Senin, 15 Juni 2015

Obrolan Tentang Narkoba Di Kereta

Dari semua perjalanan kereta api yang aku alami, ada satu kejadian yang tidak bisa aku lupakan. Kejadian itu terjadi, sekitar setahun yang lalu. Saat itu aku duduk berhadapan dengan orang asing dan tanpa sengaja berbicara banyak tentang hal-hal.
Tentu saja kami memulai dengan hal-hal yang sepele nan klise terlebih dahulu seperti "Mau kemana", "Kamu kerja dimana sih?", "Sendirian aja?", dan pertanyaan pembuka remeh temeh khas lainnya.

Kemudian, obrolan kami semakin berlanjut dan berlanjut. Dari narkoba hingga dongeng tentang hukum di Indonesia.

Beginilah kira-kira percakapan kami saat itu.

"Aku pernah loh nyoba narkoba di Singapur, gilak mahal banget cuy selintingnya!" Katanya bersemangat.

"Serius? enak ga?" Jawabku tak kalah bersemangat.

"Kalo ngomongin tentang narkoba bukan gitu pertanyaannya..."
"Trus apa dong?"
"Enak mah udah pasti Ree, nanyanya kudunya 'sakaw ga Lo?' gituuu.."
"Kok serem sih? kudu sakaw banget?"
"Yaiyalah. Narkoba!"
"Kok mau sih make?"
"Waktu itu Gua juga cuma ditawarin Ree, dibeliin doang sama temen... bilangnya tester. Yaudalah yaa.. Gua coba aja"
"Gimana sih rasanya"
"Rasanya? Rasanya tuh... jadi bikin Lo tenang gitu"
"Tenang?"
"Iya.... walo yaa... cuma bentar yaa.. tapi kita jadi chill gitu loh. Lo coba deh!"
"Ogah. Tapi gilak juga ya, cuma buat perasaan tenang, orang-orang sampe rela beli dan mahal pula?"
"Palsu pula!" katanya sambil tertawa.

Ohya, nama orang asing itu adalah Rio. Dia seorang pengacara yang sebenarnya sangat benci dengan profesinya. Tapi di satu sisi dia ingin menjadi salah satu orang yang membuat perubahan dari hal-hal brengsek di Indonesia. Ya semacam love-hate relationship dengan kerjaan.
Dia sempat berkata "Ya, Gua sebenernya enek banget sama urusan hukum di Indonesia, tapi Gua bakal semakin enek kalo mereka-mereka yang punya duit, makin gampang beli hukum. Jadi gua telen ajalah".

Sebuah percakapan yang sarat esensi. Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, bahwa ketenangan ternyata menjadi hal yang paling dicari oleh seluruh mahluk di dunia ini. Hingga tak peduli apakah itu palsu atau asli, yang penting adalah bagaimana bisa mencicipi rasanya ketenangan walau hanya sebentar saja. Hingga terciptalah imaji bahwa ketenangan bisa dibeli lewat selinting barang bernama narkoba.

Manusia memang kerap berasumsi bahwa semua hal bisa dibeli, termasuk ketenangan yang sebetulanya hanya bisa didapat dari hati yang selalu bersyukur. Hati yang selalu cukup.
Itulah mengapa istilah money can't buy happiness menjadi sangat terkenal. Uang hanya propaganda mereka-mereka yang sesungguhnya tidak pernah bahagia. Karena uang hanya mampu membeli hal-hal yang dibutuhkan jasmani, bukan hal-hal yang dibutuhkan rohani.
Lagipula, jika narkoba memang sungguh bisa mereduksi perasaan tenang, lantas mengapa penggunanya bisa sampai sakaw? Bukankah sakaw itu artinya sesuatu sudah melewati ambang batas? Sedangkan ketenangan hanya bisa dirasa bagi mereka yang tau apa itu cukup.

Percakapan itu membuatku berfikir, jika ketenangan adalah hal yang paling dicari saat ini, mengapa kita tidak berlari saja menuju hal-hal yang membuat kita tenang? Mengapa justru kita berlari ke arah sebaliknya? Ke arah yang menjauhkan kita dari rasa tenang? Jika ketenangan hanya bersumber dari hati yang cukup, mengapa justru hati kita menjadi sumber utama keresahan?
Kontradiktif bukan?

Ah, sungguh percakapan yang membekas.

Semenjak obrolan tidak terduga dengan orang asing yang kini menjadi salah satu temanku, perjalanan dengan kereta api selalu membuatku berharap agar aku bisa bercengkrama lagi dengan orang asing yang cukup asik seperti Rio.
Sayangnya kesempatan bicara dengan orang-orang asing yang kemudian menjadi berharga di hidup kita adalah jarang. Prosentasenya cukup rendah.

Jadinya kini aku hanya berada di kereta api memandangi pedesaan menuju Ibukota. Tanpa obrolan tak terduga, tanpa orang asing yang asik.
Pertemuan memang mahal harganya.

Kulirik jam tanganku, masih 6 jam lagi menuju pusat huru-hara Indonsia, Jakarta. Kota yang tidak pernah bisa tenang.

Ah, Ibukota lagi!



#31harimenulis
#15-31

Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall