Sabtu, 08 Juni 2013

Kamu yang aku ingat, dia yang kamu ingat

Aku selalu tau, waktu dimana kamu marah. Waktu dimana kamu sedang tidak ingin diganggu. Waktu saat kamu sedang bahagia, dan waktu saat kamu sedang muram.
Biasanya aku selalu membuatkanmu secangkir kopi pekat saat kamu sedang muram. 
Biasanya aku akan selalu mengelus tengkukmu saat marah sedang menyergap.
Biasanya aku selalu membawamu kerengkuhanku saat kamu sedang sendu.

Aku tau bagaimana harus bersikap untukmu.

Karena aku kenal kamu.

Hampir setahun, aku dan kamu bersama. Pada setiap tangis, kita sudah pernah ada didepannya. Pada setiap tawa, kita sudah pernah larut dibawanya.
Untuk sepasang kekasih, kita sudah pernah habis ditempelng duka dan sudah fasih dibantai suka.

Kamu dengan merdunya, mengatakan serangkaian kalimat cinta yang akan aku balas tak kalah indahnya.
Dan jadilah kita saling balas membalas kalimat cinta.
Kamu dengan lantangnya, merajut mimpi dan membawaku bersamanya. Entah akan terjadi atau tidak, kamu gagah berani meyakinkan aku dan membuatku sempurna merasa bahagia. Dan jadilah kita hayal-menghayal.

Tapi tahukah kamu.
Kisah ini tidak utuh?

Berapa kali aku memelukmu dengan semua hangat yang ada?
Berapa kali aku menciumu dengan semua lembut yang aku punya?
Berapa kali aku terburu waktu karena khawatir yang tetiba datang karenamu?
Berapa kali aku mencoba meyakinkan bahwa hanya ada aku?

Dan kamu?
Berapa kali kamu membalasnya dengan utuh yang kamu punya?

Pagi ini.
Sisa-sisa dari semua getir.
Aku melihatmu, menangkapmu basah-basah pada lamunan. 

Coba sekarang, beranikah kamu, menatap aku lumat-lumat dan kembali katakan semua kalimat cinta itu?
beranikah kamu kembali lantang berjanji masa depan sambil menatapku dalam-dalam?

Cukup pada udang. Aku alergi. Itu bukan masakan kesukaanku, siapa yang kamu ingat saat memesan itu?
Cukup pada tengah malam. Aku bukan mahluk yang bisa terjaga hingga larut malam. Siapa yang kamu ingat saat malam?
Cukup pada warna coklat. Aku menyukai warna merah. Siapa yang kamu ingat saat memilih warna itu?
Cukup pada bunga. Aku alergi. Siapa yang kamu harap saat menyerahkan bunga itu?
Cukup pada merindu. Entah untuk siapa rindu tertuju.

Pagi ini.
Saat aku melihatmu dan menangkap basah kamu dengan lamunanmu itu.
Aku memelukmu.
Aku tak berani berkata, aku hanya mampu berdoa.
Lekaslah pergi siapapun yang ada di hati dan pikiranmu. Lekaslah.. 
Berilah aku ruang. Dan lepaskanlah dia...

Ini masih terlalu pagi untuk bersedih.
Bahkan aku belum sempat mengucapkan ucapan selamt pagi.
Kalau begitu, selamat pagi untuk kamu yang aku ingat. Dan untuk dia, yang kamu ingat.



Selamat pagi.

#25
#31harimenulis
#bagian2

Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall