Minggu, 14 Juni 2015

Jarak

Kalau aku bisa, aku sudah berlari ke masa lalu, dan merekatkan waktu-waktu yang hilang.
Aku akan bawa tangga dan mendekatkan hal-hal yang kini terasa menjauh.
Tidak lupa notes, agar aku bisa mencatat hal-hal yang tidak aku tahu.
Andai aku bisa, kita mungkin tidak saling menggantikan.
Andai aku bisa, kita pasti masih menjadi 2 racun.
Kalau saja aku bisa….

Kita sudah berlari.

Dan ketika berbalik,

kita sudah jauh…
Jauh.

Dan saling melewatkan satu sama lain.


Sabtu, 13 Juni 2015

Percakapan Subuh

 And I'd give up forever to touch you
Cause I know that you feel me somehow 
You're the closest to heaven that I'll ever be 
And all I can taste is this moment 
And all I can breathe is your life 
When sooner or later it's over 
I just don't wanna miss you tonight  
And I don't want the world to see me, cause I don't think that they'd understand 
When everything's made to be broken, I just want you to know who I am.
(Goo Goo Dolls - Irish)



Di sebuah subuh, aku terlibat sebuah pembicaraan lagi dengannya. Dia datang tiba-tiba saja ke hadapanku sambil mengenakan kaus warna biru dongker bertuliskan “Die Young” dan celana jins belelnya itu. Aku tidak begitu terkejut dengan kedatangannya. Dia memang sering datang tanpa undangan dan kami biasanya terlibat pembicaraan super absurb. Kami pernah berbicara tentang sejarah Anne Frank, sesekali membicarakan tentang Gordon Ramsay dan masakannya, terakhir kami membicarakan tentang pernikahan Gibran dan Selvi. Dia memang datang tanpa bisa diduga, dan membawa bahan pembicaraan yang sama tidak terduganya. Dia memang selalu tidak terduga.
Pagi itu pembicaraannya adalah tentang mendengarkan.

“Ree… kamu pernah engga dengerin aku?”
“Aku engga punya pilihan apa-apa Dim selain dengerin kamu”
“Jadi kamu selalu dengerin aku?”
“Dibilangin, I have no choice! Kamu nerocos terus kalau dateng. Ya pastilah aku dengerin” Kataku tanpa berbohong.
“Terus kenapa kamu selalu bilang ‘jangan pergi’?”
“Kali ini kita mau ngomongin apa ya?”
“Kamu tau Ree, dalam sebuah percakapan, kamu justru harus menghargai hal-hal yang engga kamu pahami. Justru malah hal-hal yang engga diceritakanlah yang seharusnya kamu hargai dalam sebuah percakapan. Banyak cerita yang engga diceritakan, dan kamu harus belajar buat menghargai itu. Kamu harus belajar untuk lebih toleran sama kisah yang engga diceritakan. Sesuatu yang engga kamu tau, bukan berarti sesuatu yang engga layak dihargai. Kalau kamu ketemu orang jahat, yang kamu tau, dan yang kamu ingat adalah dia orang jahat, titik. Tapi kan kamu engga tau, ada cerita apa dibaliknya. Dia butuh dihargai atas sesuatu yang engga pernah dia ceritakan Ree… Siapaun orang yang kamu anggap jahat, butuh dihargai untuk sesuatu yang engga pernah sanggup di ceritakan. Everybody have untold stories Ree! Inget itu. Semua orang punya, alam semesta juga.”
“Aku engga anggap kamu jahat, walau kamu pergi”
“Tapi kamu mengutuk keadaan. Sampai kapan kamu mau paham, sesuatu yang kamu angap jahat ini adaalh karena kamu engga paham bahwa inilah yang terbaik buat kamu. I told you, sesuatu yang engga kamu tau, bukan berarti sesuatu yang engga layak dihargai”

Tipikalnya, setelah berbicara panjang dan absurb, dia akan mencium keningku dan berbalik pergi.

“Jangan pergi Dim! Please!”

Siapa sebetulnya yang tidak pernah mendengarkan?

***

Drrrt... drrrt... drrrttt... Alarm handphoneku bergetar dan menunjukan pukul 5 pagi.

Aku mematikan alarm dan menyeka mataku yang basah.



Its time to go!

#31harimenulis
#14-31

Jumat, 12 Juni 2015

Menyelam!



Hidup itu ibarat bermain di lautan. Walau sekilas tampak menakutkan, tapi laut bisa menjadi sangat menyenangkan bagi mereka yang tau caranya bersenang-senang. Tapi bagi mereka yang takut basah, laut pasti dipandang sebagai sebuah kecemasan.

Menjalani hidup itu bagaikan menyelami lautan. Walau kita tahu permukaan laut begitu indahnya diterpa sinar matahari, namun jika kita mengintip lebih dalam, niscaya akan banyak keindahan yang ditawarkan.

Menyelami kehidupan ibarat memilih antara snorkeling atau diving. Snorkeling bisa dilakukan siapapun, tapi kita hanya akan melihat dari permukaan. Sementara diving, hanya bisa dilakukan setelah ada sertifikat khusus, tapi akan membawa kita menuju air yang lebih tenang dan pemandangan yang lebih menakjubkan.

Hidup memang tentang menyelam. Tentang melihat ke dasar. Tentang proses menuju ke dalam, bukan sebaliknya.

Tapi sayangnya, kita hidup di jaman yang justru memaksa kita menuju ke permukaan. Kita hidup di jaman bahwa kita harus menunjukan apapun. Bukankah itu hakikat media sosial? Menyebarluaskan?

Novel terakhir yang saya baca adalah Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak. Ada satu bagian saat tokoh bernama Nadheza berkata pada Aruna tentang kegelisahan hatinya.

“Ya lihat aja sekeliling lu, Run. Berapa banyak program kuliner yang membanjiri televisi dan media cetak saat ini? Berapa banyak blog amatir yang membicarakan mkanan dan restoran, berapa banyak foto makanan yang dipasang di facebook dan instagram sebagai bukti bahwa pemakanannya punya kehidupan yang menarik?”

Kegelisahan Nadheza dalam novel itu sungguh beralasan. Di novel itu, diceritakan bahwa Nadheza adalah kritikus makanan yang kini harus bersaing dengan anak ABG yang bisa mengkomentari makanan seenaknya. Ya, kita memang sedang hidup di era yang menganggap sampah arti esensi dan proses.

Lalu kemudian, saya menemukan sebuah postingan menarik di twitter yang menjelaskan tentang profesionalitas. Dan tetiba saya mendapat jawaban dari kesemerawutan pikiran saya.




Sesaat setelah membaca postingan itu, saya jadi bertanya pada diri saya sendiri, apakah selama ini saya sudah melakukan hal yang hebat, hingga bisa mengatakan saya ini ahli? Rasanya belum..

Bersaamaan dengan postingan itu, saya melihat sebuah e-flyer  tentang sebuah acara yang berjudul 'Bagaimana Menulis Blog yang Menarik'. Pikir saya waktu itu, saya ingin mencoba mampir ke acaranya. Untuk itu saya melakukan sedikit riset tentang si pemateri. Saya blog walking ke blog miliki si pemateri. Hingga saya sudah membaca tulisan-tulisanya yang lama, saya masih belum menemukan bacaan yang menarik. Apa yang ia tulis sangat biasa, dan tidak dengan diksi yang menarik. Akhirnya, saya pun urung berangkat.

Dua penemuan itu mengantarkan saya pada satu kesimpulan: beberapa orang memang lebih suka membesar-besarkan hal biasa, dan sebaliknya beberapa orang mencoba biasa terhadap hal-hal yang besar.

Saya kadang suka bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya harus meng-apdet kehidupan saya? Apakah orang-orang harus tau apa kesibukan saya? Apakah jika saya berhenti mainan path, eksistensi saya di dunia ini menjadi terancam, atau seperti apa? Kadang saya suka risau sendiri dan menebak2 apa kata orang tentang diri saya. Apakah saya harus mencitrakan diri saya hanya demi pengakuan? Apakah saya sudah ada di jalan yang tepat?

Hingga hari itu saya merasa bahwa di tataran ini, saya orang yang konvensional, kuno, dan jauh dari kekinian. Saya tidak begitu menyukai permukaan, bagi saya apa yang ada di dasar laut jauh lebih penting untuk dipersiapkan.  Jadi alih-alih saya mencoba mengesankan orang dengan sesuatu yang hanya ada di permukaan seperti saya sedang apa, dimana, dan melakukan apa. Saya lebih baik fokus pada apa yang ingin saya raih. Saya sedang membangun kerajaan bawah laut, jadi saya (seharusnya) tidak risau dengan urusan permukaan.Sesuatu yang indah di bawah harus dibangun dengan waktu dan proses.
Dan saya yakin, saya bukan satu-satunya orang konvensional disini.

Ibarat laut, saya lebih percaya bahwa apa yang ada di media sosial adalah permukaan laut. Sesuatu yang bisa dilihat siapapun, tapi tidak ada keindahan disana.
Sesuatu yang meledak-ledak, dan butuh pengakuan adalah permukaan. Sesuatu yang bisa semua orang tunjukan. Padahal lautan, semakin tersembunyi, justru  akan semakin dicari.
Akhirnya saya tiba pada kesimpulan bahwa terkadang, apa yang tidak tampak, jutru  lebih penting dan menarik ketimbang apa yang sekedar ada di permukaan.

Lagipula, bukan terumbu karang yang mencari penyelam. Tapi penyelam yang akan menemukan terumbu karangnya. Pun mutiara akan dicari, sedalam apapun dia bersembunyi.

Dan karena lampu sorotlah yang akan mencari artisnya, bukan sebaliknya.




#31harimenulis
#bonus

Kamis, 11 Juni 2015

Makam

 "You're not mine to keep..."
(Fly my eagle fly - Anggun)

Kematian seharusnya menjadi ritual yang dirayakan. Sebab itulah satu-satunya cara agar kita bisa  terlepas dari hal-hal fana milik dunia. Sungguh bahagia mereka yang mati, karena akhirnya mereka bisa menjumpai sesuatu yang kekal, sesuatu yang lebih prinsipil ketimbang dunia. Kematian juga seharusnya tidak diasosiasikan dengan sesuatu yang menakutkan dan gelap. Sebaliknya, kematian harusnya diasosiasikan dengan sesuatu yang damai dan terang.
Untuk itu, jika suatu hari aku mati, aku harap ada sebuah pesta perayaan untuku yang akhirnya menjumpai keabadian.

Jika kita mendengar kabar tentang kematian, refleks kita akan berkata "Kenapa?" atau "kok bisa?". Mungkin itu bersumber karena kita terbiasa mendengar kabar bahwa kematian adalah sebuah kejadian yang dramatis. Sehingga dibalik merenggangnya nyawa seseorang, kita percaya pasti ada cerita dibaliknya. Padahal, mati seharunya tidak memiliki cara. Mati itu takdir. Mati itu ketetapan.

Walaupun demikian, setiap orang memiliki nasib yang berbeda dalam menyambut kematian. Beberapa mati dengan darah yang bersimbah-simbah, beberapa mati dengan obat-obatan dan selang, dan beberapa mati tanpa peringatan. Konon, mati tanpa peringatan adalah cara mati paling diidam-idamkan. Karena tetiba saja nafas berhenti dan seketika kita terputus dengan kehidupan. Mati memang sudah semestinya sederhana dan misterius.

Tapi aku yakin, alasan Tuhan menjadikan mati sebagai sebuah misteri, tidak terlepas dari konsep waktu yang juga merupakan rahasia terbesarNya. Manusia hanya dibiarkan mengetahui waktu sebatas nominal. Sebatas pengetahuan tentang setahun terdiri dari 256 hari, sebulan terdiri dari 30 atau 31 hari, sehari terdiri dai 24 jam, 1 jam terdiri dari 60 menit, dan 1 menit terdiri dari 60 detik. Hanya itu saja, selebihnya kita diminta awas dan bersiap. Karena apa yang terjadi di detik selanjutnya adalah misteri.
 
Dulu aku pernah bertanya, mana yang lebih menyakitkan, menyiapkan perpisahan atau ditinggal begitu saja? Karena setakuku, perpisahan adalah musuh bebuyutan manusia. Manusia tidak pernah terbiasa dengan perpisahan, walau sebenarnya, perpisahan adalah teman dekatnya. Jadi sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya, mana yang lebih baik antara kematian yang dapat dipredikisi, atau kematian yang tiba-tiba.

Dan satu lagi pertanyaanku, apakah aku harus menangisi kematian?

***

Perjalanan menuju makam tidak begitu jauh dari hotel tempatku menginap. Kurang lebih 45 menit.
Sepanjang perjalanan aku melihat pemandangan yang tidak berubah dari Makassar tempo dulu. Beberapa ruas jalan masih sama kotor dan semerawutnya. Belum lagi tradisi orang sini yang mudah sekali membunyikan klakson. Berisik.
Setelah 45 menit perjalanan, sampailah aku di sebuah pemakaman. Aku butuh waktu 15 menit untuk mempersiapkan diri bertemu dengannya. Setelah aku yakin bahwa aku sanggup keluar mobil, barulah aku keluar.

Aku melihat namanya. Diam seperti sejak terakhir kali aku melihatnya.

Jika aku tidak pernah menangis karena kematiannya, apakah aku berdosa Tuhan?




#31harimenulis
#13-31

Rabu, 10 Juni 2015

Percaya saja

There can be miracles, when you believe.
Though hope is frail, it's hard to kill.
 Who knows what miracles, you can achieve.
 When you believe, somehow you will.
You will when you believe...

(Mariah Carey Feat Whitney Houston - When You Believe)

Tahun 2013, saya sempat menonton sebuah film berjudul Rush. Film yang dibintangi oleh Daniel Bruehl dan Chris Hemsworth ini menceritakan tentang kisah pembalap kenamaan dunia bernama Niki Lauda dan James Hunt. Awalnya saya tidak begitu tertarik menonton film itu, karena pada dasarnya saya engga begitu paham tentang balapan, apalagi tentang sejarahanya. Tapi karena teman saya memaksa, jadi ya apa boleh buat. Lagian ditraktir ini.

Film yang berdurasi kurang lebih 2 jam ini pada akhirnya menjadi salah satu film yang paling berpengaruh dalam hidup saya sampai detik ini. Bahkan setelah menonton film itu, saya langsung mengganti background laptop dan gambar cover seluruh media sosial saya dengan foto Niki Lauda. 

Film itu seakan merangkum keseluruhan permasalah dunia hanya dengan dua tokoh balap bernama Niki Lauda dan James Hunt. Film biografi karya  Ron Howard ini akhirnya memberikan saya pilihan, mau seperti apakah saya kelak? Apakah seperti Niki Lauda yang persistent dan selalu punya strategi, atau seperti Jamest Hunt yang mudah keblinger dan banyak omong. 

Tapi dibalik itu pelajaran utama yang saya dapatkan adalah dari sosok istri-istri mereka. Saya sungguh kagum dengan sosok  Marlene yang menjadi istri Niki Lauda saat itu. Ada satu moment di film itu, saya lupa tepatnya, saat Niki Lauda memutuskan untuk keluar dari lintasan yang kala itu hujan deras, dikarenakan satu hal, istrinya. Dia lebih ingin hidup tapi kalah dalam balapan kala itu, dibandingan sesuatu yang buruk terjadi padanya, dan meninggalkan istrinya. Bagi seorang Niki Lauda, Merlene adalah harapannya saat semua orang tidak percaya padan kemampuannya.
Kejadian yang sangat berbeda justru menimpa James Hunt. Ia menjadi terpuruk karena ditinggal istrinya Suzi Smart, karena (di film itu) Suzi merasa pesimis dengan karir James yang sedang terpuruk. Akibatnya, Jamest Hunt semakin merosot karirnya, tidak punya strategi untuk menang, dan yang ada dipikirannya hanya menang dan bersenang-senang.

Film itu dengan sangat sukses menggambarkan kepada saya, apa itu arti 'di balik pria yang sukses ada wanita yang hebat'. Mungkin kita harus mengkoreksi sedikit, 'di balik pria yang sukses ada wanita yang percaya'.

Ternyata percaya adalah mantra yang adiguna.

Bicara tentang percaya, saya jadi ingat masa-masa ketika berjuang masuk perguruan tinggi. Saat itu, saya berada di lingkungan SMA yang menganggap masuk perguruan tinggi adalah hal sekunder, karena hal primernya adalah adalah lulus UN. Padahal jika sudah lulus SMA dan tidak mengusahakan masuk perguruan tinggi yang baik, ya sama saja... Ya kan?
Tapi saat itu saya percaya, saya percaya saya tidak hanya sekedar bisa lulus, tapi bisa masuk ke universitas yang baik dengan jurusan yang memang saya mau. Saya adalah satu-satunya orang yang percaya bahwa saya bisa, saat semuanya merasa skeptis.

And hey, I did it!

Kini setelah saya berjalan sejauh ini, kadang saya merasa baut-baut mimpi saya kendur, beberapa diantaranya malah ada yang lepas dan membuat saya harus tergopoh-gopoh mengambilnya dan kembali mengecangkannnya. Tapi ketika saya merasa betapa susahnya menjalani hidup, saya akan mengingat betapa pentingnya untuk percaya pada diri saya sendiri. Saya akan memaksakan diri untuk percaya bahwa mimpi hanyalah bagi mereka yang percaya. Hanya bagi mereka yang percaya.

Saat semua orang merasa tidak yakin dan memandang jalan yang saya tempuh saat ini sebagai jalan aneh, saya harus jadi orang yang percaya bahwa saya sudah berada di jalan yang tepat. Im on my track!
Mungkin saya akan jadi satu-satunya orang yang percaya, bahwa mimpi-mimpi saya sedang menanti. Saya akan menjadi Niki Lauda.

Dengan atau tanpa siapapun, saya tau, saya hanya harus percaya. Pada kekuatan yang saya punya, dan padaNya.

It just the only matter.


Bukan begitu, Niki Lauda?

#31harimenulis
#bonus

Selasa, 09 Juni 2015

Toleransi

“If you can accept this as your part of you, maybe you can figure it out how to live with it”  
(Mike to Susan, Desperate Housewife)    


Beberapa masalah sering kali terjadi karena mendebatkan perkara wajar dan tidak wajar. Kenapa bisa begitu? Alasan cukup sederhana, karena penetapan wajar dan tidak wajar itu tergantung pada sisi mana kita melihat. Wajar untuk kita, bisa jadi tidak wajar untuk mereka, begitu juga sebaliknya.

Percakapan tentang durian misalnya.

“Duren, baunya aja udah kayak orang muntah” dan dibalas dengan Poor you ga bisa makan duren!”
Atau  “Aku ga ngerti loh sama orang-orang yang suka duren, enaknya tuh dimana coba?” dan di lain sisi, “Aku ga ngerti loh sama orang-orang yang ga suka duren, kasian gitu, ga bisa ngerasain ini. Ini tuh enak binggo!” 
See? Tapi itu baru sekedar perbedaan pendapa, belum krusial. Masalah sesungguhnya adalah ketika kita sudah bersikap intoleran. Menganggap apapun yang padangannya berbeda dengan kita, sebagai sesuatu yang tidak wajar.

"Aku ga begitu suka duren, tapi kalau es duren aku suka..."
"Duren itu ga enak diolah, bukan duren lagi namanya. Duren tuh ya dimakan langsung"
"Yaudah sih... kan aku ga suka..."
"Ya itu bukan makan duren namanya. Duren itu ga bisa diolah, apalagi jadi pie duren. Bukan begitu caranya..."
Nah.. nah ini masalah sesungguhnya. Intoleran! Kalau percakapan ini dilanjutkan, bisa-bisa terjadi perang saudara, hingga bentrok berdarah, lalu genosida. Hanya karena perkara duren, eh intoleran.

Ada satu kota yang bagiku penuh dengan ketidakwajaran. Namun ibarat doktrin, aku kini sudah bisa menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Ladies and gentlemen, Welcome to makassar!  
 
Ketidakwajaran pertama yang aku temui adalah saat aku pindah kesini saat SMP. Saat itu, aku begitu terkejut ketika mendengar percakapan teman-teman SMPku tentang merek sepatu. Jelas bagitu itu tidak wajar. Satu, pembicaraan merek seharusnya belum menyentuh ranah anak-anak SMP. Dua, mereka lalu dengan lancang mengklasifikasi kasta sosial hanya dengan merek sepatu. Seketika aku merasa tersisih dari pergaulan SMP.

Ketidakwajaran kedua adalah saat aku menyadari bahwa kota ini adalah kota yang selalu marah. Di Makassar sangat lumrah mendengar orang menghardik, berkata kotor, atau berteriak-teriak kencang. Tapi bagiku, itu sama sekali bukan hal yang lumrah. Lumrah apanya? ngeselin iya!

Walau begitu, kenyataanya, di sinilah aku menghabiskan 3 tahun masa remajaku di SMP. Menyulap sesuatu yang bagiku tidak wajar sebagai suatu kewajaran.Hingga saat aku kembali mengunjungi Makassar saat ini, hal-hal yang aku ceritakan tadi bukan lagi sebagai ketidakwajaran, melainkan ciri khas. Ini adalah kota yang cukup penting bagiku, karena di sinilah aku berjibaku untuk hal-hal yang awalnya terasa tidak wajar bagiku. Dan pada akhirnya tidak ada pilihan bagiku selain belajar menerimanya.

Setalah nyaris 12 tahun berlalu semenjak semua kejadian-kejadian kala SMP, aku merasa pada akhirnya kita memang harus berdamai pada ketidakwajaran. Menerimanya sebagai bagian dari skenario besar dan bersyukur karenanya. Makassar adalah kepingan cerita yang mengajarkan padaku apa itu toleran, dan apa itu memaafkan.

Aku sungguh senang bisa kembali mencicipi sop saudara, bakso kotak, mie titi, ikan cakalang, dan juga es pisang hijau di kota ini. Juga bisa kembali duduk santai di pantai Losari.
Walau sebenarnya, tujuanku mampir kesini hanyalah untuk satu hal. Menyapa makam.



Menyapa ketidakwajaran.

***
"Kak re, jadi ki' kita besok pi makam?"
"Insya Allah jadi ki nah... "
"Iye' bede, nanti coba saya tanyakan ki' ke pak Dudung, biar dia antar kita"
"Iya tawwa, makasih di' "
"Iye kak Ree..."

#31harimenulis
#12-31

Senin, 08 Juni 2015

See you!

“Tadi malam, jam 4 aku keluar kamar. AKu lihat ombaknya berhenti mendadak, angin juga melemah, mati lampu, dan kulihat ke atas, bintangnya banyak sekali. That’s reminds me of you” Him.  

Mengingat bahwa kau telah mengingatku dengan sangat manis, membuatku bertanya, harus bagaimana aku mengingatmu? 

Beberapa kisah memang terasa seperti ombak. Datang dengan kencang lalu menghilang. Walau begitu, pada setiap pantai yang kita singgahi, bukankah suara ombak yang akan selalu kita cari?

Tapi seberapa inginnya aku, aku tidak bisa ombak dan menbungkusnya, lalu memasukannya ke koper dan berharap itu akan sama indahnya saat aku letakan di bath up kamar mandi. Ombak harus tetap berada di tempatnya, atau pantai tak akan bernama pantai lagi. 

Aku adalah penyinggah yang terpesona dengan ombak, tapi aku tak bisa selamanya bermain ombak. Aku hendak berlayar, aku butuh muara.

Aku titipkan salam pada setiap ombak yang aku temui dalam setiap perjalananku.
Juga pada setiap purnama yang datang, dan tentunya pada setiap bintang yang berkedip di atas. 
Semoga selalu sehat dan menyenangkan hidupmu di sana.
Pada kepingan hati yang tertinggal di sana, aku berharap ada waktunya kembali.

Sampai bertemu lagi, divers!

Soure:http://www.luvimages.com/luvphotos/b/black_and_white_sea_dive-2331.jpg
 

#31harimenulis
#11-31
#part3
© RIWAYAT
Maira Gall