Minggu, 28 Juni 2020

25 Juni ke 29 kalinya


Five hundred twenty-five thousand six hundred minutes, how do you measure a year?
In daylights? In sunsets? In midnights? In cups of coffee? 
In inches? In miles? In laughter? In strife?
In five hundred twenty-five thousand six hundred minutes, how do you measure a year in the life?
How about love? 
Measure in love.
(Rent-Seasons of Love)

Coba bayangkan sebuah iklan krim anti penuaan. Sudah? Visualisasikan dengan jelas iklan itu, yang biasanya dimulai dengan adegan seorang model wanita yang sedang bercermin sambil memegang matanya yang telah muncul kerutan halus. Setelah memegang kerutan halus tersebut, muncul adegan yang menampilkan kesedihan si wanita karena dia merasa telah menua dan dilanjutkan dengan tampilan produk krim anti penuaan yang akhirnya digunakan oleh si model. Tak lama, adegan berubah dengan menampilkan senyum manis si model sesaat setelah menggunakan produk tersebut, dan terakhir akan muncul sebuah tagline untuk mempersuasi penonton membeli produknya.

Terbayang jelas? Nah, seperti itulah yang kira-kira saya alami di sebuah malam. Di malam ketika saya sedang membersikan wajah di depan cermin, dan adegan iklan krim anti penuaan itu akhirnya saya alami sendiri. Saya memegang mata, lebih mendekat kearah cermin, dan menyadari bahwa beberapa kerutan halus sudah muncul di sana. Juga persis seperti adegan dalam iklan tersebut, sayapun seketika menjadi muram. Hanya bedanya, jika di dalam iklan krim anti penuaan itu tidak ada adegan yang menceritakan mengapa si wanita itu bersedih, sehingga seakan-akan alasan wanita itu bersedih adalah semata karena muncul kerutan, sementara saya dalam kenyataannya, justru duduk termenung dan menyadari bahwa setahun lagi, saya akan memasuki kepala 3.

Tidak saya sangka bahwa insight yang dipakai dalam membuat iklan krim anti penuaan yang berdurasi 30 hingga 60 detik itu benar-benar nyata. Yaitu tentang kecemasan seorang wanita yang menyadari bahwa usianya tidak lagi remaja dan mulai berpikir tentang hal-hal besar seperti pernikahan, memiliki anak, dan bagaimana membagi hidup antara mimpi pribadi dan kodrat alaminya sebagai wanita. Walaupun iklan tersebut tidak menampilan secara gambling kecemasan-kecemasan macam itu, tapi saya yakin, kerutan menjadi sebuah simbol yang diamini semua wanita bahwa dia harus lebih “serius” lagi dalam menentukan keputusan untuk hidupnya kedepan.

Saya ingat waktu saya masih berusia 12 tahun, saya sering membaca majalah Femina yang mama beli. Bagian yang selalu saya baca adalah bagian kolom curhat dari wanita-wanita berusia antara 25-35 tahun. Biasanya mereka akan curhat masalah rumah tangga, keuangan, pekerjaan, dan bahkan seks yang akan dijawab oleh pakar psikologi. Muncul dalam pikiran saya saat membaca itu adalah betapa rumitnya menjadi wanita dewasa, masalah mereka menyeramkan, belum lagi banyak konteks-konteks yang belum saya pahami, seperti mertua yang tidak akur dengan menantulah, hingga perkara hutang piutang. Jika sudah begitu, saya akan langsung menutup majalah Femina dan kembali membaca serial Oki dan Nirmala di Majalah Bobo.

Hingga akhirnya adegan kerutan halus itu muncul dan mengingatkan saya bahwa ternyata saya sudah masuk dalam kategori wanita dewasa menurut versi saya saat berusia 12 tahun.  Tidak terasa juga ya waktu berjalan. Saya jadi berpikir, jangan-jangan saya sudah mendengar sendiri masalah-masalah kehidupan yang dulu saya baca di majalah Femina melalui teman-teman saya, atau malah mengalaminya sendiri beberapanya. Hmm…

Jadi, bagaimana sebetulnya menjadi wanita dewasa itu? Apakah benar menyeramkan dan rumit?

Hal terbaik yang bisa saya katakan tentang menjadi wanita dewasa adalah soal tanggungjawab dan mencintai diri sendiri. Walaupun klise, tapi saya membenarkan bahwa tidak ada ukuran atau indikator tertentu yang bisa mengatur jalan hidup seorang wanita dewasa. Menikah contohnya, bukan berarti karena sudah 29 tahun seorang wanita harus menikah, tapi lebih kepada kalau sudah berada pada “titik” nya dia ingin menikah karena alasan-alasan yang bisa dia pertanggungjwabakan, maka menikahlah. Jadi sangat penting bagi saya untuk menjalani kehidupan sebagai wanita dewasa, dengan selalu berpikir bahwa saya harus bisa bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan hidup saya tanpa merepotkan orang lain, dan belajar untuk bisa mencintai diri sendiri dengan cara yang tepat.

Namun begitu, tidak bisa dipungkiri, kecemasan tetap saja kecemasan. Apalagi menuju usia 30, di saat kebanyakan wanita sebaya saya bahkan sudah hamil anak kedua, tentu saja ada bagian dari diri saya yang resah. Apakah saya juga akan menikah dan punya anak? Atau apakah saya akan seperti ini terus?

Hingga suatu hari ketika saya naik bus transjakarta yang sepi, sambil melihat hiruk-pikuk Jakarta, saya tersadarkan bahwa mungkin saja saya ini sedang diberikan waktu yang lebih lama untuk menyenangkan diri saya sendiri sepuas-puasanya sebelum menikah. Mungkin memang Rabb melihat bahwa hal yang paling saya butuhkan saat ini adalah bagaimana saya belajar mencintai dan memanjakan diri sendiri dulu. Mungkin ini adalah waktu yang diberikan sebagai hadiah karena saya belum pernah benar-benar memikirkan hidup saya sendiri selama ini. Dan saya menyusukuri hal itu dengan sungguh-sungguh. Saya menikmati momen-momen saya bisa membeli barang dan makanan apapun yang saya mau. Saya menikmati waktu yang saya curahkan untuk diri saya sendiri. Saya mensyukuri kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bisa mengenal diri saya lebih baik lagi dan untuk menyembuhkan trauma-trauma masa lalu. Saya senang diberi kesempatan untuk bisa pelan-pelan selesai dengan diri saya sendiri.

Sebenarnya ini mirip dengan iklan krim anti penuaan. Bedanya, saya tidak tersenyum karena sebuah produk, tapi saya tersenyum karena saya menjadi wanita dewasa dalam keadaan sehat, memiliki pekerjaan yang baik, dikelilingi teman-teman yang suportif, tidak memiliki hutang dan masalah keuangan, serta baru saja merasa terbebas dari kisah asmaara yang berbeli-belit. Saya tersenyum karena saya memiliki lebih dari cukup hal-hal yang bisa membuat saya tersenyum.

Saya menjadi wanita dewasa dengan sosok yang saya banggakan. Tidak sempurna menurut standar kehidupan pada umumya, tapi saya merasa cukup dan bersyukur dengan hidup saya sendiri. Alhamdulilah..

Hari ini saya resmi berusia 29 tahun. Untuk itu, ijinkanlah saya menghaturkan harap agar perlahan-lahan, semua mimpi yang saya upayakan dapat terwujud. Ingin ini-ingin itu banyak sekali. Terlebih, keinginan terbesar saya saat ini agar diberikan jalan dan kesempatan untuk kembali mencintai, dan dapat memiliki keluarga kecil yang saling cukup-mencukupi. Di mana kelak, pernikahan menjadi ternyaman bagi saya dan pasangan sebagai tempat pulang. Juga agar keberadaan satu sama lainnya dapat saling membantu untuk bisa tumbuh sebagai manusia yang lebih baik lagi. Semoga Rabb membukakan jalanNya dengan waktu yang disegerakan.

Aamiin.


https://id.pinterest.com/pin/229683649733547810/

Sabtu, 20 Juni 2020

Cendol Duren dan Koordinat Bahagia

You could sustain or are you comfortable with the pain? 
You've got no one to blame for your unhappiness, you got yourself into your own mess. 
Lettin' your worries pass you by. Don't you think it's worth your time to change your mind?
(Hold On - Wilson Phillips)

Untuk pertama kalinya, di minggu kedua Bulan Juni, pimpinan saya akhirnya mencari cara agar kami dalam satu unit dapat bekerja di kantor walau hanya beberapa jam saja. Tentu kami semua merespon usulan itu dengan gembira. Bayangkan saja, setelah nyaris 3 bulan harus bekerja di rumah masing-masing, rasanya sangat senang bisa kembali ke kantor dan bertemu dengan semua orang di tim. Kamipun mengatur hari serta agendanya, kami mencoba untuk membuat fasilitasi dengan daerah secara daring, tetapi kali ini kami melakukannya dengan semua anggota tim lengkap berkumpul di ruang rapat.

Beberapa hari sebelum itu, saya merasa bahwa suasana hati saya kembali tidak menentu, acak-acakan dan tidak bisa diajak kompromi. Mungkin saya yang tidak sadar mengalami burnout atau mungkin metabolisme tubuh yang kurang baik dikarenakan periode menstruasi yang berantakan dan ditambah dengan saya yang berpuasa juga saat itu. Atau bisa juga karena saya yang segitu kesepiannya sehingga saya miliki ekspektasi yang berlebihan untuk bisa bertemu dengan seseorang saat itu. Intinya saya seperti harus berjuang untuk tidak terus-terusan bertahan dengan perasaan seperti itu, hingga usulan untuk bisa kembali ke kantor walau sejenak terdengar begitu menyenangkan.

Hingga tibalah di hari H saat kami semua akhirnya datang ke kantor. Saat melihat satu per satu anggota tim yang terdiri dari 5 orang itu datang semua, saya benar-benar terharu. Akhirnya bisa kembali berkomunikasi secara langsung dengan mereka. Di tengah-tengah konsultasi virtual, pimpinan saya membisikan pada saya, “Alifah, kamu sudah cendol duren engga?” Saya menjawab dengan juga berbisik, “SUKA DONG PAK!’ Lalu beliau berkata, “Tunggu ya kira-kira 10 menit.” Katanya sambil berlagak melihat jam tangannya. Dan benar saja, tidak lama kemudian, satu kardus cendol duren datang untuk satu tim. Di hari itu saya sebenarnya sedang berpuasa, tapi melihat ekspresi pemimpin saya yang sebegitu semangatnya menyuruh saya mencoba es cendol, saya tidak tega. Ditambah lagi, salah satu anggota tim yang lain juga berencana untuk mentraktir kita semua makan siang, maka semakin besarlah keinginan saya untuk membatalkan puasa dan menikmati semua sajian hari itu.

Saya pun akhirnya mengambil satu gelas cendol tersebut, membukanya, dan menuangkan gula merah kental ke dalamnya, serta mengaduknya perlahan. Saya meminum es cendol duren itu dengan takzim karena rasanya yang enak sekali! Seketika, suasana hati saya kembali membaik dan saya seperti dapat energi tambahan. Mungkin karena hormon PMS dan saya yang tadinya sedang berpuasa, sehingga ketika mendapat asupan gula, tubuh saya menjadi lebih bersemangat. Atau bisa juga karena karena saya tersadar bahwa saya menjadi salah satu yang beruntung hari itu karena memiliki pemimpin super loyal serta tidak termasuk dari mereka-mereka yang dirumahkan di masa pandemi ini.
Hari itu berjalan yang cukup lancar. Konsultasi virtual dengan daerah berjalan dengan tanpa kendala, setelahnya kami sempat melakukan briefing singkat tentang apa yang kami lakukan pada bulan ini dan bulan depan, dan berakhir dengan makan bersama satu tim dengan makanan yang lezat dibeli dari aplikasi daring.

Tetapi hari itu belum selesai. Sesampainya di kosan, setelah mandi dan bebersih, saya masih harus mengikuti satu sesi conference call hingga sore dan berjanji untuk menelpon sahabat saya di Jogja setelahnya. Maka sesuai janji, setelah sesi conference call selesai dilakukan, saya berbincang panjang dengan sahabat saya. Dia bercerita tentang rencananya melakukan inseminasi kehamilan dan perjuangannya agar tetap waras ditengah gempuran ibu mertua yang memaksanya untuk segera hamil. “Aku belum pernah cerita ini nih sebelumnya, semuanya aku pendem sendiri, lega banget bisa cerita sama kamu akhirnya sist.” Katanya sambil menangis. Saya yang mendengar hanya bisa memberikannya ruang untuk mengeluarkan semua emosinya saja sambil sesekali berkata, “Gapapa…. Keluarin aja sist.” Rupanya, bagi teman saya itu, bercerita dengan saya adalah salah satu hal yang ia nantikan, salah satu hal yang menjadi hiburannya.

Hari itu saya kembali diingatkan bahwa rasa syukur memang tentang perspektif dan kebahagiaan adalah tentang sudut pandang. Dalam satu hari itu, sebetulnya ada banyak hal yang membuat hati saya uring-uringan, tapi rupanya, sesederhana 3 gelas cendol duren yang saya minum dan mendengarkan teman baik saya bercerita dapat membuat saya kembali tersenyum dan bersyukur karenanya.

Terkadang, kita memang tidak perlu untuk melihat satu hari secara utuh. Untuk apa juga? Toh sering kali kita gagal memahami apa yang terjadi sepenuhnya dalam satu hari itu. Kenapa ini begini, kenapa itu begitu, kita lebih sering merasa bingungnya daripada memahaminya. Mungkin semua yang kita gerutukan hari ini, akan terjawab di hari lain. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah membuat kordinat tertentu, menyerongkan sudut pandang, dan melihat sisi di mana kita bisa merasa bahagia dan bersyukur di hari itu. Tidak perlu melihat dari atas, hanya perlu menggeser sudut pandang dan merasa cukup atas apa yang terjadi. Jadi misalnya, kalau hari itu saya mempunyai cendol duren, mungkin besok saya bisa tersenyum dan bersyukur hanya karena saya bisa tidur dengan nyenyak dengan memeluk guling yang empuk. 


Minggu, 14 Juni 2020

Perihal Beradaptasi Seorang Diri (1)



Di masa pandemi seperti ini, saya yakin semua orang memiliki tantangannya masing-masing. Pernah satu ketika, saya menyapa salah satu teman yang bekerja di bidang event organizer. Dia bercerita tentang bagaimana pandemi ini membuat aspek finansialnya berantakan, karena tentu saja, tidak ada satupun event yang bisa dijalankan karena semua orang menghindari keramaian. “Aku bahkan sampe cari cara buat bikin konten online loh. Trus sekarang aku juga jualan online barang-barang yang aku beli dari luar negeri biar ada tambahan income.” Dia juga menambahkan bahwa kondisi seperti ini kemungkinan besar akan berlangsung hingga akhir tahun, yang artinya dia harus melakukan penghematan besar-besaran demi menjaga kelangsungan hidup. Teman saya yang lain, harus mendapat episode hidup yang tidak kalah mengaggetkan. Selain rencana pernikahannya yang harus dijalankan secara virtual karena pandemi, dia juga harus menerima fakta bahwa tunangannya didiagnosa kanker pangkreas. Di saat semua orang menghindari datang ke rumah sakit karena takut terpapar virus covid-19, si teman saya dan tunangannya justru harus harus bolak-balik dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya untuk mencari perawatan yang tepat. Tidak hanya harus menjaga kesehatan fisik, tapi dia juga harus menjaga kesehatan mentalnya dan tunangannya tetap stabil. Sungguh bukan perkara yang mudah. Ada juga teman saya yang lain, dia baru saja pindah kerja dari bidang jurnalistik ke perbankan. Dia bercerita bahwa belum juga dia memulai pekerjaan barunya secara langsung, dia kini harus beradaptasi dengan sistem work from home yang seumur-umur belum pernah dia lakukan. Alhasil, dia mengaku kesulitan untuk melakukan pekerjaan barunya dengan maksimal, serta kebingungan bagaimana caranya harus berkenalan dengan rekan kerjanya di kantor baru dengan kondisi semua serba virtual. “Duh, Peh, lumayan stress loh aku, engga bisa catch up gini sama kerjaan dan orang-orang baru.”

Semua orang berjuang dengan tantangannya masing-masing, tidak terkecuali saya.

Di masa pandemi seperti ini, beruntung saya tidak mengalami masalah finansial karena sektor pekerjaan saya bukan salah satu yang terdampak, tidak juga harus berjuang untuk menyesuaikan ritme kehidupan dengan sistem work from home karena saya sudah terbiasa melakukannya sejak awal saya bekerja, pun saya tidak dalam kondisi sakit atau memiliki tanggungan orang sakit yang mengharuskan saya untuk bolak-balik ke rumah sakit dengan resiko terpapar virus covid-19. Saya tidak mengalami itu semua, memang betul, tapi saya harus menjalani masa pandemi ini, melakukan karantina ini, sendirian. Sen-di-ri-an.

Ica, teman baik saya yang juga tinggal satu rumah kos dengan saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman bahkan sebelum status PSBB resmi diterapkan pemerintah. Saya ingat di suatu sore saat dia mengetuk kamar saya dan mengatakan bahwa dalam 2 atau 3 hari kedepan dia akan pulang dan mungkin akan kembali ke Jakarta setelah semua ini reda, yang mana entah kapan itu terjadi. Bisa 2 bulan, 3 bulan, atau entah kapan. Jujur, berat awalnya untuk menerima keputusan itu. Sulit bagi saya membayangkan bahwa nanti di Bulan Ramadhan dan bahkan lebaran, saya harus menjalani semuanya sendiri. Saking sulitnya saya menerima keputusan itu, saya bahkan puasa bicara dengannya hingga H-1 sebelum dia pulang. Di hari H saat Ica pulang, perasaan saya campur aduk, tidak karu-karuan. Saya putuskan hari itu untuk ke kantor walaupun tidak ada orang dan dilanjutkan jalan-jalan keliling Jakarta dengan seorang teman saya yang lain. Saya butuh mempersiapkan diri menghadapi kesendirian yang cukup panjang.

Saya tidak bisa pulang kampung atau lebih tepatnya memilih untuk tidak pulang untuk banyak sekali alasan. Alasan terbesar adalah karena saya merasa lebih aman dan nyaman menjalani karantina di Jakarta, di kamar saya yang luas ini dibandingkan di tempat manapun. Hingga detik ini, saya tidak menyesali keputusan untuk tidak pulang, saya hanya perlu menelan konsekuensi dari pilihan yang telah saya buat ini.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti menaiki roller coaster. Ada hari di mana saya menangis sesenggukan hingga sesak nafas, ada hari di mana saya tidak mau melakukan apapun selain membuka hal-hal tidak bermanfaat di sosial media, ada hari di mana saya bisa bekerja dengan efektif, ada hari di mana saya sangat bergembira, dan ada hari di mana saya merasa kebas dan hanya ingin melamun tanpa diganggu virtual meeting, WhatsApp chats, atau komunikasi apapun. Hari-hari berjalan dengan tantangannya masing-masing.

Saya mencoba berbagai cara untuk tetap waras. Mulai dari mencoba menu masakan baru, lebih banyak membaca, mendengarkan musik-musik alternatif, memperkuat nilai-nilai hidup, memasang target harian, membeli barang-barang yang bisa mempercantik kamar, menonton film dan drama televisi, olahraga, dan bahkan memulai proyek menulis bersama seorang teman. Tapi rupanya, kesepian tetap saja tidak terelakan. Bahkan sesering apapun video call yang saya lakukan dan sebanyak apapun percakapan yang terjadi melalui whatsapp, nyatanya tidak bisa menggantikan bagaimana menyenangkannya dapat berbincang dengan manusia secara langsung. Ketika saya membeli sayur di tukang sayur, saya benar-benar menikmati percakapan secara langsung dengan abang tukang sayur. Sesuatu yang terasa seperti meminum kelapa muda dingin di siang hari yang terik. Menyegarkan bagi jiwa.

Sebenarnya sih, secara teknis, saya tidak benar-benar sendirian. Masih ada 2 orang yang juga bertahan di sini, satu di atas dan satu di bawah, serta si pemilik kosan. Tapi kami jarang sekali berinteraksi lansgung, sehingga bagi saya itu tidak berarti apa-apa, jadi bisalah saya dikatagorikan seorang diri di masa pandemi seperti ini.

Ibarat perjalanan, ada masa-masa terberat yang saya rasakan di masa karantina ini, dan itu adalah ketika awal dan akhir puasa. Wah, jangan tanya bagaimana rasanya. Kalau ada orang yang bisa muak dengan kesendirian, saya salah satunya. Rasanya seperti menginginkan sesuatu yang tidak bisa saya beli dengan uang. Seperti ada yang kurang tapi saya tidak tahu harus melakukan apa agar itu terasa lengkap. Di malam takbiran, saat saya mengambil paket makanan lebaran di pos satpam yang dikirimkan oleh teman baik saya, Mbak Nina, saya ingat bagaimana saya menatap langit malam dengan gemeteran dan akhirnya menangis sejadi-jadinya di jalan. Itu titik puncak saya marasa sangat kesepian. Sungguh jika interaksi itu bisa dibeli, sudah pasti akan saya beli berkardus-kardus dan memasukannya ke freezer kulkas agar tidak basi dan bisa saya hangatkan sewaktu-waktu. Pada saat menangis itu, berputar dalam pikiran saya bagaimana Bulan Ramadhan tahun ini juga berlalu tanpa saya bisa mengunjungi mesjid sekalipun, tanpa ada buka puasa bersama, bahkan tanpa bisa bertemu siapa-siapa di penghujungnya. Lengkap sudah. Saya tidak bisa lagi membandingkan mana yang lebih nestapa, mereka yang tidak memiliki makanan enak di hari lebaran tapi dikelilingi orang-orang tercinta, atau memiliki makanan lebaran tapi sendirian. Hidup memang tidak pernah menawarkan paket lengkap.

Untunglah di hari lebaran itu, saya dan seorang teman kos, kami sepakat untuk merayakan lebaran bersama. Kami berbincang dari pagi hingga malam tentang banyak hal. Rasanya sungguh menyenangkan, sekalipun kami berdua harus membagi waktu dengan silaturahmi online yang tidak habis-habisnya di hari lebaran. Malam harinya, di hari yang sama, saya putuskan untuk mengungsi ke rumah sahabat saya yang lain dan menghabiskan waktu beberapa hari di sana. Alasannya sederhana, saya masih butuh interaksi nyata dengan manusia.

Hari-hari setelah lebaran berjalan serupa. Perasaan kesepian itu perlahan-lahan kembali muncul. Kesepian yang entah bagaimana harus saya hadapi. Hal ini malah semakin diperburuk dengan hormon menstruasi yang acak-acakan, sehingga membuat saya semakin berantakan moodnya.

Baru kali ini saya merasakan bagaimana kesepian bisa sebegitu menyiksanya. Dulu saya beranggapan bahwa hidup seorang diri mungkin saja lebih mudah ketimbang harus diribetkan dengan urusan emosi-emosi dengan manusia lainnya, tapi rupanya saya harus merivisi kembali padangan itu. Sekuat-kuatnya seorang introvert bertahan, ternyata tumbang juga dihantam kesepian berkepanjangan. Dari dulu saya selalu menikmati kesendirian dan kesibukan yang saya lakukan seorang diri, namun baru kali ini saya merasa overdosis dengan kesendirian dan semua hal yang berkait dengan virtual. Saya ingin berbincang, berpelukan, menggegam tangan, meninju halus bahu seseorang, dan bahkan bersalaman hormat pada orang lain. Lebih dari itu, saya ingin ditemani oleh manusia yang saya kenal. Saya tidak ingin sendiri, tolong.

Hal ini membuat saya memandang sinis pada mereka yang beranggapan bahwa bertahan sendirian di masa pandemi menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka yang tetap harus mencari nafkah di luar sana sehingga memungkinkan dia terpapar virus covid-19, karena bagi saya, semua orang berjuang dengan tantangannya masing-masing.

Saya sendiri tidak bisa membandingkan mana yang lebih berat dari tantangan-tantangan yang dihadapi orang-orang di masa pandemi ini, apakah mereka yang harus berpikir seribu cara agar tetap bisa membayar listrik, ataukah mereka yang harus dilanda kesedihan karena keluarga atau teman terdekat mereka sakit atau bahkan meninggal dunia, mereka yang harus bersusaha keras agar dapat bekerja dengan baik dan imbang di rumah, atau meraka yang seperti saya, sendiri digerogoti kesepian. Pun saya juga tidak bisa sebegitu yakinnya apakah jika saya diuji dengan ketidakstabilan finansial akan lebih baik dibandingkan kalau saya sendiri seperti ini. Ini memang bukan tentang perlombaan siapa yang lebih sulit kondisinya di masa pandemi, ini tentang bagaimana menyadari bahwa semua orang sedan berjuang dengan tantangannya masing-masing, dengan kondisi yang tidak bisa kita tebak kapan berakhirnya. Dan saat inilah, kita perlu sedikit lebih sensitif dalam merespon tantangan masing-masing orang yang mungkin berbeda dengan kita. Jika seseorang itu tidak dipecat di masa pandemi ini, bukan berarti dia sepenuhnya baik-baik saja, bisa jadi dia tersiksa dengan kesendirian.

Lalu apa yang bisa dilakukan jika kesendirian menjadi tantangan yang harus dihadapi? Saya juga gelagapan tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan ini. Mungkin hal terbaik yang bisa saya sarankan sebagai seorang praktisi adalah dengan menjadikan kesepian sebagai sebuah kondisi yang temporer, bukan permanen. Ini hanya sebuah kondisi yang harus dijalani saat ini. Memang tidak enak, memang menyesakan, tapi jangan berpikir ini akan selamanya. Ini hanya sementara.



source: https://id.pinterest.com/pin/229683649734454559/

© RIWAYAT
Maira Gall