Selasa, 11 Juni 2013

Waras

"i'm walking away from troubles in my life. Im walking away, to find a better day"

Ini hanya sebuah refleksi bagi saya.
Sebuah jawaban sekaligus sebuah pelajaran berharga.

Keberadaan saya disini, sebetulnya sempurna jika dilihat dari kacamata umum. Saya mendapat uang yang banyak. Dari segi batu loncatan, ini jadi pengalaman yang sangat baik. Tempat yang cukup bergengsi, dan semua teman-teman saya yang melihat jabatan sayapun, sedikit banyak memuji. Dan yang paling membuat ini tampak sempurna adalah, ini seharusnya menjadi mimpi yang menjadi kenyataan.
Sebetulnya ini sempurna.

Tapi.

Ah.. saya benci, kenapa hidup selalu diwarnai dengan kata 'tapi'.

Tapi saya kehilangan keceriaan.
Saya perlahan seperti robot yang hanya mengguggurkan kewajiban. Sayapun bingung, dimana hati saya?
Saya kehilangan kenikmatan dalam melakukan ini semua. Padahal sebelumnya, saya selalu bersemangat melakukan apapun. Tak peduli seberapa beratnya, saya akan berjuang. Kemana saya yang seperti itu? Apakah tempat ini memiliki penghisap tak kasat mata? atau memang sebetulnya, bukan ini yang saya inginkan?
Sayapun menjadi takut. Jangan-jangan, selama ini saya bertahan hanya karena uang yang saya dapatkan. Saya sungguh takut akan menjadi orang yang rela menukar keceriaan dan rasa 'menikmati' karena uang dan ambisi.
Saya tidak mau menjadi orang seperti itu.
Saya lebih rela menjadi orang yang melakukan kegiatan yang saya suka dan saya tau berjuang demi apa yang saya yakin benar, money will follow right?

Tadinya saya berfikir, inilah yang saya inginkan.
Dan Allah selalu maha baik. Allah memberikan saya kesempatan untuk mencobanya. Allah mengabulkan sesuatu yang awalnya saya fikir, saya mengingikannya.
Allah membiarkan saya untuk mencicipi.
Namun kemudian, Allah pulalah yang ijinkan saya untuk salah jalan dan mengkoreksi fikiran saya.
Mungkin..
Mungkin bukan yang saya inginkan.
Bagaimana saya tau bahwa ini bukan yang saya inginkan?
Hati saya yang berbisik. Dia sering mencelos dan mulut seringkali mengeluarkan peluh. 

Tidak saya pungkiri, betapa banyaknya hal yang saya pelajari disini. Disini saya diberi kesempatan menerpa diri, hal yang saya syukuri karena tak semua orang diberikan kesempatan yang sama beruntungnya dengan saya. Di titik ini saya merasa begitu bersyukur pada Tuhan yang telah menjodohkan saya dengan tempat ini.
Ya.. saya banyak sekali belajar.

Tapi...

ah, lagi-lagi tapi.
Tapi lantas, saya merasa hampa.

Apakah ini tanda saya kufur nikmat?
Entahlah


Saya hanya merasa ini bukanlah apa yang ingin saya tuju. Saya merasa hilang arah dan tidak tahu harus bertahan demi apa. Saya merasa menjalani kehidupan orang lain dan pura-pura nyaman. Dan lagi, saya harus menggadaikan prioritas.
Hampir setiap hari saya lewati dengan memikirkan sampai kapan saya harus bertahan dan kenapa saya harus bertahan. Padahal itu sesuatu yang saya benci. Ya, saya benci menghitung hari karena merasa tidak nyaman.
Itu melelahkan. Dan menggadaikan prioritas? Ah.. why i do that?

Ah ya.
Rasa nyaman.

Seorang mengatakan bahwa rasa nyaman itu harus di breakdown lagi. Seseorang tak bisa serta merta mengkambinghitamkan rasa tidak nyaman sebagai alasan meninggalkannya.
Maka mulailah saya memutar segala macam cara agar bisa nyaman serta bekerja keras agar bisa bertahan.
Tapi yang terjadi, semakin saya berusaha untuk menyamankan diri dan bertahan semakin ragu saya dibuatnya. Semakin diri saya bertanya "untuk apa?" dan saya tidak bisa menjawab.

Artinya bukan masalah nyaman atau tidak, hanya saja, saya melakukan sesuatu yang... yang.. tidak sesuai dengan nilai yang saya bawa.
Bukankah setiap orang pasti pasti pernah melakukan kesalahan? pasti pernah salah langkah? pasti pernah merasakan jalan buntu. Dan semua orang akan belajar dari situ bukan?
Sayapun demikian.

Orang bilang begini dan begitu. Menyuruh bertahan agar inilah itulah. Memberikan pujian karena saya sudah beginilah begitulah.
Orang mampu memberikan saran ini dan itu.
Tapi yang menjalani, tetap saya bukan?
Tapi pakah saya harus bertahan untuk omongan orang-orang itu pun saran-saran mereka?
dan mengabaikan suara dari hati saya sendiri?
Ah tidak!
Saya rasa cukup bertahan mendengar apa kata orang.
Kali ini saya harus mendengarkan apa kata hati saya. Saya harus berjalan karena itu.

Pilihan itu selalu ada, sama seperti saya sekarang. Saya memiliki pilihan untuk meninggalkan dan kembali pada kehidupan lama saya yang walaupun tidak mudah, namun saya dengan senang hati menjalaninya.
Tapi ternyata itu tidak mudah. Kekhawatiran selalu ada. Benar kata mereka, uang dan iamge bisa membuat orang menjadi gamang. Teramat gamang.
Tapi haruskah kesenangan dan keceriaan itu ditukar? Kalaupun jawabannya iya, selayak apa itu untuk ditukar?

Waktu tidak menunggu.
Maafkan, jika ini keputusan ini terkesan sangat tidak profesional.
Percayalah, saya sudah mencoba semaksimal mungkin yang bisa saya coba. Saya sudah memberikan sebaik yang bisa saya hasilkan.
Percayalah saya sudah mencoba untuk menemukan celah dan jalan, namun tetap buntu.
Percayalah bahwa ini sudah coba saya komunikasikan padaNya.
Dan inilah keputusannya.

Orang memang perlu untuk salah, agar tau mana yang benar.
Ijinkan saya menjadi benar.
Setidaknya benar berdasarkan apa kata hati. Agar selanjutnya ringan melangkahkan kaki.
Maka ijinkalah saya untuk begitu.
Ijinkan saya melaksanakan prioritas menjadi benar adanya.
Ijinkan.

Ini hanya sebuah refleksi bagi saya.
Sebuah jawaban sekaligus sebuah pelajaran berharga.
Terimakasih Dear Allah :)

NB : Terimakasih matahari. Sinarmu banyak sekali membuat aku merasa hangat, sungguh. Sekarang, jinkan aku berteduh dan menikmati pelangi, sesuatu yang aku suka.




#28
#31harimenulis
#bagian2

Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall