Selasa, 18 April 2017

SPBU

Banyak yang bilang bahwa hidup adalah kumpulan pilihan yang menawarkan banyak konsekuensi. Sebagai manusia, tugas kita terbilang mudah: memilih.
Hanya dengan memilih, maka seharusnya hidup akan berjalan dengan lebih mudah, ringkas, dan terarah. Namun rupanya, manusia mempunyai satu lagi permasalahan: bingung.

Bayangkan saja jika ada 1000 pintu di hadapan kita, mana yang sekiranya akan kita masuki? Atau mengapa kita harus memasuhi satu pintu saja, kenapa tidak semua pintu?

Banyak yang bilang, hidup tidak sesederhana hitam atau putih, benar atau salah, utara atau selatan. Karena semuanya serba relatif tanpa ada yang berani yang mengatakan dengan jelas, kenapa yang ini disebut hitam dan kenapa itu disebut putih. Itulah mengapa hidup terasa semakin rumit.

Untuk itulah kita terbiasa untuk bermain-main di tengah. Tidak berjalan ke kanan atau ke kiri. Tidak memilih hitam atau putih. Serta tidak memilih untuk mengatakan ini benar dan itu salah. Semuanya kita lakukan atas nama relativitas. Itulah mengapa netralitas menjadi sangat populer saat ini. Tidak mengkatagorikan kita sebagai ini dan itu, dan memilih hidup dalam abu-abu.

Tapi ibarat perjalan panjang saat mudik, area abu-abu ini layaknya SPBU yang lengkap dengan toilet, mushola, mini market, hingga restoran kecil. Di SPBU ini, kita akan bertemu semua orang dari semua arah yang akan pergi ke arah yang berbeda-beda. Di SPBU ini, kita tidak akan menyalahkan kenapa dia mudik ke Jakarta saat semua orang justru keluar dari Jakarta. Tidak mengejek kenapa dia pulang ke Tegal atau ke Cirebon. Semua tujuan valid dan sah. Saat musim mudik tiba, SPBU menjadi area yang begitu berisik, sumpek, dan kacau.

SPBU hanya diciptakan untuk perhentian sementara, bukan tujuan akhir. Sama seperti abu-abu yang diciptakan oleh kita dan realitas-realitas kita saja. Tapi apakah kita mau menjadikan SPBU sebagai tujuan akhir? Pun mau, apakah bisa?

Kita harus punya tujuan, bukan? Itulah mengapa pada akhirnya kita harus memilih.

Mau tidak mau, kita harus menyadari bahwa: hidup memang tentang hitam atau putih, selatan atau utara, kanan atau kiri.

Tidak ada utara saat kita ingin ke selatan, tidak ada kanan saat kita berjalan ke kiri, dan tidak ada hitam saat kita ingin putih. Hidup sebenarnya semudah dan sejelas itu. Kita yang kadang pengecut, bersembunyi malu-malu pada abu-abu.

Maka tentukanlah pilihan dan bersiap untuk konsekuensinya.

Karena tentu saja, kita tidak bisa pergi ke Cirebon dan berharap sampai di Yogyakarta.


Sekelebat

Kamu pernah bilang kalau kamu adalah salah satu orang paling sombong yang pernah ada di dunia ini. Kamu ingat? Begini ucapanmu dulu, “Aku itu sombong dan arogan. Harusnya aku engga suka sama kamu”.

Ingat waktu aku memperlihatkanmu kamus kecilku yang berwarna merah muda? Aku katakan di sore itu, “Aku masih belajar ngehafal kosa kata yang susah-susah”. Dan ingat apa katamu? “Kalau kamu belajar dari dulu, kamu pasti lebih jago dari aku”

Aku cuma tersenyum simpul.

Semalam, semesta membuat sebuah humor. Dia datang padaku sekelabat, mengingatkanku padamu, membuatku paham sesuatu, dan lalu meninggalkanku sendiri.

Ditinggalkannya padaku sebuah suara bahwa kamu adalah salah satu orang paling rendah hati yang pernah ada.

Karena kamu, tidak pernah membuat orang merasa kerdil layaknya orang-orang sombong atau arogan. Bahkan di saat kamu punya banyak kesempatan untuk melakukan itu, kamu akan memilih membicarakan hal lain yang mudah dipahami. Aku melihatnya begitu.


 Aku mengatakanmu tengil, ingat?

Minggu, 16 April 2017

Tuhan dan 'kenapa' yang mengelilingiNya

"Ask in order to understand and do not ask in order to find fault"

Tuan dan Puan, saya ingin menulis sesuatu yang panjang kali ini. Agar membacanya tidak bosan, maka saya sarankan Tuan dan Puan untuk duduk dengan posisi paling nyaman sambil menyantap kudapan.

Begini, beberapa bulan terakhir ini saya sering sekali, entah sengaja atau tidak, membaca, mendengar, atau bahkan berbicara dengan mereka yang memutuskan untuk menjadi seorang Ateis atau Agnostik. Bahkan, jika saya sulit tidur, dan tidak ada bacaan yang bagus untuk dibaca, saya kerap membaca wawancara atau bahkan blog-blog yang ditulis oleh mereka yang Ateis atau (dan) Agnostik.

Dari situlah, saya melihat sebuah pola.

Sulit menulis tulisan ini tanpa perasaan bahwa saya pasti akan dipandang sebelah mata. Bagaimana tidak, saya ini adalah manusia tipikal dengan semua indikator untuk menjadi seseorang yang beragama. Saya Lahir di Indonesia, besar di Jawa, perempuan, dan  semua keluarga saya murni Islam tanpa terkecuali. Boom! 

Besar pikir saya, Tuan dan Puan akan tersenyum penuh makna pada saya. Mungkin Tuan dan Puan akan berpikir, bahwa akan sulit bagi saya untuk mempunyai pandangan berbeda tentang hal-hal seperti: LGBT, konsep surga dan neraka, terorisme, persamaan hak perempuan, hukum rajam, atau konsep menikah beda agama. Karena di Islam, semua itu rasa-rasanya tidak diberi ruang diskusi yang penuh.

Mungkin juga, Tuan dan Puan yang saat ini Ateis atau Agnostik, akan dengan sederhana mengatakan bahwa kita berada di dua jalur yang berbeda. Tidak salah kok, tidak juga saya ingin membenarkan. Pilihan kita berbeda, tapi kita masih bisa hidup di bumi yang sama, bukan demikian? :)

Namun, ingin rasanya saya memberitahukan kepada Tuan dan Puan tentang pola yang saya maksudkan di awal. Koreksi jika saya salah, atau Tuan dan Puan tidak sependapat dengan saya. Apa yang saya dapatkan dari mayoritas bacaan seperti blog, artikel atau jurnal penelitian, hingga obrolan dengan mereka yang Ateis atau Agnostik adalah: mereka mempertanyakan konsep Tuhan dan Agama, karena kedua hal itu, kerap membuat hidup manusia tidak jelas juntrungannya.

Motivasinya cukup beragam, hanya saja pertanyaan-pertanyaannya cenderung seragam. Kenapa Tuhan punya agama? Tidakkah Tuhan terlalu besar untuk masuk pada satu konsep agama? Jika Tuhan menciptakan cinta, mengapa LGBT dilarang? Kenapa masih banyak orang menderita? Kenapa agama menyuruh begini dan begitu, padahal realitanya begini dan begitu? Kenapa surga dan neraka begitu hitam dan putih padahal manusia tidak hitam dan putih? Dia kan Tuhan, kenapa Tuhan harus disembah? Saat semua bisa dijawab dengan ilmu pengetahuan, maka kenapa kita harus percaya hal-hal spiritual? Kemana Tuhan saat banyak pembunuhan? Kenapa orang yang beragama lebih arogan? Dan pertanyaan yang paling terkenal, kenapa harus membenarkan yang satu dan menyalahkan yang lain?

Sebegitu banyaknya pertanyaan, hingga akhirnya banyak yang beranggapan begini: “Tuhan ada atau tidak ya sudahlah. Pun ada, harusnya Dialah yang bertanggungjawab” 

Jadi, daripada menjadi lebih kontradiktif, maka Tuan dan Puan putuskan untuk menjadi manusia dengan akal pikiran dan hati, titik. Perkara Tuhan betulan ada atau tidak, surga dan neraka, dan dogma agama ini dan itu, bukan hal yang harus diambil pusing. Selama Tuan dan Puan tidak melakukan hal-hal keji yang bisa merugikan orang lain, kerap tolong menolong dan melakukan hal-hal yang baik, lantas apa yang harus dipermasalahkan? Urusankan masing-masing, bukan begitu?

Jangan salah sangka dulu wahai Tuan dan Puan yang baik, saya disini tidak untuk mendebat, membenarkan pendapat, atau bahkan mengatakan Tuan dan Puan itu salah kaprah. Tidak sama sekali. Jika Tuan dan Puan punya pendapat, sayapun demikian.

Ijinkan saya bercerita tentang saya.

Saat kecil, saya punya keyakinan yang teramat besar bahwa di angkasa sana, ada 5 bilik untuk 5 Tuhan. Jadi akan ada 5 surga dan neraka untuk 5 agama di Indonesia. Untuk itulah saya setuju tanpa bisa dibantah bahwa semua agama benar adanya. Saya sempat penasaran kenapa saya harus dilahirkan di bilik Islam yang harus bangun jam 5 pagi buat sholat? Saya mau pilih Hindu saja saat itu, karena kebetulan, teman saya seorang hindu dan saya selalu suka saat dia berkata “om swastiastu…’. Saya juga suka wangi dupa saat berkunjung ke rumahnya. Belum lagi, jadi Hindu itu enak, karena engga harus mengaji tiap sore, menghafal surat, dan PUASA, tapi tetap bisa masuk surga! Engga adil.  

Tapi bagi seorang anak SD, pikiran itu sekelabat lalu saja. Karena jika saya tidak mengaji dan hafal surat pendek, akan ada hukuman menanti saya. Walau menggerutu, tetap saya jalani tanpa paham apa maksudnya.

Saat SMP, saya selalu suka melihat perayaan natal. Saya bahkan berharap kalau saya mau makan, saya bisa berdoa seperti sebagaimana seorang nasrani berdoa. Dan saya penasaran sekali dengan gereja. Apalagi terlihat dari luar, arsiteknya sangat heritage. Terlebih, saat peralihan masa SD ke SMP, saya mengalami goncangan hidup paling dahsyat yang membuat saya marah pada Tuhan nyaris 1 tahun lebih. Saya merasa Tuhan itu bohong saat Dia bilang akan mengabulkan semua doa-doa hambaNya. Nyatanya tidak sama sekali. Tapi, entah karena rutinitas atau apa, saya tidak pernah meninggalkan sholat. Kalau saya marah, saya sering sekali melihat ke atas langit dan berkata dengan sengit, ‘Ya Allah, jadi Tuhan kok jahat banget sih?’.

Hingga saya SMA dan kuliah. Saat kuliah, saya bahkan memutuskan untuk tidak menggunakan hijab. Agama bagi saya menjadi sebuah pilihan yang harus dihormati. Dan saya masih dalam pemahaman bahwa semua agama itu benar adanya, dan orang bebas merepresentasikan definisi Tuhannya masing-masing. Tidak ada yang salah, dan tidak ada yang harus diperdebatkan. Bahkan, saya pernah memenangkan salah satu kompetisi iklan tentang ‘Pro LGBT campaign’. Saya merasa menjadi orang Islam paling toleran yang pernah ada. Sedikit tentang LGBT, bagaimana mungkin saya bisa membenci LGBT saat sahabat saya mengaku bahwa dia gay dan meminta saya menerimanya apa adanya? Maka saya kunci pemikiran-pemikiran itu, dan hidup seperti biasa.

Hingga hidup membawa saya, lagi-lagi ke satu titik terbawah. Kurang lebih 5 atau 6 tahun yang lalu.

Disitulah saya mulai mengkaji pikiran tentang 5 bilik di angkasa untuk 5 Tuhan beserta surga dan nerakanya. Disitulah saya mulai mencari tahu, apa itu Tuhan dan siapa Dia? Kenapa Dia engga pernah berhenti menyiksa saya? Dan pertanyaan saya paling besar: kenapa Dia menciptakan agama yang bikin saya kesusahan menjalaninya? Bagaimana bisa Tuhan bisa memuaskan semua manusia yang jumlahnya milyaran?

Maka pencaharianpun dimulai. Bertanyalah saya kepada si ini dan si itu, membaca ini dan itu.

Sayapun mulai berjalan dari satu ketidaktahuan menuju ketidaktahuan lainnya. Kebingungan satu menuju kebingungan yang lebih besar lainnya. Lalu kemudian dari satu jawaban ke jawaban lainnya. Jangan Tuan dan Puan pikir pemahaman dan jawaban yang saya maksud adalah sesatu yang gaib ya. Seperti misal ada malaikat menampakan diri di depan saya, serambi berkata ‘Jangan sedih…’. 
Karena yang saya maksudkan jawaban adalah, sesuatu yang secara logis bisa saya terima dengan akal pikiran. Itu butuh waktu yang lamaaaaaaaaa, tidak sehari jadi, dan masih terjadi bahkan hingga detik ini.

Hingga beberapa tahun lalu, pertanyaan saya mencapai puncaknya. Saya mulai penasaran tentang kematian. Inilah huru hara itu. Inilah rupanya yang membuat seorang yang percaya Tuhan berani bersikap di luar nalar, sedang mereka yang tidak percaya akan sangat santai melihat hidup. Inilah titik balik saya untuk akhirnya semakin giat mencari tahu.

Dalam pikiran saya, hal yang paling pasti adalah kematian. Sialnya, tidak ada yang bisa bangkit dari kematian dan menceritakan pada saya apa yang akan terjadi disana. Apakah kita benar-benat mati? Pindah tempat? Atau seperti apa?
Dari situlah saya mulai serius mengkaji. Tak lagi saya pedulikan kenapa agama melarang ini dan itu atau mewajbkan ini dan itu. Saya menjadi sangat egois dengan mencari tahu tentang apa yang terjadi saat seseorang mati. Itu saja.

Sama seperti Tuan dan Puan yang juga tidak suka didogmatisasi atau ditakut-takuti, sayapun demikian. Untuk itu, saya mencari tahu perspektif dari semua kepercayaan tentang kematian. Semua Tuan dan Puan, semua! Dan pencarian itulah yang membawa saya di hari ini.

Bagi saya, inilah konsep yang masuk akal atas penjelasan kematian seseorang, bahwa sebuah jiwa akan kembali pada penciptanya dan kelak akan bertanggung-jawab. Inilah jawaban dari celetukan ‘Saya dan Tuhan, adalah urusan saya dan Tuhan kalau memang Dia ada’. Karena memang demikian adanya.

Selanjutnya, pertanyaannya lebih sederhana, Jadi Tuhan, Kamu itu apa, siapa, dan maunya apa?”

Maka saya kembali mencari jawabannya. Bukan dengan semedi, tapi dengan membaca sebanyak mungkin bacaan, membandingkan pendapat, mendengar, dan menghadiri kajian. Betapa saya terkejut saat jawaban-jawabanya ternyata sangat rasional. Surga dan neraka misalnya, tidak seperti yang saya bayangkan, tidak seperti yang orang-orang katakan. Lebih jauhnya, Tuhan tidak seperti yang saya bayangkan. Semuanya masuk akal, tidak berbelit-belit, dan mudah dipahami! BOOM! Namun dasar manusia, saya masih berat untuk menerima jawaban-jawaban itu walau rasional. Malah ada beberapa yang masih sering saya pertanyakan. Tapi lagi-lagi, selama saya mencari, jawaban itu ternyata bisa didapatkan.

Tuan dan Puan yang baik, ada satu buku yang membuka pikiran saya tentang konsep ketuhanan. Walau saya membaca Paulo Coelho dan beberapa artikel tentang konsep Tuhan dan alam semesta, tapi tulisan-tulisan itu malah membuat saya semakin banyak bertanya. Dan semakin dicari tahu, semakin tidak ada jawabannya. Atau saya yang memang logikanya terlalu tumpul untuk paham.
Judul buku itu adalah Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah. Agar lengkap dan tidak timpang, saya putuskan untuk membaca sejarah secara umum tentang peradaban manusia.

Awalnya saya pikir pengetahuan tentang Tuhan dan Agama adalah sesuatu yang akan mengantarkan saya pada jawaban ‘Jangan banyak tanya. Imani saja!’. Makanya saya agak malas belajar soal itu. Karena bagi saya, buat apa belajar sesuatu yang hanya boleh dirasakan tapi tidak bisa dikritisasi. Kan manusia punya akal, boleh dong kita minta sebuah argumen logis.

Tapi rupanya, setelah sedikit demi sedikit dipelajari, saya dikejutkan oleh fakta semua pertanyaan selalu punya jawaban, dan semua penjelasannya ternyata bisa diterima oleh akal sehat. Keyakinan sayapun perlahan lahir dari pengetahuan yang bisa ditangkap akal, dan perlahan hati saya menjadi lebih tenang.

Beberapa orang berkata saya mendapat hidayah.

Awalnya saya kira hidayah adalah sejenis kegaiban atau cahaya, yang membuat siapapun saat terbangun di pagi hari, merasakan ada hal-hal yang berbeda dalam dirinya. Saya sih engga pernah merasa begitu, karenanya saya bilang pada teman saya, ‘Ah masa sih?’

Rupa-rupanya, hidayah itu berupa kumpulan hari saat hati saya terasa sesak tiap bangun tidur, rasa ingin mati saja, merutuk semua orang, mempertanyakan dimana Tuhan, depresi berkepanjangan, mencoba ini dan itu agar tenang, hingga rasa tidak ikhlas yang membuat hati menjadi gundah. Kumpulan hari itulah yang menyeret saya untuk mencari tau jawabannya. Mungkin iya, itu bisa dikatakan hidayah, atau apapun istilahnya.

Namun saya lebih suka mengatakan, bahwa akhirnya perjalanan saya mengantarkan saya pada sebuah awal yang terang. Sebuah awal yang saya yakini dengan logis tentang kenapa saya ada di titik ini. Sebuah awal dari perjalanan panjang ke depan yang sangat misterius. Jika saya menengok ke belakang, saya merasa inilah konspirasi semesta yang tertulis di banyak artikel itu.

Butuh lebih dari belasan tahun untuk menyadarinya, namun inilah saya hari ini: seorang Islam yang masih belajar.

Namun demikian wahai Tuan dan Puan, perjalanan setiap orang berbeda-beda untuk menjawab pertanyaan ini. Seperti yang sangat sering saya baca dari blog-blog atau artikel seorang Ateis atau Agnostik atau bahkan flisuf, bahwa manusia akan selalu ada di fase-fase kehidupannya. Tentang itu, barang tentu saya setuju.

Saya tentu tidak tahu Tuan dan Puan sedang ada di fase mana.

Saya hanya bisa memberi secuil saran, bahwa jawabannya ada di luar sana jikalau mau dicari. Tuan dan Puan kan punya akal pikiran, jadi jika ada pertanyaan, mengapa tidak ditanyakan? Jika Tuan dan Puan mencari tahu dengan hati yang terbuka dan pikiran yang mau menerima jawaban, nanti Tuan dan Puan akan paham.

Bacalah semua referensi dan buku-buku sejarah, berbincanglah dengan sebanyak mungkin orang, dan ambil waktu untuk merenung. Atau Tuan dan Puan bisa mulai dari pertanyaan yang paling ingin Tuan dan Puan dapatkan jawabannya.

Memang agak sedikit menyita waktu, tenaga, dan emosi. Tapi sedikit pengorbanan mungkin akan sepadan dengan apa yang akan Tuan dan Puan dapat. Apapun jawaban yang Tuan dan Puan dapat nantinya, pastilah sesuatu yang sudah lama dicari-cari.

Tidak perlu kita debat kusir hanya untuk mencari tahu mana yang salah dan mana yang benar, apakah Tuhan ada atau tidak, mengapa agama ini begini sedangkan agama itu begitu. Tuan dan Puanlah yang harus mencari tahu, saya hanya menyampaikan apa yang saya ketahui dan alami.

Janganlah Tuan dan Puan menerima sesuatu mentah-mentah. Saya pastikan, otak dan nalar yang kita miliki, cukup bisa dipakai untuk membedakan mana dogma yang tidak masuk akal dan mana yang bukan, serta saya percaya hati Tuan dan Puan bisa tahu jawabannya.

Saya hanya khawatir satu hal saja: Tuan dan Puan kehabisan waktu dan menyesal. Itu saja. Untuk itulah saya bersedia menulis panjang dan lebar tentang sesuatu, yang saya selalu saya hindari untuk ditulis dalam blog ini.

Tuan dan Puan yang baik, bacalah sejenak kisah ini:

Di sebuah sore yang syahdu, seorang lelaki nan baik hatinya datang pada seorang wanita yang dicintainya. Dengan membawa bunga, serta cincin, lelaki itu berkata, “Aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?”

Si wanita menjawab, “Apa buktinya kalau kamu mencintai saya?” Lelaki itu menyodorkan cincin yang disimpannya di kantung sambil berkata, “Sebagai bukti kalau aku mencintaimu, aku akan menikahimu”

Wanita itu acuh sambil berkata, “Cih! Menikah! Kalau cuma ngajak nikah, semua orang juga bisa. Tapi apa buktinya kalau kamu cinta sama saya?”

Lelaki itu terdiam, dan berkata, “Aku akan membelikanmu rumah, mobil, dan membiayai hidupmu dan keluargamu. Itu buktinya”  

Wanita itu terdiam sejenak, lalu berkata “Kalau hanya membelikan mobil, rumah, dan membiayai hidupku, semua lelaki juga bisa!”

Lelaki itu, saking cintanya pada wanitanya, dengan sabar bertanya “Lalu, bukti apa yang kamu inginkan?" 

Wanita itu terdiam. Setelah agak lama dia berkata, “Ya… engga tau. Tapi apa buktinya kalau kamu cinta sama saya?”

Lelaki itu kembali menjawab, “Kan tadi aku sudah bilang, aku akan menikahimu, tidak akan selingkuh, membelikanmu mobil, rumah, dan membiayai hidupmu dan keluargamu”

Wanita itu gusar, “Hal-hal itu bukan bukti kalau kamu mencintaiku!”  

Lelaki itu menjawab, “Aku sudah bertanya, bukti apa yang membuatmu bisa yakin? kamu tak tahu. Aku buktikan semua kesungguhanku, kamu katakan, itu bukan bukti. Lalu mau sampai kapan kamu tidak percaya kalau aku mencintaimu?”

Wanita itu menjawab, “Ah.. mungkin kalau kamu membuktikan kalau kamu sanggup membangunkanku satu rumah di Bulan!”

Lelaki itu tersenyum, “Jika itu yang kamu maksudkan bukti, maka selamanya kamu tidak akan pernah percaya kalau aku mencintaimu”

Mungkinkah Tuan dan Puan bukannya tidak percaya dengan Tuhan dan Agama, melainkan Tuan dan Puan menolak untuk percaya?  Ahh…. Tentang inipun, hanya Tuan dan Puan yang tahu jawabnya, saya hanya berasumsi saja, maaf agak lancang.

Begitulah pendapat saya. Sudah berapa banyak kudapan yang Tuan dan Puan santap hingga selesai membaca?

Akhir kata, saya ucapkan: Selamat mencari tahu (hanya jika dirasa itu perlu)!


Jumat, 14 April 2017

Buih

Tidakkah pemilihan gubernur di Jakarta menjadi tamparan super keras bagi siapapun yang beragama Islam di negeri ini?

Jangan mengerenyit dulu, biar tidak salah kaprah, saya akan jelaskan maksud pemikiran saya.

Pertama, tentang surat Al-Maidah ayat 51. Ibarat artis yang baru naik daun, surat dan ayat ini menjadi lebih sering disebut ketimbang ayat kursi yang membuat setan terbirit-birit, bahkan lebih pamor dibandingkan Al-Kahfi yang barang siapa menghafaz 1 -10 ayatnya akan selamat dari fitnah Dajjal. Seketika, dengan adanya pemilihan gubernur di Jakarta, tidak peduli mereka yang Islam atau tidak, sholat atau tidak, puasa atau tidak, semuanya tau bahwa ada surat di Al-Quran bernama Al Maidah ayat 51. Sejak itu pula, Al-Maidah menghiasi semua lini pemberitaan baik lokal maupun international, dari pesan broadcast di social media, hingga materi pengajian dan jumatan.

Berbondong-bondong juga orang untuk memberikan pemahamannya akan hal ini. Seakan lupa bahwa ayat Allah tidak untuk diperdebatkan. Sebagai seorang muslim, pilihannya menjadi sangat jelas: patuhi atau tidak. Sederhana saja. Kalau tidak suka atau tidak mau mematuhi, yaa…. asumsinya, sebagai seorang muslim dia pasti tau apa konsekuensinya.

Jadi, menjadi ajaib bin buang-buang waktu dan tenaga untuk memperdebatkan sebuah ayat dari Al-Quran. Apalagi berdebat dengan manusia, buat apa? Pilihan ditangan mereka yang muslim. Tidak usah didebat, tidak usah di ‘tapi kan.. tapi kan…’, dan yang paling penting tidak usah mengkafir-kafirkan orang. Aneh sekali kita ini, Allah bukan, kok judgemental, hak dari mana? Bisa jadi yang hari ini tidak mau patuh dengan Al-Quran, besok menyesal. Eh, yang hari ini patuh, besok membangkang.

Kewajiban kita kan hanya memberitahu serta mengingatkan, kalau itu tidak mempan, itu menjadi urusan yang bersangkutan kelak di hadapan Rabbnya. Sudahilah mengarang-ngarang tafsir, apalagi berdebat kusir. Seakan ilmu kita lebih banyak dari Imam Bukhari atau Imam Syafi’i, sehingga berani memberikan interpretasi atas ayat Quran.

Begini Tuan dan Puan, Bapak Ahok atau Bapak Sandiaga hanyalah dua orang manusia biasa saja. Bagaimana jika sehari setelah pemilihan mereka meninggal dunia? Atau bagaimana jika Jakarta ditimpa bala bencana yang sangat buruk dan tidak ada satupun pemimpin yang sanggup hadapi? Bukankah kita diajarkan untuk tidak menyerahkan hal-hal apapun pada manusia yang sangat rapuh itu? Bukankah kita percaya bahwa akan ada kuasa lain dibalik apapun itu? Lalu mengapa kini kita menjadi risau?

Wahai Tuan dan Puan yang baik, tidakkah kita ingat kisah Umar Bin Khatab? Seorang Quraisy yang menganiyaya seluruh umat Islam dan bahkan memiliki keinginan kuat untuk membunuh Nabi? Tapi apa yang Nabi lakukan? Dia berdoa. Beliau berdoa. Apa akhirnya? Seseorang yang awalnya sebegitu benci dengan Islam, akhirnya menjadi pemimpin yang paling tegas dengan hati paling lembut yang pernah diingat dalam sejarah Islam.

Maka, lain kali, perbanyaklah menghadap Rabb, dan sampaikan hajat kita. Bukankah begitu Islam mendidik kita? Bukan dengan amukan, aksi ini atau aksi itu, tapi dengan doa. Bukankah itu senjata kita, seorang muslim?

Kedua, Tuan dan Puan yang baik, ikhlas atau tidak, suka atau tidak, Indonesia memang bukan negara Islam, Jakarta apalagi. Darimana seorang muslim bisa menolak Bapak Ahok mencalonkan diri sebagai gubernur atas nama konstitusi Indonesia? Undang-undangnya jelas, tidak ada yang dilanggar di sini.

Apakah Tuan dan Puan mau berkata “Tapi Indonesia lebih baik di pimpin dengan cara Islam!”. Tapi Tuan dan Puan yang saya sayangi, bahkan di Lombok sana, mesjid dibangun hanya untuk megah-megahan saja, belum dimakmurkan. Menerapkan syariat Islam, hanya bisa jika setiap kali dengar adzan, kita semua tanpa terkecuali meninggalkan perkara dunia, dan sholat. Sudahkah kita bisa?

Lagipula, bukankah Rasul telah mengajarkan pada kita semua tentang semua hal, termasuk adab hidup dengan mereka yang berbeda keyakinan?

Untuk itu, jangan debat kusir dengan lantang berkata bahwa Indonesia lebih pantas dipimpin oleh pemimpin Islam. Bapak Ahok punya hak untuk maju menjadi pemimpin. Tidak ada yang salah, sah saja di depan konstitusi Indonesia. Kecuali kalau Indonesia secara akad adalah negara Islam, lalu seorang non Islam maju untuk jadi pemimpin, nah… itu baru ajaib.

Agar Tuan dan Puan kembali ingat, Indonesia dijajah berabad-abad oleh Belanda, dan kita menjadi merdeka karena kita semua pada saat itu melepas semua atribut kita dan meraih kemerdekaan. Tidak ada ras, agama, atau suku tertentu, begitulah awal mula Bhnineka Tunggal Ika.

Ketiga, kuping saya panas sekali ketika mendengar orang-orang berkata begini, “Pasangan lainnya tidak punya kapasitas yang memadai untuk memimpin ibukota Negara”.

Karena itu mengingatkan saya pada sebuah hadist Nabi “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancurannya terjadi.” Ada sahabat bertanya; ‘Bagaimana maksud amanat disia-siakan?’ Nabi menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan pada kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu” (Bukhari - 6051)

Lalu bagaimana dong?

Bahagianya saya, saya bukan orang Jakarta, jadi tidak akan ikut-ikutan dalam hiruk pikuk pemilihan Gubernur di Jakarta.Yeay!

Hanya saja, ketika melihat debat putaran akhir calon Gubernur dan Wakil Gubernur semalam, dan membaca beberapa komentar di twitter, saya seperti ditampar. Saya bahkan tidak punya kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya.

Betapa tidak, saya menjadi sadar, bahwa jikalau saya adalah seorang Jakartans, saya seakan tidak punya alasan untuk memilih pasangan Anies-Sandiaga selain karena saya patuh pada Al-Quran. Karena tentu saja saya tidak bisa membantah perintah dari yang memiliki langit dan bumi. Karena sebagai muslim, saya harus mengiyakan semua huruf di Al-Quran. Tidak peduli mau sepahit, sesusah, seberat apapun. Karena semua jiwa harus bertanggung jawab pada penciptanya kelak. Saya tentu saja tidak bisa membantah, saat pencipta saya melarang.

Disnilah letak permasalahan itu.

Tidakkah kita ini malu atas kondisi kita hari ini? Kita tidak punya alasan selain karena mengiyakan Al-Quran, kita tidak bisa bangga karena si calon memang kurang kompeten, kita tidak bisa unggulkan mereka karena memang si calon kalah telak dari segi ide, mereka tidak punya pengalaman yang mumpuni. Tidakkah kita malu, kita menyodorkan calon beragama Islam, yang membuat kita gelagapan ketika ditanya ‘Coba tunjukin dimana bagusnya mereka?’.

Saya hanya bisa menunduk dan malu ketika suara di kanan kiri berkata “Islam tidak lebih dari fanatisme berlebihan, konsep kuno, tanpa peduli dengan realita yang seseungguhnya”. Bukan karena Islamnya, tapi karena sikap saya. Tapi mengingat Umar bin Khatab pernah berkata “Angkatlah kepalamu, Islam itu agama mulia.”, setidaknya saya bisa gigit bibir dan mencoba acuh.
Oh Tuan dan Puan, lalu mau sampai kapan?

Mereka mungkin salah kaprah tentang Islam, tapi apakah saya bisa membantah tentang apa yang terjadi dengan muslim hari ini? Saat sholat berjamaah di masjid saja belum mampu ditegakkan.

Tidakkah kita sadar, inilah buih itu. Sayalah buih itu. Sayalah buih yang Rasul bilang dalam hadistnya:  “Hampir terjadi keadaan yang mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya.”  Salah seorang sahabat berkata, ‘apakah karena sedikitnya kami waktu itu?’,  Nabi berkata: “BAHKAN, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai Ghutsa (buih kotor yang terbawa air saat banjir). PASTI Allah akan cabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakan kepada kalian rasa wahn.” Kata para Sahabat: ‘Wahai Rasulullah, apa wahn itu?’ Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud, Ahmad)  

Malunya saya ini, saat Islam sebesar ini, tapi saya bahkan gagap dalam merepresentasikan Islam. Saya katakan bangga, saya yakini lebih dari apapun, saya katakan pengikut Rasulullah, tapi saya bahkan tidak punya argumen logis selain agama untuk melawan Bapak Ahok? Sungguh saya tertampar.

Cobalah pikir, andai calon yang beragama Islam itu seperti Abu Bakar Ashidiq, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, atau Umar Bin Khatab, apakah akan ada debat kusir dan fitnah disana-sini?

Toh perang badarpun butuh siasat dan persenjataan yang kuat bukan? Tidak hanya sekedar ‘Tenang, inilah agama yang benar!’ dan berharap menang. Lalu bagaimana kita memahami “Allah tidak akan mengubah suatu nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (Ar -Ra’d: 11).

Sebagai penutup, saya punya satu kisah untuk kita semua.

Ingatkah bahwa Rasul pernah bersabda: “Sungguh, Konstatinopel (sekarang Istanbul) akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukannya” (HR.Ahmad)

Tahukah bagaimana itu terjadi?

Adalah Muhammad Al-Fatih, putra ketiga dari Sultan Murad II dari kerajaan Turki Utsmani, yang berhasil menjawab hadist itu. Lihatlah bagimana dia harus disiplin mempelajari semua ilmu sejak kecil, melihat kakak-kakaknya dibunuh, diturunkan dari pemerintahannya, hingga saat penggempuran Konstatinopelpun, ia diberikan kekalahan bertubi-tubi oleh Allah.

Bagaimana tidak ada malam yang ia lewatkan tanpa Tahajud, berlatih panah dan tombak setiap hari, hingga membuat siasat perang bertahun-tahun lamanya, dan membaca semua buku. Dia bahkan punya koleksi perpustakaan sendiri. Semangatnya bukanlah untuk mewujudkan hadist Nabi, berkali-kali ia katakan ‘Ayo kita taklukan konstatinopel agar cahaya bisa masuk’. Dia hanya ingin, meraka yang belum tahu menjadi tahu tentang kebenaran. Islam mendidik kita berikhtiar, baru bertawakal.

Lihat sikap Muhammad Al Fatih saat tembok konstatinopel berhasil ditembus, apa yang ia katakan di depan gereja pada seluruh warga konstatinopel yang beragama kristen ortodoks?

“Wahai Rakyat Konstatinopel, jangan khawatir dan jangalah kalian takut! Kalian tidak akan dibunuh atau disakiti sama sekali. Jiwa kalian, harta kalian, rumah kalian tidak akan kami ganggu. Sekarang pulanglah, rapikan rumah kalian, dan besok lakukanlah pekerjaan yang biasa kalian lakukan tanpa takut”  

Dia mencontohkan bagaimana dan apa itu Islam, tanpa berkoar-koar. Tidakkah kita ingin menjadi seperti itu? Tidakah kita ingin menjadi muslim yang kuat dan cerdas?

Tuan dan Puan, kini tidak akan ada lagi perang dengan tombak dan panah atau meriam. Kini semua orang menggunakan otak dan kepintarannya untuk berperang. Tidakkah kita harus membenahi diri kita sendiri saat ini?  Tidakkah sejarah sudah membuktikan bahwa kehancuran Turki Utsmani terjadi saat kita menjadi lalai?

Ini bukan untuk siapa-siapa, ini hanyalah refleksi untuk saya, untuk kita yang mengaku Islam. Tidakah saya ini memalukan? Berdiri pada kebenaran, tapi tidak mencerminkan itu sama sekali?

Tidakkah ini saatnya merapatkan barisan, dan kembali menuntut ilmu dan mempraktekannya pada diri kita sendiri?




Dari Abdullah r.a berkata, Rasullullah saw. bersabda “Belajarlah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain; pelajarilah ilmu dan ajarkanlah kepada orang lain; pelajarilah perkara-perkara fardhu dan ajarkanlah kepada orang lain, karena aku adalah manusia yang akan ditarik dari dunia ini (wafat), dan sesungguhnya ilmu pengetahuan juga akan segera diangkat, sehingga suatu hari nanti, dua orang akan berselisih (tidak sependapat) tentang perkara yang fardhu (karena kurang pengetahuan), sedang tidak ada seorangpun yang memberitahukan dengan benar kepada keduanya tentang perkara fardhu tersebut” (Hr. Baihaqi dalam Syu’abul IImaan II/255)
© RIWAYAT
Maira Gall