Kamis, 13 Juni 2013

Hujan #2

Hujan itu waktu yang tepat untuk melakukan apapun.
Saat hujan, indomie rebus dengan asapnya yang mengebul akan terasa lebih nikmat.
Saat hujan, selimut akan terasa lebih hangat
Saat hujan, menunggu akan mempunyai alasan yang tepat
Dan saat hujan, doa-doa yang terkumpul di angkasa akan sampai dan diamini oleh ribuan malaikat.
Hujanpun, adalah waktu yang tepat untuk menutup kuping dengan sebuah lagu dan mulai mengingat.

Berdirilah dibawah hujan, nikmati setiap tetesannya merambah dan membasahi pori-pori kulit.
Keluar saja dan rasakan rinainya mencuci bersih semua perasaan negatif.
Justru saat hujan, airmata akan samar bukan? Jadi menarilah dibawah derasanya hujan.

Simpan payungmu, lipat jas hujanmu.
Kejar semua turunnya hujan dari langit dengan canda.
Saat hujan,
rasakan airnya, rasakan bahagianya.
Rasakan air langit yang segaja diturunkan untuk menghidupi semua mahluk bumi.

Jangan berteduh,
Biarkan perasaanmu kuyup dengan rasa senang saat hujan turun.
Sesekali tertawalah dibawah hujan, jangan bersendu-sendu.

Jangan bersendu. Karena saat hujan, merupakan saat yang tepat untuk membungkus kenangan.
Yang indah pastinya :)


Keliling Indonesia

"Di Nusantara yang indah rumahku, kamu harus tahu. Tanah permata tak kenal kecewa di katulistiwa..."


Salah satu hal yang semoga bisa saya wujudkan sebelum saya meninggal dunia adalah keliling Indonesia. Kenapa? Kenapa ya? Ya emang kenapa gitu orang ga mau keliling di negaranya sendiri yang jadi negara  kepulauan terbesar di dunia. Ada gitu ya, orang yang ga tertarik untuk keliling negaranya sendiri yang punya jumlah suku dan juga adat yang tak terhitung. Ya kalau ada yang memang ga tertarik, ya udah monggo, tapi kalo saya sih kebalikannya. Saya justru sangat amat tertarik.

Bahkan kalau seandainya saya bisa, saya mau banget buat kerja yang jobdesknya memang mengharuskan saya untuk keliling Indonesia sampai ke pelosol-pelosoknya. Ahh.. seperti dream job.

Dulu saya ga pernah punya bayangan ingin keliling Indonesia, bahkan kepikiran untuk sering-sering travelling juga ga ada. Tapi semenjak KKN papua, yang sukses memporakporandakan pemikiran saya tentang Indnesia, saya langsung berhasrat untuk bisa keliling Indonesia. Saya mau melihat gimana serunya pantai, gunung, masyarakat adat dan semua aset milik Indonesia. I do!

Pemikiran saya sih sederhana, kalau saya menganggap Indonesia sebagai rumah, maka saya harus tau dengan jelas tentang rumah saya ini. Ibarat kata, rumah kan selalu mempunyai kamar, dan sebagai pemilik rumah, sewajarnya saya tau dengan jelas kamar-kamar dan ruangan di rumah saya. Tapi, saya, sebagai pemilik rumah, malah nyaris tidak pernah keluar kamar dan mengunjugi kamar lainnya. Kamar saya Jogja, dan saya nyaris tidak pernah keluar dari kamar. Ya paling mentok-mentok mengunjungi Jakarta-bandung-sukabumi-Tegal-Makassar untuk mudik. Selebihnya? jangan tanya.
Harusnya saya ga punya hak ya untuk bilang Indonesia sebagai rumah.

Dan panggilan untuk mengeliling Indonesia ini begitu besar.
Malah saya berfikiran menjadi seorang planner untuk kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif. Jadi otak saya ini bisa dipakai untuk membuat pariwisata Indonesia lebih mudah dikunjugi dan merubah image dari masyarakat Indonesia yang menggagap berkeliling ke Indonesia itu ribet lah, mahal lah, inilah, itulah.

Keliling Indonesia juga membuat saya mempunyai anggapan baru untuk Indonesia.
Karena saya sudah terlanjur skpetis dengan semua hal yang berkaitan dengan politik, maka susah bagi saya untuk percaya bahwa Indonesia bisa baik dari segi politik. Tapi daripada akhirnya saya tidak percaya pada apapun yang ada di negeri sendiri, maka saya harus mencari cara agar saya tetap percaya bahwa negeri ini memang negeri yang baik dan mampu berkembang. Ya pariwisata inilah cara yang saya pilih.

Semoga oh semoga, Allah selaku Tuhan yang Maha Pemberi mengijinkan saya bermain air dan melihat indahnya laut milik Indonesia. Memberi saya kesempatan untuk menghirup udara dingin gunung dan merapatkan jaket di dataran tingginya. Memberikan saya waktu untuk bisa bercerita tentang ombak dan buih yang cantik milik Indonesia. Dan semoga saya diberikan kepercayaan untuk bisa menceritakan tentang Indonesia.

Ohya, satu lagi, yang membuat saya ingin mengelilingi Indonesia. Saya mau bertemu dengan masyarakat pelosoknya dan mengenal lebih dekat kebudayaan Indonesia. Melihat cara mereka makan, melihat cara mereka tertawa, melihat cara mereka menikah, hingga menganalisis mengapa mereka berkelahi.

Yak. Saya harus percaya bahwa Indonesia memang negeri yang selalu bisa dibanggakan. Karena kalau saya tidak percaya, lantas bagaimana saya membuat anak-anak saya kelak dan orang-orang lain percaya terhadap kenyataan ini.

Semoga ada jalannya. Agar saya bisa menjamah negeri pertiwi ini. Semoga saya tidak selamanya menjadi orang yang bekerja dikantoran dan berikap begitu kapitalisnya dan menggadaikan nasionalis. Karena nasionalis bukan sebatas kata, maka saya memilih jalan agar mata, kaki, dan seluruh indra saya mengecap lumat-lumat Indahnya Indonesia

Amin!



NB : Saya telak menyerah pada hijaunya gunung, birunya laut, dan suburnya tanah. Memang betul, olehNya, sempurna sudah Negeri ini diciptakan.

#30
#31harimenulis
#bagian2

Rabu, 12 Juni 2013

Sistah

"Sister are the perfect best friend"

Sebagai anak sulung, saya selalu merindukan kehadiran seorang kakak. Untuk itu kali ya, saya sering sekali dekat dengan lelaki yang lebih tua dan menjadikan mereka seperti layaknya kakak.
Bagi saya yang terlahir sebagai sulung ini,  mempunyai kakak pasti menyenangkan. Mungkin karena selama ini saya terbiasa menjadi seorang kakak, saya berfikir akan sangat menyenangkan jika punya kakak sungguhan yang bisa diajak diskusi atau sekedar berantem. Tapi ya apalah daya, takdir mengatakan bahwa saya terlahir sebagai anak sulung. Untuk itulah orang-orang kerap saya akuisis menjadi kakak. Dan kebanyakan itu adalah lelaki. hahaha..

Hingga sekarang saya mengakuisisi seorang manusia lagi menjadi seorang kakak. Bedanya, kali ini bukan lelaki tapi perempuan. Please welcome Julia Alela. Hahaha..
Bagi saya, Julia Alela itu tidak terdefinisi. Kadang dia menyebalkan, tapi seringnya dia menyenangkan. Sejauh ini, saya merasa nyaman bercerita apapun dengan dia. Karena dia lawan bicara yang cukup seimbang. Semua masalah (ya ga semua sih ya) saya diskusikan dengan dia. Mungkin dia merasa bosan mendengar, tapi ya udah sihya, saya cuek-cuek aja cerita. Cerita tentang semuanya. Hahaha.. Dan karena Mbak Jul inilah yang kemudian membuat saya merasa berat meninggalkan Unisi.

Kapan kita mulai kenal dan akrab? Ah.. entahlah.. saya tidak ingat persisnya, tau-tau saya sudah mengakuisisi dia sebagai kakak perempuan kesayangan.

Menyenangkan mempuanyai kakak perempuan, walau kadang punya kakak perempuan itu ngeselin karena suka rese! hehehe
Tuhan memang sebegitu misteriusnya ya. Diam-diam mengabulkan apa yang ada di lubuk hati yang paling dalam dari pinta seorang hamba. Ya seperti peran mbak Jul ini. Memanglah, tanpa kita tau, kehadiran kita menjadi sebab bagi orang lain. So, thanks mbak Jul, sudah menjadi 'tempat sampah' yang teramat baik :*

Saya sayang mbak Jul. Dan berdoa supaya setelah membaca ini saya diberikan kerudung gratis dari Sweet Julia Shop. Hahaha *tetep :))

Ohya, mari doakan agar kakak saya ini bisa segera menikah dan selalu mendapatkan yang terbaik di hidupnya. Amin

mbak Jul yang pake kerudung :)
NB : Dan ternyata, saya ga punya foto berdua dengan mbak Jul ---_______---

#29
#31harimenulis
#bagian2


Selasa, 11 Juni 2013

Waras

"i'm walking away from troubles in my life. Im walking away, to find a better day"

Ini hanya sebuah refleksi bagi saya.
Sebuah jawaban sekaligus sebuah pelajaran berharga.

Keberadaan saya disini, sebetulnya sempurna jika dilihat dari kacamata umum. Saya mendapat uang yang banyak. Dari segi batu loncatan, ini jadi pengalaman yang sangat baik. Tempat yang cukup bergengsi, dan semua teman-teman saya yang melihat jabatan sayapun, sedikit banyak memuji. Dan yang paling membuat ini tampak sempurna adalah, ini seharusnya menjadi mimpi yang menjadi kenyataan.
Sebetulnya ini sempurna.

Tapi.

Ah.. saya benci, kenapa hidup selalu diwarnai dengan kata 'tapi'.

Tapi saya kehilangan keceriaan.
Saya perlahan seperti robot yang hanya mengguggurkan kewajiban. Sayapun bingung, dimana hati saya?
Saya kehilangan kenikmatan dalam melakukan ini semua. Padahal sebelumnya, saya selalu bersemangat melakukan apapun. Tak peduli seberapa beratnya, saya akan berjuang. Kemana saya yang seperti itu? Apakah tempat ini memiliki penghisap tak kasat mata? atau memang sebetulnya, bukan ini yang saya inginkan?
Sayapun menjadi takut. Jangan-jangan, selama ini saya bertahan hanya karena uang yang saya dapatkan. Saya sungguh takut akan menjadi orang yang rela menukar keceriaan dan rasa 'menikmati' karena uang dan ambisi.
Saya tidak mau menjadi orang seperti itu.
Saya lebih rela menjadi orang yang melakukan kegiatan yang saya suka dan saya tau berjuang demi apa yang saya yakin benar, money will follow right?

Tadinya saya berfikir, inilah yang saya inginkan.
Dan Allah selalu maha baik. Allah memberikan saya kesempatan untuk mencobanya. Allah mengabulkan sesuatu yang awalnya saya fikir, saya mengingikannya.
Allah membiarkan saya untuk mencicipi.
Namun kemudian, Allah pulalah yang ijinkan saya untuk salah jalan dan mengkoreksi fikiran saya.
Mungkin..
Mungkin bukan yang saya inginkan.
Bagaimana saya tau bahwa ini bukan yang saya inginkan?
Hati saya yang berbisik. Dia sering mencelos dan mulut seringkali mengeluarkan peluh. 

Tidak saya pungkiri, betapa banyaknya hal yang saya pelajari disini. Disini saya diberi kesempatan menerpa diri, hal yang saya syukuri karena tak semua orang diberikan kesempatan yang sama beruntungnya dengan saya. Di titik ini saya merasa begitu bersyukur pada Tuhan yang telah menjodohkan saya dengan tempat ini.
Ya.. saya banyak sekali belajar.

Tapi...

ah, lagi-lagi tapi.
Tapi lantas, saya merasa hampa.

Apakah ini tanda saya kufur nikmat?
Entahlah


Saya hanya merasa ini bukanlah apa yang ingin saya tuju. Saya merasa hilang arah dan tidak tahu harus bertahan demi apa. Saya merasa menjalani kehidupan orang lain dan pura-pura nyaman. Dan lagi, saya harus menggadaikan prioritas.
Hampir setiap hari saya lewati dengan memikirkan sampai kapan saya harus bertahan dan kenapa saya harus bertahan. Padahal itu sesuatu yang saya benci. Ya, saya benci menghitung hari karena merasa tidak nyaman.
Itu melelahkan. Dan menggadaikan prioritas? Ah.. why i do that?

Ah ya.
Rasa nyaman.

Seorang mengatakan bahwa rasa nyaman itu harus di breakdown lagi. Seseorang tak bisa serta merta mengkambinghitamkan rasa tidak nyaman sebagai alasan meninggalkannya.
Maka mulailah saya memutar segala macam cara agar bisa nyaman serta bekerja keras agar bisa bertahan.
Tapi yang terjadi, semakin saya berusaha untuk menyamankan diri dan bertahan semakin ragu saya dibuatnya. Semakin diri saya bertanya "untuk apa?" dan saya tidak bisa menjawab.

Artinya bukan masalah nyaman atau tidak, hanya saja, saya melakukan sesuatu yang... yang.. tidak sesuai dengan nilai yang saya bawa.
Bukankah setiap orang pasti pasti pernah melakukan kesalahan? pasti pernah salah langkah? pasti pernah merasakan jalan buntu. Dan semua orang akan belajar dari situ bukan?
Sayapun demikian.

Orang bilang begini dan begitu. Menyuruh bertahan agar inilah itulah. Memberikan pujian karena saya sudah beginilah begitulah.
Orang mampu memberikan saran ini dan itu.
Tapi yang menjalani, tetap saya bukan?
Tapi pakah saya harus bertahan untuk omongan orang-orang itu pun saran-saran mereka?
dan mengabaikan suara dari hati saya sendiri?
Ah tidak!
Saya rasa cukup bertahan mendengar apa kata orang.
Kali ini saya harus mendengarkan apa kata hati saya. Saya harus berjalan karena itu.

Pilihan itu selalu ada, sama seperti saya sekarang. Saya memiliki pilihan untuk meninggalkan dan kembali pada kehidupan lama saya yang walaupun tidak mudah, namun saya dengan senang hati menjalaninya.
Tapi ternyata itu tidak mudah. Kekhawatiran selalu ada. Benar kata mereka, uang dan iamge bisa membuat orang menjadi gamang. Teramat gamang.
Tapi haruskah kesenangan dan keceriaan itu ditukar? Kalaupun jawabannya iya, selayak apa itu untuk ditukar?

Waktu tidak menunggu.
Maafkan, jika ini keputusan ini terkesan sangat tidak profesional.
Percayalah, saya sudah mencoba semaksimal mungkin yang bisa saya coba. Saya sudah memberikan sebaik yang bisa saya hasilkan.
Percayalah saya sudah mencoba untuk menemukan celah dan jalan, namun tetap buntu.
Percayalah bahwa ini sudah coba saya komunikasikan padaNya.
Dan inilah keputusannya.

Orang memang perlu untuk salah, agar tau mana yang benar.
Ijinkan saya menjadi benar.
Setidaknya benar berdasarkan apa kata hati. Agar selanjutnya ringan melangkahkan kaki.
Maka ijinkalah saya untuk begitu.
Ijinkan saya melaksanakan prioritas menjadi benar adanya.
Ijinkan.

Ini hanya sebuah refleksi bagi saya.
Sebuah jawaban sekaligus sebuah pelajaran berharga.
Terimakasih Dear Allah :)

NB : Terimakasih matahari. Sinarmu banyak sekali membuat aku merasa hangat, sungguh. Sekarang, jinkan aku berteduh dan menikmati pelangi, sesuatu yang aku suka.




#28
#31harimenulis
#bagian2

Senin, 10 Juni 2013

Konspirasi Semesta


"When we first met, I had no idea you would be so important to me"


Kadang hidup ini bergerak konstan. Seperti berjalan namun hanya di tempat. Seperti melangkah tapi mengantarkan entah kemana. Rasanya kita telah berjalan jauh, namun ternyata asa dan rasa masih tertinggal di tempat yang sama dan yang terasa hanya lelah.

“Kalo kamu lagi laper kamu ngapain Peh” Kata Intan sahabatku.
“Ya makan dong”
“Kalo kamu ngantuk?”
“Ya tidurlah.. apaan sih?”
“Kalo kamu capek?”
“Ya istirahat dong…”
“Nah, itu. Kamu butuh istirahat. Kamu butuh pulang” Katanya menatap mataku dalam.

Intan benar, aku memang harus pulang dan beristirahat. Menemukan hati untuk tempat berpulang. Hati yang akan menungguku saat lelah mendera dan akan membelai dengan hangat saat aku merasa gelimpungan.

Tapi kepada siapa?
Kemana aku harus menemukan rumahku?


"Udah sih Peh.. yang pentingkankan dia bakal dateng. Perkara nanti bakal gimana, ga usah terlalu dipikirin juga. Kamu jadi cewe juga jaga wibawa dong, emansipasi sih emansipasi, tapi apa kata Ibu Kita Kartini kalo kamu sengebet ini sama dia" Ucap Intan.

Intan sahabatku ini memang punya kemampuan nyinyir yang tiada tara. Tapi justru itulah yang membuat aku betah ada disampingnya.
Orang-orang selalu menganggapku sebagai manusia pemikir. Semua hal aku pikirkan dengan detail. Intan inilah yang kerap menegurku untuk berhenti berfikir dan mulai untuk bertindak.
"Hidup itu kayak game. Kalo mau menang main game, ya dimainin jangan kelamaan dipikir” katanya suatu hari.

Intan tahu betul bahwa sudah dua minggu ini aku mengawasi seorang lelaki dalam diamku yang bernama Edo.
Lelaki yang aku temui saat aku iseng untuk membuka Profile Facebook dari seorang teman. Hidup di jaman bermedia sosial seperti ini memang membuat keinginan mengintip dan rasa ingin tahu menjadi meningkat. Sehingga wajar jika saat ini sulit menjumpai istilah 'Cinta Pada Pandangan Pertama', karena sekarang, lebih mungkin menjumpai istilah 'Cinta Pada Pandangan Foto Profile Facebook Pertama”

Beruntung Edo adalah kakak kelas Intan saat SMA,sehingga tak sulit untuk memintanya membawa edo datang ke sebuah acara Jazz yang akan diselenggarakan di akhir minggu ini. Skenario yang kacangan sebetulnya, aku hanya meminta Intan mengenalkan aku pada Edo dengan alih-alih ‘tidak sengaja bertemu’

***
Dan setelah seminggu berlalu, aku berdoa dan berharap, agar sore nanti semesta  melakukan konspirasinya untuk mendukung skenarioku. Hanya untuk menandakan bahwa semua doa dan harapan saya mendapat dukungan.
Karena menunggu tak bisa lagi sesabar ini. Karena semua diam ini hanya akan membawa langkah ini pada entah kemana. Jadi pinta sederhanaku adalah agar semesta berkonspirasi.

***
Di sore itu,
Degup jantungku tak pernah secepat ini. lurus pandanganku, aku melihatnya berdiri dengan manis.  Walau ragu, aku tetap mantap melangkah, hingga tak sadar seorang lelaki tangah bergegas berlari kearahku, hingga..
“GUBRAK”
Lelaki tadi menabraku dan menumpahkan soda berwarna merah di bajuku.
“aduh sori banget” kata suara itu.
Aku mendongak kesal, melemparkan pandangan tak suka sambil berkata “Gapapa kok mas..”
Dari kejauhan aku melihat Intan berjalan mendekatiku bersama dengan Edo.
“Ipeeeeh.. ya ampun, kamu lama banget sih? Eh kenalin nih, temenku” Kata Intan dengan tenang mengenalkanku pada Edo.
“Halo, ipeh ya? Edo” katanya ramah
“Halo juga mas. Aku ipeh” Suara ku agak parau terdengar
“Eh, itu bajunya kenapa?” tanyanya
“Oh.. ini…” kataku gagap

“Aku yang numpahin” Lelaki penumpah soda itu akhirnya bicara.
“Mas rezaaaa.. kamu juga disini, apa kabar?” Intan berseru. Tunggu, Intan kenal?
“Woy bro! lama ga ketemu, akhirnya ketemu juga disini, sama siapa?” Kata Edo menimpali. Hah? Lelaki ini siapa sih?
“Baik Ntan, kamu kesini sama Edo? Aku sama temen-temen kuliah kok” Lelaki yang disebut Reza ini menjawab.
“Engga, aku sama ipeh yang bajunya kamu kotorin mas, trus tadi kebetulan ketemu sama mas Edo” Gea menjelaskan sambil mengedipkan mata.
“Eh eniwe, aku duluan ya? Tiba-tiba ada acara dadakan nih, jadi ga bisa lama. Yuk semua, enjoy acaranya” Edo menjawab
“Mau kemana mas?” Tanyaku penasaran.
“Ada deh..” Katanya sambil tersenyum dan kemudian berlalu.
Intan meliriku dari sudut matanya. Rasa sedih menjelajar di sekujur mataku. 

Semua skenario ini gagal. Tak ada konspirasi. Semesta tak pernah berkonspirasi.

***

5 Hari kemudian
 “100.3 FM Radio gaul, hai intelektual muda, ketemu lagi bareng aku Arnindita Felia alias ipeh di Intermezzo siang. Kamu yang lagi on the way dari rumah ke kantor atau sebaliknya dan pengen denger lagu seru, wah pas banget, karena aku sudah siap muterin lagu pilihan kamu. Ditungguin ya!”
Dan lagu bizzare Love triangle mengalun pelan sebagai lagu pembuka siaranku.
Hingga telfon bordering. 
“Halo.. Gaul, selamat siang..”
“Siang, mau request lagu doong..”
“Oke deh, tapi ini offline loh ya.  Mau lagu apa nih?”
“hehehe iya tau kok kalo ga on air. Hmm.. mau denger fine by me dari Andy Grammer boleh?
“Boleh-boleh… ciye, kasmaran nih kayaknya. Eh dari siapa sih ini?”
“Ntar dulu siapanya mah, buat siapanya dulu aja”
“Hahaha.. yadeh yadeh.. buat siapa?”
 “Buat yang hari ini rambutnya dikuncir”
“Wah, ibu kantin di depan tuh di kuncir… Pas banget”
“hahaha.. dan terus yang hari ini pake baju warna hijau bunga-bunga kuning”
“Hah?”
“Dan pake jins biru dan sepatu hijau polos”
“……”
“Haloooo, kok penyiarnya diem sih?”
Di depan callbox, aku melihat seorang pria, dengan bunga dan senyum menawannya.
Di telfon dia masih berkata 
“Buat wanita yang aku temui di Ngayogjazz, yang aku  tabrak dia pake soda, dan dari detik itu, aku selalu mikirin dia. Buat dia lagunya”
Aku terdiam, terkejut bahwa ternyata semesta memang berkonspirasi sore itu.
Diiringi lembutnya lagu fine by me. Aku merasa semesta melakukan konspirasinya dengan teramat rahasia. Tanpa aku tahu tandanya, tanpa aku paham maknanya dan semesta melakukan konspirasi dengan baik di hari itu. Di sore itu, di sore dimana aku berharap semesta melakukan konspirasinya dengan baik. Dan ternyata benar.

But I’m staring at You now. There’s no one else around. I’m thinking you are the girl for me. I’m just saying it’s fine by me. If you never leave. And we can live like this forever, it’s fine by me

Andy grammer bernyanyi dengan merdunya saat aku keluar dari callbox, menghampirinya dan tersenyum, tepat saat Intan mengirimiku pesan singkat : “Aku lupa ngasih tau kamu, kemaren pas ngayogjazz mas reza ribut minta dikenalin sama kamu dan ya udah aku kasih aja nomermu. Kamu udah smsan belom? Ciyee…”

Ya Tuhan :)


NB : Jangn remehkan kekuatan langit dalam mendengar pinta.

#27
#31harimenulis
#bagian2

Minggu, 09 Juni 2013

Sudut Pandang




Tidak banyak kesenangan yang bisa kita dapatkan. Kadang beberapa keinginan itu menguap begitu saja seiring waktu. Atau kadang, malah tak pernah berjodoh untuk kita cicipi.
Tak sedikit pula kesedihan yang kita rasakan padahal tak pernah kita harapkan datangnya. Kadang memang begitu, kesedihan datang tanpa diduga. Tau-tau kita merasakan sesaknya dalam dada.

Jadi coba putuskan. 
Pada jalan yang mana kita akan melihat hidup ini.

Hanya dua kacamata yang bisa kita gunakan.
Satu bernama keluh, yang satu bernama syukur.

Pilih saja.

#26
#31harimenulis
#bagian2

Sabtu, 08 Juni 2013

Kamu yang aku ingat, dia yang kamu ingat

Aku selalu tau, waktu dimana kamu marah. Waktu dimana kamu sedang tidak ingin diganggu. Waktu saat kamu sedang bahagia, dan waktu saat kamu sedang muram.
Biasanya aku selalu membuatkanmu secangkir kopi pekat saat kamu sedang muram. 
Biasanya aku akan selalu mengelus tengkukmu saat marah sedang menyergap.
Biasanya aku selalu membawamu kerengkuhanku saat kamu sedang sendu.

Aku tau bagaimana harus bersikap untukmu.

Karena aku kenal kamu.

Hampir setahun, aku dan kamu bersama. Pada setiap tangis, kita sudah pernah ada didepannya. Pada setiap tawa, kita sudah pernah larut dibawanya.
Untuk sepasang kekasih, kita sudah pernah habis ditempelng duka dan sudah fasih dibantai suka.

Kamu dengan merdunya, mengatakan serangkaian kalimat cinta yang akan aku balas tak kalah indahnya.
Dan jadilah kita saling balas membalas kalimat cinta.
Kamu dengan lantangnya, merajut mimpi dan membawaku bersamanya. Entah akan terjadi atau tidak, kamu gagah berani meyakinkan aku dan membuatku sempurna merasa bahagia. Dan jadilah kita hayal-menghayal.

Tapi tahukah kamu.
Kisah ini tidak utuh?

Berapa kali aku memelukmu dengan semua hangat yang ada?
Berapa kali aku menciumu dengan semua lembut yang aku punya?
Berapa kali aku terburu waktu karena khawatir yang tetiba datang karenamu?
Berapa kali aku mencoba meyakinkan bahwa hanya ada aku?

Dan kamu?
Berapa kali kamu membalasnya dengan utuh yang kamu punya?

Pagi ini.
Sisa-sisa dari semua getir.
Aku melihatmu, menangkapmu basah-basah pada lamunan. 

Coba sekarang, beranikah kamu, menatap aku lumat-lumat dan kembali katakan semua kalimat cinta itu?
beranikah kamu kembali lantang berjanji masa depan sambil menatapku dalam-dalam?

Cukup pada udang. Aku alergi. Itu bukan masakan kesukaanku, siapa yang kamu ingat saat memesan itu?
Cukup pada tengah malam. Aku bukan mahluk yang bisa terjaga hingga larut malam. Siapa yang kamu ingat saat malam?
Cukup pada warna coklat. Aku menyukai warna merah. Siapa yang kamu ingat saat memilih warna itu?
Cukup pada bunga. Aku alergi. Siapa yang kamu harap saat menyerahkan bunga itu?
Cukup pada merindu. Entah untuk siapa rindu tertuju.

Pagi ini.
Saat aku melihatmu dan menangkap basah kamu dengan lamunanmu itu.
Aku memelukmu.
Aku tak berani berkata, aku hanya mampu berdoa.
Lekaslah pergi siapapun yang ada di hati dan pikiranmu. Lekaslah.. 
Berilah aku ruang. Dan lepaskanlah dia...

Ini masih terlalu pagi untuk bersedih.
Bahkan aku belum sempat mengucapkan ucapan selamt pagi.
Kalau begitu, selamat pagi untuk kamu yang aku ingat. Dan untuk dia, yang kamu ingat.



Selamat pagi.

#25
#31harimenulis
#bagian2
© RIWAYAT
Maira Gall