Sabtu, 18 Mei 2013

19 Pencipta Kenangan

"But, I miss the thing, Are we ever gonna feel the same?" Calvin Harris

Hampir setahun yang lalu saya bertemu dengan mereka. Mereka yang sekarang menjadi sebuah keluarga baru bagi saya. Kami ber20 pernah mengarungi bersama ribuan kilometer, menembus belantara hutan, dan juga berjemur hingga kulit kami kecoklatan. Kami pernah bertahan di lautan selama belasan jam juga bertahan dengan masyarakat pedalaman tanpa sinyal komunikasi dengan dunia luar sama sekali. Kami yang tau rasanya, betapa pegalnya kaki saat harus berjalan kearah mata air yang berada beberapa kilometer dari tempat tinggal kami. Kami yang tau rasanya hidup tanpa listrik dan kami yang tau bagaimana rasanya saling membantu satu sama lain ketika tak ada obat yang paling mujarab selain diri kami sendiri.
Kami membentuk definisi keluarga menurut kami.
Kami yang merasa lebih rindu dengan 10 orang di pulau sana ketimbang keluarga sendiri.
Kami yang tau bagaimana rasanya rindu dengan es teh, kami yang setiap malam berhadapan dengan bintang.
Kami ber 20 yang pernah bertahan sekitar 5 minggu di Papua Barat. Di pelosok Papua Barat. Kami yang entah dengan apa motivasinya dipertemukan dengan tim ini.
Kami! hanya kami!

Terbuat dari apakah kenangan itu?

Kenangan itu tidak pernah dengan sengaja untuk dibentuk. Ketidaksadaran kitalah yang akhirnya menciptakan kenangan. Pun ketika kita merasa rindu dengan kenangan, bukan salah otak yang memproses memorinya. Mungkin ketidaksadaran kita kala membentuk kenangan itu yang melekat di hati.
Entahlah...
Tapi pernahkah kamu merasa sebegitu inginnya mengulang masa lalu? sampai-sampai kamu berharap ingin hidup selamanya dalam kenangan? Dan memandang lekat foto-foto, berharap dengan itu bisa kembali di masa lalu? Pernah?
Well, terkadang saya begitu, terkadang.

Kami bertemu kembali hari ini. Nyaris lengkap 20 orang. Namun sayangnya, pada akhirnya kami hanya ber19, salah satu dari kami berhalangan.
Kami tidak membahas apapun yang berhubungan dengan 5 minggu selama di Papua, kami hanya membicarakan masa kini. Entah karena kami tahu bahwa topik tentang Papuan hanya berkisar itu-itu saja, atau karena masa kini lebih menarik untuk dibicarakan?
Saya kurang tau pasti
Kami tidak berusaha menembus kenangan.
Tapi sekelebat saya merasakan bau kenangan. Apalagi ketika saya memakai kembali baju lapangan yang dirancang untuk kami. Sungguh rasanya seperti menaiki mesin waktu dengan semua kenangan yang tetiba lari berhamburan. Damn..


Terbuat dari apakah sepi itu?

Saya tersadar. Bahwasanya, seberat apapun usaha saya untuk mengembalikan diri  pada masa lalu, tetaplah nihil hasilnya. Tak ada satupun cara yang bisa membuat saya kembali ke masa lalu apalagi mendiaminya.
dan saya pasrah dengan kenyataan itu.

Tadi, saat fauzan berkata " aku duluan ya.." Saya merasa ada yang aneh di hati saya. Ada yang mecelos dan tetiba saya merasa sepi. Sepi yang tidak wajar, menjalar tanpa sebab.
Bukan karena Fauzan yang terburu karena ada acara. Lebih kepada karena kami tak lagi berada di satu lem yang sama. Kami ber 20 tak lagi membutuhkan satu sama lain untuk bertahan.

Saya merasa betapa saya dan anak-anak ini meninggalkan kenangan dan berjalan terlalu jauh. Ataukan memang begitu seharusnya?
Jika saya mampu, saya ingin menyeret kembali mereka kesatu masa dimana kami berjuang bersama. Tanpa ada kata "aku duluan ya.." atau "udah ya.. abis ini aku masih ada urusan". 
Saya rindu saat tak ada yang meninggalkan kami. Karena kami akan ber 20 hingga perjuangan ini selesai.
Saya berharap ketika Fauzan atau siapapun berkata "aku duluan ya.."
itu berarti dia duluan untuk mandi, tidur, atau berangkat mengajar, dan saya tau bahwa fauzan atau siapalah tidak akan pergi kemana-mana. Dia tak punya kehidupan lain selain kami.

Ternyata kami ber 20 telah menjadi prasasti kenangan yang entah akan diurusi atau dibiarkan mati. Itu tergantung pada bagaimana mereka menilainya.
Ingin rasanya kembali di massa dimana tidak ada kehidupan lain yang bisa dijalankan selain kami.
Sayang, saya tidak sesakti itu untuk bisa mengikat kenangan dan menjadikannya masa kini.


Terbuat dari apa hampa itu?

Terkadang takjub juga dengan apa yang bisa dilakukan waktu sesingkat itu pada kami semua. Itu yang yang membuat kami ber 20 memiliki misteri yang tidak diketahui satu dan lainnya.
Percayalah, tak banyak yang tau apa yang terjadi dalam perseorang kami memandang perseorangan lainnya. Semuanya tersimpan rapi di hati masing-masing. Ada yang bersedia membaginya, ada yang tidak. Saya termasuk yang tidak.
Sebenarnya karena ketidakmampuan saya untuk mengungkapan sebenarnya. Dan itu adalah faktor utama yang membuat rasa hampa di akhir pertemuan.

Ah jika saya bisa mengintip hati mereka semua.

Lalu, apa yang saya rindukan?
Entahlah...
Saya hanya ingin bertanya : terbuat dari apakah kenangan, sepi, dan hampa itu?
Apakah mereka saling berhubungan?

Ini kurang 4 orang, ga tau pas itu mereka dimana. Dan ini adalah waktu kami menginjakan kaki di tanah Jawa.


NB : Untuk 19 orang pencipta kenangan yang kini tengah bersibuk mempersiapkan masa depan. Jika suatu hari ada rindu yang meronta tentang kita, ajak aku untuk ikut bernostalgia ya.

#4
#31harimenulis
#bagian2

Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall