Kamis, 21 Desember 2017

Apa-apa yang tampak dan apa-apa yang manusia ingin lihat

"What is essential is invisible to the eye"
(Chapter 21 - The Little Prince)


Salah seorang teman saya sedang galau. Bukan galau asmara, tapi lebih kepada galau persahabatan. Dia galau karena ada seorang teman dekatnya, yang secara ajaib menjauh dari dia dan teman-temannya yang lain. Saking anehnya, si yang bersangkutan mengambil langkah ekstrem jaman now: keluar dari group chatting, untuk alasan yang entah apa. 

Teman saya mempunyai beberapa spekulasi. Pertama, dia curiga si temannya ini mengikuti pengajian atau salah menerjemahkan Islam. "Dia itu lagi hijrah gitu..". Kedua, bisa jadi karena si temannya itu ingin segera menikah, tapi urgensi keterburu-buruannya tidak bisa dipahami oleh teman saya dan gengnya, sehingga membuat dia ingin, atau merasa harus, menjauh. Maka jadilah si teman saya dan gengnya resah, dongkol, dan sedih jadi satu gegera hal ini.

Saat hal ini dibahas dengan saya, saya juga hanya manggut-manggut. Karena kalau bicara bab pernikahan dalam Islam, sebenarnya sih tidak ribet sama sekali. Selain kalau sudah dapat calonnya, hanya butuh prosesi akad nikah, dan walihamahan yang walaupun sederhana, juga bisa terlaksana. Jadi tidak perlu uring-uringan, sampai  harus menginggalkan group chatting sebenarnya. Kalau memang dia sedang hijrah dan ingin segera menikah, datangi saja KUA. Selesai perkara. Tapi ya... Kalau si teman saya saja bingung, apalagi saya, orang asing yang hanya mendengar ceritanya sepintas lalu.

Tapi apa yang menimpa temannya teman saya itu adalah satu satu contoh paling nyata bagaimana manusia selalu dan selalu saja fokus pada apa yang nampak, dibanding apa isi atau esensinya.

Contoh lain misalnya, santet. Santet adalah jalan pintas bagi siapapun yang ingin memaksakan esensi. Bertolak belakang dari kasus yang pertama, mereka yang menggunakan santet, percaya betul bahwa jika indera manusia tidak bisa membuat hati seseorang percaya, dukun pastilah bisa membantu. Sebenarnya orang-orang tipe ini sudah benar cara berfikirnya, hanya kadang terlalu percaya diri. Di satu sisi dia tau bahwa indera manusia bisa salah tafsir, sementara hati tidak. Namun di sisi lain, dia lupa bahwa hati adalah abstraksi yang dibuat di dapur rahasia milik Sang Pencipta. Tidak bisa diintervensi, tidak bisa disetir.

Pernah dengar istilah urip kui wang sinawang?

Wang sinawang adalah adalah satu ucapan Jawa klasik yang saya kagumi. Artinya kurang lebih adalah apa yang bisa kita lihat dari hidup orang lain, hanya terbatas pada indera kita saja. Misalnya, kita melihat si A selalu pake baju jelek, dan kita merasa dia itu tidak tahu fashion, oh atau miskin. Atau kita dengar si B dapat beasiswa ke Luar Negeri, dan kita merasa dia itu beruntung. Sekedar itu dan hanya sebatas itu. Yang pastinya kita tidak tahu adalah ternyata si A menyimpan uangnya untuk beli rumah daripada beli baju, atau si B dapat beasiswa setelah peristiwa pahit yang datang dihidupnya selama bertahun-tahun. 

Wang sinawang bukan sekedar mengajarkan pada saya untuk tidak boleh menilai orang semau logika saya saja, tapi menantang saya untuk memahami esensi dari banyak hal yang di dunia ini, mulai dari masalah romansa hingga agama. Karena tentu saja, jika yang selalu kita cermati adalah bungkusnya saja, kapan kita mau mempelajari isinya?

Sulit memang untuk sampai di titik dimana kita akhirnya memahami esensi dari hal-hal yang diharuskan atau dilarang tanpa punya basis yang jelas. Tapi mengapa esensi itu penting? 

Ada artikel pendek berjudul, If work dominated your every moment would life be worth living? yang ditulis oleh Andrew Taggart. Tulisan pendek tentang bagaimana hampanya hidup manusia saat kita bahkan tidak tahu lagi untuk apa dan mengapa kita bekerja selain karena uang. 

Memahami apa itu esensi seperti berfokus untuk mencari kado yang pas untuk diberikan kepada orang-orang terdekat kita, daripada menghabiskan waktu untuk memilih kertas kado mana yang layak. Dan seperti wang sinawang, mustahil memahami esensi hanya dengan menggunakan panca indera manusia yang serba terbatas ini. 

Seperti juga obrolan soal pasangan hidup, andai menemukan apa yang jiwa dan hati kita mau itu sesederhana swipe right or left melalui Tinder, atau menaruh biodata kepada Uztad, atau mendaftar speed dating, tanpa perlu menjalani proses panjang yang kadang berhasil, kadang tidak, maka pastilah tidak akan ada puisi dan romansa cinta yang ditulis oleh pujangga-pujangga. Pujangga-pujanngga itu seakan tahu betapa panjang dan melelahkannya sebuah jiwa untuk bisa bertemu belahannya. Pun bertemu, kadang takdir berkehendak lain. Pelik. 

Banyak sekali hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan. Tentang kenapa ini begini dan kenapa  itu begitu. Tapi belajar memahami esensi, kalau bagi saya, membuat saya belajar tentang apa itu kejujuran. Kadang kita dibuat kabur atau bahkan buta oleh hal-hal yang tertangkap oleh indera. Namun saya percaya satu hal, tidak ada yang mampu membohongi hati. Kalau itu terasa salah, mungkin itu memang salah. Apa yang terasa benar, mungkin memanglah benar. Manusia sering terjebak  dengan logikanya, seringnya hanya mau melihat apa yang tampak, seringnya bersender pada apa yang bisa dibuktikan. Sementara esensi, hanya bisa dilihat melalui hati. Sekali-kali, atau cobalah walau sekali, percaya pada hati.



Sabtu, 02 Desember 2017

"Badai Tuan sudah berlalu...."


Beberapa cerita memang sengaja tidak diceritakan lengkap, bukan karena tidak punya kata, tapi menjaga agar tetap pada maknanya.

Beberapa kisah memang sengaja tidak dibagi, bukan karena tidak berkesan, tapi menjaga agar tidak sembarang dikomentari.

Beberapa perasaan memang sengaja tidak diungkap, bukan karena tidak penting, tapi agar tidak kehilangan intinya.

Beberapa kenangan bertahan, bukan karena menyandang predikat ‘terlalu’, tapi sengaja disimpan untuk sebuah alasan.

Beberapa hal tidak akan pernah pergi, bukan karena sengaja dijaga, tapi kerena mereka selalu saja punya cara untuk kembali.

Beberapa doapun tetap pada tempatnya: semoga lekas tahu apa yang harus dicari tahu.





"Badai Puan sudah berlalu..."

Jumat, 13 Oktober 2017

Cobalah Untuk Setia

“You hope for the best and you stick with it, day in and day out. Even if you are tired, even if you want to walk away. You don’t!
Because you are a pioneer. But nobody ever said it wold be easy” 
(Grey Anatomy - Season 10 Eps 11)


Di pertengahan tahun ini, di sebuah senja yang cukup random, tanpa sengaja saya bertemu seorang teman lama, Fian, yang sedang ambil S2 komunikasi di UGM. Dari semua hal yang kami bicarakan, ada satu ucapannya yang paling membekas, “Tau engga sih Peh, lebih sedih kalo kita lagi bahagia tapi kita engga bisa ngerayain sama siapa-siapa, dibanding kalau kita lagi sedih dan ditinggal sendiri”.

Saya mengangguk diam, dan tak lama kami mengahiri obrolan panjang itu tepat disaat langit senja Jogja sedang sendu-sendunya.

Setelah pertemuan itu, beberapa kali ucapannya muncul tanpa sebab di kepala saya, entah kenapa.  Dan butuh waktu yang cukup lama, untuk akhirnya saya bisa memahami arti dari ucapan sepintas lalu itu. 

Terimakasih kepada Mbak Affi Asegaff, vlogger yang juga CEO Dailybeauty.com yang memberikan sedikit pencerahan. Mbak Affi Asegaf adalah vlogger yang selalu bicara tentang perwatan kulit dan memberikan tips serta review produk skincare yang bagus (dan seringnya mahal). Dalam salah satu videonya, dia pernah berkata, “Jadi, yang paling penting dalam merawat kulit adalah rutin! Saya sih engga percaya ya, kalau ada skincare yang berani kasih perubahan dalam beberapa hari aja. Efek vitamin C aja, baru bisa bikin perubahan dalam waktu minimal 21 hari setelah pemakaian rutin setiap hari. Jadi, percuma aja kalau skincarenya mahal tapi makenya engga rutin, engga akan bikin dampak apa-apa buat kulit kamu”, katanya dengan manis.

Terimakasih juga pada Kenneth Biller, sutradara Genius. yang juga membantu saya untuk paham. Melalui drama series Genius, saya mendapat pemahaman secara gamblang tentang bagaimana  Albert Einstein, tidak hanya konsisten dalam membuktikan teori relativitasnya, tapi juga setia dalam menjaga identitasnya sebagai ilmuwan, bukan politisi.

Jadi ternyata, ini semua adalah tentang konsistensi. 

Tentang konsistensi dan betapa manusia sering kalah di dalam pergulatannya. Mencoba lari, memulai dari awal, menggebu di awal, kelelahan di tengah-tengah, belum sampai pada titik akhir tapi sudah lari, dan mencoba hal lain dari awal. Hingga seterusnya, hingga seterusnya…. Hingga akhirnya dia menyadari bahwa selain waktunya terbuang, dia seakan mengaklmasi ketidaksabaran akan dirinya sendiri.

Jika ternyata kita berada pada jalan yang kita sendiri tidak merasa nyaman menjalaninya, tentu saja kondisinya menjadi berbeda. Karena jika demikian, tentu saja jalan terbaik adalah putar balik dan mencari jalan lain. Tapi jika kita berbicara tentang nilai-nilai yang kita perjuangkan, atau mimpi-mimpi yang kita percaya, maka konsisten adalah satu-satunya cara. Karena bagaimana mungkin kita bisa sampai pada titik yang ingin kita tuju, jika terlalu sering mampir atau putar arah?

Teman saya yang kini sedang menggeluti dunia seni peran pernah berkata, “Pantes aja ya Reza Rahardian itu jago banget. Dia belajar ekspresi wajah aja tahunan. Engga kayak artis kabiran yang cuma dateng workshop trus acting”. 

Atau teman saya yang pernah ketemu Nicholas Saputra, dia berkata, “Si Nico itu sampe bilang gini, ‘Kamu jadilah professional dalam apapun itu. Model, kalau dia professional bayarannya ratusan juta’”

Apa yang Fian bicarakan di sebuah senja itu, mengingtkan saya akan kegelisahan Emma Stone dan Ryan Gosling di akhir film LALA LAND. Kegelisahan bahwa mereka pernah menemani satu sama lain di saat-saat tersulit saat menjalani mimpi masing-masing, tapi justru tidak bisa merayakan keberhasilan itu bersama-sama pada akhirnya. Begitulah harga dari sebuah pilihan.

Sekarang saya paham kenapa manusia membutuhkan orang lain, justru disaat dia senang, bahagia, atau ingin merayakan kegembiraan. Mungkin itu diartikan sebagai ucapan terimakasih untuk mereka yang setia menemani dalam proses menuju momen bahagia. Sebagai pengakuan bahwa mereka berjasa. Mungkin karena mereka turut menemani saat kita saat sedang terpuruk. Mungkin juga mereka pernah berkata, “Hei, jangan menyerah!”. Bisa juga karena mereka membuat kita kembali percaya, bahwa kita harus bertahan satu hari lagi untuk hal-hal yang ingin kita tuju. Atau mungkin karena kita akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan kita, sedikit banyak mengorbankan kebahagian mereka. Entah mana yang paling mendekekati.

Tapi sepertinya memang, kebahagiaan yang tidak bisa dirayakan memang lebih menyedihkan dibanding kesedihan itu sendiri.

"Climb these hills I'm reaching for the heights and chasing all the lights that shine.
 And when they let you down, you'll get up off the ground.
Cause morning rolls around, and it's another day of sun"
(Another Day Of Sun)

Dan tentu saja, konsistensi dibutuhkan dalam mencintai, apapun, siapapun.

Senin, 02 Oktober 2017

Layar Sentuh dan Rusaknya lagu Yogyakarta milik kla project

Saya baru bisa mengendarai motor saat masuk kuliah di tahun 2009. Sebelumnya, saya adalah seorang duta nebeng internasional yang rendah hati dan bersedia mengabdi di Yogyakarta. Menjadi duta nebeng adalah perkara yang tidak mudah. Bayangkan saja, saya harus tau siapa-siapa yang memenuhi syarat untuk bisa ditebengi dan menyelaraskan dengan tujuan serta waktu-waktu mobilitas saya yang super padat kala itu. Saya harus tau, jikalau mau mengunjungi tempat A, jam sekian, lantas harus minta tolong kepada siapa. Jangan lupa, pemilihan bahasa itu penting dan harus sopan, seperti mengatakan meminta tolong atau pernyataan bahwa ini dilakukan atas dasar suka sama suka. Pun memilih orang yang bisa masuk dalam daftar 'Orang yang Bisa Ditebengi' juga harus teliti. Harus kuat hatinya dan uang bensinnya.

Sekali lagi, menjadi duta nebeng itu tidak semudah yang dibayangkan. Kadang, saya kehabisan stock orang yang bersedia mengantar hingga membuat saya batal pergi atau harus pergi naik angkot. Saya pribadi sih engga begitu masalah dengan naik angkot. Hanya saja, eksistensi angkot di Yogyakarta ini bikin saya senewen. Ya bagaimana tidak, jam operasional serta rute angkot di Yogyakarta itu terbatas, dan itu jelas membatasi gerak perempuan muda nan aktif macam saya ini.

Hingga di tahun 2009, saya membeli motor dan belajar mengendarai motor. Dan sejak itu lah saya pensiun dari predikat duta nebeng internasional. Walau sedih harus berpisah dengan mereka yang sudah masuk dalam daftar 'Orang yang Bisa Ditebengi', saya bersyukur karena akhirnya bisa menikmati menjadi wanita mandiri seutuhnya.

Delapan tahun kemudian, saya takjub campur kesal karena banyak sekali di Yogyakarta yang kini menjadi duta nebeng. Dan yang paling bikin saya kesal, mereka tidak menggunakan prosedur yang pas untuk menjadi duta nebeng internasional cabang Yogyakarta.

Begini saya jelaskan singkat. Yogyakarta ini, kotanya kecil dan damai. Kemana-mana sungguh dekat. Tidak seperti Ibukota yang mungkin bisa bikin anak lahir di jalan saking macetnya. Jalan di Jogja pun ramping-ramping, tidak ada jalur bebas hambatan kecuali jalan ring road. Seharusnya, prosedur menebeng yang paling tepat digunakan adalah dengan mengadaptasi cara saya: meminta tolong baik-baik pada mereka yang hatinya tulus mau menolong dan bensinnya cukup untuk mengantar.

Tapi mungkin cara itu kampungan dan tidak kekinian. Tidak seperti menyentuh layar, memilih tempat destinasi yang dituju, melihat harga, dan menekan tombol 'Pesan Sekarang', lalu datanglah seseorang dengan jaket hijau atau orange yang siap mengantarkan seseorang ke mana pun, lengkap dengan sapaannya, “sesuai aplikasi ya mbak?”.

Saya mungkin bisa memahami sistem itu di Jakarta. Ya... kita memang harus memaklumi Jakarta, kota yang memang ruwet itu, sudah darisananya macet. Sudah macet, kendaraan umum susah didapati, jalan kaki tidak memadai, maka meminta tebengan dengan cara itu, sudah pasti jadi solusi. Apalagi kan rumornya, orang Jakarta itu individualis, mana mau mereka bermanis-manis menggunakan cara nebang ala saya.

Tapi ini kan Jogja. Kemana-mana sungguh dekat, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lalu kenapa harus ada sistem nebeng macam itu? Dan laku pula!

Mungkin saya akan dihajar oleh semua duta nebeng yang ada di Yogyakarta, karena bersikap angkuh. Oh atau mungkin mereka merasa bahwa saat ini, inilah yang dibutuhkan oleh Yogyakarta. Ah tapi saya kok sanksi, masa iya, Yogyakarta butuh cara nebeng yang membuat macet di semua titik dan membuat banyak pojokan terisi oleh tongkrongan hijau-hijau, hingga bahkan di depan gang rumah saya.

Atau dengan dalih pariwisata? Tapi kan, kalau kita datang ke Swedia, dan masyarakat di sana terbiasa berjalan kaki, kita juga engga akan berkata 'Aduh, saya terbiasa nebang motor nih'. Lalu kenapa kita yang harus mengakomodir wisatawan dengan tebengan yang bisa bikin perjalanan menuju Malioboro dari Jalan Kaliurang menjadi 1 jam lebih lamanya?

Bertahun-tahun sudah lamanya Katon Bagaskara bernyanyi 'Di persimpangan langkahku terhenti.. ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera...'. Lalu, apa tanggung jawab kita kalau ada yang bernyanyi 'Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahaja...'. Saat kini, tiap sudut isinya macet, macet, dan macet. Bagian mananya yang masih seperti dulu?

Tapi saya paham, bahwa tidak ada yang bisa menolak perubahan. Antara saya yang sakit hati karena Jogja berubah, atau saya yang memang terbiasa tanpa kemacetan di Jogja, atau saya yang sebetulnya sensi dengan si penyedia sistem. Semua menjadi tumpang tindih memang.

Ingin rasanya menyalahkan si pembuat sistem ini. Tapi saya lupa, mereka adalah pihak yang sanggup melihat pangsa pasar. Awalnya mungkin baik: mencoba membantu citizen Ibukota. Tapi mereka lupa dan kita semua terlena, bahwa itulah awal mula keran yang terbuka dan kini sudah semakin susah untuk ditutup kembali. Bahkan hingga sekarang, keran itu bukan hanya terbuka, tapi bocor kemana-mana, meluber hingga luar Ibukota. Seakan menyelesaikan masalah transportasi, tapi nyatanya menambah rumit masalah lalu lintas. Belum lagi gesekan sosial sana-sini akibat sistem ini. Bayangkan saja, si pembuat sistem mampu memindahkan lapangan pekerjaan ke jalan raya, yang meleng sedikit saja bisa tewas. Seakan membuat kita tertolong, padahal nyatanya kita akan terjebak pada kemacetan di jalan. Padahal ini di Yogyakarta, sekali lagi, ini di Yogyakarta. Kota dengan slogan ‘berhati nyaman’, bukan ‘berjalan lamban’.

Dahsyatnya, mereka bahkan sanggup membuat hal-hal menjadi lebih mutakhir lagi, seperti mengantarkan makanan atau bahkan barang. Hingga sekali waktu, saya pernah melihat dalam satu traffic light, isinya hanyalah jaket hijau. Di Yogyakarta yang sungguh apa-apa dekat ini, pemandangan itu sungguh sangat mengganggu saya.

Harapan saya hanya bertumpu pada seorang Raja yang bermukim di 0 kilometer itu. Tidakah dengan kota sekecil ini, yang dibutuhkan hanyalah sistem angkutan kota yang lebih baik? Tidakah ada yang bisa mengatur agar hijau-hijau itu tidak menjadi lumut dan akhirnya membuat kotor Yogyakarta? Kalau tidak mungkin dihentikan, maka tidakkah bisa regulasinya diatur? Bukankah kita daerah Istimewa? Jika tidak, saya khawatir dunia tidak bisa lagi menyanyikan lagu Yogyakarta karya Kla Project dengan mengenang masa-masa berjalan kaki dengan gebetan, atau membicarakan masa depan dengan seseorang.

Dan tentu saja pada semua duta nebeng di Yogyakarta, pesan saya, menebeng dengan cara konvensional itu banyak manfaatnya: menajamkan kemampuan mbribik!

Kamis, 07 September 2017

Seberapa pantas

"Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang?
Sanggupkah kau meyakinkan di saat aku bimbang?"


Dalam sebuah perjalan menuju Wakatobi di pertengahan tahun ini, tidak ada yang benar-benar saya bayangkan selain pantai, pemandangan bawah laut, dan karya tulis yang harus saya dan teman saya selesaikan. Perjalanan dimulai dengan sederhana melewati Kendari dan menyebrang selama 12 jam menuju Wanci. Karena perjalanan menuju entah berantah telah menjadi makanan saya selama 3 tahun terakhir, maka bagi saya Wakatobi akan menjadi salah satu diantara pengalaman dan cerita itu. Ekspektasi saya sungguh tidak berlebihan, asalkan saya bisa kembali pulang tanpa drama, bagi saya itu cukup.

Pagi pertama terbangun di Wakatobi, saya merasa lelah jiwa dan raga. Ingin rasanya kembali pulang ke Jogja dengan penerbangan pertama agar malam hari nanti saya bisa tidur di kamar. Tapi mengingat saya berada di salah satu pulau dengan pemandangan alam bawah laut yang cantik di Indonesia, saya mencoba bertahan. 

Dan perjalanan di Wakatobi pun dimulai. Bermula dari menelusuri pulau, pergi ke pulau kecil lainnya, berkemah, kejar-kejaran dengan tenggat waktu karya tulis yang harus kami selesaikan, dan diakhiri dengan karoke di salah satu kafe lokal di Wakatobi. Hingga Wakatobi berakhir dengan sangat menyenangakan. Bahkan Wakatobi adalah salah satu perjalan yang saya masukan dalam katagori 'Harus Diingat Selamanya'. Mulai dari teman-teman baru yang super menyenangkan, makanan yang enak, pemandangan yang cantik, hingga cerita-cerita romansa yang terbongkar, Wakatobi mengambil hati saya sepenuhnya.

Di hari terakhir, saya terbangun dengan perasaan sedih luar biasa. Ingin rasanya kembali ke hari pertama di Wakatobi. Betapa saya merutuk diri sendiri karena sempat merasa tidak kerasan berada di sana.

Maka, sebelum menyebrang kapal dan kembali ke Kendari, saya menuliskan sebuah kalimat di Twitter yang merangkum makna perjalanan saya selama ini.



Maka begitulah saya memaknai perjalanan. Perjalanan, dalam makna apapun, mulai dari liburan, pekerjaan, hingga pernikahan sekalipun adalah sebuah petualangan, adalah sebuah kisah. Perjalanan tidak bisa dimaknai sekedar beranjak dari titik A menuju titik B, sekedar lompat dari awal mula menuju titik akhir. Perjalanan adalah apa yang berada di tengah-tengah itu, semua hal di rentang itu lah yang dinamakan perjalanan. Hingga, tentu saja, perjalanan bisa menjadi sangat menyebalkan atau sangat menyenangkan, apapun itu yang akan terjadi, itu tetap saja sebuah perjalanan. Maka satu-satunya pilihan yang tersedia adalah menikmati setiap detiknya.

Hingga tidak ada yang harus dilakukan untuk memulai sebuah perjalanan selain sebuah niat dan rekan perjalanan yang tepat. Selebihnya akan menjadi selebihnya, dan biarkan saja menjadi selebihnya. Perjalanan, hakikatnya adalah cerita, jadi selama kita punya dua hal itu, hal-hal apapun yang akan terjadi selama perjalanan, akan selalu menjadi cerita dan pelajaran.

Maka untuk semua perjalanan itu, tidakah ini semua dimulai saja? Dan biarkan selebihnya menjadi selebihnya melebur bersama waktu dan langkah demi langkah. Tidakah sedikit saja gagasan ini bisa dipertimbangkan?


"Celakanya... "

(Seberapa Pantas - Sheila on 7)

Rabu, 16 Agustus 2017

"coba dolo!"

Mungkin ada benarnya apa kata orang-orang atau artikel-artikel yang membahas soal hubungan asmara, yang mengatakan bahwa semakin dewasa (atau tua), definisi kita akan pasangan dan hubungan yang ideal akan berubah. Berubah dari hal-hal artifisial menuju hal-hal yang lebih prinsipil. 

Beberapa hari yang lalu saya melihat pasangan yang membuat hati saya hangat. Singkat cerita, mereka berdua ini adalah orang dari timur Indonesia, kemungkinan besar dari daerah Maluku kalau diperhatikan dari logatnya. Si lelaki sedang ambil S2 di Jogja dan kesulitan membuat semacam tulisan ilmiah. Si perempuan, duduk di sebelahnya bermain game dan sesekali melihat pasangannya yang tampak kebingungan.

Sedikit-sedikit si lelaki meminta bantuan si perempuan, dan perempuan dengan sedikit galak akan membantu si lelaki. Hingga terjadilah percakapan begini:

Lelaki: "Eh... bagaimana caranya membuat gambarnya jadi di tengah?"
Perempuan: "Aduh...! gampang sekali itu toh...". 

Lalu membantu mengerjakan di leptop si lelaki.

Lelaki: "Kok ini tidak mau?"
Sambil menengok leptop si lelaki, si perempuan berkata, "Sama caranya kayak tadi. Coba dolo!"

Lalu tak lama si perempuan berkata, "Bagus.... saya menang!"

Sayapun menoleh, dan ternyata si perempuan asik bermain game sambil sesekali memberi arahan pada si lelaki.

Kenapa mereka membuat hati saya hangat? Karena saya dulu beranggapan lelaki yang sempurna adalah lelaki yang bisa melakukan semua hal tanpa perlu saya bantu. Tapi rasanya, itu terlalu artifisial. Sekarang saya mau punya pasangan yang bisa menangis di depan saya dan mengakui dia lemah, dan saya akan ada di sana untuk berkata, "Iya, emang kamu lemah... gapapa.... kamu lemah aja aku cinta kok. Cup cup cup jangan cengeng deh! Makan es krim yuk?".

Pemandangan menyenangkan saat dua orang saling memiliki satu sama lain, melindungi kelemahan satu sama lain, mendukung satu sama lain. 

Semoga pasangan itu langgeng. Aamiin


Senin, 14 Agustus 2017

identitas

Saya sebenarnya tidak pernah benar-benar melabeli diri saya pada sebuah identitas tertentu, atau lebih tepatnya saya tidak begitu tertarik untuk membuat saya dikonotasikan dengan sebuah unsur tertentu. Akan tetapi, saya tidak bisa memungkiri bahwa setiap manusia memiliki preferensi yang berbeda-beda akan kesukaan dan juga minat yang secara langsung atau tidak, pada akhirnya akan membuat kita memiliki identitas. 

Ayah saya seorang Bugis murni dan Ibu adalah Sunda totok tanpa campuran. Dari dulu saya selalu kebingungan untuk menjawab pertanyaan orang tentang identitas asli saya. Walau semakin kesini, pertanyaan itu semakin mudah dijawab karena saya jauh lebih suka diasosiasikan dengan orang Bugis dibanding orang sunda. Sederhana karena saya lebih suka ketegasan yang ada di Bugis dibanding lemah gemulainya Sunda. 

Saya dari dulu benci sekali lagu-lagu cinta pinggiran yang mengumbar makna cinta yang mudah dipahami. Rasanya telinga dan hati saya secara otomatis menolak lagu-lagu itu, dan terlebih saya tidak mau diasosiakan dengan mereka yang menggandrungi lagu-lagu begitu. Bagi saya, semakin sastra dan sulitnya lirik sebuah lagu dibuat, semakin baguslah lagu itu. Maka saya lebih menggilai jalur musik alternatif dibanding yang umum didengar.

Sadar atau tidak, tapi saya tidak pernah berhasil jatuh cinta pada lelaki yang pemikirannya terlalu standar akan hal-hal. Saya tidak akan pernah tahan dengan lelaki yang tidak bisa memuaskan saya jika kami sedang mengobrol. Mau bagaimanapun dia merayu, selama dia tidak bisa mengobrol banyak hal dengan saya, maka selama itu juga saya tidak akan tertarik. 

Saya punya definisi sendiri tentang apa itu eksistensi, apa itu pekerjaan, apa itu uang, apa itu bahagia. Kadang itu semuapun berlawanan dengan pendapat umum. 

Tapi tetap saja, saya tidak merasa bahwa saya ingin melebeli diri saya sebagai jurusan anti mainstream atau hipster. Saya hanya merasa bahwa saya memiliki beberapa preferensi akan sesuatu yang untuk beberapa hal mungkin berbeda dengan orang lain. Tapi saya juga tidak sendiri, orang-orang seperti saya juga banyak. 
Sehingga kadang saya merasa nyaman dan aman saja sendirian tanpa perlu mengikuti pendapat orang-orang. Hingga tak lama munculah kritik, bahwa hidup saya tidak bisa terlalu idealis. Bahwa mengakui saya orang Sunda itu bukan berarti bahwa saya lemah gemulai dalam pandangan yang jelek. Atau menyanyikan satu atau dua lagu cinta umum, bukan berarti saya menghianati idealisme saya. Atau mulailah untuk melebarkan preferensi saya akan lelaki. Begitu kata beberapa orang berpendapat.

Maka sesekali saya mencoba mengikuti arus, mengikuti kemana kebanyakan orang berfikir dan bertindak. Namun rupanya, manusia memang memiliki preferensi masing-masing yang tidak bisa dipaksakan. 

Jadi biarkan saja kalau saya lebih menyukai musik alternatif, lebih menyukai dibilang orang Bugis, akan selalu terarik pada lelaki yang secara intelektual lebih baik dari saya. Bahkan menurut saya, itu semuapun bukan bagian dari mempertahankan idealisme, itu semua hanya bagian dari perbedaan preferensi dan bagaimana kita menjadi diri kita sendiri.

Ini tentang bagaimana kita mengapresiasi identitas-identitas diri kita. 
© RIWAYAT
Maira Gall