Jumat, 07 Juni 2013

Bersandiwara. Berpura-pura.

"Lelah bersandiwara, lelah berpura-pura" -ERK-


Kadang saya teramat bingung pada mudahnya setiap orang bersandiwara dan berpura-pura. Coba saja perhatikan pada setiap manusia yang kita temui, pasti ada kalanya mereka berpura-pura dan bersandiawara. Entah apa motivasinya atau bagaimana awalnya. Apakah hanya kebetulan, coba-coba, hingga akhirnya hidup dengan itu, saya juga tak tahu pasti. Tetiba kepura-puraan dan sandiwara ini begitu dekatnya. Dan sayangnya, kita berada dalam lingkungan yang sama, sehingga mustahil untuk menghindar. Maka jadilah, kita masuk dalam lingkaran sandiwara yang penuh pura-pura.

Kepura-puraan dan sandiwara adalah bagian dari manusia sehingga manusia tidak pernah luput dari itu. Tidak ada satupun manusia yang bisa luput dengan ini. Bagaimana tidak, toh hidup inipun adalah sebuah konspirasi maha dahsyat. Maka benarlah jika orang mengatakan bahwa penggung sandiwara termegah adalah hidup.

Namun demikian, pertanyaan saya satu : "apakah kita sebagai manusia tidak lelah?"

Saya, entah berapa kali dalam hidup harus berpura-pura dan bersandiwara. Melepas topeng satu dan menggantinya dengan topeng lainnya. Mencoba menutupi rupa asli.
Dan tak kalah seringnya adalah saya beertemu orang-orang yang begitu palsu. Orang-orang dengan nama tengah 'Pura-pura dan sandiwara'. Mereka mahir sekali melakukan itu layaknya aktor kawakan. Dan lagi-lagi, saya sering terbawa kepura-puraan itu. Hingga tersesat.

Jikalau ada kursus yang bisa membedakan mana yang berpura-pura dan mana yang nyata, mungkin akan lebih mudah untuk saya untuk memilih dan bersikap. Tapi sepertinya juga percuma, karena nyatanya semua sikap pura-pura ini begitu menyatu hingga terbiaskan dan seakan sama dengan kebenaran.

Pelik.

Ada lagi tipe manusia dengan teramat lantang bersandiwara. Berakting dengan begitu fasihnya sehingga terlihat baik dan sempurna namun dibalik itu semua... mereka buruk.

Ada lagi yang berusaha sekuat tenaga untuk menutupi semua ketidaknyamanan hati. Mengabaikan dengan sangat semuanya dan menunjukan rasa nyaman. Mungkin semua orang bisa dibohongi. Tapi bukankah hati tidak? hati akan teramat peka pada sandiawara dan kepura-puraan.

saya kembali bertanya, satu hal : "apakah mereka tidak lelah?"

Tersenyum namun dibaliknya hendak menerkam
Memuji namun dibaliknya hendak meludah
Mencerca namun dibaliknya mengaggumi
Menangis namun dibaliknya bahagia
Tertawa namun dibaliknya tersayat
Membicaran yang satu dibelakang yang satu dan kemudian bersikap baik pada yang satu. Begitu seterusnya.

Ah.. apakah mereka tidak lelah?

Lelah pura-pura tersenyum. Padahal cemberut sesekali tak apa bukan?
Lelah pura-pura berwibawa. Padahal merakyat sesekali akan lebih menarik bukan?
Lelah pura-pura nyaman. Padahal meninggalnya akan menjadi lebih indah bukan?
Lelah pura-pura. Padahal menjujuri itu bijaksana

ah...

apakah harus begitu.
Berpura-pura dan bersandiwara hingga entah kapan.
Hidup haruskah begini?

Tidakkah ini melelahkan?

Mengutip apa yang Efek Rumah Kaca katakan, bahwa kepura-puraan dan semua sandiwara akan menyisakan duri, menyisakan sunyi, menyisakan sepi.

Karena jujur saja.
Saya lelah!




NB : "i hope you have not been leading a double life, pretending to be wicked and being really good all the time. Thaht would hypocrisy" (oscar Wilde)

#24
#31harimenulis
#bagian2

Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall