Kadang saya takjub pada kemampuan Allah dalam mempertemukan saya dengan manusia-manusia selama hidup saya ini. Rasanya pertemuan saya dengan si a, si b, si c, si d adalah kunci untuk sekelumit kehidupan saya yang akan datang. Sebegitu takjubnya saya, sampai-sampai saya selalu bersemangat bertemu orang-orang baru. Bahkan ketika dalam pertemuan itu, ada hal-hal yang kemudian tidak saya sukai atau justru malah menyakitkan hati saya, namun tetap saja di lain kesempatan saya akan mengetahui alasan mengapa saya harus bertemu orang. Seperti puzzle yang siap ditata pada waktunya.
Luar biasa!
Rabu, 18 Februari 2015
Katanya idealis itu...
Kalau ditanya, apakah saya pernah melihat mayat mati atau belum. Saya akan jawab ‘tiap hari malah. Di mana-mana ada’. Mayat adalah tubuh tanpa jiwa, jadi boleh dong kalau saya bilang orang yang menggadaikan jiwanya untuk melakukan sesuatu yang tidak dia suka itu, tak ubahnya sebagai mayat hidup?. Tidak salah juga dong kalau saya bilang mereka yang tidak punya mimpi sebagai mayat hidup? Kan mimpi hanya dimiliki oleh orang-orang dengan jiwa yang hidup. Iya kan?
Tapi tentu saja pendapat saya ini akan menjadi perdebatan di dunia persilatan. Dan saya juga tau, mereka akan melempar pendapat saya dengan sebuah kata sakti mandraguna yang niscaya akan membuat saya diam seribu bahasa. Dan kata itu bernama realistis!
“Mimpi? bah! Bulshit! Ini hidup men, kudu re a lis tis!”
Yang mana sih yang namanya realistis, sepertinya ganteng, sini coba saya mau kenalan.
Seorang teman saya yang berprofesi sebagai model berkata “hidup itu harus realistis. Butuh make up nih, jadi ya sesekali gapapa lah jadi SPG. Apalagi SPG rokok, kerja ga ribet, duit banyak”. Itu jawaban yang saya dapatkan saat bertanya “Itu kamu engga apa-apa tuh, pake rok mini, trus diliat-liatin pahanya sama mas-mas?”
Atau teman saya yang memilih bekerja di sebuah bank, bukan karena dia suka tapi karena desakan. “kudu realistis mbel, aku isin nek ra entuk kerjaan. Tak tompo wae ah…”
Atau teman yang pindah kerjaan bukan karena ingin belajar hal baru tapi karena realisitis “Realistis wae lah, duite ki akeh, yo aku pindah”
Tu.. tu.. tunggu dulu! Itu kenapa semua jawabannya itu jawaban pasrah dan lunglai? Jadi realistis itu uang? Kemapanan? Kalau lawannya realistis itu idealis, artinya menjadi idealis adalah menjadi kere, tidak mapan, dan engga asik gitu hidupnya? Woh! Kejam juga ya masyarakat ini. Kalau memang anggapannya begitu, saya boleh dong punya pendapat bahwa mereka yang realistis itu penakut dan yang idealis itu pemberani?
Berarti menjadi realitis sama juga seperti menerima semua pilihan tanpa mengerti berapa nilainya? Apakah begitu, wahai pemuda-pemudi yang sering berkata “realitis aja laah…”?
Jika bagi saya realistis itu bukan tentang uang, apakah saya akan menerima sorakan penolakan lengkap dengan lemparan sampah, layaknya penyanyi bersuara sumbang di panggung hiburan?
Hmmm…
Belum lama ini, saya bertemu dengan teman saya yang kini bekerja di perusahaan raksasa dunia, Unilever. Seperti biasa, pertemuan dengan teman lama akan dimulai dengan “piye mbel, urip?” barulah setelah itu obrolan dan curhatan kami muncrat ke sana-ke sini. Dengan seksama saya mendengar ceritanya tentang pengalaman bekerjanya.
“Ono Peh, bawahanku, cah hukum, cah anyaran, gek ntas lulus. Durung suwi kerjo, dekne ngomong ‘mbak, ternyata kita disini cuma dijadiin babu ya?’. Aku lak yo mung ngguyu to? Pekok po polos je sakajae dekne? Trus aku ngomong ‘Lah iya. Aku juga udah tau kalau aku bakal jadi babu disini, tapi karena emang passion ku di marketing, ya aku suka-suka aja. Kamu kalau ga suka, resign aja’ "
“Trus, bawahanmu ngomong opo meneh?”
“Ngene jare ‘aku ga tau ternyata kerja di perusahaan besar itu cuma jadi babu’. Lah yo soyo ngguyu to aku. kok le polos?”
Lalu kami tertawa. Satir dan getir. Mungkin jika ada petir akan semakin lengkap adegan itu.
Ah hidup. Katanya idealis hanya milik pelukis atau seniman yang siap hidup hanya dengan kanvas dan cat air saja. Bukan itu konon katanya yang dibutuhkan hidup, hidup butuh realistis, butuh uang Bung!
Lalu apakah kini saya bersiap-siap untuk menjadi miskin dan tak berdaya?
Ih! Saya engga mau! Mit amit mit amit *ketok meja 3 kali*
Mungkin masalahnya bukan terletak dalam perdebatan menjadi realitis atau idealis. Kita bahkan tidak perlu memilih salah satu diantara itu untuk menjalani hidup, itu tidak masuk akal. Celakanya memang, kita hidup dalam kungkungan masyarakat pemuja kemapanan. Tak tangung-tanggung, kemapanan yang dipuja itu berbentuk rumah elit, gadget canggih, dan aktualisasi diri. Mereka yang hidup dengan membawa mimpi, berharap kelak akan menjadi seoarang yang berguna, akan jadi tertawaan masyarakat. Alih-alih mendukung, mereka akan melihat sebagai calon-calon orang gagal. Untuk itulah realitis terlihat lebih menarik dibandingkan idealis.
Tapi apakah iya, kita bersedia menjual nilai kepada harga yang tidak seberapa? Tunduk takluk pada realistis?
Jika begitu terus, bisa-bisa kita tidak punya warisan apa-apa kepada anak cucu kita selain kepongahan kapitalis. Bisa-bisa kita akan berkata begini “Kakek itu suskes karena realitis. Tuh liat papa kamu, rumah cuma satu, mobil cuma dua, itu gara-gara apa? Gara-gara idealis!” Dan dijawab dengan “Kakek, om idealis itu jahat yaa?”. Waduh… bisa-bisa anak cucu kita kelak semakin percaya bahwa realistis itulah komponen utama hidup, dan idealis adalah dongeng tua. Kemudian besarlah mereka dengan skeptisme akut. Ah, dibayangkan saja sudah syerem.
Untungnya Nabi Muhammad SAW tidak menyerah pada idealismenya. Bayangkan kalau dia menyerah dan mewariskan kita pedang, uang, atau keturunannya untuk dinikahi, dan lantas berkata sebelum meninggal “Ini semua, agar kalian hidup secara realisitis. Realistis sajalah kalian hidup nanti ya. Kalau sibuk kerja, ya sudah jangan sholat. Pokoknya realistis!”. Bisa dipastikan, hilang sudah islam yang rahmatan lil alamin.
Jadi begini sajalah, bagaimana jika mulai sekarang kita ketok palu untuk sebuah definisi baru? Idealis itu adalah tetap berpegang pada nilai dan tujuan. Sedangkan realistis adalah luwes dan fleksibel dalam menjalankan rencana-rencana. Sisanya bonus.
Nah, kalau begitu bagaimana? Sepakat kita? Berjalan bersama kita?
Salaman dulu dong!
Cheers!
Tapi tentu saja pendapat saya ini akan menjadi perdebatan di dunia persilatan. Dan saya juga tau, mereka akan melempar pendapat saya dengan sebuah kata sakti mandraguna yang niscaya akan membuat saya diam seribu bahasa. Dan kata itu bernama realistis!
“Mimpi? bah! Bulshit! Ini hidup men, kudu re a lis tis!”
Yang mana sih yang namanya realistis, sepertinya ganteng, sini coba saya mau kenalan.
Seorang teman saya yang berprofesi sebagai model berkata “hidup itu harus realistis. Butuh make up nih, jadi ya sesekali gapapa lah jadi SPG. Apalagi SPG rokok, kerja ga ribet, duit banyak”. Itu jawaban yang saya dapatkan saat bertanya “Itu kamu engga apa-apa tuh, pake rok mini, trus diliat-liatin pahanya sama mas-mas?”
Atau teman saya yang memilih bekerja di sebuah bank, bukan karena dia suka tapi karena desakan. “kudu realistis mbel, aku isin nek ra entuk kerjaan. Tak tompo wae ah…”
Atau teman yang pindah kerjaan bukan karena ingin belajar hal baru tapi karena realisitis “Realistis wae lah, duite ki akeh, yo aku pindah”
Tu.. tu.. tunggu dulu! Itu kenapa semua jawabannya itu jawaban pasrah dan lunglai? Jadi realistis itu uang? Kemapanan? Kalau lawannya realistis itu idealis, artinya menjadi idealis adalah menjadi kere, tidak mapan, dan engga asik gitu hidupnya? Woh! Kejam juga ya masyarakat ini. Kalau memang anggapannya begitu, saya boleh dong punya pendapat bahwa mereka yang realistis itu penakut dan yang idealis itu pemberani?
Berarti menjadi realitis sama juga seperti menerima semua pilihan tanpa mengerti berapa nilainya? Apakah begitu, wahai pemuda-pemudi yang sering berkata “realitis aja laah…”?
Jika bagi saya realistis itu bukan tentang uang, apakah saya akan menerima sorakan penolakan lengkap dengan lemparan sampah, layaknya penyanyi bersuara sumbang di panggung hiburan?
Hmmm…
Belum lama ini, saya bertemu dengan teman saya yang kini bekerja di perusahaan raksasa dunia, Unilever. Seperti biasa, pertemuan dengan teman lama akan dimulai dengan “piye mbel, urip?” barulah setelah itu obrolan dan curhatan kami muncrat ke sana-ke sini. Dengan seksama saya mendengar ceritanya tentang pengalaman bekerjanya.
“Ono Peh, bawahanku, cah hukum, cah anyaran, gek ntas lulus. Durung suwi kerjo, dekne ngomong ‘mbak, ternyata kita disini cuma dijadiin babu ya?’. Aku lak yo mung ngguyu to? Pekok po polos je sakajae dekne? Trus aku ngomong ‘Lah iya. Aku juga udah tau kalau aku bakal jadi babu disini, tapi karena emang passion ku di marketing, ya aku suka-suka aja. Kamu kalau ga suka, resign aja’ "
“Trus, bawahanmu ngomong opo meneh?”
“Ngene jare ‘aku ga tau ternyata kerja di perusahaan besar itu cuma jadi babu’. Lah yo soyo ngguyu to aku. kok le polos?”
Lalu kami tertawa. Satir dan getir. Mungkin jika ada petir akan semakin lengkap adegan itu.
Ah hidup. Katanya idealis hanya milik pelukis atau seniman yang siap hidup hanya dengan kanvas dan cat air saja. Bukan itu konon katanya yang dibutuhkan hidup, hidup butuh realistis, butuh uang Bung!
Lalu apakah kini saya bersiap-siap untuk menjadi miskin dan tak berdaya?
Ih! Saya engga mau! Mit amit mit amit *ketok meja 3 kali*
Mungkin masalahnya bukan terletak dalam perdebatan menjadi realitis atau idealis. Kita bahkan tidak perlu memilih salah satu diantara itu untuk menjalani hidup, itu tidak masuk akal. Celakanya memang, kita hidup dalam kungkungan masyarakat pemuja kemapanan. Tak tangung-tanggung, kemapanan yang dipuja itu berbentuk rumah elit, gadget canggih, dan aktualisasi diri. Mereka yang hidup dengan membawa mimpi, berharap kelak akan menjadi seoarang yang berguna, akan jadi tertawaan masyarakat. Alih-alih mendukung, mereka akan melihat sebagai calon-calon orang gagal. Untuk itulah realitis terlihat lebih menarik dibandingkan idealis.
Tapi apakah iya, kita bersedia menjual nilai kepada harga yang tidak seberapa? Tunduk takluk pada realistis?
Jika begitu terus, bisa-bisa kita tidak punya warisan apa-apa kepada anak cucu kita selain kepongahan kapitalis. Bisa-bisa kita akan berkata begini “Kakek itu suskes karena realitis. Tuh liat papa kamu, rumah cuma satu, mobil cuma dua, itu gara-gara apa? Gara-gara idealis!” Dan dijawab dengan “Kakek, om idealis itu jahat yaa?”. Waduh… bisa-bisa anak cucu kita kelak semakin percaya bahwa realistis itulah komponen utama hidup, dan idealis adalah dongeng tua. Kemudian besarlah mereka dengan skeptisme akut. Ah, dibayangkan saja sudah syerem.
Untungnya Nabi Muhammad SAW tidak menyerah pada idealismenya. Bayangkan kalau dia menyerah dan mewariskan kita pedang, uang, atau keturunannya untuk dinikahi, dan lantas berkata sebelum meninggal “Ini semua, agar kalian hidup secara realisitis. Realistis sajalah kalian hidup nanti ya. Kalau sibuk kerja, ya sudah jangan sholat. Pokoknya realistis!”. Bisa dipastikan, hilang sudah islam yang rahmatan lil alamin.
Jadi begini sajalah, bagaimana jika mulai sekarang kita ketok palu untuk sebuah definisi baru? Idealis itu adalah tetap berpegang pada nilai dan tujuan. Sedangkan realistis adalah luwes dan fleksibel dalam menjalankan rencana-rencana. Sisanya bonus.
Nah, kalau begitu bagaimana? Sepakat kita? Berjalan bersama kita?
Salaman dulu dong!
Cheers!
Selasa, 27 Januari 2015
Cocok!
“Terkadang, ketemu yang kita anggap cocok itu setelah kita bersama yang lain kan” (Dicki Mahardika)
Sebuah kalimat sarkas yang saya baca siang ini begitu mengguggah rasa untuk menulis dan mungkin akan mempublikasikannya. Bukan karena saya dengan rasa sok tahunya, paham betul apa yang dimaksudkan si penulis sehingga menulis itu, tapi karena kalimat itu seperti membungkus semua aspek kehidupan manusia di masa pertengahan umur 20 tahunan. Ya, saya sedang bicara tentang kesempurnaan. Mencari yang terbaik dari yang terbaik.
Tapi terbaik menurut siapa? Menurut pandangan siapa?
Saya kira ini bukan melulu tentang romansa, lebih dari itu, ini tentang sebuah pencaharian. Mari kita renung-renungkan. Berapa banyak orang yang merasa berada di tempat yang salah tapi tidak punya daya untuk keluar dari sana. Menyesal telah membeli suatu barang karena kita tahu ditempat lain harganya ternyata lebih murah, atau ternyata setelah berkeliling, kita melihat ada model yang lebih baik. Atau ketika kita sudah mengiyakan sebuah acara namun tak lama datang ajakan lain dan kemudian kita menjadi kalang kabut untuk menentukan mana yang akan kita batalkan. Lalu kita akan kebingungan sendiri dan mencari-cari pembenaran setelah itu. Ah... Tipikal sekali kan? hehe
Rumit pada dasarnya memang hanya terjadi di kepala. Di kehidupan nyata, sesungguhnya itu sudah tertulis dengan sangat jelas. Anggaplah kehidupan itu seperti akuarium, yang sebenarnya sudah berjalan baik-baik saja tanpa perlu diberi apa-apa. Satu-satunya hal yang menjadikannya rumit adalah, saat kita harus menjadi ikan dan mencari-cari dimana air.
Menariknya, kita sering kali berhadapan dengan kalimat “bagaimana jika…” yang seakan menegaskan betapa takutanya kita mengahadapi masa depan. Betapa lemahnya kita mereka-reka masa depan. Padahal masa depan jelas-jelas tidak dirancang untuk dipikirkan, tapi dihadapi. Alih-alih memikirkan, lebih baik dijalani. Jadi kebingungan dan ketakutan yang sering kita dihadapi itu, sebenarnya memang pekerjaan yang paling membuang waktu, tenaga, dan pikiran.
Oke, mari kembali pada pokok masalah. Saya pikir ada dua hal yang harus digarisbawahi disini terkait dengan twit sarkas itu. Pertama, tentang kecocokan itu sendiri.
Kecocokan itu bukan hal yang alami terjadi, juga bukan hal yang abadi, subjektif pula. Jadi jangan risau. Tenang saja. Cocok hari ini, bisa jadi tidak cocok esok hari. Di dunia manusia yang serba tidak jelas ini, kecocokan seperti air yang akan mengikuti wadahnya. Tidak ada yang tahu betul kecocokan macam apa yang sebetulnya kita butuhkan. Seumur hidup mencaripun, saya yakin tidak akan ketemu. Karena kecocokan sangat tergatung pada waktu, kondisi, dan pengalaman kita sepanjang hidup. Jadi, kecocokan adalah hal yang semu dan tidak akan pernah bisa dijadikan sebagai patokan resmi.
Saya misalnya, memang saya cocok hidup dengan seorang ibu yang super duper bersih dan selalu menuntut saya untuk menyapu rumah tiap detiknya? Tidak! Tapi apakah saya mencoba mencari ibu lain? Tentu tidak. Rasa-rasanya terlalu cengeng menjadikan perkara ‘cocok’ sebagai senjata untuk sebuah alasan. Terlalu rapuh.
Alih-alih bicara tentang kecocokan, sebetulnya kita sedang bicara tentang perbandingan. Dan kita akan masuk ke point yang kedua yaitu point tentang kepuasan. Menurut saya, pembanding itu seperti identitas. Misal, kita bisa menang dalam pertandingan (apapun itu), karena lawan kita lebih buruk (entah dari segi mana). Kita lebih memilih surga karna kontras dengan neraka. Kita dirasa lebih putih karena ada yang lebih hitam. Atau lebih hitam karena berada disisi yang lebih putih. Begitu seterusnya, tiada akhirnya. Tidak akan ada puasnya. Tidak akan! Tahu Kenapa? Karena pembanding itu seperti tanaman. Tumbuh terus. Semakin mengikuti tumbuhnya, semakin kita sibuk mencari yang cocok, dan semakin tidak puaslah kita.
Atau cobalah ajukan pertanyaan pada diri sendiri “Yang cocok itu yang seperti apa?”. Mungkin kita bisa menjawab panjang lebar tentang kondisi yang cocok itu hingga berakhir dengan utopia pikiran, atau justru malah tidak bisa menjawab apa-apa. Saya adalah tipe yang kedua.
Pada dasarnya cocok itu kondisi, bukan prasyarat. Itu artinya menjadi cocok atau tidak, atau menentukan cocok dan tidak, hanya terjadi saat kita mempunyai pembanding.
Tentu saja kita boleh pindah haluan, memutar tuas kehidupan dan berjalan kearah sebaliknya, namun bukan berarti kita harus melakukan itu sesederhana karena alasan tidak cocok bukan? Itu terlalu abstrak dan maaf, terlalu naif. Seakan-akan kita tau apa yang cocok untuk kita dan pindah karenanya. Bagaimana jika perkara cocok atau tidak itu hanya karena point yang kedua itu, karena pada dasarnya kita memang mahluk yang susah dipuaskan.
Pertanyaan selanjutnya menjadi lebih mudah: apakah kita akan puas?
Agak lupa dengan hadistnya, namun jelas tertulis bahwa manusia tidak akan puas hingga mulutnya tersumpal tanah. Alias mati. Dengan demikian, jika kita selalu mengikuti perbandingan, maka kita akan berputar-putar di siklus yang sama. Terperangkap hingga jengah. Hingga muntah.
Saya berada di kesimpulan bahwa dunia memang tidak dirancang cocok untuk saya. Sungguh repot sekali jika itu terjadi. Coba bayangkan, berapa ribu milyar jenis kehidupan yang kemudian harus dirancang untuk menyesuaikan kecocokan setiap manusia. Sayalah sebagai manusia penuh kelemahan yang harus merubah situasi. Atau mungkin menerimanya.
Alih-alih mencari yang cocok, saya lebih tertarik untuk berlari kearah yang lebih benar, yang benar menurutNya. Jelas dan sederhana.
Karena saya akan sangat kebingungan untuk menjawab: yang cocok itu yang seperti apa?
Seperti apa?
Pada sebuah siang, diawal tahun.
Untuk seorang teman yang tanpa sengaja mengingatkan
Kamis, 31 Juli 2014
Hai.
"You can see there's something in the way
I've tried to show you, my door is open
I don't know how much more I can take
Since you've chosen, to leave me frozen
Am I the only one, who sees what you've become?
Will you drift away?
We're running out of time, two wrongs can make it right
Could I make you stay?"
I've tried to show you, my door is open
I don't know how much more I can take
Since you've chosen, to leave me frozen
Am I the only one, who sees what you've become?
Will you drift away?
We're running out of time, two wrongs can make it right
Could I make you stay?"
(Clear Bandit-Extraordinary)
Dalam diam, apakah terasa jika aku memperjuangkanmu?
Cukupkah?
Lelaki itu, aku temui pada sebuah malam, dengan kondisi yang tidak begitu menggembirakan. Tubuhnya lemah karena terlalu lelah berjalan.Pakaiannya compang tak karuan, rambutnya acak-acakan, dan yang paling menyedihkan adalah ia tengah menggendong seorang anak perempuan.
Kuhampiri dia, lalu kuberikan apa yang sekiranya bisa kuberikan untuknya. Dia tersenyum, begitu tulus. Kutanya berapa umur anaknya, dia menjawabnya dengan lirih "10 tahun mbaak, mboten saged jalan niki".
Ingin aku tanya mengapa, namun urung. Aku takut itu membuatnya sedih karna harus bercerita, atau sedih karena terpaksa menggali hati untuk hanya untuk menjawab pertanyaanku. Usai memberikan sedikit yang bisa aku berikan, aku tawarkan lelaki itu tumpangan kemanapun dia mau. Angin malam tak pernah baik untuk paru-paru, setidaknya, aku ingin ia tidur dibawah atap dan berhenti berjalan. Namun lagi-lagi gagal. Lelaki itu bersikeras untuk berjalan ketempat tujuannya, yang tak jelas dimana. Tak berhak memaksa, maka kupeluk erat dan kudoakan ia agar selamat sampai tempat tujuan. Melajulah aku membelah malam dengan bayangan lelaki itu yang semakin mengecil dalam kaca spionku.
Ingin aku tanya mengapa, namun urung. Aku takut itu membuatnya sedih karna harus bercerita, atau sedih karena terpaksa menggali hati untuk hanya untuk menjawab pertanyaanku. Usai memberikan sedikit yang bisa aku berikan, aku tawarkan lelaki itu tumpangan kemanapun dia mau. Angin malam tak pernah baik untuk paru-paru, setidaknya, aku ingin ia tidur dibawah atap dan berhenti berjalan. Namun lagi-lagi gagal. Lelaki itu bersikeras untuk berjalan ketempat tujuannya, yang tak jelas dimana. Tak berhak memaksa, maka kupeluk erat dan kudoakan ia agar selamat sampai tempat tujuan. Melajulah aku membelah malam dengan bayangan lelaki itu yang semakin mengecil dalam kaca spionku.
Lemah.
Aku menangis.
Kubayangkan dia, lelaki itu, menjaga anak perempuannya sekuat tenaga. Menggendongnya siang dan malam. Setiap malam akan berbisik pelan padanya, "Nak, apakah nyaman posisi tidurmu?"
Kubayangkan betapa doa dan harap lelaki itu pada anak perempuannya. Pastilah dibelai selalu rambutnya tiap pagi seraya berdoa "Nak, nyenyak tidurmu untuk menjalani hari ini?"
Sungguh anak perempuan yang sangat beruntung.
Dapat berada di pelukan ayahnya tiap malam, di doa ayahnya tiap pagi, dan berada di resah ayahnya yang akan selalu bertanya "Nak, apakah cukup hangat hatimu hari ini?"
*Al Fatihah untuk Ahyar Anwar*
Alasan
The end
"I don't know what to say," he said
"it's okay," She replied. "I know what we are-- and I know what we're not"
(Lang Leav)
Kalau perpisahan adalah hal yang paling konstan yang ada di hidup ini, maka 'alasan' menjadi hal yang paling dicari oleh manusia yang merasa kehilangan.
Unik. Bicara perpisahan selalu unik. Dibumbui dengan perasaan yang kerap sangat melodramatik, tidak masuk akal, mengada-ada, dan berlebihan. Dahsyatnya kehilangan, sanggup membuat nalar manusia mati. Membuatnya tak enak makan, tak nyenyak tidur, menghabiskan waktu untuk sibuk berfikir 'kenapa'.
Lelaki itu pergi ketika puas bereksperimen dengan pikirannya. Ya, ia punya pikiran serumit prosesor komputer. Bermain dalam pikirannya mampu membuat siapapun tersesat. Hanya dia yang mempunyai kuncinya, hanya dia yang tau jalan keluarnya, hanya dia yang sanggup bertahan. Jika baginya, telah cukup membawa orang lain menjelajahi pikirannya maka dia akan pergi, dengan mudah.
Jangan tanya berapa banyak rindu yang ia sisakan, jawabannya adalah tak terhingga. Jangan pula tanyakan betapa bingungnya aku saat itu, karna tak akan terjawab.
Berkali-kali aku coba mencari rasionalnya, mencoba menjawab pertanyaan dengan mengintip isi otaknya. Namun yang aku temukan lagi dan lagi tersesat. Hingga kuputuskan saja untuk diam.
Dan secara tak diduga, alasan itu datang dengan sendirinya.
Terhenyak!
Hari itu, kuputuskan untuk tak lagi mencari tahu alasan pada setiap kepergian.
Semakin jelas bahwa kepergian ada begitu banyak macamnya.
Jangan tanya berapa banyak rindu yang ia sisakan, jawabannya adalah tak terhingga. Jangan pula tanyakan betapa bingungnya aku saat itu, karna tak akan terjawab.
Berkali-kali aku coba mencari rasionalnya, mencoba menjawab pertanyaan dengan mengintip isi otaknya. Namun yang aku temukan lagi dan lagi tersesat. Hingga kuputuskan saja untuk diam.
Dan secara tak diduga, alasan itu datang dengan sendirinya.
Terhenyak!
Hari itu, kuputuskan untuk tak lagi mencari tahu alasan pada setiap kepergian.
Semakin jelas bahwa kepergian ada begitu banyak macamnya.
Namun yang pasti, ada beberapa kepergian yang tidak perlu diketahui alasanya. Biarkan saja pergi. Lebih baik begitu, pergi tanpa kita pernah tahu apa alasannya. Selamanya. Karena beberapa kepergian memiliki alasan yang tidak rasional. Jadi untuk apa kita harus mengeyam alasannya, saat menikmati kepergiannya saja, sanggup membuat kita meronta-ronta kesakitan. Kepergian selalu memiliki alasan bagi mereka yang pergi, maka cukuplah disimpan oleh mereka yang pergi.
Bersikeras mengetahui alasannya akan semakin membuat kita semakin gencar bertanya "Tapi, kenapa?". Belum tentu kita paham tentang alasannya. Jikapun kita paham, atau mencoba paham, apa lantas membuatnya tetap tinggal? Bukankah lebih baik jika alasan itu direlakan sejalan dengan kepergian itu sendiri?
Percayalah, jika memang ditakdirkan kembali, maka kepergian itu akan beralasan.
Lepaskan.
Kamis, 26 Juni 2014
Hello 23
“Alif itu lahirnya pagi.
Mama inget banget, 2 hari sebelum alif lahir, mama jalan-jalan sama ayah makan
pecel di Sukabumi. Habis makan pecel kok perutnya sakit, trus mama ke dokter.
Waktu sampe dokter, dokter bilang kalo mama udah pembukaan satu. Jadi mama ga
boleh pulang, harus langsung nginep. Besok sorenya, mama ternyata belum
kontraksi, dan disuruh susternya jalan-jalan aja di sekitaran komplek rumah
sakit bersalin. Jadi mama sama ayah jalan-jalan berdua muterin rumah sakit,
sambil bercanda. Malemnya baru deh mama kontraksi dan pagi-pagi Alif lahir….
Alif kecil banget,
kayak botol. Matanya ga mau kebuka. Trus mama jilat mata Alif sampe kebuka.
Siti Alifah itu dari
mama, Farhana Dinanta dari Ayah”
23 tahun yang lalu.
***
Semakin kesini, ulang tahun semakin menjadi ritual yang biasa
saja. Padahal bagi saya dulu, ulang tahun adalah ritual yang perlu dirayakan
dengan berbagai macam cara, sederhana atau mewah, yang penting dirayakan. Ulang
tahun pernah ditandai dengan perayaan tumbuh besar dan dinanti-nanti. Tapi kini
ulang tahun ditandai sebagai alarm, bahwa waktu bersenang-senang kala muda akan
segera habis. Perayaan dengan makna yang berbeda. Menyenangkan!
Selamat datang 23! Usia yang sedang gila-gilanya mengekplorasi
hidup. Berjalan tanpa lelah, jatuh sebanyak mungkin, melihat seluas mungkin, tertawa
keras-keras, dan bermimpi semuluk-muluknya. Ini usia yang tepat untuk melakukan
apa saja, bahkan menikah atau mati muda sekalipun.
Pun saya, usia ini menantang saya untuk melihat lebih banyak
lagi tentang sudut dunia, mendengar lebih jauh lagi tentang nestapa, menjamah
lebih lebar lagi tentang bahagia. Terus
berjalan hingga menemukan cinta, cita, dan asa yang sempurna. Mencari dan
mencari mumpung masih sanggup berlari. Ini justru usia yang tepat untuk merasa
jatuh, lenguh, dan menikmati peluh. Ketimbang aman, nyaman, tanpa tantangan.
25 Juni yang selalu membahagiakan. Kejutan-kejutan kecil
disiapkan, doa-doa dan harapan riuh dihaturkan, dan saya sibuk memanjatkan
keinginan. Karenanya, tak luput saya panjatkan doa baik pada kisanak yang sudi
untuk membagi doa dan harapanya untuk saya.
Ini 23,
Ini waktunya menjelajah!
Selamat ulang tahun, Alifah!
Langganan:
Postingan (Atom)

