Rabu, 19 September 2012

H-1


Insiden yang terjadi semalam, suskses membuat saya lemas lahir batin tiada tara. Bahkan hingga hari inipun masih terasa remasan aneh  di perut saya. Kejadian yang tak pernah saya sangka akan terjadi pada saya. Ah, masa iya saya kesurupan?

Semalam, menjelang H-1 kepulangan kami. Kami disibukan dengan berbagai macam laporan yang harus kami selesaikan. Ah, memang merepotkan saja LPPM ini. Ketidaktersediaan listrik ini membuat kami semua harus menulis semua laporan dengan menggunakan tangan. Saya sendiri masih berjuang untuk menahan sakit bekas luka piknik woroboy, ditambah dengan luka tangan dan kini harus menulis laporan sebanyak ini.

Kemarin, hari terakhir kami akan berada di Yakati. Terakhir menatap matahari yang terbit dari bukit, terakhir mengunjungi balai desa, terakhir mengambil air di darat, terakhir menatap wajah ceria anak-anak ingusan (in literally) ini, terakhir berhubungan dengan agas, terakhir tidur bersama di pastori. Ya pokoknya terakhir. Karena besok, tanggal 11 kami akan pulang ke Bintuni.

Di hari terakhir kemarin, saya dengan bersemangatnya masih mencuci baju untuk terakhir kalinya, yang setelah itu pergi ke sekolah dasar dan mengajar anak kelas 1. Ah.. muka-muka yang tak akan saya temui lagi nanti. 
Di hari terakhir kemarin itu, saya dan fauzan memberikan reward berupa buku, pensil, dan alat tulis lainnya bagi mereka yang bisa membaca kalimat yang kami tuliskan di papan tulis. Ya, seperti layaknya hari-hari sebelumnya, mereka tampak antusias, dan juga diiringi dengan beberapa tangisan anak yang dijahilin oleh anak lainnya.


Haru biru menyelimuti kami saat waktu mengajar telah habis. Saya berkata bahwa inilah saat terakhir saya dan fauzan akan mengajar di kelas dan berpesan bahwa mereka harus menjadi anak pintar dan pergi ke Jawa untuk melanjutkan pendidikannya. Mata mereka tampak ragu untuk menangkap apa yang saya sampaikan, tapi setidaknya doa dalam ucapan saya telah terlepas dan akan ditangkap malaikat untuk diamini.




Anak-anak itu memeluk saya di akhir kelas, juga fauzan tentu saja. Ada setitik rasa sedih yang tiba-tiba hadir. Kalau saja jarak jogja dan yakati hanya sejauh jalan kaliurang km 8-kampus, saya pasti akan datang dan mengajari mereka walaupun tidak setiap hari.

Kami kembali ke rumah dan kondisi rumah sudah tak berbentuk lagi. Barang dimana-mana, laporan dimana-mana, ini dan itu berada tidak pada tempatnya. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke balai desa bersama fauzan dan menyelesaikan laporan disana.

Saya memandang pemandangan yang entah kapan lagi akan saya lihat.

Tersadar lagi, bahwa kemarin adalah hari terakhir bagi kami.

Laporan saya selesai, dan fauzan tidak. Ah as usual fauzan! Selalu tidak fokus. Nanti kalau dikroscek, dia bakal jawab “loh, gimana mau ngerjain laporan, orang ada deki yang ngajak ngobrol…” haish! Ketebak zan. Atau mungkin dia bakal jawab “ada agas Peh.. “ aah.. give me BA give me SI BA SI! -__-

Sepulang dari pastori, saya dikejutkan oleh dedy yang berkata “Peh, ada kejutan tuh di dapur

Kejutan apa?

Anak-anak sudah heboh menyuruh saya ke dapur.

And you know whaaaaat????
ULAT SAGU IS IN THE HAOUSE MEEEEN! IS IN THE KITCHEN. IYUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUCCCCCCHHHHH!!!!!!!!!!!!!!
Iyuuuuch!
Iyuuuuch!!
Yeeek!
Dalam baskom, belasan ulat sagu tengah berjoget
Hewan apa coba itu, bentuknya seperti uget-uget raksasa yang meliukan badannya bak penari erotis. Berawaran putih dan tidak memiliki kepala.
Anehnya, itu dimakan!
Great! Hanya di papua!



Tak terasa, sorepun tiba dan malampun tiba.
Kami berbuka puasa untuk terakhir kalinya.
Menikmati santap dengan 10 orang yang selalu dilihat dalam hampir 5 minggu. Jujur, saat itu saya merasa gamang jika tak lagi berbuka puasa tanpa mereka.
Ya.
And the story goes….

Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall