Rabu, 14 November 2012

Kali ini, aku bacaanmu

Ini seperti membaca buku.
Kegiatan yang kamu sukai kan?
Kamu bisa tenggelam dalam ratusan paragraf dan terhanyut pada tanda baca yang membuatmu enggan diusik oleh kejadian paling penting sekalipun.

Ini hanya seperti membaca buku.
Kegiatan yang kamu gemari kan?
Kamu melakukannya untuk meladeni waktu yang berjalan lambat. Atau waktu yang berjalan membosankan. Atau menemanimu melintasi waktu.

Ini hanya seperti membaca buku.

Kumohon, ini hanya sesederhana seperti kamu membaca buku.
Seperti saat kamu melakukan kegiatan kesukaanmu itu.

Ijinkan saya menjadi bagian yang kamu baca.
Sama selayaknya sebuah buku.

Karena mungkin, aku akan menjadi buku  favoritmu dan akan kamu beri sampul dan taruh di rak kaca paling atas.
Karena mungkin, aku akan menjadi buku yang lecek dan usang karena selalu kamu baca berulang-ulang kali.
Karena mungkin, aku bisa menjadi buku yang covernya paling memikat dan kamu pamerkan kepada teman-temanmu.
Atau..
Aku bisa jadi buku yang paling tidak menarik yang pernah kamu baca dan kamu berhenti membacanya di halaman yang baru mencapai belasan. Dan kamu tidak pernah berniat membacanya lagi.
Atau aku menjadi buku yang begitu membingungkan hingga kamu harus membaca dengan serius dan setelah selesai, kamu akan menaruhku disembarang tempat.
Atau kamu bisa menjadikan aku buku yang tak akan pernah kamu ingat karena membosankan.


Mungkin kamu akan keranjingan membacaku, atau mungkin tidak.
Mungkin kamu akan mencermati setiap kata dan rentetan kalimat, atau mungkin tidak.
Mungkin kamu akan tersenyum saat tahu kisahku, atau mungkin tidak


Tapi, kamu tidak akan pernah tahu bukan?
Tidak, sebelum kamu membaca!

Jadi bacalah dulu.
Kuhomohon..
Cobalah dulu untuk membaca aku.
Denotatif atau konotatif, apapun. Tapi ijinkanlah aku menjadi hal yang kamu baca.
Niatkanlah sejenak.

Dan setelah itu,
Kamu boleh bersikap apapun, bertindak apapun, dan melakukan apapun seperti layaknya sebuah buku.

Ya berikanlah kesempatan padaku agar bisa menjadi yang kamu baca.

Sungguh,
Ini hanya seperti kamu melakukan kegiatan yang kamu sukai itu.
Ini hanya seperti saat kamu tenggelam dalam asiknya membaca.
sungguh hanya sesederhana ini.



Cobalah.
Aku mohon.

Senin, 12 November 2012

Konspirasi Anatomi

If I don't try and I don't hope

jatuh cinta memang tentang konspirasi.
saat mata tiba-tiba tidak berkedip
saat jantung tiba-tiba berdegup lebih cepat
saat mulut tiba-tiba mengeluarkan suara jeritan yang tertahan
saat tangan tiba-tiba lemas
dan saat otak sibuk mencari tahu 'siapa dia'

Jatuh cinta memang konspirasi anatomi tubuh.

Saya termasuk yang tak sering merasakan kosnpirasi ini.
Orang bilang saya selektif. Tapi bagi saya jatuh cinta itu bukan tentang selektif tapi tentang kesempatan.
Dan kesepatan seperti ini memang tak sering hinggap pada saya.

Saya tidak mengenalnya. Walau orang-orang disekitar saya mengenalnya.
Lucu memang, saat orang jatuh cinta pada pandangan pertama tapi saya justu jatuh cinta pada stalking yang pertama.


Ini tepat 2 minggu, saya mengawasinya dalam diam.
Melihatnya menulis tweet dan berharap ada kode tersembunyi walaupun nyatanya tidak.
Ini tepat 2 minggu saya saya mengganggu sahabat saya dengan ocehan tentang dia.


Saat anatomi telah berkonspirasi.
Kini saatnya saya berharap semesta ikut melakukan konspirasinya.
Buatlah senatural mungkin wahai semesta, agar saya bisa dan berani untuk..
Untuk...

berkenalan. 

Jumat, 02 November 2012

Mungkin


"bagaimana kalau aku ingat kamu suatu saat nanti?"

"Bagus kan? itu menandakan pernah ada kita di masa lalu"

"Lantas, bagaimana jika aku rindu kamu suatu saat nanti?"

"Beritahu saja aku, saat itu terjadi"

"Untuk?"

"Untuk memastikan, bahwa kamu tidak menanggungnya sendiri dan kita bisa membagi rindu itu"

"Jadi kita berpisah?"

"Hmm.. mungkin kita hanya menunggu untuk kembali saling ingat dan saling rindu"

"Mungkin..."

"Mungkin..." 


Rinduku padamu itu sebanding dengan rasa benciku padamu.
Rinduku padamu ini, selabil cuaca Jogja saat ini.
Rinduku padamu ini mengantarkan pada entah kemana dan entah apa.

Mungkin kamu bertanya, bagaimana caraku bertahan untuk mengabaikan semua pesan dan sapaan singkatmu. Karena aku membiarkan titik yang bekerja bukan lagi koma.

Saat aku ingat, kamu menelfonku, saat aku terisak dengan semua masalah yang ada. Dan kamu tak pernah sekalipun memberikan kata-kata hangat. Hanya berkata "Ya udah sih" tapi justru itu yang menguatkan.
Saat sesekali aku mengetik namamu di kolom pencarian.
Saat aku sakit dan harus ingat bagaimana kamu yang menanyakan kabarku.
Saat... saat aku ingat kamu atau bahkan rindu,
Adalah saat dadaku dipukul oleh entah apa. Dan aku benci!

Tapi kepedihan itu hanya sesekali saja.
Sesekali mengoda.
Sesekali hadir.
Hanya sesekali.

Sesekali seperti hari ini.
© RIWAYAT
Maira Gall