Minggu, 29 Januari 2017

Hujan, Payung, dan Kita

Apakah mungkin, kita bisa mencintai lebih dari satu orang di waktu yang bersamaan? 

Duuuh! Pertanyaan rumit. Benda abstrak bernama cinta itu sulit sekali untuk diukur.

Tapi melihat bagaimana cinta itu juga ada kaitannya dengan aktivitas hormon dalam tubuh kita, jadi ya itu semua tergantung pada bagaimana kita memaknai cinta itu sendiri. Jadi ya mungkin-mungkin saja kita jatuh cinta pada lebih dari satu orang, atau mungkin saja kita jatuh cinta setiap harinya pada orang yang berbeda. Kalau pertanyaannya ‘munginkah?’, ya jawabannya ‘ya mungkin-mungkin aja’.

Apakah mungkin seseorang memiliki dua komitmen yang berbeda di waktu yang bersamaan? 

Nah! Ini… lebih rumit.  Saking rumitnya, bagaimana jika kita menjawab pertanyaan ini sambil berjalan-jalan di luar?

Mumpung sedang gerimis, sepertinya pas untuk mengambil payung dan menyusuri jalan sambil melihat pemandangan kota.

Yuk!  

Biar seru, sebelum jalan-jalan, ajaklah dua orang lainnya dan minta masing-masing membawa payungnya sendiri. Sementara kita, biarlah kita santai tanpa perlu membawa payung. Biarkan kita nebeng dan bebas memilih di payung siapa kita mau berteduh. Toh kita punya dua payung. Jadi, harusnya sih aman…

Hujan di bulan januari, memang kadang tidak tertebak. Kadang rintik-rintiknya deras, seperti hujan yang tidak terlalu deras, tapi kadang hanya seperti embun tapi deras. Jadi, menggunakan payung adalah pilhan yang cerdas!

Pertanyaannya, apakah bisa kita berjalan lurus dengan dua payung, dengan tiga orang tanpa berdesakan?

Karena kita adalah orang yang tidak membawa payung, alhasil kitalah yang harus mondar-mandir dari satu payung ke payung lain. Sehingga pilihannya adalah, yang satu akan berjalan di depan sementara yang satunya dibelakang. Jikapun bisa berjalan beriringan, paling hanya beberapa detik atau menit saja. Karena pasti payungnya mengenai satu sama lain dan membuat kita kesusahan sendiri untuk berjalan bersama dengan sejajar.
Yang paling ideal ya… salah satu akan berada di depan, dan satunya dibelakang dengan kita yang akan bergantian berteduh di dua payung itu bergantian.

Capek ya? Iya engga sih?

Kalau begitu, mari letakan satu payungnya, dan mari gunakan satu payung saja untuk bertiga. Biarkan semuanya berada di bawah satu kendali payung yang sama.

Sudah? Oke, mari lanjutkan perjalanan…

Hujan di bulan Januari yang tidak tertebak membuat kita bertiga harus mati-matian berdesakan. Karena bisa saja yang satu bilang ‘Ke kanan dikit dong, kena basah nih’ sementara yang paling kiri akan bilang ‘ayo cepet, ada genangan disini’, dan yang tengah akan mengikuti kanan dan kiri.

AH! Mungkin karena payungnya terlalu kecil.

Aah… bisa jadi. Mari kita letakan payung kecil itu, dan membeli satu payung yang besar agar muat untuk tiga orang.

Tapi apakah tidak terlalu berat di pegang oleh tiga orang? sementara payung kan hanya punya satu gagang? Tidakkah itu menjadi kewalahan?
Oh, kalau begitu, kita butuh orang lain lagi untuk berada di payung besar ini.
Tapi bagaimana jika nanti kita akan kesempitan lagi?

Arrrgh!

Baiklah, mari ambil dua payung kecil itu lagi, dan kita akan lanjukan sisa perjalanan. Dengan kata lain, akan ada satu orang yang akan bolak-balik untuk berteduh di satu payung. Dan karena bukan kita yang membawa payung, maka biarlah kita yang bolak-balik.

Dan sampailah kita kembali di rumah.

Fyuiih..

Jadi, apakah itu menjawab pertanyaan rumit itu? Apakah kita bisa berada di dua komitmen di waktu yang sama?
Mungkin jawabannya bukan bisa atau tidak, tapi sanggup atau tidak.

Saat hujan, dan berada di bawah payung yang sama hanya dengan seseorang, bukanlah sebuah romantisme kuno. Juga bukan masalah berapa banyak orang yang berada dibawah satu payung yang sama, atau berapa banyak payung yang kita punya. Tapi payung itu sendiri, diciptakan untuk melindungi orang yang berada di bawahnya.

Saat berjalan-jalan dengan seseorang atau dua orang di bawah payung itu, tentu kita akan beradu mulut, karena kita butuh agar payung itu melindungi kita sama baiknya dengan orang disamping kita. Kita ingin kendali yang jelas, apakah ke arah kanan atau kiri, karena jika tidak kompak, maka kita atau orang itulah yang akan basah terkena hujan.

Bukan berarti tidak bisa digunakan oleh lebih dari satu orang, tapi melelahkan ketika harus menyesuaikan keinginan dari banyak orang di bawah satu payung. Bisa sih bisa, asal berapapun banyaknya orang di bawah satu payung itu, bersedia berbagi. Harus ada yang mau sedikit berbasah-basah, karena di sisi lainnya sedang menghindari cipratan mobil, dan sebagainya, dan sebagainya. Payungnya kan cuma satu.

Sementara memiliki dua payung yang berbeda, agar kita bisa terlindungi?
Halaah… bukankah dari hasil jalan-jalan kita barusan, justru kitalah yang akhirnya kehujanan karena harus berpindah-pindah payung?

Kalau saya ditanya, mana yang akan saya pilih?

Well, saya tidak merasa harus memiliki dua payung, saat satu saja cukup. Dan jikapun harus berada di bawah satu payung, saya pastikan bahwa hujanlah yang akan saya nikmati, bukan berdesak-desakan yang tidak perlu. Lebih baik menikmati hujan berdua, dibanding menghawatirkan apakah kita semua terlindungi sama ratanya atau tidak.


Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall