Sabtu, 31 Desember 2022

Karena Sedang Hidup Maka Saya Sedang Menikmati

 Sebuah Refleksi 2022

When everything I believed in grew distant, when all this fame turned into shackles, please take my desire away from me. No matter what it takes, oh, let me be myself.

(RM – Wildflower)

Seperti biasa, setiap tahunnya, saya punya dua rutinitas yang selalu saya lakukan. Pertama adalah membuat refleksi akhir tahun dengan mengingat-ingat apa saja yang terjadi di sepanjang tahun dan kedua adalah membuat resolusi. Rutinitas yang sudah saya jalani sejak SMP ini entah kenapa membantu saya untuk sejenak diam dan merenungkan kemana perginya 365 hari yang lalu itu, dan memetakan saya sedang berada di tahapan mana.

Tahun ini saya mencoba membuat refleksi dengan cara melihat semua foto-foto yang tersimpan di google photo dari Bulan Januari hingga Desember dan kemudian menuliskan highlight dari masing-masing bulannya. Setelah selesai menuliskan hal-hal yang ada di Bulan Desember, saya menarik nafas panjang dan langsung mengubah posisi duduk yang tadinya tegak lalu menyender. Refleks saya berkata, “Pantes kamu soak, Peh. Pantes kamu jadi jauh lebih jutek akhir-akhir ini, Peh. It is too much!”

Hingga saya tersadar bahwa hanya sedikit dari resolusi yang tercapai tahun ini. Untuk sejenak saya merasa gagal karena hanya bisa men-checklist sangat sedikit target. Saya merasa tidak bisa punya komitmen untuk melakukan target-target yang sudah saya tentukan di awal tahun. Sejenak saya memarahi diri saya sendiri yang merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri untuk bisa fokus pada target-target yang sudah saya tetapkan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa 2022 menjadi tahun yang amat sangat sibuk bagi saya, bahkan setelah saya lulus kuliah hingga 8 tahun bekerja inilah tahun tersibuk yang pernah saya lalui. Tahun ini, entah berapa kota yang sudah saya kunjungi tahun ini, tidak terhitung berapa hotel untuk rapat intensif yang saya ikuti, hari-hari saya pulang malam dan keesokan harinya sudah hari bekerja lagi. Saya bahkan pernah ada dalam 4 kota berbeda dalam kurun waktu 4 hari. Jumat siang ke Pemalang, Sabtu siang ke Jogja, Minggu siang ke Jakarta, Senin dini hari ke Ambon. Tahun ini saja, saya pulang ke Jogja menjelang lebaran adalah H-2 dan bahkan ketika saya pergi liburan ke Korea Selatan, pagi hingga siangnya saya masih di kantor menyelesaikan laporan. 

Namun, pikiran-pikiran negatif itu hilang perlahan ketika beberapa foto mengingatkan saya pada emosi-emosi dari setiap kejadian-kejadian di tahun ini. Misalnya, saat melihat foto-foto saat tugas lapangan di Aceh, saya ingat rasanya guling-gulingan di kamar hotel hingga membatalkan puasa karena sakit. Saat melihat foto kamar hotel bintang 5 tempat saya tinggal, saya ingat sensasi mualnya karena bekerja hingga jam 10 malam. Atau saya perlu menenangkan diri saat seorang rekan kerja mem-block nomor WhatsApp saya entah karena alasan apa. Perasaan-perasaan yang timbul itu seakan memberikan pembenaran bahwa memang tidak banyak yang bisa saya lakukan selain bekerja karena saya sudah kelelahan.

Mungkin benar, kalau saya kurang memiliki ketegasan dalam mengatur waktu, tidak disiplin dalam mengelola waktu, atau tidak bisa memfokuskan pada hal-hal yang ingin saya dalami. Tapi saya tidak bisa melupakan fakta bahwa saya ini juga bukan robot. Sebagai manusia, saya juga merasakan istilah-istilah sepeti emotionally drained, demotivasi, atau ya sesederhana mager setelah rapat yang bertubi-tubi yang dilakukan sepanjang minggu. Walaupun nyatanya di tahun ini saya sering menekan sisi-sisi humanis sebagai manusia agar tetap bisa bekerja, tapi di penghujung hari, tetap saja saya ini manusia biasa yang energinya habis karena terus-terusnya dipaksa untuk melakukan interaksi sosial. Dan jangan lupa fakta bahwa saya adalah seorang wanita yang setiap bulannya harus menghadapi hormon datang bulan yang membuat tubuh saya lemah dan kurang fokus. Sebagai manusia, banyak komponen yang tidak bisa saya abaikan sebagaimana yang saya lakukan pada usia 20an. Sehingga, jikapun badan saya tidak lelah dan saya masih ada tenaga untuk melakukan beberapa kegiatan untuk mencapai target-target saya tahun ini, pikiran dan energi saya yang tidak sanggup.

Namun, bukan berarti saya tidak memiliki capaian tahun ini. Banyak hal yang sudah tercapai tahun ini, walau itu semua diluar resolusi saya. Dan sebenarnya, tahun ini pun saya sedang mulai belajar untuk menikmati hidup dan melihat hidup yang ada di depan mata saya. Karena kalau diingat-ingat, apa yang saya jalani tahun ini adalah sesuatu yang sudah saya idam-idamkan sejak dulu. Tahun ini saya sebenarnya, saya sedang menjalani kehidupan yang dulu mati-matian saya minta kepada Rabb. Namun entah kenapa, saya tetap merasa bersalah karena resolusi saya tidak tercapai.  

Tarik menarik antara keinginan untuk menikmati apa yang saya sedang kerjakan dengan pikiran bahwa saya harus mengejar target-target yang sudah disusun menjadi pertempuran paling keras sepanjang tahun ini. Belum lagi saya merasa bahwa waktu yang sesekali saya habiskan untuk melakukan hal-hal kurang produktif, seperti scrolling tiktok, adalah sesuatu yang salah. Pun perasaan bahwa saya merasa perlu untuk segera menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, yang mana, sayapun tahu, tidak ada satupun urusan pekerjaan yang bisa langsung selesai dan bersantai sejenak itu bukanlah sebuah dosa. Bekerja itu kan maraton. Ada hal-hal yang memang perlu kita hentikan sejenak untuk memberikan ruang pikiran kita bisa berpikir lebih jernih dan kita tidak didera dengan kelehan karena ingin segera menyelesaikan semua hal.

Ini menjadi refeleksi terbesar tahun ini. Saya rasa, saya sedang berada di masa transisi antara saya hari ini dengan diri saya 10 tahun yang lalu. Dulu saya selalu hidup dengan ambisi untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Saya menjadi tidak bisa bersantai hingga masa depan itu terjadi. Selama saya sekolah dari SD hingga SMA, setiap harinya saya belajar agar setiap semester saya bisa dapat ranking tinggi dan ketika lulus, saya bisa masuk jenjang pendidikan yang baik. Lalu saat kuliah, setiap harinya diisi dengan hal-hal untuk mempersiapkan saya setelah lulus kuliah. Bahkan saat sudah lulus kuliahpun, pekerjaan demi pekerjaan saya kerjakan dengan pikiran kalau saya akan membutuhkan keahlian tersebut ketika berada di satu jabatan tertentu. Bahkan kinipun ketika saya sudah berada di jabatan tertentu yang saya persiapkan selama 8 tahun ini, saya sedang berfikir bagaimana membuat diri saya lebih berguna lagi dengan membuat usaha baru. Di mana titik hentinya?

Menyadari bahwa kita tidak boleh lengah hingga kemudian hidup dalam zona nyaman tanpa memiliki ambisi apapun adalah hal yang baik. Tapi jika kita sedang ada di titik menuai apa yang kita tanam, tidak berdosa untuk duduk sejenak dan menikmati buahnya. Salahnya di mana?

Seorang teman pernah bertanya, “Engga sayang apa Peh apartemenya ditinggal terus gitu, kenapa engga ngekos aja, uangnya ditabung buat sekalian beli rumah?”. Saya tersenyum dan membalas, “Karena aku pengen punya kehidupan yang layak sekarang. Ngekos bikin aku kayak engga punya kehidupan yang imbang. Aku pengen tinggal di tempat yang aku merasa sangat hommy dan betah di sana. Karena kalau nabung-nabung buat kehidupan di masa depan, aku engga tau kehidupan masa depan itu akan ada atau engga. Jadi aku butuh menikmati hasil jerih payahku hari ini dengan cara menikmati hidup yang layak.”

Mungkin itu adalah kuncinya. Bahwa alih-alih saya menyalahkan diri sendiri atas banyaknya target yang tidak tercapai tahun ini, saya perlu melihat yang hidup telah berikan kepada saya dan bagaimana saya sebagai manusia yang memiliki jiwa, pikiran, dan tubuh saya menikmati dan mensyukuri itu semua.

Tahun ini adalah tahun yang sibuk, banyak target 2022 yang tidak tercapai, tapi di satu sisi, saya mencapai banyak hal di luar resolusi saya, dan yang terpenting saya sedang menjalani dan berusaha menikmati kehidupan yang ada di depan mata. Saya tidak akan menyesali apapun. Hidup yang ada di depan saya, adalah hidup yang layak saya nikmati. 

 

Source: https://i.pinimg.com/564x/7c/b0/40/7cb04043809ca3ddcaa48af62ad3f59e.jpg

Sabtu, 25 Juni 2022

25 Juni untuk ke 31 kalinya

 

Saat kau p'roleh rasa dalam makna cinta dan hiraukan semua angkara,

hanya satu buah titah yang kami ejawantah: Terlalu banyak cinta kan binasa.

Lihat dirimu, semakin jauh mengayuh, lewati segala tujuan hidup yang mungkin kau tempuh

(Sheila on 7 – Mari Bercinta)

 

Mudah untuk terus berlari dan meraih banyak hal. Setidaknya itu yang selalu saya katakan pada diri saya setiap tahunnya pada bulan Juni tanggal 25, bahwa apapun yang akan terjadi di depan, saya akan terus meraih sesuatu.

Kehidupan seperti halnya makanan prasmanan, yang menunya akan selalu berganti-ganti, menawarkan pada saya banyak hal yang tidak akan pernah ada habisnya. Tapi sepertinya halnya kemampuan perut dalam menampung makanan, kemampuan saya untuk mencicipi semua hal dalam hidup juga terbatas.

Entah kapan pastinya, tapi kini saya mulai bisa untuk mengatakan “cukup” terhadap hal-hal yang saya sukai. Sarapan hotel misalnya, saya kini hanya mengambil sebatas yang saya butuhkan dan merasa cukup. Cara saya bekerja juga, saya batasi tanpa harus merasa bersalah. Saya belajar untuk mengambil semua aspek dalam hidup sesuai dengan porsinya. Jika sudah cukup, maka cukup.

Sekali lagi, mudah untuk terus berlari dan meraih banyak hal, namun jika saya merasa cukup dan ingin berhenti untuk mengatur langkah selanjutnya, itupun tidak mengapa.

Hari ini saya berusia 31 tahun, tentu masih banyak hal yang ingin saya raih, tentu saya ingin menjadi manusia yang lebih baik, namun sayapun ingin menjadi manusia yang tahu kapan saatnya berkata, “Aku engga butuh lebih dari ini, ini sudah cukup…”

Semoga saya dijauhkan dari keserakahan.

 


Sabtu, 21 Mei 2022

SOAK

 

Waktu handphone saya masih Nokia, saya tidak perlu setiap hari mengisi daya baterainya, cukup 2-3 hari sekali, atau malah 4-5 hari sekali. Baterainya cukup awet karena selain fitur handphone-nya yang memang terbatas, saya pribadi juga bukan tipe orang yang sering menelpon atau SMS orang-orang. Sebelum akhirnya saya beralih ke smartphone, alasan saya mengganti handphone kala itu adalah karena hilang diambil orang atau layarnya retak karena terjatuh. Jadi kalau tidak ada alasan mendesak, saya akan benar-benar menggunakan handphone saya sampai tidak berfungsi sama sekali. Setelah smartphone mulai banyak dipasarkan dan saya beralih ke smartphone, alasan utama saya mengganti handphone adalah karena baterainya sudah soak. Pokoknya, jika sudah harus mengisi daya baterai lebih dari 1 kali setiap harinya, padahal penggunaannya hanya terbatas untuk whatsapp dan akses e-mail atau browsing-browsing ringan, itu menjadi indikasi bahwa saya butuh membeli smartphone baru. Walaupun komponen lainnya masih bagus, tapi kalau baterainya soak, itu sudah cukup menganggu bagi saya.

Jika hidup bisa dianalogikan seperti sebuah teknologi smartphone, artinya hidup akan selalu beroperasi untuk mencapai makna dan tujuannya. Karna smartphone dirancang dengan banyak fungsi untuk bisa dimanfaatkan selama benda itu beroperasi dengan baik. Walaupun sebagai pengguna, kita tahu betul bahwa agar bisa beroperasi dengan maksimal, ada banyak komponen yang harus secara konstan diperbaharui, mulai dari sistem operasinya hingga memori penyimpanannya. Kita pun sadar, bahwa ada banyak komponen dalam smartphone yang tidak bisa diperbaharui, melainkan harus diganti sepenuhnya dengan produk baru.  Seperti jika sudah terlalu lama dipakai, baterai handphone akan soak, kamera tidak lagi tajam, kadang suara telepon juga tidak jelas, serta layar yang tidak lagi setajam saat pertama kali dibeli. Kalau kata teman saya, “Itu karena hardware-nya engga bisa ngikutin kemajuan software-nya, Peh.”

Di sebuah cuplikan video BTS, Park Jimin pernah berkata yang kurang lebih intinya begini, “Kalau suatu hari nanti baterai kita semua sudah habis, engga peduli mau seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk istirahat, di saat itu, aku rasa kita harus bubar sebagai BTS. Aku engga yakin aku bisa hadapi sedihnya kayak gimana, tapi aku rasa itu satu-satunya cara.”

Sebagai Army (sebutan untuk fans BTS), saat melihat tayangan itu, tentu saja saya merasa sedih karena artinya satu saat nanti, cepat atau lambat, mereka akan bubar dan tidak ada lagi BTS yang menemani hari-hari saya. Namun secara personal, saya menangkap sesuatu yang sama dengan apa yang dikatakan Jimin.

Dalam kurun waktu satu bulan terakhir ini saja, saya merasa mobilitas saya sangat tinggi. Dimulai dari rangkaian workplan di Bogor di pertengahan bulan lalu, istirahat sehari, lalu ke Aceh untuk monitoring dan evaluasi selama semingguan hingga H-3 Lebaran, sampai ke Jakarta, H-2 lebaran pulang ke Jogja, lalu belum genap libur lebaran selesai, saya sudah terbang ke Papua Barat, berada di Jakarta selama satu mingguan, lalu pergi lagi ke Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Saya tidak hanya merasa disorientasi lokasi, tapi saya juga merasa baterai saya soak.

Awalnya saya sempat berpikir mungkin ini karena rentetan kegiatan dalam kurun waktu 1 bulan yang tidak ada habis-habisnya. Namun ketika saya melihat secara keseluruhan jadwal dan capaian saya dari awal tahun 2022, saya merasa mencapai lebih dari apa yang saya rencanakan. Saya merasa menggunakan energi maksimum saya untuk bekerja, mendaftar beasiswa, dan memulai start-up. Serta di saat bersamaan, saya merasa perlu memulihkan diri dari bekas-bekas pandemi yang menjadi luka serta hadir secara emosioanl untuk teman-teman dan keluarga saya. Pun ketika melihat keseluruhan perjalanan panjang pekerjaan saya, saya ternyata cukup konsisten dan lama berada di bidang ini selama 8 tahun terkahir. Itu semua membutuhkan energi yang sangat besar dan saya merasa wajar jika baterai saya soak.

Apakah ini artinya saya terlalu memfotsir waktu dan energi? Saya kurang tahu juga, tapi sepertinya juga tidak. Dalam penilaian saya, saya merasa mengambil waktu istirahat dengan baik. Hari ketika saya meniatkan diri untuk beristirahat, saya maksimalkan dengan baik. Saya akan tidur, menonton tayangan yang saya sukai, sekedar melihat konten BTS di Tiktok, atau melamun. Alhasil, saya akan lebih baik dan lebih bugar keesokan harinya. Tidak hanya itu, jikapun bukan hari libur tapi saya sudah merasa sangat lelah, saya akan dengan sengaja menutup laptop dan melakukan hal lainya agar dapat kembali segar. Saya merasa, saya sudah semakin mahir dalam beristirahat. Namun, tetap saja, saya merasa baterai hidup saya soak.

Saya tidak tahu apa persisnya yang dialami oleh BTS ketika mereka membicarakan untuk pensiun dan bubar, tapi sepertinya saya bisa merasakan apa rasanya sebagai pekerja di bidang pembangunan sosial yang kelelahan dengan semua rutinitas dan topik-topik yang sama selama hampir 8 tahun terakhir.

Mungkin manusia memang sama persis seperti sebuah handphone dengan kapasitas baterai yang terbatas dan akan soak jika sudah digunakan dalam waktu lama. Pertanyaannya, jika kita bisa mengganti handphone lama kita dan membeli yang baru agar kita bisa mendapatkan manfaatnya, apakah kita bisa melakukan hal serupa dengan hidup kita sendiri? Bisakah kita mengganti kehidupan lama kita dan kemudian mengganti dengan kehidupan baru? Apakah jika BTS memutuskan untuk bubar selamanya karena para anggotanya merasa kelelahan luar biasa, maka kehidupan mereka setelah itu menjadi lebih baik?

Saya tidak pernah benar-benar merasakan kehabisan energi atau ya katakanlah baterai hidup saya soak hingga saat ini. Sebelumnya, saya selalu merasa bahwa banyak hal yang harus dieksplorasi dan baterai saya cukup kuat untuk menampung energi-energi itu. Contoh sederhananya saja, dulu saya tidak pernah melewatkan sarapan di hotel berbintang karena itu menjadi hal yang saya sukai, mencoba menu-menunya dan duduk sambil melamum. Namun sekarang, tidak peduli berada di hotel berbintang manapun, saya sering menelfon room service untuk mengantarkan sarapan ke kamar saya dengan menu yang sama: telur, sosis, buah, dan kopi. Atau jika saya ada di daerah baru, dulunya saya akan menyempatkan diri untuk menjelajahi pantainya, tapi ssekarang, saya ingin menyelesaikan pekerjaan dan tidur di kamar hotel maksimal jam 10 malam.

Jika hidup memang bisa diibaratkan handphone, saya percaya bahwa hidup saya memang berjalan sesuai dengan tujuan dan makna yang telah ditetapkanNya. Hanya saja, untuk tetap beroperasi secara maksimal, sebagai manusia saya merasa banyak komponen yang sudah soak saat ini. Sepertinya energi yang harus dikeluarkan terlalu besar dari kapasitas baterai yang saya miliki hari ini. Jika baterai smartphone masih dalam keadaan baik, kita cukup mengisi dayanya 2 hari sekali. Namun jika sudah soak, baterai akan mudah habis dan kita harus mengisi lagi dayanya bahkan tiap berapa jam sekali. Saya merasa seperti itu sekarang. Betul, saya beristirahat dengan cukup dan sering, namun energi saya akan mudah terkuras karena kondisi baterai-nya sudah soak.

Entah apa yang harus dilakukan saat ini, namun sepertinya mengambil rehat menjadi salah satu pilihan yang akan saya ambil. Saya belum menemukan jawaban bagaimana caranya agar baterai hidup saya tidak lagi soak, tapi satu hal yang saya sadari, jika kondisi berlangsung lebih lama lagi, tidak peduli sebarapa banyaknya istirahat yang saya gunakan, saya tidak akan berfungsi maksimal sebagai manusia. Mengutip apa kata teman saya di awal, sesuatu di internal saya mungkin terlalu besar, sementara kemampuan eksternal saya masih belum diperbaharui.

Semoga saya bisa mendapatkan cara mengganti baterai ini.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/229683649735566467/


Senin, 04 April 2022

Kematian Pertama

 

“If this can no longer resonate, no longer make my heart vibrate, then like this may be how I die, my first death. But what if that moment's right now?”

(BTS – Black Swan)

Di film Soul, ada satu alam di mana jiwa-jiwa yang tidak bahagia di dunia akan masuk kedalamnya. Di alam itu berkumpul manusia-manusia yang tidak sepenuhnya merasa hidup di dunia, tapi secara raga mereka juga belum mati. Di film itu, contoh yang diperlihatkan adalah pegawai kantoran yang berprofesi sebagai akuntan. Dia ini tidak menikmati hidupnya, tapi secara jasmani dia belum meninggal dunia. Mungkin kalau kita bisa bahasakan, hidup segan mati tak mau.

Saya jadi ingat ungkapan yang pernah saya saya baca bahwa kita akan merasakan mati beberapa kali dan hidup kembali sebelum mati yang sesungguhnya. Ya mirip dengan quote pinterest yang cukup terkenal, don’t die before you are dead’.

Lalu sekali waktu, ketika saya iseng scrolling Twitter, saya membaca postingan dari salah satu Army BTS yang membagikan perspektifnya tentang makna dibalik lagu Black Swan. Dia menulis bahwa melalui lagu itu, BTS membagi ketakutan terbesar mereka yaitu jika merasa musik tidak lagi dapat menggerakan hidup mereka lagi. Mereka takut jika suatu hari mereka bangun di pagi hari, dan merasa tidak lagi ingin bermusik, bagi mereka itu adalah kematian pertama.

Dalam hidup, kita punya banyak sekali aspek, mulai dari asmara, keluarga, pekerjaan, pertemanan, pendidikan, keuangan, dan masih banyak lagi. Saya percaya jika kita mencurahkan segenap rasa yang kita miliki untuk satu aspek dalam hidup kita, itu sama saja kita memberikan ‘nyawa’ pada aspek tersebut. Misalnya, jika kita benar-benar ingin menjadi istri atau suami yang baik, artinya kita akan mencurahkan energi dan komitmen terbaik agar rumah tangga kita berjalan sesuai harapan. Tapi kemudian, karna satu dan lain hal ternyata kita harus berpisah dengan pasangan, perpisahan itu saya percaya, akan merenggut bagian tertentu dalam hidupnya dan itu bisa diibaratkan kematian. Betul kita masih hidup secara raga, tapi ada bagian dari hidup kita yang mati. Jadi wajar jika BTS merasa kalau keinginan bermusik mereka sudah hilang, padahal itu telah menjadi mimpi mereka sejak lama, itu serupa dengan kematian.

Membuat label kematian, tentu akan berbeda satu orang dengan orang lainnya tergantung aspek apa dalam hidupnya yang dipandang penting, dan seberapa besar dia mau mencurahkan energinya. Bagi saya, sebutlah saya picisan, tapi kematian pertama saya adalah pada aspek kehidupan bernama asmara.

Bagaimana saya menyadarinya?

Hingga detik saya menulis ini, hanya ada satu kisah asmara dengan satu orang yang merenggut semua hal yang saya miliki dan saya butuh 6 tahun untuk bisa benar-benar pulih. Kisah ini sangat panjang, tapi saya akan ringkaskan sedikit bagaimana saya menyudahi semua kagalauan dan perasaan padanya, hingga merasa inilah kematian pertama saya.

Anggaplah dia ini seperti makanan yang masuk dalam tubuh saya. Makanan ini sebenarnya dari awal juga tidak baik untuk dikonsumsi, terutama jika porsinya terlalu banyak. Namun 6 tahun yang lalu, badan saya masih sangat bugar dan saya belum bisa membedakan mana makanan yang sehat dan mana yang tidak. Satu hal yang saya tahu, makanan ini menimbulkan efek bahagia dan rasanya enak. Beberapa orang yang tahu bahwa saya mengkonsumsi makanan ini sudah mewanti-wanti, “Jangan dimakan lagi, nanti kamu sakit loh”, tapi saya tidak mau mendengar karena memang efeknya menyenangkan dan rasanya enak. Hingga singkat cerita, saya melampaui batas dan makanan itu tidak bisa lagi saya konsumsi. Saya pikir, permasalahan selesai ketika saya berhenti mengkonsumsi makanan itu. Saya pikir, jika saya detoks, maka tubuh saya akan kembali seperti semula.

Nyatanya tidak. Justru kebalikannya, itu adalah awal mula dari perjuangan yang sebenarnya.

Makanan itu terlanjur memberikan efek buruk bagi tubuh saya. Saya terlambat menyadari bahwa efek makanan itu adalah tumbuhnya tumor dalam tubuh. Tumor itu menyebar dan menjadi kanker yang semakin susah saya obati. Walaupun saya sudah tidak lagi mengkonsumsi makanan itu, namun melawan kanker dan tumor yang sudah terlanjur muncul adalah perjuangan yang luar biasa sulit. Setelah semua upaya saya lakukan, barulah di tahun keenam, saya harus mengambil langkah ekstrem untuk mengamputasi bagian dari tubuh saya agar sel kanker itu tidak lagi menyebar. Tumor hilang, kanker dinyatakan tidak ada lagi, tapi saya lumpuh. Lumpuh memang bukan berarti kematian. Tapi mimpi-mimpi saya untuk bisa mendaki gunung, berenang, dan atau bergerak secara bebas terenggut. Dan itulah kenapa saya katakan sebagai kematian pertama. Begitu kurang lebih analoginya.

Teman saya yang tahu betul perjalanan asmara saya pernah bertanya, “Beneran engga ada perasaan apa-apa lagi, Peh?”

Saya jawab, “Engga… aneh banget ya. Aku juga bingung loh. Kayak doaku terkabul, perasaanku kecabut seakar-akarnya. Hampa dan kosong gitu loh.”

Butuh setahun setelah usaha terakhir untuk memperjuangkan perasaan padanya hingga saya menemukan jawaban mengapa perasaan saya tiba-tiba netral dan kosong. Rupa-rupanya, saya tidak hanya menyudahi perasaan padanya, tapi saya memotong kemampuan untuk bisa mencintai seseorang. Betul perasaan saya padanya hilang, tapi kemampuan saya dalam mencintai dan keinginan untuk bisa mencintai orang lain pun ikut hilang. Saya merasa kosong dan kesepian, tapi saya tidak punya urgensi untuk mencari pasangan. Saya tahu bahwa saya harus memulai lagi untuk percaya, tapi kemampuan untuk itu sedang tidak ada.

Bagi saya, ini adalah kematian pertama. Kenapa? Karena dia membuat saya percaya bahwa harapan untuk bisa memiliki keluarga, sesuatu yang dia tahu betul menjadi keinginan terbesar saya karena hal itu tidak saya miliki sejak kecil, dapat terwujud. Sementara diapun tahu bahwa dia tidak bisa mewujudkan harapan itu dan saya dengan naifnya percaya. Saya menyerahkan padanya satu nyawa dan kini nyawa itu hilang.

Tapi tenang, kabar baiknya adalah sebelum kita benar-benar meninggal dunia, akan ada waktunya kita merasa hidup kembali dan mendapatkan kembali nyawa-nyawa kita yang pernah hilang. Saya percaya ini bukan hal yang selamanya. Ini hanya fase. Saya percaya bahwa akan ada waktuNya saya akan kembali hidup, dan kemampuan saya dalam mencintai akan kembali. Hingga saat itu, biarkan saya mencerna kematian ini.


Do your thang with me now. What's my thang? tell me now.

(BTS)

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/1337074883827688/


Selasa, 29 Maret 2022

Bahkan Tanpa Kata, Kita Tahu Bahwa kita Tahu

 

"But we were something, don't you think so?
Roaring 20s, tossing pennies in the pool
And if my wishes came true, it would've been you"

(Taylor Swift – The 1)

Baru-baru ini, saya bertemu dengan seseorang. Saya mengajaknya pergi ke pantai karena saya sedang suntuk-suntuknya bekerja dari rumah dan entah kenapa, saya kepikiran untuk mengajak dia pergi. Agak random memang. Setelah saya hubungi, ternyata dia bersedia menemani saya, dan di hari yang kita sepakati, kita berdua pergi ke pantai. Ternyata, pertemuan kami dan agenda ke pantai dadakan itu malah sebuah reuni kecil diantara kami.

Kami sudah mengenal sejak 2011, saat kami masih sama-sama kuliah walau beda kampus. Saat itu saya bahkan masih pakai hot pants dan berambut panjang tergerai tanpa hijab. Namun setelah kami lulus kuliah dan mulai bekerja, sejak 2014 kami tidak sering berkomunikasi lagi. Dan seingat saya, terakhir kali kami bertemu adalah 8 tahun yang lalu.

Awalnya saya membayangkan mungkin pertemuan kami akan berjarak atau penuh kecanggungan, namun menariknya, sepanjangan perjalanan pulang-pergi bersama dia, bagi saya, dia tidak berubah sama sekali. Kami tertawa terbahak-bahak saat saya meledeknya bahwa selera musiknya masih begitu-begitu saja, tidak ada perubahan. Cara dia menyentuh layar handphone-pun masih sama, dengan jari tengahnya. Bahkan gaya dia membalas pesan WA saya pun masih sama, tidak basa-basi. Dan tidak hanya itu, apa yang saya rasakan padanya, juga tidak berubah. Tidak sedikitpun.

2011 saat kami masih sama-sama kuliah dan kerja paruh waktu di tempat yang sama, dia adalah orang yang entah bagaimana selalu bisa saya andalkan untuk antar-jemput di kala saya sedang lelah. Tidak seperti orang lain yang memang ada maksud terselubung dengan antar-jemput saya, bersama dia, rasanya seperti diantar-jemput orang yang tepat. Dia bukan orang yang mahir memberi pesan tarik-ulur ala lelaki di awal 20 tahunan. Bagi dia, semuanya adalah tentang aksi yang nyata. Jadi pernah waktu itu saya bilang, “Aku capek deh besok abis kuliah langsung kerja sampe malem”. Dia tidak akan membalas dengan basa-basi, ‘Gimana, mau aku anter jemput?’. Tapi dia akan langsung bilang, “Oke, besok jam 8 pagi siap-siap ya. Karena aku kuliah pagi juga, jadi kamu siap lebih awal.”. Dan benar saja, jam 8 dia akan ada di depan rumah, tanpa malamnya perlu konfirmasi ulang. Setelah menjemput saya di rumah dan mengantar ke kampus, dia akan tanya, “Jemputnya jam 2 ya?” Dan saya tinggal bilang, “iya”. Maka jam 2 siang, dia akan ada di depan gerbang kampus, menjemput dan mengantar ke tempat kerja paruh waktu. Saya tidak pernah punya peraaan yang meledak-ledak seperti perasaan kasmaran jika sedang bersama dia. Saya tidak merasa ada kecamasan berlebihan atau merasa harus memberikan impresi yang spektakuler. Bersama dia, saya merasa tenang, cukup, dan bisa menjadi saya tanpa perlu banyak bicara. Maret 2022, bahkan saat saya bertanya apakah dia bisa pergi ke pantai menemani saya, perasaan saya padanya pun masih sama. Dia, masih seperti orang yang saya kenal di 2011.

Sepanjang perjalan dari rumah saya di Jalan Kaliurang hingga ke Pantai Parangtritis, saya mencoba merangkum hidup saya sesingkat mungkin agar dia mendapat gambaran apa yang sedang saya lakukan selama ini. Pun dia, mencoba menceritakan pada saya apa yang dia alami selama 8 tahun terakhir. Dan tukar cerita itu, bagi saya, berjalan seperti kita tidak pernah hilang kontak bertahun-tahun. Mengalir saja.

Lalu kita ini apa? Hmmm apa ya?

Jika bicara soal membahasakan sesuatu, semakin kesini saya semakin pusing dengan banyak sekali istilah-istilah yang digunakan. Ada satu akun di tiktok yang membuat konten tentang istilah-istilah yang populer di kalangan anak Jakarta Selatan. Dia sering bilang, “Oh sekarang kalau cemas namanya panic attack. Kalau butuh liburan tapi engga mau jauh-jauh namanya staycation atau healing.” Saya waktu liat kontennya itu, hanya bisa tersenyum geli karna kok rasanya ribet sekali ya jadi manusia hari ini yang apa-apa harus ada labelnya.

Entahlah, rasanya semakin kesini, kita memang semakin haus mencari istilah. Rasanya kita perlu membahasakan semua yang abstrak dengan sesuatu yang konkrit. Kita harus mengklasifikasi semua hal pada folder-folder tertentu. Entah kenapa rasanya semua hal harus masuk pada istilah umum.

Ini jadi mengingatkan saya pada series terakhir yang saya tonton, Stranger Things. Di episode-episode awal saat ibu Will, Mrs. Byers melihat penampakan si mahluk dari upside down world, dia selalu tergagap bilang, “I see that…. That thing came out from the wall”. Kita juga sebagai penonton tidak tahu harus menyebut si mahluk itu apa, bahkan judul seriesnya saja Stranger Things. Seakan menjelaskan betapa sulitnya itu dijelaskan.

Saya merasa banyak hal di hidup saya seperti halnya mahluk alien di Stranger Things. Saya tidak tahu harus membahasakan bagaimana atau menjelaskan dengan kata yang seperti apa, tapi saya tau persis bahwa hal-hal itu terjadi. Saya sering tergagap dan bersembunyi di balik kata-kata, ‘ya gitu deh pokoknya’ karena merasa tidak bisa menerjemahkan dengan jelas apa yang saya rasakan, atau kejadian apa yang sedang atau pernah terjadi dalam hidup saya. Saya merasa banyak hal di hidup saya atau bahkan di dunia ini yang tidak bisa dikategorikan ke dalam istilah umum.

Istilah mantan pacar misalnya. Apa sih itu yang disebut mantan pacar? Apa indikator seseorang menjadi mantan pacar? Apakah harus diawali dengan jadian lalu ada kata putus diakhirnya? Apakah mantan pacar dinilai dari seberapa berharganya hubungan yang dilalui? Atau apa?

Contoh lainnya adalah penamaan sahabat. Bagaimana seseorang itu layak disebut sahabat? Apakah setelah melewati lebih dari sekian tahun pertemanan? Apakah harus bermusuhan dulu? Atau yang bagaimana? Oh, satu lagi, tentang selingkuh. Pada posisi apa seseorang dikatakan selingkuh? Apakah kalau sudah ada aksi nyatanya, atau hanya sebatas menyimpan dalam hati? Jika hanya menyimpan dalam hati dan dikatakan selingkuh, bagaimana membuktikannya? Tapi haruskah menunggu hingga kepergok baru bilang selingkuh?

Benar kan, banyak hal yang indikatornya saja tidak jelas, lantas mengapa kita selalu harus memasukan segala hal pada kategori tertentu, atau merasa harus memberi nama yang jelas? Memangnya kenapa jika banyak hal di dunia ini yang absurb apa adanya?

Kembali ke seseorang yang menemani saya ke pantai. Di hidup saya, beberapa orang-orang tidak bisa saya sebut hanya dengan istilah ‘teman’, namun kami juga tidak punya sesuatu yang special. Hubungan kami seperti di tengah-tengah antara ada apa-apa dan tidak ada apa-apa. Misalnya lagi, saya punya satu mantan pacar karena dia secara resmi nembak saya dan saya bilang “iya, ayok kita pacaran”. Tapi dia bukan orang membekas dalam hidup saya dan hubungan kami hanya berjalan satu bulan. Menurut saya, itu tidak pas dikatakan mantan pacar. Sementara beberapa laki-laki yang kehadirannya di hidup saya amat sangat membekas, tapi justru tidak pernah ada hubungan resmi diantara kami.

Atau dalam hal persahabatan misalnya, di periode tertentu, ada beberapa orang yang paling memahami saya karena saya menghabiskan waktu untuk bercerita banyak hal pada mereka. Namun hari ini, saya tidak tahu sedikitpun tentang mereka, beberapanya bahkan saya tidak lagi menyimpan nomernya. Namun bagi saya, mereka tetap sahabat-sahabat saya, hubungan kami di rentang waktu itu sangat berkesan dan saya akan berusaha mengingat mereka selamanya.

Tapi saya tidak akan mengatakan bahwa semua hal harus dibiarkan absurb atau abu-abu. Ada beberapa hal dalam hidup yang garis pemisahnya harus dibuat jelas memang. Hanya saja, perlu kita pahami bahwa ada banyak hal di dunia ini yang sangat sulit sekali dimasukan pada label-label tertentu. Untuk hal-hal yang seperti ini, saya lebih suka membiarkannya apa adanya.

Karena memang akan selalu ada orang-orang di hidup kita yang saat namanya disebut, membuat kita terdiam sejenak dan berkata, ‘dia tuh… orang yang….’. Beberapa pertistiwa juga tidak akan cukup dimasukan dalam kategori yang umum. Beberapa peristiwa juga akan membuat kita terdiam sejenak dan berkata, ‘sesuatu terjadi… aku sampe sakarang juga masih engga tau, itu kenapa dan gimana. It just happened’.

Beberapa hal memang seperti Demorgorgon, aneh tapi nyata.


Sumber Gambar:https://id.pinterest.com/pin/229683649737598932/


 

 

© RIWAYAT
Maira Gall