Jumat, 14 April 2017

Buih

Tidakkah pemilihan gubernur di Jakarta menjadi tamparan super keras bagi siapapun yang beragama Islam di negeri ini?

Jangan mengerenyit dulu, biar tidak salah kaprah, saya akan jelaskan maksud pemikiran saya.

Pertama, tentang surat Al-Maidah ayat 51. Ibarat artis yang baru naik daun, surat dan ayat ini menjadi lebih sering disebut ketimbang ayat kursi yang membuat setan terbirit-birit, bahkan lebih pamor dibandingkan Al-Kahfi yang barang siapa menghafaz 1 -10 ayatnya akan selamat dari fitnah Dajjal. Seketika, dengan adanya pemilihan gubernur di Jakarta, tidak peduli mereka yang Islam atau tidak, sholat atau tidak, puasa atau tidak, semuanya tau bahwa ada surat di Al-Quran bernama Al Maidah ayat 51. Sejak itu pula, Al-Maidah menghiasi semua lini pemberitaan baik lokal maupun international, dari pesan broadcast di social media, hingga materi pengajian dan jumatan.

Berbondong-bondong juga orang untuk memberikan pemahamannya akan hal ini. Seakan lupa bahwa ayat Allah tidak untuk diperdebatkan. Sebagai seorang muslim, pilihannya menjadi sangat jelas: patuhi atau tidak. Sederhana saja. Kalau tidak suka atau tidak mau mematuhi, yaa…. asumsinya, sebagai seorang muslim dia pasti tau apa konsekuensinya.

Jadi, menjadi ajaib bin buang-buang waktu dan tenaga untuk memperdebatkan sebuah ayat dari Al-Quran. Apalagi berdebat dengan manusia, buat apa? Pilihan ditangan mereka yang muslim. Tidak usah didebat, tidak usah di ‘tapi kan.. tapi kan…’, dan yang paling penting tidak usah mengkafir-kafirkan orang. Aneh sekali kita ini, Allah bukan, kok judgemental, hak dari mana? Bisa jadi yang hari ini tidak mau patuh dengan Al-Quran, besok menyesal. Eh, yang hari ini patuh, besok membangkang.

Kewajiban kita kan hanya memberitahu serta mengingatkan, kalau itu tidak mempan, itu menjadi urusan yang bersangkutan kelak di hadapan Rabbnya. Sudahilah mengarang-ngarang tafsir, apalagi berdebat kusir. Seakan ilmu kita lebih banyak dari Imam Bukhari atau Imam Syafi’i, sehingga berani memberikan interpretasi atas ayat Quran.

Begini Tuan dan Puan, Bapak Ahok atau Bapak Sandiaga hanyalah dua orang manusia biasa saja. Bagaimana jika sehari setelah pemilihan mereka meninggal dunia? Atau bagaimana jika Jakarta ditimpa bala bencana yang sangat buruk dan tidak ada satupun pemimpin yang sanggup hadapi? Bukankah kita diajarkan untuk tidak menyerahkan hal-hal apapun pada manusia yang sangat rapuh itu? Bukankah kita percaya bahwa akan ada kuasa lain dibalik apapun itu? Lalu mengapa kini kita menjadi risau?

Wahai Tuan dan Puan yang baik, tidakkah kita ingat kisah Umar Bin Khatab? Seorang Quraisy yang menganiyaya seluruh umat Islam dan bahkan memiliki keinginan kuat untuk membunuh Nabi? Tapi apa yang Nabi lakukan? Dia berdoa. Beliau berdoa. Apa akhirnya? Seseorang yang awalnya sebegitu benci dengan Islam, akhirnya menjadi pemimpin yang paling tegas dengan hati paling lembut yang pernah diingat dalam sejarah Islam.

Maka, lain kali, perbanyaklah menghadap Rabb, dan sampaikan hajat kita. Bukankah begitu Islam mendidik kita? Bukan dengan amukan, aksi ini atau aksi itu, tapi dengan doa. Bukankah itu senjata kita, seorang muslim?

Kedua, Tuan dan Puan yang baik, ikhlas atau tidak, suka atau tidak, Indonesia memang bukan negara Islam, Jakarta apalagi. Darimana seorang muslim bisa menolak Bapak Ahok mencalonkan diri sebagai gubernur atas nama konstitusi Indonesia? Undang-undangnya jelas, tidak ada yang dilanggar di sini.

Apakah Tuan dan Puan mau berkata “Tapi Indonesia lebih baik di pimpin dengan cara Islam!”. Tapi Tuan dan Puan yang saya sayangi, bahkan di Lombok sana, mesjid dibangun hanya untuk megah-megahan saja, belum dimakmurkan. Menerapkan syariat Islam, hanya bisa jika setiap kali dengar adzan, kita semua tanpa terkecuali meninggalkan perkara dunia, dan sholat. Sudahkah kita bisa?

Lagipula, bukankah Rasul telah mengajarkan pada kita semua tentang semua hal, termasuk adab hidup dengan mereka yang berbeda keyakinan?

Untuk itu, jangan debat kusir dengan lantang berkata bahwa Indonesia lebih pantas dipimpin oleh pemimpin Islam. Bapak Ahok punya hak untuk maju menjadi pemimpin. Tidak ada yang salah, sah saja di depan konstitusi Indonesia. Kecuali kalau Indonesia secara akad adalah negara Islam, lalu seorang non Islam maju untuk jadi pemimpin, nah… itu baru ajaib.

Agar Tuan dan Puan kembali ingat, Indonesia dijajah berabad-abad oleh Belanda, dan kita menjadi merdeka karena kita semua pada saat itu melepas semua atribut kita dan meraih kemerdekaan. Tidak ada ras, agama, atau suku tertentu, begitulah awal mula Bhnineka Tunggal Ika.

Ketiga, kuping saya panas sekali ketika mendengar orang-orang berkata begini, “Pasangan lainnya tidak punya kapasitas yang memadai untuk memimpin ibukota Negara”.

Karena itu mengingatkan saya pada sebuah hadist Nabi “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancurannya terjadi.” Ada sahabat bertanya; ‘Bagaimana maksud amanat disia-siakan?’ Nabi menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan pada kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu” (Bukhari - 6051)

Lalu bagaimana dong?

Bahagianya saya, saya bukan orang Jakarta, jadi tidak akan ikut-ikutan dalam hiruk pikuk pemilihan Gubernur di Jakarta.Yeay!

Hanya saja, ketika melihat debat putaran akhir calon Gubernur dan Wakil Gubernur semalam, dan membaca beberapa komentar di twitter, saya seperti ditampar. Saya bahkan tidak punya kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya.

Betapa tidak, saya menjadi sadar, bahwa jikalau saya adalah seorang Jakartans, saya seakan tidak punya alasan untuk memilih pasangan Anies-Sandiaga selain karena saya patuh pada Al-Quran. Karena tentu saja saya tidak bisa membantah perintah dari yang memiliki langit dan bumi. Karena sebagai muslim, saya harus mengiyakan semua huruf di Al-Quran. Tidak peduli mau sepahit, sesusah, seberat apapun. Karena semua jiwa harus bertanggung jawab pada penciptanya kelak. Saya tentu saja tidak bisa membantah, saat pencipta saya melarang.

Disnilah letak permasalahan itu.

Tidakkah kita ini malu atas kondisi kita hari ini? Kita tidak punya alasan selain karena mengiyakan Al-Quran, kita tidak bisa bangga karena si calon memang kurang kompeten, kita tidak bisa unggulkan mereka karena memang si calon kalah telak dari segi ide, mereka tidak punya pengalaman yang mumpuni. Tidakkah kita malu, kita menyodorkan calon beragama Islam, yang membuat kita gelagapan ketika ditanya ‘Coba tunjukin dimana bagusnya mereka?’.

Saya hanya bisa menunduk dan malu ketika suara di kanan kiri berkata “Islam tidak lebih dari fanatisme berlebihan, konsep kuno, tanpa peduli dengan realita yang seseungguhnya”. Bukan karena Islamnya, tapi karena sikap saya. Tapi mengingat Umar bin Khatab pernah berkata “Angkatlah kepalamu, Islam itu agama mulia.”, setidaknya saya bisa gigit bibir dan mencoba acuh.
Oh Tuan dan Puan, lalu mau sampai kapan?

Mereka mungkin salah kaprah tentang Islam, tapi apakah saya bisa membantah tentang apa yang terjadi dengan muslim hari ini? Saat sholat berjamaah di masjid saja belum mampu ditegakkan.

Tidakkah kita sadar, inilah buih itu. Sayalah buih itu. Sayalah buih yang Rasul bilang dalam hadistnya:  “Hampir terjadi keadaan yang mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya.”  Salah seorang sahabat berkata, ‘apakah karena sedikitnya kami waktu itu?’,  Nabi berkata: “BAHKAN, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai Ghutsa (buih kotor yang terbawa air saat banjir). PASTI Allah akan cabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakan kepada kalian rasa wahn.” Kata para Sahabat: ‘Wahai Rasulullah, apa wahn itu?’ Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud, Ahmad)  

Malunya saya ini, saat Islam sebesar ini, tapi saya bahkan gagap dalam merepresentasikan Islam. Saya katakan bangga, saya yakini lebih dari apapun, saya katakan pengikut Rasulullah, tapi saya bahkan tidak punya argumen logis selain agama untuk melawan Bapak Ahok? Sungguh saya tertampar.

Cobalah pikir, andai calon yang beragama Islam itu seperti Abu Bakar Ashidiq, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, atau Umar Bin Khatab, apakah akan ada debat kusir dan fitnah disana-sini?

Toh perang badarpun butuh siasat dan persenjataan yang kuat bukan? Tidak hanya sekedar ‘Tenang, inilah agama yang benar!’ dan berharap menang. Lalu bagaimana kita memahami “Allah tidak akan mengubah suatu nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (Ar -Ra’d: 11).

Sebagai penutup, saya punya satu kisah untuk kita semua.

Ingatkah bahwa Rasul pernah bersabda: “Sungguh, Konstatinopel (sekarang Istanbul) akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukannya” (HR.Ahmad)

Tahukah bagaimana itu terjadi?

Adalah Muhammad Al-Fatih, putra ketiga dari Sultan Murad II dari kerajaan Turki Utsmani, yang berhasil menjawab hadist itu. Lihatlah bagimana dia harus disiplin mempelajari semua ilmu sejak kecil, melihat kakak-kakaknya dibunuh, diturunkan dari pemerintahannya, hingga saat penggempuran Konstatinopelpun, ia diberikan kekalahan bertubi-tubi oleh Allah.

Bagaimana tidak ada malam yang ia lewatkan tanpa Tahajud, berlatih panah dan tombak setiap hari, hingga membuat siasat perang bertahun-tahun lamanya, dan membaca semua buku. Dia bahkan punya koleksi perpustakaan sendiri. Semangatnya bukanlah untuk mewujudkan hadist Nabi, berkali-kali ia katakan ‘Ayo kita taklukan konstatinopel agar cahaya bisa masuk’. Dia hanya ingin, meraka yang belum tahu menjadi tahu tentang kebenaran. Islam mendidik kita berikhtiar, baru bertawakal.

Lihat sikap Muhammad Al Fatih saat tembok konstatinopel berhasil ditembus, apa yang ia katakan di depan gereja pada seluruh warga konstatinopel yang beragama kristen ortodoks?

“Wahai Rakyat Konstatinopel, jangan khawatir dan jangalah kalian takut! Kalian tidak akan dibunuh atau disakiti sama sekali. Jiwa kalian, harta kalian, rumah kalian tidak akan kami ganggu. Sekarang pulanglah, rapikan rumah kalian, dan besok lakukanlah pekerjaan yang biasa kalian lakukan tanpa takut”  

Dia mencontohkan bagaimana dan apa itu Islam, tanpa berkoar-koar. Tidakkah kita ingin menjadi seperti itu? Tidakah kita ingin menjadi muslim yang kuat dan cerdas?

Tuan dan Puan, kini tidak akan ada lagi perang dengan tombak dan panah atau meriam. Kini semua orang menggunakan otak dan kepintarannya untuk berperang. Tidakkah kita harus membenahi diri kita sendiri saat ini?  Tidakkah sejarah sudah membuktikan bahwa kehancuran Turki Utsmani terjadi saat kita menjadi lalai?

Ini bukan untuk siapa-siapa, ini hanyalah refleksi untuk saya, untuk kita yang mengaku Islam. Tidakah saya ini memalukan? Berdiri pada kebenaran, tapi tidak mencerminkan itu sama sekali?

Tidakkah ini saatnya merapatkan barisan, dan kembali menuntut ilmu dan mempraktekannya pada diri kita sendiri?




Dari Abdullah r.a berkata, Rasullullah saw. bersabda “Belajarlah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain; pelajarilah ilmu dan ajarkanlah kepada orang lain; pelajarilah perkara-perkara fardhu dan ajarkanlah kepada orang lain, karena aku adalah manusia yang akan ditarik dari dunia ini (wafat), dan sesungguhnya ilmu pengetahuan juga akan segera diangkat, sehingga suatu hari nanti, dua orang akan berselisih (tidak sependapat) tentang perkara yang fardhu (karena kurang pengetahuan), sedang tidak ada seorangpun yang memberitahukan dengan benar kepada keduanya tentang perkara fardhu tersebut” (Hr. Baihaqi dalam Syu’abul IImaan II/255)

Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall