Kamis, 29 April 2021

Cerita Tentang Kehilangan


Di tahun 2020, beberapa bulan sebelum Covid-19 menyerang Indonesia, om saya, adek bungsu mama, meninggal dunia di usia 40an. Almarhum meninggal tanpa ada penyakit bawaan apapun, kematian dadakan kalau kata orang. Begini cerita singkatnya, almarhum baru pulang ke rumah saat lewat tengah malam setelah menjadi pengisi acara di salah satu acara di Bandung (Beliau drummer band indie). Paginya, beliau mengantar anak-anaknya sekolah, dan setelah pulang mengantar, beliau berkeringat di bagian dada, dan… ya…  tidak lama setelah itu, beliau meninggal dunia. Diagnosa dokter adalah om saya itu terkena serangan jantung. Kepergiannya yang mendadak membuat semua keluarga kaget, tidak terkecuali saya. Saya yang kebetulan waktu itu sedang tugas lapangan di wilayah Jawa Barat, langsung ijin sorenya dan pergi ke rumah duka di Bandung.

Ada satu hal yang saya ingat ketika kejadian itu. Ketika subuh, H+1 setelah om saya dikebumikan, saya terbangun karena mendengar lolongan panjang dari kamar depan. Rupanya, itu adalah suara tante saya, istri dari almarhum. Lolongan dan ratapan panjang yang membuat saya bingung harus merespon apa. Tante saya yang lain akhirnya ikut terbangun dan menenangkan istri almarhum. Sementara saya, di pagi-pagi buta itu, hanya bisa bengong, tidak punya ide harus melakukan apa. Pedih sekali hati saya kalau ingat suasana subuh itu, rasanya seperti menyaksikan ada orang yang kesakitan karena terluka parah, tapi lukanya tidak kelihatan. Mau diobati, tapi bagaimana caranya?

Kepergian om yang mendadak itu membuat semua keluarga terguncang, terutama bagi nenek saya. Bahkan hingga di hari pertama puasa tahun ini, saat saya menginap untuk menemaninya di awal-awal puasa, nenek saya menangis tersedu sepanjang siang, sambil melihat foto almarhum. Berkali-kali nenek bergumam, “Akang udah engga ada… Akang udah engga ada…. Gimana ini?” Dan lagi, saya kembali tidak tahu harus melakukan apa. Hal terbaik yang akhirnya saya lakukan adalah menepuk tanggannya lembut tanpa berani mengatakan apapun.

Sebagai ponakan, saya pribadi tidak begitu dekat dengan almarhum om saya itu. Saya lebih dekat dengan saudara mama yang lain, tanta-tante yang lain, tapi tidak dengan beliau. Saya sedih tentu saja beliau meninggal di usia muda, tapi tidak sampai membuat saya mengeluarkan lolongan panjang penuh ratapan, ataupun kerinduan mendalam saat bulan Ramadhan. Bagi saya, om sudah meninggal, dan ya sudah. Kepergiannya, jujur saja, tidak begitu berpengaruh dalam hidup saya.

Kepergian om saya itu mengingatkan saya pada banyak episode dalam series favorit sepanjang jaman, Grey’s Anatomy. Banyak sekali episode-episode yang membuat saya menangis bombay karena kehilangan yang dinarasikan terlalu dalam, hingga membuat saya bertanya, sebegitunyakah rasanya kehilangan? Semenderita itukah?

Waktu SMA, ada satu cerita yang cukup “populer” karena selalu diceritakan oleh alumni-alumni. Yaitu, ada satu siswa yang sangat pintar namun suatu hari dia ditemukan bunuh diri di kamarnya, karena tidak lolos beasiswa ke luar negeri saat dia terpilih mewakili provinsi untuk pertukaran pelajar. Kata para-alumni, semua orang kaget waktu mendengar kabar itu, karena siswi ini selain terkenal pintar, dia juga pribadi yang baik dan supel. Orang-orang tidak habis pikir membayangkan bahwa kegagalan dia pergi ke luar negeri, sanggup mendorong dia untuk bunuh diri. Pun saya juga akhirnya ikut bertanya, harus sampai seperti itu kah, jika seseorang mengalami kehilangan?

Dulu, saya selalu berkeyakinan bahwa seluruh kehilangan pasti ada gantinya, dan seharusnya kehilangan tidak perlu direspon berlebihan. Saya misalnya, sebagai manusia, saya kehilangan banyak hal dalam hidup saya. Contohnya, dalam 3-4 tahun terakhir, saya kehilangan kesempatan untuk sekolah S2 karena tidak lolos satupun beasiswa. Sedih sih rasanya, tapi saya beranggapan, selama saya tidak berhenti mencoba, suatu hari nanti kesempatan itu pasti akan datang pada saya. Jadi saya tidak berpikiran untuk bunuh diri, walau sangat depresi waktu itu. Bahkan ketika saya kehilangan orang-orang terdekat dalam hidup saya, seperti kakek meninggal, patah hati, atau temen-teman yang tadinya dekat lalu renggang, saya merasa tidak segitu nelangsanya merespon kehilangan. Saya sedih sih, nangis juga kok, tapi tidak segitunya.

Ya tapi itu dulu, sebelum saya tiba di satu titik, saat hidup mengenalkan saya pada arti baru kehilangan.

Semua pengalaman saya tentang kehilangan menjadi tidak relevan saat berpisah dengan lelaki ini. Semua pengertian yang terbangun dalam pikiran saya soal kehilangan dan bagaimana saya harus meresponnya, seketika nihil di satu hari ketika saya merasa kehilangan lelaki ini. Saya ingat sore di tahun 2015, untuk pertama kalinya, saya mengeluarkan lolongan panjang yang bahkan tidak berhenti hingga berbulan-bulan lamanya. Saya pun bergumam tidak jelas menyebutkan betapa sakitnya hati saya, hingga beberapa tahun setelahnya. Semua hal yang saya ketahui soal kehilangan, rasanya menguap entah kemana, detik ketika saya kehilangan lelaki ini. Kalau mati itu mudah, kehilangan ini sudah menjadi penyebabnya.

Oh, begini rasanya…

Rupa-rupanya, ada jenis kehilangan yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, yang tidak pernah sekalipun kita persiapkan, dan tidak pernah terbayang akan terjadi. Ada jenis kehilangan, di mana kita akan terbangun di tengah malam, memegang dada, dan melolong panjang putus asa berharap kesedihan hati kita bisa hilang. Ada jenis kehilangan, yang membuat dunia kita jatuh berhamburan dan membawa serta diri kita. Jenis kehilangan ini bahkan membuat saya tidak merasa perlu mencari penggantinya, karena sekali hal itu hilang, setelahnya hanya akan menjadi negosiasi yang coba dilakukan agar menjadi utuh kembali. Dan tidak peduli mau seberapa lama sejak kejadian itu berlalu, akan selalu ada bagian dari diri saya yang tidak bisa kembali seperti semula. Akan ada luka, setiap kali saya ingat tentang itu.

Mungkin, jenis kehilangan ini berbanding lurus dengan apa yang akhirnya kita temukan. Mungkin alumni di sekolah saya yang bunuh diri itu, merasa menemukan sesuatu ketika dia memiliki kesempatan pergi ke luar negeri untuk pertukaran pelajar. Tapi saat kesempatan itu gagal, mungkin ada bagian dari dirinya yang sangat terluka. Mungkin tante saya, menemukan cinta dalam hidupnya yang dia yakini akan bertahan lama, dan dia tidak menyangka bahwa di pagi hari yang biasa-biasa saja, cinta itu hilang selamanya. Dan bagi orang yang tidak percaya komitmen, saya akhirnya menemukan seseorang yang ingin saya temani selamanya, hingga itu terasa tidak mungkin.

Untuk itu, setiap kali saya melihat sebuah kejadian yang melibatkan kehilangan, seperti tenggelamnya Nanggala-402 baru-baru ini, atau pesawat hilang, saya akan selalu membayangkan diri saya di tahun 2015. Mengingat sekali lagi seperti apa lukanya, berempati untuk semua yang ditinggalkan, dan mendoakan dari jauh agar mereka bisa diberikan kekuatan untuk kembali berfungsi sebagai manusia. Mungkin tidak akan kembali utuh seperti sedia kala, tapi kehilangan terbesar akan melahirkan jiwa baru yang lebih tenang. Sejauh yang saya rasakan, jika kehilangan terbesar dapat terlewati, kehilangan selanjutnya akan menjadi sebuah repitisi yang cenderung lebih mudah ditangani. Mungkin memang kita harus mencicipi kehilangan terbesar, sekedar untuk menjadi pengingat, bahwa tidak akan ada yang benar-benar menetap di dunia ini, bahkan untuk hal yang benar-benar kita inginkan. Mungkin...

sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/229683649733909134/


 

 

Ikatan Darah


Dalam ilmu biologi, darah dipandang sebagai alat transportasi yang mengangkut zat-zat penting yang diperlukan oleh tubuh. Jika kita terpaksa harus melakukan operasi, maka dokter bedah dan pihak rumah sakit akan bertanya pada kita tentang jenis golongan darah kita apa, sebagai salah satu syarat sebelum kita masuk ke ruang operasi.  Jika ternyata persediaan di rumah sakit atau di bank darah mereka habis, maka pihak rumah sakit akan bertanya apakah ada kenalan atau keluarga yang bisa mendonorkan darah untuk kita. Dalam ilmu biologi, darah dipandang sangat teknis, sebatas bagian dari anatomi tubuh manusia.

Tapi dalam bahasan yang lain, darah diartikan sebagai sesuatu yang jauh berbeda. Darah berarti sebuah keterikatan. Satu darah akan berarti satu keluarga, satu ras, bahkan satu etnis. Orang selalu bilang, “darah lebih kental daripada air” yang berarti juga kalau kita sudah memiliki satu ikatan darah, mau bagaimanapun akrabnya kita dengan orang lain berbeda darah, tetap saja keterikatan alami jatuh pada mereka yang sedarah dengan kita.

Menyadari bahwa kita terhubung hanya karena ikatan darah, bagi saya itu cukup aneh, tapi juga masuk akal. Masuk akal karena kita tidak akan pernah ada di dunia ini tanpa perantara si A dan si B yang diberi label ayah dan ibu. Ayah dan Ibu memiliki saudara, yang lantas secara otomatis membuat kita juga memiliki keterikatan dengan mereka. Ketika om dan tante itu menikah, secara langsung atau tidak langsung, membuat kita juga terhubung dengan pasangan mereka, anak-anak mereka.

Sementara anehnya adalah memiliki satu ikatan darah, seringnya tidak ada hubungannya dengan kedekatan emosional kita. Berapa banyak orang yang lebih dekat dengan orang asing yang diberi label sahabat ketimbang adik atau kakak kandung mereka sendiri? Atau lebih dekat dengan tetangga ketimbang dengan orang tua sendiri? Saya yakin, lebih dari sekedar banyak.

Di Indonesia, ikatan darah dipahami dengan lebih kompleks lagi. Di sini, kita akan secara otomatis memiliki identitas kesukuan tertentu, walapun kita tidak benar-benar paham atau menganut nilai-nilai yang diajarkan oleh suku tersebut. Jadi misalnya kita terlahir dan besar di Sukoharjo, tapi dari orang tua suku Batak, ya tetap saja didoktrin orang Batak.

Dalam cerita saya misalnya, ikatan darah ini termasuk cerita yang kompleks. Waktu itu saya sudah berusia 11 atau 12 tahun ketika saya diberitahu kalau memiliki darah Bugis. Sebelumnya, saya pikir bahwa darah Sunda dan Jawa saja yang menjadi bagian dari identitas saya. Walau sempat marah dan tidak menerima, namun apa yang bisa diubah dari fakta bahwa darah Bugis sudah terlanjur mengalir dalam diri saya? Aneh, tapi mau bagaimana juga kan?

Butuh proses yang cukup panjang bagi saya menerima darah identitas ini. Tapi sekarang saya sudah bisa dengan santai mengatakan pada semua orang bahwa saya adalah campuran Sunda dan Bugis-Bone.

Di suatu kesempatan, saya ada kunjungan kerja ke Sulawesi Tengah, setelah selesai, saya sempatkan untuk mampir ke Sulawesi Selatan, mengunjungi keluarga saya di sana. Dalam kesempatan kali itu, H-1 menjelang pulang ke Jakarta, ternyata ada arisan keluarga bulanan yang dihadiri oleh semua keluarga dari almarhum ayah. Hari keberuntungan bagi saya karena bisa lebih mengenal identitas saya. Maka saya sempatkan pergi kesana. Bertemu dengan keluarga-keluarga, mendengar logat Makassar-Bugis yang tidak begitu familiar di telinga saya, mendengar cerita sepupu yang tidak pernah saya hubungi bertahun-tahun, mencicipi makanan khas yang dibuat oleh tante-tante, dan mencoba mengingat nama ponakan yang baru lahir atau ipar yang baru masuk dalam keluarga besar. Rasanya canggung tapi juga cukup hangat untuk dirasakan. Dan di akhir pertemuan arisan itu, seorang kakek memberikan kepada saya uang jajang dari dompetnya, sambil mengelus kepala saya lembut dan berkata, “Baik-baik di Jakarta ya Nak.”

Ikatan darah itu aneh, tapi realitanya, mau seberapa keras kita mencoba menghapus atau melawan ikatan darah, tidak mengakui, atau mencoba mengabaikan, darah itu sudah mengalir dalam tubuh kita, membentuk identitas diri kita, siapa kita sebenarnya. Jadi alih-alih memberontak, sekarang saya akan lebih memilih untuk mengapresiasi darah-darah identitas yang mengalir dalam diri saya.

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/229683649735769360/


 

© RIWAYAT
Maira Gall