Minggu, 02 September 2012

Pastori



"lebih baik disini... rumah kita sendiri.."

Kami tinggal di pastori. Rumah pendeta yang rumahnya terbuat dari kayu. Full of kayu. Di hari kedua kedatangan kami, kami langsung menghias dan menata rumah dengan teramat baik dan apik hingga tercipta rumah yang nyaman dihuni untuk 10 orang selama sebulan lebih ini. Ada dua kamar untuk kami tidur, dan satu kamar untuk ruang “danlainlain”, ya ruangan untuk menyimpan mulai dari bahan makanan, pakaian semi kering, peralatan program dan alat mandi dan cuci kami semua. Lalu ada pula ruang serba guna yang letaknya di tengah. Sangat serba guna, jika siang digunakan untuk beraneka macam pertemuan, muali mengadakan kelompok belajar untuk anak, rapat di pagi hari, makan bersama, bercengkaram santai, sholat tarawaih, sholat subuh berjamaah hingga menyambut warga yang hilir mudik datang tak kunjung berhenti. Ruangan yang tidak begitu luas, tapi sungguh multifunsgi dan sangat nyaman. Terdapat dua meja. satu besar dan kecil. Yang besar adalah meja kerja kami dan meja laporan sementara meja kecil untuk menyimpan barang-barang yang biasa kami bawa. Terdapat 4 jendela sehingga ventilasi dan penerangan lancer jaya sekali. Kemuadian, dibelakang yang dibatasi pintu, terdapat ruang makan sekaligus dapur. Kami menggunakan kompor minyak (yang itu juga kami hemat penggunaannya) untuk memasak ditambah dengan satu meja makan multifungsi. Dibelakangnya lagi ada sebuah kamar mandi yang bersih. tempat kami biasa antri membuang yang harus dibuang. Dan kami ada dapur outdoor yang ditutupi tenda, disana kami masak dengan menggunakan kayu bakar. Letakanya yang diluar dan ditutupi matras jadi jikapun hujan tidak masalah.
Di teras terdapat dua buah kursi yang jika malam bisa langsung menatap langit yang penuh dengan bintang juga view pegunungan. Sungguh pastori yang menyenangkan.
Pastori kkn :)

ini tampak depan. anak-anak sering sekali main kesini
ini kamar lelaki
ini kamar wanita
ini ruang serbaguna kami tercinta. Dibelakangnya dapur

ini tampak depan


nah ini dia. Tempat "barang siapa-barang siapa" dijemur


ini tempat kami selama 5 minggu 

ada satu perasaan kacau yang menyeruak. Ingin keluar namun tertahan. Ada rasa ingin tahu yang bersembunyi malu-malu. Siapa lagi kini yang bisa mendengar? siapa lagi kini yang bisa merasa?
ah, tapi sepertinya ini bersumber dari ketidakmampuan saya untuk bertanya "kamu, apa kabar?"
sesederhana itu saja.. kekesalan ini bersumber. Rindu yang tak tahu malu.




Tidak ada komentar

© RIWAYAT
Maira Gall