Senin, 18 Mei 2020

Sebuah Percakapan


Dia membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Dia akan kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. AC nya kadang dinyalakan sebentar lalu dimatikan. Sekitar jam 9 atau 10 pagi, kadang juga bisa lebih awal, dia akan membuka jendela kamar dan menyibakan gorden. Di hari kerja, dia sering rapat virtual, bahkan sering seharian. Lalu dia akan keluar untuk mencari makan dan pulang tak lama setelahnya. Pilihan lagu-lagunya cukup monoton, lagu-lagu berbahasa Indonesia yang itu-itu saja, Dewa 19, Letto, atau ya lagu-lagu cinta. Kadang dia mengeluarkan suara seperti gemas ketika sedang menonton sesuatu, kemungkinan besar pertandingan bola. Dia juga sering terdengar mengaji. Beberapa kali dia membelikanku makanan yang ditaruhnya di meja atau di kulkas. Pernah suatu hari aku pergi dan dia bertanya aku ada di mana, karena kamarku sepi katanya. Pun saat sudah lebih dari jam 8 malam aku tidak melihat lampu kamarnya menyala, aku sedikit cemas menanti kapan dia pulang.

Walau dia ada di balik dinding kamarku, aku tidak begitu mengenalnya. Kami juga sangat jarang berbincang-bincang, kecuali jika harus berpapasan di dapur atau di garasi. Saat ini, hanya tinggal tersisa kami berdua, sehingga semua suara yang dia hasilkan dan semua rutinitas yang dia kerjakan adalah percakapan terbaik selama masa berdiam diri ini.

Bagi siapapun yang sedang berada dalam masa-masa seperti ini dan tidak begitu tahu harus pulang kemana, pasti setuju bahwa kehadiran seorang lainnya akan sangat dibutuhkan. Begitu juga aku. Aku sudah merasa sangat tenang hanya dengan melihat sendalnya ada di depan kamarnya atau ketika mendengar ponsel genggamnya mengeluarkan nada dering. 

Dengan semua kegaduhan yang dia hasilkan, dia menemaniku dan membuatku tidak merasa sendirian.

Source: https://id.pinterest.com/pin/672443788100502495/


Di Sebuah Hari Bersama dengan Lelaki yang Lahir di Bulan November




Saat awal-awal mengenalnya, aku sempat bertanya apakah namanya itu memang ada kaitannya dengan Bulan November? Seperti jika seseorang bernama Julia, dia mungkin lahir di bulan Juli, atau Agustina yang bisa jadi lahir di bulan Agustus, apakah namanya juga berarti demikian? Dia pun mengiyakan. Maka semenjak itu, aku selalu mengingat bulan November sebagai bulan kelahirannya. Walau tidak pernah mengucapkan secara langsung, tapi aku masih ingat tanggal pastinya kapan dia berulang tahun.

Perkenalan kami sudah terjadi lama sekali. Waktu itu aku masih menjadi seorang siswi di sekolah menengah atas dan dia adalah seorang alumni yang jaraknya cukup jauh dari aku, 4 atau 5 tahun kalau tidak salah. Aku bertemu dengannya pertama kali di acara reuni akbar yang mengundang alumni dari tahun 90an hingga alumni yang baru lulus di tahun itu. Aku sedang mengobrol dengan seorang alumni lainnya saat dia memasuki ruangan yang sama. Aku sadar dia menatapku dan setelah itu dia semacam mencoba masuk ke dalam percakapan antara aku dan alumni yang sedang aku ajak bicara. Agak mengganggu sebenarnya. Itu kali pertama semesta mengirimkannya padaku. Aku masih berumur kalau tidak 15 ya 16 tahun. Masih belia pokoknya.

Selanjutnya adalah kisah yang panjang. Sangat panjang, sampai-sampai di pagi hari saat aku menuliskan ini, aku harus berkali-kali diam sejenak, membuang nafas berat karena ingatanku akan dia berloncatan dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, dan dari satu emosi ke emosi lainnya.

Aku juga tidak tahu apakah aku harus menyebut ini sebuah kisah asmara atau kisah apa, tapi yang jelas, pernah ada satu masa di mana semua tulisanku hanya berkisar pada dia saja. Bahwa dalang dibalik semua emosi-emosiku pada saat itu adalah dia. Seorang teman yang mengenal kami berdua pernah berkata, “Kalian itu selalu aja begini selama bertahun-tahun, kalau yang satu suka, yang satunya biasa aja. Kalau yang satunya gantian suka, yang satunya udah sama yang lain. Kalau yang satu ketemu aku, pasti bakal nanyain yang satunya, yang satunya kalau dikasih tau kalau dia ditanyain, terus jadi gantian nanya juga. Gitu aja terus…” Mungkin kalau kisah ini diangkat jadi sinetron di layar kaca, ratingnya sudah anjlok karena terlalu monoton ritmenya.

Apa yang sebenarnya terjadi pada kami juga bukan sesuatu yang mudah aku bahasakan. Sulit sekali untuk menyimpulkan perasaanku padanya, perasaan dia padaku, atau bagaimana kami bisa ada di satu kisah yang sangat panjang. Tapi kami sepertinya harus sepakat bahwa ada masa dalam hidup kami berdua, di mana kami berharap satu sama lain bisa menemani kehidupan satu sama lainnya. Sayangnya, sama seperti yang teman kami katakan itu, kami tidak pernah ada dalam satu waktu yang sama saat keinginan itu ada. Selalu saja, takdir membuat kami beririsan.

Terlepas dari apa yang kami rasakan, dia adalah lelaki pertama yang membuat emosiku jatuh bangun. Aku tidak bicara soal cinta pertama karena memang bukan dia orangnya, aku sedang bicara tentang bagaimana aku mengenal keterikatan emosi pada lawan jenis untuk pertama kalinya. Mungkin ini lebih tepat dikatakan sebagai pengalaman pertamaku mengenal emosi dalam bentuk rasa suka.

Waktu aku mengenalnya dan kisah ini pertama kali ada, aku masih berusia belasan tahun sementara dia seorang mahasiswa. Beberapa alumni yang sering menjadi pembimbing ekstrakurikuler di sekolah dulu sempat beberapa kali memberitahuku tentang perasaanya, tapi pada saat itu, jujur aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Bahkan hingga bertahun-tahun setelahnyapun, aku masih saja gagap, bingung harus bersikap seperti apa. Kesalahan terbesar dari ketidaktahuanku menghadapi dia adalah caraku yang menggantungkan dia dan semua perasaannya dalam waktu yang lama. Aku bertindak seolah-olah aku tertarik padanya, padahal sebenarnya aku tidak benar-benar yakin dengan apa yang harus aku lakukan. Kami sama-sama awam dalam memahami ini, terutamanya aku.

Pola seperti itu terjadi cukup lama. Aku antara ada dan tiada baginya, dan dia yang akan selalu ada buatku. Hingga di satu titik, akhirnya diapun melangkah maju dan memiliki kehidupannya sendiri. Aku sempat merasa tertinggal saat mengetahui dia sudah memiliki kehidupan baru yang tidak ada kaitannya dengan aku. Lama-kelamaan, kamipun berjarak, tapi tidak benar-benar hilang. Aku tumbuh menjadi manusia dewasa dengan semua mimpi yang aku kejar dan kisah-kisah baru dengan lelaki-lelaki lain. Begitu pula dengan dia. Tapi setiap kali mengingat dia, ada sesuatu yang mengganjal di hati. Aku seperti dihantui hutang penjelasan atas semua sikapku padanya selama bertahun-tahun. Selalu saja muncul keinginan untuk bertemu dengannya dan berbicara panjang tentang hal ini, mamun aku juga tidak tahu harus memberikan penjelasan apa. Aku tidak punya kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi karena aku juga tidak tahu kenapa itu terjadi. Maka akupun pasrah dan membiarkan keganjalan ini tetap ada di hidupku selama bertahun-tahun lamanya.   

Kepasrahanku rupanya membuahkan hasil. Pelan tapi pasti, waktu dan rangkaian kejadian seakan memberikan keping demi keping pemahaman yang membuatku bisa memahami semua perasaan mengganjal ini. Hingga akhirnya, semua kepingan itu membentuk sebuah penjelasan yang utuh tentang dia, aku, dan apa yang sebenarnya terjadi.

Maka di sebuah hari di bulan Desember tahun 2019, setelah lebih dari 10 tahun kami saling mengenal, aku memberikannya sebuah penjelasan. Aku tidak tahu sebenarnya apakah penjelasan itu adalah hal yang penting atau tidak, dan apakah hal itu dia butuhkan atau tidak. Yang aku tahu adalah aku harus menyampaikan ini untuk diriku sendiri. Seperti sebuah hutang, aku merasa perlu memberikannya penjelasan.

Kami sepakat bertemu di daerah Setiabudi, Jakarta Selatan. Aku berangkat di jam yang tepat, agar aku tidak membuatnya menunggu. Cukup deg-degan sebenarnya. Aku pun sampai di tempat yang dia arahkan, dan dari kejauhan aku sudah bisa melihat sosoknya yang masih sama, tinggi menjulang! Diapun menyapaku ramah. Sudah lama sekali aku tidak mendengar suara dan ketawanya itu. Dia memboncengku dengan motor tuanya yang sangat retro, khas dia. Dia masih menjadi seorang copywriter, posisi yang sejak dulu selalu dia inginkan, dan dia masih memiliki hobi yang sama, melahap banyak buku dan karya seni. Sepintas, dia masih menjadi sosok yang sama dari terakhir kali kami bertemu.

Kami duduk dan makan siang di rumah makan yang dia pilih. Lalu akupun mulai bercerita, memberikannya penjelasan yang memang sudah aku persiapkan jauh-jauh hari. Saat berbicara, kadang-kadang aku menerawang dan nafasku tetiba memburu. Sedang dia, dia takzim mendengar. Akhirnya dengan susah payah, aku dapat menyelesaikan semua penjelasanku. Dia tidak banyak berkomentar, walau raut mukanya banyak berubah. Aku mencoba memahami kalau tentu saja tidak banyak hal yang bisa dia sampaikan padaku. Dia toh harus mencerna dan mengatur emosinya juga. Walau sejujurnya aku ingin mendengar dia mengatakan sesuatu tentang apa yang dia rasakan. Tapi nihil.

Karena sudah telalu lama di tempat makan, kamipun pindah ke sebuah kedai kopi di salah satu pusat pembelanjaan di daerah Setiabudi. Hari itu, entah ada skenario apa, kami bertemu dengan teman baiknya yang juga merupakan alumni yang aku kenal baik. Kebetulan alumni itu sedang mampir ke Jakarta bersama dengan istri, ipar, dan anak-anaknya. Maka kamipun melakukan reuni kecil-kecilan sambil berbincang ringan. Agak sedikit canggung sebenarnya karena sudah sangat lama aku tidak pernah bertemu dengan si alumni itu. Tidak lama, rombongan dari Jogja itupun pamit pulang dan menyisakan kembali aku dan dia.

Karena dia tidak juga mengatakan apapun, aku hendak mengakhiri hari itu dengan berpamitan. Aku berkata bahwa aku akan pulang naik transjakarta karena toh sudah sore. Mendengar itu, raut mukanya seperti enggan tapi akhirnya dia setuju. Dia membujuk untuk menemaniku berjalan hingga halte transjakarta. Aku menolak awalnya karena aku butuh waktu untuk berjalan sendiri, tapi dia memaksa, maka kamipun berjalan menuju halte.

Ada sebuah bangku panjang di pinggir jalan dekat dengan jembatan penyebarangan menuju halte transjakarta yang akan aku tuju. Kamipun memutuskan untuk duduk sebentar di situ. Pas sekali karena langit sore waktu itu sedang cerah dan lalu lintas Jakarta juga tidak padat. Cocok memang untuk duduk-duduk sore.

Kamipun duduk.

Sama-sama diam.

Kayaknya daritadi aku terus ya yang ngomong? Engga mau cerita apa gitu?” tanyaku. Dia menggeleng.

Kesabaranku seketika hilang. Aku tidak tahu kenapa aku harus duduk menikmati langit sore Jakarta dengan seseorang yang sudah aku lukai perasaanya, sementara dia diam saja. Seperti menyiksa diri dengan melihat dia tetap diam sementara aku butuh waktu untuk bernafas. Akhinya terjadilah yang tidak aku rencanakan, sesuatu yang aku sesali hingga hari ini, aku memaksanya berbicara. Dengan nada agak tinggi aku berkata, “At least tell me what you feel!” Dia akhirnya berkata beberapa hal yang menurutku hanya karena keterpaksaan saja, selebihnya dia kembali diam.

Aku tidak tahan.

Di akhir waktu kami di bangku itu, dia bertanya apakah dia bisa mengajaku pergi lagi. Aku pribadi tidak tahu apakah itu ide yang bagus atau tidak untuk kami saling bertemu setelah hari itu, tapi aku katakan bahwa tentu saja aku tidak akan menolak kalau dia mengajaku pergi di lain hari. Walau sebenarnya aku sanksi hari itu akan terjadi.

Setelah kebisuan yang panjang dan emosikupun sudah terkuras habis, maka aku berpamitan padanya. Aku memintanya untuk tidak menemaniku berjalan. Dia setuju.

Ketika menaiki jembatan penyebrangan menuju halte transjakarta, dadaku terasa ringan, semua keganjalan itu seperti pecah. Aku tersenyum di sore itu, lega. Aku sudah mengakui kesalahanku, semua sikap kekanak-kanakanku, mengakui akar masalahnya. Aku merasa hutang itu telah terbayar. Ada memang perasaaan tidak enak muncul ketika membayangkan bahwa mungkin dia terluka dengan pertemuan ini. Sempat ada hasrat untuk menghubunginya lagi, sekedar untuk bertanya kabarnya, tapi aku urung. Apapun yang dia rasakan harus dia hadapi sendiri. Setidaknya aku tidak perlu ikut campur untuk bagaimana cara dia menghadapi pertemuannya denganku. Karena kalau tidak, aku masih menjadi orang yang sama yang membuat kami hanya berputar-putar di situ-situ saja.

Maka di hari itu, kisah panjang inipun memiliki sebuah penjelasan diakhirnya. Sesuatu yang aku syukuri karena tidak semua kisah memilikinya. Dan kini setiap kali aku melintas di area Setiabudi dan melihat bangku di pinggir jalan itu, aku akan selalu mengingat bagaimana bangku itu telah menjadi saksi bisu dua emosi manusia yang pecah di sebuah sore.

Begitulah satu hari yang panjang bersama dengan lelaki yang pernah bertanya, “Lagi baca buku apa bulan ini?” dengan intonasi yang benar-benar tulus karena dia juga seorang kutu buku. Lelaki pertama yang mengajaku menonton teater dan berbicara panjang lebar tentang seni. Lelaki yang mengenalkanku pada dunia periklanan dan Efek Rumah Kaca. Lelaki yang pernah membuat degup jantung berdebar kencang dan air mataku tumpah berhari-hari karenanya. Dia adalah lelaki yang lahir di bulan November dan aku akan selalu mengenangnya sebagai satu dari sangat sedikit lelaki yang membentukku hingga menjadi aku di hari ini.

Aku sangat bersyukur kisah antara aku dan dia pernah ada. 

Source: https://id.pinterest.com/pin/229683649734409349/


Jumat, 08 Mei 2020

Ketika Masakan Terhidang

Waktu KKN tahun 2012, saya belum ada kepikiran apa-apa soal pekerjaan domestik rumah tangga, mulai dari memasak, beres-beres, atau bahkan belanja bulanan. Mungkin karena waktu itu saya masih membayangkan kehidupan saya setelah lulus kuliah nanti adalah sebagai wanita karir papan atas ibukota, sehingga saya merasa tidak perlu bersentuhan dengan pekerjaan domestik rumah tangga macam itu. Saat itu saya berpikir bahwa melakukan pekerjaan domestik itu ribet, melelahkan dan terlebih saya juga tidak bisa melakukannya dengan baik. Maka ketika saya KKN dan harus tinggal satu rumah dengan 9 orang lainnya di Papua Barat yang sangat pelosok itu, saya sebenarnya merasa sedikit was-was, bagaimana kalau akhirnya saya ini dicibir oleh anggota tim lainnya karena payah melakukan pekerjaan domestik? Padahal saya kan, perempuan? Perempuan kok tidak bisa memasak, menyapu, dan beres-beres? 

Tapi seperti halnya KKN di daerah terpencil, kami memang harus melakukan semua kegiatan sendiri sebagai tim. Mulai dari menjalankan program KKN hingga kegiatan domestik tim, semuanya harus saling gotong-royong. Untuk itulah, komandan unit saya pun membuat jadwal dan tim piket memasak dan beres-beres agar kami semua kebagian jatah. Dan sedikit info, kelompok KKN saya ini saya hanya terdiri dari 4 perempuan yang mana 3 diantaranya dipandang bisa melakukan aktivitas domestik dengan baik, terutama memasak. Sementara saya, saya dipandang lebih jago untuk melaksanakan program-program KKN. Sebuah asumi yang tepat. 

Maka jadilah, mau tidak mau, suka tidak suka, ya saya tetap harus melaksanakan jadwal masak dan beres-beres. Untuk memasak, saya masuk di 2 kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang di dalamnya ada teman perempuan saya yang jago memasak. Orang Medan pula, jadi masakannya selalu kaya rasa. Sementara kelompok kedua berisi dua lelaki yang juga tidak bisa memasak sama sekali seperti saya. Kalau kebagian jadwal piket masak di kelompok pertama, saya dan satu teman lelaki hanya akan kebagian tugas potong-potong bahan masakan saja, selebihnya kami hanya ngobrol di dapur yang kecil itu sambil menemani si orang medan ini masak. Tapi kalau sudah masuk di kelompok masak tim kedua, wah jangan tanya, kami hanya akan masak olahan mie dan sarden saja. Hal yang sama saya rasakan ketika kebagian jadwal beres-beres rumah pastori (tempat kami semua tinggal) dan cuci piring. Rasanya ingin barter saja dengan memberikan sosialisasi ke satu Papua daripada harus berhadapan dengan piring kotor 10 orang, panci-panci kotor habis masak, dan masih harus jalan ke sungai di dekat bukit untuk mencuci itu semua pula! Deuh...

Melihat betapa payahnya saya melakukan kegiatan domestik, terlebih urusan memasak, salah seorang teman lelaki saya berkata begini, "Peh, perempuan itu harus bisa masak biar disayang suami. Ntar cari istri lagi loh dia." Entah dia itu sedang memberikan motivasi atau memang pikirannya saja yang patriarki, masih jadi pertanyaan saya  hingga hari ini. Tapi biar cepat, saya iyakan saja perkataan dia itu dengan ketus. Namun begitu, saya ya juga tidak bisa marah dengan dia, karena jujur saja, saya kagum kalau melihat teman-teman perempuan saya itu dan bahkan beberapa teman lelaki saya, bisa memasak dengan baik di saat kami memang sangat membutuhkan asupan yang lezat dan bergizi. Bagaimana bisa mereka meracik semua bahan-bahan mentah lalu menjadikannya masakan enak? Bahkan Mas Yoyok saja bisa membuat sayur daun singkong santan dan ikan kuah yang.... luar biasa rasanya! Saat itulah akhirnya saya mempunyai tantangan untuk diri sendiri, bahwa suatu hari nanti saya pasti bisa memasak. 

Hingga 8 tahun kemudian setelah ucapan itu diucapkan, dan tantangan itu saya gaungkan, saya merasa ada banyak perubahan dalam hidup saya soal kegiatan domestik, terutama perkara memasak. Bahkan alasan yang mendorong saya menulis tulisan ini adalah karena saya baru saja membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Yap, saya lebih sering memasak sekarang. Dalam beberapa hari ke depan, saya berencana mau bikin kue kering dan basah. Apakah itu  karena saya inpulsif tidak ada kerjaan di masa pandemi ini? Tidak juga sih. Sama sekali tidak ada kaitanya dengan impulsifitas. Alasannya adalah karena sejak dua tahun terakhir, tanpa saya duga-duga, saya menikmati melakukan kegiatan domestik, mulai dari beres-beres, belanja di pasar tradisional, dan memasak! Terutama di masa pandemi ini, saya malah bersyukur karena lebih punya banyak alasan untuk berkreasi dengan resep-resep. Sebuah kejutan, bukan?

Sebenarnya perkenalan saya dengan memasak dan pekerjaan domestik itu dimulai sejak kepindahan saya ke Jakarta. Motivasi awalnya memang dilakukan sebagai upaya bertahan hidup, tapi lama kelamaan saya menikmati melakukan itu semua. Alhasil, saya sudah berhasil membuat masakan-masakan rumah yang rasanya cukup memuaskan dan bahkan membuat kue-kue sederhana tanpa oven. Pun beres-beres adalah hal yang saya lakukan tanpa mengeluh.

Jadi apakah saya akhirnya mempertimbangkan saran teman KKN saya itu untuk belajar memasak agar suami saya kelak tidak mencari istri lain? Ya tentu bukan! Bukan itu motivasinya. Ketika saya akhirnya bisa memasak dan tidak merasa keberatan melakukan pekerjaan domestik lainnya, itu semua saya lakukan karena saya ternyata menikmatinya. Kemampuan memasak yang ingin saya asah ini adalah karena saya memang menyukainya, bukan karena keterpaksaan.

Teman dekat saya, perempuan juga, dia ngekos di tempat lain di Jakarta, seorang data jurnalis handal Indonesia, pernah sekali waktu mengirimkan pesan singkat di masa pandemi ini yang isinya, "Aku happy hari ini, aku engga usah masak. Hari ini aku go-food. Ternyata aku engga suka masak. Masak bikin stress." Tidak hanya wanita yang seumur dengan saya, ketika saya memamerkan hasil masakan-masakan saya kepada bunda, bunda merespon dengan "Iya nih, Bunda juga sedang belajar mencintai dapur". Kalau mama saya, wah jangan tanya, dia adalah dalang kenapa saya tidak mengenal dapur dan masak. Mama tidak pernah mengajak saya ke dapur karena kegiatan memasak itu bukan mama banget. Dia sendiri pada dasarnya tidak nyaman dengan dapur yang berantakan ketika memasak dan itu alasan terbesarnya mengapa tidak pernah mengenalkan saya dengan dapur. Beda dengan nenek. Nenek adalah wanita yang sangat handal dalam memasak. Semua masakannya enak dan dia bisa memasak makanan apa saja. Waktu kecil, saya permah berpikir bahwa kalau nenek meninggal, maka saya bisa mati kelaparan.

Di titik ini, saya jadi berpikir bahwa semua manusia pada dasarnya mempunyai kompetensi untuk melakukan semua hal di dunia ini, tanpa peduli dia lelaki atau perempuan. Termasuk perempuan dan keahlian memasak itu sendiri. Saya merasa bahwa stigma yang diberikan pada perempuan bahwa kami harus pandai memasak, bersolek, mengambil hati pria, cerdik melihat harga, dan mengatur rumah itu adalah keahlian yang sangat mudah bisa dilakukan oleh perempuan manapun. Semua perempuan bisa melakukan itu semua selama dia mau.

Saya tidak percaya bahwa ada perempuan yang tidak bisa melakukan pekerjaan domestik, bagi saya yang ada hanyalah perempuan yang merasa tidak nyaman dan berat hati dalam melakukannya. Mereka bisa, hanya tidak menikmati melakukannya karena satu dan lain hal. Keahlian macam masak, beres-beres, belanja, menjahit, dandan, bikin kue, menyetir, bikin laporan keuangan, hingga menggerakan pesawat bisa dipelajari oleh siapapun. Semuanya bisa melakukannya, perkara dia mahir atau tidak, dia menyukainya atau tidak, nah baru menjadi hal lain. Jadi apakah kita, perempuan terutama, harus suka memasak? tentu saja tidak! 

Saya tidak menikmati merias wajah tapi saya bisa dandan untuk acara-acara tertentu yang mengharuskan saya dandan. Teman saya yang data jurnalis itu, bukan berarti tidak bisa masak, dia pernah membuatkan saya spaghetti carbonara yang lezat. Masakan lebaran mama mulai dari opor dan sambel goreng atinya pun sangat lezat kami santap di setiap lebaran, walaupun dia uring-uringan selama memasak. Teman saya yang lain, hanya bisa memasak masakan yang tidak ada rasanya, tapi bagi dia, dia sudah memasak. Jadi yang perlu diingat oleh semua orang adalah, keahlian itu pilihan untuk dipelajari, tapi bukan berarti seseorang itu harus benar-benar menyukainya. Motivasinya bisa saja berbeda, dan itu tidak ada kaitannya dengan menguasi sebuah keahlian tertentu. Jadi kalau mau berbicara soal menghargai keahlian perempuan dalam hal memask, justru saya yang harusnya lebih menghargai mama yang tidak suka memasak tapi tetap memasak opor, dibanding nenek yang memang pada dasarnya suka memasak. Itu artinya mama saya mau berkorban untuk membuat opor yang enak saat lebaran. 

Jika seorang perempuan akhirnya turun ke dapur dan memasak, itu bisa jadi untuk beragam alasan. Mungkin untuk alasan ekonomi, sebuah hobi, cara pelampiasan stress, aktualisasi diri, atau karena dia menghormati perannya sebagai istri dan ibu. Seorang perempuan boleh saja mempelajari cara memasak, tetapi tidak ada yang boleh mengkoyak identitasnya sebagai perempuan hanya gara-gara urusan bisa memasak atau tidak, bisa melakukan pekerjaan domestik dengan baik atau tidak. Lagipula, mau sepayah apapun seorang perempuan dalam memasak, semua anak dan suami pasti punya masakan favorit yang dibuat langsung oleh ibu atau istri mereka. Coba saja tanya mereka. Karena kan ini bukan soal keahlian, masakan yang terhidang itu soal perhatian dari perempuan yang menjalankan perannya.

Ditambah... Tidak ada yang benar-benar harus di muka bumi ini kecuali hal-hal mendasar seperti bernafas, makan, minum, buang air besar, tidur, dan hal-hal alamiah lainnya yang merupakan kebutuhan manusia. Selebihnya, semua hal itu adalah pilihan, tidak ada yang benar-benar menjadi sebuah keharusan.

Ini adalah salah satu desain dapur idaman saya. Sederhana tapi siap diberantakan dengan tepung atau kunyit.
Source: https://i.pinimg.com/564x/4b/88/95/4b8895a5bb7da8d641acaddf7eaca83f.jpg

© RIWAYAT
Maira Gall