Senin, 07 November 2016

Bandara, 2014

“Aku kadang berharap kalau aku bisa ketemu kamu dari dulu,waktu kamu masih kuliah”  


Adegan kesukaan saya ketika menonton film adalah saat si tokoh utama mendapat kesulitan, dan kemudian secara tepat waktu diselamatkan oleh sesuatu atau seseorang.
Misal di adegan The Golden Compass, ketika si Lyra Belacqua diselamatkan Serafina Pecaqala di adegan tempur. Atau ketika di film X-man Apocalypse, si ganteng dan lucu Quicksilver, tiba-tiba muncul dan mengeluarkan semua orang dari dalam gedung. Atau ketika Dr. Sienna Brooks membelot menjadi antagonis di film Inferno. Oh, atau adegan picisan yang mungkin akan selalu diingat semua orang, yaitu ketika Cinta akhirnya berhasil bertemu Rangga tepat sebelum Rangga masuk ke security check. “Ranggaa... Tunggu!”, Kata Cinta dengan nafas sengal.

Adegan-adegan itu rasanya selalu bikin saya tersenyum haru. Melihat semua adegan berada pada detik yang seharusnya, berjalan secara presisi tanpa terlambat sedetik atau kurang sedetik, adalah penghiburan bagi saya. Si tokoh, mungkin mereka juga tidak pernah mengetahui tentang bantuan apa yang akan dia dapat. Semuanya serba rahasia di tangan sutradara.

Maka begitulah saya mencoba mendefinisikan tentang pertemuan antara saya dan dia.

Kemarin saya datang ke kampus, untuk satu dan dua hal. Sewaktu mau pulang, hujan deras turun dan membuat saya harus berdiam di kampus agak lama. Ternyata, hanya butuh hujan dan sebuah lokasi untuk membuat manusia kembali mengingat hal-hal.
Maka jadilah, saya di sore itu mulai mengingat hal-hal di jaman perkuliahan. Saat saya berlarian masuk kelas PNI atau PMI, saat harus ngemsi beberapa acara kampus, saat saya merasa aneh berpapasan dengan mantan pacar, saat makan di kantin dan menatap nyinyir geng kelas sebelah, dan sebagainya, dan sebagainya.

Lalu terpikirkanlah juga di sore itu, sedang apa dia, di masa-masa saya sedang kuliah. Dan kalau kami betulan bertemu di masa-masa saya yang masih kuliah, seperti yang dia pernah bilang, apa yang sekiranya akan terjadi dengan kami ya?

Maka sayapun membayangkan beberapa skenario.

Mungkin kami akan LDR, dan dia akan ke jogja tiap semester. Atau, dia mungkin akan impulsif pindah kuliah ke Jogja. Hmm...
Atau, kami justru akan menghindari satu sama lain. Atau malah tidak tertarik sama sekali.

Hingga lamunan saya terhenti pada awal pertemuan kami yang sesunguhnya.
Saat membayangkan itu, saya menarik nafas cukup panjang dan tersenyum.

Saya menjadi lebih yakin bahwa tidak ada waktu yang lebih tepat bagi kami untuk bertemu selain pada saat kami bertemu. Bandara Soekarano Hatta, malam hari, menjelang penerbangan ke Papua. Begitu juga cerita-cerita yang terjadi selanjutnya. Seperti dia datang ke Jogja untuk nonton Maliq, kami satu tim ke maluku, hingga hari ini dia di rumah sakit karena malaria dan saya di kampus membayangkan macam-macam.

Saya tidak akan meminta untuk diperlambat atau dipercepat barang sedetikpun untuk sebuah pertemuan dengan dia. Detik selalu jatuh pada waktunya, pada sebagaimana mestinya. Seperti detik saat saya menjabat tangannya untuk pertama kali, dan dia menyebutkan namanya. Lalu kembali sibuk main game...  

Dan tentu saja, hanya Tuhan yang selalu lebih tau tentang konsep waktu. Itulah kenapa, tentang waktu akan selalu jadi pertanyaan besar manusia. Seperti halnya film, kita hanya aktor dari sebuah skenario besar yang penuh rahasia milik Tuhan.

Begitu juga pertanyaan-pertanyaan saya yang kadang bernuangsa nelangsa, tapi kadang juga optimis tentang dia. Tentang kita.‘Kapan ini semua menjadi jelas, wahai Tuhan?’, ‘Sampai kapan sih ini semua akan saya alami, Tuhan?’, atau 'Jadi, kami punya kesempatan engga sih, Tuhan?'

Semua masih samar dan sedemikian misterinya saat ini. Tapi ibarat semua adegan di film, saat semua kejadian diatur tepat waktu, maka semua detik dalam hidup sayapun akan jatuh pada waktunya. Semua jawaban yang saya butuhkan akan hadir pada episodenya.

Saya selalu yakin itu.




"Sungguh bodoh seseorang berharap sesuatu terjadi di waktu yang tidak dikehendakiNya"
(Ibnu Atha'illah as-Sakandari)

Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall