Rabu, 30 Oktober 2019

Pertanyaan

Meminjam semua lirik milik Nadin Amizah dalam lagunya yang berjudul Rumpang. 
Aku bersembunyi di balik semua kata dalam lagu itu.


Sempat ku berpikir masih bermimpi, bertahun berlanjut tanpa henti...
Kulitmu yang memudar saksinya, tetap rasaku tak pernah hilang.

Aku takut sepi, tapi yang lain tak berarti...

Katanya mimpiku akan terwujud, mereka lupa akan mimpi buruk...
Tentang kata, "Maaf, sayang aku harus pergi"

Sudah kuucap semua pinta sebelum ku memejamkan mata...
Tapi selalu saja, kamu tetap harus pergi.

Saat malam-malam itu ada di antara kita.
Dan semua kata-kata itu, terucap.
Hingga waktu terasa berlari...

Apakah kamu...
Kamu,
bahagia?

Banyak yang tak ku ahli...
Begitu pula menyambutmu pergi.

Aku harap, kamu bahagia.
Oh... semoga saat itu, kamu bahagia.


Begitu juga menyambutmu tak kembali.


Terimakasih Nadin sudah boleh meminjam Rumpang.
Sama seperti kamu, aku juga tidak ahli menyambutnya tidak kembali.

Senin, 21 Oktober 2019

Cobalah Mulai Belajar Hal-Hal yang Seharusnya Tidak Harus Dipelajari

Di suatu pagi menjelang siang, seorang teman bercerita pada saya dengan nada sedikit geram. Ternyata, agenda kopi darat yang akan dia lakukan dengan seorang lelaki gagal terlaksana. Begini ceritanya, teman saya itu sedang menghadiri pesta pernikahan temannya yang lain di luar kota, kebetulan di kota yang sama itu jugalah si lelaki itu tinggal. Maka si teman saya itu berpikiran bahwa inilah saat yang tepat untuk mereka saling bertemu. Awal mula si teman saya dan lelaki itu saling mengenal adalah karena campur tangan keluarga besar mereka masing-masing. Berhubung keduanya sedang mencari pasangan hidup, maka bagi teman saya itu, ide kopi darat ini pas untuk dilakukan. Saya sebagai temannya, sudah sibuk mencie-cie kan dia sejak sebelum dia berangkat ke luar kota. Dan berhubung si teman saya itu sedang aktif berkopi darat sana-sini, kesempatan ini bukan hal yang  baru. Biasa aja...

Tapi rencana tinggalah rencana, karena pertemuan itu gagal total. "Dia masa bilang ya Peh... di posisi aku udah siap nunggu dia, 'Lah, aku kira engga jadi'. Langsung aja aku screenshot WA kita, aku kirimin ke dia, biar dia tau kalau aku engga pernah membatalkan apapun.", katanya menggebu.

Saya yang melihat screenshot itu juga harus setuju, bahwa teman saya ini tidak membatalkan janjinya untuk bertemu. Bahkan dia dengan tegas bertanya melalui pesan singkat itu, 'besok jadi kan?' dan dibalas 'insha Allah'. 

Maka sayapun balik bertanya, "Kok dia  bisa berpendapat kamu batalin sih?"
"Kan aku pasang status gambar singa itu loh Peh, tahu kan? nah dia komen, dia bilang 'kucing garong'. Ya udah engga aku bales chat dia lagi. Lagian mau bales apa juga kan? Nah... mungkin aja dia ngerasa karena aku engga bales, itu artinya aku engga jadi ketemuan sama dia"
"Kok aneh sih? Trus kamu bales apa pas dia bilang 'kirain engga jadi' itu?"
"Ya aku nasehatin dia lah, abis ku sebel banget. Aku bilang aja, jangan diulangi lagi ke siapapun karena itu engga baik. Aku bilang kalau aku ini tamu dan dia itu tuan rumah, ya kalau tuan rumah emang engga mau ketemu, jangan nawarin bukain pintu, jangan malah tamu yang disuruh nunggu. Aku juga bilang sama dia, 'tahu gitu kan aku pulang ke Jakartanya sore aja, engga usah malem. Aku kan pulang malem karena kamu ngajak ketemuannya malem'."

Saya ngangguk-ngangguk...

"Dia terus bilang kalau di tempat dia ujan, Peh. Ya emang ujan sih Peh... tapi cuma bentar. Jadi alesannya juga aneh. Abis itu, abis aku nasehati dia, eh dia malah bales gini... 'terserah kamu mau anggap aku apa, aku minta maaf ya"
"Kamu tanggepin?"
"Aku jawab pas di kereta, aku bilang aku maafin tapi jangan diulangi, trus aku hapus chatnya. Sebel deh. Trus aku sugesti diri kalau dia itu ga worth it bikin aku marah lama-lama. Dia juga kan bukan siapa-siapa..." 

Kita terdiam sejenak...

"Apa gitu loh susahnya bilang kalau emang dia engga mau ketemu. Kan aku bisa susun rencana lain. Kayak gitu kan basic ya..."
"Mungkin bagi dia, kamu engga bales itu... bisa diartikan kalau kamu ngebatalin janji....?"
"Ya kan dia bisa mastiin lagi. Lagian engga ada kalimat yang bilang kalau aku engga jadi ketemu sama dia. Ya kan? Childish banget dia tuh. Tahu gitu kan aku pulangnya sore aja. Hih sebel!"

Saya dan teman saya akhirnya melanjutkan pembicaraan kami siang itu sambil makan tahu baxo khas Semarang yang dia bawa sebagai oleh-oleh. 

Di hari yang sama, tetiba mama saya Whatsapp dan meminta tolong untuk menghubungi adik bungsu saya, Enzo. Mama saya bilang kalau si Enzo ngambek dan engga mau diajak pergi, dan berharap saya bisa membujuk dia supaya ngambeknya tidak terlalu lama. Maka sayapun coba hubungi Enzo. Awalnya saya cerita basa-basi kalau madu yang saya beli, pas dibuka tutupnya eh meledak (ini beneran).

Enzo awalnya menimpali dengan lucu, eh lama-lama... tanpa saya mintapun akhirnya dia mau curhat. Remaja kelas 1 SMP ini bilang kalau harusnya dia punya janji main basket dengan adik perempuan saya Pasha di hari Sabtu, tapi mama tetiba muncul dengan agenda lain dan ngotot. Enzo engga dikasih ruang buat menjelaskan agendanya dan yang ada mama malah maksa. Dengan polosnya Enzo berkata, "Kan aku jadi engga jadi basket, mama semua-semuanya diurusin deh." Kekecewaan yang sangat beralasan bagi saya. Ya siapa sih yang suka jadwalnya dibongkar-pasang mendadak begitu? Bahkan bagi Enzo si remaja tanggung ini, hal-hal seperti itu seharusnya engga kejadian. Kayak... ya kalau orang udah punya agenda, ya tanya dulu dong kalau mau ngerubah. Basic gitu...

Pernah sekali waktu saya jalan-jalan ke sebuah mall dan kebelet pipis. Kebetulan di kamar mandi perempuan antriannya panjang. Kami semua mengantri dengan model berbaris satu garis, jadi nantinya kalau ada pintu toilet manapun yang terbuka duluan, maka orang yang paling depan yang akan masuk lebih dulu. Lalu tetiba, ada seseorang yang nyelonong dan berdiri di salah satu pintu kamar mandi dan mengantri di situ. Beruntungnya, dia tidak harus lama mengantri karena pintu toilet itu terbuka sehingga dia bisa langsung masuk. Semua wanita yang mengantri, termasuk saya cuma bisa geleng-geleng kepala melihat perilaku mbak yang satu itu. Dalam hati kami semua mungkin berkata,  'Tjuy! Engga liat apa ini kita semua ngantri panjang? Situ langsung aja ngantri depan toilet'. Kayak.... hal seperti itu kan  basic banget ya... masa sih harus juga diajarin?

Mau contoh kasus lebih banyak? Coba deh cek twitter. Di twitter banyak kejadian bagaimana hal-hal yang mungkin basic tapi nyatanya tidak basic bagi orang lain. Ada orang yang tidak mau membayar pesanan makanannya di aplikasi online dan malah memarahi driver online-nya. Ada orang yang malah marah waktu ditegur karena naik motor di trotoar. Ada orang yang ketika makan food court, meja yang harusnya untuk umum, malah dipakai untuk makan sendirian padahal sedang banyak orang yang tidak kebagian tempat. Ada orang menyerobot naik kendaraan umum, dia lupa peraturan dasar bahwa penumpang yang hendak keluar seharusnya diberi jalan terlebih dahulu, barulah penumpang yang akan naik itu bisa masuk. Dan lain-lainnya yang kalau saya tulis semua bisa jadi lembaran manuskrip.

Basic loh ini padahal, engga perlu lagi diajarin lagi kalau sudah dewasa seharusnya, tapi kenapa kasusnya makin beragam ya? 

Mencoba melihat dari perspektif sebaliknya. Saya jadi ingat ketika saya berada di posisi yang tidak memahami ke 'basic' an ini. Pernah suatu ketika, saat ulang tahun radio tempat saya dulu bekerja mengadakan acara ulang tahun, seluruh penyiar dan crews mengadakan acara makan malam di sebuah restoran sambil membuat foto bersama. Sebagai salah satu yang menggagas idenya, di hari H tersebut saya jutsru datang terlambat nyaris 1 jam lebih. Dan bukan karena kesalahan teknis, tapi karena saya keasikan nonton drama series. Tapi sebentar, belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, anak-anak radio saya ini punya kebiasaan telat yang gila-gilaan. Jadi saya berfikir bahwa mungkin kali ini juga akan telat seperti yang sudah-sudah. Dan dari info terakhir yang saya pahami, acaranya akan berlangsung sampai malam, makanya saya agak santai dan malas-malasan. 

Sampai di sana, semua orang sudah memasang muka engga enak. Dan saya masih lempeng-lempeng saja... sampai salah satu rekan kerja saya bilang, "Kamu engga sadar ya Peh, salah kamu apa?" Saya langsung deg. Di titik itu saya merasa bahwa keterlambatan saya cukup fatal. Saya akhirnya meminta maaf dan mencoba untuk menjelaskan kondisinya dengan perasaan carut marut. Jadi ternyata, sebagai bagian dari kerjasama, pihak restoran tersebut hanya menyediakan waktu 2 jam saja untuk kami. Untuk itu acara dimulai tepat jam 4 sore sampai jam 6 sore saja, dan selebihnya adalah acara bebas yang tidak termasuk dalam paket kerjasama ulang tahun. Ada salah pemahaman yang saya tangkap. Dan berhubung saya datang sudah mendekati jam 5 lebih, ya tentulah semua orang keki, karena acara ulang tahun itu tidak bisa terlaksana dengan ideal karena menunggu kedatangan saya.

Tapi baru kali itu mereka semua datang tepat waktu, makanya saya kaget! Saya tahu kok kalau datang terlambat itu engga baik, tapi toh mereka juga selalu datang terlambat selama ini, jadi saya kira ya akan biasa saja. Nah... dari sini lah akhirnya saya menyadari konsep basic ini semakin ke sini, semakin bias dan ambigu. Dan karenanya, kita sering memberikan banyak toleransi pada diri kita sendiri untuk melalukan hal-hal yang sebenarnya kurang menyenangkan bagi orang lain, serambi berkata dengan santainya:

"Aku ngaret 2 jam, biasa aja tuh..."
"Biasa aja ah, engga usah terimakasih kayak apa, emang udah tanggung jawab dia kali buat ngelakuin itu"
"Dasar A@&88909--hjk, gua doain ketabrak..."
"Engga usah lebay deh, gitu aja dipermasalahin"
"Iya udah iya maaf, lagian kan udah kejadian kan, ya udah lah..."
"Jangan baper deh, aku kalau digituin juga bakal biasa aja kok"
"Ah elah... bohong-bohong dikit gapapa kali"

Di sinilah pemakluman itu terjadi. Saya baru saja pertama kali melihat anak-anak radio saya itu on time, saya engga punya ekspektasi itu akan jadi msalah. Si lelaki yang seharusnya diajak kopi darat oleh teman saya itu, mungkin dia baru pertama kali mendapat pengalaman melakukan kopi darat dan akhirnya merasa grogi sehingga berperilaku begitu. Mama saya mungkin engga tahu bagaimana caranya  untuk berkomunikasi dengan anak remaja. Dan si mbak-mbak penyerobot di toilet itu, mungkin itu adalah  pengalaman pertamanya masuk toilet di mall, jadi cuma itu yang dia tahu, kalau ngantri ya di depan pintunya langsung. Sehingga saya dan orang-orang ini, kami belum memahami dengan baik apa itu basic.

Tapi tenang saja... toh semesta tidak akan tinggal diam dan semua orang akan punya pelajaran pertamanya. Di satu titik, satu per satu kejadian dan perilaku tidak mengenakan yang sadar atau tidak sadar kita lakukan itu, nantinya akan berbalik menyerang diri kita sendiri. Dan di saat itulah kita akan berkata:

"Gilak ya... ada loh orang, udah tau dia yang salah, eh masih bisa ngeles..."
"Dia yang bikin ini ribet, dia juga yang ngegas"
"Masa ya dia engga bisa ngeliat kalau apa yang dia lakuin itu ngerugiin orang?"
"Apa sih susahnya ngomong? Kan tinggal di jelasin aja kan?"
"Udahlah dia salah, masih loh gengsi, trus marah-marah..."
"Ada loh ya... orang udah dibantu kayak apa, masih aja lempeng, terimakasih engga... apa kek..."
"Wow, udah dinasehatin dengan baik, masih aja defense! Mantab!"

HA!

Dan di sini lah penyamaan persepsi itu terjadi. Beginilah cara manusia belajar untuk lebih peka pada hal-hal yang basic: yaitu saat mereka sudah kena batunya.  Saat akhirnya kita tahu bagaimana tidak enaknya saat janji dibatalkan tanpa pemberitahuan, saat kita akhirnya merasa terluka saat difitnah, saat kita akhirnya gemas sendiri dengan perilaku orang lain yang tidak tahu rasanya berterimakasih, saat itulah hukum sebab akibat berlaku.

Saya pun sebenarnya juga bingung bagaimana harus menjelaskan arti kata 'basic' ini, ya karena itu tadi, rupanya tiap-tiap orang mempunyai standar dan nilainya masing-masing dalam berperilaku. Tapi idealnya... sebagai manusia, kita semestinya lebih tahu bagaimana cara memperlakukan spesies yang sama dengan diri kita sendiri, tanpa perlu diajari berkali-kali, atau sampai mengikuti kelas-kelas kepribadian. Ya... hal-hal basic. Hal-hal yang secara alami bisa kita rasakan sejak lahir. 

Misalnya, kalau kita merasa lebih senang ditraktir dan merasa kesal kalau dihutangi (apalagi tanpa ada niatan membayar dari orang yang bersangkutan), ya tentunya orang lain yang berspesies manusia juga akan merasakan hal yang sama dengan kita. Basic. Semua orang yang dibohongi dan injak-injak harga dirinya akan marah, dan sebaliknya, jika seseorang itu dipuji, maka dia akan sumringah. Basic. Walaupun dalam beberapa konteks, hal itu bisa menjadi lebih rumit karena perbedaan kultur, budaya, pola asuh, lingkungan, dan lain sebagainya. Tapi terlepas dari itu semua, saya yakin bahwa semua manusia pasti punya satu garis merah yang sama, yang tidak akan berubah hingga mentari tak bersinar lagi, yaitu semua manusia selalu suka diberi hal-hal yang baik dan benci mendapat hal-hal yang buruk. Basic. 

Kecuali tiga kondisi: Dia belum merasakan hal tersebut menimpa dirinya, dia memang terlahir anomali, atau dia luar biasa bebal!

Sebuah ucapan kuno 'perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlalukan', mungkin bisa dijadikan sebagai sebuah penjelasan yang lengkap tentang bagaimana kita bisa menerapkan basic ini ke siapapun. 

Ini memang tentang interaksi dengan sesama manusia. Kita akan diminta untuk selalu bertanya pada intuisi, bahwa kalau kita saja tidak nyaman diperlakukan demikian, kenapa kita berharap orang lain akan merasa nyaman? Dan kalaupun kita yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan itu, coba maklumi saja, mungkin itu kali pertama dia melakukan itu sehingga persepsi akan basic ini tidak sama. Shantay...


PS: Jangan pakai tas ransel di punggung kalau sedang naik transjakarta, tapi taruh di depan, karena orang lain jadi susah masuk dan geraknya, dan kamu engga bisa monitor ruang gerak penumpang lain! Ini sungguhlah basic! Kecuali kalau kamu baru pertama kali naik transjakarta, ya oke lah, aku maklum.

Jumat, 18 Oktober 2019

Hei, Tarik Nafas...!

Hidup saya jauh dari sempurna, bahkan dalam pikiran dan definisi saya tentang kesempurnaan sajapun, hidup saya masih tidak sempurna. Coreng-moreng di sana-sini, kegagalan di sana-sini, sungguh jauh dari kesempurnaan. 

Tiap saatnya, ada saja hal-hal yang membuat saya sedih dan kecewa. Mau itu yang levelnya tinggi atau rendah, tapi tetap saja hadir dalam bentuk kekecewaan. Sesuatu yang akan membuat saya terdiam dan sedih. Kebanyakan memang berasal dari ekspektasi saya sendiri, atau saya yang salah dalam mengkalkulasi keadaan. Sebagiannya yang lain, terjadi di luar keinginan atau di luar kontrol saya sebagai manusia. 

Tapi dibalik ketidaksempurnaan itu, saya merasa hidup saya lengkap. Pernah di satu hari, saat saya salah mengkalkulasi keadaan dan akhirnya berujung pada rasa kecewa yang harus saya telan sendiri,  saya ingat bahwa teman dekat saya, Aghnia akan memasakan saya spaghetti dengan taburan keju permesan yang banyak diatasnya. Seketika saya merasa hari saya bersinar kembali karena dia mau memasakan saya spaghetti dan kita bisa ngobrol panjang lebar sambil leyeh-leyeh di kosanya. 

Pernah juga, saya mengalami hari yang panjang karena melakukan ini dan itu, lalu saya ingat bahwa Icha ada di kosan dan kami bisa makan snack berdua sambil karokean. 

Mungkin sampai di ambang waktu yang ditentukan untuk saya ada di dunia ini, kesempurnaan itu entah akan terwujud atau tidak. Tapi saya yakin bahwa pertolongan itu dekat, dan itu berwujud pada hal-hal kecil yang selalu ada di sekitar saya. Hal-hal sederhana yang akan selalu menjadi pelengkap dan tidak bisa saya bayar dengan cara apapun juga.

Pun dikatakan dua kali, bahwa setelah kesusahan pasti ada kemudahan. 


Siap? Apa Itu Siap?


Banyak dari kita semua memulai harinya dengan mempersiapkan sesuatu. Entah itu seorang ibu yang menyiapkan sarapan sederhana bagi keluarganya, seorang anak yang mencoba mengerjakan pekerjaan rumahnya padahal 15 menit lagi harus berangkat, seorang pekerja yang sedang menyetrika bajunya, atau bahkan seorang pedagang yang sudah siap menyambut pelanggannya. Setiap pagi datang, maka setiap dari kita akan bersiap untuk memulai hari itu.

Seperti awal yang baru, pagi hari belum memiliki warna tertentu. Ya kalaupun ada, warnanya adalah putih polos tanpa sentuhan apapun. Seakan memberikan kesan bahwa kita tidak pernah mengetahui apapun yang akan terjadi di penghujung hari itu. Setelah hari itu terlewati, barulah kita bisa memberikan warna yang tepat. Setiap pagi datang, seakan menjadi sebuah kerahasiaan, sesuatu yang tidak bisa kita tebak kemana arah larinya. Dan walaupun begitu, walaupun misterius, kita tetap saja mencoba mempersiapkan sebuah hari dengan baik.

Tapi apakah kita akan benar-benar siap menghadapi sebuah hari? Apakah seorang anak yang sudah mengerjakan PR dan memakan sarapannya, seorang pedang yang sudah siap dengan uang kembalian dan barang dagangannya, serta seorang pegawai dengan baju klimis rapi yang dikenakannya, menjadi siap menghadapi apapun yang akan terjadi di hari itu? Mungkin juga tidak. Karena mungkin, hari si anak itu akan berakhir dengan si guru tidak jadi datang dan PR yang dikerjaan tidak jadi dikumpulkan. Seorang pegawai ternyata kecipratan kuah bubur ayam saat sarapan di pinggir jalan padahal dia punya rapat penting, dan si pedagang… pedagang itu ternyata harus lari ke sana-kemari karena pasarnya di razia oleh petugas sosial. Jadi, apakah persiapan yang dilakukan itu menjadi sia-sia?

***

Di akhir bulan yang lalu, saya sempat pulang ke Jogja. Kepulangan saya ke Jogja saat itu salah satunya juga dalam rangka rehat dan memupuk semangat. Cukup lama saya menghabiskan waktu di sana. Mencoba sedemikian rupa agar punya energi untuk kembali menghadapi ibukota. Sayapun makan gudeg kesukaan, makan kue non-gluten di kafe Jalan Prawirotaman, sampai sekedar naik motor sendirian. Saya bahkan menunda kepulangan saya ke Jakarta beberapa hari karena saya merasa belum siap kembali dan masih butuh rehat. Hingga tiba akhirnya, waktu untuk kembali ke Jakarta. Duh berat sekali rasanya…

Di malam sebelum saya kembali ke Jakarta, saya membuang nafas berat berkali-kali karena menyadari bahwa sebentar lagi saya akan kembali ke kota yang tingkat polusinya gila-gilaan itu, serambi memberikan sugesti diri bahwa saya sudah mendapatkan istirahat yang cukup, dan siap melanjutkan semua kegiatan di sana. Tapi ternyata itu semua tidak cukup. Buktinya, saat kereta saya sudah memasuki area Jabodetabek, saya menangis tersedu entah kenapa. Saya mau kembali ke Jogja lagi rasanya, entahlah… rasanya seperti ada yang mengganjal di hati, ya atau memang karena sayanya aja yang belum siap kembali ke Jakarta walaupun itu harus.

Atau jangan-jangan manusia memang tidak akan pernah siap untuk hal apapun? Bahkan ketika dia sudah mempersiapkan diri dengan seabrek persiapan ini dan itu, tapi kalau harus ditanyakan kembali ke manusia tersebut, ‘Jadi gimana, siap atau engga?’, jawabannya mungkin akan ‘Ya… siap engga siap, ya gimana, tetep harus dijalani kan?’.

Ah… saya jadi ingat ketika dulu, ketika masih SMA, masa-masa di mana saya mencoba Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Kala itu saya belajar hampir sepanjangan hari selama berbulan-bulan, belum lagi tiap minggu saya ikut try out agar bisa lebih siap menghadapi ujian. Seminggu menjelang hari ujian, saya sudah muak dengan semua materi yang harus dikuasai seperti algoritma dan gradien tegak lurus. Rasanya saya mau segera ujian, segera pengumuman, dan saya bisa move on. Dengan tingkat kemuakan yang tinggi, saya ada di posisi pasrah pada semua hasil belajar saya selama berbulan-bulan itu, saya engga tahu apakah saya benar-benar siap atau tidak, yang jelas saya sudah mempersiapkan yang terbaik yang bisa saya lakukan, dan saya mau segera ujian! Tapi entah karena grogi atau apa, H - beberapa hari, masih saja terbesit dalam pikiran saya materi yang belum sempat saya pelajari, dan sayapun berharap saya bisa punya lebih lama lagi untuk belajar. Hadeuh…

Untuk sesuatu yang sudah dipersiapkan saja, kita masih bisa merasa tidak siap, lalu apa kabar jika bahkan kita tidak mempersiapkan apapun untuk sesuatu yang kita tidak tahu akan terjadi di depan mata? Apa jadinya saat kita harus berhadapan dengan sesuatu yang kita tidak tahu apa bentuknya dan bagaimana bentuk persiapannya? Lalu tiba-tiba hal itu terjadi dan kita tidak punya pilihan apapun selain menjalaninya, siap atau tidak siap.

Sebuah keluarga yang sangat saya kagumi, sebuah keluarga yang cukup dekat dengan saya karena dalam pandangan saya mereka memiliki nilai-nilai keluarga yang baik, baru-baru ini mengabarkan pada saya bahwa mereka sedang dalam proses perceraian. Bagaikan kepeleset dari puncak Gunung Everest, saya merasa kaget dan agak terguncang. Ya bagaimana tidak, saya engga begitu punya banyak potret rumah tangga yang bisa saya jadikan model, dan mereka adalah salah satu yang bisa saya teladani. Ada bagian dari diri saya yang juga ikut terluka karena keputusan mereka.

Terlepas dari apapun alasan yang mendasarinya, nyatanya tidak ada yang benar-benar mempersiapkan perceraian sampai itu benar-benar terjadi, tidak si pasangan atau bahkan saya yang hanya orang luar. “Aku engga nyiapin ini semua, Peh. Aku pikir yaudah, aku sama dia udah tinggal nunggu anak-anak dewasa dan kita bisa tua bareng-bareng. Masih kayak mimpi di aku, kita berdua pisah begini,” Kata si istri itu menjelaskan. Si istri bahkan meminta tolong pada saya untuk membenahi CV dan cover letter karena dia akan kembali bekerja setelah belasan tahun vakum. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam agenda hidupnya setelah melahirkan anak pertamanya, bahwa dia akan berpisah setelah belasan tahun bersama dan kembali bekerja. Semuanya terjadi begitu saja, dengan cepat, dan tidak menyisakan ruang apapun untuk bersiap. Seakan kesiapan kami tidak lagi penting untuk ditanyakan, karena yang terpenting adalah menjalani hidup kedepannya dengan kondisi yang telah terjadi. Menyebalkan? Oh sangat!

Menakutkan lebih tepatnya! Bagaimana bisa kita harus merasa siap pada sesuatu yang tidak kita persiapkan sebelumnya? Pada sesuatu yang tidak pernah dicobakan terlebih dahulu? Terlebih saat sesuatu itu datang tiba-tiba? Masih mending tes SNMPTN karena saya masih bisa ikut try out dan bimbingan belajar, masih mending ketika saya bisa meniatkan diri untuk rehat di Jogja agar bisa lebih siap menghadapi Jakarta, tapi persiapan macam apa yang harus saya lakukan untuk kondisi yang saya sendiripun tidak bisa membayangkan akan terjadi?

Lucunya adalah, kita sebenarnya sudah tahu bahwa hal-hal yang telah menjadi kodrat itu ya pasti akan terjadi, seperti pertemuan-perpisahan contohnya. Bahwa ungkapan ‘tidak ada yang bertahan selamanya’, juga sesuatu yang kita hapal di luar kepala. Tapi ya tetap saja, kita tidak pernah benar-benar siap saat hal itu benar-benar terjadi.

Saya sering membaca istilah bahwa tidak ada waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, jadi jangan tunggu hingga siap, lakukan saja sekarang. Begitu katanya. Kini saya semakin sepakat, karena menunggu hingga manusia siap memang ambigu. Kita tidak akan benar-benar bisa tahu dan yakin bahwa kita sedang ada dalam posisi siap menghadapi sesuatu. Kalau mau ditunggu sampai siap, ya kapankah itu waktu siapnya?

Walau begitu, manusia tetap akan mempersiapkan banyak hal untuk sesuatu yang akan dihadapinya. Seperti seseorang yang perlu membawa baju hangat ketika akan pergi hiking, atau seseorang tetap harus membuat presentasi dan laporan ketika akan menghadapi presentasi, atau semua orang akan membawa payung jika terlihat di luar sana sudah mendung gelap. Bentuknya seperti persiapan teknis, sesuatu yang kita lakukan agar kita merasa lebih siap menghadapi sesuatu yang bisa kita prediksi. Semacam memberikan ruang antisipasi kalau-kalau hal-hal teknis itu terjadi, maka kita akan siap dalam bereaksi. Pun dalam hal mempersiapkan hati, misalnya kita mencoba menurunkan ekspektasi, tidak terlalu mengandalkan orang lain, atau mencari cara-cara penyelesaian masalah yang paling efektif. Kita bersiap untuk sesuatu yang bisa terjadi kapanpun, dalam bentuk apapun. Urusan bagimana kesiapan kita sesungguhnya, itu nanti!

Seorang teman baik saya, baru-baru ini diterima di salah satu media internasional sebagai data jurnalis. Dari ceritanya, dia juga tidak benar-benar siap untuk melakoni peran barunya sebagai manager. Dia merasa kemampuan dia belum memenuhi apa yang diharapkan oleh media itu, tapi ternyata dia diterima dan akan segera bekerja di akhir tahun ini. Ya siap atau tidak, memang sudah begitu jalannya, kan?

Saya juga, pada suatu hari merasa kelabakan menghadapi sebuah kejadian. Selama nyaris 4 tahun, saya mencoba menata hati, mental dan semua ekspektasi, agar saya bisa memiliki hati yang tegar dan lebih kuat, kalau-kalau suatu hari nanti saya akan kembali bertemu dengan seseorang di masa lalu saya. Namun nyatanya, di suatu hari yang mendung, tanpa ada prediksi apapun, saya harus menghadapi dia, melihat dia secara langsung, mendengar suara dia, dan bahkan tertawa dia itu. Ternyata, tidak peduli seberapa banyak hal yang sudah saya lakukan selama ini untuk mempersiapkan diri, itu juga belum cukup. Saya tetap saja tidak siap. Saya tetap saja pulang dengan perasaan gontai. Besok paginya, saya bangun tetap perasaan yang campur aduk. Deuuh… engga selesai-selesai

Saya pikir, hal terbaik yang bisa manusia lakukan adalah secara sadar melangkah dan memperhitungkan risiko yang akan terjadi dari setiap langkah yang akan dia tempuh. Sekedar memetakan kemampuan diri sendiri dan membaca pola yang mungkin akan terjadi. Sebatas itu saja, tanpa bisa dikatakan bahwa kita benar-benar siap untuk menghadapi sesuatu. Kemudian kita akan berjalan ke depan, menghadapi apapun yang harus dihadapi.

Saya jadi ingat sebuah jargon terkenal di acara kriminal, bahwa kejahatan ada bukan karena ada niat, tapi karena ada kesempatan. Sebuah jargon yang juga bisa diterapkan untuk perkara lain dalam hidup, mulai dari pekerjaan, pertemanan, hingga percintaan. Kadang kita tidak meniatkan sesuatu itu terjadi, tapi kalau tetiba ada kesempatan atau ada sebuah kejadian terjadi di depan mata kita, ya mau bagaimana lagi, ya tetap juga harus dihadapi, ya kan?

Tapi tenang saja, walaupun kesiapan itu sulit diukur, tapi pelan-pelan kita akan berlatih bahwa ‘siap atau tidak siap’ bukanlah hal yang penting untuk diketahui, tapi lebih ke bagaimana kita membiasakan diri menghadapi kondisi apapun. Lagipula, siapa yang akan siap jika tanpa pemberitahuan, tetiba besok kita akan ditinggalkan semua orang yang kita sayangi? Pun kita diberi tahu bahwa besok kita akan sendirian tanpa orang-orang yang kita sayangi, memangnya kita akan siap juga? Jika memang sudah harus begitu jalannya, pilihan yang kita miliki juga hanya menerima dengan lapang kan?

Dijalani saja dulu, hidup kan memang selalu begitu, tidak ada angin, tidak ada hujan, lalu... knock.. knock… SURPRISE!!


© RIWAYAT
Maira Gall