang mendengar dan. dan dengan sinarnya juga bisa mengabulkan apa yang diinginkan hati.

saya rindu. dan hanya bintang yang bisa mendengar dan saya berharap, rindu itu dirasakan juga oleh mereka. oleh kamu.

yakati 20 juli 2012 22:22

pertemuan pertama


Hari ini, untuk pertama kalinya kami melakukan face to face secara langsung dengan warga di yakati. Kehadiran kami di Yakati memang mengundang perhatian masyarakat satu kampung. Dan karena kami akan banyak beristeraksi dengan meraka, maka kami tentunya harus bertatap muka secara massal dengan seluruh masyarakatnya. Secara officialy, kami memperkenalkan diri satu persatu dan kemudian mendegarkan keluh kesag masyarakat. Karena kami memang belum pernah survey sebelumnya, jadi kami tak tahu persis apa yang menjadi masalah di desa Yakati ini.
Ternyata, acara temu warga ini menimbulkan banyak masalah, bahkan masalah yang seharusnya bukan menjadi lingkup pembahasan kami sebagai mahasiswa.

acara akan segera dimulai


masyarakatnya cukup kooperatif

Tak bisa disalahkan juga, jika kemudian mereka mempunyai ekspektasi yang besar terhadap kami yang hadir disini. Setelah mendengar keluh kesah mereka ternyata, permintaan masyarakatpun beragam kepada kami. Ada yang meminta agar seluruh ilmu yang kami punya, kami tularkan untuk masyarakat hingga kemudian bisa membuat seluruh masyarakat disini menjadi pintar. Atau, ada pula yang minta agar kami bisa membuat hasil olahan makanan dari SDA yang ada. Ada yang menginginkan hasil alam dam kerajinan bisa diexport keluar. Hingga keminginan masayarakat agar dapat membuatt kepala desa yang telah menjabat 2 periode ini kembali ke yakati. Antara muluk dan berlebihan dan polos, semuanya jadi satu dan membuat saya saya tak paham. Satu yang saya ingat bahwa masayarakat papua secara umumnya tidak bisa diberi JANJI. Karena kalau diberi janji, sampai kapanpun mereka akan menagih.

Pertemuan dengan masyarakat kemudian membawa pada kesimpulan bahwa masalah krisis kepemimpinan menjadi masalah yang paling urgent untuk dipecahkan.
Well, ternyata ketidakamanahan kedudukan itu bisa terjadi bahkan didesa terpencil macam yakati ini. kepala desa yang seharusnya bertugas, justru meninggalkan tempat tugasnya dan tidak amanah dengan jabatannya. Hal ini tentu saja membuat seluruh aktifitas yang berkaitan dengan administrative menjadi tersendat dan bahkan bisa dikatakan mati. Masyarakat secara umunya tak tahu lagi harus mencari tahu dan menanyakan kepada siapa mengenai perkembangan kampung karena memang tidak ada komando yang jelas dari atasan. Kepada desa pergi tanpa meninggalkan pemimpin sementara, sementara itu inisiatif dari masyarakat masih sangat rendah. Ya, pada dasanya itulah yang menjadi masalah di yakati. Tidak ada arahan dan juga panutan yang jelas ini menyebabkan kekosongan kepemimpinan dan juga pembangunan.






Entah harus bagaimana sebetulnya program-program kami akan berjalan tanpa adanya kepala desa yang harusnya bertanggungjawab atas kami. Sempat merasa bingung juga, akan banyaknya masalah tapi terpentok pada keterbatasan kami ber10. Tapi melihat harapan yang besar dari masyarakat atas kami, kami menjadi bersemnagat untuk membantu dan mengabdi se maksimal yang bisa kami lakukan. Toh, kami masih dibantu oleh dibantu aparat desa yang bertugas, jadi, impossible is nothing lah pokoknya.

Ada hal yang lucu saat saya selesai mempresentasikan program seni budaya. Salah satu warga bertanya tentang ilmu komunikasi dan penerapannya. Jujur saya sempat bingun, dalam hati saya berakata “apa pula yang harus saya ajarkan ya, masa iya saya harus mengajarkan tentang copywriting” dan kemudian saya memutuskan untuk mengajarkan cara berbicara yang formal lengkap dengan cara menjabat tangan dan senyum yang baik dan benar yang langsung saya praktekan. Hahaha



Yang parah adalah dedi! Ada warga yang tanya tentang ilmu psikologi, dan dedi menjawab bahwa ilmu psikologi tidak begitu berpengaruh. Selepas dedi menjawab seperti itu, ada warga yang bernama kaka yotam yang berkata “jadi, saya akan menambahkan penjelasan tentag psikologi. Psiko itu berasal dari bahwa latin yang berarti jiwa. Sementara logos berarti pula ilmu. Jadi ilmu tentang jiwa” HAHAHAHA, dedy, ada yang ngetroll kamu tuh :p

ini nih kak yotam namanya. yang ngetroll dedi. dia mahasiswa teologi loh


sebentar lagi puasa, apa jadinya puasa pertama saya tanpa sinyal, televisi, adzan, dan beribu2 kilometer dari mereka yang saya rindukan..

Yakati, 18 Juli 2012

© RIWAYAT
Maira Gall