Rabu, 03 Februari 2016

Berjaga

There are things I miss 
That I shouldn’t, 
And those I don’t 
That I should.  

Sometimes we want 
What we couldn’t— 
Sometimes we love 
Who we could 
(Acceptance – Lang Leav)  


Ada sebuah pesan yang datang pukul 03:07

“Kalau hidup itu soal kuat sabar-sabaran, maka kedamaian hidup itu soal maaf-maafan. Termasuk maafin diri sendiri. #Notetoself” 

Disambung dengan pesan lainnya,

“Aku berdoa buat kamu, supaya kamu bisa bahagia ;)”  

Dua buah pesan, dari kamu!
Hah?
Apa?
Dari kamu?

Begitu tau itu pesan dari kamu, aku seperti memaksa bangun semua nyawa-nyawaku yang lain agar lekas berada dalam posisi siap sedia. Layaknya sebuah komando perang di subuh buta, karena tetiba kedatangan pesan dari musuhnya, dan sang komandan berteriak “Bangun semua! siap sedia!”

Tak lama setelah semua nayawa terkumpul, tersadarlah bahwa itu adalah pesan perpisahan (alih-alih menyebutnya pesan bunuh diri). Sehari tanpa pesan, dan kini dia datang membawa pesan bunuh diri. Menyebalkan memang! Dasar picisan! 

Saat semua nyawa siap sedia, berada di posisinya masing-masing, aku kembali membaca pelan-pelan, kata demi kata yang ada di pesan itu.  Barulah setelah itu terjadi perdebatan sengit dalam diri tentang respon terbaik apa yang harus dilakukan.

Dan hasilnya adalah, setelah menghela nafas, dan benar-benar berada dalam posisi sadar seutuhnya, tanpa komando dan aba-aba, respon yang keluar adalah air mata. Tidak kalah picisan memang! 

Tersengguklah aku di pagi buta. Menangislah aku dengan hampanya. Benar-benar hampa. Hampa yang sehampa-hampanya hampa. Tidak ada sedih atau gembira. Tidak juga lega atau sesak. Hanya menangis dalam diam. Kosong.

Perdebatan selanjutnya adalah tentang apa balasan yang harus diberikan.

Hingga detik ini, perdebatan itu tak kunjung reda. Para nyawa masih juga berdebat tentan apa yang harus dibalas? Dan kenapa harus membalas?

Karena aku sendiri tidak punya kata-kata untuk membalas.
Ah, bukan! Bukan tidak punya kata. Lebih tepatnya tidak mau membalas dengan kata-kata yang aku mau.

Karena aku tidak mau, meladeni perpisahan.

Kamu saja yang pergi.
Aku mau disini.  



Kalau-kalau kamu kembali.

Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall