Kamis, 17 Juni 2010

SOLO field trip!!



Mempelajar media, bukan berartti dengan mentah kita membaca teorinya. Melihat perkembangan media dari kacamata modern akan membuat kita paham, mengapa ada media berkembang secara dinamis.

Kamis, 10 Juni 2010.

            Perjalanan hari ini adalah perjalanan ke Solo, sebuah kota kecil di Jawa yang mirip dengan Jogja karena adat Jawanya yang kental.
Rasanya sudah lama saya tidak menyentuhkan kaki saya di kota itu, entah bagaimana rupa kota itu. Ahh.. saya tidak ingin berekspektasi. Yang jelas saya ingin menikmati perjalanan dengan rombongan dengan balutan tawa dan senyum sumringah.
“ solo, kita mau mampir…..!”

            Kurang lebih 2 jam, waktu yang saya habiskan di bus untuk duduk, makan snack, tertawa, bahkan tertidur sesaat, hingga ketua angkatan mengatakan bahwa kita sudah sampai di LOKANANTA.
            Hmm.. namanya asing.
Lumrah jika kami menghabiskan waktu untuk berfoto di depan Lokananta sebelum mengetahui ada apa didalamnya. Desain tempat awalnya sangat sayang untuk tidak dijepret.
           
            Kami pun disambut dengan hangat oleh pengurus di Lokananta.
            Kami duduk secara meleseh di tempat yang mirip seperti pendopo. Dan mulailah saya mendengarkan apa itu Lokananta.
Dimulai dari penjelasan apa itu Lokananta. Lokananta merupakan sebuah perusahaan rekaman musik atau yang kerap disebut label pertama di Indonesia. Berdiri pada tahun 1956 dan berlokasi di Solo, Jawa Tengah di bawah naungan Departemen Penerangan RI. Sebagai salah satu perusaahaan rekaman terbesar pada saat itu, Lokananta memiliki dua buah tugas besar, yaitu memproduksi dan menduplikasi atau membuat salinan piringan hitam. Sekitar tahun 1958, Lokananta mulai mencoba memasarkan piringan-piringan hitam tersebut melalui RRI
Ternyata perusahaan rekaman Lokananta ini cukup mendapat apresiasi dari masyarakat, karena pada saat itu tanpa adanya Lokananta maka RRI terasa hambar ditelinga masyarakat kita. Dengan adanya piringan hitam sebagai bahan siaran RRI, maka para pendengar bisa menikmati lagu tradisonal daerah masing-masing, misalnya saja iringan gamelan Jawa, Sunda, dan alat musik daerah lainnya beserta sindennya. Kekayaan lagu yang dimiliki Lokananta tidak sebatas itu, Lokananta juga memiliki lagu dengan genre baru pada masa itu yaitu keroncong. Sekitar tahun 1960-an Lokananta mulai melakukan perkembangan dalam usahanya¾tidak sebatas pada piringan hitam, tetapi mulai merambah audio kaset.
            Namun masa kejayaan Lokanantapun ternyata harus berhenti ketika media audio kaset telah masuk. Orang tidak lagi tertarik dengan piringan hitam yang besar dan repot. Namun itu bukan satu-satunya faktor. Lokananta yang ahirnya mati suri di tahun 2000 ini diakibatkan karena Departemen Penerangan RI dihapus. Akibatnya, Lokananta tidak lagi memiliki induk yang yang pasti. Sunggu disayangkan ketika Lokananta sanga primadona rekaman musik harus berakhir di tangan birokrasi.
            Namun saya tiudak akan berada di sini jika Lokananta sudah ambruk dan bangkrut. Nyatanya, Lokananta masih ada dan menyimpan segala macam sejarah musik di indonesia.
            Oohya, saya hampir lupa. Arti nama Lokananta. Lokananta itu artinya adalah gamelan yang berada di khyanagan. Gamelan yang konon katanya ada di khayangan yang dapat berbunyi tanpa ada pemainnya. Unik bukan?
           
            Materi tanya jawab pun berakhir, kami diperkenankan masuk pada satu ruangan. Berhubung jumlah kami banyak, maka kami masuk sesuai kloter bus.

            Dari luar, ruangan itu seperti musium dengan gamelan di seluruh ruangannya. Ahh, sungguh penasaran saya.
            Dan akhirnya tiba saatnya giliran saya dan kloter saya masuk ke ruangan itu.
OHLALA…. Itu ruangan rekaman!

Bagaimana ya saya mendeskripsikan ruangan itu. Ruangan itu besaaar, dingin karena ada AC, lengkap dengan seperangkat gamelan, dan ada ruangan kecil didepannya sebagai tempat untuk mrngatur suaranya.
            Baru sekali itu saya melihat ruangan rekaman dengan peralatan gamelan dan karawitan yang lengkap. Terbayang oleh saya jika ruangan itu hanya didiamkan dingin tanpa ada tangan kreativ yang mau menjamah dan mau memainkannya.
            Lokanantapun kini tidak lagi bergerak pada genre musik keroncong saja. Kini lokananta telah merambah pada seluruh genre musik. Mulai dari dangdut, pop, hingga musik alternative atau Indie. Semuanya dapat direkam oleh Lokananta.

            Belum habis keterkejutan saya melihat ruangan itu, saya dan teman-teman melihat ruangan lain yang berisiskan ribuan piringan hitam. Bau ruangan itu sangat apek, tapi saya maklum karena ruangan itu berisi ribuan piringan hitam bahkan dari tahun 1920 an..
Ada juga ruangan yang berisi alat-alat penyiaran dan rekaman.
          
Lokananta telah selesai kami kunjungi, dan bus membawa kami pada tempat kedua yakni Musium Pers nasional.
            Dari luar museum itu tampak seperti kerajaa hindu Budha dengan warna batu dan model undakan. Jika tidak ada tulisan museum pers, mungkin saya tidak akan menganggapnya sebagai museum.

kami (sekali lagi) dijamu dengan ramah oleh pengelola Musium. Ketika melangkah masuk kami langsung dihadapkan pada hall dengan kursi tempat kami duduk. Namun yang menarik, ada operasional radio berupa pemancar yang telah digunakan dari tahun 1950an. Pemancar yang berbentuk tidak seperti pemancar ini menjadi perhatian kami. Bentuknya berdebu, dengan kabel yang tidak beraturan.
            Puas melihat bentuk pemancar radio, saya pun mendengarkan dengan seksama penjelasan yang diberikan oleh pengelola.
Musium pers didirikan oleh Presiden Suharto pada 9 Februari 1978. sama seperti lokananta. Museum inupun mengalami masa ‘linglung’nya ketika pada tahun 1999 Departemen Penerangan RI mengalami likuidasi. Baru ditahun 2005 musium Pers berada pada tanggungjawab Direktireat Jendral Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Dekominfo.
            Museum Pers ini masih terkesan pada museum pada umunya, menyimpan bukti media cetak dari jaman kolonial belanda hingga sekarang.
            Penjelasan sepertinya tidak begitu menarik minat saya. Saya lebih tertarik untuk lansgung melihat media cetak, dan membandingkannya dengan jaman sekarang.
            Sungguh menarik melihat bagaimana aksi propaganda Jepang lewat Koran jepang, melihat artikel yang warnanya sudah mulai usang, dan sibuk membayangkan peristiwa sebenarnya saat saya melihat baju wartawan TVRI yang tertembak saat meliput integrasi Timor Timur


 Dua tempat yang mengispirasi saya terhadap banyak hal yang berkaitan dengan media. Perkembangan media sangat menarik untuk diikuti. Jika sekarang kita sedang membelalakan mata dan mersa paling trendi karena telah memilki faceboook, MIM, ataupun Twitter, maka bisa saja internet hanya menjadi media kuno 20 tahun lagi.
           
TAPI 
intinyaaaaa.....

Komunikasi 2009, foto-foto di solo (hebatkan, foto-foto aja mpe solo)
Yeaaaah, kami ke solo…

Niat saya ke solo Cuma 1  : “ MENOREH KENANGAN” ya suddaaaahhh…
Segala macam materi ato apapun yang di omongin berasa masuk kuping kiri keluar lewat semua lobang…

Iyaa.. bayangin deh..
Kita Cuma foto-foto..
Ketawa-tawa..
Cerita-cerita..
Ya begitu…
Tapi seeeeruuuuuuuu!

Aku nganggep field trip ke solo ya sebagai hal yang merefresh otak..
Senengnya karena ada temen2nya.. ada binaling dan bebeking …
Coba gga ada mereka.. beuuh.. udah, bakal minta pulang , hehehehhee…

Serius deh, seharian itu yang akhirnya bikin kita capek itu ketawa sama foto-fotnya..
Bahkan aku, sarah, manda, tifa, sama pipit gag ikut ke museum batik karena satu alasan yang penting banget..
Yakni : NGANTUK! Hahahaha.. jadi kita di bus gtu, tidur!

Eeh iya lupa, selain ketawa, foto, bersosialisasi, dan ngobrol (baca : gossip), kita juga hobinya makan mulu!! Bagoooosss…

So, ini dia album deskripsi foto kami!
 ini ada di depan musium pers.. huaaa.... :)

Tidak ada komentar

© Mood Coaster
Maira Gall