Senin, 30 Desember 2019

Melenturkan Diri

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk!
(Tan Malaka)


Semua orang yang sering berinteraksi dengan saya, pasti tahu kalau saya bukan orang yang mudah untuk dibujuk. Pun saya mengakui bahwa saya bukan orang yang mudah untuk mencoba hal-hal yang baru. Dua hal yang kalau dikombinasikan, cukup untuk mengkatagorikan saya sebagai tipe orang yang susah ‘move on’, bahkan untuk urusan yang sepele.

Kalaupun pada akhirnya saya melakukan eksperimen untuk mencoba sesuatu yang baru, bisa dipastikan itu karena saya sudah melakukan kontemplasi dalam waktu yang lama, bahkan bisa sampai membuat orang lain kesal karena saya terlalu lama mengambil keputusan. Sering bahkan, saya sampai membuat daftar pros dan cons hanya untuk mengambil satu keputusan yang sebetulnya remeh-temeh.

Namun begitu, predikat ‘bermain aman’ juga tidak sepenuhnya tepat mengambarkan kepribadian saya. Sering kali dalam hidup, saya mengambil banyak keputusan-keputusan yang membuat orang-orang di sekeliling saya geleng-geleng kepala karena bagi mereka apa yang saya lakukan itu terlalu berisiko. Tapi impulsif? Oh, sungguh tidak pernah ada di kamus hidup saya. Hingga tahun 2019 setidaknya, sepertinya tidak pernah ada hal spontanitas di hidup saya yang mengarah pada impulsifitas. Oh tidak… tidak!

Menariknya, di tahun ini akhirnya saya mencoba banyak sekali hal-hal yang baru, dan bagi saya hal itu adalah sebuah pencapaian! Hal yang akhirnya mendorong saya untuk mencoba hal-hal baru tersebut adalah karena saya ingin mengenal diri saya lebih baik lagi! Hanya itu motivasinya.

Percobaan pertama adalah pindah kamar! Di rumah saya di Jakarta (Sebenarnya sih kost-kostan, tapi saya lebih suka menyebutnya rumah, karena memang bentuknya adalah rumah lama yang kamarnya disewakan. Jadi hanya sedikit penghuninya dan semuanya saling kenal, saling sapa), awalnya kamar saya berada di lantai bawah. Kalau bisa saya deskripsikan, itu adalah kamar mungil yang pas bagi saya dan untuk semua barang-barang saya yang hanya sedikit itu. Dan hal yang paling membuat saya bahagia berada di kamar bawah adalah karena kamar itu memiliki akses sinar matahari yang paling banyak diantara semua kamar. Sebagai pencinta sinar matahari dan udara segar, kamar bawah itu seperti surga buat saya, walaupun ukurannya tidak sebesar kamar-kamar lain di rumah.

Tahun lalu, ada satu kamar di lantai dua yang akhirnya kosong karena penghuninya pindah tempat tinggal. Awalnya saya mau pindah ke kamar itu karena ukurannya 2 kali lebih luas dari kamar saya di bawah. Tapi setelah saya lihat kondisi kamarnya yang tidak punya akses sinar matahari sebanyak di kamar bawah, saya pun urung. Yuni, Putri, dan Ica, teman-teman saya di rumah, mencoba sekuat tenaga untuk membujuk saya pindah kamar. Katanya biar kalau rumpik lebih dekat, yaaa… secara mereka bertiga ada di lantai 2. Awalnya saya sempat saya tergiur untuk pindah karena ukuran kamar yang 2 kali lebih besar dari kamar saya di bawah, saking tergiurnya, saya bahkan sempat melakukan kontemplasi cukup lama, hingga sholat meminta petunjuk, tapi pada akhirnya, saya tetap kukuh dengan pendirian pertama dan tetap tidak jadi pindah. “Bodo amat ah sama ukuran yang lebih luas juga, aku cinta kamarku.” Kata saya diplomatis kepada 3 teman saya itu.

Lalu, di tahun ini, Yuni dan Putri (mereka sekamar) tidak lagi menghuni rumah ini, maka kamar mereka menjadi kosong. Ica sudah berkali-kali bilang sejak lama, kalau saya lebih baik pindah saja ke lantai dua. Terutama karena kami yang akhirnya cuma tinggal berdua, jadi kalau ada ‘apa-apa’ dekatan lokasinya. Kamar Yuni dan Putri juga luas, 1.5 kali dari kamar saya di bawah dan masih bisa mendapatkan sinar matahari yang cukup dan udara non AC. Best deal sebetulnya sih! Ya sudah, akhirnya saya bilang ke Koh Alung, pemilik rumah, kalau saya akan pindah ke lantai 2 dan menempati kamar Yuni dan Putri setelah mereka pindah nanti. Lagi, saya galau! Berkali-kali saya membandingkan antara kamar saya di bawah dengan kamar Yuni di atas. Sampai akhirnya, Koh Alung berkata, “Oke deh dedek Ipeh, nanti pindah ya kamar atas ya, biar kamar bawah nanti bisa ditempatin”, dan saya langsung sedih. Saya berfikir, nah loh, ini adalah keputusan yang salah!

Hingga di hari terakhir saya sudah harus pindah kamarpun, saya masih saja belum yakin. Atau lebih tepatnya saya engga bisa move on dari sebuah kamar! Saya sepertinya terlalu cinta dengan kamar bawah yang penuh kenangan itu. Dan juga, waktu saya masuk ke kamar atas yang sudah kosong, saya terbayang memori kami bertiga yang beraneka macam, mulai dari saya yang masih pakai baju kerja masuk ke kamar dengan cemberut karena hari saya agak off, kami yang begadang hingga larut malam hanya untu membahas masalah finansial setelah pernikahan, dan kami yang mencoba skin care Yuni yang banyak itu. Alih-alih saya jadi melanjutkan angkut-angkut, yang ada saya malah nangis dan merasa kamar itu terlalu memorial untuk saya huni. Jadi kalau tahun lalu saya engga mau pindah karena alasan sinar matahari, kali ini engga mau pindah karena memori, hadeuh banget kan saya ini?

Tapi saya ingat ancaman Ica, “Awas ya kamu kalau golau-galau ga jadi pindah. Jangan bikin aku males deh.” Maka saya lanjutkanlah untuk mengangkut barang-barang dari kamar bawah ke kamar atas. Tapi… di tengah-tengah pindahan, saya merasa kalau kamar di lantai atas terlalu besar dan kamar di bawah lebih pas buat saya. Saya nyaris mau membatalkan niat dan mau pindah lagi ke kamar bawah! Dan di saat itulah bagian dari diri saya berkata dengan sangat amat lantang, “Peh, pindah aja! Dan kamu bisa belajar SESUATU dari kepindahan ini, suka apa engga nantinya, anggap aja ini eksperimen kamu, nanti kamu bisa bikin jurnal mana yang berhasil dan mana yang engga dari eksperimen-eksperiman kamu. Udah, pindah aja!”

Seperti dibentak oleh diri sendiri, maka sayapun resmi pindah kamar dan jadi bagian dari lantai 2 yang hanya dihuni 4 orang termasuk saya itu.

Sebulan berjalan, dua bulan berjalan, tiga bulan, hingga hari ini. Semuanya ternyata tidak seheboh yang saya bayangkan. Memang butuh pembiasaan dari kamar bawah yang minimalis dengan kamar atas yang lebih lapang. Butuh pembiasaan memang untuk menempati kamar yang tadinya dihuni orang lain serta banyak kenangan lamanya dan menjadikan itu sebagai kamar baru saya. Tapi ternyata, hanya butuh pembiasaan hingga lama-lama kamar itu menjadi kamar ‘saya’ dengan kenangan-kenagan baru yang saya ciptakan di kamar atas.

Hal ini mengajarkan saya bahwa membiasakan diri pada hal-hal baru ternyata bukanlah hal yang rumit. Saya kini lebih mengenal diri saya sendiri bahwa jika nantinya saya mendapati kondisi dimana saya ditawarkan sesuatu yang lebih baik, tapi kok saya tidak mau beranjak hanya karena alasan kenangan dan rasa nyaman, maka yang harus saya lakukan adalah memaksimalkan kemampuan beradaptasi dan berhenti membayangkan hal-hal lama. Saya harus melihat bahwa hal baru berarti pengalaman baru, terlepas dari suka atau tidak. Siapa sangka, sesederhana memberanikan diri untuk pindah kamar, saya lebih menggenal diri saya ketika proses adaptasi. Awalnya memang sulit, tapi akhirnya saya juga menyadari bahwa hidup memang jauh lebih luas dari kenyamanan yang sudah saya rasakan.

Percobaan kedua adalah membeli sepatu dengan model yang berbeda. Model sepatu yang saya miliki sedari dulu hingga sekarang adalah sama: flat shoes. Waktu itu, saya dan teman saya tidak sengaja pergi ke salah satu tempat perbelanjaan di Jakarta yang terkenal dengan clearance store-nya. Saya yang memang sedang mencari sepatu warna hitam untuk menggantikan sepatu lama saya yang hampir usang itu, mencoba beberapa model sepatu. Akhirnya pilihan saya jatuh pada 2 pilihan model. Pilihan pertama adalah model sepatu yang persis sama dengan yang saya punya, bahkan yang saya pakai saat itu. Plek ketiplek. Dan pilihan kedua, ya masih sesuai dengan style saya sih, hanya dengan model yang jarang saya beli. Galau dong. Bagkan sampai akhirnya teman saya pamit duluan karena dia ada acara di tempat lain, saya masih saja belum bisa memutuskan mau membeli yang mana.

Setelah menarik nafas berkali-kali dan dengan mengingat pengalaman saat pindahan kamar, maka saya putuskan untuk kembali mencoba hal yang baru, yaitu membeli sepatu dengan model yang jarang saya beli. Ada perasaan tidak sreg sesampainya di rumah, tapi ah mungkin sayanya saja yang butuh adaptasi, lama-lama juga pasti suka. Begitu sugestinya. Sebulan setelah saya membeli sepatu itu, entah kenapa saya selalu terbayang model yang pertama. Rasa-rasanya kok gaya saya lebih cocok dengan model sepatu yang pertama yaa... Tapi ya karena sudah terlanjur dibeli, ya mau bagaimana, ya saya nikmati saja tapi dengan catatan, bahwa di masa depan, kalau saya membeli sepatu yang nyaman dengan harga yang lumayan, maka saya akan membeli model yang biasa saya beli. Lagi-lagi, saya akhirnya kembali mengenal diri saya sendiri bahwa ternyata, toleransi saya untuk pemilihan sepatu begitu rendah. Saya mungkin akan jadi tipe orang yang model sepatunya ya begitu-begitu saja hingga tua nanti, dan saya engga peduli pendapat orang tentang itu.

Sebagaimana saya katakan di awal, motivasi saya untuk mencoba hal-hal yang baru adalah sebagai upaya agar saya dapat lebih mengenal diri saya sendiri. Tidak harus melulu literlek seperti dua percobaan itu, ‘Oh pindah kamar adalah hal yang baik’, ‘oh, besok-besok harus tetap beli model sepatu yang sama’. Mencoba hal baru artinya saya mau belajar merekognisi respon saya terhadap sesuatu hal, seperti bagaimana saya menghadapi diri saya ketika saya sedang beradaptasi, bagaimana cara untuk bisa bertahan ketika saya mengambil solusi yang berbeda, atau bagaimana cara terbaik untuk bisa memberikan apresisasi pada diri sendiri. Sudah semestinya saya memahami itu semua.

Mengenal diri sendiri, juga sebagai cara agar saya bisa menghemat waktu dan menyimpan energi untuk hal-hal yang dibutuhkan saja. Dulu, ya anggaplah 5 tahun yang lalu, sebelum pelan-pelan mengenal diri saya sendiri, saya bisa membuang waktu untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak sanggup saya kendalikan, atau energi saya terkuras untuk sesuatu yang seharusnya bisa saya hindari.

Ya ibarat masak, kalau hari ini kita mencoba menggunakan lebih banyak bawang merah daripada bawang putih, maka besok kita bisa mencoba mengganti bawang-bawangan dengan rempah-rempah lainnya untuk tahu apa bedanya. Alasan sebenarnya bukan sekedar untuk mendapatkan resep yang tepat, tapi agar kita bisa tahu rasa apa yang dihasilkan dari bawang merah atau dan rasa apa yang keluar dari menggunakan rempah-rempah. Kalau sudah jago, barulah kita bisa mengkreasikan masakan sesuai dengan rasa yang kita mau.

Sama halnya dengan saya, mengingat bahwa hidup akan selalu menawarkan skenario dan pilihan yang berbeda di setiap saatnya, saya percaya bahwa cara terbaik menghadapi kejutan-kejutan itu adalah dengan mengenal diri saya dengan lebih baik lagi. Bukan semata untuk mencari komponen yang pas dalam menghadapi hidup, tapi yang terpenting adalah agar saya tau cara terbaik dalam mengendalikan diri saya sendiri. Kalau bukan saya yang mencari tahu, mau mengandalkan siapa?

Mungkin akan butuh waktu seumur hidup untuk bisa mengetahui diri saya sepenuhnya. Tapi yaaa… kita mulai saja dulu pelan-pelan.

Source: https://id.pinterest.com/pin/180003316349715173/


Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall